cover
Contact Name
Rezky Yunita
Contact Email
rezky.yunita@bmkg.go.id
Phone
+6282125693687
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 157 Documents
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.472

Abstract

Sampul Jurnal MG Volume 17 Nomor 3 Tahun 2016
RESPON CURAH HUJAN SULAWESI TERHADAP EL NIÑO MODOKI Budi Prasetyo; Nikita Pusparini
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.517

Abstract

El Niño Modoki merupakan tipe El Niño yang berbeda dengan El Niño konvensional. Sulawesi dipengaruhi oleh fenomena El Niño  dan memiliki tiga pola hujan yaitu pola monsunal, equatorial, dan lokal. Penelitian ini akan mengkaji pengaruh dari kedua tipe El Niño terhadap curah hujan Sulawesi. Data yang digunakan yaitu curah hujan bulanan Climate Prediction Center (CPC), Suhu Permukaan Laut (SPL) bulanan dari Hadley Centre Global Sea Ice and Sea Surface temperature (HadISST), angin zonal dan meridional dari National Centre for Enviromental Prediction (NCEP), dan Oceanic Niño Index (ONI) selama periode 1950-2010 (65 tahun). Perhitungan statistik sederhana berupa perata-rataan, anomali, dan analisis komposit digunakan dalam kajian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan di Sulawesi berkurang akibat kedua tipe El Niño. Anomali curah hujan akibat El Niño Modoki berkisar 4 - 16 mm sedangkan akibat El Niño konvensional berkisar 4 - 22 mm. Dampak maksimum kedua tipe El Niño tersebut terjadi pada bulan September Oktober November (SON) sedangkan dampak minimum terjadi saat Maret April Mei (MAM). Pengaruh terkuat kedua tipe El Niño terjadi di wilayah pola monsunal seperti di Sulawesi Selatan Bagian barat, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Utara. Pengaruh terkecil terjadi di wilayah pola lokal dan equatorial. Pengurangan pengaruh El Niño  dapat disebabkan oleh faktor topografi dan lokasi (untuk pola lokal) dan aktivitas ekuinoks matahari (untuk pola equatorial).
KARAKTERISTIK PASANG SURUT DI PERAIRAN PAMEUNGPEUK, BELITUNG, DAN SARMI BERDASARKAN METODE ADMIRALTY Eko Supriyadi; Siswanto Siswanto; Widodo Setiyo Pranowo
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.518

Abstract

Penentuan konstanta harmonik pasang surut, datum dan tipe pasang surut air laut sangat dipengaruhi oleh lokasi, posisi bulan dan matahari yang mempunyai nilai periode tersendiri setiap waktunya. Penelitian ini mengunakan data observasi pasang surut perairan Pamengpeuk, Belitung dan Sarmi bulan Juni 2016 yang diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Dalam artikel ini, konstanta harmonik pasang surut dihitung menggunakan metode Admiralty.  Analisis menghasilkan 8 konstanta harmonik yang selanjutnya digunakan untuk menentukan bilangan Form dan datum muka air perairan tersebut.  Karakterisasi bilangan Form menunjukkan bahwa wilayah perairan Pamengpeuk dan Sarmi memiliki tipe pasang surut campuran condong harian ganda sedangkan perairan Belitung memiliki tipe pasang surut harian tunggal. Sedangkan karakterisasi datum menggunakan analisis elevasi tinggi muka laut didapatkan hasil pada perairan Pamengpeuk. Belitung, dan Sarmi masing-masing memiliki tinggi muka air tertinggi pada saat pasang purnama yaitu 2,14 m; 3,56 m; dan 3,59 m.  Tinggi muka air terendah pada saat surut purnama masing-masing memiliki nilai 0,32m; 0,39; dan 1,70 m. The determination of a tidal harmonic constant, tidal datum and tidal type are influenced by the location and the positions of the moon and the sun which have specific periods. This research utilized observation tidal data during June 2016 at Pameungpeuk, Belitung and Sarmi waters obtained from Badan Informasi Geospasial (BIG). In this paper, the admiralty method is applied to determine the tidal harmonic constant. Eight harmonic constants obtained and used to determine the Form number and water level datum. The results showed that Pamengpeuk and Sarmi waters have a mixed tide prevailing semidiurnal type while the Belitung waters have a diurnal tide type. The datum characterization determined by analysis of sea-level elevation indicates that the Highest High Water Level (HHWL) values in Pameungpeuk, Belitung and Sarmi waters are 2,14 m, 3,56 m, and 3,59 m, respectively, while the Lowest Low Water Level (LLWL) values are 0,32 m, 0,39 m, 1,7 m, respectively. 
ANALISIS MASA AIR DAN ESTIMASI TRANSPORT ARUS BAWAH EKUATOR PADA BUJUR 90°E SELAMA INDONESIA PRIMA 2017 Edi Kusmanto; Siswanto Siswanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.522

