cover
Contact Name
Juli Hadiyanto
Contact Email
julihadiyanto43@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalstandardisasi@gmail.com
Editorial Address
Gedung 1 BSN, KST BJ Habibie, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Standardisasi
ISSN : -     EISSN : 23375833     DOI : 10.31153
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
ANALISIS KELAYAKAN REALISASI SATUANTEGANGAN LISTRIK DC STANDAR INTERNASIONAL UNTUK PUSLIT KIM-LIPI BERDASARKAN DEFINISI QUANTUM DENGAN KETELITIAN DIBAWAH 0,1 PPM Hadi Sarjono
JURNAL STANDARDISASI Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v10i2.626

Abstract

Recently, there are two technical methodes for a realization of the international standard of dc voltage unit such as convertional Josephson Voltage Standards (JVS) and Programmable Josephson Voltage Standard (PJVS).
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA ANTARA COCOA BUTTER ALTERNATIVE (CBA) DENGAN LEMAK KAKAO UNTUK PENGEMBANGAN STANDAR NASIONAL INDONESIA Reno Fitri Hasrini; Ning Ima Arie Wardayanie
JURNAL STANDARDISASI Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v22i3.838

Abstract

Cocoa butter alternative (CBA) atau alternatif lemak kakao memegang peranan penting dalam industri pengolahan cokelat atau konfeksioneri. CBA terdiri dari Cocoa Butter Equivalents (CBE), Cocoa Butter Replacers (CBR), Cocoa Butter Substitutes (CBS) yang terbagi berdasarkan komposisi kimia dan kompatibilitas dengan lemak kakao. Belum ada standar nasional dan internasional yang mengatur dan membedakan karakteristik ketiga produk tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik CBE, CBR dan CBS dan dianalisis untuk pengembangan konsep Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) Alternatif Lemak Kakao. Metode penelitian adalah sampling dan membeli produk CBE, CBR dan CBS ke industri-industri. Analisis terhadap CBE, CBR dan CBS dilakukan untuk mengetahui karakteristiknya serta membandingkannya dengan SNI 3748:2009 Lemak Kakao.  Parameter mutu yang dianalisis adalah titik leleh, kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, bilangan iod, dan asam lemak trans. Hasil analisis menunjukkan bahwa CBE, CBR, CBE mempunyai kisaran rerata titik leleh sebesar 18,5-34,11 °C, kadar air 0,12-0,17%, kadar asam lemak bebas 0,06-0,10%, bilangan peroksida 0,21-2,65 mek O2/kg, bilangan iod 2,15-38,7 gram I2/100 g, dan asam lemak trans 0,4-0,11%. Parameter titik leleh, kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida, dan bilangan iod CBE, CBR dan CBS memenuhi semua syarat mutu SNI 3748:2009 Lemak Kakao. Nilai asam lemak trans CBA memenuhi syarat WHO (2010). Konsep RSNI Alternatif Lemak Kakao (CBA) yang diusulkan berdasarkan analisis tersebut adalah titik leleh 32-45 °C untuk CBR dan CBS, untuk CBE tidak ditetapkan, kadar air maksimum 0,3%, kadar asam lemak bebas maksimum 0,3 %, bilangan peroksida maksimum 3,0 mek O2/kg, bilangan iod untuk CBE, CBR dan CBS maksimum 40, 60 dan 20 gram I2/100 g berturut-turut. 
KAJIAN PERSEPSI INDUSTRI TERHADAP MANFAAT PENERAPAN STANDAR Ellia Kristiningrum; Endi Hari Purwanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v12i1.141

Abstract

STANDAR NASIONAL INDONESIA TENTANG TATA CARA PERHITUNGAN HARGA SATUAN: APLIKASI DAN PERMASALAHANNYA Andreas Wibowo
JURNAL STANDARDISASI Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v11i3.675

