cover
Contact Name
Mika Rizki Puspaningrum
Contact Email
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Phone
+6281246804772
Journal Mail Official
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Editorial Address
Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Geology
ISSN : 25800752     EISSN : 25800752     DOI : 10.5614/bull.geol.
Bulletin of Geology is a research-based periodical scientific open access journal published by Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB). The published article in Bulletin of Geology covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Geodesy, Meteorology, Oceanography, Petroleum, Mining, and Geography. The submitted abstract must be written in English and Bahasa Indonesia, but the article content is English or Bahasa Indonesia.
Articles 112 Documents
EFEK DERAJAT PELAPUKAN BATULEMPUNG FORMASI BOBONARO TERHADAP KESTABILAN LERENG PADA RENCANA LOKASI OBSERVATORIUM NASIONAL TIMAU DI KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR Setiawan, Arie; Sadisun, Imam Achmad; Sani, Rifki Asrul
Bulletin of Geology Vol 7 No 2 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.2.3

Abstract

Durabilitas dan stabilitas batulempung menjadi hal yang cukup menyita perhatian dalam kegiatan rekayasa akhir-akhir ini. Perubahan kondisi batulempung saat muncul ke permukaan, terutama pada wilayah yang direncanakan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur memerlukan kajian geologi teknik dan geoteknik yang tepat. Pembangunan Observatorium Nasional Timau di Kabupaten Kupang yang berdiri di atas lapisan batuan sedimen berupa batulempung Formasi Bobonaro berumur Miosen, memerlukan analisis yang tepat dalam hal karakterisasi keteknikan dan durabilitas batulempung untuk menunjang aspek teknis kegiatan rekayasa di sekitar area tersebut. Penelitian ini berfokus pada sifat keteknikan, derajat pelapukan dan kestabilan lereng pada batulempung Formasi Bobonaro. Parameter dasar dalam analisis kestabilan lereng yang terdiri dari berat isi, kohesi, dan sudut geser dalam mengalami penurunan nilai seiring dengan meningkatnya derajat pelapukan. Analisis kestabilan lereng didasarkan pada asumsi bahwa lereng terdiri dari material yang tidak homogen yaitu dengan nilai sifat keteknikan bervariasi terhadap derajat pelapukan dan material homogen, yaitu dengan nilai sifat keteknikan batulempung derajat pelapukan V. Dalam analisis kestabilanlereng juga mempertimbangkan aspek beban gempa dengan nilai PGA yang berbeda sebagai bahan perbandingan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa batulempung Formasi Bobonaro ini rentan terhadap proses pelapukan dengan nilai indeks slake durability rendah – sangat rendah dan aktivitas atau potensi mengembang rendah - sedang. Analisis kestabilan lereng memperlihatkan perbedaan nilai faktor keamanan yang drastis antara lereng yang terdiri dari material variasi derajat pelapukan dan lereng yang terdiri dari material homogen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin berkembang derajat pelapukan pada batulempung, maka kekuatan geser akan menurun, sehingga stabilitas lereng juga menurun, tercermin pada nilai faktor keamanan yang semakin rendah Kata kunci: batulempung, Formasi Bobonaro, derajat pelapukan, sifat keteknikan, kuat geser, kestabilan lere
ANALISIS STRATIGRAFI SIKUEN INTERVAL PLIOSEN PADA LAPANGAN BUNYU TAPA, KALIMANTAN UTARA Hari Fernandes; Djuhaeni Djuhaeni
Bulletin of Geology Vol 2 No 1 (2018): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2018.2.1.4

Abstract

Lapangan Bunyu Tapa merupakan salah satu lapangan yang aktif menghasilkan hidrokarbon pada Pulau Bunyu, Kalimantan Utara. Salah satu interval yang produktif menghasilkan hidrokarbon di Lapangan Bunyu Tapa adalah interval Pliosen yang setara dengan Formasi Tarakan. Belum adanya analisis stratigrafi sikuen serta analisis distribusi reservoir dari interval Pliosen di Lapangan Bunyu Tapa menjadi latar belakang dari penelitian ini.Hasil analisis dan interpretasi menggunakan konsep stratigrafi sikuen menunjukan bahwa interval Pliosen di Lapangan Bunyu Tapa dapat dibagi menjadi lima paket sikuen. Secara umum batas sikuen pada Sikuen 1–3 menunjukan perubahan fasies secara drastis dari lower delta plain menjadi marsh. Sedangkan batas sikuen pada Sikuen 4-5 dicirikan dengan perubahan fasies secara drastis dari tidal sand flat menjadi marsh yang diikuti dengan fluvial channel.Distribusi reservoir UT-6 (Sikuen-5) menunjukan lingkungan pengendapan upper delta plain sedangkan distribusi reservoir LT-3 (Sikuen-3) menunjukan lingkungan pengendapan lower delta plain. Perubahan fasies secara vertikal dan lateral yang drastis atau secara tiba-tiba menyebabkan reservoir pada Lapangan Bunyu Tapa tidak terdistribusi dengan baik atau bersifat isolated.
Kajian paleontologi Bovidae dari Formasi Bapang Daerah Sangiran berdasarkan morfologi, biometri, dan morfometri gigi molar Fathoni, M, Rais
Bulletin of Geology Vol 5 No 4 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.4.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untukpemerian taksonomi fosilBovidae dari Formasi Bapangdi Kubah Sangiranberdasarkan pengamatan morfologi, biometri, dan morfometri gigi molar (geraham) bawah. Dalam analisis ini digunakan 20 spesimen fosil gigi molar. Berdasarkan pengamatan biometrimolar bawah, Bibos palaesondaicus memiliki nilai lingual-buccal (LB), lebar anterior (AW), dan lebar posterior (PW) paling besar, kemudian secara berurutan diikuti molar Bubalus palaeo kerabau dan Duboisia santeng. Pengamatan morfometri menunjukkan transformasi titik landmark yang berpengaruh terhadap pengelompokan spesimen berdasarkan kemiripan anatominya. Wireframe menunjukkan metastylid dan entostylid milik B. Palaeokerabau lebih panjang atau melebar daripada B. palaesondaicus. Sebaliknya, metaconid rib, entoconid rib, protoconid, dan hypoconid pada B. Palaesondaicus justru lebih panjang daripada B. palaeokerabau. Melalui wireframed terlihat bagian antomi hypoconulid pada M3B. palaeokerabau lebih ramping daripada B. palaesondaicus. Berdasarkan hasil pengamatan morfologi, biometri, dan morfometri molarbawah, Bovidae dalam Formasi Bapang dapat diklasifikasikan menjadi 3 taksa berdasarkan kemiripan anatominya, yaitu B.palaeokerabau, B.palaesondaicus, dan D.santeng. Bapang Bawah didominasi konglomerat, terdapat fauna B. Palaeokerabau dan B. palaesondaicus. Bapang Tengah dan Bapang Atas didominasi batupasir. Kumpulan Bovidae Bapang Tengah terdiri dari B. palaeokerabau, B. palaesondaicus, dan D. santeng, sedangkan Bapang Atas hanya dijumpai fauna B. Palaeokerabau dan B. palaesondaicus saja. Berdasarkan karakter litologinya, Bapang Bawah diendapkan di lingkungan sungai bermeander, sedangkan Bapang Tengah dan Bapang Atas diendapkan di lingkungan sungai teranyam. Kehadiran B. Palaeokerabau dan B. Palaesondaicus mencerminkan lingkungan padang rumput, sedangkan D. Santeng mengindikasikan keberadaan kanopi (hutan) tertutup. Kata kunci: morfologi biometri morfometri, molar Bovidae, Fm. Bapang, Sangiran
BATUPASIR “BULUKUNING” PADA LEMPUNG BERSISIK DI DAERAH BANJARNEGARA, JAWA TENGAH ; STUDI PETROLOGI, PROVENAN DAN IMPLIKASI TEKTONIK Harsolumakso, Agus Handoyo; Puswanto, Eko; Sucipta, IGB Eddy
Bulletin of Geology Vol 3 No 2 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.1

