cover
Contact Name
Mika Rizki Puspaningrum
Contact Email
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Phone
+6281246804772
Journal Mail Official
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Editorial Address
Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Geology
ISSN : 25800752     EISSN : 25800752     DOI : 10.5614/bull.geol.
Bulletin of Geology is a research-based periodical scientific open access journal published by Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB). The published article in Bulletin of Geology covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Geodesy, Meteorology, Oceanography, Petroleum, Mining, and Geography. The submitted abstract must be written in English and Bahasa Indonesia, but the article content is English or Bahasa Indonesia.
Articles 112 Documents
LITHOFACIES, MINERALOGICAL, PETROPHYSICAL AND MECHANICAL PROPERTIES ANALYSIS OF RESERVOIR AND SEAL ROCKS FOR CARBON CAPTURE STORAGE (CCS) SYSTEM. PILOT STUDY IN GUNDIH FIELD, CENTRAL JAVA, INDONESIA. danio, harya
Bulletin of Geology Vol 6 No 3 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.3.3

Abstract

Di Cekungan Jawa Timur Indonesia, Batupasir Ngrayong telah ditargetkan sebagai reservoir untuk Carbon Capture Storage (CCS). Pada sistem CCS ini, batu gamping dan batu lempung Formasi Buludan Wonocolo diharapkan berfungsi sebagai batuan penyekat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat litologi, mineralogi, dan mekanik dan petrofisika Formasi Ngrayong, Bulu dan Wonocolo dari litologi permukaan sebagai studi analog, dan selanjutnya akan diadaptasikan pada sumur injeksi bawah permukaan (Jepon-1) untuk karakterisasi potensinya sebagai reservoir dan segel fungsional dalam sistem CCS. Dua sampel pengeboran inti dangkal dan sampel singkapan yang diturunkan dari Formasi Ngrayong,Bulu dan Wonocolo dideskripsikan menggunakan kombinasi analisis petrografi, difraksi sinar-x, petrofisika dan mekanik. Analisis ini menunjukkan bahwa Formasi Ngrayong, Bulu dan Wonocolo mengandung tujuh litofasies yang berbeda (batulempung dengan batupasir kuarsa tipis, batupasir kuarsa bersih, batulumpur, batu gamping biokistik, batu gamping kalkarenit, napal berpasir, dan batu butir) dengan heterogenitas skala halus pada kain dan mineralogi yang sangat mempengaruhi sifat petrofisika. Porositas, permeabilitas, dan sifat petrofisika lainnya menunjukkan bahwa memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai segel CCS yang sesuai. Mineral autigenik yang melimpah dan tekstur disolusi menunjukkan bahwa interaksi fluida telah terjadi di dalam Formasi Ngrayong, Bulu dan Wonocolo.Mineral yang berpotensi reaktif dalamsistem CCS (termasuk karbonat dan klorit) banyak terdapat di Formasi Ngrayong dan Wonocolo Kata kunci: Reservoir dan penyekat CCS, Ngrayong
STUDI TIPE BATUAN DAN PEMODELANNYA DI BLOK X, CEKUNGAN BARITO Zurisman Fitriadi; Dwiharso Nugroho; Nurcahyo Indro Basuki
Bulletin of Geology Vol 1 No 1 (2017): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2017.1.1.5

Abstract

Field X is an oilfield in Barito Basin, South Kalimantan, which produces hydrocarbon from reservoir within Lower Tanjung Formation. The oil discovery in this field was initiated in 1930 by BPM and until now Tanjung field is still productive and field development is ongoing. Layer D is in Lower Tanjung Formation and is believed as meandering channel depositional setting. Core and thin section data from Layer D could be found from well X-109, X-104, and X-105. Analysis which has been conducted finding 9 lithofacies’, including (1) siltstone-claystone (F), (2) rooted siltstone (Fr), (3) very fine sandstone (Svf), (4) fine sandstone (Sf), (5) bioturbated and rooted fine sandstone (Sfbr), (6) weakly cemented fine sandstone (Sfwc), (7) weakly cemented medium sandstone (Smwc), (8) moderately cemented medium sandstone (Smmc), and (9) coarse sandstone (Sc). These lithofacies’ are grouped into four architectural facies’ (1) channel sand, (2) point bar, (3) crevasse splay, dan (4) overbank. Rock type determination used flow zone indicator (FZI) method found 3 rock types (RT). RT 1 is associated to channel sand, RT 2 is associated to channel body, point bar, and overbank, and RT 3 is associated to channel sand, point bar, crevasse splay, and overbank. Reservoir properties modelling which is controlled by facies and rock type models showed relation in petrophysical behaviour to its rock type. High porosity values are associated to channel sand. High permeability values are associated to rock type RT 1 and RT 2.
VOLCANOSTRATIGRAPHY IN THE LOKON VOLCANO AREA AND ITS SURROUNDINGS, NORTH SULAWESI Senduk, Kevin Gerald; Abdurrachman, Mirzam
Bulletin of Geology Vol 7 No 2 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.2.2

