cover
Contact Name
Cahya Yuana
Contact Email
editorsendikraf@mail.com
Phone
+6287739836417
Journal Mail Official
sendikrafjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kaliurang Km. 12,5 Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta 55581 elepon (0274) 895803, 895804, 895805
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
ISSN : 27463605     EISSN : 30631734     DOI : https://doi.org/10.70571/PSIK
Core Subject : Education, Art,
Sendikraf adalah jurnal akademik, akses terbuka, dan peer-review. Diterbitkan pertama kali pada bulan November 2020 oleh BBPPMPV Seni dan Budaya yang merupakan unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. BBPPMPV Seni dan Budaya bertugas meningkatkan kompetensi guru pendidikan vokasi dan melaksanakan penjaminan mutu pendidikan vokasi. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Mei dan November. Memuat artikel-artikel baik yang berbasis penelitian maupun kajian non-penelitian serta gagasan-gagasan konseptual dalam bidang pendidikan seni dan industri kreatif. Pengiriman artikel terbuka sepanjang tahun. Sebelum mengirimkan artikel, harap pastikan artikel tersebut sesuai dengan fokus dan gaya Sendikraf. Pedoman dan tata cara penyerahan dapat diakses lebih lanjut pada bagian penyerahan online.
Articles 133 Documents
PEMBARUAN UBRUG SENTRA AGATA MELALUI KOLABORASI: TELAAH BENTUK ESTETIS THE “UBRUG” RENEWAL OF SENTRA AGATA THROUGH C Zanuar Eko Rahayu
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 2 No. 2 (2021): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v2i2.113

Abstract

The current study aims at (1) describing any collaborated arts elements in the ubrug renewal carried out by arts extracurricular activities of Sentra Agata in SMAN 2 Pandeglang Banten, and (2) analysing the aesthetic form of "ubrug” renewal using the principles of unity, theme, thematic variations, balance, evolution, and hierarchy. The techniques of analysis include doing ubrug-related library research, interviewing ubrug doers and arts academics, and applying aesthetic form theory to analyze the seen performances. The findings of this study demonstrate that renewals are carried out through “ubrug” collaboration with the arts of puppetry that is present as a source of stories, the narration of “murwa” puppet style in the opening scene, the figure of Semar in the form of “golek” puppets, and the arts of “bedug” in the composition of music for “tatalu” and “lalaguan”, the action of “ngadu bedug”, and “bedug rampak” at the end of the performances. The “ubrug” renewal through collaboration, correspondingly, justifies all principles of aesthetic form characteristic so that the blend of performance could be produced.
PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI TARI KREASI MELALUI PROJECT-BASED LEARNING BERBANTUAN APLIKASI TIKTOK Diah Purwandar
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 2 No. 2 (2021): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v2i2.114

Abstract

The aim of the current research project is to enhance students’ learning motivation and their ability in developing creative dance choreography design through the employment of projectbased learning model assisted by TikTok application for 36 (thirty-six) eleventh graders of SMA Negeri 5 Yogyakarta. Classroom Action Research using Kemmis and Targart model (1988) was adopted in this study, in which there are four components in its design, namely planning, action, observation, and reflection. Data were collected through observation with its field notes, documentation, questionnaires, interviews, and product assessment, and were analysed using qualitative descriptive technique. The result of the study demonstrates that the implementation of project-based learning assisted by TikTok application can enhance students’ motivation and their ability indicated by their learning achievement in developing choreography design of creative dance materials.
ESENSI PENDIDIKAN SENI DALAM DOLANAN ANAK JAMURAN DAN CUBLAK-CUBLAK SUWENG DI TAMAN MUDA PAWIYATAN TAMAN SISWA YOGYAKARTA Gusyanti
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 1 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i1.117

Abstract

The aim of the current study is to bring to light the essentials of arts education in traditionalchildren’s games “Jamuran” and “Cublak-cublak Suweng” being taught in Taman MudaPawiyatan Taman Siswa Yogyakarta. The study employs Suryahadi’s conceptual thinking(2008) about the essentials of arts education, namely sensitivity, creativity, appreciation, andproductivity. The results of the study demonstrate that in the learning process, “Jamuran” and“Cublak-cublak Suweng” contain the essentials of arts education. Aspect of sensitivity is putforward through the moment of how students get along with movements, songs, and rhythms.Aspect of creativity is demonstrated through the creation of movements, expression, and thedance by request of one of the students playing the game, or by certain commitment associatedwith the game. Appreciation aspect is found out through the reward for playing the gamewhich is carried out while singing, dancing, and showing facial expression, both when theplayer wins or loses. Aspect of productivity is presented through the ideas of the form ofpleasant punishment for the players of the game who lose or disobey the rules of the games. Tujuan dari kajian ini adalah mengungkapkan esensi pendidikan seni dalam dolanan anakJamuran dan Cublak-cublak Suweng yang diajarkan di Taman Muda Pawiyatan Taman SiswaYogyakarta. Kajian ini menggunakan pemikiran konseptual Suryahadi (2008) mengenaiesensi pendidikan seni yang terdiri dari empat aspek, yaitu sensitivitas, kreativitas, apresiasi,dan produktivitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa Jamuran dan Cublak-cublak Suwengmemuat esensi pendidikan seni dalam proses pembelajarannya. Aspek sensitivitas ditunjukkanmelalui penyikapan gerak, lagu, dan irama. Aspek kreativitas terlihat dalam penciptaan gerak,ekspresi, dan tarian atas permintaan dari salah satu anggota dalam permainan atau ataskesepakatan tertentu terkait permainan. Aspek apresiasi diperlihatkan melalui penghargaanatas jalannya permainan yang dilakukan sambil menyanyi, menari, dan ekspresi wajah, baikketika pemain sedang berada dalam posisi menang atau kalah. Aspek produktivitas terlihatmelalui munculnya gagasan atau ide atas bentuk hukuman yang menyenangkan bagi pemainyang kalah atau melanggar peraturan permainan
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN TARI GOLEK ASMARANDANA KENYA TINEMBE DENGAN MEDIA DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA SMK SENI BUDAYA Gusyanti
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.118

Abstract

The 21st century learning is characterized by embracing rapid technological advances, therebyopening up ways for students to learn other than through teacher facilitation. This requiresstudents to learn creatively, yet not abandon the spiritual values as part of their characters. Thisresearch aims to develop a learning model for Golek Asmarandana Kenya Tinembe Dance usingdigital media to effectively increase the spirituality of students in vocational high schools in artsand culture. This research is a development research that adopts the Borg, Gall, and Gall models.The research subjects are students of class X at SMKN 1 Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta. Modeldevelopment utilizes digital media with the Smart Apps Creator (SAC) application. Data wasobtained through questionnaires filled out by teachers and students. Data on the effectiveness oflearning model development research is qualitative and quantitative, obtained by means ofnormality tests and homogeneity tests. The conclusions of this research are: (1) The results ofthe normality test, the control class is at a significance level of α = 0.05 with a pre-test sig valueof 0.083 > 0.05 and a post-test sig value of 0.200 > 0.05, meaning it is normally distributed. Inthe experimental class, at the significance level α = 0.05 with a pre-test sig value of 0.200 > 0.05and a post-test sig value of 0.063 > 0.05, meaning it is normally distributed; (2) The results ofthe homogeneity test show that the Lavene Statistics pre-test value is 0.610 with a significancevalue of 0.437 > 0.05 and that the Lavene Statistics post-test value is 0.742 with a significancevalue of 0.391 > 0.05, so it can be concluded that they have the same variance (homogeneous);(3) Based on the independent sample test output with a post-test sig value of 0.000<0.05, it canbe concluded that H0 is rejected or there is a significant difference between the average of theexperimental class and the control class. Pembelajaran abad ke-21 memiliki ciri pesatnya kemajuan teknologi, sehingga terbuka lebar carabelajar siswa selain fasilitasi guru. Hal ini menuntut siswa harus belajar dengan kreatif namuntidak meninggalkan nilai spiritualitas bagian dari karakter. Penelitian ini bertujuanmengembangkan model pembelajaran tari Golek Asmarandana Kenya Tinembe dengan mediadigital untuk meningkatkan spiritualitas siswa SMK Seni Budaya yang efektif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yangmengadopsi model Borg, Gall, dan Gall.Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMKN 1 Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pengembanganmodel memanfaatkan media digital dengan aplikasi Smart Apps Creator (SAC). Data didapatkanmelalui angket kepada guru dan siswa. Data keefektivan penelitian pengembangan modelpembelajaran berupa data kualitatif dan kuantitatif, yang didapatkan dengan cara uji normalitasdan uji homogenitas.Kesimpulan penelitian Efektivitas Pengembangan Model Pembelajaran Tari GolekAsmarandana Kenya Tinembe dengan Media Digital untuk Meningkatkan Spiritualitas SiswaSMK Seni Budaya, sebagai berikut: (1) Hasil uji normalitas, kelas kontrol pada taraf signifikansiα = 0,05 dengan nilai pretest sig sebesar 0,083 > 0,05 dan nilai posttest sig sebesar 0,200 > 0,05,artinya berdistribusi normal. Pada kelas eksperimen, pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan nilaipretest sig sebesar 0,200 > 0,05 dan nilai posttest sig sebesar 0,063 > 0,05, artinya berdistribusinormal. (2). Hasil Uji Homogenitas, bahwa nilai lavene Statistic pretest sebesar 0,610 dengannilai signifikansi sebesar 0,437 > 0,05 dan bahwa nilai lavene Statistic posttest sebesar 0,742dengan nilai signifikansi sebesar 0,391 > 0,05 Sehingga dapat disimpulkan bahwa memilikivarians yang sama (homogen). (3). Berdasarkan output independent sampel test dengan nilai sigposttest sebesar 0,000< 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak atau terdapatperbedaan yang signifikan antara rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol.  
DIFUSI INOVASI GAMELAN VIRTUAL UNTUK PEMBELAJARAN Urip Wahyono
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.119

Abstract

LLearning gamelan is starting to gain a lot of interest. It can be seen from the increasing demandfor learning gamelan in primary and secondary as well as vocational schools in the DaerahIstimewa Yogyakarta Province in particular. However, one of the existing obstacles is the limitedprocurement of gamelan set due to the high price of gamelan instruments, which cost up tohundreds of millions. Therefore, it needs to be a breakthrough way to solve this problem so thatstudents can learn gamelan without using conventional gamelan equipment. One of which isutilizing technological developments as an alternative learning to support gamelan learning. Theuse of media in the learning process is an effort to improve the quality of the learning processwhich can ultimately improve the quality of student learning outcomes. Accordingly, a diffusionof innovation is very necessary in order to stay relevant and not to be left behind from the currentdevelopments. We must always innovate so that we can continue to follow the direction of thedevelopments and meet the needs of many users from millennials and generation Z. This diffusionof innovation requires breakthroughs in the field of arts and culture education, namely bycreating applications that collaborate technology and arts so that it remains popular and ofinterest to students. It is expected that virtual gamelan will be a new breakthrough to answer thechallenges of developing educational technology that is used by educators and students as analternative learning medium nowadays. Belajar gamelan mulai banyak diminati, hal ini terlihat adanya permintaan untuk belajargamelan yang semakin meningkat di satuan pendidikan baik dari Jenjang dasar dan menengahmaupun SMK di Wilayah D.I Yogyakarta khususnya. Namun yang masih menjadi kendala yaituketerbatasan pengadaan gamelan, dikarenakan mahalnya harga instrumen gamelan yangmencapai ratusan juta. Oleh karena itu perlu ada terobosan untuk memecahkan masalah tersebutagar siswa dapat belajar gamelan tanpa menggunakan peralatan gamelan yang konvensional,salah satunya memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai alternatif belajar untukmendukung dalam belajar gamelan. Penggunaan media dalam proses pembelajaran merupakansalah satu upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang pada akhirnya dapatmeningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Melihat hal tersebut sebuah difusi inovasi sangatdiperlukan agar tidak tertinggal jauh dengan perkembangan jaman dan begitu juga bidangpendidikan, kita harus selalu berinovasi agar tetap bisa mengikuti arah perkembangan jaman danmemenuhi kebutuhan pengguna yang banyak dari kalangan milenial dan generasi Z. Difusiinovasi ini diperlukan terobosan di bidang pendidikan seni dan budaya, yaitu dengan caramembuat aplikasi yang mengkolaborasikan teknologi dan seni agar tetap digemari dan diminatioleh kalangan pelajar. Gamelan virtual diharapkan menjadi sebuah terobosan baru untukmenjawab tantangan perkembangan teknologi pendidikan yang digunakan para pendidik maupunpeserta didik sebagai media pembelajaran alternatif pembelajaran saat ini.
PENGEMBANGAN MODEL MANAJEMEN PENDIDIKAN MUATAN LOKAL BATIK Sardi
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 3 No. 2 (2022): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v3i2.120

Abstract

The purpose of this study is to generate a model of education management of “batik” as alocal content for elementary and junior high school teachers as an effort to preserve anddevelop the potential of natural coloring batik in Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,Daerah Istimewa Yogyakarta. The research design employs sequential exploratory strategiesapplying research and development models of Borg and Gall (1989). As an experimentalclass, there were six elementary schools and one public junior high school in GedangsariGunungkidul, and as a control class there were three elementary schools and one juniorhigh school in Pandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. The results of this study demonstratethat the implementation of education management model of batik simultaneously bringsabout elementary school teachers and junior high school teachers’ mastery of the substanceof batik as the teaching materials of local content. The development of educationmanagement model of batik for elementary and junior high school teachers had been testedfor its validity and reliability, verifying the conditions of relevance, effectiveness, andefficiency to be applied in the teaching of local content of batik in a wider scope. The findingof the study also reveals that natural coloring of batik in Gedangsari, Gunungkidul, was partof “pedesan (bedesan)” batik group with a typical motif affected by Surakarta batik,especially Mangkunegaran style with brownish black background colors, and byNgayogyakarta Hadiningrat motif with typical white background “sogan”, which in thefollowing phase has been developing into varied and rich motifs and coloring affected byhandmade batik from coastal and other areas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan model manajemen pendidikan lifeskills batik bagi guru SD dan SMP sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan potensibatik pewarna alami di Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah IstimewaYogyakarta. Desain penelitian menggunakan strategi sequential exploratory dengan modelpenelitian dan pengembangan Borg and Gall (1989). Sebagai kelas eksperimen, terdapatenam SD negeri dan satu SMP negeri di Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,dan sebagai kelas kontrol/dampak adalah tiga SD negeri dan satu SMP negeri di KecamatanPandak, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaimplementasi dari model manajemen pendidikan batik sebagai konten lokal membuat guru-guru sekolah dasar dan sekolah menengah pertama menguasai substansi batik sebagai bahanajar muatan lokal. Pengembangan model manajemen pendidikan untuk pembelajaran batikini telah diujikan untuk validitas dan reliabilitasnya, yang memberikan verifikasi terhadaprelevansi, efektivitas, serta efisiensinya untuk diterapkan dalam pembelajaran muatan lokalbatik secara lebih luas. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pewarnaan alami batik diGedangsari, Gunungkidul, dipengaruhi oleh batik Surakarta, terutama batik Mangkunegarandengan latar belakang kecokelatan hitam, dan oleh motif Ngayogyakarta Hadiningrat dengankarakteristik latar belakang putih khas “sogan”, yang pada tahap selanjutnya berkembangdengan pengaruh motif dan pewarnaan batik pesisiran dan batik buatan dari daerah lainnya,sehingga variasi, motif dan pewarnaan menjadi semakin kaya dan bervariasi.
DESAIN PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS SEBAGAI MATA PELAJARAN KEJURUAN PADA KURIKULUM MERDEKA: CONTOH APLIKASI PADA KONSENTRASI KEAHLIAN ANIMASI Rin Surtantini
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 1 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i1.121

Abstract

The current article is a response toward the significance of analysis which brings about theapplicable scheme in the learning process of “Kurikulum Merdeka” launched by The Ministryof Education, Culture, Research, and Technology of the Republic of Indonesia (2021). In thestructure of “Kurikulum Merdeka” in Vocational High School, English is included as one ofthe vocational subjects implying that the design of the lessons and the themes to bring up inthe learning process should be incorporated with the areas of expertise available in thecurriculum of Vocational High School. Hence, the meaningful lessons for the students arelikely to take place. By means of the analysis toward the learning achievement in “KurikulumMerdeka”, the article puts forward an application sample of English lesson as vocationalsubject in the concentration of Animation as one of the expertise areas of Arts and CreativeEconomics. In addition, the principles of arts integration lesson, differentiated learning, andsocial emotional instruction are included in the learning design as an attempt to interconnectthe pedagogical aspects in the lesson design.
KOLABORASI INTERDISIPLINER DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN: SENI TEATER DAN MATA PELAJARAN LAIN Rin Surtantini; Eko Santoso
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 1 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i1.122

Abstract

Designing Project-Based Learning in the subjects of concentration in Vocational High Schoolwhich is integrated with other subjects has become a challenge for vocational high schoolteachers in the light of “Kurikulum Merdeka” implementation. The current article attempts tobe part of initiative contribution towards developmental trend of study, research, conceptualor practical ideas on Project-Based Learning (PjBL) in Vocational High School. The planningof collaborative PjBL process and the outline of PjBL integrated learning modules arepresented as a sample of PjBL design in the subject of Theater in collaboration with othersubjects in “Kurikulum Merdeka”. The steps in designing PjBL consist of (1) designingproduct or services; (2) making product or doing services; (3) controlling the quality; and (4)marketing product or services
GEJOG LESUNG SANGGAR SANGIR MEMANFAATKAN KISAH MASA LALU DAN MASA KINI DARI SANGIRAN Wiwit Hermanto
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 4 No. 2 (2023): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v4i2.123

Abstract

The aim of this study is to introduce gejog lesung by Sanggar Sangir at the Sangiran Site. Theresults of the study revealed that; (1) The studio was founded in 2015 with the initiation of theRuang Theater community and the agreement of several residents of Ngampon, Krikilan Village,Kalijambe District, Sragen Regency, (2) Every problem that occurs in the studio is resolved usinga deliberative approach and returned to the principle of self-actualization through the art of gejoglesung in free time, (3) Work in the form of songs sung other than those which are commonlyknown to the public as well as their own work as a creative effort to make the performance uniqueby combining stories from the past and daily life in Sangiran, (4) The uniqueness of the workmakes Sanggar Sangir's gejog lesung receive invitations to perform both in the surrounding areaand outside the city, and (5) Sanggar Sangir's seriousness in developing gejog lesung receivedfacilitation from the Sangiran Ancient Human Museum in 2017 and 2018 in the form of developingknowledge and improving art quality. Tujuan dari kajian ini adalah mengenalkan gejog lesung Sanggar Sangir yang ada di di SitusSangiran. Hasil kajian mengungkapkan bahwa; (1) Awal berdiri sanggar adalah tahun 2015 atasinisiasi komunitas Teater Ruang dan kesepakatan beberapa warga Dusun Ngampon, DesaKrikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, (2) Setiap permasalahan yang terjadi di dalamsanggar diselesaikan dengan pendekatan musyawarah dan dikembalikan pada prinsip aktualisasidiri melalui seni gejog lesung dengan memanfaatkan waktu luang, (3) Karya berupa lagu yangdibawakan selain yang sudah umum dikenal masyarakat juga karya sendiri sebagai upaya kreatifuntuk membuat pementasan menjadi khas melalui pemaduan kisah masa lalu dan kehidupansehari-hari di Sangiran, (4) Kekhasan karya menjadikan seni gejog lesung Sanggar Sangirmendapatkan undangan pentas baik di wilayah sekitar maupun luar kota, dan (5) KeseriusanSanggar Sangir dalam mengembangkan seni gejog lesung mendapatkan fasilitasi dari Museum
STRATEGI IMPLEMENTASI MOTIF BATIK KHAS SANGIRAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN SITUS SANGIRAN: THE IMPLEMENTATION STRATEGY OF BATIK PATTERNS FROM SANGIRAN AS A WAY TO PRESERVE THE SANGIRAN SITE Wiwit Hermanto
SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif Vol. 5 No. 1 (2024): SENDIKRAF Jurnal Pendidikan Seni dan Industri Kreatif
Publisher : BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70571/psik.v5i1.124

Abstract

In 1996, UNESCO gives recognition to Sangiran as the Cultural World Heritage because of the importance contribution in knowledge such as the finding of human fossil, soil layers, artifacts, and fossil of fauna. Beside archaeology potential, the societies who live there also have cultural potential such as knowledge and traditional technology, natural resources and vegetation. The potential encourage BPSMP Sangiran to do a revitalization of batik pattern in order to highlight the importance value of Sangiran Site. Through batik pattern from Sangiran, it becomes a part of 2 preservation of Cultural World Heritage; they are tangible heritage and intangible heritage. The purpose of revitalizing batik from sangiran is to raise the characteristics of this site, provide benefits for the society, as a means of education, socialization, and invite them to participate in preserving the Sangiran Site. Batik pattern from Sangiran can be a way to preserve the Sangiran site which can be carried out and developed, mass production, exclusive marketing, support and participation of the government and non-government parties. There are many challenges to develop, and the writer gives solution to answer it. Tahun 1996 UNESCO memberikan pengakuan pada Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia karena kontribusi penting dari situs ini berupa temuan fosil manusia, perlapisan tanah, artefak, dan fosil fauna. Selain potensi arkeologi, masyarakat yang mendiami situs ini memiliki potensi budaya berupa pengetahuan dan teknologi tradisional, kekayaan alam, dan vegetasi. Potensi tersebut mendorong Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk melakukan revitalisasi dengan menyasar motif batik guna mengangkat nilai penting Situs Sangiran. Melalui motif batik khas Sangiran, menjadi bagian pekerjaan pelestarian 2 Warisan Budaya Dunia Indonesia yang telah diakui dunia, yaitu pelestarian budaya bendawi (tangible heritage) dan non bendawi (intangible heritage). Tujuan revitalisasi motif batik adalah untuk mengangkat ciri khas yang ada pada situs ini, sarana edukasi, sosialisasi, serta mengajak masyarakat berperan melestarikan Situs Sangiran. Pengembangan motif batik khas Sangiran dapat sebagai salah satu upaya pelestarian Situs Sangiran ke depan akan menemui berbagai tantangan. Solusi yang diberikan dalam menjawab tantangan berupa pengajuan hak cipta, melakukan produksi massal, merencanakan pemasaran yang tepat, dan pengembangan motif batik khas Sangiran.

Page 5 of 14 | Total Record : 133