cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 544 Documents
Pengaruh Angka Setana Minyak Solar terhadap Kinerja Mesin Pallawagau La Puppung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada motor diesel, temperatur uadar tekan di dalam silinder yang tinggi menvebabkan bahan bakar menvala. Dengan piston udara diisap masuk ke dalam silinder mesin pada langkah isap, kemudian dimampatkan hingga mencapai tekanan yang tinggi pada temperatur yang di atas titik nvala bahan bakar pada langkah kompresi. Pada akhir langkah kompresi, beberapa derajat sebelum titik mati atas bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara tekan tersebut. Selama injeksi, minvak solar harus diatomisasikan dengan baik dan tercampur dengan udara yang panas sehingga teriadi penvalaan merata secepatnva di dalam ruang bakar. Tetapi berbeda dengan apa yang terjadi, setelah partikel bahan bakar kontak dengan udara, bahan bakar tidak segera menvala. Ada penundaan penvalaan, jika penundaan penyalaan ini terlalu lama, terlalu banvak bahan bakar dapat terakumulasi yang menvebabkan tingkat kenaikan tekanan terjadi secara tiba-tiha, terjadi detonasi dekat pada awal pembakaran. Agar supava tendensi ketukan berkurang. perlu menurunkan penundaan penvalaan dan sekaligus mengurangi jumlah bahan bakar yang ada ketika pembakaran aktual tetesan pertama dimulai. Periode penundaan penvalaan ini sangat tergantung kepada kualitas penvalaan bahan bakar: yaitu angka setana. Bahan bakar yang mempunvai angka setana yang tinggi memiliki penundaan penyalaan yang lehih pendek, dengan demikian mempunvai tendensi teriadinva ketukan yang rendah. Hasil-hasil penguiian kinerja mesin dengan menggunakan empat percontoh bahan bakar yang mempunvai angka setana rang herbeda-beda menunjukkan pada saat digunakan minyak solar yang mempunvai angka setana lebih rendah bunvi mesin lebih kasar, torsi dan dava lebih rendah sedangkan konsumsi bahan bakar lebih tinggi.
Identifikasi dan Karakterisasi Katalis TA-4 Bekas secara Kimia-Fisika dan Biologi Beserta Pemanfaatannya sebagai Limbah Non B3 Edi Gunawan; M. Udiharto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kinerja suatu katalis mempunyai keterbatasan. Selama pemanfaatan berlangsung, secara bertahap akan terjadi penurunan kemampuan kerja katalis. Katalis akan diganti dengan yang baru bila kinerja katalis tidak efektif lagi. Katalis bekas tidak dapat diaktifkan kembali, selanjutnya bahan tersebut berubah fungsi menjadi limbah. Limbah yang berasal dari katalis TA-4 bekas berupa butiran-butiran kecil yang keras dan berwarna hitam. Selama kegiatan kilang berlangsung, secara periodik limbah katalis akan selalu dihasilkan. Dari kegiatan suatu kilang di Pertamina, produksi limbah yang berasal dari katalis TA-4 dapat mencapai 12 ton per tahun. Sebagai limbah hasil kegiatan suatu industri migas, katalis TA-4 bekas tidak boleh langsung dibuang atau dimanfaatkan. Penanganan limbah tersebut, harus mengikuti ketentuan seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 85 Tahun 1999 (PPRI 85/1999). Penanganan diawali dengan identifikasi limbah, yaitu untuk mengetahui apakah limbah eks katalis TA-4 terdaftar dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) atau tidak. Kemudian kajian dilanjutkan ke arah karakteristik limbah. Dalam hal ini pengujian limbah secara kimia-fisika diikuti dengan uji biologi. Apabila hasil analisis tidak memenuhi kriteria sebagai limbah B3, maka terhadap limbah katalis tersebut dapat dilakukan penanganan lebih lanjut. Limbah dapat dibuang di suatu lokasi yang terkontrol atau dapat pula dimanfaatkan menjadi produk lain. Dalam kegiatan ini, limbah katalis yang telah memenuhi kriteria untuk dibuang diusahakan untuk tidak langsung dibuang tetapi dikaji pemanfaatannya. Selama masih dapat dimanfaatkan, limbah tersebut perlu dimanfaatkan menjadi produk yang berdaya guna. Sehubungan dengan pendayagunaan limbah bekas katalis TA-4, dicoba mengkaji pemanfaatan limbah tersebut sebagai bahan campuran pembuatan paving block.