Abstract

Analisa harga satuan diperlukan untuk mengestimasi biaya langsung proyek konstruksi. Dalam praktik analisa Burgerlijke Openbare Werken (BOW) yang dipublikasikan lebih dari 80 tahun yang lalu masih digunakan meski banyak perkembangan metoda dan teknologi konstruksi selama kurun waktu tersebut. Untuk mengakomodasi perkembangan yang ada dikeluarkan Standar Nasional Indonesia tentang Analisa Biaya Konstruksi (SNI DT ABK). Tulisan ini mendiskusikan berbagai hal terkait dengan penerapan SNI DT ABK, termasuk segala permasalahan yang paling relevan saat ini. Hasil survei persepsi terhadap pengguna dan penyedia jasa memperlihatkan bahwa dari aspek kewajaran, kelengkapan item pekerjaan, dan keunggulan dibandingkan analisa BOW rata-rata respoden memberikan penilaian yang cukup baik, antara rating 3 dan 4 dari skala maksimum 5. Antara pandangan pengguna dan penyedia jasa tidak terjadi perbedaan secara statistik. Faktor persetujuan SNI DT ABK diwajibkan yang paling sering dipilih responden adalah bahwa keberadaannya dapat membantu pengguna jasa menyusun harga perkiraan sendiri dan membuat nilai proyek dapat lebih dipertanggungjawabkan. Sementara itu faktor penolakan SNI DT ABK diwajibkan terletak pada tidak terakomodasinya karakteristik lokal dan indeks yang dianggap terlalu memberatkan kontraktor. Beberapa rekomendasi juga disajikan dalam tulisan ini, termasuk penambahan item pekerjaan baru, keberadaan escape clause dan redefinisi posisi SNI DT ABK.
KAJIAN KANDUNGAN P, Fe, Cu, DAN Ni PADA MINYAK SAWIT, MINYAK INTI SAWIT DAN MINYAK KELAPA SELAMA PROSES RAFINASI hasrul abdi hasibuan; eka nuryanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v13i1.23

Abstract

Kandungan fosfor (P), besi (Fe), tembaga (Cu), nikel (Ni) telah dikaji pada minyak sawit (Crude Palm Oil, CPO), minyak inti sawit (Crude Palm Kernel Oil, CPKO) dan minyak kelapa (Crude Coconut Oil,CCNO) selama proses rafinasi. Dalam penelitian ini, proses rafinasi CPO, CPKO dan CCNO disesuaikan dengan kondisi yang umum dilakukan di industri dengan pemakaian asam fosfat 0,05%, bleaching earth 1% dan suhu deodorisasi 260oC (CPO) dan 240o C (CPKO dan CCNO). Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar P, Fe dan Cu terdeteksi pada masing-masing sampel namun Ni tidak terdeteksi. Selama proses rafinasi terjadi penurunan kandungan masingmasing unsur tersebut. Laju penurunan kadar P, Fe dan Cu pada CPO, CPKO dan CCNO selama proses rafinasi masing-masing adalah 95,3%; 99,1%; 37,8% (CPO), 56,8%; 96,6%; 37,3% (CPKO) dan 98,2%; 97,6%; 54,3% (CCNO). Kandungan P, Fe, Cu dari sampel setelah rafinasi masing-masing adalah 0,614; 0,037; 0,032 ppm untuk minyak sawit; 0,562; 0,037; 0,012 ppm untuk minyak inti sawit dan 0,538; 0,026; 0,011 ppm untuk minyak kelapa. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3741-2002), ketiga jenis minyak terafinasi tersebut telah memenuhi standar sebagai minyak goreng. 
NILAI MUTU KERIPIK BUAH HASIL PENGGORENGAN VAKUM Isnaini Rahmadi; Syahrizal Nasution; Dea Tio Mareta; Lasuardi Permana; Zada Agna Talitha; Anisa Saputri; Samsu Udayana Nurdin
JURNAL STANDARDISASI Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v23i3.942

Abstract

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Lampung Timur memproduksi keripik buah dengan menggunakan penggorengan vakum menghasilkan produk olahan pangan yang memiliki beberapa parameter mutu yang lebih baik dibandingkan keripik buah dengan penggorengan secara tradisional. Kriteria mutu keripik buah perlu diperhatikan untuk memperoleh kualitas keripik buah yang sesuai standar di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah melakukan evaluasi produk pangan pada salah satu UMKM di Lampung Timur berdasarkan kriteria persyaratan mutu SNI 8370: 2018. Metode penelitian dilakukan melalui pengamatan mutu pada keripik pisang, nangka, dan nanas berdasarkan parameter kadar air, asam lemak bebas, abu tidak larut dalam asam, keadaan, serta keutuhan sesuai dengan SNI 8370:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga keripik buah memiliki parameter keadaan, dan keutuhan yang sudah sesuai dengan syarat mutu, namun memiliki parameter asam lemak bebas dan abu tidak larut dalam asam yang belum sesuai dengan syarat mutu. Selain itu, parameter kadar air pada keripik pisang sudah sesuai dengan syarat mutu, namun belum sesuai dengan syarat mutu pada keripik nangka dan nanas. Penelitian ini dapat bermanfaat dalam memperbaiki proses produksi keripik buahnya agar sesuai dengan standar SNI Keripik Buah 8370:2018.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIFITAS PENERAPAN SISTEM HACCP Muti Sophira Hilman; Zulfa Fitri Ikatrinasari
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v16i3.198

Abstract

Industri pangan tidak hanya bertanggung jawab untuk memproduksi makanan yang aman tetapi juga dapat menunjukkan secara transparan bagaimana keamanan pangan telah direncanakan dan terjamin. Hal ini dapat dicapai melalui pengembangan Hazard Analysis of Critical Control Points (HACCP) sebagai bagian dari sistem jaminan keamanan pangan perusahaan. Pada prakteknya pencapaian tujuan dan sasaran dari penerapan HACCP tidak selalu berhasil. Faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam penerapan HACCP harus dapat terdefinisi dengan jelas dan dievaluasi dampaknya terhadap efektifitas penerapan HACCP. Tujuan penelitian ini adalah menentukan dan menganalisa faktor yang mempengaruhi penerapan sistem HACCP serta mengetahui langkah-langkah untuk mengatasi hambatan yang diakibatkan oleh faktor penghambat untuk mencapai efektifitas penerapan sistem HACCP. Penelitian ini mengambil kasus pada penerapan HACCP di PT. Tirta Investama plant Subang, Plant Mekarsari dan Plant Citeurep. Responden pada penelitian ini adalah manajer dan supervisor. Hasil penelitian ini diketahui atribut manusia dan atribut perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi efektifitas penerapan sistem HACCP. Langkah penting yang perlu dilakukan perusahaan untuk mengatasi hambatan tersebut adalah mengembangkan program training untuk karyawan di semua level secara berkelanjutan, memastikan pelaksanaan Good Manufacturing Practices/ Prerequisite Program berjalan dengan baik yaitu dengan melakukan audit secara berkala dan membangun metode komunikasi yang efektif.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI USAHA KECIL MENENGAH DALAM MENERAPKAN STANDAR SECARA KONSISTEN Danar Agus Susanto; Febrian Isharyadi; Novin Aliyah
JURNAL STANDARDISASI Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v18i2.705

Abstract

Usaha Kecil dan Menengah merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian negara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2000, sumbangan UKM dalam output nasional (Product Domestic Regional Bruto) sebesar 56,7 % dan ekspor non migas 15 %. Disamping itu, UKM memberi kontribusi sekitar 99% pada jumlah badan usaha dan menyerap 99,6% jumlah tenaga kerja di Indonesia. Peranan UKM dalam perekonomian bangsa harus terus ditingkatkan melalui peningkatan daya saing produk dengan penerapan standar. Penerapan standar memberikan manfaat positif bagi UKM. Hal ini dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 bahwa pelaku usaha mikro dan kecil diberikan pembinaan paling sedikit berupa fasilitas pembiayaan dan pemeliharaan sertifikasi. Namun, bantuan pemerintah yang kurang efektif dan efisien karena tidak tepat sasaran menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan tersebut. Upaya menjaga efektivitas pembinaan dalam fasilitasi pembiayaan dan pemeliharaan sertifikasi perlu dilakukan, diantaranya melalui penelitian untuk mengetahui kriteria UKM yang mampu menerapkan standar secara konsisten. UKM yang digunakan dalam penelitian ini telah menerapkan standar yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data diperoleh melalui metode wawancara memakai kuesioner. Metode analisis yang digunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan 4 variabel dari 6 variabel independent berpengaruh signifikan terhadap konsistensi UKM dalam menerapkan standar yaitu nilai penjualan, komitmen UKM, inovasi, dan permintaan konsumen. Variabel tipe UKM dan bantuan pemerintah tidak signifikan berpengaruh terhadap penerapan standar secara konsisten.
PENERAPAN SISTEM HACCP (HAZARD ANALYSIS AND CRITICAL CONTROL POINTS) PADA PENANGANAN PASCAPANEN KAKAO RAKYAT S. Joni Munarso; Miskiyah Miskiyah
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v16i1.80

Abstract

Upaya untuk menangani persoalan mutu dan keamanan pangan biji kakao sangat diperlukan, khususnya oleh petani dan pelaku usaha kakao. Petani kakao perlu memperbaiki praktek yang selama ini dilakukan dan membangun sistem yang dapat memberikan jaminan mutu kakao, mengingat kakao Indonesia masih dinilai bermutu rendah. Sistem yang dapat dibangun antara lain melalui penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), yakni dengan mengendalikan tahap-tahap proses yang berperan penting dalam menentukan mutu. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi titik kritis penanganan biji kakao dengan pendekatan HACCP dan menyusun rekomendasi perbaikan atau pengendalian mutu biji kakao. Penelitian lapang dilakukan untuk mengidentifikasi teknologi dan sistem pengelolaan produksi kakao di sentra tanaman kakao, sebagai salah satu bahan untuk penyusunan rancangan HACCP penanganan pascapanen biji kakao. Tahapan proses pemanenan, fermentasi, pengeringan, sortasi, pengemasan dan penyimpanan merupakan titik kendali kritis (CCP) yang teridentifikasi pada penanganan pascapanaen kakao. Rekomendasi perbaikan mutu kakao rakyat dalam bentuk HACCP dapat digunakan dan diterapkan pada tingkat petani, dengan mengacu pada penerapan GAP dan GHP penanganan kakao pada tingkat petani.
REGULATORY IMPACT ANALISYS TERHADAP PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA BISKUIT SECARA WAJIB Danar Agus Susanto; Suprapto Suprapto; Juli Hadiyanto
JURNAL STANDARDISASI Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v18i3.340

Abstract

Biskuit merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga perlu menjamin mutu biskuit, melindungi konsumen atas keamanan, mutu dan gizi pangan serta menciptakan daya saing usaha yang sehat dan adil. Berkaitan dengan hal tersebut, pada tahun 2015 Kementerian Perindustrian menetapkan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 96/M-IND/PER/11/2015 tentang tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 60/M-IND/PER/7/2015 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Biskuit Secara Wajib. Pemberlakuan suatu regulasi umumnya memiliki banyak dampak yang sulit diramalkan tanpa dilakukan studi yang rinci dan konsultasi dengan pihak pihak yang terkena dampak. Berkaitan dengan hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak pemberlakuan SNI Biskuit secara wajib dengan menggunakan Regulatory Impact Analisys (RIA). Hasil penelitian ini menyimpulkan terdapat kesenjangan antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal sehingga perlu ditunda pemberlakuan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 96/M-IND/PER/11/2015 dengan memperbaiki kesenjangan tersebut.

Filter by Year

2005 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012 Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012 Vol 14, No 1 (2012): Vol. 14(1) 2012 Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011 Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011 Vol 13, No 3 (2011): Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010 Vol 12, No 2 (2010): Vol. 12(2) 2010 Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010 Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009 Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009 Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009 Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008 Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008 Vol 10, No 1 (2008): Vol. 10(1) 2008 Vol 9, No 3 (2007): Vol. 9(3) 2007 Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007 Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007 Vol 8, No 3 (2006): Vol. 8(3) 2006 Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006 Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006 Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005 Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005 Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005 More Issue