Articles
544 Documents
Penelitian Sensitivitas Angka Oktana Bensin yang Beredar di Indonesia
Djainuddin Semar;
Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sensitivitas adalah selisih antara angka oktana riset dan angka oktana motor dari bensin. Sensitivitas bahan bakar bensin merupakan ukuran seviritas operasi dari mesin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sensitivitas tiga jenis bensin yaitu bensin 88 bertimbal dan tanpa timbal, bensin 91 (Pertamax) dan bensin 95 (Pertamax Plus) yang dipasarkan di Indonesia. Penelitian ini memakai 16 percontoh bensin dari Pertamina (Depot dan SPBU) dari 5 propinsi di Indonesia. Hasil analisis sensitivitas (S) percontoh bensin Indonesia adalah sebagai berikut: bensin 88 bertimbal S = 3,2 – 5,1; bensin 88 tanpa timbal S = 10,6 – 11,4; bensin 91 (Pertamax) S = 10,5 – 12,6; bensin (Pertamax Plus) S = 12,5 – 13,0.
Suatu Metode Alternatif Bagi Penentuan Parameter Pancung Porositas Dengan Bantuan Data Tekanan Kapiler Injeksi Air Raksa
Bambang Widarsono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Harga pancung porositas merupakan parameter yang memainkan peranan sangat sentral dan berdampak langsung dalam penentuan ketebalan produktif reservoir minyak dan gas bumi. Kesalahan dalam penentuan harga pancung ini berdampak secara langsung dan proporsional atas estimasi akumulasi minyak atau/dan gas setempat beserta dampak ikutannya secara keekonomian. Secara tradisional penentuan harga pancung ini antara lain dilakukan dengan cara mengestimasi melalui relasi antara porositas dan permeabilitas. Cara ini secara luas dikenal sebagai kurang memuaskan karena secara intrinsik kedua besaran petrofisika ini memang tidak berhubungan secara langsung. Memang ada cara-cara yang bersifat suplemen yang dapat dipakai tetapi plot antara kedua besaran petrofisika ini tetap dianggap sebagai cara yang secara meluas data kebutuhannya tersedia. Hubungan antara radius leher pori, yang diperoleh dari injeksi air raksa bagi penentuan data tekanan kapiler batuan, dan permeabilitas di sisi lain lebih bersifat langsung dan konsisten. Studi yang hasilnya disajikan dalam tulisan ini mencoba mengintegrasikan hubungan kepada cara tradisional yang telah disebut. Pengkombinasian dilakukan dengan cara analisis regresimulti variabel dengan menggunakan data dari delapan lapangan minyak/gas di Indonesia. Hasil menunjukkan perbaikan antara relasi porositas dan permeabilitas sehingga harga parameter pancung porositas dapat ditentukan dengan lebih meyakinkan. Metode yang prosedurnya disajikan secara sistematis dalam tulisan ini diharapkan akan dapat membantu mengatasi permasalahan yang selama ini dihadapi para ahli petrofisika dalam menentukan harga pancung porositas yang tepat.
Pengembangan Teknologi Bersih dan Kimia Hijau dalam Meminimalisasi Limbah Industri
Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Teknologi atau proses yang digunakan industri-industri untuk memproduksi produk-produk yang kita butuhkan sangat mempengaruhi kualitas hidup kita terutama terhadap lingkungan dan kesehatan. Pada umumnya industri-industri masih banyak menghasilkan limbah yang merusak lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan solusi untuk meminimalisasi limbah industri atau kerusakan lingkungan dengan mengembangkan teknologi bersih (clean technology) berdasarkan konsep kimia hijau (green chemistry). Pengembangan teknologi atau proses untuk meminimilisasi limbah perlu pertimbangan beberapa aspek yaitu Faktor Lingkungan (Environmental Factor), Utilisasi Atom, dan Peran Katalisis (Proses Katalitik). Aspek yang paling penting dan juga mempunyai pengaruh untuk meminimalisasi limbah industri-industri adalah proses katalitik.
Pengembangan Formulasi Expanding Agent Material Semen Pengeboran dengan Memanfaatkan Dolomit Alami
Budi Saroyo, ST.;
Isa Soeyatmo;
Supriyadi Supriyadi
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masalah penyekatan zona yang tidak sempurna sering terjadi dan sangat mempengaruhi produksi suatu sumur. Masalah yang sering dijumpai pada suatu penyemenan adalah kurang bagusnya kekuatan dan daya ikat semen, terutama dalam menahan tekanan dan beban. Pada sumur-sumur yang bertemperatur dan bertekanan tinggi diperlukan suatu campuran semen yang dapat terus bertahan selama masa operasi produksi berlangsung. Dengan melakukan penyekatan yang baik maka diharapkan dapat diperoleh produksi sumur yang optimal. Pengaruh pemanfaatan Magnesium Oksida (MgO) sebagai bahan aditif expanding agent dengan variasi penambahan komposisi, temperatur, dan waktu pengkondisian terhadap semen kelas G (Oil Well Cement), adalah sifat kimia aditif dan sifat fisik bubur semen, terutama kuat tekan, daya ikat semen serta permeabilitas. Sasaran utama penelitian ini adalah memanfaatkan batuan dolomit lokal yang merupakan sumber daya alam yang banyak terdapat di Indonesia sebagai bahan aditif expanding agent pada semen pengeboran. Tujuannya adalah dapat memecahkan masalah penanganan penyekatan lubang sumur yang kurang bagus. Metodologi yang digunakan adalah uji laboratorium mengacu prosedur yang dipersyaratkan oleh API Spec. 10 (Specification for Materials and Testing for Well Cements) dan SNI-BSN.
Penelitian Limbah Lumpur Minyak Kegiatan Pengolahan Minyak melalui Uji TCLP
R. Desrina
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sesuai ketentuan yang termuat di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, PP 18/1999 jo PP 85/1999, beberapa limbah dari kegiatan pengolahan migas dikategorikan sebagai limbah B-3 yang dimasukkan di dalam daftar limbah B-3 yang spesifik. Di dalam PP 85/1999 Pasal 7 ayat (5) dicantumkan kalimat yang berbunyi: “Limbah D220, D221, D222 & D223 dapat dinyatakan limbah B-3 setelah dilakukan uji karakteristik dan atau uji toksikologi”. Ayat ini merupakan revisi dari PP 18/1999 Pasal 7 Ayat 2 yang berbunyi: Daftar limbah dengan kode limbah D220, D221, D222, dan D223 dapat dinyatakan limbah B-3 setelah dilakukan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) dan/atau uji karakteristik. Terdapat perbedaan mendasar antara uji toksikologi dan uji TCLP. Uji toksikologi sebagaimana dimandatkan di dalam PP 85/1999 tersebut jelas menyebutkan penentuan nilai LD-50 secara oral. Masalahnya adalah bagaimana mungkin untuk limbah-limbah tersebut diberlakukan pengujian LD-50 secara oral. Mengingat bahwa limbah-limbah tersebut, karena jumlahnya, pada umumnya disimpan atau ditimbun pada tempat khusus. Kemungkinan besar sangat aman bagi manusia dan makluk hidup lainnya. Di sisi lain, kemungkinan pencemaran lingkungan adalah melalui air lindinya. Dipandang perlu untuk dilakukan kajian terhadap limbah-limbah pengolahan migas yang telahditetapkan sebagai limbah B-3 mengingat ketetapan ini sebenarnya lebih kepada ketetapan dari aspek hukum. Kajian ini tidak saja berguna untuk dipakai mengevaluasi kembali daftar limbah limbah B-3 yang telah ditetapkan tersebut, tetapi juga berguna sebagai masukan bagi pemerintah dan industri migas tentang tata cara pengklasifikasian limbah B-3 dari kegiatan migas yang mungkin tidak harus sepenuhnya mengikuti ketetapan yang berlaku.
Uji Ketahanan Biodiesel Selama 60 Jam pada Mesin Diesel Stasioner Injeksi Langsung
Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Minyak nabati dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel baik sebagai minyak nabati yang murni atau sebagai metil ester asam lemak dari minyak nabati. Metil ester asam lemak dari minyak nabati adalah suatu hasil dari transesterifikasi minyak nabati, yang disebut biodiesel. Dan 100% biodiesel disebut B100, 100% minyak solar disebut B00 dan campuran B100 dengan B00 disebut Bxx (di mana xx adalah persentase B100 dalam campuran). Pada pengujian ini digunakan B30. Secara umum, uji coba minyak nabati sebagai bahan bakar diesel telah dilaksanakan dengan menggunakan mesin diesel injeksi tidak langsung sesuai dengan populasi mesin diesel untuk otomotif pada waktu itu. Sedangkan pada saat ini penggunaan mesin diesel untuk otomotif telah berkembang ke arah pemakaian mesin diesel injeksi langsung. Mesin diesel injeksi tidak langsung dapat dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar bermutu lebih rendah dibandingkan dengan mesin diesel injeksi langsung. Ini memerlukan perhatian sebab biodiesel bermutu lebih rendah dari minyak solar. Hasil-hasil uji kinerja dan ketahanan B30 dibandingkan dengan B00 pada mesin diesel injeksi langsung menunjukkan torsi dan daya mesin lebih rendah, sedangkan konsumsi bahan bakar spesifik lebih tinggi. Emisi CO, HC dan opasitas gas buang lebih rendah, tetapi emisi NOx lebih tinggi. Deposit injektor, piston, katup-katup dan kepala silinder lebih tinggi.
Oksidasi Katalitik Karbon Monoksida pada Katalis Pt-Zeolit Alam Berpromotor Serium
Chairil Anwar;
Maizar Rahman
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Oksidasi katalitik karbon monoksida dilakukan menggunakan katalis yang dipreparasi dari platina (Pt) sebagai logam aktif, promotor logam serium (Ce) dan berpenyangga zeolit alam. Preparasi katalis dilakukan dengan metode impregnasi basah secara bertahap dengan variasi konsentrasi Ce dan urutan impregnasi Ce. Prekursor katalis kemudian dikalsinasi, direduksi dandikarakterisasi. Hasil karakterisasi menggunakan difraktometer sinar x menunjukkan adanya perbedaan ukuran partikel dan ragam spesies logam Pt. aktivitas katalitik pada oksidasi karbon monoksida memberikan hasil konversi terbaik sebesar 99,63% pada temperatur 700°C.
Pentingnya Kebersihan Pelumas Mesin
Ratu Ulfiati
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Aspek yang paling penting untuk menjamin kondisi mesin dan umur pakai pelumas secara maksimal adalah dengan memilih pelumas yang benar. Selanjutnya, menjaga agar pelumas tetap bersih dan kering. Kontaminasi partikulat dan air dapat memberikan efek-efek yang merusak mesin dan memperpendek umur pakai pelumas. Pemilihan pelumas yang tepat dan menjaganya agar tetap pada kondisi yang baik adalah sangat kritis untuk mempertahankan kondisi operasi yang efisien, memperpanjang umur peralatan, dan meningkatkan keandalan peralatan. Selain itu, desain tempat penyimpanan pelumas dan tatacara penanganannya yang baik, memungkinkan penghematan biaya pemeliharaan peralatan yang signifikan.
Pengujian Kinerja Terbatas Minyak Solar Bertitik Nyala 55oC dan 52oC pada Bangku Uji Multisilinder
Emi Yuliarita
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam penelitian terdahulu telah dilakukan pembuatan bahan bakar minyak solar 48 bertitik nyala 55oC dan 52oC melalui cutting distillation. Dari hasil analisis sifatsifat fisika/kimia masing-masing minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC yang didapatkan, dapat memenuhi spesifikasi minyak solar 48 yang di tetapkan pemerintah sesuai dengan surat keputusan Dirjen Migas No.3675 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006. selanjutnya untuk melihat kinerja (performance) dari masing-masing bahan bakar tersebut maka dilakukan pengujian kinerja terbatas terhadap masing-masing bahan bakar minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC pada bangku uji multisilinder (Multisylinder Test Bench) dengan menggunakan mesin diesel Isuzu 4Ja1) pada tiga kategori beban. Hasil uji kinerja secara keseluruhan memperlihatkan bahwa minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC sedikit lebih kecil dari minyak solar bertitik nyala 60oC. Namun emisi gas buang kepekatan asap/opasitas minyak solar bertitik nyala 55oC dan 52oC jauh lebih rendah disbanding minyak solar bertitik nyala 60oC.
Upaya Perlindungan Lingkungan Pantai/Laut terhadap Pencemaran Minyak dari Buangan Ballas Tangker
Abdul Haris;
MS. Wibisono;
Farid Munawar Qori
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Air ballas yang berfungsi sebagai penyeimbang hidrostatik bagi tangker saat tidak memuat minyak, berasal dari air laut yang dipompakan kedalam storage tanks yang terletak pada bagian lambung dibawah geladak. Dalam keadaan tertentu tangker boleh melakukan pembuangan ballas dan wajib mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Panduan Teknis Prosedur Load on Top sebelumtiba di terminal muat yang salah satu butir klausul menyatakan bahwa residu/oil sludge dari pembersihan tangki harus tetap berada dalam kapal dan boleh dibuang di pelabuhan muat yang memiliki fasilitas penampung buangan ballas kotor. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pencemaran laut karena buangan ballas kotor yang tercampur dengan residu/oil sludge seringdijumpai di perairan Indonesia. Tidak tersedianya atau tidak tercukupinya kapasitas tampung dari fasilitas penerima ballas kotor di pelabuhan, mungkin merupakan salah satu penyebab para operator tangker cenderung termotivasi untuk melakukan pembuangan ballas kotor yang disengaja ke laut kawasan antar pulau maupun di wilayah ZEE. Beberapa permasalahan yang timbul dibahas dalam tulisan ini termasuk penggunaan angka 50 mil laut yang berpotensi menimbulkan kontroversi tersendiri bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Peranan reception facilities sangat penting dalam rangka mengurangi frekuensi pencemaran minyak di wilayah perairan pantai/laut di Indonesia. Penggunaan instalasi pengolah ballas kotor di pelabuhan muat khususnya unit Dissolved Air Flotation mampu menghasilkan mutu air buangan yang lebih baik dibanding Baku Mutu Limbah versi PerMen LH No. 04/2007 (Lampiran V) maupun Baku Mutu Air Laut untuk Pelabuhan versi Kep. Men LH No. 51/2004 (Lampiran I) khususnya untuk beberapa parameter kunci berdasarkan estimasi kriteria basic design.