cover
Contact Name
Oktariani Pramiastuti
Contact Email
jurnalkunir@bhamada.ac.id
Phone
+6285640253017
Journal Mail Official
jurnalkunir@bhamada.ac.id
Editorial Address
Program Studi Farmasi Program Sarjana Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Bhamada Slawi Jl. Cut Nyak Dien No.16, Kalisapu, Kec. Slawi Kabupaten Tegal, Jawa Tengah
Location
Kab. tegal,
Jawa tengah
INDONESIA
Kunir: Jurnal Farmasi Indonesia (KJFI)
ISSN : -     EISSN : 3025907X     DOI : https://doi.org/10.36308/kjfi.v1i1
Core Subject : Health, Science,
Kunir: Jurnal Farmasi Indonesia (KJFI) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Farmasi Program Sarjana, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bhamada Slawi yang bekerja sama dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). KJFI diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juli dan November. KJFI menerima naskah tentang hasil penelitian laboratorium, lapangan, mini review, surat kepada editor, dan studi kasus yang berhubungan dengan bidang kefarmasian (Farmakoterapi, Farmasi Klinis, Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Analisis Farmasi, Biologi Farmasi, Mikrobiologi Farmasi, Manajemen Farmasi, Farmakoekonomi, Farmakologi, Farmasi Lingkungan, Fiotkimia, Biokimia, Kimia Farmasi, Kimia Bahan Alam, Sintesis Senyawa Obat, Pengobatan Herbal, Bioteknologi, Nanoteknologi). Naskah yang dimuat merupakan hasil seleksi dan disetujui oleh Dewan Redaksi dan belum pernah dimuat di jurnal lain.
Articles 3 Documents
Search results for , issue "vol 4 no 1 (2026): juli" : 3 Documents clear
Pengaruh Waktu Perebusan terhadap Penurunan Kadar Boraks pada Mi Basah Muhammad Fasekh Jamaludin Amin; Ery Nourika Alfiraza; Desi Sri Rejeki
KUNIR: JURNAL FARMASI INDONESIA Vol 4 No 1 (2026): JULI
Publisher : Program Studi Farmasi (S-1), Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bhamada Slawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/kjfi.v4i1.714

Abstract

Boraks merupakan zat kimia berbahaya yang seringkali ditambahkan dalam pembuatan mi basah. Larangan penggunaan boraks pada makanan diperkuat pada permenkes tahun 2012 bahwa asam borat mengklasifikasikan bahan tambahan pada pangan yang terlarang. Dampak yang timbul jika boraks dikonsumsi pada makanan yaitu dapat mengakibatkan diare, gangguan sistem saraf, gangguan ginjal, anemia, hingga dapat mengakibatkan kerusakan pada hati dan juga otak. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui penurunan kadar boraks terhadap variasi lama waktu perebusan mi basah. Metode yang digunakan yaitu uji kertas tumerik, uji nyala api dan uji spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif mi basah yang mengandung kadar boraks 6% pada uji kertas tumerik menghasilkan warna coklat kemerahan pada setiap variasi perebusan yang berarti positif mengandung boraks dan hasil uji nyala api menghasilkan warna nyala api hijau pada setiap variasi perebusan yang berarti positif mengandung boraks. Panjang gelombang yang didapat adalah 543nm. Pada hasil turbulensi baku seri didapat nilai R2 sebesar 0,9955. Hasil pada penelitian ini menunjukkan variasi perebusan dapat menurunkan kadar boraks pada mi basah pada menit 0 ke 2 menit sebesar 15,13%, menit 0 ke 4 menit sebesar 31,57%, dan menit 0 ke 6 menit sebesar 46,87%.
Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan pada Terapi Anti-Tuberkulosis Pediatrik Jenis dan Faktor Risiko Fika Rizqiyana; Amanda Fadilla Putri Narani; Rifqi Ferry Balfas
KUNIR: JURNAL FARMASI INDONESIA Vol 4 No 1 (2026): JULI
Publisher : Program Studi Farmasi (S-1), Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bhamada Slawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/kjfi.v4i1.945

Abstract

Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (Adverse Drug Reactions/ADR) adalah respons negatif tubuh yang berbahaya atau tidak diharapkan terhadap obat. Pasien pediatri, dengan fungsi fisiologis yang belum matang, lebih rentan terhadap ADR sehingga memerlukan pemantauan ketat untuk menjamin keamanan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis, prevalensi, dan faktor yang berkontribusi terhadap ADR akibat penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada anak di RSUD dr. Soesilo. Penelitian menggunakan desain deskriptif cross-sectional dengan analisis 113 rekam medis (Januari–Desember 2024), di mana 42 memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan SPSS dengan uji Chi-Square (α=0,05). Sampel terdiri dari 19 laki-laki (45%) dan 23 perempuan (55%), dengan mayoritas usia 1–5 tahun (55%). Pasien mengalami berbagai jenis ADR: penurunan nafsu makan (25%), gejala seperti flu (21%), demam (16%), muntah (9%), mual (4%), pruritus/ruam (3%), dan sebagian tidak mengalami ADR. Faktor yang signifikan adalah usia (ρ=0,047) dan lama pengobatan (ρ=0,018), sedangkan jenis OAT tidak signifikan. Disimpulkan bahwa ADR bervariasi, dengan penurunan nafsu makan paling sering, serta usia dan lama terapi berpengaruh signifikan terhadap kejadian ADR pada pasien anak TB.
Uji Aktivitas Antiinflamasi Krim Ekstrak Daun Teh-Tehan (Acalypha siamensis) pada Mencit Putih Jantan dengan Metode Granuloma Pouch Sabrina Nur Azizah; Girly Risma Firsty; Rima Harsa Atqiya Alquraisi
KUNIR: JURNAL FARMASI INDONESIA Vol 4 No 1 (2026): JULI
Publisher : Program Studi Farmasi (S-1), Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bhamada Slawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/kjfi.v4i1.1053

Abstract

Inflamasi merupakan suatu proses peradangan yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada tubuh sehingga diperlukan sediaan topikal yang efektif. Daun teh-tehan (Acalypha siamensis) berpotensi sebagai bahan alami antiinflamasi karena mengandung senyawa flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan mutu fisik sediaan krim ekstrak etanol daun teh-tehan serta konsentrasi yang paling efektif dalam menekan inflamasi pada mencit putih jantan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan menggunakan empat formula sediaan krim dengan variasi konsentrasi ekstrak daun teh-tehan yaitu F0 (0%), FI (5%), FII (10%), dan FIII (20%). Sediaan diuji mutu fisik meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, dan viskositas, serta uji aktivitas antiinflamasi melalui metode granuloma pouch yang diinduksi karagenan 2% selama 4 hari. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan topikal dan stabil selama penyimpanan. Hasil uji antiinflamasi menunjukkan adanya respon bergantung dosis (dose-dependent response), di mana konsentrasi 20% (FIII) memberikan efektivitas penurunan diameter radang dan volume eksudat yang paling baik di antara seluruh kelompok uji, serta tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif (p > 0,05). Ekstrak daun teh-tehan dapat diformulasikan menjadi sediaan krim yang memenuhi persyaratan mutu fisik, dengan konsentrasi 20% (FIII) sebagai konsentrasi yang paling optimal dalam memberikan aktivitas antiinflamasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 3