Pembuatan Biodiesel sebagai Bahan Bakar Alternatif: Transesterifikasi Minyak Kelapa dengan Metanol Menggunakan Katalis NaOH Wega Trisunaryanti; Chairil Anwar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan volume konsumsi dan terbatasnya ketersediaan minyak diesel mendorong upaya pencarian sumber energi baru sebagai bahan bakar diesel alternatif. Minyak nabati merupakan bahan baku yang sangat potensial sebagai sumber energi. Pada umumnya, minyak nabati memiliki nilai pembakaran yang mirip dengan bahan bakar diesel, akan tetapi pemanfaatannya secara langsung dibatasi oleh viskositasnya yang terlalu tinggi. Secara umum, biodiesel dapat diekstrak dari berbagai produk pertanian, misalnya minyak kelapa. Indonesia, sebagai negara tropis, merupakan negara yang sangat efektif dan potensial sebagai penghasil kelapa. Tanaman kelapa (Cocos nucifera) merupakan tanaman perkebunan yang utama dan terluas di Indonesia. Pada penelitian ini akan dibuat biodiesel dengan kualitas tinggi melalui transesterifikasi minyak kelapa dengan metanol menggunakan katalis NaOH serta ditentukan karakter fisis dan komposisi kimiawinya, dikaji pengaruh temperatur dan konsentrasi katalis NaOH terhadap konversi (% b/b), karakter fisis serta komposisi kimiawi biodiesel yang dihasilkan. Terakhir, ditentukan kondisi reaksi optimum pembuatan biodiesel.
Biodesulfurisasi Limbah Soda Api Noegroho Hadi HS.; Sri Kadarwati
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa jenis bakteri dapat mendegradasi kandungan belerang yang terdapat dalam limbah soda api pada kondisi aerob dan suhu ambien. Bakteri tersebut adalah Pseudomonas sp., Thiobacillus thioparus, Thiobacillus neapolitanus, Thiobacillus sp. Penelitian dilakukan untuk mencari media yang cocok dan murah. dan mempelajari proses desulfurisasi agar diperoleh kondisi operasi yang optimal. Hasil sementara menunjukkan bahwa pada perbandingan antara media dan sampel limbah soda 1:5 hasil yang didapat cukup menjanjikan. Perbandingan ini masih belum optimal dan masih perlu pengujian lanjutan.
Pelaporan Hasil Analisis Air Sumur Minyak dan Gas Bumi dengan Menggunakan PC M. Mulyono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu program makro aplikasi LOTUS 1-2-3 yang dapat dijalankan pada komputer IBM-PC telah dibuat untuk menyiapkan laporan hasil analisis rutin contoh-contoh air sumur minyak dan gas bumi. Program ini lebih baik dan lebih mudah dipakai dibandingkan dengan program yang ditulis dalam bahasa BASICA. Penggambaran diagram hasil analisispada laporan dapat dilaksanakan secara otomatis. Demikian pula halnya dengan penyimpanan berkas hasil perhitungan.
Pengaruh Buangan Air Formasi terhadap Zooplankton Marin, Artemia Salina, Leach M.S. Wibisono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengingat langkanya informasi tentang dampak buangan air formasi terhadap zooplankton marin khususnya di wilayah tropis, maka dirasa perlu untuk melakukan studi ini. Dalam penelitian ini menggunakan jenis Artemia salina, Leach sebagai hewan uji, dengan tujuan selain untuk menentukan tingkat toksisitas air formasi yang berasal dari lapangan operasi Mundu juga untuk menentukan jenis- jenis kandungan kimia dan kelas air formasi yang digunakan. Metode uji hayati telah dipakai dengan sistem air tergenang menggunakan air media uji dari Gelanggang Samudra Jaya Ancol (GSA) yang telah disaring dan diukur kualitasnya. Wadah uji terbuat dari bahan gelas disusun dalam 3 baris (ulangan) secara acak berisi campuran air media uji dan air formasi Mundu sebanyak 10 liter kecuali pada perlakuan Kontrol. Tiap ulangan dibuat gradasi konsentrasi dan tiap wadah uji diisi dengan 10 ekor hewan uji. Selama waktu uji tidak diberi aerasi, Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 96 jam perlakuan didapat konsentrasi tanpa dampak (NOEC/ No Observed Effects Concentration) yang berkisar antara 100- 750 ml/liter. Dengan metode Palmer (1911) maka didapat kelas untuk air formasi Mundu termasuk kelas V atau S, S, S, di mana beberapa tahun sebelumnya termasuk kelas III atau S, S, A, Perubahan kelas tersebut diduga karena pengaruh penurunan permukaan fluida dalam reservoir selama waktu dieksploitasi.
Pengaruh MTBE dan TEL Terhadap Sifat Fisika - Kimia Bensin Dasar Djainuddin Semar
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bensin dasar yang dipakai pada percobaan ini dibuat dari campuran 65% volume reformat, 13% volume SRN, dan 22% volume nafta ringan. Untuk menaikan angka oktana riset dari 78,0 menjadi 87,0 diperlukan penambahan 1,80 ml/USG TEL atau 21,6% volume MTBE. Ada dua keuntungan yang didapat pada penggunaan MTBE dan TEL di dalam bensin dasar di Indonesia, yaitu meningkatkan kualitas angka oktana dan mengurangi penambahan TEL di dalam Bensin.
Dolomot, Mineral Bermasalah Maximon Shah Arifin
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dolomit dikenal sebagai salah satu jenis mineral karbonat yang mempunyai struktur rhombohedral. Mineral ini relatif mudah diidentifikasi dan biasanya ditemukan bersama batu gamping dan batuan sedimen lainnya di alam. Batuan karbonat yang komposisi dolomitnya dominan juga disebut dolomit. Endapan-endapan mineral timah, bouksit dan perak sering ditemukan berasosiasi dengan dolomit. Dalam 50 tahun terakhir ini dolomit semakin bertambah penting peranannya karena dia juga merupakan batuan induk dan reservoar untuk hidrokarbon. Tidak kurang dari 4 (empat) model. Regional telah diajukan untuk menerangkan asal usul dolomit, antara lain hypersaline, mixed water, deep burial brines dan normal seawater, namun masing-masing model masih mempunyai keterbatasan dalam menjawab asal-usul dolomit secara regional. Salah satu sebab mengapa hal ini terjadi, karena dolomit tidak seperti batugamping, tidak terbentuk sebagai sedimen. Dolomit merupakan produk ubahan dari kalsit dan aragonit. Hal lain dari teka-teki dolomit adalah bahwa sampai saat ini dolomit belum bisa ditiru di laboratorium di suhu rendah. Tulisan ini mencoba mendiskusikan model-model tersebut dan beberapa pertimbangan dalam penentuan pilihan model dolomitisasi.
Spesifikasi dan Standar Spesifikasi Minyak Lumas Motor Bensin untuk Kendaraan Subiyanto Subiyanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelumas yang salah satu fungsinya untuk mengurangi gesekan atau keausan suatu logam atau mesin, banyak sekali jenisnya. Pelumas dibuat oleh produsen pelumas berdasarkan rencana penjualan produsen tersebut atas dasar studi yang dilakukan, akan tetapi bisa juga atas permintaan dari konsumen atau pemakai. Pemakai tersebut dapat perorangan, industri atau pabrik pembuat motor atau mesin dan peralatan lainnya. Sebelum diproduksi, formulator menyusun formula pelumas berdasarkan permintaan, misalnya pelumas jenis apa yang akan dibuat, viskositasnya termasuk SAE atau ISO yang mana, serta tingkat mutu unjuk kerja yang mana. Berdasarkan kriteria tersebut, kemudian dipelajari bagaimana komposisi minyak lumas dasarnya, apakah cukup dengan jenis mineral atau sintetik, serta aditif apa saja yang harus ditambahkan agar unjuk kerjanya terpenuhi. Untuk mendapatkan viskositas tertentu, minyak lumas dasar yang digunakan meskipun berasal dari minyak bumi, juga bisa menggunakan beberapa macam jenis minyak lumas dasar, demikian juga bila berasal dari jenis sintetik. Bahan kimia atau aditif yang ditambahkan juga dapat berbeda fungsi atau kegunaannya, walaupun dari jenis bahan yang sama. Misalnya jenis deterjen, dapat dibuat dari senyawa logam kalsium atau magnesium. Sebagai akibatnya setiap produk pelumas yang sama SAE maupuntingkat mutu unjuk kerja API nya, belum tentu hasil uji terhadap suatu karakteristik akan mempunyai nilai yang sama.
Reanalisis Cekungan Sedimen Tersier Indonesia; Suatu Tantangan dan Harapan untuk Menunjang Perolehan Cadangan Migas Baru di Masa Mendatang Barlian Yulihanto
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas ekplorasi migas pada dua dekade terakhir dapat dikatakan masih sangat terbatas di dalam eksplorasi sedimen Tersier terutama yang berada di Kawasan Barat Indonesia. Lebih jauh lagi dapat diuraikan bahwa target eksplorasi hidrokarbon di cekungan-cekungan tersebut terutama hanya difokuskan pada pencaharian perangkap hidrokarbon struktur pada sedimen yang berumur paling tua Miosen Awal, sedangkan eksplorasi migas pada "hydrocarbon plays" yang baru seperti halnya sedimen Paleogen belum di lakukan secara intensif. Sementara itu di sisi lain, pada kurun dua dekade ini usaha penemuan cadangan migas di cekungan sedimen Indonesia semakin sulit. Beberapa masalah penyebab sulitnya menemukan cadangan migas baru di Indonesia antara lain karena: kurangnya inovasi di dalam kegiatan eksplorasi, dalam arti program eksplorasi hanya difokuskan hanya pada target ataupun objektif reservoar yang sudah diketahui. Usaha penemuan hydrocarbon plays baru baik pada cekungan sedimen mature maupun frontier tidak begitu intens. Penerapan konsep-konsep eksplorasi migas baru yang digunakan di Indonesia relatif jauh tertingal dibandingkan dengan yang digunakan di kawasan lainnya di dunia. Usaha penemuan cadangan minyak dimasa mendatang pada cekungan yang sudah terbukti mengandung hidrokarbon dapat dilakukan dengan melakukan reanalisis cekungan sedimen Tersier. Renalisis cekungan ini terutama dilakukan pada cekungan sedimen yang diklasifikasikan sebagai mature basin, selain itu juga diusulkan untuk dilakukan pada cekungan sedimen yang bersifat frontier. Beberapa kegiatan yang diusulkan dalam melakukan reanalisis cekungan sedimen Tersier di Indonesia adalah : evaluasi sistem Terban Paleogen, analisis waktu terjadinya tektonik inversi Miosen, evaluasi stratigrafi sekuen endapan Miosen, dan evaluasi batuan karbonat Tersier.

Filter by Year

1980 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue