cover
Contact Name
Mika Rizki Puspaningrum
Contact Email
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Phone
+6281246804772
Journal Mail Official
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Editorial Address
Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Geology
ISSN : 25800752     EISSN : 25800752     DOI : 10.5614/bull.geol.
Bulletin of Geology is a research-based periodical scientific open access journal published by Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB). The published article in Bulletin of Geology covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Geodesy, Meteorology, Oceanography, Petroleum, Mining, and Geography. The submitted abstract must be written in English and Bahasa Indonesia, but the article content is English or Bahasa Indonesia.
Articles 112 Documents
OPTIMALISASI DAN VALUASI BIJIH NIKEL LIMONIT UNTUK SUPLAI KE PABRIK HPAL DI DAERAH KOLAKA, SULAWESI TENGGARA Roskha, Zulfahmi
Bulletin of Geology Vol 8 No 3 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 3
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.3.5

Abstract

Kegiatan pertambangan nikel laterit di Indonesia saat ini mayoritas hanya menjual bijih saprolit. Bijih limonit yang ikut tertambang sering masih dianggap sebagai waste dan tidak dijual secara ekonomis. Optimalisasi bijih limonit saat ini sudah bisa dimanfaatkan, salah satunya untuk suplai ke pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) yang mampu mengekstrak nikel dan kobalt yang digunakan pada komponen kendaraan listrik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimalisasi bijih limonit dan melihat dampaknya terhadap valuasi projek tambang di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Discounted Cash Flow (DCF) yaitu menentukan nilai suatu aset, proyek, atau perusahaan dengan mendiskontokan arus kas masa depan yang ke nilai saat ini dan Metode Analisis Sensitivitas (MAS) yaitu menguji variabel-variabel yang paling berpengaruh pada kelayakan projek pertambangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari Long Term Mine Plan di Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Kolaka, termasuk asumsi-asumsi keekonomian seperti tingkat inflasi, proyeksi harga nikel, nilai tukar rupiah, struktur pendanaan, pajak dan royalti. Hasil optimalisasi bijih limonit tertambang yang dapat dimanfaatkan secara ekonomis ke Pabrik HPAL adalah sebesar 8.695.118 wmt dengan kadar Ni rata-rata 1,19%. Penambangan dan penjualan dilakukan dari tahun 2027 hingga tahun 2030. Total pendapatan dari optimalisasi bijih limonit adalah sebesar USD 168,54 juta (di luar pendapatan saat ini) atau naik sebesar 14% dari total pendapatan bisnis saat ini, diikuti dengan kenaikan biaya produksi sebesar 17%. Berdasarkan model kelayakan yang telah dihitung, hasil optimalisasi material limonit terbukti memberikan dampak yang positif pada kelayakan projek. Hal ini dapat dilihat pada kenaikan Net Present Value (NPV) menjadi USD 98.33 juta atau naik 14% dari NPV sebelumnya dengan pay back period 1 tahun. Kata kunci: Limonit, Pabrik HPAL, Discounted Cash Flow, Net Present Value, Kolaka
Pengaruh Presipitasi dan Laju Infiltrasi Tanah Terhadap Interaksi Air Tanah - Air Permukaan pada DAS Cikapundung Tambunan, Ricky Nelson
Bulletin of Geology Vol 8 No 3 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 3
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.3.4

Abstract

Sungai Cikapundung sebagai salah satu sungai yang melewati Kota Bandung berperan penting bagi Kota Bandung dan daerah sekitarnya. Air permukaan dan air tanah dimaanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Perubahan zona transisi interaksi air tanah dan air permukaan (efluen-influen) pada DAS Cikapundung perlu diketahui, salah satunya sebagai bahan pertimbangan dalam pengendalian banjir di beberapa tempat di kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan zona transisi efluen dan influen yang disebabkan oleh perubahan kondisi cuaca (dalam hal ini periode pendek basah/kering) dan perubahan tata guna lahan (dalam hal ini perubahan laju infiltrasi permukaan). Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran muka air tanah (fokus: akuifer bebas/dangkal) pada periode kering pendek (akhir 2023) dan periode basah (awal 2024) di mana hasilnya adalah peta kontur muka air tanah serta penetapan lokasi zona transisi efluen-influen untuk setiap periode. Pengukuran laju infltrasi di permukaan dengan ukuran grid 3,7 km x 2,5 km menghasilkan peta laju infiltrasi permukaan. Laju infiltrasi ini dibandingkan dengan perubahan penggunaan lahan DAS Cikapundung dari 2015 terhadap 2022. Hasil pengolahan data menunjukkan periode kering zona transisi efluen-influen bergerak ke arah hulu sejauh ± 1,7 km (jarak datar) dibandingkan penelitian pada 2013. Sedangkan pada periode pendek basah 2024 zona transisi ini berpindah kembali ke arah hilir sejauh ± 1,2 km (jarak datar) dibandingkan pada periode pendek kering akhir 2023. Berdasarkan hasil ini, faktor meteorologis memiliki pengaruh lebih besar tapi cenderung bersifat sementara terhadap perubahan zona transisi efluen-influen sedangkan perubahan penggunaan lahan (penyebab perubahan laju infiltrasi) memiliki pengaruh lebih kecil dibandingkan perubahan cuaca tapi cenderung bersifat tetap. Kata kunci: Cikapundung, efluen, influen, infiltrasi, perubahan tata guna lahan, perubahan cuaca.
PERBANDINGAN VISUAL DAN KUANTITATIF TERHADAP PEMETAAN MINERAL PADA CITRA LANDSAT 8 DENGAN METODE PENAJAMAN GRAM SCHMIDT. Sakina, Bella Wijdani
Bulletin of Geology Vol 8 No 3 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 3
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.3.3

