Jurnal Standardisasi
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Articles
227 Documents
MICROPHONE FRONT CAVITY DEPTH MEASUREMENT USING NON-CONTACT METHOD AT NATIONAL MEASUREMENT STANDARDS – NATIONAL STANDARDIZATION AGENCY OF INDONESIA
Chery Chaen Putri;
Denny Hermawanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v21i2.748
Front cavity depth of microphone has influence in the determination of laboratory standard microphone sensitivity. Therefore this parameter is included in the measurement uncertainty budget. To determine microphone sensitivity accurately, it is necessary to measure the actual front cavity depth instead of using nominal value. This paper explains the measurement of LS1P and LS2P standard microphone front cavity depth using optical depth measurement facilities at SNSU-BSN and its effect on determining microphone sensitivity. The measurement was obtained from 4 positions distributed over the diaphragm for each microphone. The front cavity depth measurement result for LS1P is 1,94 mm ± 0,01 mm and for LS2P is 0,48 mm ± 0,01 mm These results comply with IEC 61094 Measurement Microphones-Part 2: Primary Method for Pressure Calibration of Laboratory Standard Microphones by Reciprocity Technique as the results are within the permissible range.
KAJIAN KERUSAKAN MATERIAL SUPERHEATER TUBE 2” DENGAN PENDEKATAN STANDAR ASTM
Koos Sardjono Kuntadi
JURNAL STANDARDISASI Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v8i2.663
Equipments used in industry process and migas is generally designed from alloy of steel which hold up to high temperature and attack corrosion. Based on that, it’s require to be conducted an material operation and election, like a component Boiler that is Secondary Superheater is generally weared by pipe from alloy of steel material Cr- Mo or steel with Austenitik type.To know the damage of Secondary Superheater tube 2" material, can be conducted by a chemical composition analysis, test inspection metalografi and hardness. The damage of Material Secondary Superheater tube 2" at the extension las elbow in the form of rip on second potition (ASTM SA - 192) representing a militant low strength carbon material pipe, while on the first potition which there are not pipe material damage representing a militant high strength carbon (ASTM SA - 106 grade C) which a different thick each other. Attenuating showed the thick degradation which possible because of local stream turbulensi warm-up existence and which is high enough, this matter is shown with existence
ELEMENTAL CHARACTERIZATION OF COAL FLY ASH BY NEUTRON ACTIVATION ANALYSIS TOWARDS REFERENCE MATERIAL CERTIFICATION
Endah Damastuti;
Woro Yatu Niken Syahfitri;
Muhayatun Santoso;
Natalia Adventini;
Diah Dwiana Lestiani;
Syukria Kurniawati
JURNAL STANDARDISASI Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v22i2.797
Coal combustion by-products, such as coal fly ash, has known as a significant source of potentially toxic elements that may affect the environment since the increase of coal utilization as power fuel in Indonesia. Issuing the policies to protect the environment and public health is often based on analytical results. The quality of data analysis is very important since many crucial policies related to public health and environmental protections are based on the analytical results. Considering the need for reference material in ensuring the validity and reliability of the analytical results, reference material candidate of coal fly ash is being developed. Elemental characterization as one of the important parts in certifying the reference material is carried out using Neutron Activation Analysis (NAA) since it considered as high accuracy analytical method and commonly used to certified many reference materials throughout the world. Our NAA facility performance was assessed through optimizing analytical conditions by varying samples weight, method validation, and comparison test with other techniques as well. As much as 25, 100, and 250 mg of sample weight were assessed for its homogeneity effect. Method validation using SRM NIST 1633b had shown good results with bias not more than 10% compared to its certificate values. A comparison test with other results also showed a great agreement.
KALIBRASI DOSIMETER SAKU GAMMA (DSG) DAN TLD/FILM BADGE (FB) DI LABORATORIUM PTKMR-BATAN
Nazaroh Nazaroh
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v13i2.132
DSG dan TLD/FB adalah alat ukur radiasi (AUR) yang biasa dipakai pekerja radiasi untuk memonitor dosis radiasi gamma yang diterimanya. Untuk memperoleh harmonisasi dalam pengukuran radiasi, AUR harus dikalibrasi setiap tahun berdasarkan PERKA BAPETEN No.1/2006. Makalah ini menyajikan metode kalibrasi DSG dan TLD/FB agar dapat diketahui pengguna (user) dan dapat dimanfaatkan oleh laboratorium yang ingin memberikan layanan kalibrasi. Metode Kalibrasi DSG dan TLD/FB yang dilakukan di Laboratorium PTKMR adalah metode substitusi artinya kalibrasi dilakukan secara bergantian. Bacaan DSG biasanya dalam besaran dosis ekivalent ambient (mSv) atau paparan (mR). Nilai ini harus dibandingkan dengan bacaan alat standar sehingga tertelusur ke system SI dan diperoleh Faktor Kalibrasi (FK), yang selanjutnya digunakan untuk mengoreksi bacaan DSG supaya dosis yang terbaca pada DSG sesuai dengan bacaan yang sebenarnya. Sedangkan kalibrasi TLD/FB dilakukan dengan memberikan penyinaran radiasi gamma standar pada TLD/FB sesuai dengan dosis yang diminta oleh Lab.Uji sehingga Lab. Uji dapat memberikan informasi dosis radiasi yang diterima pekerja radiasi. Pengguna DSG memperoleh Sertifikat hasil kalibrasi, yang mencantumkan FK dan ketidakpastiannya. Sedangkan Lab. Uji TLD/FB memperoleh Sertifikat Hasil Kalibrasi, yang mencantumkan dosis ekivalent ambient dan ketidakpastiannya.
KINERJA PENIMBUNAN SAMPAH SISTEM SEMI AEROBIK LANDFILL SEBAGAI BAHAN MASUKAN PENYUSUNAN STANDAR LANDFILL
Sri Darwari
JURNAL STANDARDISASI Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v15i1.656
Undang-Undang Pengelolaan Sampah no. 18 tahun 2008 mengamanatkan penimbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah dilakukan secara terkendali. Salah satu upaya peningkatan sistem penimbunan sampah adalah penerapan semi aerobik landfill. Semi aerobik landfill adalah landfill dimana dekompisisi sampah dilakukan dengan adanya oksigen yang disupply dari pipa leachate yang besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan bahan masukan terhadap penyusunan standar/pedoman pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah dengan Sistem Semi Aerobik Landfill. Metoda penelitian meliputi kajian literatur/penelitian terdahulu, wawancara, observasi lapangan , analisis laboratorium dan pengukuran lapangan. Kinerja sistem semi aerobik ini menghasilkan kualitas leachate dengan BOD 6-7 kali lebih rendah dibandingkan leachate dari sistem anaerobik. Dari segi emisi gas metana, semi aerobik landfill 3 kali lebih rendah dibandingkan sistem anaerobik. Perbedaan utama semi aerobik dan anaerobik terletak pada diameter pipa leachate sehingga dari aspek biaya konstruksi pipa leachate, sistem semi aerobik 1.3 kali lipat lebih mahal dari anaerobik landfill. Beberapa kriteria utama dalam perancangan semi aerobik landfill adalah dimensi pipa utama leachate didesain 2/3 udara dan 1/3 untuk leachate, penerapan pada kondisi topografi yang memungkinkan outflow dari leachate dapat mengalir melalui sistem terjunan ke Bak Pengumpul Leachate. Bak pengumpul leachate dibuat sedekat mungkin dengan timbunan sampah dan dibuat terbuka sehingga leachate jatuh bebas dan terhubung dengan udara luar. Pada pertemuan pipa utama leachate dan pipa cabang dibuat connection pit yang menghubungkan pipa leachate dan pipa gas untuk udara keluar masuk secara bebas.
KAJIAN PERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PERUMAHAN SEBAGAI BAHAN REVISI SNI 03-1733-2004
Ellis Hastuti
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v13i1.14
Seiring dengan semakin menurunnya kualitas lingkungan kawasan perumahan di perkotaan, maka perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) perumahan perlu dikaji kembali sesuai pengaruh interaksi faktor alami dan antropogenik. Salah satu komponen RTH perumahan, yaitu taman lingkungan yang ditetapkan perencanaannya didalam SNI 03-1733-2004 (Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan), memerlukan perencanaan yang lebih spesifik dengan mempertimbangkan fungsi kawasan permukiman maupun fungsi RTH perumahan. Selain itu, dalam SNI tersebut perlu mempertimbangkan untuk peningkatan luasan maupun fungsi RTH perumahan di kawasan dengan keterbatasan lahan atau hunian bertingkat, diantaranya pengembangan taman secara vertikal. Berdasarkan beberapa hasil penelitian RTH perumahan atau taman lingkungan baik secara horizontal maupun vertikal, menunjukkan pengaruh yang signifikan dari fungsi kawasan dan fungsi RTH terhadap rasio luasan komponen alami dan komponen non alami serta karakteristik tanaman penyusunnya. Taman lingkungan yang berlokasi di kawasan perumahan kota pesisir atau pegunungan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai tujuan ataupun fungsi RTH yang ingin dicapai. Demikian pula untuk perencanaan taman atap di hunian bertingkat perkotaan, dapat disesuaikan fungsinya tidak hanya untuk estetika gedung namun dapat juga berfungsi dalam menangani permasalahan meningkatnya limpasan air permukaan, minimnya ketersediaan air, ataupun untuk mengurangi pencemaran udara. Sehingga didalam SNI tersebut perlu menetapkan pula secara spesifik baik fungsi, luasan maupun komposisi komponen hijau dari taman atap sesuai tujuan yang ingin dicapai ataupun diintegrasinya dengan infrastruktur gedung lainnya seperti pengolahan air hujan atau air limbah (grey water).
PROPOSED RISK MITIGATION IN ASSET MANAGEMENT SYSTEM BASED ON SELF ASSESSMENT METHODOLOGY PLUS (SAM+) FOR ISO 55001: 2014 AND RISK MANAGEMENT APPROACH
Winda Nur Cahyo;
Haris Hadiyanto;
Nael Naufal Fiantama
JURNAL STANDARDISASI Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v23i3.855
“Artikel ini membahas tentang gabungan Self Assessment Methodology Plus untuk ISO 55001: 2014 dan menajemen risiko dalam rangka meningkatkan kinerja dari sistem manajemen asset. Kedua pendekatan ini diimplementasikan di sebuah perusahaan yang fokus pada perawatan berat lokomotif dan variannya. Studi pendahuluan telah dilakukan menggunakan wawancara terhadap beberapa sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan ini dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat kerugian yang hingga ratusan juta rupiah akibat implementasi manajemen aset yang kurang matang. Isu lain lain yang menjadi fokus penelitian ini adalah belum pernah dilakukannya pengukuran tingkat kematangan manajemen aset sehingga organisasi belum mempunyai suatu tolak ukur untuk dapat meningkatkan kematangan manajemen asetnya. sehingga perlu dilakukan analisis penerapan asset management maturity model untuk mengetahui bagaimana kondisi manajemen aset di organisasi tersebut sehingga dapat dilakukan penyusunan usulan strategi dan mitigasi risiko. Pada penelitian ini dilakukan pada tiga departemen di perusahaan ini. Pengukuran dilakukan menggunakan software Self-Assessment Methodology Plus (SAM+) berbasis ISO 55001:2014 yang dikembangkan oleh The IAM. Manajemen risiko dalam manajemen aset juga dilakukan untuk penyusunan mitigasi risiko sesuai dengan benefit of asset management. Setelah dilakukan penilaian, golongan perangkat tukar menjadi golongan yang diprioritaskan untuk mendapatkan usulan strategi perbaikan peningkatan tingkat manajemen aset karena memiliki nilai kematangan rendah yaitu 1,9. Usulan mitigasi risiko juga diberikan terhadap golongan ini dengan dilakukannya pemetaan risiko berdasarkan nilai severity dan likelihood terlebih dahulu. Mitigasi risiko dilakukan terhadap tujuh risk event yang setelah root cause analysis menggunakan FTA. Hasil analisis strategi mitigasi yang bisa dimplementasikan oleh organisasi untuk meningkatkan kinerja dari sistem manajemen asset.
ANALISA RUANG LINGKUP NCB DAN CBTL NASIONAL DENGAN POTENSI PRODUKNYA DI INDONESIA
Teguh Pribadi Adinugroho;
Febrian Isharyadi;
Ellia Kristiningrum;
Rachman Mustar
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v16i2.178
Sejalan dengan tugas dan fungsi BSN, sejak tahun 2005 BSN telah mewakili Indonesia sebagai member body dalam International Electrotechnical Committee Conformity Testing and Certification System for Electrotechnical System and Component (IECEE). Sampai dengan September 2013, Indonesia telah mempunyai 2 (dua) National Certification Body (NCB) dan 2 (dua) CB Testing Laboratory (CBTL) yang telah mendapat pengakuan untuk beroperasi didalam IECEE CB Scheme, namun demikian potensi NCB dan CBTL tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh produsen produk elektroteknika yang berlokasi di Indonesia. Berdasarkan data statistik CB Test Certificate (CBTC), hingga tahun 2012 baru terdapat 4 sertifikat yang diterbitkan oleh NCB di Indonesia, padahal rata-rata terdapat 1922 sertifikat diterbitkan per tahunnya oleh NCB-NCB lain di dunia untuk produsen yang berlokasi di Indonesia. Ketersediaan NCB Nasional dengan CBTL-nya dapat memberikan manfaat meningkatkan daya saing kepada produk elektroteknika untuk ekspor karena sebagai infrastruktur untuk penilaian kesesuaian dapat mempermudah dalam mendapatkan CBTC sebagai alat akses produk elektroteknika ke pasar global. Namun demikian disisi lain terdapat keperluan biaya untuk pemeliharaan akreditasi IEC. Dengan latar belakang tersebut perlu dilakukan studi kesesuaian lingkup NCB dan CBTL Nasional dengan potensi produknya. Tujuan dari studi ini adalah menganalisa pemetaan lingkup NCB dan CBTL Nasional dengan potensi produknya. Dalam studi ini, metode yang digunakan adalah olah data sekunder secara deskriptif kualitatif membandingkan data statistik sertifikat (CBTC), jenis produk dan nilai ekspornya, serta lingkup yang ada pada NCB dan CBTL di Indonesia. Kesimpulan studi adalah lingkup pada dua NCB dan dua CBTL yang telah ada saat ini di Indonesia 56,25% tidak sesuai bila dibandingkan dengan potensi produknya, bahkan tidak tersedia lingkup untuk produk kategori TRON (IEC 60065) dan OFF (IEC 60950) yang merupakan 2 kategori terbesar nilai ekspor dan jumlah CBTC yang diterbitkan.
METODE UJI TIUPAN ANGIN KOMPOR GAS SATU TUNGKU BERDASARKAN SNI 7368:2011
Himma Firdaus
JURNAL STANDARDISASI Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v18i1.696
Uji tiupan angin merupakan salah satu klausul dalam pengujian kompor gas. Pengujian ini mengacu pada SNI 7368:2011 yang ditetapkan pemerintah sebagai SNI wajib. SNI 7368:2011 tidak menjelaskan secara detail titik pengukurannya dan hanya menyebutkan kecepatan tiupan angin yang dipersyaratkan adalah 3 m/s. Hal tersebut dapat menyebabkan pelaksanaan pengujian berbeda antara satu dengan lainnya dan berakibat pada sulitnya pengendalian mutu hasil pengujian. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan membangun sebuah metode uji baku atau pengembangan metode uji yang tervalidasi. Penulis mengusulkan metode uji dengan membuat simulasi sembilan titik uji dengan variasi jarak kompor terhadap dinding yaitu 0.5 meter (kondisi 1) dan 1,2 meter (kondisi 2). Sumber tiupan angin diletakkan 1 meter dari kompor gas. Validasi terhadap metode uji dilakukan dengan uji presisi, uji akurasi, peta kendali dan uji kapabilitas proses (Cp). Nilai Cp pada kondisi 1 yaitu 1,51 dan pada kondisi 2 yaitu 1,66. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kedua kondisi pengukuran kapabel. Namun, jika dianalisis terhadap keseluruhan parameter kualitas (uji kapabilitas proses, peta kendali, akurasi dan presisi), maka hanya kondisi 1 dengan titik pengukuran 4 dan 5 yang dapat digunakan sebagai acuan pengukuran pada metode uji tiupan angin yang diusulkan untuk kompor gas satu tungku.
Kajian Penerapan Ekolabel Produk Di Indonesia
Suminto Suminto
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 3 (2011):
Publisher : Badan Standardisasi Nasional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31153/js.v13i3.46
Pada tahun 2006, Indonesia telah mengembangkan sistem akreditasi dan sertifikasi ekolabel untuk produkmanufaktur. Sebagai acuan yang digunakan dalam penyusunan dokumen untuk program ekolabel di Indonesiaadalah ISO 14020, Environmental labels and declarations-General principless; ISO 14024, Environmental labelsand declarations-Types I environmental labelling-Principles and procedures dan ISO/IEC Guide 65, Generalrequirements for product certification. Disamping itu Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga telah menetapkanStandar Nasional Indonesia (SNI) terkait dengan ekolabel. Tujuan program ekolabel adalah dalam rangkaperlindungan lingkungan, mendorong inovasi industri yang ramah lingkungan dan membangun kesadaranmasyarakat atau konsumen terhadap produk-produk yang ramah lingkungan. Terdapat tiga pendekatan programekolabel yaitu ekolabel Tipe I, Tipe II dan Tipe III yang mana masing-masing tipe mempunyai kekurangan dankelebihan. Ekolabel yang dikembangkan oleh Indonesia adalah program ekolabel Tipe I yaitu pemberian ekolabeloleh pihak ketiga kepada produk yang memenuhi seperangkat persyaratan yang telah ditetapkan. Di beberapanegara program ekolabel mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, karena di dalam perdaganganinternasional sudah memasukkan isu lingkungan seperti ekolabel, gas rumah kaca.