cover
Contact Name
Mika Rizki Puspaningrum
Contact Email
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Phone
+6281246804772
Journal Mail Official
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Editorial Address
Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Geology
ISSN : 25800752     EISSN : 25800752     DOI : 10.5614/bull.geol.
Bulletin of Geology is a research-based periodical scientific open access journal published by Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB). The published article in Bulletin of Geology covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Geodesy, Meteorology, Oceanography, Petroleum, Mining, and Geography. The submitted abstract must be written in English and Bahasa Indonesia, but the article content is English or Bahasa Indonesia.
Articles 112 Documents
ANALISIS GEOMEKANIKA PADA BATUAN DASAR, DI AREA JS-1 RIDGE BAGIAN SELATAN, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA Agung Gunawan; Benyamin Sapiie; Bintoro Wibowo
Bulletin of Geology Vol 1 No 1 (2017): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2017.1.1.1

Abstract

East Java basin is one of production basin in Indonesia. Recently, basement is began evaluated more detail, and also has become one of exploration target in this area. Geomechanics and critically stress fractures analysis are some of methods which is used to evaluate basement potential. These methods are used to evaluate fractures which contribute to fluid flow in basement. Fracture interpretation is done in 2 (two) exploration well, Well-A and Well-B. The result of interpretation show the orientation of natural fracture in both wells is Northeast- Southwest (NE-SW). The orientation of SHmax in Well-B is Northeast Southwest (NE-SW) perpendicular to the breakout fractures. The orientation of Shmin in Well-B is Northwest-Southeast (NW-SE) parallel to breakout fractures. In this research, geomechanics model has only been carried out based on Well-B. The model shows that tectonic regime is strike-slip, the major stress orientation is Northeast-Southwest (NE-SW). The critically stress fracture analysis show that fracture orientation, which is in critical condition, is N 10o-20o E and N 65o E. These fractures are considered contribute to the fluid flow in basement.
RESERVOIR CHARACTERIZATION AND COMPARTMENT IN POSTRIFT DEPOSITED, UPPER TALANGAKAR FORMATION, BELUT FIELD, SOUTH SUMATRA BASIN Pramudito, Dimas; Nugroho, Dwiharso; Abdurrachman, Mirzam
Bulletin of Geology Vol 5 No 2 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.2.6

Abstract

Lapangan Belutmerupakan salah satu asetPertamina EP yang telah berproduksi lebih dari 50 tahun. Lapangan ini terletaksekitar 120 km di sebelahbarat dari Kota Palembang, Sumatera Selatan. Reservoir utama merupakan batupasir dan batugamping yang diendapkan pada awal Miocene dan termasuk ke dalam kelompok bagian atas Talangakar atau Transgresive Member (TRM). Penemuan hidrokarbondi area yang lebih down flank (utara) berawal dari pemboran step out di area penelitian. Berdasarkan pemboran tersebut diperoleh minyak dari reservoir batupasir dengan tekanan lebih besar dibandingkan di area eksisting. Saat ini Lapangan Belutsudah dalam tahap pengembangan, sehingga dibutuhkan model reservoir yang lebih komprehensif untuk strategi pengembangan lebih lanjut.Data yang digunakan dalam penelitianini adalah data batuan inti dari tigasumur, data rekaman talikawat dari 47 sumur, analisis fosil, borehole image, dan data seismik tiga dimensi (3D Karbela) serta data tekanan reservoir. Tahapan pertama penelitian adalah menentukanlitofasies dan asosiasi fasies dari data batuan inti dan biostratigrafi. Selanjutnya menentukan marker parasikuen dan sikuen dari pola electrofacies tiap sumur. Korelasi stratigrafisikuendilakukan untuk menentukan pola penyebaran fasies pengendapan. Karakterisasi reservoir secara tiga dimensi dilakukan melalui pemodelan fasies, volume serpih, porositas, permeabilitas, rock type, dansaturasi. Berdasarkan korelasi stratigrafisikuendan seismik stratigrafi, penyebaran fasies secara lateralmenunjukkan arah basinwardkesebelah selatan. Dalam penelitian ini semakin ke area selatan akan didominasi oleh endapan distal atau marine sebaliknya semakin ke utara maka akan ditemukan endapan terrestrial yang bersifat lebih sand prone. Adanya kenaikan muka air laut selama pengisian cekungan (retrogradational) menyebabkan perubahan fasies secara vertikal yaitu mulai dari sistem pengendapan channel, delta, hingga shallow marine.Data tekanan menunjukkan bagian utara (setelah di datumkan) memiliki tekanan sebesar 0.85 –0.99 (SG ekuivalen) sedangkan di area existing mempunyai tekanan 0.67 –0.78 (SG ekuivalen). Perbedaan tekanan disebabkan karena perbedaanasosiasi fasiespada sikuen yang sama antara area utara dengan area selatan. Berdasarkan analisis tekanan formasidan adanya penemuan potensi hidrokarbon di area down flank menunjukkan terdapat kompartemen antara area utara dan selatan (stratigraphic trap). Kata kunci: Formasi Talang Akar, down flank, pemodelan facies, kompartemen
DESKRIPSI LITOLOGI BATUAN DASAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN KARAKTERISTIK RESERVOIR REKAHAN ALAMI DI BLOK OGAN KOMERING, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN Fitriana, Bayu Sapta; Sapiie, Benyamin; Rudyawan, Alfend
Bulletin of Geology Vol 7 No 3 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.3.3

Abstract

Keberadaan hidrokarbon pada reservoir batuan dasar (basement) di Blok Ogan Komering (OK), Sumatra Selatan, telah terbukti sejak tahun 1992 sejak penemuan hidrokarbon pertama pada sumur ASD-1 dengan laju alir 1.890 BOPD. Pada Tahun 2014, hidrokarbon pada batuan dasar kembali ditemukan dari pemboran sumur BDA-1 dengan laju alir 3,4 MMSCFD. Temuan-temuan hidrokarbon pada batuan dasar ini memberikan indikasi yang penting untuk menemukan kembali potensi-potensi hidrokarbon dari reservoir batuan dasar di daerah ini. Fokus penelitian ini memuat aspek litologi, umur batuan, dan karakteristik rekahan alamiberdasarkan data sumur, seismik, petrografi dan data pentarikhan umur batuan (age dating) yang memberikan wawasan tentang litologi batuan dasar, serta hubungannya dengan karakteristik rekahan alami dan kualitas reservoir di Blok OK, Cekungan Sumatra Selatan. Penemuan hidrokarbon di reservoir Batuan dasar pra-Tersier di area Blok OK sebelumnya didefinisikan terakumulasi pada batuan dasar granitik. Berbagai litologi yang terdapat di batuan dasar menunjukkan kompleksitas dari sejarah tektonik di Cekungan Sumatera Selatan. Studi petrografi lebih rinci menunjukkan komposisi litologi yang lebih kompleks. Litologi batuan dasar pra-Tersier terdiri dari granodiorit, diorit, marmer, andesit, serpih, filit dan sekis. Pentarikhan K-Ar pada batuan dasar andesitmenghasilkan interval umur antara 61-131 juta tahun yang lalu, setara dengan Kapur Awal-Akhir. Secara lebih detail, batuan beku di daerah ini telah mengalami proses alterasi hidrotermal, yang ditunjukkan dengan kehadiran mineral-mineral alterasi dalam komposisi batuannya. Log gambar pada interval batuan dasar menunjukkan perkembangan rekahan alami yang baik pada interval batuan dasar. Perkembangan rekahan alami memiliki korelasi dengan jenis litologi. Rekahan alami berkembang dengan baik pada litologi granodiorit, diorit, marmer, dan kuarsit. Batas satuan antar litologi yang beragam ini diinterpretasikan sebagai kontak sesar. Kontak sesar yang disertai dengan zona hancuran antara litologi yang berbeda menguntungkan untuk pengembangan rekahan dan berkorelasidengan indikasi hidrokarbon. Kata Kunci: Batuan dasar, petrografi, rekahan, reservoir, Sumatra Selatan
ANALISIS KEBERADAAN DAN PENYEBAB TERJADINYA TEKANAN LUAP DI DAERAH LEPAS PANTAI JAWA TIMUR Charlianto Valdo
Bulletin of Geology Vol 2 No 2 (2018): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2018.2.2.4

