cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 544 Documents
Proses Isomerisasi Katalitik dan Peranannya dalam Pembuatan Bensin Ramah Lingkungan A.S Nasution; Dessy Yoerdiartiny
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komposisi komponen bensin perlu disempurnakan dalam pembuatan bensin ramah lingkungan, antara lain dengan menaikkan proporsi isomerat dan membatasi pemakaian reformat, bensin perengkahan katalitik, dan bensin polimer. Katalis isomerisasi bifungsional perlu dikembangkan formulasinya baik dari Dupont Zeolite maupun konsentrasi logam aktifnya, agar proses isomerisasi tersebut dapat dioperasikan pada temperatur rendah yang menaikkan potensi pembentukan produk isomerat bercabang banyak berangka oktana tinggi. Kilang PERTAMINA baru mengoperasikan satu unit proses isomerisasi di Unit Pengolahan VI Balongan, sedang unit pengolahan lainnya berpotensi untuk dibangun proses isomerisasi yang akan menaikkan pula potensi kilang dalam pembuatan bensin ramah lingkungan.
Metode Alikuot dalam Preparasi Palinologi Eko Budi Lelono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interpretasi palinologi dengan menerapkan metode alikuot atau volumetrik jauh lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional karena residu yang dipakai dalam pembuatan preparat (slide) terukur volumenva dan berasal dari percontoh batuan yang juga terukur beratnva. Oleh karena itu, metode alikuot memungkinkan ahli palinologi untuk menghitung jumlah absolut palinomorf dalam percontoh batuan dengan hanya menghitung jumlah palinomorf yang muncul di preparat. Hal ini sangat bermanfaat dalam analisis lingkungan pengendapan yang membutuhkan akurasi konsentrasi palinomorf (palynomorph concentration) dalam suatu percontoh batuan untuk menghindari salah penafsiran. Selain itu metode alikuot menghasilkan korelasi stratigrafi yang terpercaya karena konsentrasi palinomorf yang ada dalam setiap percontoh berasal dari percontoh yang sama beratnya dan residu yang sama volumenya. Hasil penghitungan palinomorf dalam preparat menunjukkan penyebaran palinomorf yang tidak merata karena residu di bagian tepi cover slip kering lebih awal dari residu di bagian tengah sehingga palinomorf cenderung tertarik ke tengah cover slip. Fakta ini menuntut strategi pengamatan preparat yang dapat merepresentasikan konsentrasi palinomorf dalam preparat yaitu dengan membuat jalur pengamatan (transect) di tiga bagian preparat yang berbeda antara lain di bagian tepi (kiri dan kanan atau (atas dan bawah) dan di bagian tengah. Tulisan ini juga membahas teknik pembuatan preparat memakai propoxy resin 154 sebagai mounting media yang menghasilkan preparat dengan mutu jauh lebih baik dari pada preparat yang dibuat menggunakan mounting media lain.
Pengolahan Minyak Goreng Bekas (Jelantah) menjadi Bahan Bakar Setara Solar (Biodiesel) dengan Proses Transesterifikasi Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak goreng bekas atau yang sehari-hari disebut jelantah, merupakan salah satu sumber polusi apabila dibuang sembarangan. Pengertian istilah jelantah adalah sisa-sisa dari minyak goreng setelah digunakan beberapa kali. Pada umumnya minyak goreng bekas mengandung senyawa-senyawa antara lain: polimer, aldehida, asam lemak, senyawa aromatik, dan lakton. Untuk menghindari bahaya yang dapat ditimbulkan maka perlu dicari jalan keluar untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut. Salah satu cara adalah dengan mengolahnya melalui proses kimia, dalam hal ini transesterifikasi, yang sangat sederhana (Kac, 2003). Di sisi lain, bahan bakar minyak banyak menghasilkan gas buang yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga perlu dicari bahan bakar yang akrab lingkungan. Salah satu bahan bakar yang akrab lingkungan adalah biodiesel. Biodiesel adalah suatu nama generik untuk bahan bakar setara bahan bakar minyak solar yang diperoleh dari sumber yang dapat diperbaharui (renewable sources), minyak nabati dan lemak hewan, dengan proses esterifikasi yaitu dengan mereaksikan minyak dan alkohol dengan bantuan suatu katalis. Biodiesel mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan bahan bakar minyak diesel (solar) yang diperoleh dari minyak bumi, antara lain: mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik sehingga memperpanjang umur mesin; merupakan bahan bakar yang aman karena mudah ditangani dan tidak beracun; mempunyai gas buang yang relatif bersih.
Transportasi Melalui Biomembran Sri Kadarwati
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses transportasi zat melalui biomembran adalah suatu proses fisika-kimia untuk mempertahankan integritas suatu sel. Banyak proses kehidupan yang pada dasarnya berkaitan dengan proses transpor biomembran dan masih belum seluruhnya dipahami.Studi kinetika transpor biomembran berguna untuk menerangkan jalan yang ditempuh suatu zat masuk ke dalam sel dan membantu menjelaskan mekanisme kerjanya. Selain itu dapat diketahui berapa jumlah nutrien yang dibutuhkan oleh mikroba bagipertumbuhannya.
Studi Pengkajian Spesifikasi Besin Premium Tanpa Timbel untuk Pasokan Jakarta Mulai 1 Juli 2001 Rasdinal Ibrahim; Adiwar; Mardono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam mendukung program langit biru dan penghapusan bensin bertimbel di Indonesia, Pemerintah telah menetapkan penghapusan bensin bertimbel di Jakarta dan sekitarnya mulai 1 Juli 2001. dan merencanakan untuk menerapkan secara nasional pada tahun 2003. Sehubungan dengan itu suatu studi pengkajian spesifikasi bensin Indonesia telah dilakukan, sebagai dasar penetapan spesifikasi bensin tanpa-timbel (Premium-TT) yang cocok untuk Indonesia. Studi ini dimaksudkan sebagai masukan kepada Pemerintah dalam perbaikan mutu dan spesifikasi bensin di Indonesia, untuk menghasilkan bensin ramah lingkungan pada tahun 2003. dengan jaminan kemampuan penyediaannya oleh kilang PERTAMINA dan memperhatikan faktor ekonomi. Spesifikasi bensin Premium-TT yang diberlakukan di Jakarta mulai 1 Juli 2001 mencakup penghapusan timbel, penurunan kadar sulfur dan penyesuaian angka oktana.
Mekanisme dan Analisis Pembentukan Endapan Barium Sulfat di dalam Industri Peminyakan Tjuwati Makmur; Nuraini Nuraini
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam industri perminyakan, endapan telah dikenal sebagai salah satu problem yang serius dan terbentuk di fasilitas produksi minyak dan gas bumi, di sekeliling lubang bor serta di dalam reservoar, yang mengakibatkan laju produksi berkurang karena aliran menjadi terbatas, terhambat oleh berkurangnya di- ameter pipa-pipa, tubing, lubang perforasi dan ruang pori formasi produktif. Bila laju produksi berkurang, tidak diatasi dengan segera, tentu akan menimbulkan dampak negatif di dalam industri perminyakan, yaitu kerugian yang terbesar sebagai akibat penurunan produksi. Endapan yang umum ditemui di lapangan minyak ada beberapa jenis, seperti kalsium karbonat (CACO,), kalsium sulfat termasuk gips (CaSO, 2H,O) dan anhidrit (CaSO,), serta barium sulfat (BaSO,). Batas kelarutan kalsium karbonat dan kalsium sulfat dalam air adalah 20 mg/l dan 2000 mg/l pada 25°C. Batas kelarutan barium sulfat dalam air adalah 2,3 mg/ I pada 25°C dan 3,9 mg/l pada 95°C. Endapan yang paling sulit dipindahkan adalah endapan barium sulfat karena mempunyai sifat kelarutan yang sangat rendah. Oleh sebab itu, penulisan makalah ini difokuskan terhadap mekanisme, persyaratan dan analisis pembentukan endapan, dengan contoh kasus endapan barium sulfat.
Korelasi antara Faktor Sementasi (m) dan Eksponen Saturasi (n) Batuan Reservoir Migas di Indonesia Herlan Adim
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan utama dari studi ini adalah menyiapkan data hasil pengukuran parameter “m” dan “n” yang diukur di laboratorium terhadap percontoh batuan yang mewakili beberapa formasi reservoir minyak di Indonesia, yang kemudian dapat dipakai sebagai acuan dalam mengevaluasi harga saturasi air dalam reservoir.Banyak persamaan empiris untuk menentukan nilai kedua faktor tersebut telah dipublikasikan oleh penulis terdahulu (Archie, Humble, Tixier, Carothers, Shell dan lain-lain), tetapi timbul masalah dalam pemakaian persamaan empiris tersebut sebagaireferensi dalam evaluasi hasil rekaman log terutama untuk formasi yang heterogen. Data hasil rekaman log dengan data analisis parameter “m” dan “n” di laboratorium dipakai untuk menyelesaikan perhitungan data saturasi air dalam reservoir.
Jenis-jenis Logam yang terdapat dalam Minyak Lumas Bekas dan SumbER Asalnya Subiyanto Subiyanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bagaimanapun baiknya mutu minyak lumas yang dipergunakan untuk melumasi mesin, keausan komponen mesin selama operasi tetap berlangsung, meskipun keausan yang terjadi tidak terlalu besar. Komponen mesin yang mengalamai keausan dapat ditelusuri dari hasil pengujian laboratorium terhadap logam-logam yang ada dalam minyak lumas bekasnya
Periode Penggantian Minyak Lumas Mesin Diesel Kendaraan Tingkat Mutu API CH-4 Subiyanto Subiyanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari pembahasan dan evaluasi karaktersitik fisika kimia minyak lumas mesin diesel bekas dengan SAE 15W40, API CH-4, jumlah penambahan minyak lumas baru, seperti diuraikan diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :- Minyak lumas bekas P-10,P-20, P-30 dan P-40 dengan level viskositas multigrade SAE 15W40 dan tingkat mutu unjuk kerja API CH-4 masih dapat digunakan sampai dengan 20.000 km- Sampai dengan jarak tempuh 18.000 km, penambahan minyak lumas baru sebanyak kurang lebih 300 ml.
Penelitian Koefisien Friksi Minyak Otomotif dengan Mesin Uji SRV T.S. Pakan
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah beredarnya isu di masyarakat adanya minyak lumas palsu dipasaran, dilakukan survey pada kios-kios minyak lumas dan SPBU Pertamina di Jakarta dan sekitarnya. Dalam studi ini berhasil didapatkan delapan contoh minyak lumas otomotif.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati kwalitas minyak lumas otomotif yang beredar dipasaran dengan uji nilai koefisien friksi.Dari studi ini berhasil didapatkan empat contoh minyak lumas otomotif mineral dengan kode M-1 sampai dengan M-4 disajikan dalam Tabel 1 dan empat contoh minyak lumas otomotif sintetik dengan kode : S-1 sampai dengan S-4 disajikan dalam Tabel 2.Dari hasil-hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa koefisien friksi empat minyak lumas otomotif mineral setelah diuji di mesin SRV hingga mencapai akumulasi waktu 120 menit, adalahberbeda-beda yaitu antara (92,85-94,80) μ%. dalam Tabel 3.Dari hasil-hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa koefisien friksi empat minyak lumas otomotif sintetis setelah diuji di mesin SRV hingga mencapai akumulasi waktu 120 menit, adalah berbeda-beda yaitu antara (90,82-92,95)μ%.dalam Tabel 4.

Filter by Year

1980 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue