cover
Contact Name
LAILATUL RIF'AH
Contact Email
rifah.lala12@gmail.com
Phone
+6282234437947
Journal Mail Official
ahmad.zaenuri@unkafa.ac.id
Editorial Address
Jl KH Syafii no 07 desa Suci Kec Manyar Kabupaten Gresik
Location
Kab. gresik,
Jawa timur
INDONESIA
JADID
ISSN : 28287797     EISSN : 2828917X     DOI : https://doi.org/10.33754/jadid.v4i01
This Journal specializes in studying the theories and practices of quranic and islmic communication is intended to express original researches and current issues. This journal welcomes the contributions of scholars from related fields warmly that consider the following general topics Tafsir Quran Pemikiran Islam dalam Quran Hemeneutik Komunikasi Islam Broadcasting Strategi Dakwah Islam
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 55 Documents
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM AL-QUR'AN Mansur, Adela Aurent
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 02 (2023): September
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i02.572

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar pendidikan lingkungan hidup dalam al-qur’an pada materi pengetahuan dasar-dasar pendidikan lingkuangan hidup dalam al-qur’an . Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan library reseach (Penelitian Kepustakaan), yang dilakukan dengan cara 1) membaca, 2 mengkaji, 3) menyajikan data, 4) menganalisis dan menafsirkan, 5) Menyimpulan ayat pendidikan berkaitan dengan pendidkan lingkungan hidup dalam al-qur’an i. Hasil penilaian ini menunjukkan Lingkungan pendidikan Islam merupakan karakter pendidikan yang semestinya diberlakukan secara nasional di negara kita, tidak membunuh fitrah manusia, dan diturunkan untuk membentuk pribadi yang sempurna dalam diri manusia.
PEMAHAMAN AYAT WASATHIYYAH DAN PENERAPANNYA DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DI LINGKUNGAN KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN GURAH KEDIRI Khusna, Okta Wakhidatul; Maghfiroh, Lela Riesda Elief; Chairiani, Anita; Ansori, Ibnu Hajar
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 02 (2023): September
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i01.592

Abstract

Sebagai masyarakat sosial yang saling bergantung satu sama lain, manusia memiliki peran yang dominan dalam membentuk kerukunan antarsesama. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai luhur yang terkandung dalam norma kemasyarakatan, adat istiadat, utamanya bagi masyarakat muslim adalah pemahaman terhadap nilai-nilai luhur dalam agama Islam yang bersendikan Al-Qur’an dan Hadis. Adapun nilai-nilai Qur’ani yang bisa dipahami sebagai asas dalam membangun dan membina keharmonisan hubungan sosial bisa ditemukan pada ayat-ayat tentang moderasi atau wasathiyah. Melalui artikel ini, akan dikaji bagaimana ayat tersebut dipahami oleh tokoh agama di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gurah Kediri dan bagaimana didialogkan dengan masyarakat, serta bagaimana terejawentahkan dalam upaya membangun masyarakat yang rukun dan harmonis. Untuk mendapatkan jawaban yang menyeluruh terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, dilakukan penelitian lapangan (field research) melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya disajikan secara deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan adanya dialektika teks Alquran dengan konteks masyarakat sebagai pengamalnya. Pola dialektika tersebut jika diuraikan dengan pembacaan teoretis Konstruksi Sosial Peter L. Berger akan tampak adanya tiga momen penting: (1) Eksternalisasi, yakni ketika Pimpinan KUA dan Tokoh Agama Kecamatan Gurah Kediri memberikan pemahaman tentang nilai-nilai Qur’ani terkait wasathiyah kepada masyarakat; (2) Obyektivikasi, ketika masyarakat menerima dan menyepakati terbentuknya Desa Pancasila, tepatnya di Desa Banyuanyar; (3) Internalisasi, yakni pemahaman nilai-nilai wasathiyah pada individu masyarakat yang diwujudkan dalam sikap moderat.
MALU DALAM AL-QUR’AN Dina Uzlifatun Nada; Lailatul Rif’ah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v2i1.613

Abstract

The Holy Qur'an and sunnah have mentioned that the nature of shame (al-hayã) is the basic nature of akhlakul karimah that can encourage humans to do good and stay away from the prohibition of sharia, because 'shame' is concerned with self-esteem and honor. Shame is the main source of goodness and the element of glory in every work. Looking at the development of increasingly advanced times along with the development of today's technology, the phenomenon of moral collapse in society is increasingly rife. The urgency of planting an attitude of shame is expected to make every soul embedded in the nature of muraqabah, namely maintaining or feeling always supervised so as to form an attitude that is always wary of the Laws of God) and the nature of tajalli, namely if the soul is filled with ethical pearls and bodies that are accustomed to doing noble deeds, and realize the condition of a faithful, moral and civilized society. So here researchers use the study of shame in the Qur'an to study verses about the attitude of shame in the Qur'an and to find out how to cultivate shame in society. This approach in research uses a library research approach. Using this type of qualitative research. The method that researchers use is the thematic interpretation method, which is a way of interpreting the Qur'an by studying a certain theme and then collecting verses related to the verse that the researcher took. Then explained one by one from the nuzuli side, semantics, and interpretations are connected one verse with another verse so that it is collected to form a complete and comprehensive idea of the Qur'an's view of a theme studied. Some things that can cause a person to have a shy nature and this trait will be ingrained and grow in themselves, namely: staying away from habits caused by at least shame, strengthening faith and trust in the heart, forcing themselves to behave in shame recommended by religion.
LARANGAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM AL-QUR’AN Umi Rosyidah; Lailatul Mas’udah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 1 (2022): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v2i1.614

Abstract

In today's era, all aspects of life have advanced and become modern. However, these good advances in science and technology are not accompanied by positive attitudes and behaviors. One of the negative attitudes that is the result of advances in science and technology is exaggeration. Exaggeration is an attitude that goes beyond reasonable limits. Several types of exaggeration occur in this modern era, including excess in eating, drinking, dressing, and using wealth. In the Qur'an, Allah has forbidden excess. But society now ignores this prohibition. even though Allah will not prohibit something if there is no mafsada or harm in it. The problems in this study are as follows: (1) How is the verse about the prohibition of excess in the Qur'an interpreted? and (2) What is the danger of excess in the Qur'an? The approach in this study uses a library research approach. By using this type of qualitative research, The method that the author uses is a method of conceptual thematic interpretation, which is a way of interpreting the Qur'an by taking a certain theme, collecting all the verses related to that theme, and seeking a complete understanding from it. In this case, the author takes the theme of the prohibition of excess in eating, drinking, dressing, and using wealth (which is material), which is explained in QS. AlA'raf (7): 31, QS. Furqan (25): 67, QS. Al-An'am (6): 141, QS. An-Nisa' (4): 6, QS. Al-Isra '(17): 26, 27, and 29.From the results of the study, it can be concluded that excess is prohibited if it exceeds the limits of needs, abilities, economics, shari'a, or even to the point of leaving obligations, and can cause mafsada for the perpetrator or those around him. As for the dangers of being extravagant, including that excess in eating and drinking can cause various diseases, excess in dressing tends to be arrogant, which is a character highly disliked by Allah. Likewise, excessive spending on assets can lead to poverty. Moderation and middle-of-the-road attitudes (neither excessive nor stingy) are Islamic guidelines in matters of wealth, society, and religion. Because avoiding excess and adopting a simple life can increase faith and make it easier to face all the tests given by Allah. Keywords: Al-Qur?an, Larangan, Berlebih-lebihan.
TINJAUAN AL-QUR’AN TERHADAP KESETARAAN GENDER DALAM PEMBAGIAN WARISAN: (STUDI ANALISIS PADA SURAH AL-NISA AYAT 11) Mohammad Ruslan; Taufik Aris Saputra
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 01 (2023): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i01.617

Abstract

Problem dikalangan masyarakat tak pernah berhenti pada suatu masa. Walaupun problem-problem tersebut telah diangkat oleh para ulama’ salaf. Seperti halnya beberapa tahun lalu yang sedang ramai memperbincangkan tentang perbedaan ketentuan warisan 2:1 bagi anak laki-laki dan perempuan yang dianggap tidak adil oleh kaum feminisme. Berawal dari problem tersebut penulis berinisiatif untuk membahas tuntas bagaimana menurut al Qur’an, dan apakah pembagian 2:1 bisa dikatakan adil. Fokus dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perspektif al-Qur’an tentang kesetaraan gender dalam pembagian warisan, dan untuk mengetahui bentuk keadilan terhadap kesetaraan gender dalam pembagian warisan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini termasuk ke dalam content analysis dengan pendekatan library reseach. Teknik Pengumpulan data yang diterapkan adalah pengumpulan data literer, yaitu penggalian bahan-bahan pustaka yang searah dengan objek kajian. Tekhnik analisis data yang dipergunakan adalah content analiysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pebagian harta warisan yang ditentukan oleh al-Qur’an dalam surah al-Nisa’ Ayat 11 (Li al-dzakari mitslu hadd al-untsayain) terhadap anak laki-laki dan perempuan termasuk pembagian yang bukan samarata karena pembagian harta warisan yang tercantum dalam surah al-Nisa’ Ayat 11 (Li al-dzakari mitslu hadd al-untsayain) tersebut anak laki-laki mendapatkan bagian 2:1 atau dengan kata lain anak laki-laki mendapatkan bagian dua kali lipat dari bagian anak perempuan. Keadilan Pembagian 2: 1 dikarenakan beberapa hal diantaranya beban anak laki-laki lebih besar dan anak laki-laki berkewajiban untuk menafaqohkan hartanya kepada keluarganya. Keyword: Warisan, Kesetaraan, Alqur’an.
KONSEP IKHTILATH DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Tharifatut Taulidia; Lizamah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 01 (2023): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i01.624

Abstract

In the modern, various forms of association among human beings there’s been a lot deviation and across the boundaries of Islamic law for example ikhtila?h. Ikhtila?h is mixed up a boy and a girl who is not a mahram somewhere that allows both to look at each other even commit a heinous act. Ikhtila?h also interpreted as a form of free association which is forbidden by Islam. This paper will answer the question of how to interpret the ikhtila?h verses in the Al-Qur’an and how is the concept of ikhtila?h in the perspective Al-Qur’an. This paper comes to the conclusion that the results of this study indicate that there are 7 verses of the Qur’an related to ikhtila?h, including Q.S. Yûsuf [12]: 23, Q.S. al-Isr?’ [17]: 32, Q.S. an-Nûr [24]: 30 and 31, Q.S. al-Qhashâs [28]: 23 and 25, and Q.S. al-Ahzab [33]: 53. Ikhtila?h is male and female according to in perspective Al-Qur’an it’s not allowed. But, there is information that allows ikhtila?h if the perpetrator is accompanied by a mahram or someone he trusts, has a good purpose, and the atmosphere is safe from slander. Besides that, ikhtila?h also allowed in case of emergency like helping people in trouble, there is a need for sharia, and if you are in a celebration that has a positive value. Keywords: Al-Qur’an, Ikhtila?h, Thematic
Metode Dakwah Ustadz Mukhasan Melalui Jam’iyah Sholawat Nariyah Dalam Meningkatkan Nilai Silaturrahim Masyarakat Desa Patokan Dewi Murthosiah; Noviana Aini
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 01 (2023): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i01.625

Abstract

Ustadz mukhasan adalah sosok yang sabar, istiqomah dan dermawan. Sebagai seorang pendatang di desa Patokan dengan metode dakwah yang di gunakan, beliau mampu menarik simpati masyarakat sehingga di percaya dan di akui sebagai tokoh masyarakat khusus di desa Patokan. Masalah dalam penelitian adalah: (1) Bagaimana Metode Dakwah ustadz Mukhasan melalui Jam’iyah Sholawat Nariyah di desa Patokan (2) Bagaimana Pelaksaan Jam’iyah Sholawat Nariyah di desa Patokan? Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan metode dakwah Bil Hikmah karena pendekatan ini digunakan untuk menelusuri tentang metode dakwah ustadz Mukhasan melalui Jam’iyah Sholawat Nariyah. Oleh sebab itu, proses penelitian ini diharapkan mampu memunculkan fakta yang di tuangkan dalam bentuk tulisan dari data-data yang diperoleh untuk memberikan penjelasan tentang metode yang di gunakan oleh ustadz Mukhasan melalui Jam’iyah Sholawat Nariyah dalam meningkatkan nilai silaturrahim masyarakat desa Patokan, pelaksanaan Jam’iyah Sholawat Nariyah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode dakwah melalui Jam’iyah sholawat nariyah yang digunakan ustadz Mukhasan sangat dibutuhkan oleh masyarakat desa Patokan dimana saat ini masyarakat membutuhkan ikatan Ukhuwah Islamiyah antar sesama masyarakat desa Patokan serta membawa manfaat dan di terima dengan baik ini terlihat pada perubahan yang mana perubahan itu membuat Jam’iyah Sholawat Nariyah lebih baik dari sebelumnya. Keyword: Metode Dakwah, Jam’iyah Sholawat Nariyah
ISTIDRAJ PERSPEKTIF TAFSIR AL TABARI Dinda Listiani; Misbahul Munir
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 1 No. 2 (2021): September
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v1i2.626

Abstract

Manusia diberikan kenikmatan oleh Allah tetapi tidak banyak dari mereka yang bersyukur. Nikmat yang diberikan seringkali disalahgunakan untuk perbuatan maksiat. Banyak diantara mereka yang semakin mendapatkan nikmat semakin terjerumus dalam ketidak-taat-an. Mereka tidak sadar bahwa harta, jabatan, status sosial yang dimilki adalah bentuk istidraj Allah kepadanya. Tulisan ini mengekspolarasi tentang istidraj yang terjadi pada umat manusia, yang mana mereka sering tidak merasakan jika sedang mengalaminya. Penulis menggali tema istidraj dari sumber aslinya yakni al Quran dan kemudian melihatnya dari kacamata Mufassir Imam Ibnu Jari Al Tabari. Tulisan ini menggunakan jenis penelitian kuliatatif dengan menggunakan daya kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data-data dan informasi dari berbagai macam literatur pustaka. Teknis analisa data yang digunakan adalah dengan teknis teori tafsir maudhui. Adapun hasil penelitian ini menjelaskan bahwa kata istidraj dalam al Quran secara redaksional (term) ditemukan dalam dua ayat, yakni surah al-Qalam (68):44-45 dan surah al-A’raf (7):182. Sedangkan secara konseptual tema istidraj ditemukan dalam lima ayat, yakni al-An’am (6):44, al-Zumar (39):49, al-Ankabut (29):66, al-Baqarah (2):211, dan Ali Imran (3):178. Menurut al-T?bari adalah hukuman berupa tipu daya kenikmatan duniawi yang diberikan kepada manusia yang mendustakan dan berbuat maksiat kepada Allah, sehingga mereka beranggapan bahwa hukuman tersebut adalah sebuah bentuk kenikmatan, pada akhirnya mereka terjerumus ke dalam kenikmatan tersebut dan semakin lupa kepada Allah. Kemudian Allah akan menarik sedikit demi sedikit ke arah kebinasaan dan Allah akan siksa mereka secara tiba-tiba dari arah yang tidak mereka ketahui. Selain itu penulis menemukan tanda-tanda seseorang yang terkena istidraj, yakni: Selalu mendustakan Allah tetapi kenikmatan terus mengalir, selalu mengingkari nikmat Allah, tidak mengetahui hakikat nikmat yang diberikan dan bersikap sombong. Keywords: Istidraj, Tafsir Al-T?bari, Tafsir.
MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN & HADIS Muhammad Wahfiyudin Romadoni
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 2 No. 2 (2022): September
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v2i2.631

Abstract

Moderasi beragama mutlak diperlukan dan diajarkan kepada siswa agar kelak menjadi manusia yang rukun, penyayang dan toleran. Pendampingan keagamaan di lembaga pendidikan sangat penting karena guru berperan penting dalam menanamkan pemahaman tentang Islam yang rohmatan lil alamin serta mampu menghargai perbedaan. Selain itu, moderasi beragama dapat diimplementasikan dalam proses belajar mengajar melalui metode diskusi, kerja kelompok dan karyawisata. Dengan pemahaman tersebut, siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari -hari.Melaluinya, siswa dapat dengan mudah memahami keragaman, menghargai orang lain, menghargai pendapat orang lain dan bersikap toleran. Melalui moderasi beragama yang berulang-ulang dapat terbentuk karakter siswa yang bijak sehingga siswa dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan, sehingga siswa memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, serta kasih sayang dan komitmen hingga implementasi kebijakan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa tidak hanya dapat bersikap toleran, tetapi mereka dapat mencintai keragaman dan menyadari perbedaan sebagai sumber kekuatan kita, dan ketika kita kembali ke budaya kita, moderasi dan keragaman adalah kekuatan kita yang sebenarnya. Moderasi beragama kini menjadi simbol yang menghubungkan segala bentuk keragaman beragama di Indonesia. Keyword: Al-Qur’an, Moderasi, Agama.
PESAN DAKWAH DALAM FILM CINTA LAKI-LAKI BIASA: (Analisis Semiotika Roland Barthes) Hasan, Sultoni; Muthowah, Aflachal
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 3 No. 01 (2023): Maret
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v3i01.638

Abstract

Film adalah sebuah karya seni yang sarat dengan simbol-simbol yang di dalamnya terkandung makna tertentu. Film merupakan salah satu media komunikai massa audio visual yang mampu mempengaruhi jiwa manusia, dimana penontonya seakan menyaksikan langsung bahkan seolah-olah ikut terlibat pada peristiwa yang terjadi di dalamnya. Film sebagai peran dakwah menghadirkan kembali realita yang berkembang dalam masyarakat. Film Cinta Laki-Laki Biasa merupakan film yang mengambarkan mengenai sebuah kisah cinta di mana di dalamnya terdapat berbagai perbedaan dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pesan dakwah yang terkandung dalam Film Cinta Laki-Laki Biasa. Film Cinta Laki-Laki Biasa merupakan Film yang benuasa sosial namun berisi pesan dakwah, sehingga penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dakwah dalam film tersebut. Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk meneliti dan mengkaji tanda-tanda dalam film ini. Pendekatan semiotik Roland Barthes ini memberi titik tekan pada makna denotatif, konotatif, dan mitos. Semiotika Roland Barthes digunakan untuk menganalisis adegan-adegan yang menampilkan tentang dakwah. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pesan dakwah yang terjadi antar tokoh dalam film. juga terdapat Pesan dakwah dalam film tersebut antara lain pesan Aqidah, Akhlak, Syariat Dan Sosial. Keyword: Film, Semiotika, Dakwah