Abstract

Sandstone unit in the Bulukuning area, Banjarnegara known and even once proposed as the Bulukuning Formation were formerly referred to as the greywacke sandstones as part of the Luk Ulo Melange Complex which is believed as Early Cretaceous-Paleocene in age. The sandstones are lightly metamorphosed and observed in many places to be inclunded in the exotic blocks within the scaly clay which is generally considered as matrix of melange. This study examines the details of lithological characteristics, their provenances and tectonic implications. Undeformed sequences of the Bulukuning Sandstones represented by well bedded sandstones and siltstones. Determinations of fossil species and association of these sandstones yield Paleo-Nummulites and nanno fossil matrices which strongly suggest Middle-Late Eocene (NP15-16). The highly deformed sequence of Bulukuning Sandstones often show block in matrix characters while others develop more boudinage structures as a result of rigid deformation. Analysis of the scaly clay matrix using the illite crystallinity (IC) value suggested that the deformation controlled the formation of scaly clay and boudinage structures occurred at temperatures around 205.916o - 223.014oC (± 30°). The provenance study of the sandstones confirms that these are resulted from recycled orogens related to the Micro-Continent collision of East Java with the southeast margin of the Sundaland during the Late Eocene-Early Oligocene period. The collision was subsequently followed by the exhumation of Karangsambung accretion complex, previously formed volcanic rocks and several Sundanese land blocks.
The Evaluation of Prefabricated Vertical Drain as the increasing of Consolidation Process in Residual Soil of Talanggulo Sanitary Landfill, Jambi Zelandi, Muhammad
Bulletin of Geology Vol 6 No 2 (2022): Bulletin of Geology Special Issue: International Seminar on Earth Sciences and Te
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.2.9

Abstract

Proses konsolidasi pada lapisan tanah residu yang belum terkonsolidasi primer dengan baik (tekanan pori 1 kN/m2) dapat meningkatkan potensi terjadinya penurunan tanah. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan percepatan proses konsolidasi primer lapisan sedimen, sehingga tanah dapat menahan beban yang ada di atasnya. Lahan urug saniter di Talanggulo, Jambi, berada pada tanah residu dengan kondisi litologi yang didominasi oleh lempung yang proses konsolidasinya berlangsung lebih lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan percepatan penurunan tanah yang dapat dijadikan sebagai dasar penimbunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analitik dan metode elemen hingga, yaitu melihat penurunan vertikal tanah dan penurunan tekanan air pori (PWP) pada kondisi lahan urug saniter tanpa prefabricated vertical drain (PVD), dan dengan PVD pada jarak 2 m dan 3 m pada lapisan tanah residu. Berdasarkan hasil pengukuran pada saat tebal timbunan 15 m, terlihat bahwa pada kondisi tanpa PVD terjadi perubahan vertikal sebesar 1,75 m, sedangkan pada kondisi lahan urug saniter dengan PVD interval 3 m tercatat penurunan sebesar 2,02 m, TPA dengan PVD interval 2 m terdapat perubahan vertikal sebesar 2,12 m. Sedangkan proses PWP pada tanah tanpa PVD menunjukkan bahwa kecepatan agar mencapai tekanan pori minimum lebih cepat dibandingkan dengan kondisi tanpa PVD, dengan PVD interval 2 m lebih besar pengaruhnya dibandingkan PVD dengan jarak 3 m. Dapat diketahui penggunaan PVD di lahan urug saniter Talanggulo dapat efektif untuk mempercepat proses konsolidasi. Kata kunci: lahan urug saniter, prefabricated vertical drain, sedimen lempung, konsolidasi
PREDIKSI TEKANAN PORI DENGAN DATA SEISMIK 3D DAN DATA LOG SUMUR MENGGUNAKAN METODE EATON (STUDI KASUS DI CEKUNGAN BONAPARTE UTARA) Tatang Juhatta; Agus Mochamad Ramdhan; Fatkhan Fatkhan
Bulletin of Geology Vol 1 No 2 (2017): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2017.1.2.4

Abstract

Pore pressure prediction has important implications in determining the success of drilling activities. This thesis discusses pore pressure prediction in the northern Bonaparte Basin using wireline log data and 3D seismic interval velocity. The Eaton method is used to predict pore pressure in wells and to construct 3D model of pore pressure. Eaton method is used for pore pressure prediction, overpressure mechanism in the well and 3D model of pore pressure. Pore pressure prediction is determined by effective stress value that is obtained by the analysis of interval check-shot velocity, hydrostatic pressure is assumed to follow the gradient of 0.43 psi/ft and overburden pressure is obtained from density log data. Pore pressure prediction in 3D model is determined from 3D model of effective stress that is generated from average NCT of interval velocity of each well, the hydrostatic pressure is assumed to follow the gradient of 0.43 psi/ft and 3D model of pressure overburden generated from the 3D model density that is obtained from model 3D interval velocity by the result of Gardner transformation. The analyses of pore pressure in the well and 3D model indicate that overpressure occurs in Wangarlu Formation at the depth interval of 2000-2300 m, then it gradually reaches hydrostatic pressure in the Plover Fm. at the depth interval of 3750-3900m. Overpressure is generated by disequilibrium compaction meaning that sediments fail to compact because the expulsion of pore water is inhibited. Compression tectonic activity that occurred in the late Miocene in the north, probably contributes to increase in lateral stress that produces overpressure that spreading laterally to the south of the study area. The results of this study can be applied in the planning of drilling wells including casing design and estimation of mud weight in each depth interval that will be used during drilling.
POTENSI GAS BIOGENIK DAN TERMOGENIK DI WILAYAH EKSPLORASI CEKUNGAN KUTAI BAGIAN SELATAN, LEPAS PANTAI KALIMANTAN TIMUR Artha, Yudhi
Bulletin of Geology Vol 5 No 3 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.3.4