Abstract

Cekungan Jawa Timur merupakan salah satu cekungan sedimen dengan kegiatan ekplorasi migas yang cukup intesif. Salah satu permasalahan yang banyak ditemukan di cekungan ini adalah keberadaan tekanan luap di sumur pengeboran. Penelitian ini dilakukan pada empat sumur lepas pantai Jawa Timur. Deteksi keberadaan tekanan luap di daerah penelitian diketahui dengan menganalisis data log tali kawat, geokimia batuan induk, laporan kejadian pengeboran, dan data tekanan sumur. Analisis penyebab terjadinya tekanan luap pada daerah penelitian dilakukan berdasarkan data kematangan batuan induk, data log tali kawat, dan plot Dutta. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa satu sumur berada pada kondisi hidrostatik, sedangkan tiga sumur lainnya memiliki tekanan luap. Tekanan luap pada satu sumur disebabkan oleh batuan yang gagal kompak (loading mechanism), sedangkan dua sumur lainnya disebabkan juga oleh kematangan batuan induk dan diagenesis mineral lempung (nonloading mechanism). Metoda Eaton digunakan untuk membuat estimasi tekanan pori di sumur. Angka eksponen Eaton untuk log sonik pada daerah penelitian berkisar antara 1.1 – 2.6. Perbedaan kedalaman puncak tekanan luap dipengaruhi oleh kecepatan sedimentasi, variasi litologi, dan posisi sumur.
GEOMORFOLOGI SESAR AKTIF DI PULAU RUMBERPON, PAPUA Pamumpuni, Astyka; Sapiie, Benyamin; Ipranta, Ipranta; Sadisun, Imam Achmad
Bulletin of Geology Vol 6 No 1 (2022): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.1.4

Abstract

Morfologi di bagian Leher Burung, Papua didominasi oleh bentuk morfologi sesar naik dan lipatan. Morfologi yang menunjukkan lipatan ideal yang masih muda, bentukan antiform merepresentasikan antiklin. Namun demikian, data kegempaan di daerah Leher Burung, Papua menunjukkan banyaknya gempa dengan mekanisme sesar normal dan sesar mendatar.Observasi geomorfologi di lokasi Leher Burung, di Pulau Rumberpon dilakukan pada studi ini dengan menggunakan data DEM (digital elevation model) dengan resolusi 8m dari DEMNAS (digital elevation modelnasional). Analisis geomorfologi ditekankan pada identifikasi sesar aktif. Data kegempaan yang berupa lokasi gempa (epicenter dan hipocenter), magnitudo, dan waktu kejadian didapatkan dari katalog kegempaan yang telah direlokasi. Mekanisme fokal gempa didapatkan dari katalog CMT (centroid moment tensor). Data kegempaan digunakan untuk melihat hubungan data kegempaan dan hasil analisis geomorfologi.Hasil analisis geomorfologi menunjukkan adanya sesar normal yang aktif berkorelasi dengan arah jurus dari mekanisme fokal yang ada di area ini. Observasi menunjukkan adanya bukti-bukti sesar normal dengan arah jurus utara-selatan (N-S) dan timur laut-barat daya (NE-SW). Fitur-fitur geomorfologi yang terpetakan antara lain adalah laguna yang memanjang, lembah paralel, penampang topografi yang menunjukkan seri rangkaian sesar normal, gawir sesar, dan relay-ramp. Fitur geomorfologi yang ada menunjukkan adanya seri sesar normal aktif memiliki kemiringan ke barat dengan jurus ke utara-selatan sesuai dengan arah jurus dari mekanisme fokal kegempaan yang ada. Kesesuaian antara mekanisme fokal gempa dan bukti morfologi menunjukkan adanya sesar normal aktif di area Leher Burung, terutama di Pulau Rumberpon. Mekanisme pembentukan sesar di Pulau Rumberpon ini terkait erat dengan Sesar Yapen-Sorong dan adanya pembelokan ke kanan zona sesar tersebut. Kata kunci: geomorfologi, sesar normal, Papua, sesar aktif
MIDDLE MIOCENE BIOSTRATIGRAPHY AND PALEO-OCEANOGRAPHY OF SUPIORI ISLAND, PAPUA BASED ON CALCAREOUS NANNOFOSIL ASSEMBLAGES Ryan Dwi Wahyu Ardi; Nadila Novandaru; Istiana Istiana; Alviyanda Alviyanda; Rubiyanto Kapid; G.M. Lucky Junursyah; Rahmat Y Saragih
Bulletin of Geology Vol 3 No 3 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.3.4

Abstract

Calcareous nannofossil assemblages have been analysed from three stratigraphic sections on Supiori Island to determine biozonation and paleo-oceanographic condition. Based on Neogene Calcareous Nannofossils Zonation (Martini, 1971), section BK 78 (Wainukendi Formation) classified into three zones, which coeval to NN7–NN9 and or younger (Middle Miocene). Section BK 95 (Napisendi Formation) categorised into five zones, which equivalent to NN5–NN9 (Middle Miocene), and section BK 98 (Wafordori Formation) is considered to be equivalent to NN7 (Middle Miocene). Those results indicate a correlatable interval (NN7) and an interfinger contact between Wainukendi, Wafordori, and Napisendi Formations. Paleo-oceanographic parameters namely thermocline/nutricline depth and paleosalinity were analysed in this research. Thermocline/nutricline depth analysis from Discoaster abundance and mean coccolith size of Reticulofenestra and Coccolithus indicate sea surface condition changes from oligotrophic (NN5–NN7) to eutrophic (early NN8) and then again into oligotrophic (from late NN8 to NN9). Paleosalinity analysis based on abundance comparison between Sphenolithus neoabies, Helicosphaera carteri, and Calcidiscus leptoporus denotes paleosalinity shift from normal saline (NN7) to hyposaline condition (NN8 – NN9). Those paleo-oceanographic parameters changes most likely related to the closing of Indonesian Seaway due to regional uplift, which triggered the formation of proto West Pacific Warm Pool (WPWP), Equatorial Under Current (EUC), and eventually a La Nina-like condition on late Middle Miocene (NN8–NN9).
ANALISIS PERBANDINGAN METODE GEOREFERENSI LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PADA DATA AWAN TITIK Nurmaulia, Sella Lestari
Bulletin of Geology Vol 7 No 1 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.1.1

Abstract

Teknologi Terrestrial Laser Scanning (TLS) dapat menghasilkan pemodelan 3-Dimensi dengan geometri yang baik. Namun, untuk dapat menghasilkan ketelitian geometri yang baik diperlukan teknik registrasi dan proses georeferensi yang tepat. Teknik registrasi yang banyak digunakan adalah menggunakan algoritma Iterative Closest Point (ICP). Keberhasilan teknik registrasi ini dipengaruhi oleh presentase overlap, besarnya sudut dan jarak antar dua data point clouds. Pada teknik georeferensi tidak langsung, data point clouds yang dihasilkan belum semuanya memiliki koordinat global sehingga untuk menyatukan semua hasil pemindaian, maka metode registrasi dilakukan dengan menggunakan registrasi target-to-target atau registrasi cloud-to-cloud perlu dilakukan sebelum menggunakan algoritma ICP. Pada teknik georeferensi langsung, data point clouds untuk seluruh hasil pemindaian sudah memiliki hasil koordinat global sehingga teknik registrasi yang digunakan bisa langsung menggunakan algoritma ICP. Hasil yang diperoleh adalah nilai Root Mean Square Error (RMS) adalah sama untuk kedua metode georeferensi langsung maupun georeferensi tidak langsung. Kata kunci: target-to-target, cloud-to-cloud, Iterative Closest Point (ICP)
ANALISIS SESAR TUMBUH PADA SISTEM TEKTONIK DELTA TERSIER DI SUBCEKUNGAN TARAKAN, KALIMANTAN UTARA Maulin, Hade Bakda
Bulletin of Geology Vol 5 No 2 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.2.1

