cover
Contact Name
Rezky Yunita
Contact Email
rezky.yunita@bmkg.go.id
Phone
+6282125693687
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 174 Documents
PERBANDINGAN DATA SEISMOMETER TRILLIUM 120P RELATIF TERHADAP SEISMOMETER DS 04A DI STASIUN GEOFISIKA SANGLAH DENPASAR Pande Komang Gede Arta Negara; I Putu Dedy Pratama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.437

Abstract

Untuk mendukung Tahun Data 2016, dilakukan perbandingan data rekaman broadband (Trillium 120P) untuk melihat unjuk kerja seismometer tersebut. Seismometer ini berlokasi di Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar yang posisinya berada di tengah kota. Oleh karena itu, diperlukan perbandingan data secara paralel dengan meletakan seismometer short-period (DS 04A) secara berdampingan sejak bulan April 2016 hingga Juli 2016. Hasil rekaman ini dibandingkan melalui korelasi sinyal untuk mengukur nilai kemiripan antara hasil rekaman Trillium 120P dan DS 04A. Sebelumnya kedua sinyal dihilangkan dari pengaruh respons instrumen menggunakan nilai poles, zeros, perbesaran, dan sensitivitas masing-masing sensor. Pengujian ini menggunakan empat data gempabumi yang terekam pada komponen vertikal kedua seismometer. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa rekaman sinyal dari seismometer broadband menunjukan nilai korelasi yang tinggi di atas 0,9 dengan data rekaman seismometer short-period. Hal ini menunjukan bahwa seismometer broadband masih bekerja dengan baik untuk mengukur kegempaan di wilayah Bali dan sekitarnya meskipun berada di wilayah perkotaan dan sudah terpasang selama 11 tahun. To support the data year of 2016, compared data recording Trillium 120P broadband seismometer to check their performance. This seismometer installed at Sanglah Denpasar Geophysical Station located in the city center. Therefore, data comparison is required in parallel with short-period (DS 04A) seismometers put side by side since April 2016 until July 2016. The signal recordings were compared to measure the signal correlation value between Trillium 120P and DS 04A. Previously the two signals are removed from the influence of the instrument response by their poles, zeros, gain, and sensitivity of each sensor. This study used four earthquakes which was recorded on the vertical component of both seismometers. The results of this study indicate that the recording signal from broadband seismometer shows a high corelation coefficient value above 0.9 with the data record from short-period seismometer. It shows that the broadband seismometer still works well for measuring the seismicity in the region of Bali and its surroundings despite being located in urban areas and have been installed for 11 years.
ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL DATA LIGHTNING DETECTOR TAHUN 2009-2015 DI STASIUN GEOFISIKA SANGLAH DENPASAR I Putu Dedy Pratama; Pande Komang Gede Arta Negara
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.438