Abstract

Arus bawah permukaan khatulistiwa (Equatorial Undercurrent, EUC) memainkan peran penting dalam dinamika Samudra Hindia bagian timur. EUC menyuplai massa air dengan salinitas tinggi yang masuk ke perairan Indonesia. Artikel ini mengkaji EUC dan analisis massa airnya di Samudera Hindia bagian timur pada bujur 90°E dari lintasan 2°S – 2°N pada tanggal 1 – 3 Maret 2017 yang merupakan bagian dari ekspedisi “Indonesia Initiative on maritime Observation and Analysis” (Indonesia Prima 2017). Hasil analisis data suhu, salinitas, dan sigma – t yang diperoleh dari instrumen conductivity, temperature and depth (CTD) pada lima stasiun (CTD11–CTD14) dan profil arus dari Shipboard Acoustic Doppler Current Profiles (SADCP) menunjukkan adanya asupan massa air bersalinitas tinggi dari Laut Arab (Arabian Sea High Salinity Water, ASHSW) yang dicirikan oleh salinitas maksimum (35.15 - 35.2 PSU) pada rentang suhu 18°C - 23°C dan densitas 23 – 25 kg/m3. ASHSW dibawa oleh EUC dari Samudera Hindia bagian barat pada lapisan termoklin atas. Ditemukan bahwa EUC selama penelitian ini memiliki kecenderungan karakteristik berupa asimetris lebih kuat ke arah utara khatulistiwa. EUC mengalir ke timur dengan kecepatan maksimum 94 cm/sec. Estimasi transport massa air pada poros EUC berdasarkan kontur salinitas 35.15 dan 35.2 PSU masing masing sebesar  ̴ 3.4 Sv dan  ̴ 1.4 Sv, sedangkan pada salinitas 35.00 – 35.10 PSU sebesar  ̴ 8.7 Sv. Estimasi total transport massa air EUC pada penelitian ini sebesar  ̴ 13.5 Sv. Equatorial Undercurrent (EUC) plays an important role in the dynamic of the eastern Indian Ocean. EUC supplies water masses with high salinity into Indonesian waters. This article examines the EUC and its water mass characteristics at 90°E across 2°S - 2°N on 1st - 3rd March 2017 which is part of the Initiative on Maritime Observation and Analysis Expedition (Indonesian Prima 2017). The analysis of temperature, salinity, and sigma-t data obtained from conductivity, temperature and depth (CTD) instruments at five stations (CTD11-CTD14) and current profiles of Shipboard Acoustic Doppler Current Profiles (SADCP) indicate the presence of high speed water column flowing the Arabian Sea High Salinity Water (ASHSW) as characterized by maximum salinity (35.15 - 35.2 PSU) in the temperature range of 18 ° C - 23 ° C and density of 23 - 25 kg / m3. ASHSW is carried by EUC from the western Indian Ocean at the upper thermocline layer. It was found that EUC during this study had a tendency to be asymmetrically stronger to the north of the equator. The analysis shows a maximum speed of 94 cm/sec and a transport estimated of EUC water masses based on salinity contour 35.15 and 35.2 PSU respectively of ̴ 3.4 Sv and ̴ 1.4 Sv, while at salinity 35.00 - 35.10 PSU of ̴ 8.7 Sv. The total estimated EUC mass transport calculated in this study is ̴ 13.5 Sv.
AIR-SEA INTERACTION MECHANISMS IN THE GENERATION OF PERSISTENCE LOW PRESSURE AREA OVER THE EASTERN INDIAN OCEAN SOUTHWEST SUMATERA OBSERVED DURING THE INDONESIA PRIMA 2017 FIELD CAMPAIGN Siswanto Siswanto; Edi Kusmanto; Sri Puji Rahayu
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.523

Abstract

Pengamatan laut bawah permukaan sampai kedalaman 1000m telah dilakukan selama Expedisi Indonesia PRIMA 2017 dengan meluncurkan instrumen Conductivity Temperature Depth (CTD). Terdapat tujuh stasiun CTD yang terletak di jalur ArusKatulistiwaSelatan (South Equatorial Current, SEC). Pengamatan atmosfer telah dilakukan dengan pelepasan balon radiosonde hingga ketinggian 17 km dan pengamatan meteorologisinoptiktiap jam di atas kapal. Makalah ini membahas analisis data kelautan bawah permukaan (suhu dan salinitas)serta konvektifitas atmosfer yang diperoleh pada saat etape I expedisi menuju 12LS 85BT untuk menyelidiki kemungkinan terusan massa air Arus Lintas Indonesia(ARLINDO) di Samudra Hindia dan kaitannya dengan dinamika pusat tekanan rendah atmosfer di Samudera Hindia barat daya Sumetera. Analisis menunjukkan bahwa terdapat interaksi timbal balik laut-atmosfer pada saat berkembangnya daerah tekanan rendah di Samudera Hindia barat daya Sumatera yaitu keberadaan kolam air yang lebih panas (>28C) dari sekitarnya yang berasosiasi dengan pusat tekanan rendah atmosfer di atasnya. Kolam air hangat berasal dari massa air intrusif yang diduga berkaitan dengan penetrasi massa air ARLINDO di Samudera Hindia. Sea sub-surface observations down to 1000m depth have been done during Expedition Indonesia PRIMA 2017 Indonesia by launching Conductivity Temperature Depth (CTD) instrument. There are seven CTD stations located on the South's Equatorial Current (SEC) pathway. Observations of the atmosphere have been done by releasing radiosonde balloons up to a height of 17 km and the hourly synoptic meteorological observation on board. This paper discusses the analysis of sub-surface marine data (temperature and salinity) as well as atmospheric convectivity obtained at the ship time of Stage I of the Expedition towards 12S 85E to investigate the possibility of Indonesia Throughflow (ITF) water masses penetration in the Indian Ocean and its relation to the dynamics of the atmospheric low-pressure center in the Indian Ocean southwest of Sumatera. The analysis shows that there is an air-sea interaction at the time of the development of the low-pressure-area in the region i.e. the presence of a warm pool region (> 28°C) associated with a low-pressure atmospheric center. The warm pool is possible came from intrusive water masses suspected to be associated with ITF's water mass penetration in the Indian Ocean.
RELOKASI HIPOSENTER GEMPABUMI MENGGUNAKAN METODE TELESEISMIC DOUBLE DIFFERENCE UNTUK ANALISIS POLA TEKTONIK DI WILAYAH LAUT MALUKU Tio Azhar Prakoso Setiadi; Supriyanto Rohadi; Untung Merdijanto; Nova Heryandoko
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.526

Abstract

Relokasi hiposenter gempabumi penting dilakukan untuk mendapatkan lokasi gempabumi dengan ketelitian yang tinggi, analisa pola tektonik, studi model struktur kecepatan, dan analisis seismisitas untuk studi global maupun studi lokal. Metode relokasi yang digunakan adalah metode teleseismic Double-Difference yang menggunakan model kecepatan seismik 3D. Penelitian ini dilakukan dengan merelokasi gempabumi yang terjadi di sekitar wilayah Laut Maluku. Jumlah gempabumi yang direlokasi adalah sebanyak 7042 dari 8845 gempabumi. Hasil dari relokasi hiposenter menggunakan teleseismic Double-Difference menunjukkan hiposenter yang lebih baik, yaitu gempabumi dengan kedalaman tertentu (fixed depth = 10 km) telah terelokasi dan distribusi hiposenter yang didapat menunjukkan pola penunjaman yang berasosiasi dengan zona subduksi di wilayah Laut Maluku. Earthquake relocation is important to be applied for obtaining high resolution of earthquake location, analyzing tectonic setting, studying velocity structure model, and anlyzing global and local studies of seismicity. One of the relocation methods was teleseismic Double-Difference method which use 3D seismic velocity model. This research has been conducted by relocating the earthquake that occurred in the Mollucas Sea. We relocated 7042 of the 8845 earthquakes. Results of the hypocenter relocation using teleseismic Double-Difference show a better hypocenter, so earthquakes with a certain depth (fixed depth = 10km) has been relocated and the distribution of hypocenter relocation may indicate the tectonic phenomenon such as subduction in Mollucas Sea.
RELOKASI HIPOSENTER GEMPABUMI WILAYAH SUMATRA BARAT MENGGUNAKAN METODE MODIFIED JOINT HYPOCENTER DETERMINATION Andy Rachmadan; Supriyanto Rohadi; Untung Merdijanto; Damianus Tri Heryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.527

