cover
Contact Name
Mika Rizki Puspaningrum
Contact Email
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Phone
+6281246804772
Journal Mail Official
mika.puspaningrum@itb.ac.id
Editorial Address
Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Geology
ISSN : 25800752     EISSN : 25800752     DOI : 10.5614/bull.geol.
Bulletin of Geology is a research-based periodical scientific open access journal published by Faculty of Earth Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB). The published article in Bulletin of Geology covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Geodesy, Meteorology, Oceanography, Petroleum, Mining, and Geography. The submitted abstract must be written in English and Bahasa Indonesia, but the article content is English or Bahasa Indonesia.
Articles 112 Documents
KONTRIBUSI PENGAMATAN GEODESI MODERN DALAM MEMAHAMI DINAMIKA TEKTONIK DI INDONESIA: ESTIMASI KUTUB EULER LEMPENG MINOR SUNDA Dina Anggreni Sarsito; Susilo Susilo; Dhota Pradipta; Heri Andreas
Bulletin of Geology Vol 3 No 1 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.1.5

Abstract

Penentuan Kutub Euler Sesaat Resen pada saat ini adalah salah satu kontribusi bidang geodetik untuk penentuan geo-kinematik bumi menggunakan asumsi geometrik bola ideal. Parameter kutub Euler diestimasi berdasarkan perubahan kecepatan/ pergerakan minimal tiga stasiun GNSS-GPS yang terletak di zona rigid yang sama. Dengan menggunakan best fitting L2-Norm dari data observasi GNSS GPS pada tahun 1992-2017, hasil estimasi yang dihasilkan memberikan sensitivitas yang tidak homogen terhadap pola distribusi titik pengamatan. Residu absolut dari pengamatan terhadap hasil estimasi kecepatan kutub Euler akan menunjukkan keberadaan stasiun di dalam atau di luar zona rigid. Dengan menerapkan semua langkah yang disebutkan, nilai estimasi Kutub Euler Sesaat Resen dari blok mikro Sunda adalah di bawah 5mm/tahun untuk residu absolut dengan akurasi hingga 1mm/tahun, dengan demikian parameter ini dapat digunakan sebagai informasi geo-kinematik yang akurat. Kata kunci: Geodesi, Lempeng Minor, Sunda, Kutub Euler, L2-Norm Minimization
SUBMARINE LANDSLIDE IDENTIFICATION IN THE SOUTH OF LOMBOK STRAIT AND ITS HYPOTHETICAL GENERATED TSUNAMI: A PRELIMINARY STUDY Valentra, Rizqi
Bulletin of Geology Vol 6 No 2 (2022): Bulletin of Geology Special Issue: International Seminar on Earth Sciences and Te
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.2.3

Abstract

Berdasarkan peta batimetri di Selat Lombok, profil kedalaman di di bagian selatan Selat Lombok berubah secara drastisdari 400 m ke 2000 m membentuktebing bawah laut (submarine canyon).Dengan pengamatan lebih detil, ditemukan sebagian kecil dari tebing yang memiliki bekas gerusan berbentuk mahkota dengan tumpukan sedimen di bagian bawahnya. Fitur ini di interpretasikan sebagai endapan longsor bawah laut dan dapat ditemukan 24 km ke arah barat daya dari Pulau Nusa Penidaserta sekitar 30 km kearah Tenggara dari tengah Teluk Benoa. Gerusan terletak di sekitar kedalaman 950 m. Berdasarkan luas area gerusan, volume massa longsoran diperkirakan dan jumlahnya serupa dengan volume longsor Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di tahun 2018. Jika longsoran di Selat Lombok ini juga mampu membangkitkan tsunami, wilayah selatan Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida memiliki kemungkinan terdampak tsunami paling tinggi. Pada penelitian ini, digunakan COMCOT –sebuah model numerik tsunami yang menggunakan persamaan perairan dangkal linier dan non-linier untuk melihat karakteristik gelombang tsunami dengan pembangkit longosor yang berpotensi menerjang wilayah selatan Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida Kata kunci: Longsor bawah laut, model tsunami, Selat Lombok.
LATERITISASI PADA KOMPLEKS MELANGE AREA WAILUKUM, KABUPATEN HALMAHERA TIMUR Ramadhan, Aditya Rizki; Basuki, Nurcahyo Indro; Priadi, Bambang; Sutopo, Bronto; Bari, Abdul
Bulletin of Geology Vol 4 No 1 (2020): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2020.4.1.3

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya endapan laterit yang berasal dari litologi yang berbeda pada Area Wailukum, Daerah Buli, Kabupaten Halmahera Timur. Daerah penelitian merupakan bagian dari IUP PT. Antam UBPN Maluku Utara. Koordinat area penelitian berada di 412.369-413.763mT dan 89.304-88.384mU zona 52N, dengan luas area penelitian sebesar 1,4km2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan laterit dan batuan dasar di Area Wailukum. Data yang digunakan berupa DEM, data lapangan, sertadata bor. Analisis DEM dan data lapangan digunakan untuk penentuan satuan topografi. Analisis data lapangan bertujuan untukpeta danpenampang geologi. Analisisgeostatistik pada data bor yang terdiri dari data assay (470 sampel) dan deskripsi bor bertujuan untuk menentukan karakteristik endapan laterit dan batuan dasar dari area penelitian.Berdasarkan hasil analisis petrografi sayatan tipis, didapatkan jenis batuan dasar berupa serpentinit, orthopiroksenit terserpentinisasi sedang dan olivin gabbronorit terserpentinisasi lemah. Kompleks melange berupa serpentinit, orthopiroksenit dan olivin gabbronorit dalam bentuk boudinage yang dilingkupi oleh serpentinit berfoliasi. Keberadaan melange ini diperkirakan hasil dariproses kolisi. Berdasarkan analisis diagram terner SiO2-MgO-Fe2O3, tipe lateritisasi berupa dry laterites dengan pengendapan silika. Endapan laterit terbagi menjadi limonit dan saprolit. Satuan topografi dibagi menjadi hill slope dan lowland basin. Pada area hill slope, terdapat proses longsor yang menyebabkan lebih tipisnya endapan laterit yang terbentuk.Litologi dapat dibagi menjadi litologi yang didominasi gabbrodan litologi yang didominasi serpentinit. Pada litologi yang didominasi gabbro, lateritisasitidak berlangsung dengan baik dan tidak ditemukan zona bijih. Pada litologi yang didominasi serpentinit,lateritisasiberlangsung dengan baik dan ditemukan zona bijih pada bagian saprolit dan bagian bawah limonit. Ni berada dalam serpentin kaya nikel sehingga Ni berkorelasi positif kuat dengan Co, Fe, MnO, dan Cr2O3. Pada area lowland basin, terdapat akumulasi hasil longsor yang menyebabkan endapan laterit tebal danzona bijih berada di limonit. Kata kunci: Endapan Laterit, Batuan Dasar, Melange, Wailukum, Halmahera Timur
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT PEMBANGUNAN JETTY DI WILAYAH PANTAI KARANGSONG, INDRAMAYU, INDONESIA Abdurrahman, Umar; Ningsih, Nining Sari; Suprijo, Totok; Tarya, Ayi
Bulletin of Geology Vol 5 No 2 (2021): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2021.5.2.5

Abstract

Pada tahun 2005 dilakukan pembangunan jetty di muara Sungai Prajagumiwang, tepatnya di Pantai Karangsong, Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, JawaBarat. Pembangunan jetty ini merupakan salah satu solusi dari permasalahan pendangkalan alur pelayaran di wilayah tersebut. Selain berdampak pada aktivitas perikanan setempat, pembangunan jetty ini juga berdampak pada perubahan garis pantai di Pantai Karangsong. Pada penelitian ini, analisis perubahan garis pantai dilakukan dengan memanfaatkan data citra satelit dari Google Earth yang terdiri daritahun 2001, 2008, 2009. 2013, 2014, 2015, 2016, dan 2017. Garis air tinggi dipilih sebagai indikator penentu garis pantai dengan tujuan untuk meminimalisir kesalahan yang dapat terjadi akibat penentuan garis pantai secara manual. Hasil analisis secara kualitatif dan kuantitatif menunjukkan adanya pola perubahan garis pantai yang semula didominasi oleh terjadinya erosi, setelah pembangunan jetty berubah menjadi didominasi oleh akresi. Berdasarkan analisis perubahan luas dan garis pantai yang dilakukan pada penelitian ini, perubahan luas pantai dan garis pantai terbesar terjadi pada periode 2001 –2008 yaitu sebesar 297.136 m2dan 13.897 m. Pada periode 2008 –2017 nilai perubahan luas dan garis pantai menunjukkan kondisi yang berubah ubah dan perubahannya semakin mengecil. Hal ini menunjukkan Pantai Karangsong mengalami proses pantai menuju setimbang. Kata kunci:Perubahan garis pantai, pembangunan jetty, Pantai Karangsong, Google Earth
PENDEKATAN TERINTEGRASI DALAM PEMODELAN FASIES RESERVOIR D-10 STRUKTUR NKL, LAPANGAN SANGASANGA, CEKUNGAN KUTAI, INDONESIA Rizal, Ferdi; Nugroho, Dwiharso; Sumintadireja, Prihadi
Bulletin of Geology Vol 7 No 3 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.3.2

Abstract

Total kumulatif produksi minyak saat ini di Struktur North Kutai Lama (NKL) sekitar 70% berasal dari reservoir D-10 yang terletak di sayap (flank) antiklin timur dari ujung utara Antiklinorium Samarinda. Namun demikian, pengembangan reservoir inimempunyai kendala dalam pemodelan fasies karena kurangnya data sumur yang menembus area flank dan reservoir D-10 tidak menerus hingga ke bagian punggungan (crestal) dari Antiklinorium Samarinda. Ketidak menerusan ini terlihat dari posisireservoir minyak pada area flank berada di bawah kontak minyak-air dari reservoir di daerah crestal dan tren evolusi tekanan terlihatberbeda antara bagian crestal dan flank. Salah satu tahapan penting dalam pemodelan fasies adalah analisis paleo-depositional environment yang tentunya berkaitan dengan penentuan fasies reservoir. Penelitian ini melakukan pendekatan terintegrasi dengan memanfaatkan dan mensintesiskan lima data, yaitu analisis biostratigrafi, elektro-fasies, besar butir, struktur sedimen dan paleocurrent sertasa linitas reservoir. Korelasi antar sumur dilakukan dengan menggunakan konsep cyclothem, karena terdapat perulangan lapisan Batubara yang membatasi lapisan batupasir baik secara lateral maupun vertikal. Tahapan berikutnya adalah interpretasi tren fasies dari peta Net to Gross (NTG) yang dikontrol oleh anomali atribut seismik, penentuan? Nilai NTG tiap sumur, perbedaan kontak fluida, analisis evolusi tren tekanan dan rasio lebar sungaiterhadap netsand. Pendekatan terintegrasi terbukti dapat menjawab permasalahan pada distribusi fasies dankonektivitas reservoir D-10. Tentunya peta NTG digunakan sebagai tren pada saat pemodelan fasies secara 3D, sehingga perhitungan volume hidrokarbon menjadi lebih realistis. Kata kunci: Analisis terintegrasi, lingkungan pengendapan purba, pemodelan fasies, atribut seismik, cyclothem
STUDI GEOKIMIA BATUAN INDUK DAN PEMODELAN CEKUNGAN BLOK BERAU BARAT CEKUNGAN BERAU PAPUA BARAT Hendro Situmorang; Asep H. Kesumajana; Eddy A. Subroto
Bulletin of Geology Vol 2 No 2 (2018): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2018.2.2.5

