cover
Contact Name
Rezky Yunita
Contact Email
rezky.yunita@bmkg.go.id
Phone
+6282125693687
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 157 Documents
HUBUNGAN ANTARA KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA (CO) DAN SUHU UDARA TERHADAP INTERVENSI ANTHROPOGENIK (STUDI KASUS NYEPI TAHUN 2015 DI PROVINSI BALI) Kharisma Aprilina; Imelda Umiyatul Badriah; Edvin Aldrian
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.397

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hubungan antara konsentrasi karbon monoksida (CO) dan suhu udara pada saat Perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2015 di Provinsi Bali (tanpa intervensi anthropogenik) dan pada hari-hari biasa di luar Hari Raya Nyepi (dengan intervensi anthropogenik). Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran konsentrasi CO dan suhu udara di tiga titik pengukuran yaitu Denpasar, Singaraja, dan Bedugul antara tanggal 17-25 Maret 2015, dimana hari Raya Nyepi dirayakan pada tanggal 21 Maret 2015. Pengukuran gas CO dilakukan dengan menggunakan alat pengukur konsentrasi polutan yang dinamakan Multi Gas Sensync dan pengukuran suhu udara dilakukan dengan menggunakan alat Portable Weather Station (PWS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi CO dan suhu diDenpasar, Bedugul dan Singaraja pada saat hari Raya Nyepi menunjukkan adanya hubungan linier yang positifyang berarti antara konsentrasi CO dan suhu udara terjadi pengaruh yang saling menguatkan yaitu apabila terjadi peningkatansuhu udaramaka konsentrasi CO juga akan meningkat dan sebaliknya, sedangkan pada hari-hari di luar hari raya Nyepi hubungan antara keduanya terlihat tidak konsisten yang diduga karena adanya pengaruh dari faktor lain terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia (faktor anthropogenik). This study was conducted to determine the differences of carbon monoxide (CO) concentration and air temperature relation during the celebration of Nyepi Day 2015 (without anthropogenic intervention) in Bali Province and the days outside Nyepi Day (with anthropogenic intervention). The study was conducted by measuring the CO concentration and air temperature at the three measuring points those were Denpasar, Singaraja, and Bedugul, from 17 to 25 March 2015 which Nyepi Day was celebrated on March 21, 2015.CO measurement was performed using pollutant concentration measuring tool called Multi Gas Sensync and air temperature measurement was performed using Portable Weather Station (PWS). The results showed that the relation between CO concentration and air temperature in Denpasar, Bedugul, and Singaraja during Nyepi Daygenerally showed a positive linear relation which means that CO concentration and air temperature influences each other: whenever there was an increase in air temperature then CO concentration will also increase and vice versa, whereas in the days outside Nyepi Day, relation between the two looks inconsistent due to the influence of other factors mainly caused by human activity (anthropogenic factors).
KAJIAN KERENTANAN TANAH BERDASARKAN ANALISIS HVSR DI DAERAH SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO DAN SEKITARNYA, JAWA TIMUR, INDONESIA Karyono Karyono; Ildrem Syafri; Abdurrokhim Abdurrokhim; Masturyono Masturyono; Supriyanto Rohadi; Januar Arifin; Ajat Sudrajat; Adriano Mazzini; Soffian Hadi; Agustya Agustya
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.398

Abstract

Aluvium merupakan fitur geologi yang memiliki sifat rentan terhadap pengaruh gempabumi. Daerah Porong dan sekitarnya tempat semburan Lumpur Sidoarjo (Lusi) terjadi merupakan daerah dataran yang ditutupi oleh endapan aluvium Delta Brantas, sehingga daerah ini merupakan zona lemah yang rentan terhadap pengaruh gempabumi. Hal ini diperkuat dengan adanya sesar Watukosek di daerah tersebut. Dengan tujuan untuk membuktikan hal tersebut maka dilakukan observasi seismik dengan cara memasang 71 stasiun pengamat gempabumi temporal yang tersebar di daerah Sidoarjo dan sekitarnya. Hasil analisis Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) terhadap data seismik diperoleh sebaran frekuensi natural bawah permukaan lebih rendah di daerah Lusi yaitu 0,4Hz. Hasil analisis juga mengungkap bahwa di daerah tersebut mempunyai amplifikasi tanah sebesar 5,2 dan tingkat kerentanan tanah sebesar 56, lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di sekitarnya. Karena letaknya di zona lemah, maka berimplikasi bahwa Lusi menjadi sensitif terhadap gangguan luar misalnya dampak kejadian gempabumi menjadi lebih besar pada daerah ini. Alluvium is a geological feature characterized by high risk vulnerability influenced by the earthquakes. Porong and surrounding areas where the eruption of Lumpur Sidoarjo’s (Lusi) occurred are areas covered by alluvium sediment of Brantas Delta, as consequences this area is a weak zone characterized by high risk vulnerability as well. This is also supported by the present of Watukosek fault system in this area. To proved, we deployed 71 temporary seismic stations distributed in and around Sidoarjo area. The Horizontal Vertical Spectral Ratio (HVSR) analysis revealed that the natural frequency in Lusi area is about 0.4Hz, this is lower than other part areas. The analysis also revealed that this area has soil amplification about 5.2 and soil vulnerability index about 56, these are higher compared with other part areas. These results support that this area is a weak zone. Because of its location in a weak zone, this implies that Lusi became sensitive to external perturbation for example the earthquake events would have greater impact to this area.
EVALUASI DATA GRAVITASI TERESTRIAL DAN PERBANDINGANNYA DENGAN DATA GRAVITASI SKALA REGIONAL DAN MODEL GEOPOTENSIAL GLOBAL: STUDI KASUS ZONA SESAR CIMANDIRI DI SEKITAR PELABUHAN RATU Ilham Arisbaya; Lina Handayani; Yayat Sudrajat
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.399

Abstract

Dalam rangka mempelajari karakteristik Zona Sesar Cimandiri (ZSC), telah dilakukan pengukuran metode gravitasi di sekitar Pelabuhanratu. Kegiatan ini menghasilkan 53 data pengukuran baru dengan interval jarak 750-1500 meter (selanjutnya disebut GCG16). Untuk menggambarkan tingkat kualitas data yang dihasilkan, GCG16 dievaluasi dengan cara dibandingkan dengan dataset gravitasi skala regional dan global terpublikasi. Secara visual peta GCG16 memperlihatkan pola anomali gravitasi yang sama dengan data gravitasi regional (GRAV-P3G), model geopotensial global data satelit (EIGEN-6S2 dan GO_CONS_GCF_2_DIR_R5), serta model geopotensial global kombinasi (EGM2008 dan EIGEN-6C4). Dataset GRAV-P3G yang juga merupakan hasil pengukuran terestrial menunjukkan tingkat kesesuaian paling tinggi dengan GCG16. Sementara model potensial global kombinasi menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih baik jika dibandingkan dengan model geopotensial data satelit. Keenam dataset memperlihatkan pola Anomali Bouguer tinggi di bagian selatan area penelitian, mengindikasikan kontribusi dari frekuensi rendah. Variasi anomali tinggi di sekitar Sungai Cimandiri tidak teramati pada data gravitasi satelit, diinterpretasikan sebagai kontribusi dari frekuensi tinggi (berkorelasi dengan kondisi bawah permukaan lebih dangkal). Oleh karena itu untuk mempelajari struktur dangkal CFZ perlu dilakukan pemisahan anomali residual dari anomali regionalnya. Analisis First Horizontal Derivative (FHD) dan First Vertical Derivative (FVD)  tidak menunjukkan kehadiran ZSC pada segmen timur GCG16, dan mengindikasikan ZSC sebagai sistem sesar yang tersegmentasi. To study the characteristics of the Cimandiri Fault Zone (CFZ), gravity method measurement has been done around Pelabuhanratu. This activity resulted in 53 new measurement data with intervals of 750-1500 meters (hereafter referred to as GCG16). To illustrate the quality level of resulted data, GCG16 was evaluated by comparing with published regional and global scale gravity datasets. Visually, GCG16 maps show the same gravity anomalies pattern with regional gravity data (GRAV-P3G), global geopotential model of satellite data (EIGEN-6S2 and GO_CONS_GCF_2_DIR_R5), as well as combined global geopotential model (EGM2008 and EIGEN-6C4). GRAV-P3G dataset, which is also a result of terrestrial measurement, shows the highest agreement level to GCG16. The six datasets show a high Bouguer Anomaly pattern in the southern part of the research area, indicating the contribution of low frequencies. High anomaly variations around the Cimandiri River were not observed in satellite gravity data and interpreted as high frequencies contribution (correlated with more superficial subsurface conditions). Therefore, to study the shallow structure of the CFZ, it is necessary to separate the residual anomaly from the regional anomaly. First Horizontal Derivative (FHD) and First Vertical Derivative (FVD) analysis do not show the presence of CFZ in the eastern segment of GCG16 and indicate that CFZ is a segmented fault system.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.400

Abstract

Sampul, sertifikat, daftar isi Jurnal MG Volume 17 Nomor 1 Tahun 2016
PENERAPAN METODE ANOVA1 UNTUK PERBANDINGAN PARAMETER ATMOSFER PERMUKAAN ANTARA PADANG DAN SELAPARANG Ina Juaeni
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.405

Abstract

Sudut datang sinar matahari menentukan banyaknya sinar matahari yang sampai dipermukaan sehingga faktor ini menentukan karakter cuaca suatu lokasi. Padang dan Selaparang (Mataram) selalu memiliki sudut datang sinar matahari yang berbeda setiap bulannya. Penelitian ini bertujuan membuktikan adanya perbedaan karakter parameter atmosfer antara dua lokasi tersebut. Pengujian dilakukan dengan selisih nilai dan variansi (ANOVA1). Data yang digunakan adalah data tekanan, kelembapan, temperatur, curah hujan dan kecepatan angin dari OGIMET periode Januari sampai dengan Desember 2015. Berdasarkan selisih nilai-nilai maksimum, minimum, rata-rata dan koefisien variasi untuk tekanan, kelembapan, temperatur, kecepatan angin dan curah hujan antar Padang dan Selaparang menunjukkan kedua data berbeda. Hasil perbandingan dengan metode ANOVA1 menunjukkan bahwa curah hujan bulan Maret dan kelembapan serta temperatur bulan April mempunyai karakter yang sama. Selain variabel dan bulan tersebut, karakter parameter di dua lokasi tersebut berbeda.
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Padi di Lahan Tadah Hujan Woro Estiningtyas; Muhammad Syakir
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.406

Abstract

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap curah hujan menjadikan lahan sawah tadah hujan memiliki periode tanam yang terbatas. Sementara curah hujan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Makalah ini menyajikan hasil analisis tentang hubungan perubahan iklim yang dinyatakan dengan perubahan suhu, curah hujan dan konsentrasi CO2 terhadap produksi padi di lahan sawah tadah hujan dengan model simulasi tanaman DSSAT. Lokasi penelitian yaitu Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah dan Ngale, Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur. Skenario perubahan iklim yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil analisis menggunakan model Coordinated Climate-Crop Modeling Program (C3MP) Sensitivity test Versi 2.0. Uji sensitivitas C3MP dilakukan dengan menyesuaikan kondisi iklim historis untuk mencerminkan perubahan suhu, presipitasi, dan CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim yang diindikasikan melalui perubahan suhu udara dan konsentrasi CO2 sampai tingkat tertentu meningkatkan hasil padi di lahan tadah hujan pada bulan-bulan tertentu, selebihnya berdampak menurunkan produksi.
KARAKTERISTIK ANOMALI SUHU MUKA LAUT PADA LAUT JAWA 1982 – 2014 Danang Eko Nuryanto; Rian Anggraeni
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i3.417

Abstract

Karakteristik anomali suhu muka laut di Laut Jawa diidentifikasi dengan mengaplikasikan Principal Component Analysis (PCA), data anomali suhu muka laut rata-rata bulanan dari Optimum Interpolation Sea Surface Temperature versi 2 (OISSTv2). Diperoleh hasil dengan tiga komponen utama dominan mempunyai keragaman sekitar 83.22%. PC1 dengan karakter spasial mempunyai nilai positif seluruh wilayahnya dan mempunyai periode semi tahunan dengan keragaman 65.30%. PC2 dengan karakter spasial sama dengan rata-rata anomali suhu muka laut yaitu nilai positif lebih dominan di pesisir pantai dibanding dengan tengah Laut Jawa dan mempunyai periode tahunan dengan keragaman 12.44%. PC3 dengan karakter spasial terdapat dua kutub yaitu Laut Jawa bagian barat dengan nilai positif dan Laut Jawa bagian timur dengan nilai negatif yang mempunyai periode semi tahunan dan tahunan dengan keragaman 5.84%.
PEMISAHAN AWAN KONVEKTIF DAN STRATIFORM DALAM MENGKAJI SIKLUS DIURNAL DAN MIGRASINYA DI PEGUNUNGAN BAWAKARAENG SULAWESI SELATAN BERDASARKAN DATA RADAR CUACA Syamsul Bahri; Nurjanna Joko Trilaksono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i2.424

Abstract

Aktivitas konvektif diurnal merupakan mode paling dominan di Benua Maritim Indonesia (BMI). Namun kajian yang telah dilakukan sebelumnya tidak memisahkan periode analisis berdasarkan musim sekaligus pemisahan awan konvektif dan stratiform. Selain itu, data yang digunakan terbatas baik resolusi temporal maupun horizontalnya. Adapun tujuan dari kajian ini untuk mengetahui siklus dan migrasi diurnal awan konvektif dan stratiform pada musim berbeda. Kajian migrasi sistem awan hujan dilakukan dengan menggunakan radar cuaca C-Band polarisasi tunggal yang berlokasi di Maros (4.997733o LS, 119.572014o BT) dan terletak pada bagian barat Pegunungan Bawakaraeng (PB) Sulawesi Selatan. Metode Steiner dkk., digunakan untuk mengklasifikasikan awan hujan menjadi dua yaitu awan konvektif dan stratiform. Pada bulan Desember-Januri-Februari (DJF) terdapat aktifitas awan hujan yang bermigrasi secara zonal (timur-barat) yaitu awan konvektif di laut yang bergerak ke darat mulai pagi hari hingga siang dan awan stratiform di darat (gunung) bergerak menuju laut. Selain itu awan hujan juga tampak bermigrasi secara meridional (utara-selatan) yang didominasi oleh awan konvektif. Hasil analisis temporal siklus diurnal menunjukkan bahwa awan stratiform terjadi setelah satu jam puncak awan konvektif. Pada bulan Maret-April-Mei (MAM) aktifitas awan konvektif hanya terdapat di darat (gunung) dan tidak tampak adanya migrasi, berbeda halnya dengan awan stratiform yang tampak bermigrasi ke laut yang sangat jelas terlihat pada wilayah PB bagian utara. Adapun siklus diurnal awan konvektif di pesisir dan gunung maksimum terjadi pada sore hari berbeda dengan awan stratiform yang terjadi dua kali yaitu pada sore hari dan awal pagi. Puncak siklus awan stratiform terjadi setelah dua jam puncak awan konvektif
VALIDASI CURAH HUJAN KELUARAN METODE ANALISIS KORELASI KANONIK DENGAN SKENARIO TOPOGRAFI WILAYAH DI JAWA TENGAH Restu Tresnawati; Rosyidah Rosyidah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.429

Abstract

Informasi prediksi curah hujan bulanan di Jawa Tengah sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai sarana penentuan kebijakan di berbagai bidang. Akan tetapi prediksi yang dilakukan masih menggunakan metode statistika Univariat (regresi) dimana hanya menggunakan data curah hujan saja tanpa memasukkan unsur dinamika atmosfer sebagai pengendali iklimnya. Pada studi ini, metode prediksi multivariat dengan analisis korelasi kanonik digunakan untuk meningkatkan akurasi prakiraan hujan bulanan dengan mengkaitkan antara unsur dinamika atmosfer dalam prediksi. Unsur prediktor Southern Oscillation Index (SOI) dan Oceanic Niño Index (ONI) digunakan untuk menghasilkan prediksi dengan korelasi kuat. Selain itu, Skenario topografi wilayah dilakukan untuk melihat pengaruh perbedaan geografis pada hasil prediksi. Dalam penelitian ini diperoleh hasil prediksi curah hujan dalan kurun waktu satu tahun, kemudian hasilnya diuji menggunakan uji korelasi dan RMSE (Root Mean Square Error).
KAITAN EFEK BLOCKING PEGUNUNGAN TENGAH PAPUA BAGIAN SELATAN DENGAN DISTRIBUSI PRESIPITASI Dian Mayangwulan; Nurjanna Joko Trilaksono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.431

Abstract

Pegunungan tengah Papua yang membentang lebih dari 500 km dengan ketinggian diatas 2000 m, khususnya wilayah kaki pegunungan bagian selatan menerima presipitasi tinggi, terutama pada periode musim dingin Australia (Mei-September). Penelitian ini membahas: a) variasi tahunan efek blocking ditinjau dari nilai Froude number (Fr) pada periode Januari 2000 – Desember 2014, dan b) variasi harian moisture flux convergence (MFC) pada studi kasus simulasi menggunakan model skala-meso Weather Research and Forecasting – Enviromental Modeling System (WRF-EMS) untuk periode Juli 2008, dan pengaruhnya terhadap presipitasi di wilayah tersebut. Metode singular value decomposition (SVD) digunakan untuk mengetahui hubungan spasial-temporal Fr dengan presipitasi, sedangkan hubungan variasi harian Fr dan MFC hasil simulasi terhadap variasi presipitasi menggunakan analisis cross-correlation. Analisis Fr selama periode penelitian menunjukkan aliran selalu terbendung, dan pola SVD mode pertama menunjukkan aliran dari tenggara sefase dengan distribusi spasial presipitasi di selatan pegunungan namun memiliki korelasi lemah (≤0,4). Simulasi dilakukan pada bulan Juli 2008 saat kecepatan angin meridional mencapai maksimum untuk mengetahui variasi MFC dan kaitannya dengan presipitasi pada wilayah kajian. Analisis cross-correlation antara presipitasi dan MFC menunjukkan korelasi maksimum (0,52) terjadi pada lag +6jam. MFC relatif lebih kuat hubungannnya terhadap curah hujan maksimum harian dibanding dengan Fr. Hari kering pada area selatan pegunungan (

Page 5 of 16 | Total Record : 157