cover
Contact Name
Andriyana
Contact Email
andriyana03@gmail.com
Phone
+6282121616969
Journal Mail Official
journal.anafora@uniku.ac.id
Editorial Address
RT. 027 RW. 007 Desa Cengal Kecamatan Japara
Location
Kab. kuningan,
Jawa barat
INDONESIA
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Published by Universitas Kuningan
ISSN : -     EISSN : 28073991     DOI : https://doi.org/10.25134/ajpm
Core Subject : Education, Social,
Ruang lingkup penelitian artikel yang dapat diterbitkan di Jurnal Fon antara lain : (1) Kebahasaan Indonesia; keilmuan bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik); keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis); (2) Kesastraan Indonesia (teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra, sastra bandingan, ekranasi, sosiologi sastra); (3) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, kurikulum, bahan ajar, dan media pembelajaran). Kami terbuka menerima naskah dari para penulis dengan mengikuti ketentuan yang ada dalam fokus dan lingkup, etika publikasi, petunjuk penulisan, proses review, dan template jurnal yang harus diikuti oleh penulis.
Articles 46 Documents
KETERBACAAN WACANA DALAM SOAL UJIAN SEKOLAH TINGKAT SMA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KABUPATEN KUNINGAN DENGAN MENGGUNAKAN GRAFIK FRY Paryati; Sun Suntini; IDA HAMIDAH
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v2i2.35

Abstract

ABSTRAK: Keterbacaan yaitu terbaca atau tidaknya suatu bacaan oleh pembaca. Dalam ujian sekolah terdapat soal yang menjadi tolak ukur kemampuan siswa siswinya salah satunya mata pelajaran bahasa Indonesia, banyak sekolah kurang memperhatikan antara soal dengan wacana apakah sudah sesuai dengan tingkatan sekolah atau tidak. Ada kalanya wacana yang terdapat pada soal tidak sesuai dengan tingkatan, contoh: Untuk tingkat sekolah menengah atas terdapat beberapa wacana yang seharusnya di peruntukan sekolah dasar..Penelitian ini mendeskripsikan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Kuningan, penelitian ini menentukan tingkat keterbacaan setiap wacana dalam soal ujian sekolah. Soal ujian sekolah yang dijadikan sampel yaitu: SMAN 1 Kuningan, SMAN 1 Garawangi, dan SMAN 1 Cilimus yang berada di Kabupaten Kuningan; Bagaimana keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Kuningan dengan menggunakan grafik fry?; Tujuan penelitian: Untuk mendeskripsikan keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kabupaten Kuningan dengan menggunakan grafik fry; dengan metode: Deskriptif kualitatif; teknik pemerolehan data (studi pustaka, dokumentasi) dan teknik pengolahan data (analisis); Objek penelitian: Soal wacana (pilihan ganda) ujian sekolah tingkat SMA di Kabupaten Kuningan Tahun 2020. Hasil dari penelitian ini keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah di Kabupaten Kuningan  keterbacaan wacana dalam soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran bahasa Indonesia di kabupaten Kuningan dengan  menggunakan grafik fry ialah wacana dalam soal tersebut yakni total dari keseluruhan soal wacana yang dianalisis terdapat 90 soal dan untuk soal ujian sekolah tingkat SMA mata pelajaran bahasa Indonesia di kabupaten Kuningan layak digunakan pada tingkat SMP dan SD dengan demikian wacana yang sesuai untk tingkat SMA hanya 13 wacana dari keseluruhan wacana yang sudah di analisis.   KATA KUNCI: Keterbacaan; Wacana; Soal Ujian sekolah tingkat SMA >  ABSTRACT: Readability is whether or not a reading is read by the reader. In school exams, there are questions that become a benchmark for students' abilities, one of which is Indonesian language subjects, many schools pay less attention to whether the questions and the discourse are in accordance with the school level or not. There are times when the discourse contained in the questions does not match the level, for example: For the high school level there are several discourses that should be designated for elementary schools. determine the level of readability of each discourse in school exam questions. The school exam questions that were sampled were: SMAN 1 Kuningan, SMAN 1 Garawangi, and SMAN 1 Cilimus in Kuningan Regency; How is the readability of discourse in high school exam questions for Indonesian subjects in Kuningan Regency using the fry chart?; Research objectives: To describe the readability of discourse in high school exam questions for Indonesian language subjects in Kuningan Regency using the fry chart; with the method: qualitative descriptive; data acquisition techniques (literature study, documentation) and data processing techniques (analysis); Object of research: Discourse questions (multiple choice) for high school exams in Kuningan Regency in 2020. The results of this research are readability of discourse in school exam questions in Kuningan Regency, discourse readability in high school exam questions for Indonesian language subjects in Kuningan Regency by using graphs fry is the discourse in the matter, namely the total of all the discourse questions analyzed there are 90 questions and for the high school level exam questions the Indonesian language subject in Kuningan district is suitable for use at the junior high and elementary levels, thus the appropriate discourse for the high school level is only 13 discourses from the whole discourse that has been analyzed KEYWORDS: Readability, Discourse, High School Exam QuestionssQuestions
NILAI PENDIDIKAN RELIGIUS DALAM NOVEL SITTI NURBAYA KASIH TAK SAMPAI KARYA MARAH RUSLI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR Kholifah Safitri; Adyana Sunanda
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.41

Abstract

ABSTRAK: Dalam karya sastra, tema merupakan gagasan sentral yang telah ditetapkan pengarang dan nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) unsur intrisnik novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli, 2) nilai religius novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli, dan 3) implementasi nilai religius novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli sebagai bahan ajar. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Objek penelitian, yaitu berupa kalimat yang mengandung nilai-nilai religius dalam novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi dokumenter. Keabsahan data peneliti menggunakan teknik trianggulasi. Teknik analisis data peneliti menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi data yang mengandung nilai religi pada novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli, (2) mengklarifikasi data yang mengandung nilai religius pada novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli, dan (3) mendeskripsikan data yang mengandung nilai religius pada novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli. KATA KUNCI: karya sastra, metode, novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli.   THE VALUE OF RELIGIOUS EDUCATION IN THE SITTI NURBAYA KASIH NOVEL BY MARAH RUSLI: SOCIOLOGICAL STUDY OF LITERATURE AND ITS IMPLEMENTATION AS TEACHING MATERIALS   ABSTRACT: In literary works, the theme is the central idea that has been determined by the author and will later be developed into a story. This study aims to describe: 1) the intrinsic elements of the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli, 2) the religious value of the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli, and 3) the implementation of the religious values ​​of the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli as teaching materials. Researchers use qualitative research methods. The object of research is in the form of sentences containing religious values ​​in the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli. Data collection techniques using documentation study techniques. The validity of the data researchers used triangulation techniques. The researcher used data analysis techniques using the following steps: (1) identifying data containing religious values ​​in the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli, (2) clarifying data containing religious values ​​in the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli , and (3) describing data that contains religious values ​​in the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli. KEYWORDS: literary work, method, the novel Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai by Marah Rusli.
Perilaku Androgini Tokoh Utama Novel Koplak karya Oka Rusmini serta Implementasinya dalam Bahan Ajar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Yasmin Adilah; Asep Jejen Jaelani; Ifah Hanifah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.42

Abstract

ABSTRAK: Analisis penelitian ini menggunakan teori pengukuran androgini psikologis yang dikemukakan oleh Sandra L.Bem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 20 sifat yang menunjukkan perilaku perempuan dan laki-laki, terdapat 10 sifat laki-laki dan 10 sifat perempuan yang di tunjukkan oleh karakter Koplak. Sebagai kepala desa, Koplak cenderung menunjukkan manifestasi perilaku laki-laki di depan umum, sedangkan manifestasi perilaku perempuan lebih terlihat saat Koplak bersama anaknya atau orang yang lebih muda darinya. Sandra L. Bem menyebutkan keseimbangan ini antara perilaku maskulin dan feminim a ndrogini. Perilaku androgini ini menjadikan Koplak sebagai pribadi yang fleksibel dan menunjukkan bahwa Koplak memiliki pandangan gender yang tidak konservatif. Analisis ini dapat di implementasikan ke dalam literature pendidikan dengan memahami unsur-unsur intrinsik novel dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pembelajaran ini, siswa dilatih untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, saling menghargai, dan memahami jati dirinya sebagai manusia. KATA KUNCI : Androgini, Feminim, Maskulin, Koplak, Oka Rusmini, Pembelajaran Sastra >  COMPARISON OF THE ABILITY TO LISTENING TO FAIRY TALES WITH HAND PUPPET MEDIA AND IMAGE MEDIA IN CHILDREN EARLY AGE   ABSTRACT: The analysis of this study uses the theory of  psychological androgyny measurement according to Sandra L. Bem. The results of this study indicate 20 characteristics that show the behavior of women and men, there are 10 male and 10 famele characterstics shown by the Koplak. As a village head, Koplak tends show manifestations of male behavior in public, whereas manifestation of female behavior is more visible when Koplak with their children ore someone younger than him. Sandra L. Bem mentions this balance between masculine and feminime and androgynous behavior makes Koplak a flexible person and show that Koplak has a non-conservative view of gender. This analysis can be implementated into educational literature by understanding the intrinsic elements of the novel and relating it to daily life. Through this learning, students are trained to improve their language skills, respect each other, and understand their identiry as human beings. KEYWORS : Androgyny, Feminim, Masculine, Koplak, Oka Rusmini, Literatur Learning
PENGEMBANGAN MATERI AJAR ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM MATA KULIAH SOSIOLINGUISTIK BERBASIS BAHASA SUNDA WEWENGKON KUNINGAN DI PRODI PBSI UNIKU Sri LIna dewi; Asep Jejen Jaelani; Tifani Kautsar
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.44

