cover
Contact Name
Ihwan Amalih
Contact Email
elwaroqoh1234@gmail.com
Phone
+6281999286606
Journal Mail Official
elwaroqoh1234@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Kampus Pusat Universitas Al-Amien Prenduan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Jawa Timur Kode Pos 69465 email : elwaroqoh1234@gmail.com
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat
ISSN : 25804014     EISSN : 25804022     DOI : 10.28944/el-waroqoh
El Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat is a peer reviewed journal which is highly dedicated as public space to deeply explore and widely socialize various creative and brilliance academic ideas, concepts, and research findings from the researchers, academicians, and practitioners who are concerning to develop and promote the religious thoughts, and philosophies. Nevertheless, the ideas which are promoting by this journal not just limited to the concept per se, but also expected to the contextualization into the daily religious life, such as, inter-religious dialogue, Islamic movement, living Quran, living Hadith, and other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2024)" : 8 Documents clear
UNRAVELING THE PHILOSOPHICAL ANALYSIS ON RELIGIOUS VIOLENCE Muhtadi Abdul Mun'im
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1827

Abstract

Religious violence has been a recurring issue throughout history, evoking deep emotions and raising profound questions about the nature of faith, humanity, and conflict. In this article, we embark on a philosophical analysis to unravel the complex dynamics behind religious violence, especially on the meaning dynamics among various contexts, its causes, and moral justification. This article uses conceptual analysis as the method which involves examining and clarifying the key concepts related to religious violence. It examines how individuals and groups use religious beliefs to justify violence and examines various case studies from different religious traditions, including Christianity, Judaism, and Islam. It provides insights into the motivations and ideologies that underlie acts of violence perpetrated in the name of God. This research provides a foundation for developing strategies to counteract and promote peaceful coexistence in diverse societies.Religious violence has been a recurring issue throughout history, evoking deep emotions and raising profound questions about the nature of faith, humanity, and conflict. In this article, we embark on a philosophical analysis to unravel the complex dynamics behind religious violence, especially on the meaning dynamics among various contexts, its causes, and moral justification. This article uses conceptual analysis as the method which involves examining and clarifying the key concepts related to religious violence. It examines how individuals and groups use religious beliefs to justify violence and examines various case studies from different religious traditions, including Christianity, Judaism, and Islam. It provides insights into the motivations and ideologies that underlie acts of violence perpetrated in the name of God. This research provides a foundation for developing strategies to counteract and promote peaceful coexistence in diverse societies.
KONSEP SIDRAT AL-MUNTAHÃ DALAM AL-QUR’AN (Studi Penafsiran ?an?âwî Jauharî al-Misrî, Ahmad Mus?ofâ Al-Marâghî dan Sa'îd Hawwâ) Sayyidah Fatimatuz Zahro; Ghozi Mubarok
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1631

Abstract

 Textual and contextual interpretation needs to be done, seeing the number of words in the Qur'an that need to be explained so as not to cause ambiguity (more than one meaning) one of which is about Sidrat Al- Muntaha which is believed by some Muslims to be the last place of togetherness of the Prophet Muhammad SAW with the Jibril AS in the Mi'raj event. According to modern and classical mufasir, Sidrat Al-Muntaha has slight differences in interpreting or defining it both linguistically and in terms, location, form and function. In this study, we will discuss the interpretation of the three modern mufasir, namely Tantawi  Jauhari Al-Misri, Ahmad Mustafa Al-Maraghi and Sa'id Hawwa in explaining how the concept of Sidrat Al-Muntaha as well as the differences and similarities of the three mufasir about Sidrat Al-Muntaha. The research method used is library research, then the focus of the discussion uses me. After conducting research, it can be concluded that the interpretation of the three mufasir about the concept of Sidrat Al-Muntaha has two categories including: First, about the source of interpretation used by all mufasir that prioritizes atsar over ra'yu. Second about the details of interpretation. The similarity of interpretation of the three mufasir above can be seen in terms of the presentation of interpretations, both taking the opinions of the mufasir, in explaining the concept of Sidrat Al-Muntaha they both connect it with the events of Mi'raj, the three mufasir do not give ijtihad in interpreting about Sidrat Al-Muntaha. Meanwhile, the difference is that when the three mufasir explain the concept of Sidrat Al-Muntaha both in terms of definitions in language and terms, in interpreting the meaning of the words Sidrah and Al-Muntaha, their location, form and function, the systematics of writing, when interpreting verses about the events of Mi'raj, the sources of passages from hadith and the mufasir, the difference in explaining the concept of Sidrat Al-Muntaha with certain scientific debates.
KEPUTUSAN CHILDFREE DALAM PERNIKAHAN PERSEPEKTIF AL-QUR'AN (Analisis Hermeneutik Ma'na Cum Maghza Surah An-Nahl Ayat 72) Masrufah -; Nafilah Sulfa
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1577