Abstract

Gunung Api Lokon adalah gunung api Kuarter aktif yang berada di busur gunung api Sulawesi – Sangihe. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan stratigrafi batuan gunung api Lokon berdasarkan analisis geomorfologi dan karakteristik petrologi.Berdasarkan analisis geomorfologi, area Gunung Lokon dibagi menjadi sembilan domain geomorfologi (Kayawu, Woloan, Kamasi, Irang, Lokon, Tatawiran, Galean, Kinilow dan Empung) pemisahan dilakukan berdasarkan pola kelurusan topografi, relief dan polasebaran topografi. Berdasarkan deskripsi litologi lapangan, litologi dibedakan menjadi 18 satuan geologi berupa aliran lava, aliran piroklastik, jatuhan piroklastik dan aliran lumpur. Satuan batuan Gunung Lokon dan sekitarnya sesuai SSI (Sandi Stratigrafi Indonesia) diklasifikasikan kedalam Khuluk Tatawiran, Khuluk Kinilow, Khuluk Empung dan Khuluk Tou Lokon. Khuluk Kinilow didominasi oleh endapan piroklastik dengan komposisi basal bertekstur skorius, sedangkan Khuluk Empung didominasi oleh aliran lava basal. Khuluk Tou Lokon terdiri dari 3 Gumuk yaitu Gumuk Lokon yang didominasi oleh aliran piroklastik, Gumuk Irang yang dimonasi oleh aliran lava dengan tekstur holohyalin dan Gumuk Tompuluan yang didominasi oleh jatuhan piroklastik. Fasies gunungapi Gunung Lokon dibagi menjadi Fasies Proksimal Tatawiran, Sentral Tatawiran, Fasies Proksimal Tatawiran, Fasies Sentral Kinilow, Fasies Proksimal Kinilow, Fasies Medial Kinilow, Fasies Sentral Empung, Fasies Proksimal Empung, Fasies Sentral Lokon, Fasies Proksimal Lokon, Fasies Midial Lokon, Fasies Sentral Irang, Fasies Proksimal Irang, Fasies Sentral Tompuluan danFasies Proksimal Tompuluan. Kata Kunci: Domain, gunung api, Lokon, SSI, vulkanostratigraf
ANALISIS KETAHANAN (DURABILITY) BATULEMPUNG FORMASI SUBANG DI DAERAH UJUNGJAYA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT Misbahudin Misbahudin; Imam Achmad Sadisun
Bulletin of Geology Vol 2 No 1 (2018): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2018.2.1.3

Abstract

Saat ini pembangunan skala besar sedang direncanakan di sekitar wilayah Sumedang, Jawa Barat yang meliputi pembangunan Bandara Internasional Kertajati, Jalan Tol Cisumdawu, Sentra Industri Ujungjaya, dan Bendungan Cipanas. Aktivitas pembangunan tersebut dapat terkendala permasalahan geologi teknik karena berada di atas batulempung Formasi Subang. Batulempung jenis ini diketahui memiliki pengaruh signifikan dalam aktivitas rekayasa karena sifatnya yang mudah hancur (slaking) ketika mengalami kontak dengan udara dan/ atau air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ketahanan (durability) batulempung Formasi Subang di Daerah Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Penelitian dilakukan melalui observasi lapangan dan pengambilan sampel batulempung segar dalam bentuk sampel tak terganggu. Selanjutnya sampel dibawa ke laboratorium dan dilakukan pengujian slake durability serta analisis mineral lempung melalui uji difraksi sinar X. Dari hasil pengujian tersebut, batulempung Formasi Subang di daerah penelitian memiliki ketahanan rendah. Kandungan mineral monmorilonit dan pirit yang ditemukan pada sampel batulempung Formasi Subang menjadi faktor penyebab rendahnya nilai ketahanan batuan tersebut.
The Evaluation of Trial Grouting on the Foundation Ladongi Maindam, East Kolaka Adhitama, Kukuh Vivian Tri
Bulletin of Geology Vol 5 No 4 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.4.4