Abstract

ABSTRAK: Merancang dan mengembangkan materi ajar alih kode dan campur kode berbasis bahasa sunda wewengkon guna menarik perhatian mahasiswa tentunya harus disesuaikan dengan kondisi mahasiswa, adanya indikasi bahwa pada perkuliahan sosiolinguistik tentang alih kode dan campur kode masih banyak yang bingung untuk membedakannya. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian ini sebagai langkah awal merancang sebuah pengembangan materi perkuliahan yang ada di prodi PBSI Uniku. Penelitian ini dilandaskan pada tiga rumusan masalah yakni, (1) bagaimana kebutuhan materi ajar alih kode dan campur kode berbasis bahasa wewengkon kuningan? (2) bagaimana prototipe materi ajar alih kode dan campur kode berbasis bahasa wewengkon kuningan? dan (3) bagaimana pengembangan materi ajar alih kode dan campur kode berbasis bahasa wewengkon kuningan? Untuk menjawab tiap rumusan masalah di atas, peneliti menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) dengan pendekatan model ADDIE. Teknik pemerolehan data pada penelitian ini yaitu melalui analisis RPS, analisis kebutuhan, dan pembagian angket. Teknik analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan bahwa mahasiswa masih ada yang bingung membedakan antara apa itu alih kode dan campur kode dan membutuhkan kebaruan dalam materi ajar tersebut seperti (1) menggunakan bahasa sunda wewengkon yang mudah dipahami dan dicerna. Dari hasil analisis RPS dan kebutuhan, maka disusunlah sebuah rancangan pengembangan materi ajar berbasis bahasa sunda wewengkon kuningan. KATA KUNCI: Analisis RPS, kebutuhan, materi perkuliahan, prototipe materi perkuliahan, pengembangan materi perkuliahan. Development of Teaching Materials for Code Switching and Code Mixing in Sociolinguistic Courses Based on Sundanese Language Wewengkon Kuningan ABSTRACT: Designing and developing teaching materials for code switching and code mixing based on Sundanese language wewengkon to attract students' attention must of course be adjusted to the conditions of students, there are indications that in sociolinguistic lectures about code switching and code mixing there are still many who are confused to distinguish them. Therefore, researchers conducted this research as an initial step in designing a development of lecture material in the PBSI Uniku study program. This research is based on three problem formulations, namely, (1) how are the needs of teaching materials for code switching and code mixing based on brass wewengkon language? (2) how is the prototype of teaching materials for code switching and code mixing based on brass wewengkon language? and (3) how is the development of teaching materials for code switching and code mixing based on brass wewengkon language? To answer each of the problem formulations above, researchers used the research and development (R&D) method with the ADDIE model approach. Data acquisition techniques in this study were through RPS analysis, needs analysis, and questionnaire distribution. The data analysis technique uses qualitative and quantitative descriptive techniques. Based on the results of the analysis that has been done that there are still students who are confused about the difference between what is code switching and code mixing and need novelty in the teaching material such as (1) using Sundanese language wewengkon which is easy to understand and digest. From the results of the RPS and needs analysis, a teaching material development design based on Sundanese language wewengkon kuningan was prepared. KEY WORDS: RPS analysis, needs, course materials, prototype of course materials, course material development.
ANALISIS SEMIOTIKA PADACATATAN PELAKU PEMBUNUHAN BALITA DI SAWAH BESAR JAKARTA PUSAT (KAJIAN TEORI CHARLES SANDERS PIERCE) Alfyda Khafiana; Ifah Hanifah; Aan Anjasmara
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.45

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam Catatan Remaja Pelaku Pembunuhan Balita di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Semiotika dari Charles Sanders Pierce. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif. Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pihak kedua yaitu artikel yang dipublikasikan oleh suara.com dan indozone pada tanggal 7 & 9 Maret 2020. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat makna eksplisit dan makna implisit pada catatan remaja pelaku pembunuhan balita di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Secara keseluruhan, remaja ini memiliki kebencian yang mendalam terhadap Ayahnya karena Ayahnya sering menyiksa dirinya baik secara fisik maupun verbal. Keadaan mental yang tidak stabil membuat dirinya sulit mengendalikan emosinya dan pada akhirnya ketika emosinya sudah tidak dapat dikendalikannya dia melakukan pembunuhan terhadap balita, perilakunya tersebut merupakan representasi atas bahasa yang dituangkan berdasarkan pikirannya melalui tulisan-tulisan yang dia buat. KATA KUNCI : Makna Semiotika, Catatan Remaja Pelaku Pembunuhan Balita di Sawah Besar Jakarta Pusat, Trikotimi Charles Sanders Pierce > Thesis Semiotic Analysis of the Records of Teenagers Who Killed Toddlers in Sawah Besar, Central Jakarta (the theoretical study of Charles Sanders Pierce). ABSTRACT: This study aims to find out the meaning contained in the Records of Teenagers who Killed Toddlers in Sawah Besar, Central Jakarta. The theory used in this study is the Semiotic Theory of Charles Sanders Pierce. The method used in this study is a qualitative method. The data in this study used secondary data obtained from a second party, namely articles published by suara.com and indozone on March 7 & 9 2020. The data collection technique in this study used a documentation technique. The results of this study indicate that there is an explicit meaning and an implicit meaning in the records of the juvenile perpetrators of the murder of a toddler in Sawah Besar, Central Jakarta. Overall, this teenager has a deep hatred towards his father because his father often abused him both physically and verbally. An unstable mental state made it difficult for him to control his emotions and in the end when his emotions were out of control he committed murder of a toddler, his behavior was a representation of the language that was poured based on his thoughts through the writings he made. KEYWORS : The Meaning of Semiotics, Notes of Teenagers Killing Toddlers in Sawah Besar, Central Jakarta, Trikotimi Charles Sanders Pierce
ANALISIS WACANA KRITIS PERSPEKTIF SARA MILLS DALAM KUMPULAN CERPEN AAR PULE KARYA OKA RUSMINI Nurhamidah; Sun Suntini; Figiati Indra Dewi
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 1 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i1.46

Abstract

ABSTRAK: Rumusan Masalah dalam penelitian ini diantaranya: 1) Bagaimana posisi subjek-objek dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills?; 2) Bagaimana posisi pembaca dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills?; Tujuan Penelitian: 1) Untuk mengetahui posisi subjek-objek dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills; 2) Untuk Untuk mengetahui posisi pembaca dalam kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini dalam kajian analisis wacana kritis Sara Mills. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik penelitian yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan studi pustaka. Objek penelitian ini yaitu kumpulan cerpen Akar Pule karya Oka Rusmini yang berjumlah sepuluh cerita pendek. Simpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, 1) posisi subjek melihat sebagai pihak menceritakan memiliki tolak ukur dari sudut pandang penceritaannya bertumpu pada dirinya. Memenuhi empat kriteria posisi subjek menurut Sara Mills, yakni: mampu mendefinisikan dirinya sendiri, menceritakan peristiwa, menceritakan realitas, dan menceritakan tokoh lain dalam cerpen berdasarkan sudut pandangnya sendiri. 2) Oka Rusmini sebagai penulis menempatkan tokoh utama perempuan yaitu Pudak, Biang Regina, Sipleg, seorang perempuan, Dayu Cenana, Grubug, Bunga, Saring diposisi objek. Posisi objek menjelaskan bahwa jati diri peempuan sekalipun sebagai subjek tidak terlepas sebagai yag diceritakan. Kemudian kehadiran aktor melihat gagasannya memiliki kesempatan untuk menampilkan dirinya sendiri atau ditampilkan oleh orang lain. 3) posisi pembaca dapat dilihat dengan penyapaan langsung dan penyapaan tidak langsung yang digunakan oleh pengarang, sehingga dalam hal ini dapat melihat bagaimana pembaca memposisikan dirinya dalam teks yang ditampilkan. Maka dari itu, keseluruhan jalainan teks yang diuraikan pengarang dapat mengidentifikasi posisi penulis selaku peneliti memposisikan dirinya sebagai perempuan. Dalam kumpulan cerita pendek Akar Pule dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga tahu segalanya yang menceritakan kehidupan tokoh perempuan. Maka pembaca akan mengidentifikasi atau mensejajarkan karakter tokoh yang mendapat banyak perlakuan kekerasan dan ketidakadilan namun tetap kuat dan tegar, secara tidak sadar menempatkan pembaca pada karakter tokoh perempuan dan turut merasakan kesedihan-kesedihan yang dialaminya. KATA KUNCI: analisis wacana kritis, sara mills, cerpen akar pule karya Oka Rusmini COMPARISON OF THE ABILITY TO LISTENING TO FAIRY TALES WITH HAND PUPPET MEDIA AND IMAGE MEDIA IN CHILDREN EARLY AGE ABSTRACT: The formulation of the problems in this study include: 1) What is the position of the subject-object in the short story collection Akar Pule by Oka Rusmini in Sara Mills' critical discourse analysis study?; 2) What is the position of the reader in the collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini in Sara Mills' critical discourse analysis study?; Research Objectives: 1) To determine the position of the subject-object in the collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini in the study of critical discourse analysis by Sara Mills; 2) To find out the position of the reader in the collection of short stories Akar Pule by Oka Rusmini in Sara Mills' critical discourse analysis study. The research method used is descriptive qualitative method. The research technique used is the technique of documentation and literature study. The object of this research is a collection of ten short stories by Oka Rusmini Akar Pule. The conclusions in this study are as follows, 1) the position of the subject sees as the party telling the story has a benchmark from the point of view of the story that rests on him. Fulfilling the four criteria for subject position according to Sara Mills, namely: being able to define himself, telling events, telling reality, and telling other characters in short stories based on his own point of view. 2) Oka Rusmini as a writer places the main female characters namely Pudak, Biang Regina, Sipleg, a woman, Dayu Cenana, Grubug, Bunga, Saring in the object position. The position of the object explains that a woman's identity, even as a subject, cannot be separated from what is told. Then the presence of the actor sees his ideas have the opportunity to present himself or be displayed by others. 3) the position of the reader can be seen by the direct greeting and indirect greeting used by the author, so that in this case one can see how the reader positions himself in the text displayed. Therefore, the overall structure of the text described by the author can identify the position of the author as a researcher to position himself as a woman. In a collection of short stories, Akar Pule is told from a third-person, know-it-all point of view, which tells the story of the life of a female character. Then the reader will identify or align the characters who have received a lot of violence and injustice but are still strong and tough, unconsciously placing the reader in the shoes of female characters and sharing the sorrows they experience. KEYWORDS: critical discourse analysis, sara mills, short akar pule by Oka Rusmini
UJARAN KEBENCIAN SUGI NUR RAHARJA (GUS NUR) TERHADAP PRESIDEN JOKOWI DI MEDIA SOSIAL YOUTUBE Indah Maharani; IDA HAMIDAH; Arip Hidayat
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i2.48

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji ujaran kebencian Gus Nur terhadap Presiden Jokowi di media sosial (YouTube). Dalam penelitian ini diantaranya: 1) Bagaimana bentuk ujaran kebencian Sugi Nur Raharja (Gus Nur) terhadap Presiden Jokowi di media sosial (YouTube)?, 2) Bagaimana konteks ujaran kebencian Sugi Nur Raharja (Gus Nur) terhadap Presiden Jokowi di media sosial (YouTube)?, bertujuan untuk mengetahui bentuk ujaran kebencian dan konteks ujaran Gus Nur terhadap Presiden Jokowi di media sosial (YouTube). Metode Penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik penelitian dokumentasi, menyimak dan mentranskripsikan data yang diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian, bentuk ujaran kebencian yang paling dominan yaitu bentuk penghinaan dan pencemaran nama baik, aspek yang dilanggar dalam ujaran kebencian tersebut ialah aspek suku, agama dan etnis sedangkan bentuk pencemaran nama baik yang dilakukan adalah pencemaran nama baik terhadap Presiden Jokowi, tokoh terkemuka, adapun hasil analisis konteks pada ujaran tersebut terdapat dua analisis konteks SPEAKING yang telah memenuhi delapan komponen tutur Setting and scene (tempat dan suasa, Participants (peserta tutur), End (tujuan), Acts (bentuk isi ujaran), Key (nada suara), Instumen (alat untuk menyampaikan pendapat), Norms (aturan dalam berinteraksi) dan Genre (jenis bentuk penyampaian). Dari hasil analisis tersebut maka dapat dikatakan ujaran dalam dialog tersebut telah memenuhi delapan komponen tutur dan merupakan tuturan yang kompleks, dengan menganalisis konteks tuturan SPEAKING milik Dell Hymes dapat mengetahui secara jelas bagaimana latar belakang suatu ujaran yang terjadi dari mitra tutur atau lawan tutur. KATA KUNCI: Bentuk Ujaran Kebencian; Konteks Tuturan SPEAKING >  Hate Speech Of Sugi Nur Raharja (Gus Nur) Againts President Jokowi On Youtube Social Media   ABSTRACT: This research examines Gus Nur's hate speech against President Jokowi on social media (YouTube). In this research include: 1) How is the form of Sugi Nur Raharja's (Gus Nur) hate speech against President Jokowi on social media (YouTube)?, 2) How is the context of Sugi Nur Raharja's (Gus Nur) hate speech against President Jokowi on social media (YouTube)?, aims to find out the form of hate speech and the context of Gus Nur's speech against President Jokowi on social media (YouTube). The research method used is descriptive qualitative method with documentation research techniques, listening and transcribing the necessary data. Based on the results of the study, the most dominant forms of hate speech are insults and defamation, the aspects violated in the hate speech are aspects of ethnicity, religion and ethnicity while the form of defamation committed is defamation of President Jokowi, prominent figures, As for the results of context analysis on the utterance, there are two SPEAKING context analyses that have fulfilled the eight components of speech Setting and scene (place and atmosphere, Participants (speech participants), End (purpose), Acts (form of speech content), Key (tone of voice), Instrument (tool to convey opinions), Norms (rules in interaction) and Genre (type of delivery form). From the results of the analysis, it can be said that the utterance in the dialogue has fulfilled the eight speech components and is a complex speech, by analyzing the context of Dell Hymes' SPEAKING speech, it can clearly know how the background of an utterance that occurs from speech partners or interlocutors. KEYWORDS: Form of Hate Speech; SPEAKING Contex
KESANTUNAN BERBAHASA PADA NOVEL BULAN KARYA TERE LIYE (KAJIAN PRAGMATIK): KESANTUNAN BERBAHASA PADA NOVEL BULAN KARYA TERE LIYE (KAJIAN PRAGMATIK) Jodi Pranata
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i2.64