Abstract

Pemetaan mineral menggunakan citra penginderaan jauh telah menjadi teknik yang sangat berguna dalam mendukung eksplorasi sumber daya mineral, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan akurasi pemetaan mineral antara citra multispektral Landsat 8 OLI/TIRS sebelum dan setelah pan-sharpening menggunakan metode Gram-Schmidt (GS). Metode GS dipilih karena kemampuannya untuk meningkatkan resolusi spasial tanpa mengurangi integritas spektral, yang esensial untuk identifikasi mineral secara tepat. Data yang digunakan mencakup citra Landsat 8 OLI/TIRS dan hasil pembacaan spektral dari 186 sampel inti batuan menggunakan ASD TerraSpec. Data spektral ini kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak The Spectral Geologist (TSG) untuk mengidentifikasi mineral utama berdasarkan referensi spektral mineralnya. Metode GSdiaplikasikan untuk menggabungkan citra multispektral dengan resolusi rendah (30 meter) dan citra pankromatik dengan resolusi tinggi (15 meter). Proses penajaman ini memungkinkan peningkatan detail spasial sehingga lebih baik dalam memetakan distribusi mineral di lapangan. Analisis visual dan statistik digunakan untuk mengevaluasi keakuratan hasil pemetaan mineral. Hasil analisis berdasarkan perbandingan luasan wilayah menunjukkan bahwa deviasi antara luasan pada blok model dengan citra sebelum penajaman adalah 156,28 atau perbedaannya sekitar 392% lebih tinggi dari luasan aslinya, sedangkan deviasi dengan citra setelah penajaman GS adalah 16,8 atau perbedaannya sekitar 42% lebih rendah dari luasan aslinya. Hasil analisis berdasarkan kondisi lapangan menunjukkan bahwa distribusi mineral Saponit pada citra setelah penajaman lebih rinci dan konsisten dengan kondisi geologi lapangan, serta mengurangi kesalahan deteksi di area yang tidak relevan seperti pemukiman. Selain itu, peningkatan keterdapatan mineral Saponit di area tambang terbuka menunjukkan bahwa metode penajaman GS memberikan informasi yang lebih akurat dan relevan. Metode penajaman GS terbukti memberikan hasil yang lebih akurat untuk pemetaan mineral dibandingkan citra yang belum dilakukan penajaman. Peningkatan resolusi spasial menunjang identifikasi distribusi mineral yang lebih spesifik dan kegiatan eksplorasi yang lebih efisien. Kata kunci: penginderaan jauh, penajaman citra multispektral, pan-sharpening, metode Gram-Schmidt, mineral saponit, Tambang Nikel Kolaka
KARAKTERISTIK MINERALISASI ENDAPAN EMAS DAERAH TATELU, MINAHASA UTARA Rahmalia, Trifatama
Bulletin of Geology Vol 8 No 3 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 3
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.3.2

Abstract

Daerah Tatelu, Minahasa Utara terletak di busur magmatik Sulawesi Utara yang berpotensi memiliki lingkungan yang ideal untuk terbentuknya endapan mineral. Endapan emas merupakan salah satu prospek utama di daerah ini, namun karakteristik mineralisasinya masih belum dipahami dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi yang mengontrol mineralisasi pirit, kalkopirit, dan magnetit pada urat kuarsa, karakteristik mineralogi dan geokimia batuan yang berperan dalam proses mineralisasi. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis petrografi untuk mengetahui jenis litologi secara mikroskopis dan mengidentifikasi kehadiran mineral alterasi, analisis mineragrafi untuk mengetahui jenis mineral bijih, analisis geokimia bijih untuk mengetahui kadar dan hubungan antar unsur. Analisa petrografi menunjukkan bahwa litologi tersusun oleh tiga litologi utama yaitu tuff, andesit, dan breksi. Tekstur utama urat kuarsa masif kalsedonik, crustiform,colloform, dan saccharoidal. Identifikasi dan karakterisasi mineral bijih menunjukkan kehadiran magnetit, hematit, kalkopirit, dan pirit. Pada urat kuarsa tidak dijumpai butiran emas. Nilai unsur logam dasar (base metal) cukup kecil, yaitu 1-20 ppm tembaga (Cu), 3-51 ppm galena (Pb), 4–101 ppm seng (Zn). Selain kandungan unsur logam dasar tersebut, kehadiran logam mulia emas (Au) dengan nilai yang bervariasi 1-35,50 ppm dan perak (Ag) 1-13 ppm. Kadar Au akan cenderung memiliki pola atau tren meningkat seiring atau paralel dengan peningkatan nilai kadar pada unsur Ag. Berdasarkan karakterisasi yang dilakukan mengenai karakter fisik, urat kuarsa, mineralogi, dan geokimia batuan, maka dapat disimpulkan bahwa potensi mineralisasi bijih di daerah penelitian berasal dari sistem tipe endapan epitermal sulfidasi rendah. Kata kunci: alterasi, epitermal, analisis mineragrafi, geokimia, sulfidasi rendah, Lengan Magmatik Utara Sulawesi
PENGARUH DERAJAT PELAPUKAN BATUAN TERHADAP NILAI PANTULAN PALU SCHMIDT DAN KUAT TEKAN UNIAKSIAL PADA BATUAN Muhadi, Ulfi
Bulletin of Geology Vol 8 No 3 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 3
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.3.1

Abstract

Pelapukan batuan merupakan sebuah perubahan pada batuan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh faktor fisik, kimia dan biologis. Hasil pelapukan ini dapat merubah kekuatan batuan >50% dari kekuatan asalnya, dan pelapukan batuan pada tingkat tertinggi dapat merubah batuan menjadi tanah. Penelitian dilaksanakan di Bendungan Bawah Cisokan dan dilakukan pada tepi jalan akses dengan total 12 area observasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan Palu Schmidt pada masing-masing stasiun pengamatan dengan total 60 data. Litologi yang terdapat di stasiun pengamatan adalah breksi. Data dianalisis dengan menggunakan pengolahan aritmatika dan data diolah dalam bentuk grafis untuk menunjukkan perubahan pola grafik. Penelitian ini membahas tentang faktor yang dapat mempengaruhi perubahan nilai pantulan Palu Schmidt/Schmidt Hammer Rebound Value (SHV) dan kuat tekan uniaksial/Uniaxial Compressive Strength (UCS) berdasarkan perbedaan tingkat pelapukan batuan. Tingkat pelapukan batuan dibagi menjadi 4 tingkat yaitu segar (I), lapuk ringan (II), lapuk sedang (III), dan lapuk kuat (IV). Observasi lapangan menunjukkan tingkat pelapukan memiliki perubahan pada warna, vegetasi, warna material pengisi, UCS dan SHV. Nilai UCS pada pelapukan I-II mengalami penurunan hingga 45%, pada pelapukan II-III mengalami perubahan sebanyak 18%, dan pada tingkat pelapukan III-IV menunjukkan perubahan mencapai 34% dari UCS. Kata kunci: Cisokan, Pelapukan, Pantulan Palu Schmidt, UCS, Breksi.
KARAKTERISTIK PENGAYAAN LOGAM SKANDIUM (Sc) PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, PROVINSI SULAWESI TENGGARA Setiawan, Erwin; Rizal, Yan; Wildani, Mayang Putri
Bulletin of Geology Vol 8 No 2 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 2
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.2.5