Abstract

Childfree saat ini menjadi salah satu topik yang cukup banyak diperbincangkan di berbagai kalangan. Fenomena childfree menarik banyak perhatian masyarakat, bahkan beberapa tokoh intelektual memberikan tanggapan mengenai hal tersebut, mulai dari sisi psikologis dan juga dari sisi agama, utamanya agama Islam, karena hal tersebut terkesan seakan menentang fitrah pernikahan, maka dari hal itu fenomena childfree ini menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan baik individu ataupun kelompok (agama, organisasi dan budaya). Berdasarkan hal tersebut, tujuan artikel ini adalah untuk menganalis QS. an-Nahl ayat 72 terkait dengan keputusan childfree dalam pernikahan. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an shahih likulli makan wa zaman untuk digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman dalam memecahkan suatu masalah, demi mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Ma’na Cum Maghza. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa,  ayat yang disuguhkan oleh penulis, yakni QS. An-Nahl bertolak belakang dengan tindakan childfree. Jika alasan Childfree dikarenakan faktor kesehatan (medis), seperti membahayakan terhadap nyawa ibunya, maka dalam hal ini childfree dapat dibenarkan, karena tidak bertentangan dengan tujuan pernikahan dan tidak termasuk pada pengingkaran nikmat Allah. Akan tetapi childfree yang tidak disertai dengan alasan-alasan syar’i maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.
KONSEP ISLAMIC SCIENCE DALAM PANDANGAN SEYYED HOSSEIN NASR Maghfirotul Hasanah
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1584

Abstract

AbstrakBarat dengan peradaban Modernnya dan Ilmu pengetahuannya telah terjangkit penyakit, merusak fitrah manusia, menghalangi ketenangan pikiran, dan memporak-porandakan nilai-nilai kemanusiaan dan hal ini tentu keluar dari fitrah ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmuwan Muslim Seyyed Hossein Nasr dengan spirit semangat Islam dan jagat intelektual dalam menyampaikan gagasannya terkait ilmu yang berada dalam lingkar Islam atau sains Islam mampu mengembalikan Islam ke kancah peradaban dunia dengan gerakan tradisionalisme Islam. Gerakan yang ditawarkannya merupakan ajakan untuk membawa kembali kepada akar tradisi yang benar dan sumber segalanya yakni dengan usahanya dalam memadukan dan mensinergikan sekularitas Barat dengan dimensi keilahian yang berakar pada wahyu agama agar nilai suci Islam dapat menjiwai ilmu yang dianggap berasal dari Barat lebih berkembang dibandingkan dunia Islam kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang mengungkap pemikiran dan konsep sains Islam menurut pandangan Seyyed Hossein Nasr sebagai salah satu ilmuwan Muslim yang agresif terhadap ilmu pengetahuan. Hasil dari penelitian ini, Seyyed Nasr mengungkap bahwa ilmu pengetahuan Barat Modern mengalami krisis spiritual dan terinfeksi penyakit oleh pemikiran modern yang sekuler, karenanya ilmu pengatahuan memerlukan suntikan atau infus dari nilai-nilai keislaman dengan dimensi keilahian yang berakar pada wahyu agama sehingga ilmu pengetahuan dapat seimbang antara duniawi dan ukhrawi, dan semua itu harus berasaskan pada satu kalimat La ilaha illa Allah.  
KONSEP INTEGRASI-INTERKONEKSI ILMU DALAM PENDIDIKAN ISLAM Astuti, Devi; Rahmawati, Sri; Ardimen, Ardimen
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1753

Abstract

Konsep integrasi-interkoneksi ilmu dalam pendidikan islam merupakan landasan teoritis yang penting dalam pengembangan pengetahuan modern. Konsep ini menyoroti hubungan yang kompleks antara berbagai cabang ilmu pengetahuan, mengarah pada pemahaman yang lebih dalam tentang struktur dan dinamika pengetahuan manusia. Dalam abstrak ini, kami mengeksplorasi konsep integrasi-interkoneksi filsafat ilmu dengan pendekatan analitis, historis, dan filosofis. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki implikasi konseptual dan praktis dari konsep ini dalam konteks pembangunan pengetahuan lintas disiplin. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berharga bagi pemahaman kita tentang sifat dasar pengetahuan manusia dan meningkatkan efektivitas penelitian lintas disiplin serta kolaborasi ilmiah.
FILSAFAT ETIKA PERSPEKTIF ABU HAMID AL-GHAZALI Nur Afifah; Iskandar Zulkarnaen
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1620

Abstract

Etika merupakan penyelidikan filsafat tentang kewajiban manusia serta tingkah laku manusia yang dilihat dari baik dan buruknya tingkah laku tersebut. Jadi suatu tindakan mempunyai nilai etis apabila dilakukan oleh manusia secara manusiawi. Sedangkan dalam pembahasan teori etika tidak hanya dilihat dari satu disiplin keilmuan, akan tetapi dari berbagai cabang disiplin ilmu keislaman, Banyaknya pemikiran filsafat yang beragam membuat pendapat atau telaah pemikiran yang berbeda, yang sesuai dengan latar belakang, pengalaman dan ketentuan individu. Maka dari itu penelitian ini hanya menjelaskan etika Islam menurut Imam al-Ghazali. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui etika dalam pandangan filsafat Islam serta mengetahui etika Islam menurut Imam al-Ghazali. Sedangkan metode penelitiannya menggunakan pendekatan kepustakaan (Library Research) dengan jenis penelitian kualitatif , dan deskriptif analisis.  Dalam Islam, etika diistilahkan sebagai akhlak yang dalam bahasa Arab al-akhlak (al-khuluq) artinya budi pekerti, tabiat atau watak. Adapun Imam al-Ghazali memusatkan perhatiannya tentang etika yang bercorak mistik. Maka peran rasio tidak lagi dibutuhkan karena rasio  hanya bersifat membantu saja, Imam al-Ghazali dan pengikutnya lebih menekankan peran syekh atau pembimbing moral. Alasan Imam al-Ghazali tidak menggunakan rasio disebabkan nilai-nilai etika secara rasional dapat dideduksi oleh rasio manusia yang akan menimbulkan relativitas nilai dan etika yang absolut.
ETIKA PERGAULAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM AL-QUR'AN (Analisis QS. An-Nûr ayat 31-32 Perspektif Penafsiran Hasbi Ash-Shiddiqie Dalam KitabTafsîr An-Nûr) Eka Sulistiyawati
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1600

Abstract

The relationship men and women has recently been widely discussed. Interaction between humans is very necessary because humans are essentially social creatures. However, there are ethics and rules when interacting with other people. In fact, there are many interactions between members of the opposite sex who forget the rules of the shariâ and even go beyond the boundaries of correct social interaction according to the teachings of the Koran. So there are many cases of free sex and womengetting pregnant out of wedlock due to illegal socializing and this a form of lack of ethics in socializing. This research aims to understand more deeply the ethics of male and female relationships by referring to one of the tafsir books, namely Tafsir al- Majid al-Qurân An-Nûr. The method used is a qualitative method white the type of library research. The result of this research are in accordance whit the interpretation of Ash-Shiddiqie QS. An-Nûr verses 30-31 explain the ethics for a woman to always maintain her views and honor when interacting with the opposite sex. What is meant by maintaining one's gaze is not diverting one's gaze to something that can arouse lust and not giving honor to men who are not one's mahram.
KONSEP ISLAMIC PARENTING QS. LUQMAN: 12-19 Fauzi Fathur Rosi; Zulfatul Wasilah
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1624

Abstract

Upaya pendidikan anak menjadi pribadi yang baik sesuai dengan agama diperlukan ilmu parenting yang tepat agar anak mempunyai jiwa keislaman. Guna mendapatkan hasil yang kredibel dari Islamic parenting, maka butuh penafsiran yang dapat diakui oleh ulama salaf dan khalaf. Di sini tafsir Al-Tabari dan tafsir Al-Munir terpilih menjadi tafsir fenomenal dan masyhur pada masanya. Untuk mengetahui konsep Islamic parenting dalam al-Qur’an, surah yang dipilih ialah QS. Luqman ayat 12-19. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library Research), analisis data menggunakan metode komparatif dengan suumber data primer yang digunakan adalah tafsir Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wil Ayi al-Qur’an dan al-Tafsir al-Munir dan sember data sekunder yaitu buku-buku yang berhubungan dengan objek kajian pembahasan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep Islamic Parenting yang dibangun Imam al-T{abari lebih banyak bertendensi pada varian pendapat ahli takwil dengan inferensial yang sederhana. Sedangkan Al-Zuhaili lebih kepada eksistensi ayat itu dan penekanan pada eksistensi kisah itu diceritakan. Adapun persamaannya terdapat pada inferensial dogma Islam, sedang perbedaannya pada analisis penafsiran keduanya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8