Abstract

Bendungan Ladongi dibangun di atas satuan litologi batuan metamorf sekis mika. Penyelidikan bawah permukaan areafondasi bendungan utama penting dilakukan untuk menentukan keputusan dilakukannya perbaikan massa batuanpada interval tertentu dengan tujuan meningkatkan kekuatan massa batuan sertamemperkecil nilai lugeon. Grouting (injeksi campuran semen bertekanan) merupakan metode perbaikan fondasi bendungan utama yang sering digunakan, penelitian ini merupakan percobaan awal menguji pola rencana grouting yang akan diterapkan. Uji lugeon merupakan bagian dari grouting dengan pengujian yang sama setiap interval 5m, pada penelitian ini sebanyak 112 buah pengujian dilakukan secara multiple down stage dengan total kedalaman pengeboran 560 m. Jarak spasi dan penggunaan tekanan maksimum pada saat penginjeksian semen menjadi evaluasi pada percobaan ini terkait dengan efektivitas dan respons batuan terhadaprekah hidraulik maupun dari hasil pengujian kelulusan air. Hasil pengujian menunjukkan pola dan tekanan yang diterapkan sudah efektif untuk tumpuan kiri dan river-bed bendungan utama berdasarkan kondisi seluruh kedalaman interval pengujian di CH-01 dan CH-02 tidak memerlukan grouting, berbeda dengan tumpuan kanan yang masih memerlukan grouting pada lubang CH-03 pada tahapan ketiga dan keempat mengindikasikan pada tumpuan kanan perlu penyesuaian terkait tekanan maksimum yang digunakan. Pada tumpuan kiri dan kanan menunjukkan kondisi rekahan yang relatif besar pada kedalaman antara 10-30 m berdasarkan volume injeksi material semen yang besar sampai dengan 2000kg dalam sekali penginjeksian.Pelaksanaan grouting dapat mengubah pola aliran alami/awal, seperti pada tumpuan kanan pada CH-03 hampir seluruh pola aliran semua tahapan berubah ke pola dilation berdasarkan hubungan dari lubang pilot hole dengan check hole. Pengujian efektivitas menunjukkan pada tumpuan kanan stage pengujian keduasebesar 36,03% (sedang) dan stage ketiga sebesar 12,97% (buruk), sehingga perlu penyesuaian ulang terkait grouting sekitar area interval tersebut. Kata kunci: uji air bertekanan, lugeon, grouting, sekis mika
POTENSI GAS SERPIH FORMASI PULOBALANG, CEKUNGAN KUTAI, KALIMANTAN TIMUR Hamdani, Ahmad; Noeradi, Dardji; Iskandar, Yusup
Bulletin of Geology Vol 3 No 2 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.2.5

Abstract

Kutai Basin has proven to be a productive basin and has great potential, this fact indicating the existing petroleum system has been running well. Therefore, more specific investigations need to be carried out, especially for development of non-conventional hydrocarbon reserves, and find out in detail the characteristics of rocks that have potential to be carriers of potential shale gas in the Kutai Basin. The used data in this study included 5 (five) drilling wells, Ramin-1, Rasamala-1, Buat-1, Busang-1, and Murung-1 which contained wireline log data, mud logs, biostratigraphic analysis, geochemical analysis, and 81 line 2-D seismik trajectories. Further interpretation using geochemical data and modelling with Passey Method. In geomechanical data analysis, modeling used wireline logs, produce Young modulus values, Poisson ratios, and rock brittleness. Petrophysical analysis was used to be a parameter of rock quality. These data are depicted vertically and horizontally with seismic data benchmark, resulting in facies distribution and rock quality parameters as shale gas reservoirs. The research showed that Pulobalang Formation in the study area, deposited in the deltaic to slope environment, with type III kerogen, TOC content level poor until excellent with 0.12 - 7% value and brittleness value 0.05-0.971. The calculation was conducted based standard criteria as shale gas reservoir. Total potential of shale gas resources in the Pulobalang Formation reaches 2.78 TCF.
LIQUEFACTION POTENTIAL ANALYSIS IN TRANS-SULAWESI RAILWAY, POLEWALI MANDAR-MAJENE SEGMENT USING CONE PENETRATION TEST METHOD Zhafira, Dzikra; Sadisun, Imam Achmad
Bulletin of Geology Vol 6 No 2 (2022): Bulletin of Geology Special Issue: International Seminar on Earth Sciences and Te
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.2.8

Abstract

Trans-Sulawesi Railway is the first railway in Sulawesi. One of the segments that is passed by this railway is Polewali Mandar-Majene segment, West Sulawesi. The research focused on this segment and mostly contains of Quaternary sediments such as alluvial. Liquefaction may occur because of earthquake that causes loss of strength within soils. Most of the cases, liquefaction occur in Quaternary sediments that are decomposed, loose, and unconsolidated. So, liquefaction analysis is needed on the research area to determine the liquefaction potential that might happen there. Liquefaction potential analysis was carried out using Cone Penetration Test method (CPT). The analysis was carried out by calculating liquefaction safety factor (FSL) and liquefaction potential index (LPI) at 14 CPT sites with varying depth from 3.8 meters – 14 meters. Based on the analysis, the liquefaction safety factor (FSL) value shown that the 14 CPT sites has a potential for liquefaction with Mw 7.5 earthquake because the FSL values are less than 1. Based on the calculation of LPI, the research area is in the high – highest category. Keywords: Cone Penetration Test (CPT), Polewali Mandar, liquefaction, Liquefaction Potential Index (LPI)
TEKTONOSTRATIGRAFI DAN SIKUEN STRATIGRAFI ENDAPAN LISU BLOK DUYUNG, CEKUNGAN NATUNA BARAT Ariyani Rachmad; Djuhaeni Djuhaeni; Prihadi Sumintadireja
Bulletin of Geology Vol 1 No 2 (2017): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2017.1.2.3

Abstract

Duyung Block is located in the Natuna Sea and geologically is the part of West Natuna Basin. The area of research is the 3D seismic area, part of Duyung Block, covering approximately 412 square kilometers. This study aims to determine the stratigraphy of syn-rift deposition in Duyung Block to understand the distribution and seismic facies at the depth interval of syn-rift. Seismic facies map is generated based on seismic geomorphology analysis using stratal slice method with displaying CWT (Continuous Wavelet Transform) seismic attribute. Based on lithostratigraphy correlation and the information from AA-1X and Forel-2 wells, syn-rift sediment were deposited within a supratidal, fresh water, predominantly lacustrine. The analysis of seismic geomorphology with stratal slices in the area of research encountered three depositional systems in the area of syn-rift, i.e., fluvial deltaic, shallow lacustrine and deep lacustrine. Rift depositional system in the study area can be divided into four tectonostratigraphy phases, i.e., Early Rift, Middle Rift, Late Rift and Early Post-rift. The boundary between tectonostratigraphy phases is determined from the analysis of seismic expression. Based on the analysis of seismic-sequence stratigraphy, syn-rift depositional system can be divided into 3 sequence packages, i.e., Sequence-1 (interval SB0-SB1), Sequence-2 (interval SB1-SB2) and Sequence-3 (interval SB2-SB3). Generally in the area of research, the tectonostratigraphy boundaries are relatively coincide with the sequence boundaries, but toward bonding fault-rift, the difference between those two are increasingly visible.
ANALISIS MORFOTEKTONIK DAS GRINDULU DI DAERAH PACITAN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN PACITAN, JAWA TIMUR hidayat, arif hanif
Bulletin of Geology Vol 5 No 3 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.3.3