Abstract

Sub cekungan Tarakan sangat menarik namun kurang dieksplorasi. Di sebelah utara, subcekungan ini dibatasi oleh Sesar Sampoerna dan di selatan dibatasi oleh Sesar Mangkalihat. Kedua patahan regional tersebut merupakan patahan geser mengiri yang menghasilkan pengaturan unik terhadap proses sedimentasi delta dan proses deformasi yang terjadi di daerah tersebut. Struktur geologi yang berkembang di Subcekungan Tarakan berorientasi relatif timurlaut-baratdaya dengan jenis sesar normal di bagian ekstensi atau proximal secara pengendapan delta dan sesar anjak (toe-thrust) di bagian kontraksi atau distal. Kesejajaran pola antara sesar normal dan sesar anjak dalam suatu area yang sama kerapkali menimbulkan kesalah tafsiran bagi para explorationist yang bekerja di area ini. Analisis struktur geologi berupa analisis deskriptif, kinematik dan dinamik dilakukan untuk mengetahui proses deformasi pada area ekstensi dengan mempertimbangkan proses sedimentasi Delta Tarakan. Pengukuran laju sedimentasi terhadap besaran throwdari masing-masing sesar normal dilakukan untuk mendapatkan Expansion Index (EI) sebagai gambaran terjadinya sesar tumbuh. Selanjutnya evaluasi terhadap sesar tumbuh dilakukan dengan restorasi penampang untuk mengetahui proses deformasi yang terjadi berupa strain dan adanya kemungkinan lain selain pergerakan normal yang diisi sedimen delta. Deformasi yang terjadi di area penelitian dapat dikenali sebagai tektonik delta yaitu proses sedimentasi yang menghasilkan kontrol gravitasi terhadap deformasi batuan. Berdasarkan analisis yang dilakukan, sesar-sesar normal yang berada di area ekstensi merupakan sesar tumbuh dengan indeks pertumbuhan (EI) yang bervariasi terhadap umur batuan dan lokasi sesarnya. Hasil analisis terhadap beberapa sesar tumbuh menunjukkan indeks pertumbuhan sesar bervariasi terhadap throw dan laju sedimentasi pada downthrown-nya. Indeks pertumbuhan yang tidak sempurna diamati pada sesar-sesar yang terletak di bagian barat area penelitian, diduga terpengaruh aktifitas pengangkatan struktur pada Pliosen sehingga mengerosi sebagian besar sedimen sesar tumbuh. Adanya pergerakan aktif Sesar Sampoerna dan Sesar Maratua memberi pengaruh terhadap konfigurasi tektonik delta (gravity induce tectonic) berupa inversi sesar tumbuh yang sekaligus membentuk closure bagi pemerangkapan hidrokarbon. Kata kunci: Cekungan Tarakan, tektonika delta, toe-thrust folds, sesar tumbuh, inversion, Expansion Index (EI)
MODEL GEOMEKANIKA SATU DIMENSI DAN KESTABILAN SUMUR BOR DI LAPANGAN HANDIL, CEKUNGAN KUTAI, KALIMANTAN TIMUR Dominic, Patrick Bennett; Sapiie, Benyamin; Gunawan, Indra
Bulletin of Geology Vol 7 No 2 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.2.4