Abstract

Cekungan Kutai bagian selatan saat ini masih lebih sedikit dieksplorasi dibandingkan dengan wilayah Mahakam dan lainnya yang berada di bagian utara dari cekungan ini. Penelitian ini berfokus untuk mengetahui potensi batuan induk aktif yang dapat menghasilkan hidrokarbon dan besar volume yang dapat dihasilkan, serta migrasinya yang dapat mendorong kembali kegiatan eksplorasi pada wilayah ini. Metode dari penelitian ini melakukan evaluasi geokimia sebagai penapisan dari batuan induk yang berpotensi untuk menghasilkan hidrokarbon biogenik dan termogenik. Pirolisis Rock-Eval, analisis biomarker berupa gas kromatografi –spektrometri massa (GC-MS) yang dievaluasi dari sembilan sumur eksplorasi digunakan untuk menentukan kuantitas, kualitas, kematangan dan lingkungan pengendapan material organik. Pemodelan cekungan secara 1D dan 3D dengan menggunakan hasil evaluasi geokimia dan geologi, untuk menentukan adanya akumulasi dan jejak hidrokarbon termogenik di sekitar wilayah penelitian melalui analisis migrasi. Analisis isotop, gradien termal dan laju sedimentasi digunakan untuk menentukan lingkungan dan pola aktivitas mikroorganisme anaerob dalam pembentukan gas biogenik, serta analisis geofisika meliputi interpretasi dan pemetaan struktur bawah permukaan menggunakan seismik 2D dan 3D serta menentukan distribusi dari potensi batuan induk dan sejarah migrasinya. Data geokimia dan isotop menunjukkan bahwa gas biogenik terbentuk dari Miosen Akhir sampai sekarang, kuantitas material organik endapan dari yang sedang hingga baik sekali (0.51 -7.31 % berat karbon organiktotal (TOC)) merepresentasikan aktivitas mikroorganisme dengan laju sedimentasi yang cukup tinggi rata-rata 6,2 x 107ton/tahun. Gas termogenik, bagaimanapun diharapkan dari lapisan Oligosen Akhir hingga Miosen Awal dari sedimen setelah lisu disepanjang Cekungan Kutai.Hasil analisis menunjukkan bahwa gas dihasilkan sebesar 135,85 triliun kaki kubikuntuk termogenik, dan 5,67 triliun kaki kubikuntuk biogenik. Kata kunci: Cekungan Kutai, TOC, gas termogenik, gas biogenik
ORTHOMETRIC HEIGHT DETERMINATION IN JAKARTA AND SUNDA STRAIT AREA USING THE GEOPOTENTIAL NUMBER APPROACH Sarsito, Dina Anggreni; Bramanto, Brian; Andreas, Heri; Pradipta, Dhota; Triwibowo, Sidiq
Bulletin of Geology Vol 8 No 1 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 1
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.1.2

Abstract

Orthometric height is a physical height type used by Indonesia in local/national reference systems for determining positions used in various scientific and engineering activities. The main constraint in determining orthometric height is that it is theoretically difficult to realize that gravity measurements must be carried out along the plumb lines that connect the topographic equipotential surface with the geoid surface. Another constraint is that it requires precise physical height difference measurementsfrom tie points, which are usually located in coastal areas, to locations on land that are far from the coast. This research examines the possibility of determining orthometric physical height at several GNSS stations in the Jakarta and Sunda Strait areasusing the geopotential number approach as an alternative solution to the difficulties caused by the aforementioned constraints. The first type of orthometric height obtained from GNSS geodetic height observations with geoid undulation obtained from the EGM2008 global gravity model is then used as a comparison for the second type of orthometric height obtained from the geopotential number approach. The pattern of geopotential numbers on the islands of Java and Sumatra has the same pattern, namely that the value increases as the topographic elevation increases. This phenomenon is in line with the terrestrial survey approach carried outso far, that the meansea level can be assumed to be an estimate of the geoid surface, which is used as a reference for the gravity potential surface. The average difference in height between the two types of orthometric height is 0.39 meters, with a difference interval between -1.80 meters and 2.73 meters. The results obtained show that the geopotential number approach can be used as an alternative for determining orthometric height if direct gravity measurements and/or precise physical height difference measurements cannot be carried out in the monitoring area. Key words: Orthometric, Geopotential Number, Geoid, Jakarta, Sunda Strait.
GEOLOGI BATUBARA DAERAH BINUNGAN KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Ayu Andini; Yan Rizal
Bulletin of Geology Vol 3 No 1 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.1.1

