cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 544 Documents
Pengaruh Mutu Bahan Bakar Minyak Solar 48 dan 51 terhadap Pembentukan Emisi Partikulat pada Kendaraan Bermotor Maymuchar; Cahyo S. Wibowo
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emisi partikulat (PM) adalah produk emisi dari proses pembakaran pada mesin diesel. Usaha untuk mengurangi emisi ini salah satunya adalah perbaikan mutu bahan bakar solar. Di Indonesia terdapat dua jenis bahan bakar solar yang diatur dalam Surat Keputusan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas, yaitu solar 48 dan 51. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besarpengaruh mutu bahan bakar solar yang ada di pasar domestik ini terhadap pembentukan emisi par-tikulat pada kendaraan bermotor. Pengukuran emisi partikulat dilakukan pada chassis dinamometer dengan beberapa variasi kecepatan. Kendaraan yang menggunakan solar 51 menghasilkan emisi partikulat lebih kecil dibanding solar 48. Perbedaanya adalah 10% pada kecepatan idle, 19% pada kecepatan 15km/jam, 15% pada kecepatan 30km/jam, 12% pada kecepatan 50km/jam dan 56% pada kecepatan 80 km/jam. Penurunan emisi partikulat ini sangat dipengaruhi oleh mutu bahan bakar solar dan kandungan sulfur yang rendah dimana angka setana yang tinggi akan memperbaiki karakteristik pembakaran dan kandungan sulfur yang rendah akan mengurangi kontribusinya dalam emisi partikulat.
Analisis Kandungan Partikel Pengotor pada Minyak Lumas Kendaraan Milda Fibria; Rona Malam Karina
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap minyak lumas kendaraan yang beredar di pasaran untuk melihat tingkat kebersihan minyak lumas di Indonesia. Pengujian karakteristik fisika/kimia pelumas dilakukan dengan menggunakan alat uji Contamination Control System (CCS2) dengan mengacu pada spesifikasi ISO 4406. Hasilnya adalah bahwa dari beberapa sampel pelumas yang diuji terdapat pelumas dengan kandungan pertikel kontaminasi berukuran 4μm sampai dengan 37μm dengan jumlah yang melebihi batas maksimum spesifikasi. Kandungan partikel dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan berkurangnya kinerja mesin kendaraan. Oleh sebab itu diharapkan indusri pelumas harus lebih memperhatikan aspek kebersihan pelumasnya.
Sintesis Nanopartikel Adsorben Desulfurisasi Berbasis Besi Oksida dan Aplikasinya pada Peningkatan Kualitas Gas Bumi Lisna Rosmayati; Yayun A; Edi W; Yusep K. Caryana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan zat pengotor dalam gas bumi yang seringkali menjadi permasalahan karena dampak negatif yang ditimbulkannya dan pengaruhnya terhadap penurunan kualitas gas bumi. Salah satu zat pengotor dalam gas bumi adalah senyawa hidrogen sulfida (H2S) yang berpotensi menyebabkan korosivitas pada sistem perpipaan dan peralatan gas bumi karena hidrogen sulfida (H2S) dengan adanya H2O akan membentuk senyawa H2SO4 atau H2SO3 yang bersifat asam. Selain itu, hidrogen sulfida (H2S) juga dapat mempercepat pembentukan hidrat gas dan meracuni aktivitas katalis dalam proses reaksi hidrokarbon. Salah satu cara untuk mengeliminasi H2S dalam gas bumi adalah teknik desulfurisasi, yaitu menggunakan adsorben berbasis besi oksida. Sifat adsoben berbasis besi oksida (Fe2O3) dengan partikel nano memiliki jumlah dan luas permukaan yang besar, sehingga dapat menurunkan kandungan H2S hingga konsentrasi tertentu dengan laju reaksi yang relatif cepat. Reaksi H2S dengan Fe2O3 akan menghasilkan senyawa besi sulfida yang dapat diregenerasi. Teknik ini dapat diaplikasikan pada gas bumi yang mengandung H2S dengan konsentrasi rendah (300 ppm). Sintesis nanopartikel adsorben berbasis besi oksida diketahui memiliki kapasitas adsorpsi yang cukup besar, sehingga dapat menurunkan kandungan H2S hingga konsentrasi tertentu dengan laju reaksi yang relatif cepat. Pembuatan nano partikel absorben Fe2O3 dilakukan dengan menggunakan metode dekomposisi thermal.
Pengaruh Air dan Etanol terhadap Reaktivitas Hidrogenolisis Isoamil Alkohol pada Katalis Ni/Zeolit Triyono; Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air, etanol (etilalkohol) dan isoamil-alkohol dapat membentuk larutan azeotroph. Di dalam limbah cair, keberadaan alkohol selalu didapatkan bersama-sama dengan larutan berair. Minyak fusel mengandung berbagai macam senyawa alkohol, seperti etanol dan isoamilalkohol. Di dalam penelitian ini, dilakukan proses hidrogenolisis antara campuran isoamil-alkohol dengan air dan juga campuran antara isoamil-alkohol dan etanol dengan masing-masing kadar air atau etanol yang divariasikan. Katalis yang digunakan adalah Ni/Zeolit dengan kandungan Nikel 0,4% berat yang dibuat dengan metoda impregnasi basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila jumlah kadar air meningkat (bertambah) maka konversi isoamil-alkohol akan menurun (berkurang). Di lain fihak, bila jumlah kadar etanol meningkat (bertambah) maka konversi isoamil-alkohol akan meningkat (bertambah).
Kajian Kelayakan Pemanfaatan Gas Suar Bakar untuk Pabrik Pupuk Skala Kecil Paramitha Widiastuti; Aziz Masykur Lubad
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Volume gas suar bakar di Indonesia masih cukup besar, yakni sekitar 310,7 MMSCFD atau sekitar 3,9% dari total utilisasi gas Indonesia (status 2008). Gas suar bakar merupakan gas buangan dari hasil operasi normal kilang, petrokimia, dan fasilitas operasi lainnya yang disalurkan untuk dibakar. Pembakaran gas sisa ini merupakan pemborosan energi dan meningkatkan CO2 di atmosfer. Pemanfaatan gas suar bakar ini seringkali terkendala oleh volume gas yang relatif kecil dan menyebar serta jauh dari infrastruktur pipa transmisi atau distribusi. Dengan adanya kendala kendala tersebut maka opsi-opsi lain untuk pemanfaatan gas suar bakar masih sangat diperlukan. Gas suar bakar dan gas dari lapangan marjinal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pabrik pupuk. Pada kajian ini dilakukan kajian kelayakan gas bumi skala kecil untuk pabrik pupuk skala kecil. Metodologi dari studi ini antara lain adalah survei lapangan dan evaluasi data, studi literatur, pemilihan teknologi, rancangan diagram alir proses dan perhitungan keekonomian. Rancangan kapasitas untuk pabrik pupuk dapat dibagi menjadi skala kecil, medium atau besar. Pada kajian ini, pabrik pupuk didesain sebagai pabrik pupuk skala kecil dengan kapasitas gas umpan sebesar 3,5-8,5 MMSCFD. Pembuatan pupuk urea dapat dibagi menjadi unit amonia dan unit urea. Simulasi proses pabrik pupuk skala kecil ini dibuat dengan pendekatan pada sistem pembuatan amonia dan urea secara konvensional. Berdasarkan hasil simulasi untuk kapasitas gas 5 MMSCFD, unit amonia memproduksi 223 ton amonia/hari dan unit urea menghasilkan 380 ton urea/hari. Perhitungan keekonomian dilakukan pada empat skenario gas umpan antara 3,5-8,5 MMSCFD dan harga urea 380 US$/ton. Asumsi yang digunakan adalah debt-equity ratio 30% discount rate 11% dengan daya beli gas umpan sebesar US$1 US$3/MMBTU. Pengembangan pabrik pupuk skala kecil cukup layak dikembangkan pada skenario tertentu, yakni skenario dengan laju alir gas di atas 6,5 MMSCFD, memberikan nilai IRR masih di atas nilai bunga bank yakni 11% dan nilai NPV dari pembangunan ini positif.
Bahan Bakar Nabati Biodiesel dan Jaminan Mutu Biodiesel Yanni Kussuryani; Chairil Anwar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumsi bahan bakar diesel baik di sektor otomotif maupun industri kian meningkat yang berakibat perbandingan volume antara produksi dan konsumsi dalam negeri sudah tidak seimbang. Biodiesel dapat dimanfaatkan sebagai pencampur minyak solar atau sebagai salah satu pengganti minyak solar/minyak diesel, baik untuk bahan bakar transportasi maupun industri.Spesifikasi dan standar mutu Biodiesel (B-100) telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional dalam SNI 04-7182-2006. Karakteristik dari produk biodiesel (B-100) yang dipasarkan harus memenuhi standar mutu biodiesel, begitu pula dalam campuran minyak solar, campuran tersebut harus memenuhi standar mutu sesuai acuan pada spesifikasi minyak solar/diesel yang ditetapkan oleh pemerintah. Sertifikasi produk diperlukan untuk memberikan jaminan mutu kepada pelanggan. Sertifikasiproduk menyatakan kesesuaian suatu produk yang dihasilkan secara berulang oleh suatu unit produksi terhadap standar produk atau regulasi teknis tertentu.
