cover
Contact Name
rizal ula ananta fauzi
Contact Email
rizalmanajemen@gmail.com
Phone
+6282139474255
Journal Mail Official
rizalmanajemen@gmail.com
Editorial Address
jl raya solo no 11 suratmajan Maospati, Magetan Jawa Timur
Location
Kab. magetan,
Jawa timur
INDONESIA
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science
ISSN : -     EISSN : 28087399     DOI : -
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science (AJMESC) is a high quality open access peer reviewed research journal. providing a platform for the researchers, academicians, professional, practitioners and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical and theoretical research papers, case studies. This journal focuses on every research discipline related to social behavior science, entrepreneurship and business management such as human resource management, marketing management, financial management, production/operational management, strategic management, sharia business management, halal industry management, tourism management, banking management, industrial management, agribusiness management, business administration, entrepreneurial activities, micro, small and medium enterprises (MSMEs), consumer behavior, purchasing decisions, consumer satisfaction, consumer loyalty and several areas of business behavior, also includes community social research
Articles 711 Documents
Implementation of the Smart Village Policy to Enhance Public Services in Srimulyo Village, Piyungan Sub-district, Bantul Regency, Yogyakarta Special Region Domi Sella; Sari Viciawati Machdum
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 03 (2024): August Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMES
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Smart Village Policy is a program aimed at strengthening village governance and development (P3PD). It is designed to enhance village institutional capacity and improve governance to provide excellent services to the village community. Srimulyo Village has successfully implemented this policy and this study aims to describe its implementation in enhancing services. Edwards III's theory is used to observe the elements of communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. This research is a qualitative descriptive study that examines village officials, facilitators, digital ambassadors, digital village cadres, and the management of the village digital community space as the subjects of analysis. Informants were selected using a "purposive sampling" technique. Data collection methods included observation, document studies, and interviews. The results indicate that effective communication, adequate resources, and the commitment of policy implementers have been crucial in providing services to the community in Srimulyo Village. It is observed that the bureaucratic structure parameter requires the Center for Competitiveness Development to develop an implementation SOP.
The Influence of Internal and External Farming Factors and the Impact of the Natural Stone Industry on the Condition of Irrigation and Water Networks in Cirebon Regency Tarhan Rohim Sobri; Ratna Ratna; Farida Mardhatilla; Siti Wahana
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 03 (2024): August Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMES
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts to produce rice require the support of adequate equipment and materials and attention to internal and external factors. Pollution of irrigation channels due to natural stone industry waste in rice fields is thought to reduce rice production. The study aims to analyze the influence of internal factors, external factors of farming, and the impact of the natural stone industry on irrigation channels and water. The research was conducted in October-September 2024 using a quantitative research design and survey method involving 256 farmers. The research data were collected through direct observation and interviews and then analyzed using the multiple linear regression analysis method through the IBM SPSS 23 application. The results showed that internal farming factors and the impact of the natural stone industry significantly affected the condition of irrigation and water networks. In contrast, external factors had no significant effect. The study proved that the impact of the natural stone industry has a positive and considerable influence on the Pollution of irrigation networks and water in the agricultural environment. For this reason, it is recommended that farmers in the area, in particular, collaborate with the government and natural stone industry business actors, as well as agricultural extension workers, to agree to contribute to improving the quality of irrigation networks and water. Penerapan Manajemen Proses Bisnispada Proses Bisnis Mengeksekusi dan Mengelola Rencana Penjualan Penulis: Vivin Naharani; Jeni Susyanti, SE, MM, BKP Surel: vivinkesra@gmail.com ; jenisusyanti@unisma ABSTRAK Proses bisnis merupakan perantara antara bisnis dengan informasi teknologi. Dengan adanya proses bisnis yang baik, dukungan teknologi informasi terhadap bisnis akan semakin jelas dan tepat. Proses bisnis melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dan membutuhkan sumber daya. Pengelolaan proses bisnis yang tepat dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Pentingnya peran proses bisnis dalam suatu organisasi atau perusahaan yang berguna untuk menggerakkan bisnis menjadi semakin berkembang sangat cepat dan pesat. Penelitian ini menggunakan metode Business Process Management (BPM) yang memungkinkan perusahaan dapat memiliki cetak biru proses bisnis dan dapat menilai apakah proses bisnis yang sekarang berjalan sudah efektif dan efisien serta manajemen dapat melihat secara detail dampak perubahan yang akan dilakukan baik dari sisi waktu dan biaya. Pada perhitungan simulasi proses saat ini yaitu prosedur standar pengendalian pelaksanaan pemasaran yang membutuhkan waktu 26.400 menit per bulan dengan biaya sejumlah 360.000.000 pertahun dan prosedur pengendalian kontrak pekerjaan jasa membutuhkan waktu 23.040 menit per bulan dengan biaya sejumlah 314.181.818,18 per tahun. Setelah dilakukan penerapan Business Process Management (BPM) untuk usulan proses bisnis yang baru yaitu prosedur pengelolaan pelaksanaan penjualan yang membutuhkan waktu 9,480 menit per bulan dengan biaya 129.272.727,27 per tahun dan prosedur pengelolaan penyelesaian pelanggan membutuhkan waktu 14,400 menit per bulan dengan biaya 196.363. 636,36 per tahun. Kata kunci: Proses Bisnis, Manajemen Proses Bisnis (BPM). ABSTRAK Proses bisnis merupakan perantara antara bisnis dan teknologi informasi. Dengan adanya proses bisnis yang baik maka dukungan teknologi informasi terhadap bisnis akan semakin jelas dan tepat. Proses bisnis melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dan membutuhkan sumber daya. Manajemen proses bisnis yang tepat dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan. Pentingnya peran proses bisnis dalam suatu organisasi atau perusahaan yang berguna untuk mendorong bisnis agar berkembang pesat dan pesat. Penelitian ini menggunakan metode Business Process Management (BPM) yang memungkinkan perusahaan memiliki cetak biru proses bisnis dan dapat menilai apakah proses bisnis yang ada saat ini sudah efektif dan efisien serta manajemen dapat melihat secara detail dampak perubahan yang akan dilakukan dari segi waktu dan biaya. Dalam perhitungan simulasi proses yang berjalan saat ini adalah prosedur standar pengendalian pelaksanaan pemasaran memakan waktu 26.400 menit per bulan dengan biaya Rp. 30.000.000,00 per bulan dan prosedur pembuatan kontrak jasa pekerjaan memakan waktu 23.040 menit per bulan dengan biaya Rp. 8.727.272,73 per bulan. Setelah penerapan Business Process Management (BPM) pada usulan proses bisnis baru, prosedur pengelolaan pelaksanaan penjualan membutuhkan waktu 9.480 menit per bulan dengan biaya Rp. 10.772.727,27 per bulan dan prosedur pengelolaan penyelesaian pelanggan memakan waktu 14.400 menit per bulan dengan biaya Rp. 5.454.545,45 per bulan. Kata Kunci: Proses Bisnis, Manajemen Proses Bisnis (BPM) PENDAHULUAN Proses bisnis sangat diperlukan oleh sebuah perusahaan karena merupakan jembatan antara bisnis dengan informasi teknologi. Dengan adanya proses bisnis yang baik, dukungan teknologi informasi terhadap bisnis akan semakin jelas dan tepat. Masalah yang sering kali muncul adalah perusahaan belum mengetahui apakah mereka sudah memiliki proses bisnis yang baik dan tepat bahkan proses ini berlangsung tanpa dokumentasi yang jelas sehingga dalam melakukan perbaikannya pun menjadi tidak jelas dan tidak tepat sasaran. Disisi lain, sistem informasi merupakan salah satu bagian perusahaan yang mempermudah proses bisnis. McLeod (2008) menyatakan bahwa sistem informasi adalah suatu sistem virtual yang memungkinkan manajemen mengendalikan operasi sistem fisik perusahaan. Susanto dalam Taufiq (2013) menyatakan bahwa sistem merupakan kumpulan dari subsistem apapun baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang berarti dan berguna. Disisi lain, menurut Bhatt dan Stump, 2001 dalam Siliwangi dan Vanany, 2012 bahwa sistem informasi jaringan tidak hanya mengotomasikan bisnis, tetapi juga mempertajam dan memperbaiki proses bisnis. Laudon dan Laudon, (2007) dalam Hartono, (2013) menyatakan bahwa dari sudut pandang sistem informasi manajemen hal terpenting yang perlu dipahami dari sebuah perusahaan adalah proses-proses binis yang berlangsung di dalamnya dalam rangka pelaksanaan tugas- tugas. Oleh karena itu, alur sistem informasi juga dapat dikatakan sebagai proses bisnis perusahaan. Dengan memperbaiki kinerja dari segi sistem informasi, maka juga akan memperbaiki proses bisnis perusahaan. Proses bisnis merupakan elemen utama fungsi bisnis dalam suatu organisasi. dan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan dan membutuhkan sumber daya. Pengelolaan proses bisnis yang tepat dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan serta berguna untuk menggerakkan bisnis menjadi semakin berkembang sangat cepat dan pesat. Dalam proses bisnis, pemasaran juga dijadikan alat strategi perusahaan untuk mencapai targetnya. Definisi pemasaran menurut Kotler (2008) adalah kegiatan mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Memenuhi kebutuhan dengan cara menguntungkan. Lebih lanjut Alma (2009) mengemukakan bahwa pemasaran adalah proses manajemen untuk identifikasi, antisipasi, dan kepuasan pelanggan secara menguntungkan. Tjiptono (2011) mengemukakan bahwa bauran pemasaran jasa merupakan kumpulan alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karateristik jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Selanjutnya Sumarmi dan Soeprihanto (2010) menjelaskan bauran pemasaran (bauran pemasaran) adalah kombinasi dari variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yaitu produk, harga, promosi, dan distribusi. Dalam penelitian ini diambil studi kasus di PT ABC yang memiliki salah satu proses bisnis yaitu mengakhiri dan mengelola rencana penjualan melalui prosedur Terintegrasi Sistem manajemen(IMS). Akan tetapi prosedur yang ada masih bersifat manual yang mengakibatkan aliran aktivitas dalam proses bisnis tersebut belum terukur. Penerapan Manajemen Proses Bisnis (BPM) melalui perangkat lunak Process Maker. Menurut Footen dan Faust (2008) BPM adalah metodologi yang berorientasi pada proses bisnis untuk memahami dan mengorganisir pekerjaan pada satu perusahaan. Ini difokuskan pada ketangkasan proses (ketangkasan proses) dan jarak penglihatan bisnis (visibilitas bisnis). BPM merupakan metode penyelarasan secara efisien suatu organisasi dengan keinginan dan kebutuhan organisasi tersebut. Lawler dan Barber (2008) BPM adalah satu pendekatan untuk mencapai tujuan bisnis, mengkoordinasikan proses-proses akhir dari perusahaan, menciptakan praktik terbaik, dan perangkat lunak perlengkapan, seperti dalam suatu sistem manajemen proses bisnis, untuk mendeskripsikan, peneliti, dan menambahkan efisiensi dari prosesproses terhadap tujuan bisnis. Menurut Garimella dkk (2008) BPM adalah kumpulan cara, alat dan teknologi yang digunakan untuk merancang, menetapkan, meneliti, dan mengendalikan. Disisi lain, Jeston dan Nelis (2008) BPM adalah pencapaian tujuan organisasi melalui perbaikan, pengelolaan dan pengendalian dari proses bisnis yang penting proses operasional bisnis BPM merupakan suatu pendekatan manajemen holistik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi bisnis melalui upaya untuk mencapai inovasi, komunikasi dan integrasi dengan teknologi. BPM berupaya melakukan perbaikan proses secara berkelanjutan atau disebut juga proses optimalisasi. Dan yang terakhir, Bizagi (2011) mengemukakannotasi pemodelan proses bisnis adalah notasi grafis yang menggambarkan logika dari langkah-langkah dalam suatu proses bisnis. Notasi ini telah dirancang khusus untuk mengkoordinasikan urutan proses yang mengalir antar partisipan atau aktor dalam kegiatan yang berbeda. PEMBAHASAN Pada fase ini memastikan bahwa strategi organisasi, visi, tujuan strategis, bisnis dan pendorong eksekutif harus dipahami dengan jelas oleh anggota tim proyek. Strategi ini harus dikomunikasikan dan disebarkan kepada para pemangku kepentingan yang terkait khususnya manajemen dan staf sampai menjadi akar dalam budaya organisasi. Tujuan dari strategi organisasi adalah untuk menjelaskan bagaimana strategi, proses manajemen dan proses interaksi serta hubungan antar individu dalam organisasi. Tabel 1. Analisis SWOT Kekuatan 1. Mendapat kepercayaan dari pemangku kepentingan (PT ABC) melalui pekerjaan pengugasan. 2. Komitmen yang kuat dari manajemen dalam peningkatan kinerja (kualitas layanan, hubungan pemangku kepentingan). 3. Memiliki sumber daya manusia dengan usia yang sebagian besar cukup produktif. 4. Hubungan kemitraan yang kuat Kelemahan 1. Tidak memiliki aset fisik. 2. Proses bisnis di internal perusahaan belum terintegrasi secara optimal sehingga koordinasi dan komunikasi kurang efektif. 3. Proses pengendalian pengelolaan perusahaan belum optimal. 4. Keterbatasan akses pendanaan di luar grup PT ABC Peluang 1. Pertumbuhan ekonomi tinggi, nilai tukar relatif stabil sehingga mendorong peningkatan kebutuhan listrik. 2. Program pemerintah dalam pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. 3. Peluang optimalisasi potensi pasar IPP. 4. Diversifikasi produk O&M Ancaman 1. Meningkatnya persaingan dari perusahaanperusahaan jasa O&M baik regional maupun global. 2. Perubahan regulasi (terutama ketenagakerjaan dan ketenagalistrikan) berdampak pada stabilitas bisnis. Berikut ini adalah beberapa langkah Manajemen Proses Bisnis(BPM) yang telah diterapkan: 1. ARSITEKTUR PROSES Fase ini merupakan fase dimana arsitektur dirancang proses. Arsitektur proses merupakan cara organisasi untuk menetapkan kumpulan aturan, prinsip, model untuk pelaksanaan BPM di seluruh organisasi. Arsitektur proses memberikan dasar untuk mendesain dan merealisasikan inisiatif dari proses BPM, dimana proses IT dan arsitektur bisnis harus sejalan dengan strategi organisasi. 1.Tujuan Keseluruhan Standarisasi proses bisnis di internal Meningkatkan keunggulan perusahaan di industri ketenagalistrikan. ✓ Memanfaatkan dan memberdayakan sumber daya Teknologi Informasi sebagai sarana pendukung utama. Prinsip-prinsip umum Meningkatkan daya saing ✓ dibatasi standar internasional. Mendukung upaya ✓ Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan. Meningkatkan komunikasi antara unit dan personal. Pedoman & Model Produk yang Relevan Melibatkan seluruh penanggung jawab proses bisnis dalam pelaksanaan dan pengelolaan rencana Pedoman Organisasi Terkait Komitmen kuat dari manajemen dalam peningkatan kinerja (kualitas layanan, hubungan pemangku kepentingan). ✓ Memiliki sumber daya manusia dengan usia yang sebagian besar cukup produktif. Memiliki hubungan kemitraan yang 5. Pedoman Proses Fokus terhadap perspektifproses ujung ke ujung. ✓ Setiap proses memiliki penanggung jawab. Mengutamakan otomatisasi di setiap aktivitas, namun tetap mengutamakan Pedoman Informasi yang Relevan ✓ Mengevaluasi dari proses bisnis sebelumnya atau yang sedang berjalan saat ini Melibatkan seluruh manajemen Pedoman Teknologi yang Relevan Menggunakan aplikasi berbasis web Menerapkan konsepserver mirroring sebagai langkah awal dalam penangananPemulihan bencana LANDASAN PELUNCURAN Dalam tahap ini, akan diidentifikasi cakupan dan batasan-batasan proyek, menentukan kriteria perancangan dan menginisiasi proyek. Poin utamanya adalah sebagai berikut: ✓ Pemilihan dimana BPM di dalam organisasi akan dimulai. Persetujuan dari tujuan proses dan, atau kunjungan dimana setelah proses ✓ Pembentukan dan pengembangan proyek yang dipilih. Kekuatan pendorong yang melatar belakangi proses inovasi dalam lebar proyek terbagi tiga, yaitu: Harus Berubah Menginginkan Perubahan Dapat Berubah Kekuatan pendorong yang melatar belakangi proyek pengembangan di PT ABC Services adalah Can Change, dimana setiap lapisan dalam organisasi, terutama para pemimpin dalam organisasi telah memasuki tingkat kematangan yang baik. Gambar 2 berikut ini akan menggambarkan Matriks Seleksi Proses. 3. MEMAHAMI Pada fase ini, tim proyek telah memahami secara cukup mengenai keadaan atau lingkungan dari proses bisnis yang sedang berjalan. Hal ini dimaksudkan agar fase inovasi dapat dilakukan. Menentukan prioritas proses di masa yang akan datang sebagai dasar pengukuran perbaikan serta seleksi di fase Innovate mengacu pada American Productivity and Quality Center (APQC) merupakan organisasi yang menyediakan referensi praktik manajemen terkemuka. Gambar 1. Kategori 3.0 Memasarkan dan Menjual Produk dan Layanan 4. INOVASI Yang terlibat dalam fase ini bukan hanya tim proyek dan bisnis tetapi melibatkan para pemangku kepentinganbaik internal maupun eksternal. Ketika berbagai pilihan proses baru diketahui maka dapat dilakukan simulasi. Dalam fase ini dibuat metrik tambahan yang digunakan untuk mengukur metrik yang sebelumnya ditetapkan pada fasememahami. Matriks Seleksi Proses Masa Depan, proses ini dibuat untuk menjelaskan adanya beberapa perubahan dan penambahan pada proses saat ini atau yang sedang berjalan. Gambar 2.Matriks Seleksi ProsesProsedur Standar Pengendalian Pelaksanaan Penjualan Gambar 3.Matriks Seleksi Proses Masa DepanMengelolaHunianPelanggan ORANG BERKEMBANG Dalam kerangka kerja BPM, fase ini merupakan fase yang sangat kritis. Fase ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua aktivitas, peran atau tugas, dan pengukuran kinerja telah sesuai dengan strategi organisasi dan tujuan proses. Matriks Kemampuan Manusia Masa Depanini dapat digunakan untuk analisis keterampilan dan akan memberikan informasi yang berguna tentang penyebab penyimpangan proses yang terjadi di masa yang akan datang. Matriks Kemampuan Manusia Masa Depanini dapat digunakan untuk analisis keterampilan dan akan memberikan informasi yang berguna tentang penyebab penyimpangan proses yang terjadi di masa yang akan datang. Berikut ini adalah Gambar TentangMatriks Kemampuan Manusia Masa Depan. Gambar 4.Matriks Kemampuan Manusia Masa Depan. Fase ini terdiri dari pengembangan semua komponen untuk proses implementasi baru. Hal ini juga melibatkan pengujian perangkat lunak dan perangkat keras. Hasil dari analisa dan evaluasi-evaluasi sebelumnya bertujuan untuk membentuk suatu kerangka Business Process Management System dengan peningkatan kinerja yang dapat membawa keuntungan lebih bagi organisasi. SkemaProses bisnis Sistem manajemenadalah sebagai berikut: 1. Integrasi(Sistem Internal), 2.Otomatisasi ( Proses), 3.Kolaborasi. Keputusan berikutnya adalah pendekatan apa yang ingin diadopsi untuk membuat atau membeli berbagai komponen perangkat lunak. Membeli produk siap pakai yang dapat dikonfigurasi yaitu menggunakan aplikasi ProcessMaker dengan biaya yang efektif dan mudah untuk menggunakan manajemen proses bisnis (BPM) dan aplikasi perangkat lunak alur kerja. 7.MELAKSANAKAN Fase ini merupakan fase dimana semua proses perbaikan yang telah dirancang dan dikembangkan akan dijalankan. Keputusan untuk implementasi akan berdampak pada banyak aspek dalam proyek seperti bagaimana proses dirancang atau didesain ulang, bagaimana pengembangan dan pengujian dapat dilakukan, dan sebagainya. Implementasi Skenario Implementasi Skenario Dentuman Besar Perubahan yang diusulkan diperkenalkan dalam satu perbaikan besar ✓ Keuntungan - cepat untuk diterapkan ✓ Kerugian - tingginya risiko gangguan terhadap bisnis Tabel 2. Skenario Implementasi Paralel Perubahan yang diusulkan dimulai langkah demi langkah, dengan peluncuran perubahan berikutnya akan dimulai tanpa menunggu proses sebelumnya selesai. ✓ Keuntungan - implementasi yang relatif cepat, dan kemampuan untuk memanfaatkan pembelajaran dari implementasi sebelumnya sangat berharga. ✓ Kerugian - sumber daya tambahan akan diperlukan untuk membantu penerapan yang tumpang tindih, dan koordinasi dari peluncuran simultan ini akan tinggi dan berpotensi kompleks. Menyampaikan Perubahan yang diusulkan diperkenalkan demi sesaat, dengan setiap peluncuran hanya dimulai setelah perubahan yang sebelumnya telah selesai. ✓ Keuntungan - kualitas, sebagai pelajaran yang diperoleh dari bentuk sebelumnya, dapat menjadi bahan pertimbangan dan pelaksanaan pada perubahan selanjutnya. ✓ Kerugian - kurangnya kecepatan, karena hal ini pelaksanaannya tergantung pada keadaan, memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan Kombinasi Kombinasi dari eksekusi disebut diatas, mungkin sebuah percobaan kecil dan kemudian membangun eksekusi untuk lebih besar ✓ Keuntungan - enyediakan organisasi dengan manfaat yang menyesuaikan roll-out ke situasi tertentu, fleksibel namun tetap memungkinkan penanganan secara efektif. KESIMPULAN Alma, Buhari. 