Abstract

Pada saat proses pembentukan endapan nikel laterit ternyata tidak hanya logam nikel saja yang mengalami pengayaan, tetapi terdapat logam lain yang bernilai ekonomis mengalami pengayaan salah satunya adalah logam skandium (Sc). Lokasi penelitian berada di IUP OP UBPN Kolaka, PT Antam Tbk, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara disusun oleh dominan batuan ultramafik yang merupakan batuan pembawa logam skandium (Sc). Metode penelitian yang dilakukan yaitu pemetaan geologi, pengeboran sebanyak 52 titik dan percontohan sampel bor sebanyak 1253 sampel. Evaluasi pengayaan skandium menggunakan data sampel inti bor yang kemudian dilakukan analisis geokimia dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) untuk mengetahui kadar major element dan Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectometry (ICP-OES) untuk mengetahui kadar skandium. Petrografi sampel inti bor sebanyak 20 sampel sedangkan untuk mengetahui presentase mineral penyusun dilakukan analisis X-Ray Diffraction (XRD) sebanyak 230 sampel atau 5 titik bor. Daerah penelitian dibagi menjadi tiga prospek yaitu Prospek Blok Utara, Prospek Blok Tengah dan Prospek Blok Maniang. Pada daerah penelitian, skandium mengalami pengayaan pada zona limonit yang berkorelasi dengan senyawa Fe2O3, Al2O3 dan Cr2O3 serta mineral goetit dan hematit. Zona limonit dibagi menjadi dua karakteristik yaitu zona red limonite dan yellow limonite, secara umum ketika memasuki zona yellow limonite kadar skandium akan naik seiring dengan peningkatan kehadiran mineral goetit. Kadar geokimia skandium pada zona limonit area Pomalaa berkisar 60 ppm - 127 ppm. Faktor lain yang menyebabkan logam skandium naik secara signifikan adalah batuan dasar pembawanya. Pada daerah penelitian logam skandium cenderung lebih tinggi kadarnya jika berkorelasi dengan batuan harsburgit dan serpentinit yang mengandung lebih dominan piroksen dibandingkan dengan litologi dunit yang dominan disusun oleh mineral olivin. Kata kunci : nikel, laterit, skandium, limonit, pengayaan, piroksen
TUNGSTEN-BEARING MINERAL OCCURRENCES OF BATUBESI TIN SKARN DEPOSITS Sugiharto, Mochamad Slamet
Bulletin of Geology Vol 8 No 2 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 2
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.2.4

Abstract

Batubesi tin skarn deposit is a part of Southeast Asian Tin Belt which is the world class resources of primary tin deposit, and is related in time and space to ilmenite series granitic intrusion. It has been known that Batubesi tin skarn deposit was categorized as Fe-Sn skarn deposit and cassiterite was still the main ore mineral. However, there is no previous study mentioned other potential economic mineral instead of Fe and Sn-bearing minerals. Tikus greisen deposit in Belitung Island is known as one of tin deposit containing tungsten (W). The aim of this study is to determine the presence of tungsten (W) in the Batubesi tin skarn deposit and its tungsten-bearing mineral. X-Ray Fluorescence (XRF) analysisboth portable and laboratory, X-Ray Diffraction (XRD), and Scanning Electron Microscope (SEM/EDS) analysis have been carried out on the current drillhole data to identify tungsten occurrences. Based on XRF analysis, there was anomaly of tungsten but the distribution of tungsten-bearing mineral is found only in certain part and not correlated as the whole with Sn bearing skarn body. It is confirmed from the SEM/EDS elemental mapping. The result of XRD analysis indicated that tungsten-bearing minerals in the Batubesi tin skarn deposit found as scheelite and the composition is more dominant compare to wolframite. Key words: Batubesi, skarn, tin, tungsten, ore
The use of litho-geochemistry in the determination of rock alteration of Onto deposit drill core Perdana, Galih Lutfihadi; Wibowo, Nurhadi; Pratiwinda, Rachmat
Bulletin of Geology Vol 8 No 2 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 2
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.2.3

Abstract

The alteration description method from drilling core samples in the Onto Cu-Au deposit uses SWIR spectroscopy with certain core sample interval (0.5-1m) using an ASD (Analytical Spectral Device) tool at work site, however when SWIR spectroscopy data is sometimes not available or cannot be used due to the difficulty in determining the boundaries of its alteration zones. Thus, in those case, the rock chemical analysis can be used as complement and reinforcement data in consideration of determining the boundaries of alteration zones. The research was specifically undertaken involving 5 drilling holes which are considered to represent the entire Onto Cu-Au deposit located on Sumbawa Island, West Nusa Tenggara Province, Dompu and Bima Regencies. Litho-geochemistry for drill core is a crucial activity in completing drill core logging and defining final intervals for rock alteration before moving on to the geological modeling phase. The current research method is utilizing the various elements are assessed in terms of their effectiveness for determining or clarifying rock and alteration types, beginning with the most utilized elements, and concluding with ones that are of little use or should be mostly ignored.The alteration of drill hole samples was assessed by combining various geochemical element signatures, including TiO2, Al2O3, FeO, NaO2, CaO, K2O, Pb, Zr, Sr, S, Cu, and Au. Al2O3 values can be used to assess intensity in advanced argillic alteration, on scale of 0 to 17 %, values >10 % indicate mild leaching, 5-10 % moderate and <5 % intense leaching with associated development of vuggy residual quartz. Element CaO, MgO and Na2O value increase drastically from <0.05% to > 5% indicates at the edge of advance argillic alteration (7b) to Potassic or chloritic-phyllic alteration (12 & 8a).At Onto drill core the litho-geochemistry has limitation to distinguish the vuggy residual quartz porous and silicified alteration (4 & 5), it will rely on the visual logging conducted and assessed by field geologist on site. In other case to distinguish between K-Alunite and Na-alunite alteration (6a & 6b) requires a spectral reflection SWIR spectroscopy of its core sample, with this limitation is also applied for Quartz pyrophyllite and Quartz-diaspore alteration (7a & 7b). The determination of rock alteration is playing a significant part in the construction of the Onto geology model for further use in mineral resource classification and estimate; in some extent, the alteration is being used for metallurgy domaining and geotechnical rock characteristic investigation for future underground mining design. Key words: Litho-geochemistry, Onto deposit, Rock alteration core logging
LIQUEFACTION ANALYSIS ON THE RUNWAY AND PARALLEL TAXIWAY AT SENTANI JAYAPURA AIRPORT Widodo, Bambang
Bulletin of Geology Vol 8 No 2 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 2
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.2.2

Abstract

Infrastructure development with a relatively large project value and functioning buildings is very important, so planning needs to be reviewed from various aspects. One very important aspect is the geotechnical aspect. Part of the geotechnical aspect is safety against liquefaction hazards. Liquefaction is a natural event that depends on the location of the building around the earthquake zone, the topography around the building, and the type of soil layer that supports the building. A liquefaction hazard analysis was conducted to determine the cost of repairing the subgrade supporting the runway and parallel taxiway structures in the detailed engineering design work to meet airport-side facility standards at Sentani Jayapura Airport. The methodology used was to conduct a soil test at the research location with a machine drill of 22 points (21 points at a depth of 15 meters and 1 point at a depth of 30 m), and a Sonder test (CPT) at 19 points at the research location. The next stage is plotting the location on the earthquake zone map, topographical observations, and information on the geological conditions around the study site. Liquefaction analysis uses several references. The results of the study show that liquefaction relatively does not occur at locations that are built parallel and taxiways, so there is no need for subgrade improvement costs. Keyword: liquefaction hazard analysis, earthquake engineering, airport infrastructure, soil analysis
THE GEOCHEMICAL SIGNATURE OF THE ELANG PORPHYRY CU-AU DEPOSIT SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT, INDONESIA Bastian, Arief; Basuki, Nurcahyo Indro; R, Yan Rizal
Bulletin of Geology Vol 8 No 2 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 2
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.2.1

Abstract

The demand for copper and gold has increased significantly, but finding new exposed porphyry deposits has become more challenging. Elang porphyry Cu-Au deposit is one of few world class deposits, discovered in the last 30 years, located in Sumbawa Island, Indonesia. This study aimsto understand the correlation between geochemical elements in porphyry mineralization using soil and core sample data. The research methods include collecting soil and core samples, conducting geochemical analysis, and processing and interpreting the data. The research results show that The Cu-Au mineralization at Elang is mainly within and around multiple tonalite intrusions where intense of early quartz-sulphide and potassic alteration dominates, constrained by the extent of advanced argillic alteration.Tonalite is distinguished based on cross-cutting relationships, texture, and the crystal shape of quartz eye that is present as a phenocryst. The crystalline shapes are closely aligned with the copper and gold mineralization. Variations in the styles of geology and mineralization contribute to differing geochemical expressions of the porphyry deposits. Geochemical data, especially from soil samples, emerges as a valuable method for identifying signatures within porphyry mineralization deposits. The copper,zinc, lead, and molybdenum clearly point to the central of the porphyry system, while broad zones of high gold anomalies are associated with epithermal high-sulfidation systems. Analysis of core samples reveals that the Cu/Au ratio exhibits a distinct vertical zonation pattern throughout the porphyry body. Understanding the geology and geochemical characteristics of the Elang deposit provides valuable insights for exploration strategies aimed at discovering similar deposits elsewhere. Key words: porphyry Cu-Au, geochemical soil anomaly, Elang deposits

Page 11 of 12 | Total Record : 112