cover
Contact Name
Riva’atul Adaniah Wahab
Contact Email
redaksi.bpostel@kominfo.go.id
Phone
+6285255022751
Journal Mail Official
redaksi.bpostel@kominfo.go.id
Editorial Address
Building B Floor IV, Medan Merdeka Barat Street No. 9, Jakarta Pusat - 10110 Phone. (021) 3483 3640 Fax. (021) 34833640
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Pos dan Telekomunikasi
ISSN : 16930991     EISSN : 24431524     DOI : https://doi.org/10.17933/bpostel
Scientific work/Manuscript that can be published in the Buletin Pos dan Telekomunikasi is in the form of academic papers, research reports, surveys, research briefings, and degree theses, analysis of secondary data, thoughts, theoretical/conceptual/methodological reviews in the field of: Post: including policy, technology and standardization of postal equipments and services. Telecommunications: including policy, standardization, market, resources, security, infrastructure and technology either wireless or wired telecommunications, both voice and data communications.
Articles 192 Documents
Status dan Perkembangan Proyek Loon Terkini [Present Status and Development of Loon Project] Diah Yuniarti; Hilarion Hamjen
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 1 (2017): June 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150102

Abstract

Studi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran terkait status dan perkembangan Proyek Loon di berbagai negara saat ini dari berbagai aspek hingga awal tahun 2017. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah Google melakukan trial Loon di Selandia Baru, Brazil, dan Australia, saat ini Proyek Loon masih mengusahakan uji coba dan komersialisasi di negara-negara Asia yaitu di India, Sri Langka dan Indonesia terutama negara dengan banyak penduduk di wilayah terpencil yang masih belum mendapatkan layanan telekomunikasi. Dalam perjalanannya, uji coba dan komersialisasi Proyek Loon di beberapa negara tersebut terkendala beberapa hal, terutama perizinan, baik lisensi frekuensi maupun perizinan ruang udara.  *****This study is conducted to gather illustration related to recent status and development of Project Loon in different countries viewed from various aspects by the beginning of 2017. The study is using qualitative approach and literature studies. Research result shows that after Google conducted Loon trials in New Zealand, Brazil and Australia, currently Project Loon is still exploring trial and commercialization in Asia countries which are India, Sri Langka and Indonesia, particularly in country which has many underserve population of telecommunication services in remote areas. On its way, trial and commercialization of Project Loon in those different countries are constrained by several issues, particularly in term of whether frequency license or airspace permissions. 
Kajian Tekno-Ekonomi pada Telehealth di Indonesia [Techno-Economic Study on Telehealth in Indonesia] Sri Ariyanti; Kautsarina Kautsarina
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 1 (2017): June 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150104

Abstract

Program telehealth di Indonesia dapat menjangkau masyarakat yang berada di daerah terluar dan perbatasan, dimana fasilitas pelayanan kesehatan belum merata ketersediaannya. Penelitian ini bertujuan memperoleh potensi implementasi telehealth di Indonesia dengan menggunakan pendekatan analisis dari segi ekonomi dan teknologi. Metode penelitian menggunakan pendekatan data kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Perhitungan biaya program telehealth dalam penelitian ini direncanakan untuk puskesmas yang berada di daerah tertinggal di seluruh Indonesia dalam kurun waktu lima tahun (2016-2020). Hasil kajian menunjukkan bahwa biaya program telehealth untuk sektor kesehatan di Indonesia cukup besar. Biaya terbesar pada tahun keempat yaitu berkisar Rp 180 Miliar. Meskipun demikian biaya tersebut masih terjangkau dari anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk Kementerian Kesehatan. Program telehealth juga dapat menjadi tonggak untuk implementasi Internet of Things di sektor kesehatan bagi masyarakat publik.  Maka dari itu, implementasi telehealth sangat mungkin diterapkan di Indonesia.*****Telehealth program can reach people in the rural area, where health service facilities are not yet equitable. This study aims to obtain the potential implementation of telehealth in Indonesia by using techno-economic approach. The research method uses quantitative data approach supported by qualitative data. The results of the study indicate that the cost of the telehealth program for the health sector in Indonesia is quite large, but still affordable from the government budget allocated to the Ministry of Health. In addition, telehealth can also be a milestone for the implementation of the Internet of Things in the health sector for the public. Therefore, telehealth implementation is very possible to be applied in Indonesia.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Pelanggan terhadap Layanan Pitalebar Bergerak [Determinants of Customer Satisfaction against Mobile Broadband Service] Kasmad Ariansyah
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 1 (2017): June 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150103

Abstract

Laju pertumbuhan jumlah pelanggan seluler diprediksi akan mengalami perlambatan. Para penyedia layanan dituntut untuk dapat melakukan inovasi dan menyusun strategi yang tepat agar dapat tetap bertahan. Layanan data saat ini menjadi andalan para penyedia layanan untuk menjaring pelanggan baru sekaligus mempertahankan pelanggan lama. Studi ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi terkait faktor-faktor yang memengaruhi kepuasan pelanggan terhadap layanan pitalebar pada jaringan bergerak seluler di Indonesia. Temuan dari studi ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun strategi untuk meningkatkan loyalitas pelanggan. Pengumpulan data dilakukan melalui survei. Analisis data yang digunakan terdiri dari statistika deskriptif, Chi-Square, dan Regresi Logistik Multinomial. Hasil analisis menunjukkan dua faktor demografi (pekerjaan dan pendapatan), dua atribut perangkat (jenis dan merk), pemilihan penyedia layanan, dan aktivitas penggunaan layanan data secara signifikan mempengaruhi kepuasan pelanggan.  Kaitannya dengan kinerja teknis dan non-teknis, diperoleh hasil bahwa kesesuaian kuota,  kemampuan petugas dalam menyelesaikan masalah, dan pemberitahuan sisa kuota, memengaruhi kepuasan pelanggan pada taraf signifikansi 0,05. Disamping itu, terdapat dua parameter yang memiliki taraf signifikansi sebesar 0,1, yaitu kecepatan koneksi dan kemudahan menghubungi pusat layanan pelanggan.*****The growth rate of cellular subscribers is predicted to slow down. Service providers are required to be able to innovate and develop appropriate strategies to survive. Data services nowadays have become the mainstay of service providers to capture new customers as well as to retain the old ones. This study aims to explore related factors affecting consumer satisfaction of broadband services on mobile cellular networks in Indonesia. The findings of this study are expected to be used as a consideration in devising strategies to improve customer loyalty. Data collection is carried out through a survey. The analysis consists of descriptive statistics, Chi-Square, and Multinomial Logistic Regression. The results shows that two  demographic factors (occupation and monthly income), two device attributes (device type and brand), the selection of service providers, and the activities of the use of data services significantly effect on customer satisfaction. In relation to technical and non-technical performance, the results shows that the quota conformity, the ability of officers in solving the problem, and data packet remaining notice have significant level of 0.05. In addition, there are two parameters that significantly affect customer satisfaction toward mobile broadband service at the level of  0.1.
Implementasi dan Analisis Purwarupa Sistem Collision Avoidance pada Mobil Pintar Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel [Implementation and Analysis Prototype of Collision Avoidance System in Smart Car Based on Wireless Sensor Network] Dwi Kresna Wijaya; Doan Perdana; Yoseph Gustommy Bisono
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150201

Abstract

Accidents are the third highest cause of death in the world. Through the collision avoidance system applied to smart car, it is expected that accidents on the car can be avoided and the number of accidents can be reduced. This system applies the concept Wireless Sensor Network (WSN), the type of network that can pass through the process of sensing, transmitting data, and monitoring through internet connection. The design and implementation of collision avoidance prototype in this smart car works by means of the distance between the cars obtained from the Ultrasonic HC-SR04 sensor which then becomes the Arduino Uno input to regulate the speed of the car in order to avoid a collision. Communication between cars using Xbee S2 is connected to Raspberry Pi to connect to the web server. Information gained distance and speed of the car will occur on websites that can be accessed by the user. Maximum Xbee S2 test result are 89 meters. The delay value from the sensor to the monitoring system is 0.411 second, while the average throughput value is 641.73 bytes/s  *****Kecelakaan menjadi penyebab tertinggi ketiga kematian di dunia. Melaui sistem collision avoidance yang diterapkan pada mobil pintar, diharapkan agar kecelakaan pada mobil dapat terhindarkan dan angka kecelakaan dapat berkurang. Sistem ini menerapkan konsep Wireless Sensor Network (WSN), jenis jaringan yang dapat melalukan proses sensing, pengiriman data, serta monitoring melalui koneksi internet. Perancangan dan implementasi purwarupa collision avoidance pada mobil pintar ini bekerja dengan cara mendapatkan jarak antar mobil yang didapat dari sensor Ultrasonik HC-SR04 yang kemudian menjadi input Arduino untuk mengatur kecepatan optimal mobil agar tidak terjadi tabrakan. Komunikasi antar mobil menggunakan Xbee S2 yang dihubungkan ke Raspberry Pi untuk dikoneksikan ke web server. Informasi yang didapat berupa jarak dan kecepatan mobil akan ditampilkan pada website yang dapat diakses oleh pengguna. Hasil pengujian didapatkan jangkauan maksimal Xbee S2 adalah 89 meter. Nilai delay dari sensor hingga sistem monitoring didapatkan rata-rata 0,411 detik, sedangkan nilai throughput rata-rata adalah 641,73 bytes/s.
Demand Forecast of 700 MHz Frequency Spectrum for LTE Mobile Broadband Services [Prakiraan Kebutuhan Spektrum di Frekuensi 700 MHz untuk Layanan Broadband Mobile LTE] Priambada Aryaguna; Iskandar Iskandar
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150202

Abstract

Spektrum frekuensi 700 MHz merupakan salah satu kandidat spektrum untuk layanan LTE di Indonesia. Pada awalnya spektrum ini digunakan untuk siaran televisi analog. Setelah periode peralihan digital, ada potensi 108 MHz bandwith yang dapat digunakan akibat transformasi penyiaran ke TV digital dan kemudian disebut digital dividen. Pada penelitian ini, sebuah model pertumbuhan digunakan untuk memperkirakan kebutuhan spektrum frekuensi untuk LTE. Makalah ini membahas perhitungan kebutuhan spektrum untuk frekuensi untuk layanan LTE dalam parameter seperti kepadatan penduduk, jenis area dimana LTE digunakan, dan penetrasi pelanggan. Kami menggunakan model difusi Bass untuk menghitung kebutuhan spektrum di jaringan LTE. Dalam penelitian ini ada dua kandidat spektrum frekuensi yang dapat digunakan, namun dengan karakteristik dan permasalahannya sendiri. Untuk spektrum di bawah 1 GHz, ada bandwith 25 MHz di kisaran spektrum frekuensi 800 MHz yang masih digunakan untuk layanan CDMA sampai saat ini. Spektrum 900 MHz juga memiliki bandwith 25 MHz, namun tetap digunakan untuk layanan GSM. Spektrum frekuensi lainnya, 1900 MHz dan 2100 MHz masing-masing lebar 26 dan 60 MHz, masih digunakan untuk teknologi WCDMA dan penggunaannya masih sangat tinggi  *****Frequency spectrum of 700 MHz is one of many candidates for LTE service establishment in Indonesia. At first, this spectrum is used for analog TV broadcasting. After the digital switchover period, there is 108 MHz bandwidth left because of the digital broadcasting transformation which called by digital dividend. A certain growth model is used to demand forecast the frequency spectrum needed for this digital dividend LTE. This paper aims to calculate the spectrum needs for the LTE services within a certain parameter, such as population density, type of area in which LTE is deployed, and subscriber penetration. We used Bass diffusion model to calculate the spectrum needs in LTE network. There are two frequency spectrum candidates which can be used with its own characteristics and problems. For spectrums below 1 GHz, there is a bandwidth of 25 MHz in the range 800 MHz frequency spectrum that is still used for CDMA services. The 900 MHz spectrum also has a bandwidth of 25 MHz and still used for GSM service. Another spectrum i.e. 1900 MHz and 2100 MHz, each of that have the width of 26 and 60 MHz, and still used for WCDMA technology with high utilization
BUMN dan Penguasaan Negara di Sektor Pos [SOEs and State Authority in Postal Sector] Muhammad Insa Ansari
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150203

Abstract

This paper discusses the study of SOEs and state control of the postal sector. The study was conducted using normative legal research methods. In this normative legal research used primary legal materials, secondary legal materials, and tertiary legal materials. The results of the study indicate that the state's control of postal activities is changing according to the economic system adopted by the government in power. In the old order of state control of the postal activity is very dominant, even the Postal Service, Telegram and Telephone have the authority to conduct a monopoly. In the new order era of state control of the postal sector began to decrease even during the order of reform of state control of the postal sector only as a regulator only. However, during the reform order period there were a number of state obligations carried by SOEs in the form of public service obligations to organize posts in remote areas.*****Naskah ini membahas kajian terhadap BUMN dan penguasaan negara pada sektor pos. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif. Dalam penelitian hukum normatif ini digunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguasaan negara terhadap kegiatan pos berubah sesuai dengan sistem perekonomian yang dianut oleh pemerintah yang berkuasa. Pada masa orde lama penguasaan negara terhadap kegiatan pos sangat dominan, bahkan Jawatan Pos, Telegram dan Telepon memiliki kewenangan untuk melakukan monopoli. Pada masa orde baru penguasaan negara terhadap sektor pos mulai berkurang bahkan pada masa orde reformasi penguasaan negara terhadap sektor pos hanya sebagai regulator saja. Namun demikian pada masa orde reformasi ada sejumlah kewajiban negara yang diemban oleh BUMN dalam bentuk kewajiban pelayanan umum untuk menyelenggarakan pos di daerah-daerah terpencil. 
Peluang dan Tantangan Pemanfaatan Frekuensi Ka-Band untuk Sistem Komunikasi Satelit [Opportunities and Challenges upon Usage of Ka-band Frequency for Satellite Communication System] Wirianto Pradono
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150204

Abstract

Data traffic growth is much higher than that of voice traffic. Cisco predicts that mobile data traffic in Indonesia will grow 8- fold from 2016 to 2021. Broadband technology becomes appropriate solution to cope with data traffic growth and to keep quality of service optimal. Considering that terrain profile of rural areas in Indonesia is hard for terrestrial system to be deployed, satellite technology is urgently required to deploy broadband services in rural areas. Considering its superiorities over existing satellite systems, Ka-band satellite is one of key technologies to enable broadband service penetration in rural area. Literature studies and qualitative approach are used in this study to identify opportunities and challenges Indonesia will encounter when deploying Ka-band satellite system. Research results show that Ka-band satellite is capable of facilitating telecommunication services requiring high bandwidth. Satellite service users also vary, spanning from industries, government agencies, and consumers. Regardless superiorities Ka-band satellite offers, there are still some challenges to address. Those challenges are vulnerability of Ka-band frequency due to rain attenuation and lack of Ka-band filing owned by Indonesia with status approved by International Telecommunication Union (ITU).   *****Pertumbuhan trafik data jauh melampaui pertumbuhan trafik suara. Cisco memprediksi trafik data bergerak di Indonesia akan meningkat sebesar 8 kali lipat dalam periode 2016-2021. Teknologi pitalebar merupakan solusi tepat untuk memfasilitasi peningkatan trafik data sekaligus menjaga kualitas layanan tetap optimal. Kondisi medan wilayah rural Indonesia sulit dijangkau oleh sistem terestrial sehingga teknologi satelit sangat dibutuhkan agar penetrasi layanan pitalebar dapat menjangkau wilayah tersebut. Menimbang sejumlah keunggulan dari satelit Ka-band dibandingkan sistem satelit yang ada saat ini membuat satelit Ka-band menjadi salah satu teknologi kunci yang memungkinkan penetrasi layanan pitalebar hingga wilayah rural. Studi literatur dan pendekatan kualitatif digunakan dalam studi ini untuk mengidentifikasi potensi dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan sistem satelit Ka-band. Hasil studi menunjukkan satelit Ka-band mampu memfasilitasi layanan telekomunikasi yang membutuhkan bandwidth besar. Pengguna layanan satelit juga bervariasi meliputi industri, institusi pemerintah, hingga konsumen individu dan rumah tangga. Meskipun satelit Ka-band menawarkan sejumlah keunggulan, ada beberapa tantangan yang harus diantisipasi yakni kerentanan frekuensi Ka-band terhadap redaman hujan dan ketiadaan filing Ka-band milik Indonesia dengan status disetujui oleh International Telecommunication Union (ITU).   
5G Capacity Design Based on User Demand in Single High Altitude Platform Network Iskandar Iskandar
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 16 No. 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2018.160205

Abstract

HAPS (High Altitude Platform Station) is an alternative technology of communication system that utilizes terrestrial and satellite systems. HAPS technology is in stratosphere layer with a height of 17-22 km above the earth's surface. HAPS has some advantages, which are wide range area, communication ability on line of sight (LOS), dan low propagation delay. One of the applications that can be employed in HAPS system is cellular with 5G technology. Cellular system is used in wireless communication since it has big capacity. This study analyzes the capacity of 5G cellular in single HAPS system in which the bandwidths used are 0.1 GHz and 1 GHz. Simulation result shows that outage probability using 0.1 GHz bandwidth resulting the capacity in single HAPS system, which is maksimum 550 users in reference cell can achive 10-15 and it also happen when using 1 GHz with maksimum 5500 users in reference cell*****HAPS (High Altitude Platform Station) adalah alternatif teknologi telekomunikasi sebagai pelengkap sistem eksisiting yaitu terestrial dan satelit. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan dalam sistem HAPS adalah teknologi seluler 5G. Namun, interferensi merupakan salah satu masalah dalam mencapai kapasitas maksimum. Teknik multispot beam dan power control keduanya digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Teknik multispot beam ini berfungsi seperti pada sistem antena BTS terestrial. Akan tetapi antena multispot beam pada sistem HAPS ditempatkan berdekatan pada satu wahana atau platform HAPS. Oleh karena itu sinyal interferensi dari tiap pengguna akan menempuh jarak lintasan yang hampir sama dengan sinyal yang diinginkan. Berbeda dengan sistem BTS terestrial di mana setiap pengguna mendapat kontrol daya dari BTS yang berada di setiap sel. Panjang lintasan yang diambil oleh setiap sinyal pengguna berbeda sehingga nilai shadowing juga berbeda. Paper ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas 5G seluler dalam sistem HAPS tunggal di mana bandwidth yang digunakan adalah 0,1 GHz dan 1 GHz. Hasil simulasi menunjukkan bahwa probabilitas outage menggunakan bandwidth 0,1 GHz menghasilkan kapasitas dalam sistem HAPS tunggal, maksimum 550 pengguna dan jika menggunakan 1 GHz maka maksimum jumlah pengguna adalah 5500 pengguna dalam referensi sel
Analisis Simulasi Model COST-231 Multiwall Pathloss Indoor Berbasis Wireless Sensor Network pada Aplikasi Absensi Mahasiswa dengan Tag RFID Menggunakan RPS (Radiowave Propagation Simulator) Muntaqo Alfin Amanaf; Eka Setia Nugraha; Danny Kurnianto
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 16 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2018.160102

Abstract

Wireless Sensor Network is a solution to solve cable-based network problems especially in attendance applications with RFID Tag. However, in this research, RFID Tag based on Wireless Sensor Network is implemented in indoor conditions that have higher path loss than in outdoor conditions. This paper analyzed the distribution of RSSI receipt of indoor COST231 Multiwall path loss model by using Radiowave Propagation Simulator (RPS) to model the indoor condition of the building as the actual conditions such as the size and the building materials. This Simulation use 3 Node Router and 8 End node of Wifi RFID Reader with WLAN 1EEE 802.11.n communication protocol at 2.4 GHz frequency. The simulation result shows that the mean and deviation standard values of RSSI at the scenario router node plus end node implemented condition is -46.94 dBm and 10,79, respectively. *****Wireless Sensor Network adalah solusi dalam mengatasi masalah jaringan berbasis kabel terutama dalam aplikasi absensi mahasiswa dengan Tag RFID. Namun, pada studi ini, wireless sensor network diimplementasikan pada kondisi indoor yang memiliki pathloss lebih tinggi dibandingkan pada kondisi outdoor. Penelitian ini menganalisis sebaran daya terima RSSI pada simulasi model indoor path loss COST231 Multiwall dengan menggunakan Radiowave Propagation Simulator (RPS) untuk memodelkan kondisi indoor gedung sesuai dengan kondisi sebenarnya, baik dari ukuran maupun bahan gedung. Simulasi menggunakan 3 Node Router dan 8 End node dari Wifi RFID Reader dengan protocol komunikasi WLAN 1EEE 802.11.n pada frekuensi 2,4 GHz. Hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai rata-rata dan standar deviasi RSSI pada kondisi terimplementasi dari router node dan end node adalah -46,94 dBm dan 10,79 secara berturut-turut.
Analisis Kebutuhan Regulasi Terkait dengan Internet of Things [The Analysis of The Required Regulation of Internet of Things] Diah Kusumawati; Bagus Winarko; Riva'atul Adaniah Wahab; Wirianto Pradono
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol. 15 No. 2 (2017): December 2017
Publisher : Centre for Research and Development on Resources, Equipment, and Operations of Posts and I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/bpostel.2017.150205

Abstract

IoT Indonesia Forum predicted that IoT Indonesia market potential in 2020 reach about 35 billion dollars. This paper analyzes the IoT's regulatory requirements in Indonesia, which are safety standards, device standards, business implementation models, and IoT ecosystems, adapted to Indonesia's current conditions. The study uses qualitative approach. Primary data are obtained through in-depth interview and FGD and analyzed using three early stages of Regulatory Impact Analysis and Benefit, Opportunity, Cost, and Risk theory on each alternative. As the results, the parameters that needed to be regulated for each IoT issue include 1) Security standards: personal data protection, interoperability, data network security, and applications security; 2) Device standards: TKDN devices, system authentication, and device security, 3) Business model: spectrum utilization, and 4) Ecosystems: spectrum allocation. Recommendations that can be conveyed include the need for stakeholder cooperation to develop the IoT Indonesia Roadmap, increasing the amount of bandwidth in the existing frequency spectrum, reviewing existing equipment regulations according to the most widely used IoT technology in the world, what sector mapping is highly potential in Indonesia, privacy regulation and device security, reviewing TKDN policy requirements, and specific business models between domestic IoT producers for IoT use in the government sector*****Forum IoT Indonesia memprediksi potensi pasar IoT Indonesia tahun 2020 mencapai sekitar 35 miliar dolar. Tulisan ini menganalisis kebutuhan regulasi IoT di Indonesia yaitu standar keamanan, standar perangkat, model penyelenggaraan bisnis, serta ekosistem IoT untuk disesuaikan dengan kondisi Indonesia saat ini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dan FGD serta dianalisis menggunakan RIA sampai tahap 3 dan teori BOCRterhadap masing-masing alternatif. Hasilnya, bentuk regulasi dapat berupa perubahan pada regulasi eksisting atau penyusunan regulasi spesifik IoT. Parameter yang dibutuhkan dalam regulasi IoT antara lain alokasi dan pemanfaatan spektrum, TKDN perangkat, protokol komunikasi, sistem otentifikasi dan keamanan perangkat, standar power, perlindungan data pribadi, keamanan data, interoperabilitas, keamanan transmisi data, enkripsi data, keamanan jaringan, keamanan konektivitas, dan keamanan pada aplikasi IoT. Rekomendasi yang dapat disampaikan yaitu perlu kerjasama antarstakeholder untuk menyusun Roadmap IoT Indonesia, penambahan jumlah bandwidth pada spektrum frekuensi eksisting, mengkaji regulasi eksisting perangkat sesuai teknologi IoT yang paling banyak digunakan di dunia, pemetaan sektor apa yang sangat berpotensi di Indonesia, regulasi privasi dan keamanan perangkat, mengkaji kebijakan persyaratan TKDN, pengoptimalan inkubator riset dalam negeri untuk produksi PCB, adanya sertifikasi keahlian, danmodel bisnis khusus antara produsen IoT dalam negeri untuk penggunaan IoT di sektor pemerintah.