2009.Manajemen Pemasaran Hasil penelitian berdasarkan penerapan Business Process Management (BPM) pada proses binis mengeksekusi dan mengelola rencana penjualan di Divisi Niaga PT ABC Services dengan mengubah proses manual menjadi digital. Pada prosedur standar pengendalian pelaksanaan penjualan atau pada prosedur pengelolaan pelaksanaan penjualan menghasilkan efisiensi waktu dari yang sebelumnya 26.400 menit menjadi 9.480 menit perbedaannya sebesar 64% dan efisiensi biaya operasional dari yang sebelumnya Rp.30.000.000,- per bulan menjadi Rp.10.772.727, 27 per bulan perbedanya sebesar 64%. Dan pada prosedur pengendalian kontrak pekerjaan jasa atau pada prosedur pengelolaan penyelesaian pelanggan menghasilkan efisiensi waktu dari yang sebelumnya 23.040 menit menjadi 14.400 menit perbedaannya sebesar 38% dan efisiensi biaya operasional dari yang sebelumnya Rp.8.727.272,73 per bulan menjadi Rp.5.454.545 ,45 per bulan perbedaannya sebesar 38%. DAFTAR PUSTAKA dan Pemasaran Jasa. Penerbit Alfabeta, Bandung. Bizagi. 2011.BPMN 2.0 - Proses Bisnis Pemodelan Notasi Bizagi Process Modeler. Bizagi. Footen, John dan Joey Faust. 2008.Itu Perusahaan Media Berorientasi Layanan: SOA, BPM, dan Layanan Web dalam Sistem Media Profesional, Focal Press, Oxford AS. Garimella, K., Less, M., dan Williams, B. 2008. Dasar-dasar BPM untuk Boneka. Perangkat Lunak AG Edisi Khusus. Wiley Publishing, Inc., Indianapolis. Hartono, Bambang. 2013,Sistem Informasi Manajemen Berbasis Komputer. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. Jeston, John dan Johan Nelis. 2008.Bisnis Manajemen Proses: Pedoman Praktis untuk Implementasi yang Berhasil. Elsevier Ltd, Oxford. Kotler, Philip. 2008.Manajemen Pemasaran Edisi 12 Jilid 2. Penerbit Indeks, Jakarta. Lawler, JP, dan Howell-Barber, H. 2008. Arsitektur Berorientasi Layanan: Strategi, Metodologi, dan Teknologi SOA, Grup Taylor dan Francis, Boca Raton, Florida. McLeod, Raymond. 2008.Sistem Informasi Manajemen. Penerbit Salemba Empat. Jakarta. Rahmaji, Danang. 2013.Kegiatan Penerapan Sistem Penetapan Biaya Berbasis untuk Menentukan Harga Pokok Produksi PT. Cilebes Mina Pratama, Jurnal EMBA, Vol. 1 No. Universitas Sam Ratulangi Manado. Sumarni, Murti dan John Soeprihanto. 2010, Pengantar Bisnis (Dasar-dasar Ekonomi Perusahaan) Edisi ke 5. Penerbit Liberty, Yogyakarta. Susanto, Azhar. 2013.Sistem Informasi Akuntansi. Penerbit Lingga Jaya, Bandung. Tjiptono, Fandy. 2011.Pemasaran Jasa. Penerbit Bayumedia, Malang. Taufiq, Rohmat. 2013.Sistem Informasi Manajemen, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
Development Of Coffee Agrotourism in Gombengsari Village, Banyuwangi Regency, East Java Muhammad Ridla Ridla; I Nyoman Sunarta; Ni Made Sofia Wijaya
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 02 (2024): May, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMESC
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this study was to identify the existing condition of coffee plantations as coffee agrotourism and propose a development strategy in Gombengsari Village. We chose this village because many of its residents work on coffee plantations. The approach used is qualitative and descriptive, supported by quantitative data. The data was collected through observation, focus group discussions, interviews, questionnaires, and documentation. Data analysis involved IFE, EFE, IE matrix, SWOT matrix, and QSPM. The results indicated that Gombengsari Village has great potential in component (4A) attraction, accessibility, amenities, and ancillary for agrotourism development and is supported by internal and external factors. IE matrix analysis places agrotourism development in a hold-and-maintain position, with a focus on market penetration and product development. The SWOT analysis has yielded six alternative strategies: (SO) optimization of tourism destination promotion; (WO) enhancement of human resources and facilities; (ST) optimization of cooperation between the government and the private sector; preventive measures; and (WT) improvement of safety and comfort. The QSPM analysis underscores the importance of increasing human resources as a top priority, with a TAS value of 18.24 for developing coffee agrotourism in Gombengsari Village. This indicates that Gombengsari Village has great potential to become a coffee agrotourism destination, which will boost the local economy and attract more tourists.
The Influence of Feature Completeness, Ease of Use and Convenience of Digital Products on Customer Loyalty of PT Bank NTB Syariah Mobile Banking Users with Self-Efficacy as a Moderating Variable Akbar Aditya Maulana; Akhmad Saufi; Dwi Putra Buana Sakti
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 02 (2024): May, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMESC
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to examine the influence of feature completeness, digital product convenience, and digital product convenience on customer loyalty of PT mobile banking users. Bank NTB Syariah with self-efficacy as a moderating variable. The sampling technique used the Slovin formula to obtain a sample of 395 Bank NTB Syariah customers (respondents). The statistical tool used in the research is SEM-PLS version 3.0. Data analysis techniques use descriptive statistics, outer model testing, inner model testing, and hypothesis testing. The results of this research show that the completeness of features directly and partially has a negative and insignificant influence on customer loyalty of Bank NTB Syariah mobile banking users; The ease of use of mobile banking directly and partially has a positive and significant influence on the loyalty of customers using Bank NTB Syariah mobile banking; The convenience of mobile banking products directly and partially has a positive and significant influence on customer loyalty of Bank NTB Syariah mobile banking users; Self-efficacy weakens the influence of feature completeness on customer loyalty; Self-efficacy does not moderate the effect of ease of use on customer loyalty; and Self-efficacy does not moderate the effect of product convenience on customer loyalty.
Vına Sebelum 7 Harı: Netızen Behavıor And Socıal Medıa News Reportıng Wiby Bagaskara; Ramizar Hamka; Mukarto Siwoyo; Dedet Erawati
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 03 (2024): August Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMES
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Social media now plays an important role in the change and innovation of human life because of the efficient and flexible online dissemination of information. The Vina Cirebon murder case is back in the public spotlight after the movie titled Vina Sebelum 7 Hari has been released in theaters. After this case rose again, many social media accounts were competing to provide information updates both about the film and about the development of the case. the purpose of this study is to determine the extent to which the framing made by the media has an effect on the behavior and assessment of netizens on a reported event. The research method used in social media reporting is Robert N. Entman's media framing analysis and qualitative methods. The results of this study show: (1) define the problem in the news issue brings pro value in the Vina Cirebon murder case raised in the film Vina Before 7 Days as the alleged perpetrator of the murder; (2) diagnose causes tend to accentuate the context of the facts revealed by the family visited by 2 mysterious men to stop filming; (3) make moral judgement, namely clarification of the victim's family who were visited by 2 mysterious men to stop a film as a threat; (4) treatment recommendation by emphasizing the allegation that the 2 mysterious men who came to the victim's family were the perpetrators in the Vina Cirebon murder case.
Stakeholder Satısfactıon Wıth Physıcal Infrastructure Development In Rural Areas: Sustaınable Constructıon Approach Aryati Indah Kusumastuti; Ingrid Multirejeki; Arif Firmanto
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 02 (2024): May, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMESC
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

By fulfilling fundamental development objectives like creating jobs, providing for the needs of the community, and achieving sustainable and coordinated urban and rural development, physical infrastructure development in rural areas makes a substantial contribution to the overall economic development of the village. In rural areas, physical infrastructure development approaches have evolved to support sustainable development—that is, economic independence, community involvement, and environmental sustainability—as well as social and economic advancement. The overall goal of this study is to assess how well stakeholders are satisfied with the physical infrastructure built in rural areas in terms of sustainable construction practices. The study was conducted by interviewing stakeholders in rural development in Cirebon Regency. Stakeholders include local (village) and district planners, supervisors, and communities. Sustainable construction is viewed from the perspectives of economic sustainability, social sustainability, and environmental sustainability variables. The data in this study were analyzed using satisfaction index analysis and gap analysis between expectations (weighting), stakeholder assessment, and a t-test. According to the findings, the physical infrastructure development in Cirebon's rural areas has generally been met with satisfaction by stakeholders. There was no significant gap between the expectations and assessments of stakeholders in environmental, economic, and social aspects (p > 0.5). However, of the 16 indicators, there were six indicators (37.5%) that exhibited gaps.