Abstract

Eksplorasi pada Cekungan Berau telah dilakukan sejak 30 tahun yang lalu. Telah dilakukan pengeboran dengan target Formasi Kais, Formasi Kembelangan Bawah dan Formasi Tipuma. Beberapa sumur kering dan pada sumur Gunung-1 ditemukan penampakan minyak (oil show). Umumnya studi yang dilakukan pada cekungan ini adalah studi reservoar dan perangkap, sedangan geokimia dan pembentukan hidrokarbon jarang dilakukan. Analisis batuan induk telah dilakukan pada setiap formasi sumur Gunung-1. Formasi yang berpotensi menjadi batuan induk pada cekungan ini adalah Formasi Kembelangan Bawah pada umur Jura dan Formasi Tipuma pada umur Trias. Hasil dari korelasi biomarker sampel minyak berkorelasi positif dan menandakan minyak tersebut satu famili. Korelasi biomarker juga dilakukan pada sampel minyak dan Formasi Kembelangan Bawah. Keduanya berkorelasi positif dan material organiknya tersusun atas campuran yang diendapkan di lingkungan estuarin. Berdasarkan hasil pemodelan cekungan, pada saat ini Formasi Kembelangan Bawah pada sumur Gunung-1 berada pada kematangan matang akhir. Formasi ini memasuki tahap matang awal pada Kapur Akhir, matang puncak pada Paleosen Akhir dan matang akhir pada Eosen Tengah. Cekungan Berau telah memiliki sistem petroleum yang lengkap. Selain kelengkapan elemen sistem petroleum, waktu pembentukan element tersebut merupakan hal yang sangat penting. Perangkap (Antiklin Misool-Onin-Kumawa) terbentuk pada Miosen Akhir-Pliosen. Minyak tidak terakumulasi dengan baik pada perangkap tersebut karena minyak telah terbentuk pada Kapur akhir. Berdasarkan kematangannya Formasi Kembelangan Bawah masih berpotensi menghasilkan minyak namun Transformation Ratio sudah mencapai 100% pada Oligosen Awal sehingga batuan induk berhenti menghasilkan
Komposisi Fauna Vertebrata Holosen Awal di Situs Gua Panglima, Gunung Parung, Kalimantan Timur Shidqi, Benyamin Perwira; Fauzi, Mohammad Ruly; Puspaningrum, Mika Rizki; Rizal, Yan; Simanjuntak, Truman
Bulletin of Geology Vol 6 No 1 (2022): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.1.3

Abstract

Gua panglima merupakan salah satu gua karst yang terletak di Gunung Parung, Kalimantan Timur, Indonesia. Penelitian arkeologi dilakukan dalam endapan lantai Gua Panglima yang dibagi menjadi 5 zona stratigrafi utama. Penelitian berfokus di kotak galian TP1 dan TP2 yang menghasilkan temuan sisa fauna vertebrata melimpah yang terdiri atas gigi, rahang, tulang utama, dan fragmen tulang lainnya. Analisis temuan vertebrata berupa identifikasi takson dan kuantifikasi temuan teridentifikasi (NISP) bertujuan untuk mengetahui himpunan fauna dan kondisi lingkungan di sekitar Gua Panglima. Sisa temuan vertebrata di Gua Panglima terdiri atas 8 kelompok besar takson yaitu Primata, Artiodactyla, Perrisodactyla, Carnivora, Rodentia, Reptilia, Pholidota, Chiroptera, dan Actinopterygii. Keseluruhan temuan diidentifikasi menjadi 38 takson yang terdiri atas tingkat famili hingga spesies. Temuan sisa fauna vertebrata berjumlah 8723 spesimen dengan total temuan teridentifikasi (NISP) berjumlah 2278 dan temuan tidak teridentikasi berjumlah 6445. Temuan terdiri atas elemen gigi berupa incisor, canine, premolar, dan molar(16,3% NISP, n = 360), elemen rahang berupa mandibula dan maxilla (5,5% NISP, n = 124), dan elemen tulang utama berupa antler, astragalus, calcaneus, carapace, carpal, caudal, costae, femur, humerus, metacarpal, metatarsal, oscoxa, pelvis, phalanges, plastron, radius, scapula, supraorbital, tibia, ulna, dan vertebrae (78,2% NISP, n = 1794). Temuan hasil penggalian Gua Panglima diperkirakan memiliki rentang umur kurang Holosen Awal – Tengah. Komposisi fauna di Gua Panglima memiliki signifikansi secara kronologi dengan beberapa situs pada periode dan lokasi berdekatan seperti Gua Niah dan Pulau Palawan. Kemiripan komposisi fauna di ketiga situs tersebut memberikan gambaran bagaimana perkembangan ekologi di hutan hujan tropis Kalimantan yang relatif tidak terlalu berubah pada periode tersebut. Meskipun begitu, komposisi fauna di temuan Gua Panglima tidak dapat dipisahkan dengan konteks hunian manusia prasejarah dengan ditemukannya artefak arkeologi lainnya. Kata kunci: Gua Panglima, Fauna, Taksonomi. Holosen, Kalimantan Timur.
TEKNIK PENDETEKSIAN ZONA MATA AIR PANAS GEOTERMAL MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTISENSOR DAN OBSERVASI LAPANGAN Lazuardy Fajar Pratama Sulaeman; Asep Saepuloh; Permana Adhitya Lano
Bulletin of Geology Vol 3 No 3 (2019): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2019.3.3.3

Abstract

Geothermal exploration activities in a very large area require a lot of time and manpower. A mapping technique can be used to minimize time and manpower at field by optimizing the use of remote sensing technology. This paper is aimed to identify the availability of geothermal hot springs zones using multisensory images from Landsat-8 Advanced Land Imager (OLI), Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) Thermal Infrared Radiometer (TIR), and Synthetic Aperture Radar (SAR) of Sentinel-1. The imagery data were prepared and used according to their respective uses, and then they will be verified by field geological data including location of hot springs and geological structures. Baolan Subdistrict and Galang Subdistrict, Tolitoli District, Central Sulawesi Province was selected as study area to obtain the effectiveness of multisensory technique under thick vegetation cover and limited access. The geological mapping area was focused in the south of Tolitoli City with coverage area about 50 km2. Surface thermal anomaly detection was performed using ASTER TIR by calculating the Land Surface Temperature (LST) and combined with wetness detection using Landsat-8 OLI. In addition, the Sentinel-1 images were used to detect lineament related to geological structures on the surface served as fluid path flows from sub-surface to surface. Ground truthing was performed by mapping hot springs at field and served as verification to the remote sensing results. Then, geological interpretation of geothermal system availability under the study area was performed. The multisensory image analyses verified by field mapping of the hot springs zone showed high effectivity to localize the possible area for surface manifestations. Meanwhile, the lineament related to geological structures based on Sentinel-1 image detected successfully a sinistral strike slip and sinistral normal faults. Accordingly, the geothermal manifestation in the study area was a discharge zone presented by the existence of hot springs and strike-slip faults acted as fractures permeability
KAJIAN KETIDAKPASTIAN ESTIMASI CURAH HUJAN SATELIT TRMM STUDI KASUS: DAS CILIWUNG Syahputra, Muhammad Ridho; Fajary, Faiz Rohman; Riawan, Edi; Suwarman, Rusmawan; Putra, Hengki Eko
Bulletin of Geology Vol 6 No 3 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2022.6.3.4

Abstract

Dataset curah hujan (CH) dengan resolusi spasial dan temporal yang baik diperlukan oleh berbagai sector seperti sektor manajemen sumber daya air dan bencana hidrologi. Namun, pengamatan CH secara langsung di permukaan seringkali tidak lengkap dan tidak merata. Sumber alternatif data CH lainnya dapat diperoleh dari estimasi CH oleh satelit (penginderaan jauh). Namun, estimasi satelit memiliki kesalahan dan ketidakpastian yang berpotensi mempengaruhi aplikasi selanjutnya yang menggunakan data hujan. Oleh karena itu, penting untuk mengukurketidakpastian estimasi CH satelit untuk memberikan informasi tambahan bagi pengguna mengenai keandalan data. Pada penelitian ini telah dilakukan simulasi Monte Carlo untuk menghasilkan ensemble Dataset CH yang mampu mengkuantifikasi ketidakpastian produk estimasi CH TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) 3B43v7. Dataset CH ensemble ini dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang distribusi error dan estimasi peluang CH dari estimasi satelit TRMM. Dalam kajian ini juga ditunjukkan pemanfaatan dataset CH ensemble dalam mengkuantifikasi ketidakpastian dalam analisis CH ekstrim menggunakan pendekatan periode ulang dan Probable Maximum Precipitation (PMP). Kata kunci: estimasi satelit, TRMM, ketidakpastian, Monte Carlo, ensemble
REKONSTRUKSI PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN LAUT BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA DI PERAIRAN UTARA PAPUA, SAMUDRA PASIFIK Damanik, Adrianus; Maryunani, Khoiril Anwar; Nugroho, Septriono Hari; Putra, Purna Sulastya
Bulletin of Geology Vol 4 No 1 (2020): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2020.4.1.4

Abstract

Foraminifera merupakan salah satu proksiterbaik yang digunakan untuk mengetahui kondisi paleoekologi seperti penentuan suhu permukaan laut. Suhu permukaan laut menjadi parameter ekologi yang penting untuk membedakan karakteristik oseanografi pada suatu perairan/cekungan. Penelitian ini melakukan rekonstruksi suhu permukaan laut (SPL) di Perairan Utara Papua berdasarkan kumpulan foraminifera planktonik. Pada penelitian ini digunakan sedimen inti dengan kode OS-07yang diambil pada Ekspedisi Nusa Manggala 2018. Wilayah ini dipilih karena merupakan pintu masuk arlindo (arus lintas Indonesia)sebagai bagian dari sirkulasi globals ehingga Perairan Utara Papua dianggap akan merekam kejadian iklim global. Metoda yang digunakan adalah Modern Analogue Technique (MAT) dan pengelompokan foraminifera di Pasifik mengikuti Parker (1960)dalam Boltovskoy dan Wright (1976). Hasil analisis suhu menggunakan kedua metoda tersebut menunjukkan polaperubahan yang sama. Pada interval kedalaman 246-88 cm dominasi foraminifera zona tropik rendah sedangkan pada kelompok foraminifera subtropik, transitional, dan subantartik mengalami peningkatan yang diinterpretasikan kondisi suhu yang relatif lebih rendah. Foraminifera pada interval kedalaman 88-0 cm mengalamipeningkatan dan terdapat dominasi kelompok foraminifera tropik yang diinterpretasikan adanya kondisi suhu yang relatif lebih tinggi. Hal ini juga selaras dengan hasil rekonstruksi SPL berdasarkan MAT dari data kumpulan foraminifera yang menunjukkan adanya dua pola SPL yaitu pada kedalaman 246-88cm dan 84-0 cm. Peralihan kedua pola, interval kedalaman 86 cm, diinterpretasikan sebagai batas perubahan dari Pleistosen ke Holosen. Perbedaan suhu pada rata-rata untuk bulan Februari pada Pleistosen adalah 1,33oC lebih dingin dibandingkan pada Holosen dan perbedaan suhu pada bulan Agustus adalah 0,82oC lebih dingin pada Pleistosen dibandingkan pada Holosen. Kata kunci: Foraminifera, SPL, MAT, Samudra Pasifik

Page 7 of 12 | Total Record : 112