cover
Contact Name
Rezky Yunita
Contact Email
rezky.yunita@bmkg.go.id
Phone
+6282125693687
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 157 Documents
Assessment of Air pollution trend in Medan city Arief Wibowo Suryo; Hendri Irwandi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.244

Abstract

Medan, as the capital city of the North Sumatra province as well as one of largest metropolitan areas in Indonesia, has suffered from increasing air pollution in the city. The tremendous population growth has created a wide range of urban problems such as the increase of industrial areas and the number of transportation means that lead to the diminished air quality in the area. This study divided Medan into two distinctive areas, namely urban area and suburban area. Air pollution data used for this analysis was taken from Suspended Particulate Matter (SPM) collected by BMKG observation stations in Medan from year 1983 to 2014. According to the trend Analysis of SPM, the area showed an increasing trend of 6.3% in urban area, and of 66% in suburban area. Generally, the increase of SPM that passed the threshold happened in the dry season, which occurs from January until June. The result has displayed there are decreasing of air quality in Medan city, in hope for the policy makers to react accordingly and to plan ways to prevent negative effects of air pollution.
KAJIAN VERIFIKASI PRODUK PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULANAN (2003-2012) Robi Muharsyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i1.265

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengukur kualitas produk prakiraan curah hujan (PCH) bulanan dengan cara melakukan verifikasi PCH selama 10 tahun pada periode 2003-2012. Berdasarkan bentuk prakiraan yang dipublikasikan maka metode verifikasi yang sesuai adalah verifikasi prakiraan berkategori. Ukuran verifikasi yang digunakan yaitu Ketepatan, Keunggulan dan Keandalan.  Ketepatan diukur dengan nilai Proportion of Correct (PC), Keunggulan dengan nilai Heidke Skill Score (HSS) dan Keandalan dengan nilai Frequency Bias Index (FBI).  Hasilnya secara temporal dan spasial, PCH pada periode JJA (musim kemarau) lebih baik dari pada PCH pada periode DJF (musim hujan). Nilai rata-rata PC, HSS dan FBI pada musim kemarau berada pada kriteria: ketepatan tinggi, unggul dan handal. Peningkatan kualitas PCH pada musim kemarau umumnya terdapat pada pos hujan di wilayah Monsunal seperti Sumatera bagian tengah hingga selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan bagian barat, Jawa bagian tengah dan timur hingga ke pulau Bali, dan Nusa Tenggara. Namun demikian, selama periode 2003-2012, kualitas PCH pada musim kemarau 2010 adalah yang paling buruk. Hal ini disebabkan karena adanya fenomena La Nina Kuat yang berpengaruh pada peningkatan jumlah curah hujan pada saat musim kemarau di Indonesia.
ANALISIS KONDISI UDARA ATAS WILAYAH INDONESIA DENGAN DATA RADIOSONDE M. Djazim Syaifullah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 18 No. 1 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i1.268

Abstract

Analisis kondisi udara atas wilayah Indonesia telah dilakukan dengan data rawindsonde. Sebanyak sebelas stasiun peluncuran rawindsonde di wilayah Indonesia, Malaysia dan Singapura digunakan dalam penelitian ini dengan panjang data selama lima tahun. Ada beberapa informasi penting telah didapatkan, yaitu tentang profil suhu dan penurunan suhu (lapse rate), lapisan tropopause, profil komponen angin zonal, dan beberapa nilai indeks rawindsonde. Lapse rate rerata dari permukaan sampai ketinggian lapisan tropopause adalah sekitar -0.62oC/100meter, sedangkan lapse rate rerata dari permukaan sampai paras freezing level sekitar -0.55oC/100meter. Untuk lapisan di atas freezing level mempunyai tingkat labilitas yang lebih tinggi dibandingkan pada lapisan di bawah freezing level. Lapisan tropopause secara rerata berada pada ketinggian 16.6 kilometer dengan suhu sekitar -81oC. Dari pengamatan rawindsonde menunjukkan nilai ketinggian lapisan tropopause yang relatif hampir sama. Profil angin komponen zonal untuk beberapa stasiun pengamatan menunjukkan adanya periodisitas pada lapisan bawah (di bawah 5 kilometer atau sekitar 15 ribu feet) yaitu pada musim hujan dominan komponen angin baratan sedang pada musim kering dominan angin timuran. Dari nilai-nilai indeks rawindsonde di wilayah Indonesia secara rerata dalam kisaran weak dan moderate. Secara umum juga terlihat bahwa semakin dekat dengan ekuator (lintang kecil) maka nilai CAPE cenderung lebih besar dibandingkan dengan daerah yang lebih jauh dari ekuator. Perlu dilakukan kajian dan analisis lebih lanjut terutama komponen angin zonal pada lapisan atas untuk lebih memahami pola sirkulasi udara atas wilayah Indonesia.Analysis of upper-air conditions over Indonesia has been done using the radiosondes data. A total of eleven radiosonde stations launched in Indonesia, Malaysia, and Singapore have been used in this study The length of the data used in this study is five years. There was some important information has been collected, which are the temperature profile, lapse rate, the tropopause layer, the profile of the zonal wind component, and some radiosonde indexes. The average lapse rate from the o surface to the tropopause layer is about -0.62 C/100m, while the average lapse rate of the surface to the freezing level is o around -0.55 C/100m. Especially for a layer above freezing level lability has a higher level than in the layer below the freezing level. The average height of the tropopause layer is about 16.6 kilometers above ground level with o temperatures of -81 C. Zonal wind component profiles for several observation stations showed periodicity in the lower layers (below 15 thousand feet). During rainy season is dominantly westerlies, while for the dry season is dominantly easterlies. From radiosonde indexes in the study was found that average values in the range of weak to moderate. It is necessary to study and do further analysis especially for zonal wind components on the top layer of the atmosphere to have a better understanding especially in patterns of air circulation over the Indonesia region.
ANALISIS MODEL PREDIKSI AWAL MUSIM HUJAN DI SULAWESI SELATAN Alimatul Rahim; Rini Hidayati; Akhmad Faqih; Mamenun Mamenun
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.269

Abstract

Model prediksi awal musim hujan merupakan salah satu kunci yang dapat digunakan untuk mengurangi resiko kegagalan panen padi yang disebabkan oleh faktor iklim di provinsi Sulawesi Selatan. Model prediksi awal musim hujan dibangun  dengan menggunakan data curah hujan observasi Sulawesi Selatan dan anomali suhu muka laut di kawasan Pasifik dan perairan Sulawesi. Pada studi ini dilakukan analisis pemilihan stasiun hujan observasi, penentuan awal musim hujan, analisis komponen utama dan pengelompokan, analisis korelasi awal musim hujan terhadap anomali suhu muka laut, pembangunan model untuk prediksi awal musimhujan dan verifikasi model.Hasil analisis awal musim hujan menunjukkan setiap stasiun hujan mempunyai perbedaan awal musim hujan dengan rata-rata jatuh pada Julian Date (JD) ke-348 (14 Desember). Berdasarkan hasil analisis PCA dan cluster, diperoleh bahwa di Sulawesi Selatan terbagi menjadi 3 cluster wilayah. Cluster 1 mempunyai pola hujan lokal, sedangkan cluster 2 dan 3 mempunyai pola hujan monsun. Pada peta korelasi antara awal musim hujan di Sulawesi Selatan dan anomali suhu muka laut menunjukkan bahwa terdapat korelasi nyata(r≥0.5) antara kawasan Pasifik dan Laut Sulawesi pada cluster 1 dan 2 pada bulan Juni Juli Agustus September(JJAS). Sedangkan pada cluster 3, korelasi nyata hanya pada bulan Juni di perairan Sulawesi. Model prediksi AMH terbaik, pada cluster 2 terdapat di domain prediktor kawasan pasifik dengan nilai r=0.82, sedangkan pada cluster 1 dan 3, terdapat di domain perairan Sulawesi dengan nilai r=0.78 dan r-0.48. Verifikasi model terpilih pada cluster 3 mempunyai RMSE = 3, sedangkan cluster 1 dan 2, nilai RMSE berturut-turut sebesar 16 dan 29. Model prediction of rainy season onset is one of the keys to reduce the risk of paddy harvest failure because of the climate factor in South Sulawesi province. The model prediction for rainy season onset was build using rainfall data in South Sulawesi and SST anomaly in the Pacific Ocean and Sulawesi Sea. This research is conducted to select the rainfall station, determine onset using rainfall data, analyze PCA and cluster, make a correlation between onset and SST anomaly, develop onset model prediction, and verify the selected model. The onset analysis showed that every rainfall stations have different onset with average is on the 348th of Julian Date (December 14th). Based on the PCA and cluster analysis, there were three clusters of rainfall regions. Cluster 1 has a local pattern, Cluster 2 and 3 have a monsoonal pattern. On the map of correlation between onset in South Sulawesi and SST anomaly showed that there were strong correlations with the Pacific Ocean and Sulawesi Sea in clusters 1 and 2 on JJAS. Moreover, it has a weak correlation in cluster 3 in June in the Sulawesi Sea. The best AMH model prediction for cluster 2 was on the Pacific Ocean domain with r=0.82, on cluster 1 dan 3 was on the Sulawesi sea with r=0.78 and r=0.48. The selected model verification showed that the smallest RMSE (RMSE=3) was on cluster 3, moreover, on clusters 1 and 2, the RMSE model was 16 and 29. 
KONDISI ATMOSFER PADA KEJADIAN BANJIR DESEMBER 2007 SAMPAI JANUARI 2008 DI KABUPATEN BOJONEGORO Fithriya Yulisiasih Rohmawati; Ana Turyanti; Indah Prasasti
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.270

Abstract

Banjir merupakan salah satu bencana yang menimbulkan kerugian bagi manusia. Bencana tersebut biasanya didahului oleh curah hujan yang tinggi (lebat) dan lama. Proses terjadinya hujan yang tinggi dan lama memerlukan kondisi atmosfer yang mendukung seperti . Tujuan utama penelitian ini adalah menjelaskan kondisi atmosfer pada saat banjir di Kabupaten Bojonegoro tanggal 26 Desember 2007 sampai 7 Januari 2008. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi atmosfer saat banjir tidak stabil, kandungan uap air tinggi, pengangkatan massa udara intensif dan kecepatan angin rendah. Kondisi tersebut cukup potensial dalam menyebabkan hujan yang lebat, meskipun kondisi atmosfer tersebut belum termasuk kategori ekstrim. Dengan demikian banjir tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi atmosfer setempat tetapi dipengaruhi juga oleh kondisi atmosfer sekitarnya dan kondisi permukaan. Flood is one of the disasters that cause harm to humans. That disaster is usually preceded by heavy and long-term rainfall. The occurrence of high and long-term rainfall requires atmospheric conditions that supported it. The main objective of this study is to explain the atmospheric conditions while flood events in Bojonegoro on December 26th, 2007 until January 7th, 2008. The analysis showed that the atmospheric conditions are unstable during floods, high moisture content and the removal of intensive air mass and low wind speeds. The atmospheric condition during the flood was sufficient to support the heavy rain but not in extreme categories. Therefore, the flood-affected by atmospheric conditions in the surrounding area and surface conditions in that area.
SIMULASI KESEIMBANGAN ENERGI PERMUKAAN DI JAKARTA DAN SEKITARNYA MENGGUNAKAN MODEL NUMERIK MM5 Yopi Ilhamsyah; Kurnia Endah Komalasari; Rima Novianti; Ahmad Bey; Rahmat Hidayat
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.271

Abstract

Studi simulasi keseimbangan energi permukaan di Jakarta dan daerah sekitarnya menggunakan model numerik Fifth-Generation Penn State/NCAR Mesoscale Model (MM5) telah dilakukan. Empat domain dengan resolusi spasial 9 km yang menggambarkan daerah Jakarta dan sekitarnya disimulasikan selama 5 hari pada tanggal 04-08 Agustus 2004 untuk memperoleh hubungan radiasi dan keseimbangan energi di wilayah tersebut. Hasil menunjukkan bahwa keseimbangan energi lebih tinggi pada siang hari terjadi di perkotaan dibandingkan daerah lainnya. Sementara itu, komponen energi seperti fluks bahang terindera dan laten di permukaan masing-masing menunjukkan bahwa wilayah laut dan perkotaan lebih tinggi daripada daerah lainnya. Sebaliknya, fluks bahang tanah menunjukkan daerah rural di bagian timur Jakarta lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Secara umum, keseimbangan radiasi dan energi pada siang hari lebih tinggi daripada malam hari di seluruh daerah. Rasio Bowen di wilayah kota yang mencerminkan kawasan bangunan dan perkotaan lebih tinggi daripada di daerah rural yang didominasi oleh lahan pertanian beririgasi. Hal ini sesuai dengan perubahan sifat fisik tutupan lahan seperti albedo, kelembaban tanah dan karakteristik bahang. A study of surface energy balance simulation in Jakarta and surrounding areas by using Fifth-Generation Penn State/NCAR Mesoscale Model (MM5) numerical model was done. Four domains that presented the outermost and the innermost of Jakarta and surrounding areas were utilized. All domains have spatial resolutions of 9 km. The model was simulated for 5 days on August 4-8, 2004. The relation of radiation and energy balance at the surface was derived from the model output. The result showed that the energy balance was higher in the city during the daytime. Meanwhile, the energy component, i.e., surface sensible and latent heat flux showed that sea and city were higher than others, respectively. Moreover, ground flux showed the eastern rural area was higher than others. In general, radiation and energy balance was higher during daytime and lower in the nighttime for all areas. The calculation of the Bowen ratio was also higher in the city that reflected the urban and built-upland. Meanwhile, the Bowen ratio in the rural area dominated by irrigated cropland was lower than the city. It is consistent with changes in land cover properties, i.e., albedo, soil moisture, and thermal characteristics.
DURASI DAN KEKUATAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN INDEKS HUJAN TERSTANDARISASI DI PULAU BALI Robi Muharsyah; Dian Nur Ratri
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.272

Abstract

Analisis kekeringan di pulau Bali pada studi ini dilakukan menggunakan Indeks Hujan Terstandarisasi (SPI). Penelitian dilakukan pada data curah hujan bulanan di 29 pos hujan dengan periode data 30 tahun (1984-2013). Nilai SPI pada skala waktu 3 bulan (SPI3) digunakan untuk memantau kekeringan dengan cara menganalisis faktor-faktor ; kategori Sangat Kering, puncak kekeringan, durasi dan kekuatan kekeringan serta frekuensi relatif kekeringan. Faktor-faktor tersebut dihubungkan dengan kondisi El Nino yang merupakan salah satu penyebab kekeringan di P. Bali selama ini.  Dari analisis yang dilakukan, terlihat bahwa SPI3 dapat memantau kekeringan di P. Bali dengan proporsi kekeringan yang tejadi lebih dari 23% selama 30 tahun (1984-2013). Selain itu, diketahui jumlah pos hujan dengan kategori Sangat Kering paling banyak  terjadi pada Mei 1997, puncak kekeringan terbesar terjadi  di pos hujan  Kerambitan, Ngurahrai, Baturiti, Tampaksiring, Sukasada, Tejakula dan  Abang serta kekeringan dengan durasi dan kekuatan paling besar terjadi di pos hujan  Palasari, Pulukan, Buruan, Besakih, Amlapura, Celuk, Kapal dan Ngurahrai. Selanjutnya, periode ulang untuk waktu 5, 10, 20, 50 dan 100 tahun juga dihitung dengan tujuan untuk  merancang durasi dan besarnya kekuatan kekeringan yang dapat terjadi di P. Bali. Hasil perhitungan periode ulang lima tahun menunjukan pos hujan Busungbiu, Pupuan, Buruan, Besakih dan Dawan  mempunyai durasi dan kekuatan kekeringan lebih besar dari pos-pos hujan lainnya. Durasi dan kekuatan kekeringan tersebut meningkat sesuai sebaran Log Normal. Drought analysis in Bali Island in this study has been done using the Standardized Precipitation Index (SPI). This research is conducted on monthly rainfall data in 29 stations for 30 years period of data (1984-2013). SPI for a 3-month rainfall total time scale (SPI3) is used to monitor drought by analyzing some factors such as the Extremely Dry category, drought peak, and drought duration and magnitude as well as drought relative frequency. Those factors are related to the El Nino condition which is one of the causes of drought in Bali Island for all this time. The result shows that SPI3 can monitor drought in Bali Island with drought proportion which occurs more than 23% for 30 years periods (1984-2013). The most Extremely Dry category is obtained in May 1997, the biggest drought peak occurs in Kerambitan, Ngurahrai, Baturiti, Tampaksiring, Sukasada, Tejakula and Abangstations and drought with the greatest duration and magnitude occurs in stations: Palasari, Pulukan, Buruan, Besakih, Amlapura, Celuk, Kapal dan Ngurahrai. Then the return period for 5, 10, 20, 50 and 100 years are counted to design the drought duration and magnitude which may occur in Bali Island. The result of 5 years returns period shows that Busungbiu, Pupuan, Buruan, Besakih dan Dawanstations have greater drought duration and magnitude than other stations. That drought duration and magnitude increase with Log-Normal distribution.
PEMODELAN DUA DIMENSI DATA GRAVITASI DI WILAYAH RIAU DENGAN METODE TALWANI (STUDI KASUS LOKASI - X) Supriyanto Rohadi; Rudi Darsono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.273

Abstract

Observasi nilai percepatan gravitasi dilakukan di Riau (Lokasi - X). Data pengamatan yang didapat diolah sedemikian rupa sehingga didapatkan nilai anomali gravitasi. Secara umum anomali gravitasi terdiri dari anomali bouger, anomali regional, dan anomali residu. Anomali Bouguer dan anomali Residu di wilayah pengamatan menunjukkan area anomali gravitasi tinggi di bagian selatan, sedangkan anomali gravitasi rendah di bagian utara. Selanjutnya peta anomali tersebut dibuat permodelan dua dimensi berbasis Metode Talwani. Dari hasil pemodelan menggunakan model poligon metode Talwani didindikasikan adanya patahan naik dengan penurunan massa pada bagian tengahnya (graben). Model patahan ini merupakan sistem pembentuk sedimen pada wilayah penelitian.  Observation of the gravity is conducted in Riau (Location - X). Observational data is processed in such a way to obtain the value of the gravity anomaly. In general, the gravity anomaly is composed of Bouguer anomaly, regional anomaly, and residual anomaly. High Bouguer anomaly and Residual anomaly observed in the region of the south area, while the low gravity anomaly in the north area. Furthermore, the anomaly map generates by using two-dimensional modeling based on the Talwani method. From two-dimensional modeling (2-D)indicate that fault model due to the loss of mass in the middle (graben). This fault model is a system forming sediment in the study area.
RELOKASI SUMBER GEMPA DI DAERAH SUMATERA BAGIAN UTARA MENGGUNAKAN HASIL INVERSI SIMULTAN RELOKASI DAN KECEPATAN GELOMBANG P TIGA DIMENSI Jajat Jatnika; Andri Dian Nugraha; Wandono Wandono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.274

Abstract

Penujaman miring antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia memberikan pengaruh yang besar terhadap kondisi tektonik dan vulkanik di Sumatera bagian utara. Subduksi tersebut mengakibatkan terbentuknya deretan gunung api dan zona sesar yang terbentang di pulau Sumatera. Seismisitas yang tinggi di wilayah Sumatera bagian utara tidak hanya diakibatkan oleh pengaruh dari subduksi saja, namun dapat juga diakibatkan karena keberadaan sesar aktif dan aktivitas gunung api yang berada di darat pulau Sumatera. Oleh karena itu perlu dilakukan penentuan sumber gempa yang akurat dan presisi. Salah satu faktor yang mempengaruhi penentuan sumber gempa adalah model kecepatan yang digunakan. Dengan menggunakan program Simulps12 yang secara simultan menghitung kecepatan 3-D gelombang P dengan hasil relokasi gempanya, diharapkan dapat menentukan sumber gempa sesuai dengan kondisi tektonik sebenarnya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah waktu tiba gelombang P dan parameter gempa dari katalog BMKG 2009-2012 dan katalog PASSCAL Februari-Mei 1995. Penjejakan sinar gelombang menggunakan metode pseudo-bending sedangkan metode LSQR teredam digunakan dalam teknik inversinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa gempa hasil relokasi mengalami perubahan posisi baik secara horisontal maupun secara vertikal. Beberapa gempa menunjukan perubahan jarak horisontal yang besar yaitu sekitar 40-70 km. Sedangkan secara vertikal hampir setengah data mengalami perubahan kedalaman hingga 60 km. Setelah relokasi terlihat distribusi gempa dangkal di darat lebih berimpit dengan zona sesar Sumatera. Hal ini juga mengindikasikan bahwa zona sesar Sumatera sangat aktif dimana kedalaman gempa yang terjadi tidak lebih dari 50 km. The oblique subduction between the Indo-Australian plate and Eurasian plate in northern Sumatra gives a great influence on volcanic and tectonic conditions. The subduction resulted in the formation of a row of volcanoes and fault zones that lie on the island of Sumatra. The high seismicity in the northern Sumatra region is not only caused by the subduction alone but there are fault active and volcanoes. Then the precise determination of the earthquake source in accordance with the actual conditions needs to be done. One factor that affects the determination of earthquakes is the velocity model. By using the Simulps12 program that simultaneously calculates velocity models3-D and earthquake relocation, it was expected to determine the source of the earthquake following the actual conditions. The data used is the P wave arrival time and the parameters of the earthquake in a catalog of BMKG 2009-2012 and catalog of PASSCAL February-May 1995. Ray tracing in this study was using the pseudo-bending method, while the damped LSQR method was using inverse techniques. The results showed that the earthquake relocation results change positions either horizontally or vertically. Some earthquakes showed large changes in a horizontal distance of about 40-70 km vertically while almost half of the data changes to 60 km depth. After the relocation, the distribution of shallow earthquakes inland coincides with the Sumatra fault zone. It also shows that the Sumatra fault zone is highly active where the depth of the earthquake occurred not exceeding 50 km.
TEKNIK IDENTIFIKASI POLARITAS DAN KUALITAS IMPULSE PERTAMA GELOMBANG P DAN PENENTUAN MAGNITUDO GEMPABUMI DALAM SISTEM MONITORING GEMPABUMI JISVIEW Januar Arifin; Jimmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.275

Abstract

Untuk menunjang akurasi penentuan parameter dan mekanisme sumber gempabumi telah dilakukan pengembangan teknik identifikasi polaritas dan kualitas impuls pertama gelombang P dan digital signal processing dalam sistem monitoring gempabumi JISView. Pelaksanaannya meliputi kajian pendefinisian maupun pengujian metode dan prosedur yang tepat dalam sistem monitoring gempabumi dengan tujuan meningkatkan kemampuan sistem dalam menyajikan informasi dan mekanisme sumber gempabumi secara cepat dan akurat sekaligus memberikan landasan saintifik yang kuat terhadap metode-metode pengolahan data yang digunakan. Uji coba dan validasi dilakukan untuk mengetahui tingkat keakurasian dan peningkatan performa yang diharapkan.  Pengujian terhadap metode pengolahan sinyal digital menggunakan sampel rekaman data seismik stasiun UGM komponen vertikal (BHZ). Untuk validasi, keluaran sinyal tersebut beserta spektrumnya dibandingkan terhadap sinyal keluaran software DIMAS2003 dan SAC melalui proses serupa. Aspek metode pendeteksian event dan penentuan magnitudo diuji menggunakan rekaman data seismik 10 kejadian gempabumi di Indonesia pada tahun 2014, dengan magnitudo 3,8 hingga 7,3 SR.  Hasil analisa selanjutnya divalidasi dengan parameter gempabumi yang dirilis BMKG, GFZ dan USGS. Hasil pengujian dan validasi metode pengolahan sinyal digital yang terdiri dari mekanisme filtering, restitusi dan replikasi sinyal menunjukkan hasil pengujian yang cukup baik. Hal ini diindikasikan melalui adanya kesesuaian pola sinyal dan spektrum hasil pengolahan yang dibandingkan terhadap hasil keluaran dari proses serupa menggunakan software pengolahan sinyal DIMAS2003 dan SAC. Pengujian dan validasi terhadap metode pendeteksian event otomatis yang mengkombinasikan antara metode STA/LTA dan Akaike Information Criterion (AIC) menunjukkan hasil picking otomatis yang lebih presisi dan handal (robust) dibandingkan dengan menggunakan metode STA/LTA saja pada sistem yang dikembangkan sebelumnya.  The accuracy of the determination of earthquake parameters and the focal mechanism is dependent on the development of polarity identification techniques, the quality of the first impulse of the P wave, and digital signal processing methods used in the earthquake monitoring system JISView. The implementation includes defining and testing the methods and procedures appropriate to the earthquake monitoring system, to improve the system's ability to present earthquake information and focal mechanism quickly and accurately, while providing a strong scientific foundation for the data processing methods used. Tests on the digital signal processing method use a sample of seismic data recorded on the UGM station vertical component (BHZ). For validation, the output signal and its spectrum are compared to the output signal of the SAC software DIMAS2003 through similar processes. Aspects of the detection method of determining the magnitude of the event were tested using seismic data recorded on 10 occurrences of earthquakes in Indonesia in 2014, with a magnitude of 3.8 to 7.3 RS. The results are further validated by the analysis of earthquake parameters that were released from BMKG, GFZ, and USGS with comprising filtering mechanism, restitution, and replication signal shows the test results are good.

Page 1 of 16 | Total Record : 157