The Strategic Orientation Dimensions İmpact On The Performance Of Micro Enterprises İn Kota Surabaya: Does The Mediating Role Of İnnovation Capability Matter? Henrycus Winarto Santoso; Tri Ratnawati; Mohammad Sihab
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 02 (2024): May, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMESC
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Firm performance is linked to strategic orientation and innovation capability. Only a few studies have examined the link between microenterprise performance, innovation capabilities, and strategy orientation—market, entrepreneurial, learning, technology, and network. Following this call, this study will evaluate the direct influence of strategic orientation dimensions on microenterprises in Kota Surabaya and construct a model to explain the mediation function of innovation capability. We conducted a cross-sectional study of 169 formal microenterprises under Kota Surabaya Cooperatives and Micro Enterprises Service supervision. A positivist perspective and quantitative methodology guided our SEM-PLS 2024 investigation. The results demonstrated that, first, technology orientation, one of the five strategic orientation dimensions, does not affect microenterprise performance. Four other strategic orientation dimensions directly improve microenterprise performance. Second, technology and network orientation, two of the five strategic orientation dimensions, do not affect innovation capabilities. The other three strategic orientation aspects directly improve microenterprise innovation capability. Third, innovation capability directly influences company performance and partially mediates the effects of learning, market, and entrepreneurial orientations. It doesn't mitigate the effects of network orientation and technology orientation.
Price Discount, Ease of Payment, and Self Control Effect Analysis on Impulse Buying in ShopeFood Application Shinta Kamilia Sari; Mutya Azzahra; Agustina Agustina
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 02 (2024): May, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMESC
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to test Impulse Buying, Price Discount, Ease of Payment and Self Control. This study focuses on Shopeefood Marketplace consumers using a saturated sample of 150 people with non-probability sampling techniques. The questionnaire was disseminated through social media. The data collection method uses observation, questionnaires and literature studies. The data processing technique in this study uses the help of a Structural Equation Model (SEM) based on Partial Least Square (PLS) 3.0. The results of the analysis in this study indicate that price discounts, ease of payment, and self-control have a positive and significant effect on impulse buying in ShopeeFood service users.
Implementing The Minimum Service Standards Policy for Fulfilling Neglected Elderly’s Basic Needs Through Institutional Based Social Rehabilitation Asri Muninggar Sari; Bambang Shergi Laksmono
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 02 (2024): May, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMESC
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing elderly population in Indonesia, projected to reach 25% by 2050, presents significant demographic challenges. Currently, elderly individuals make up 11.75% of the population (Direktorat Kesejahteraan Rakyat, 2023). In response, the government has enacted policies, such as the Elderly Welfare Law, to ensure their welfare (Law Number 13 of 1998). However, many elderly still face neglect, struggling with disabilities, basic needs, and lack of familial support, exacerbated by poverty and diminishing family values (Sulastri & Humaedi, 2017). This study explores the implementation of Minimum Service Standards (MSS) in the social sector for neglected elderly in West Java, focusing on the Griya Lansia Elderly Service Center. Utilizing a qualitative approach with descriptive research methods and the data were collected through in-depth interviews and observations. The findings reveal that the implementation of MSS successfully meets all aspects outlined by Edward III (1980), Van Meter & Van Horn (1975), and Rondinelli & Cheema (1983), including environmental conditions, resource availability, and implementer capabilities. Basic services provided include food, clothing, accommodation, health supplies, various forms of guidance, and assistance with national identity registration and family services, effectively addressing the basic needs of neglected elderly individuals.
Integrating Agro-Cultural Tourism: A Product Diversification Model for Sibetan Tourism Village, Karangasem Regency Ida Ayu Kintan Pradnyawati; I Putu Anom; I Made Sendra
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 03 (2024): August Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Science ( AJMES
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to develop a sustainable tourism integration model that combines unique cultural elements and agricultural practices in Sibetan Tourism Village to diversify tourism products. Building on existing research that highlights the potential of agro-cultural tourism, this research employs a qualitative approach with descriptive interpretation, utilizing interviews and observations to gather data. The findings reveal the integration of traditional Balinese ceremonies and indigenous salak farming techniques as key attractions for tourists. Moreover, the study proposes a comprehensive agro-cultural tourism model that emphasizes collaboration among stakeholders, infrastructure development, and sustainable practices. This research contributes new insights to the field of tourism studies by illustrating the importance of leveraging local cultural and agricultural resources to create a memorable and sustainable tourist experience in rural areas. The integration of these elements offers a framework for enhancing community engagement and economic viability, addressing the need for innovative tourism solutions in the region.