Abstract

Bentuk lahan pada daerah tektonik aktif tercermin pada sistem sungai dan bentang alam perbukitan. Studi geomorfologi tektonik merupakan faktor utama yang mengontrol perkembangan bentuk lahan pada daerah tektonik yang aktif dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sistem sungai dan bentang alam pegunungan. Penelitian geomorfologi tektonik ini berfokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Grindulu di Pacitan dan sekitarnya, secara geografis daerah penelitian terletak antara 07 ̊ 55’ 10’’ LS -08 ̊ 17’ 30’’ LS dan 110 ̊ 55’ 10’’ BT -111 ̊ 25’10’’ BT.Peneliti membagi menjadi 10 Sub-DASpada DAS Grindulu dan terdapat beberapa sesar besar diantaranya Sesar Grindulu, Sesar Kayuwayang, Sesar Karangrejo dan Sesar Tegalombo. Sesar Grindulu merupakan sesar yang diduga aktif sehingga menjadi dasar penelitian ini. Pergerakan sesar yang ada di DAS Grindulu didominasi sesar berarah barat daya-timur laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis geomorfologi tektonik dari DAS Grindulu, berupa analisis geomorfologi, morfometri, dan sejarah kegempaan. Salah satu metode untuk mengidentifikasi tingkat keaktifan DAS Grindulu adalah dengan menggunakan pendekatan geomorfologi tektonik melalui parameter kuantitatif morfometri. Analisis kuantitatif morfometri yang digunakan untuk mengidentifikasi Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) yaitu, knickpoint, indeks gradien panjang sungai (SL), asimetri DAS (AF), hipsometri integral dan kurva hipsometri (HI), rasio lebar lantai lembah-tinggi lembah (Vf), dan bentuk DAS (Bs). Semua parameter dikombinasikan dengan data geologi meliputi sebaran batuan, topografi, dan struktur geologi di daerah penelitian, serta data sejarah kegempaan sehingga menghasilkan peta kuantitatifaktivitas tektonik relatif pada DAS Grindulu. Berdasarkan hasil dari aktivitas tektonik relatif pada DAS Grindulu, daerah penelitian dapat dibagi dalam tiga kelas; kelas aktivitas tektonik tinggi, kelas aktivitas tektonik sedang, dan kelas aktivitas tektonik rendah. Berdasarkan hasil analisis nilai IATR, DAS Grindulu yang memiliki aktivitas tektonik tinggi adalah Sub-DAS 2, 7, dan 10, menempati 33,57% pada daerah penelitian, untuk aktivitas tektonik sedang adalah Sub-DAS 1, 3, 5, 8, dan 9 menempati 49,28% pada daerah penelitian, sedangkan untuk aktivitas tektonik rendah adalah Sub-DAS 4 dan 6, menempati 17,16% pada daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini secara umum dapat disimpulkan bahwa DAS Grindulu memiliki indeks aktivitas tektonik relatif menengah-tinggi, sehingga diharapkan hasil ini bisa menjadi dasar untuk pertimbangan pengembangan wilayah Pacitan dan sekitarnya. Kata kunci: Daerah aliran sungai, Grindulu, geomorfologi tektonik, morfometri, pacitan
IDENTIFY THE PATTERN OF URBAN GROWTH IN BANDUNG CITY USING GEOSPATIAL ANALYSIS Sam, Dwiputra
Bulletin of Geology Vol 8 No 1 (2024): Bulletin of Geology Vol. 8 no. 1
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2024.8.1.1

Abstract

Land-use changes essentially are a side-effect of the growth of a city, which is commonly caused by urban developments. The spreading of urban developments on undeveloped land near a city (Urban Sprawl) may lead to a lackof urban planning, a lack of proper laws that regulate urban planning, and many other issues. To mitigate urban sprawl, the current study aims to determine the pattern of Bandung City's growth. The study focuses on the urban developments, that may have caused urban sprawl. The usage of time-series spatial data in an urban development analysis is typically used as the backbone of the study. Therefore, a 30 year dataset (1988-2018) is used to determine the pattern. The mean spatial method has been used to evaluate the dataset in Bandung City and the districts around the city. The method resulted in a pattern of movement resulting into the southwestern part of the city. Two points are also used to act as a pivot to determine the direction of the city's growth.The geometrical center of the study area and Gedung Sate were chosen as the pivot points. The direction of Bandung City’s growth based on the two pivot points resulted inthe Southwest direction.

Page 6 of 12 | Total Record : 112