Abstract

This research aims to identify language politeness in the novel "Bulan" by Tere Liye. The method used in this research uses descriptive qualitative. The data source in this research is the novel "Bulan" by Tere Liye. The theory used in this research uses the pragmatic theory of language politeness. The research data collection technique was carried out by reading the entire contents of the novel, carefully recording the data obtained from the novel, grouping the data based on language politeness maxims and analyzing the data obtained systematically. The results of the discussion in this research found various kinds of politeness maxims in language including (a) Maxims of Wisdom, totaling 20 (b) Maxims of Generosity totaling 8 (c) Maxims of Appreciation totaling 12 (d) Maxims of Simplicity totaling 8 (e) Maxims of Consensus totaling 5 (f ) The Maxim of Sympathy is 6.
KRITIK OBJEKTIF DALAM KUMPULAN CERPEN PENGANTIN LUKA KARYA K. USMAN Khoirunnisa; Alda Sabrina; Reyka Annisa Putri
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i2.65

Abstract

ABSTRAK : Penelitian ini ditujukan untuk mengkritik unsur intrinsik dalam kumpulan cerpen Pengantin Luka karya K. Usman menggunakan pendekatan objektif. Metode penelitian yang peneliti gunakan dalam analisis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif adalah penelitian yang dikhususkan secara menyeluruh dan mendalam. Sumber daya dalam penelitian ini adalah kumpulan cerpen Pengantin Luka karya K.Usman yang berjumlah lima belas cerpen, peneliti mengambil lima judul cerpen yang akan penuliti teliti dan kritik unsur intrinsik berupa, tema, sudut pandang,  plot/alur, latar, tokoh dan penokohan, gaya bahasa dan amanat.   Kata kunci : kritik objektif, unsur intrinsik, cerpen OBJECTIVE CRITICISM IN K. USMAN'S GROUP OF WOUND BRIDAL SHORT STORIES   ABSTRACT : This research is aimed at criticizing the intrinsic elements in the short story collection Pengantin Luka by K. Usman using an objective approach. The research method researcher use in this analysis uses a qualitative descriptive method, which is research that is specialized in a thorough and in-depth manner. The resource in this research is a collection of fifteen short stories Pengantin Luka by K. Usman. researcher  took five short story titles which researcher will examine and criticize the intrinsic elements in the form of theme, point of view, plot, setting, characters and characterization. language style and message.    Keywords: objective criticism, intrinsic element, short story
MUATAN HOTS DALAM BUKU AJAR BAHASA INDONESIA SMP KELAS VII TERBITAN KEMENDIKBUDRISTEK Dede Rudiansah
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 3 No 2 (2023)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v3i2.66

Abstract

ABSTRAK: Buku ajar merupakan salah satu bagian penting dalam pembelajaran. Tingkatan proses berpikir dalam buku ajar pada akhirnya ikut mempengaruhi perkembangan peserta didik dalam berpikir. Tujuan penelitian ini adalah memetakan muatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam soal di buku ajar Bahasa Indonesia SMP Kelas VII karya Rakhma Subarna, Sofie Dewayani, dan C. Erni Setyowati terbitan Kemendikbudristek tahun 2021. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan, pengumpulan data, penyajian, dan penarikan simpulan. Data dikumpulkan menggunakan teknik membaca intensif, pembacaan secara mendalam dan berulang. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa muatan HOTS dalam soal buku ajar Bahasa Indonesia Kelas VII mencapai 72% dengan tingkatan proses berpikir (C4) 51%, (C5) 38%, dan (C6) 11%. Selain itu, sebaran HOTS berdasarkan KKO di buku ajar Bahasa Indonesia Kelas VII ini meliputi menganalisis (C4.1), membandingkan (C4.2), menguraikan atau memerinci (C4.3), mengelompokkan atau mengategorikan (C4.4), dan menyimpulkan (C4.5). Kemudian, menilai atau mengomentari (C5.1), menyunting atau mengoreksi (C5.2), memprediksi atau menduga (C5.3), dan memilih (C5.4). Lalu, menciptakan (C6.1), merancang (C6.2), dan meningkatkan (C6.3). Soal HOTS di buku ajar Bahasa Indonesia SMP Kelas VII terbitan Kemendikbudristek tahun 2021 di dominasi oleh soal pada level atau tingkatan menganalisis (C4). KATA KUNCI: Bahasa Indonesia; Buku Ajar; Higher Order Thinking Skills; SMP; Kurikulum Merdeka > HOTS CONTENTS IN INDONESIAN LANGUAGE TEXTBOOK FOR GRADE VII JUNIOR HIGH SCHOOL PUBLISHED BY KEMENDIKBUDRISTEK (THE MINISTRY OF EDUCATION, CULTURE, RESEARCH, AND TECHNOLOGY) ABSTRACT: The textbook is an essential part of learning. The level of thinking process in the textbook ultimately influences the development of students' thinking. The purpose of this research is to map the content of Higher Order Thinking Skills (HOTS) in the exercises within the textbook Indonesian Language for Grade VII Junior High School by Rakhma Subarna, Sofie Dewayani, and C. Erni Setyowati, published by the Kemendikbudristek in 2021. Data analysis is conducted in three stages: data collection, presentation, and drawing conclusions. Data is collected using intensive reading techniques, in-depth and repeated readings. The findings of this study indicate that the content of HOTS in the exercises of the textbook Indonesian Language for Grade VII Junior High School reaches 72%, with a level of thinking processes (C4) 51%, (C5) 38 %, and (C6) 11%. In addition, the distribution of HOTS based on operational verbs (KKO) in this textbook Indonesian Language for Grade VII Junior High School includes analyze (C4.1), compare (C4.2), decribe or detail (C4.3), group or categorize (C4.4), and conclude (C4.5). Then, rate or comment (C5.1), edit or correct (C5.2), predict or surmise (C5.3), and choose (C5.4). Then, create (C6.1), designing (C6.2), and increase (C6.3). The HOTS questions in the textbook Indonesian Language for Grade VII Junior High School published by Kemendikbudristek in 2021 are dominated by questions at the analyzing level (C4). KEYWORDS: Indonesian Language; Textbook; Higher Order Thinking Skills; Junior High School; Independent Curriculum.