Abstract

Lokasi penelitian berada di daerah Binungan kawasan PT. Berau Coal yang mencakup area ±32 km2, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Binungan, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Secara fisiografis daerah telitian termasuk dalam Sub-Cekungan Berau dari Cekungan Tarakan. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda adalah Satuan Batupasir, Satuan Batupasir-Batulempung, Satuan Batupasir Konglomeratan yang berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir dan Satuan Endapan Alluvial yang berumur Resen. Struktur geologi yang berkembang didaerah penelitan yaitu sesar turun dan sesar geser kiri yang diinterpretasikan dari korelasi bawah permukaan. Korelasi lapisan batubara dilakukan dari karakteristik fisik masing-masing lapisan batubara berdasarkan data e-log dengan menggunakan gamma ray, long density dan short density. Jumlah lapisan batubara yang berada di daerah Binungan ialah sebanyak 43 lapisan dengan 23 lapisan batubara yang menerus dan 20 lapisan batubara yang tidak menerus. Sumberdaya terukur batubara pada daerah penelitian yaitu sebesar 644.612.826,99 ton dan sumberdaya tertunjuk yaitu 1.592.733.025,26 ton, dengan persyaratan batas minimal ketebalan lapisan batubara yang dihitung menurut Standar Nasional Indonesia ialah 0,40 meter. Kata kunci: batubara, korelasi, sumberdaya, Binungan
IDENTIFICATION AND ANALYSIS OF LANDSLIDE SOIL VULNERABILITY AS THE BASIS OF DISASTER MITIGATION WITH GEODETIC MEASUREMENT METHODS AND QUANTITATIVE DESCRIPTION Putri, Dinda Pratiwi Dwi; -, Ediyanto; Arif, Riyas Syamsul; Kartika, Jessica Astrid; Fathurohman, Cahya Riski; Apriyanti, Dessy
Bulletin of Geology Vol 6 No 2 (2022): Bulletin of Geology Special Issue: International Seminar on Earth Sciences and Te
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.2.4

Abstract

Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah yang sebagian besar wilayahnya berada di sekitar Gunung Lawu dengan struktur batuan merupakan struktur sedimen atau belum mengalami litifikasi. Berdasarkan kondisi geologitersebut, daerah sekitar Gunung Lawu rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor yang didukung oleh beberapa faktor selain kondisi tanahnya, yaitu curah hujan yang tinggi, kelerengan, tanaman yang membebani, dan atau adanya gejala struktur geologi. Salah satu dusunyang terkena bencana hidrometeorologi tersebut ialah DusunJambon, Desa Menjing, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Bencana alam yang menimpa Dusun Jambon 2014 silam menimbulkan keretakan tanah dan kerusakan tempat tinggal. Sebagai bentuk analisis dan mitigasi bencana, pada penelitian ini dikaji kerentanan longsor melalui parameter deformasi menggunakan alat ukur GNSS (Global Navigation Satellite System) untuk mengetahui besar dan arah pergerakan longsor. Hasil analisis deformasi berdasarkan alat ukur GNSS menunjukkan hasil ukuran masih memenuhi ambang batas atau tidak terjadi deformasi pada struktur tanah di 7 titik sampel yang diukur. Hal tersebut menimbulkan anomali karena kondisi longsor yang terjadi sangat parah kecuali satu area yang mencakup 1 gereja dan 13 rumah. Oleh karena itu, perlu dikaji lebih lanjut untuk membuktikan penyebab terjadinya longsor melalui parameter lain seperti gejala struktur geologi dan waktu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi area aman di sekitar longsor untuk tetap dipertahankan atau tidak. Kata kunci: Longsor, Dusun Jambon, GNSS, Geologi, Kemiringan Lereng, Kelurusan Permukaan

Page 8 of 12 | Total Record : 112