Abstract

Tahun 2016 dicanangkan sebagai Tahun Data BMKG. Pengamatan kelistrikan udara dengan Lightning Detector di Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar sejak bulan Agustus 2008 telah memiliki data yang banyak. Untuk jangka panjang, data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pola sambaran petir wilayah Bali baik secara spasial maupun temporal. Jumlah data yang cukup banyak perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui pola sambaran petir yang terekam oleh sensor dan membuat perbandingan dengan citra satelit. Data yang digunakan adalah hasil rekaman petir Cloud to Groud (CG). Data petir CG digunakan karena sambaran petir CG merupakan sambaran petir yang berdampak langsung pada kehidupan manusia. Pemetaan spasial baik dalam penentuan lokasi sambaran CG pada klaim asuransi dan kejadian Mesoscale Convective System (MCS) pada daerah stratiform dari data citra satelit Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) dan National Oceanic and Atmospheric Administrastion (NOAA). Dari hasil pemetaan spasial menunjukan bahwa sebagian besar sambaran petir terkonsentrasi pada radius sekitar 50 km dari sensor. Untuk grafik temporal menunjukan bahwa pada musim penghujan grafik petir menunjukan pola semidiurnal dengan dua puncak pada sore hari dan dinihari. Ketika musim peralihan grafik puncak sambaran petir pada dinihari melemah sehingga tampak pola satu puncak diurnal. Sedangkan pada musim kemarau grafik sambaran petir menunjukan pola acak. Fenomena cuaca skala menengah seperti siklon tropis dan perubahan Indeks Nino 3.4 sangat berpengaruh terhadap aktivitas sambaran petir di wilayah Bali. The year 2016 was declared as the Year of Data BMKG. Since August 2008, observations the air electricity using Lightning Detector Sanglah Denpasar Geophysics Station have had a lot of data. For the long term, these data can be used to determine the pattern of lightning strikes on Bali region both spatially and temporally. The amount of data is pretty much needs to be done further analysis to determine the pattern of lightning strikes recorded by the sensor and make comparisons with satellite imagery. The data used is the recording lightning Cloud to Groud (CG). We used the CG lightning data because CG lightning strikes have a direct impact on human life. Spatial mapping both in determining the location of CG strikes on insurance claims and the incidence of Mesoscale Convective System (MCS) in stratiform regions of the Multifunctional Transport Satellites (MTSAT) and National Oceanic and Atmospheric Administrastion (NOAA) satellite image data. From the results of spatial mapping showed that most lightning strikes concentrated in a radius of about 50 km from the sensors. For temporal graph shows that in the rainy season, lightning graph shows semidiurnal pattern with two peaks at dusk and dawn. When transitional season chart peak at dawn lightning strikes weakened so that it appears the pattern of the diurnal peaks. Whereas in the dry season chart show a random pattern of lightning strikes. Medium-scale weather phenomena such as tropical cyclones and Nino index 3.4 changes greatly affect the activity of lightning strikes in the area of Bali.
ANALISIS INDEKS IKLIM UNTUK ASURANSI PERTANIAN TANAMAN PADI DI KABUPATEN CIREBON DALAM RANGKA ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM Trinah Wati; Woro Estiningtyas; Fatkhuroyan Fatkhuroyan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.439

Abstract

Analisis indeks iklim untuk asuransi pertanian tanaman padi telah dilakukan di empat kecamatan di wilayah Kabupaten Cirebon yaitu di kecamatan Gegesik, Susukan, Klangenan dan Babakan untuk mengurangi kerugian gagal panen akibat bencana iklim kekeringan. Analisis tersebut menggunakan dua metode yaitu metode Historical Burn Analysis (HBA) untuk kejadian kekeringan dan metode statistik korelasi antara curah hujan dengan produksi dan luas panen tanaman padi. Hasil analisis indeks iklim dengan parameter curah hujan berdasarkan metode HBA menghasilkan dua indeks yaitu indeks trigger dan indeks exit, indeks trigger merupakan besaran curah hujan sebagai batasan untuk pembayaran klaim asuransi yang dibayarkan sebagian dan indeks exit yaitu besaran curah hujan untuk pembayaran klaim asuransi dibayarkan penuh dengan indeks window (jendela waktu) bulan Juni hingga September. Indeks iklim berdasarkan korelasi curah hujan dengan produksi dan luas panen tanaman padi, diperoleh satu indeks exit yang merupakan batasan pembayaran klaim asuransi sepenuhnya dengan periode 5 tahun, 10 tahun dan 20 tahun yaitu masing-masing sebesar 317 mm, 242 mm dan 180 mm di kecamatan Gegesik dengan indeks window bulan Maret-April-Mei, sedangkan kecamatan lainnya memiliki korelasi yang lemah sehingga tidak dapat ditentukan besaran indeks exitnya. Analysis of climate indices for paddy crop agricultural insurance was conducted for four subdistricts of Cirebon district namely Gegesik, Susukan, Klangenan and Babakan, to reduce crop failure due to drought as climate disaster. The analysis employed two methods : the Historical Burn Analysis (HBA) of drought and statistical method which analyzed the correlation between rainfall with paddy crop yield and harvest areas. The HBA method resulted in two kind of indices : trigger index and exit index. Trigger index is the treshold of rainfall for the insurance claim with partial payment while exit index is the rainfall treshold for full payment of the insurance claim with window indices during June to September. Another method resulted in only one index: exit indices values during 5, 10 and 20 years period of insurance that were 317 mm, 242 mm and 180 mm in Gegesik with window indices during March-April-May periods. Unfortunately, exit indices for other subdistricts could not be determined because of the weak correlation between its rainfall with yield and harvest areas of paddy crop.
STUDI AWAL PENYUSUNAN SKALA INTENSITAS GEMPABUMI BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Muzli Muzli; Masturyono Masturyono; Jaya Murjaya; Mochammad Riyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.440

Abstract

Untuk mengukur dampak gempabumi terhadap infrastruktur dan kondisi lainnya selama ini Indonesia menggunakan skala intensitas gempabumi menurut Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala ini cukup kompleks dengan dua belas tingkatan dan kondisi bangunan yang ada sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat skala tersebut diperkenalkan. Oleh karena itu perlu adanya skala intensitas gempabumi yang lebih sederhana, mudah dipahami dan disesuaikan dengan kondisi infrastruktur yang ada saat ini di Indonesia dengan tetap mengacu pada nilai parameter ilmiah lainnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menggagas penyusunan skala intensitas gempabumi BMKG (SIG-BMKG) dengan skala I-V. Dengan mempunyai lima skala ini, SIG-BMKG menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat serta tetap mengakomodir keterangan dampak yang ditimbulkan gempabumi dan parameter saintifik lainnya. Perbandingan penggunaaan skala intensitas MMI dan SIG-BMKG terhadap beberapa kasus gempabumi yaitu gempabumi Sorong tanggal 24 September 2015 dengan magnitudo 6,8, Gempabumi Sumbawa Barat tanggal 12 Februari 2016 dengan magnitudo 6,6 dan Gempabumi Painan, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 2016 dengan magnitudo 6,6, menunjukkan bahwa SIG-BMKG dapat diimplementasikan dengan relatif lebih mudah dan akurat dibandingkan dengan skala MMI. In order to measure the impact of a strong earthquake, the intensity scale is normally used. Up to now Indonesia uses the scale of Modified Mercalli Intensity (MMI). The MMI scale is relatively complicated with the twelve levels and the current development of modern building design is not suitable anymore for the scale as it was introduced for the first time. Therefore, it is necessary to have a universal but simple intensity scale, easy to be implemented and suitable for current typical buildings but also reflects the scientific parameters. Indonesia as one of the countries which is very prone of significant or destructive earthquakes, should have a new and more representative intensity scale which is suitable for the typical buildings in Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) proposes the scale of intensity i.e. the Earthquake Intensity Scale of BMKG (SIG-BMKG) with the scales from I to V. With these five scales, SIG-BMKG is much simple and easier to be used but could describe most of typical impacts. The comparison of MMI and SIG-BMKG scales to several cases of significant earthquakes is implemented for the 2015, Mw 6.8 Sorong earthquake, the 2016, Mw 6.6 Sumbawa Barat earthquake and the 2016, Mw 6.6 Painan, West Sumatra earthquake. The results show that the SIG-BMKG scale can be implemented relatively easier with better accuracy than MMI scale.
HIGH WAVE AND COASTAL INUNDATION IN SOUTH OF JAVA AND WEST OF SUMATERA (CASE STUDIES ON 7-10 JUNE 2016) Roni Kurniawan; Andri Ramdhani; Andi Eka Sakya; Bayu Edo Pratama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.442

Abstract

Gelombang tinggi dan pasang air laut yang terjadi pada tanggal 7 -10 Juni 2016 menyebabkan sejumlah wilayah pesisir di selatan Jawa dan Barat Sumatera mengalami gelombang pasang dan banjir rob, yang mengakibatkan kerugian cukup besar bagi masyarakat pesisir. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya gelombang pasang tersebut, sehingga dapat bermanfaat sebagai evaluasi dan mitigasi kedepan. Data luaran model Wavewatch-III (WW3) dan Aviso-Satellite altimetry menunjukkan adanya gelombang tinggi lebih dari 6 meter di Samudera Hindia yang dipicu oleh angin kencang di sekitar wilayah kejadian Mascarene High di sebelah barat Australia. Analisis lebih lanjut berdasarkan output yang dihasilkan oleh WW3 menunjukkan bahwa gelombang ekstrim di selatan Jawa dan barat Sumatera (tanggal 7 – 10 Juni 2016) lebih didominasi oleh swell yang dihasilkan oleh kejadian Mascarene High. Terjadinya swell ini bersuperposisi dengan pasang tertinggi dan anomali tinggi muka laut, sehingga mengakibtkan terjadinya gelombang pasang dan banjir rob yang cukup merusak di sejumlah pesisir selatan Jawa dan barat Sumatera. The high wave and spring tide occurred on June 7 to 10, 2016 had led to storm tide and coastal inundation at a number of coastal areas in south of Java and west of Sumatera, this incident caused substantial losses to coastal communities. The aim of this study is to understand the cause of storm tide, so it can be serve as a strategic contribution to assess, evaluate and mitigate the impact. The output of Wavewatch-III (WW3) model and Aviso Altimetry indicates the occurrence high wave in Indian Ocean reach more than 6 meters, this wave triggered by high wind speed around the Mascarene high event in Western Australia. Further analysis based on the output resulted by WW3 showed that the extreme wave in west Sumatera and south of Java (7-10 June, 2016) was dominated by swell waves generated by Mascarene High superposed with the highest diurnal tide as well as sea surface height anomaly, triggers the storm tide that consequentially costed more damaging impact in the south of Java and west of Sumatera. 
REKONSTRUKSI BATIMETRI DAN IKLIM PURBA BERDASARKAN FORAMINIFERA DAERAH RALLA BARRU, SULAWESI SELATAN INDONESIA Meutia Farida; Tati Fitriana; Jimmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.443

Abstract

Daerah Ralla terletak di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan, tersusun atas batuan karbonat dan vulkanik. Salah satu komponen utama penyusun batuan ini adalah kandungan fosil foraminifera baik planktonik maupun bentonik yang jumlahnya melimpah. Penentuan umur dan lingkungan pengendapan purba (paleobathymetry), menggunakan foraminifera sebagai proksi iklim purba (paleoclimate) yang baik. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Penampang Stratigrafi Terukur (Measuring Section) pada singkapan napal dan batugamping dengan ketebalan mencapai 748,16 sentimeter yang terdiri dari 23 lapisan batuan. Hasil identifikasi dan determinasi fosil foraminifera menunjukkan bahwa pada sampel terdapat 46 spesies bentonik dan 28 spesies planktonik, dengan kisaran umur batuan adalah Eosen Bawah bagian atas (P9) – Eosen Tengah bagian tengah (P11), perubahan batimetri dengan siklus pengendapan inner neritic – upper bathyal - outer neritic. Jumlah spesies yang beragam dan sangat melimpah serta ukuran fosil yang besar menunjukkan nutrisi pada saat itu sangat berlimpah, dengan temperatur 0⁰– 27⁰C sebagai kondisi iklim hangat (warm water). Ralla area is located in Barru District, South Sulawesi Province which consisted of carbonate and volcanic rocks. One of the main components of these rocks is foraminifera fossils, include planktonic and bentonic which founded to be abundance. In determining the age and depositional environment (paleobathymetry), foraminifera fossils could be used as a good paleoclimate proxy. The research was conducted by Stratigraphy Measured (Measuring Section) method in marl and limestone outcrop with a thickness of up to 748.16 centimeters which consists of 23 rock layers. Identification and determination of foraminifera fossils suggests that there are 46 bentonic and 28 planktonic species on samples, which are estimated the age of the rocks range from the end of lower Eocene (P9) till the middle of Middle Eocene (P11), bathymetry changes with cycle from inner neritic – upper bathyal – outer neritic. The abundant and diverse species and large-size fossils suggest that the nutrient was abundant with temperature 0⁰ – 27⁰C as a warm climate condition (warm water).
PEMODELAN INUNDASI TSUNAMI DI SEPANJANG PESISIR MANADO AKIBAT GEMPABUMI M8,5 DI ZONA SUBDUKSI SULAWESI UTARA Robert Owen Wahyu; Rignolda Djamaluddin; Gybert E. Mamuaya; Tatok Yatimantoro; Priyobudi Priyobudi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.448

Abstract

Zona subduksi Sulawesi Utara merupakan kawasan tektonik yang sangat aktif. Seismisitas yang tinggi di wilayah ini disebabkan oleh zona subduksi Sulawesi utara, zona subduksi lempeng laut Maluku dan juga sesar-sesar lokal. Kota Manado terletak di sebuah teluk di pesisir utara Sulawesi. Kondisi ini membuat Kota Manado sangat rentan terhadap bahaya tsunami. Pemodelan inundasi tsunami dilakukan untuk memperkirakan potensi bencana tsunami. Gempabumi dengan magnitude Mw 8.5 digunakan untuk memperkirakan dampak tsunami terburuk. Pemodelan numerik tsunami dilakukan dengan menggunakan TUNAMI-N3 dengan grid bersarang (nested grid). Data batimetri dari GEBCO 1 arcsec dan data topografi dari SRTM 1 arcsec digunakan dalam perhitungan model. Resolusi grid ditingkatkan secara bertahap melalui 6 grid bersarang. Virtual tide gauge dibuat untuk melihat karakter gelombang tsunami di 7 titik sepanjang pantai Manado. Tsunami menggenangi wilayah pantai Manado antara 0,5 hingga 1,2 km ke darat. Ketinggian tsunami maksimum akibat skenario gempa ini adalah 18 meter. Waktu tiba tsunami di pantai sekitar 17 menit setelah gempabumi terjadi. North Sulawesi subduction zone is a very active seismic region. Manado directly faces the subduction zone and therefore made the city prone to tsunami hazards. To the best of our knowledge, there has been no research on how big a threat is a tsunami in Manado. A tsunami inundation modeling was performed to estimate the potential threat of a tsunami in the city. An earthquake with a magnitude of M8.5 represented the worst-case scenario of the tsunami. The numerical model for the tsunami modeling used in this study was TUNAMI-N3 with nested grids. For tsunami calculation, 1 arc-minute GEBCO bathymetric data and 1 arc-second SRTM topographic data were used. Several virtual tide gauge locations were set to detect wave characteristics of the tsunami along the coast of Manado. The results showed that the inundation distance varied from 500 to 1200 meters inland, the tsunami wave height varied from 8 to 18 meters, and tsunami arrived at a coastal area within 17 minutes after the earthquake. According to this inundation model, the tsunami-prone area in Manado might extend up to 500-1200 meters inland near the coastal areas. Local government should have tsunami inundation maps generated using detailed topographic data that will be useful for evacuation plans in case of a tsunami.
COMPARING BIAS CORRECTION METHODS TO IMPROVE MODELLED PRECIPITATION EXTREMES Yeli Sarvina; Thomas Pluntke; Christian Bernhofer
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 19 No. 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.449

Abstract

This study aims to analyze and improve modelled extreme precipitation. It was conducted in the German Federal State of Saxony using the WEREX V data set. WEREX V is a model that statistically downscales Global Circulation Model (GCM) data. Inputs for the WEREX V model included GCMs ECHAM 5, HadCM3C and HadGEM2 (sometimes downscaled with Regional Climate Models RCMs REMO, RACMO and CCLM), SRES scenarios A1B and E1, and different model runs. The output of analysis was shown by a boxplot since the WEREX V data set has 120 future projections of precipitation. The model results were verified against observed data obtained from representative meteorological stations, and systematical deviations or biases were identified. To improve the model results, two bias correction methods were applied with special emphasis given to the reproduction of precipitation extremes. Empirical quantile mapping and gamma quantile mapping methods were applied. The ability of the WEREX V ensemble to capture extreme precipitation values varied; this was described in terms of biases. All of the identified correction methods were capable of reducing the bias related to the intensity of extreme precipitation occurrence during the calibration period. The performance of empirical quantile mapping is better than gamma quantile mapping to reduce biases (median value) and uncertainty (inter quartile range value). Penelitian ini bertujuan untuk mengoreksi bias curah hujan ekstrim keluaran model. Wilayah kajian dalam penelitian ini adalah negara bagian Saxony, German sedangkan data model yang digunakan adalah data WEREX V. Dataset WEREX V adalah data GCM yang yang didownscale secara statistic. Adapun GMC yang digunakan adalah ECHAM 5, HadCM3, HadGem2 dan beberapa RCM (REMO, RAMCO, dan CCLM) dengan menggunakan skenarios SRES A1B and E1. Karena dataset WEREX V terdiri dari 120 data model, maka boxplot digunakan untuk menggambarkan hasil analisis baik untuk identifikasi maupun koreksi bias. Hasil keluaran model dibandingkan dengan data pengamatan (observasi) dari stasiun meteorologi. Dari hasil perbandingan ini, bias akan dideteksi. Untuk meningkatkan akurasi model, bias dikoreksi menggunakan dua metode yaitu Emperical quantile mappinh (EQM) dan Gamma quatile mapping (gamma). Kemampuan model (data WEREX V) untuk menggambarkan curah hujan ekstrim berbeda antar stasiun hal ini digambarkan dengan nilai bias yang berbeda. Metode EQM dan Gamma mampu mengurangi bias maupun ketidakpastian model (uncertainty). Performa EQM lebih baik dibandingkan Gamma. Secara umum EQM mampu mengurangi bias maupun ketidakpastian model.
PROFIL KLIMATOLOGIS LAPSE RATE VERTIKAL DI MEDAN, PADANG, JAKARTA, PALU, DAN AMBON Lisnawati Lisnawati; Erwin E. S. Makmur; Donaldi Sukma Permana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i2.456

Abstract

Lokasi pengamatan Radiosonde yang tersebar di seluruh Indonesia hingga tahun 2015 mencapai 23 tempat ini ternyata masih belum banyak yang memanfaatkan hasil data tersebut untuk analisis kondisi udara lapisan atas. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk membuat profil klimatologis bulanan lapse rate vertikal per bulan pada jam 00 dan 12 UTC di wilayah Medan, Padang, Jakarta, Palu, dan Ambon berdasarkan data observasi suhu udara vertikal harian pada tahun 2007-2016. Kemudian, metode penelitian yang digunakan adalah interpolasi, menghilangkan data pencilan, rata-rata, median, maksimum, minimum, dan perhitungan lapse rate. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa puncak tropopause sekitar 16-17,4 km dengan ketinggian puncak tropopause pada bulan Desember dan Januari-April lebih tinggi daripada bulan Juni-September dan terjadi inversi permukaan di Medan pada bulan Maret dan Juni-Juli serta di Jakarta pada bulan September-Oktober. Rata-rata tahunan ketinggian awal inversi jam 00 dan 12 UTC adalah 17,1 km dengan rata-rata bulanan Januari-Mei dan Desember lebih tinggi daripada Juni-November.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.460

Abstract

Sampul Jurnal MG Volume 17 Nomor 2 Tahun 2016

Page 6 of 18 | Total Record : 174