Abstract

Lokasi hiposenter yang akurat diperlukan untuk analisis struktur tektonik secara detail, seperti identifikasi pola bidang patahan, pola zona subduksi, identifikasi batas lempeng, dan lain-lain. Sementara dalam sistem peringatan dini yang berkembang saat ini, yang membutuhkan waktu cepat untuk menghasilkan parameter , masih menggunakan model kecepatan satu dimensi yang bersifat global, sehingga parameter yang dihasilkan kurang akurat. Pada penelitian ini digunakan metode MJHD untuk merelokasi wilayah Sumatra Barat dalam rentang tahun 2009-2016. Metode ini menambahkan koreksi stasiun berupa batasan pada kedalaman dan episenter sehingga tetap mampu merelokasi posisi secara akurat walaupun struktur dalam bumi sangat heterogen. Data yang digunakan adalah data arrival time dari katalog BMKG dengan rentang tahun 2009-2016. Hasil relokasi menunjukkan adanya perubahan lokasi hiposenter yang lebih akurat. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai Root Mean Square (RMS) yang kecil dan adanya keterkaitan hasil relokasi dengan kondisi tektonik di wilayah penelitian seperti pola penunjaman, dan aktivitas di wilayah sesar Sumatera. An accurate hypocenter location is required for the analysis of tectonic structure in detail, such as the identification of the fault plane pattern, the pattern of subduction zones, identification plate boundaries, and etc. While the earthquake early warning system that is developing at this time, which requires a quick time to release the parameters of the earthquake, is still using a global one-dimensional velocity model which makes the result is less accurate. The method used in this study is MJHD to relocate all the earthquake appeared on Sumatra Barat in 2009-2016. This method adds a correction station in the form of limitation on the depth and the epicenter so that it remains capable to relocate earthquakes position accurately even if the structure of the earth is very heterogeneous. The data used is the arrival time data from the BMKG catalog (2009-2016). The result indicates a more accurate change on the hypocenter location. This can be proven by small RMS value and the association between the relocation results and the tectonic conditions in the study areas such asthe patterns of subduction, and the activity in the area of the Sumatran fault.
ANALISIS BIAS DATA OBSERVASI PARALEL DI STASIUN KLIMATOLOGI MEMPAWAH-KALIMANTAN BARAT Firsta Zukhrufiana Setiawati; Syarifah Nadya Soraya; Siswanto Siswanto; Wandayantolis Wandayantolis
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.529

Abstract

Otomatisasi pengukuran parameter cuaca di BMKG telah dimulai sejak tahun 2006. WMO mensyaratkan dalam hal pengamatan otomatis akan menggantikan pengamatan manual maka seharusnya terpenuhi pengamatan paralel (overlaping) dalam waktu tertentu bergantung pada unsur yang diamati. Dalam paper ini, metode uji statistik sederhana telah diterapkan pada tiga parameter utama cuaca yaitu suhu minimum dan maksimum serta curah hujan harian selama 12 bulan dari data pengamatan otomatis dan data pengamatan manual di Stasiun Klimatologi Mempawah Kalimantan Barat. Penelitian ini mengidentifikasi adanya homogenitas antaradata pengukuran Automatic Weather Station (AWS) dan pengukuran manual. Korelasi terkuat antara data AWS dan manual adalah curah hujan ringan (0.54) dan korelasi terlemah adalah curah hujan lebat (0.19). Selain itu, data pengukuran AWS dan manual menunjukkan nilai RMSE suhu udara minimum (1.22oC), suhu udara maksimum (1.69oC), curah hujan ringan (5.1 mm); sedang (14.6 mm); lebat-sangat lebat (38.4 mm). Dalam penelitian ini juga mengidentifikasi ketepatan pengukuran AWS dibanding manual untuk suhu minimum sebesar 34.5%; suhu maksimum 34.0%; curah hujan 52.4%. 
PENENTUAN TINGKAT SEISMISITAS WILAYAH PROPINSI ACEH DENGAN METODE GUTENBERG RICHTER (NILAI A DAN NILAI B) Erni Lusiani; Samsul Anwar; Muhammad Fahmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.536

Abstract

Provinsi Aceh merupakan salah satu wilayah yang berlokasi di zona subduksi aktif sehingga menyebabkan wilayah tersebut sering mengalami gempabumi. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat seismisitas wilayah Aceh menggunakan metode Gutenberg Richter. Nilai parameter dari hubungan antara frekuensi dengan magnitude gempabumi (Log N = a - bM) diestimasi dengan metode statistik least square, yang kemudian digunakan untuk menghitung indeks seismisitas, periode ulang gempabumi, dan tingkat resiko gempabumi di wilayah Aceh. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dataset kejadian gempabumi di wilayah Aceh dari bulan Januari 1929 sampai dengan bulan Desember 2017 yang secara geografis terletak pada 2,0°–6,0°LU dan 98,0°–92,0°BT dengan magnitude > 1 dan kedalaman ≤ 60 km. Wilayah penelitian dibagi menjadi 24 grid dengan ukuran 1°×1°. Hasil analisis data menunjukkan bahwa wilayah Aceh memiliki tingkat seismisitas yang tinggi, diindikasikan dengan nilai a yang bervariasi dari 2,07 sampai dengan 7,31 dan nilai b yang bervariasi dari 0,40 sampai dengan 1,22. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Aceh Singkil merupakan wilayah yang memiliki tingkat resiko terjadinya gempabumi yang paling besar untuk magnitude M ≥ 7, M ≥ 8, dan M ≥ 9 dengan lama waktu ulang masing-masing 23,6; 65,6; dan 182,6 tahun. Aceh Province is one of the regions located in active subduction zones, causing the region to experience frequent earthquakes. This study focuses to determine the seismicity level for the Aceh region using the Gutenberg Richter method. The parameter values of the relationship between frequency and magnitude of earthquakes (Log N = a - bM) were estimated using the statistical least square method, which was then used to calculate seismicity index, recurrence interval of earthquakes, and earthquake risk level for the Aceh Region. The data used in this study is the earthquake dataset collected from January 1929 to December 2017 that located at 2.0° – 6.0° LU and 98.0° – 92.0° BT with magnitudes > 1 and depth ≤ 60 km. The research area was divided into 24 grids with a size of 1°×1°. The analysis results show that the Aceh region has a high seismicity level, indicated by a-value that varies from 2.07 to 7.31 and b-value that varies from 0.40 to 1.22. The study also shows that Aceh Singkil has the largest earthquake risk level for M ≥ 7, M ≥ 8, and M ≥ 9 with a recurrence interval of 23.6, 65.6, and 182.6 years respectively.
KARAKTERISTIK MUSIMAN DAN VARIABILITAS ARUS WYRTKI PERIODE 2000 – 2014 Eko Supriyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.538

Abstract

Arus Wyrtki merupakan bagian dari arus ekuatorial yang dihasilkan dari dominasi angin baratan. Penelitian ini menggunakan data observasi bouy RAMA, OSCAR, ERA-Interim pada periode 2000 – 2014.  Penelitian ini difokuskan pada identifikasi arus Wyrtki dan variasi EOF/PC yang dihasilkan pada tahun pengamatan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus Wyrtki musim dingin Asia lebih kuat dan dan berlangsung pada bulan Februari – Mei dibandingkan dengan musim panas Asia yang berlangsung pada bulan September - November.  Arus Wyrtki pada musim panas dan dingin Asia memiliki kecepatan masing – masing sebesar 20 m/s dan 40 m/s.  Analisa spasial dan temporal arus Wyrtki sepanjang ekuator terhadap angin zonal menunjukkan bahwa arus Wyrtki yang dibangkitkan pada  musim dingin dan panas Asia berhubungan dengan angin baratan yang dihasilkan.  Dimana pada pada saat musim panas dan dingin Asia angin zonal maksimum berturut – turut terjadi pada bulan Mei dan November dengan kecepatan masing – masing sebesar 3 m/s dan 4 m/s.  Sementara itu nilai varians yang dihasilkan dari 4 komponen teratas EOF/PC memegang 92.1 % variabilitas pengamatan data.  Variabilitas skala ruang menunjukkan pada kedalaman ~ 150 m memiliki varians sebesar 0.  Sedangkan dari skala temporal varians terbesar dan terendah masing-masing terjadi pada bulan Mei 2003 dan Januari 2008.

Page 7 of 16 | Total Record : 157