Abstract

Lapangan Handil merupakan salah satu lapangan penghasil minyak dan gas bumi yang terletak di Delta Mahakam, Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Lapangan ini telah berproduksi sejak tahun 1975 hingga saat ini. Pengeboran untuk pengembangan lapangan dilakukan secara intensif untuk mengoptimisasi produksi. Pada pengeboran sumur dengan inklinasi tinggi (lebih dari 300), permasalahan utama yang sering muncul adalah terkait dengan kestabilan sumur bor yaitu runtuhnya dinding sumur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model geomekanika satu dimensi. Data yang digunakan yaitu data uji tekanan formasi, data uji rekah hidraulik, data log sumur dan laporan pengeboran, serta data uji kuat tekan inti batuan. Analisis geomekanika dilakukan dengan menentukan parameter elastisitas dan kekuatan batuan, tekanan pori, dan arah serta besaran ketiga tegasan utama, yaitu tegasan vertikal (Sv), tegasan horizontal minimum (Shmin) dan tegasan horizontal maksimum (SHmaks). Parameter yang digunakan dalam pembuatan model geomekanika satu dimensi pada penelitian ini menggunakan parameter yang telah digunakan di sumur H-N-93. Pada sumur H-N-93, terdapat isu ketidakstabilan lubang bor yang mengakibatkan pipa pengeboran terjepit dan menyebabkan pipa harus dikubur di dalam lubang bor. Berdasarkan kejadian tersebut, dibuat model geomekanika satu dimensi dan analisis kestabilan sumur bor sebagai acuan strategi pengeboran sumur selanjutnya. Hasilnya, pengeboran sumur H-V-508 berjalan dengan lancar tanpa adanya isu ketidakstabilan lubang bor dengan menggunakan parameter tersebut. Oleh karena itu, parameter dalam pembuatan model geomekanika satu dimensi dan analisis kestabilan sumur bor tersebut diaplikasikan pada kelima sumur lainnya yang akan dibor di Lapangan Handil. Berdasarkan model geomekanika satu dimensi yang telah disusun pada kelima sumur yang akan dibor (H-NA-100, H-NA-103, H-NA-295, H-NA-302, dan H-NA-108), konfigurasi tegasan utama digunakan untuk mengetahui rezim tegasan yang bekerja di Lapangan Handil. Analisis kestabilan sumur bor dilakukan dengan menggunakan kriteria kegagalan Mohr-Coulomb dan menghasilkan Shear Failure Gradient (SFG) sebagai batas minimum dalam menentukan berat lumpur pengeboran sehingga dapat diestimasi jendela tekanan lumpur. Selain itu, azimut dan inklinasi sumur juga dapat dioptimalkan berdasarkan diagram stereonet kestabilan sumur. Rezim tegasan in situ yang bekerja pada Lapangan Handil adalah rezim sesar normal (Sv > SHmaks > Shmin). Orientasi SHmaks adalah berarah barat laut - tenggara (N 310 - 340º E dan N 130 - 160º E). Zona tekanan normal hidrostatik di Lapangan Handil secara umum hadir mulai dari permukaan sampai ke kedalaman 3110 - 3225 mTVDSS, dilanjutkan dengan zona tekanan luap sampai ke kedalaman akhir sumur. Kestabilan sumur dapat ditingkatkan dengan memakai berat lumpur 1,14 - 1,31 SG pada zona tekanan normal hidrostatik, kemudian menaikkan berat lumpur menjadi 1,26 - 1,67 SG pada zona tekanan luap. Selain itu, kestabilan sumur bor dapat dioptimalkan dengan menentukan azimut sumur sejajar dengan orientasi Shmin, yaitu berarah timur laut - barat daya (N 40 - 70º E dan N 220 - 250º E) dan inklinasi sekitar 30 - 60º. Hal ini bersifat rekomendasi jika memungkinkan untuk dilakukan, karena arah lintasan sumur pada dasarnya diutamakan untuk mengejar target geologi. Kata kunci: Model geomekanika satu dimensi, Lapangan Handil, kestabilan sumur bor, berat lumpur, inklinasi dan azimut sumu
FOSIL KAYU Dryobalanoxylon sp. PADA FORMASI GENTENG DI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN DAN PALEOFITOGEOGRAFINYA DI INDONESIA Hanny Oktariani; Winantris Winantris; Lili Fauzielly
Bulletin of Geology Vol 2 No 1 (2018): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2018.2.1.5

Abstract

Fosil kayu ditemukan di Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Fosil kayu terawetkan pada batuan tufa, formasi Genteng yang berumur Pliosen Awal dengan lingkungan pengendapan terestrial. Untuk mengetahui jenis fosil kayu dilakukan pengamatan anatomi dengan cara membuat preparat dari 3 bidang yaitu lintang, radial dan tangensial. Pembuatan preparat fosil kayu sama seperti pembuatan preparat sayatan tipis pada batuan. Hasil pengamatan anatomi pada fosil tersebut menunjukkan ciri : sel pembuluh baur, hampir seluruhnya soliter, dengan frekuensi pembuluh 4 - 8 per mm2, trakeid vaskisentrik, terdapat tilosis, lebar jari-jari 1-3 seri, lebar jari-jari besar 4 - 10 seri, saluran interseluler aksial dalam baris tangensial panjang dengan ukuran lebih kecil dari pembuluh. Ciri tersebut memiliki kesamaan dengan Famili Dipterocarpaceae, Genus Dryobalanoxylon. Dryobalanoxylon tercatat ditemukan di Indonesia sejak Miosen - Plistosen di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Page 9 of 12 | Total Record : 112