Kelayakan Ekonomi Pabrik Bioetanol Kapasitas 60 Kl Per Hari Danang Sismartono; Niken Atmi Sutrisningrum; Heru Prasetio
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menguji kelayakan ekonomi dengan studi kasus pabrik bioetanol kapasitas 60 kl per hari, hasil simulasi cashflow model ekonomi didapatkan harga jual bioetanol Rp 4.233 per liter dan indikator ekonomi IRR 17,99%, NPV Rp 7.816 Milyar, POT 6.1 tahun dan PI 1.15. Hasil tersebut merepresentasikan bahwa secara ekonomi pabrik bioetanol kapasitas 60 kl per hari layak untuk didirikan. Kelayakan ekonomi yang dihasilkan dapat digunakan oleh Badan Usaha atau Badan Usaha Tetap dalam memutuskan kebijakan bisnisnya.
Tinjauan Kritis terhadap Periodisasi Undang-Undang Paten di Indonesia dan Hubungannya dengan Peningkatan Jumlah Paten Domestik Mercy Marvel
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penghapusan pengaturan atau penghapusan penyebutan “ Pemeriksa Paten “ dari Undang-Undang Paten, tidak perlu dilakukan sebagaimana telah dilakukan pada ”Naskah RUU Paten”. Alasannya, karena Pemeriksa Paten mempunyai tugas utama membantu pemerintah dalam memberikan hak ekslusif paten pada masyarakat yang sesungguhnya mutlak diperlukan dalam Undang-Undang Paten sebagai payung hukum yang kuat. Penghapusan dan perubahan Pasal 51 dan Pasal 1 ayat (8) sangat bertentangan dengan semangat Pemerintah R.I yang justru mendorong lahirnya jabatan fungsional untuk mendukung profesionalisme dan akuntabilitas publik. Indonesia sampai dengan ketiga periodisasi Undang-Undang Patennya saat ini, selama 16 tahun belum mampu meningkatkan jumlah (%) pertumbuhan paten domestik yang didominasi oleh jumlah (%) pertumbuhan paten asing 92,56 %. Oleh karena itu untuk memperkuat Undang-Undang Paten ke depan, diperlukan bangunan Sistem Hukum Hak Kekayaan Intelektual, selain mampu melindungi lebih banyak lagi teknologi paten domestik yang berasal dari industri dalam negeri sendiri, tetapi juga harus dapat mendorong dan lebih mengutamakan kepentingan nasional.
Program Nasional Biofuel dan Realitasnya di Indonesia Aziz Masykur Lubad; Paramita Widiastuti
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sisa cadangan minyak mentah Indonesia hanya sekitar 9 miliar barrel. Jika dengan laju produksi rata rata 500 juta barrel per tahun dan tidak ditemukan sumber minyak baru, cadangan tersebut akan habis dalam waktu 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan yaitu biofuel atau bahan bakar nabati (BBN). Pemilihan BBN sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku. Melalui Kebijakan Energi Nasional, komposisi BBN dalam Energy Mix Nasional ditargetkan mencapai 5% pada tahun 2025 sedangkan melalui Roadmap pengembangan BBN, komposisi BBN dan bahan bakar fosil ditargetkan mencapai 15 persen berbanding 85 persen antara tahun 2009-2010. Untuk mencapai target tersebut, kebutuhan nasional untuk BBN sedikitnya 18 miliar liter per tahun. Akan tetapi keterbatasan bahan baku menjadi kendala utama karena harus berbagi dengan berbagai industri lain.
Keekonomian Energi Alternatif Adsorbed Natural Gas (ANG) pada Skala Kecil Dan Menengah Ika Kaifiah; Yusep K. Caryana; Danang Sismartono; Dewi Widyaningrum
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu teknologi alternatif distribusi gas bumi untuk mensubstitusi minyak tanah adalah teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG). Teknologi ANG, adalah teknik penyimpanan dan distribusi gas dengan menggunakan adsorben karbon aktif (karbon monolith) pada temperatur ambien dan tekanan operasi sekitar 30 Bar yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan tekananoperasi CNG sekitar 200 Bar. Namun demikian, pada penerapan teknologi ANG untuk distribusi gas bumi ini perlu dilakukananalisis keekonomian sebelum diimplementasikan secara komersial. Analisis keekonomian yang dilakukan didasarkan pada mekanisme bisnis yang berimbang, artinya pada setiap lini usaha distribusi ANG diberikan asumsi pengembalian modal yang layak dengan IRR 15% untuk badan usaha fasilitas pengisian dan agen, dan 20% untuk badan usaha subagen. Harga jual ANG pada tingkat konsumen dengan sistem distribusi langsung per tabung berturut-turut adalah untuk wilayah kajian Bali Rp 15.688,- Medan Rp 10.842,- DKI Jakarta Rp 10.359,- dan Surabaya Rp 10.301,-. Sedangkan menggunakan sistem distribusi tidak langsung maka harga jual ANG per tabung berturut turut adalah Bali Rp 17.404,- Medan Rp 11.320,- DKI Jakarta Rp 10.725,- dan Surabaya Rp10.600,-. Perbedaan harga tersebut berdasarkan pada besarnya biaya investasi, beban distribusi dan penentuan wilayah dalam menetapkan masing-masing sistem distribusi tersebut.

Filter by Year

1980 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue