cover
Contact Name
Basori
Contact Email
tradisilisannusantara@gmail.com
Phone
+6288802310216
Journal Mail Official
tradisilisannusantara@gmail.com
Editorial Address
Jalan Soekarno Hatta No. 698B, Kelurahan Jatisari - Kecamatan Buahbatu Bandung, Jawa Barat 40286
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara
ISSN : -     EISSN : 29635152     DOI : https://doi.org/10.51817/jtln.v3i2.648
Journal of Nusantara Oral Tradition aims to publish high-quality researches and outstanding creative works combining the broad fields of literature and linguistics on the same intellectual platform. Article contains field study, case study, library research, and others. The article must be relevant with current issues in the scope of oral tradition. Those different segments that will be featured in each issue of Journal of Nusantara Oral Tradition are: (i) critical writings on literary, (ii) cultural and linguistics studies, and (iii) creative writings that include works of prose fiction and selections of poetry related to the oral tradition. Journal of Nusantara Oral Tradition invites scholars and writers to submit high-quality written works presenting original researches with profound ideas and insightful thoughts that could potentially inaugurate avenues to new perspectives in the fields of language, literature and culture.
Articles 48 Documents
DEIKSIS DALAM MANTRA RITUAL DI TAPAL KUDA: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Alifian, Muhammad Afnani; Nurprihardianti, Viga Eka Putri; Farghani, Rizki Farizi; Martutik, Martutik
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 2 (2025): Volume 5, Nomor 2, September 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i2.1586

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas macam-macam deiksis yang terdapat dalam mantra di daerah Tapal Kuda. Mantra merupakan jenis karya sastra lama yang saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. Mantra juga masih eksis digunakan di daerah Tapal Kuda. Tapal kuda merupakan nama geografis yang diistilahkan pada sejumlah kabupaten, diantaranya Lumajang, Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Pasuruan, dan Probolinggo. Mantra sebagai ritual yang menggunakan kekuatan kata memiliki sejumlah leksikon linguistik yang salah satunya adalah deiksis atau kata tunjuk. Pengetahuan tentang deiksis yang ada dalam mantra dapat meningkatkan pemahaman terkait fungsi deiksis yang digunakan. Deiksis dalam mantra menarik untuk ditelaah karena berkaitan dengan ujaran kata tunjuk yang digunakan dalam budaya masyarakat khususnya daerah Tapal Kuda. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan antropolinguistik yang menghubungkan antara budaya, bahasa, dan unsur pragmatik. Data penelitian berupa transkripsi ujaran yang terdapat dalam mantra di daerah Tapal Kuda. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dengan teknik simak catat dalam teks mantra. Teknik analisis data dengan model Miles dan Huberman dimulai dengan langkah pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada berbagai macam bentuk deiksis yang muncul dalam mantra di daerah Tapal Kuda. Kemunculan deiksis diantaranya deiksis persona sebanyak 9 kali, deiksis waktu tidak ditemukan, deiksis tempat 10, deiksis wacana 5, dan deiksis sosial sebanyak 2. Deiksis persona paling banyak muncul karena mantra yang dipilih lekat dengan tendensi makna untuk sebuah ritual. Deiksis dalam mantra pada beberapa kemunculannya tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi sebagai penguat dari wacana teks mantra.
FROM RONGGENG TO WHITE CROCODILE: NARRATIVE, PERFORMATIVITY, AND CULTURAL ECOLOGY IN THE MYTH OF SAEDAH–SAENIH FROM INDRAMAYU Lailatunnuryah, Aprilia; Basori, B
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 2 (2025): Volume 5, Nomor 2, September 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i2.1580

Abstract

This article discusses the myth of Saedah-Saenih from Indramayu as a form of oral literature that is alive and continues to be reproduced in various cultural mediums. Through a qualitative-ethnographic approach, this study analyzes written and oral texts, tarling performances, school plays, local films, and ritual practices on the Sewo Bridge. The results showed that despite variations in the details of the storytelling, the core motives—the cruel stepmother, the abandonment of the child, the supernatural pact, and the metamorphosis into the elements of nature—were always present as the basic structure of the narrative. Performative analysis shows that this myth is not only understood as a text, but also as a cultural event that involves interaction between speakers, audiences, and social spaces. Cultural ecology reveals the close connection between mythical figures and the landscape of the Sewo River, where the transformation into white crocodiles, trees, pring ori, and bale kambang confirms the role of myth as a cosmological map of the Indramayu people. From a social and gender point of view, the story reflects ambivalence: on the one hand it reinforces the stereotype of good and bad women, on the other hand it implies an attempt at symbolic resistance through the character of Saenih trying to get out of the snare of poverty. This myth serves a dual purpose: as an ideological device that affirms family values, morality, and religiosity, as well as an arena of cultural resistance that maintains local identity in the midst of modernization. Thus, the Saedah–Saenih myth shows that oral literature not only functions as a textual heritage, but also as a dynamic, meaningful, and relevant cultural practice in shaping the identity of contemporary society.
VERNACULAR ARCHITECTURE OF BUNISAKTI VILLAGE: SETTLEMENT PATTERNS, TRADITIONAL HOUSES, AND LOCAL WISDOM IN THE NUSANTARA’S PERSPECTIVE Priarana, Suwardi Alamsyah; Rusnandar, Nandang
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 2 (2025): Volume 5, Nomor 2, September 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i2.1582

Abstract

Abstract; Kampung Bunisakti is one of the traditional villages in the archipelago that stores the richness of vernacular architecture through its traditional settlement patterns and houses. The vernacular architecture in this village is not just a physical form of a building, but a manifestation of local wisdom born from human interaction with nature, culture, and cosmology. This article aims to analyze the patterns of villages and houses of Kampung Bunisakti with a vernacular architectural approach, as well as relate them to the symbolic values contained in them. The research method used is qualitative-descriptive through field data analysis and literature, combined with vernacular architectural theories from Paul Oliver and Amos Rapoport. The results of the study show that the spatial layout of the village and the shape of traditional houses in Bunisakti reflect the ecological, spiritual, and social relations of the community. The village pattern is built by taking into account cosmological orientation, connectivity with the natural landscape, and inter-house relationships that affirm the social bonds of the community. Meanwhile, traditional houses combine practical functions with cultural symbolism, such as the use of local materials, the division of space by gender and age, and meaningful ornaments. This analysis confirms that the vernacular architecture of Bunisakti Village is a representation of cultural identity as well as ecological knowledge that is relevant to contemporary architectural challenges. Thus, this study contributes to a broader understanding of the vernacular architecture of the archipelago, as well as opens up opportunities for the development of sustainable architecture based on local wisdom.
NILAI SOSIAL DALAM PROSESI UPACARA ADAT “NAHUNAN” SUKU DAYAK NGAJU DI KABUPATEN KAPUAS Eddra, Edelweis Gardena; Rafiek, Muhammad; Nilawati, Sri Candra
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.995

Abstract

Salah satu rujukan tradisi suku Dayak Ngaju adalah tradisi “Awal Kehidupan hingga Kematian”. Upacara adat “Nahunan” merupakan salah satu bagian dari fase tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan mendesripsikan (1) Makna dan syarat upacara adat Nahunan bagi suku Dayak Ngaju (2) Rangkaian/susunan pelaksanaan upacara adat Nahunan di Kabupaten Kapuas, (3) Nilai sosial dalam prosesi upacara adat Nahunan di Kabupaten Kapuas. Peneliti merasa perlu untuk menggali nilai-nilai khususnya nilai sosial dalam upacara adat Nahunan agar dapat dideskripsikan dan menjadi acuan berpikir serta bertingkah laku dalam masyarakat. Peneliti juga ingin mengangkat tentang upacara adat Nahunan agar dapat dikenal lebih luas dan dilestarikan karena upacara adat ini jarang dipublikasikan ke masyarakat umum khususnya di luar Kalimantan Tengah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang dapat mendeskripsikan hasil dari data yang dikumpulkan melalui observasi, studi dokumen serta wawancara dengan narasumber. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa 18 tahapan prosesi upacara adat Nahunan di Kabupaten Kapuas dan perwujudan nilai sosial didalamnya yaitu nilai tolong-menolong, kekeluargaan, kesetiaan, tanggung jawab, toleransi, demokrasi dan kerja sama.
OPOSISI BINER PADA UNGKAPAN PAMALI MASYARAKAT TOLOTANG DESA OTTING: KAJIAN ANTROPOLOGI LEVI-STRAUSS Syukur, Fandi; Nensilianti, Nensilianti; Saguni, Suryani SYam
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.1510

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan oposisi biner dalam pamali masyarakat Tolotang serta miteme dan mitos yang terdapat dalam pamali masyarakat Tolotang sebagai sumber data yang dapat dianalisis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan data yang diperoleh berdasarkan dengan kajian teori yang digunakan. Data yang digunakan ini adalah ungkapan yang dijadikan kalimat yang menunjukkan serta mengambarkan oposisi biner, miteme dan mitos yang terdapat pada ungkapan pamali masyarakat Tolotang desa Otting kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidenreng Rappang menngunakan kajian antropologi Levi-Strauss. Hasil penelitian menunjukkan enam kategori oposisi biner dalam pamali yang menggambarkan aspek sosial dalam masyarakat Tolotang di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang. Pamali dalam masyarakat Tolotang berperan sebagai sistem kontrol sosial yang mencerminkan nilai-nilai budaya, moral, dan spiritual, mengatur hubungan antara individu, masyarakat, dan dunia spiritual. Melalui analisis struktural Levi- Strauss, pamali dipahami sebagai larangan simbolik yang berbasis oposisi biner, seperti sehat vs. sakit atau sopan vs. tidak sopan, dengan makna mendalam. Kepatuhan terhadap pamali diperkuat oleh struktur sosial hierarkis masyarakat Tolotang, memastikan stabilitas sosial dan spiritual yang harmonis.This study aims to describe the binary opposition in the Tolotang community's taboos and the myths and myths contained in the Tolotang community's taboos as a source of data that can be analyzed. This study uses a descriptive qualitative method by describing the data obtained based on the theoretical study used. The data used are expressions that are used as sentences that show and describe binary oppositions, myths and myths contained in the expressions of the Tolotang community's taboos in Otting Village, Pitu Riawa District, Sidenreng Rappang Regency using Levi-Strauss' anthropological study. The results of the study show six categories of binary oppositions in the taboos that describe social aspects in the Tolotang community in Otting Village, Pitu Riawa District, Sidenreng Rappang Regency. Pamali in the Tolotang community acts as a social control system that reflects cultural, moral, and spiritual values, regulating the relationship between individuals, society, and the spiritual world. Through Levi-Strauss' structural analysis, pamali is understood as a symbolic prohibition based on binary opposition, such as healthy vs. sick or polite vs. impolite, with deep meaning. Compliance with taboos is reinforced by the hierarchical social structure of Tolotang society, ensuring harmonious social and spiritual stability.
SISTEM KESENIAN DI KAMPUNG NAGA: PELINDUNG TRADISI DI TENGAH ARUS MODERNISASI Kurniasih, Nia; Sukma, Rahma Mustika
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.1511

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem kesenian di Kampung Naga dengan fokus pada jenis-jenis kesenian, alat musik yang digunakan, pelaku seni, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, serta peranannya dalam pelestarian budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode simak (pengamatan/observasi dan wawancara) dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Metode penyajian data yang digunakan adalah metode informal yang berarti penyajian hasil analisis data menggunakan kata-kata biasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem kesenian di Kampung Naga merupakan manifestasi dari kearifan lokal yang mencerminkan hubungan erat antara manusia, budaya, dan alam. Kesenian seperti Angklung Buhun dan Terbang Sejak tidak hanya menjadi media ekspresi budaya, tetapi juga menjadi sarana spiritual yang memperkuat identitas keagamaan masyarakat. Sistem kesenian di Kampung Naga mencerminkan harmoni antara budaya, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Sunda yang hidup di tengah arus modernisasi.This study aims to examine the art system in Kampung Naga with a focus on the types of art, musical instruments used, artists, and the values contained therein, as well as their role in preserving culture. This study uses a qualitative descriptive approach. Data were collected using the simak method (observation and interview) and a documentation study. Data were analyzed using the descriptive analysis method. The data presentation method used is the informal method, which means presenting the results of data analysis using ordinary words. The results of this study indicate that the art system in Kampung Naga is a manifestation of local wisdom that reflects the close relationship between humans, culture, and nature. Arts such as Angklung Buhun and Terbang sejak are not only a medium for cultural expression, but also a spiritual medium that strengthens the religious identity of the community. The art system in Kampung Naga reflects the harmony between culture, spirituality, and social life of the Sundanese people who live in the midst of modernization.
TERSELUBUNG DALAM KATA: ANALISIS UNSUR SEIKSIS DALAM TEKA-TEKI PERMAINAN BAHASA Basori, Basori; Firdaus, Winci
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.1512

Abstract

Teka-teki permainan kata sering dianggap sebagai bentuk hiburan ringan yang tidak berbahaya. Namun, di balik kelucuannya, tak jarang terselip wacana yang sarat dengan stereotip gender dan bias seksis. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap unsur-unsur seksisme yang tersembunyi dalam teka-teki permainan bahasa populer di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis dan teori representasi gender, penelitian ini menelaah contoh-contoh teka-teki yang beredar di media sosial, buku humor, dan platform digital lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa banyak teka-teki mengandung narasi yang merendahkan perempuan, memperkuat peran gender tradisional, atau menjadikan identitas gender sebagai bahan lelucon. Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga mereproduksi ideologi patriarkis secara halus. Studi ini menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap bentuk-bentuk seksisme dalam media bahasa sehari-hari, termasuk yang dikemas dalam format permainan dan humor. Word game puzzles are often considered a harmless form of light entertainment. However, behind their humor, there is often a discourse laden with gender stereotypes and sexist bias. This article aims to uncover the elements of sexism hidden in popular language game puzzles in Indonesia. Using a critical discourse analysis approach and gender representation theory, this study examines examples of puzzles circulating on social media, humor books, and other digital platforms. The results of the analysis show that many puzzles contain narratives that demean women, reinforce traditional gender roles, or make gender identity the subject of jokes. This phenomenon shows how language not only reflects social reality but also reproduces patriarchal ideology in a subtle way. This study emphasizes the importance of critical awareness of forms of sexism in everyday language media, including those packaged in game and humor formats. 
MENGHIDUPKAN TRADISI, MERAWAT SILATURAHMI: NYUNGKEM MATTOWAH DI HARI RAYA Aj, Abdillah; Fathorrahman, Fathorrahman; Fattah, Mohammad; Mubarok, Ghozi
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.1513

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna sosial dan budaya dari tradisi Nyungkem Mattowah, yaitu ritual bersimpuh dan mencium tangan orang tua atau tokoh masyarakat yang dilakukan oleh masyarakat Madura pada Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini merepresentasikan nilai-nilai penghormatan, kasih sayang, dan kesopanan antargenerasi. Namun, arus modernisasi dan gaya hidup individualis menimbulkan kekhawatiran akan lunturnya praktik ini, khususnya di kalangan generasi muda. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual di tiga desa di Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat dewasa dan anak-anak masih aktif menjalankan tradisi ini, sementara partisipasi remaja menunjukkan kecenderungan menurun. Nyungkem Mattowah terbukti tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga berfungsi mempererat silaturahmi dan membangun identitas kolektif masyarakat Madura. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian tradisi melalui pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dan pelibatan generasi muda dalam ruang-ruang budaya yang relevan