cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agrista
ISSN : 14103389     EISSN : 25979973     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrista merupakan salah satu wadah bagi peneliti untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian di bidang ilmu Agroteknologi, Ilmu Tanah dan Proteksi Tanaman, selain itu Jurnal Agrista juga mencakup di bidang MIPA Biologi serta FKIP Biologi. Jurnal Agrista memuat laporan hasil penelitian atau makalah suntingan dengan topik Agroteknologi, Ilmu Tanah, serta Hama dan Penyakit Tumbuhan dari staf pengajar/peneliti di Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan peneliti lainnya yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta serta Balai Penelitian.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Pemangsaan Curinus coeruleus Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae) terhadap Paracoccus marginatus Williams & Granara De Willink (Hemiptera: Pseudococcidae) Nur Pramayudi
Jurnal Agrista Vol 15, No 3 (2011): Volume 15 Nomor 3 Desember 2011
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.037 KB)

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pemangsaan C. coeruleus terhadap kutu putih papaya P. marginatus. Masing-masing predator dari setiap tahap perkembangan diberi mangsa pada kondisi dengan pilihan dan tanpa pilihan stadia mangsa, selama 24 jam. Pada uji tanpa pilihan, seluruh instar predator secara nyata (P0,001) lebih banyak memangsa nimfa instar I. Begitu pula pada uji pilihan bebas, nimfa kutu putih instar I lebih banyak yang dimangsa oleh setiap predator dibandingkan nimfa instar lainnya (P0,001). Tingkat pemangsaan yang lebih tinggi diperlihatkan oleh larva predator instar III dan IV. Kemampuan mangsa menurun setelah larva predator berubah menjadi imago. Pada uji pilihan bebas, tidak ada imago betina kutu putih papaya yang dimangsa predator. Hasil pengamatan tambahan mengungkapkan bahwa predator C. coeruleus dapat memangsa telur-telur yang dibungkus dalam ovisak. Dengan memilih lebih banyak mangsa yang lebih muda, predator diduga dapat menekan biaya penanganan dan metabolisme akan mangsa. Sehingga eneri yang diperoleh dari pemangsaan menjadi lebih besar. Dalam rangka pengendalian P. marginatus oleh C. coeruleus, maka predator tersebut akan efektif menekan populasi mangsa yang berumur muda. Pada kerapatan 1 ovisak per tanaman, kematian tanaman terjadi dalam waktu 30 hari setelah infestasi; sementara pada kerapatan 4 ovisak kematian tanaman terjadi dalam waktu 10 hari setelah infestasi. Keberadaan 1 ekor predator larva instar IV per tanaman tidak mampu menghentikan kerusakan dan kematian tanaman.Predation Curinus coeruleus Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae) of Paracoccus marginatus Williams Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae)ABSTRACT. This study aimed to study predation C. coeruleus on the infestation papaya white P. marginatus. Each predators of each developmental stage were prey to the conditions with and without a choice selection of stadia prey, for 24 hours. In the test without the option, the entire instar predators significantly (P 0.001) more prey instar nymphs I. Similarly, in free choice test, I instar nymphs more white flea many were wiped out by predators than any other instar nymphs (P 0.001). Higher level of predation exhibited by predator instar larvae III and IV. The ability of predators to prey decreased after the larvae turn into imago. In free choice test, there are no female imago white lice are eaten by predators papaya. Additional observations revealed that the predator C.coeruleus may prey on the eggs are encased in ovisak. By choosing younger prey, predators could be expected to recude the cost of handling and metabolism will be prey. So that the energy gained from predation is greater. In order to control P. marginatus by C. coeruleus, the predators will be effective in suppressing the prey population aged youth. In an ovisak density per plant, plant death occurs within 30 days after infestation, while the density of 4 plants ovisak deaths occurred within 10 days after infestation. One predator (instar larval IV) is not able to stop the destruction and death of plants.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Akibat Perbedaan Jarak Tanam dan Jumlah Benih per Lubang Tanam Abdurrazak Abdurrazak; Muhammad Hatta; Ainun Marliah
Jurnal Agrista Vol 17, No 2 (2013): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2013
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.868 KB)

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jarak tanam dan jumlah benih per lubang yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun serta untuk mengetahui interaksi antara kedua faktor tersebut.  Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh dari bulan Oktober sampai Desember 2009. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor yang diteliti yaitu jarak tanam (20 cm x 60 cm, 30 cm x 60 cm dan 40 cm x 60 cm) dan jumlah benih per lubang  (1, 2,dan 3 benih per lubang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap berat buah per tanaman, serta berpengaruh nyata terhadap panjang buah.  Buah per tanaman terberat dan terpanjang diperoleh pada jarak tanam 40 cm x 60 cm. Jumlah benih per lubang berpengaruh sangat nyata terhadap diameter buah dan berat buah per tanaman, serta berpengaruh nyata terhadap panjang batang utama umur 15 HST dan jumlah buah per tanaman. Diameter buah terbesar dan buah per tanaman terberat dijumpai pada penggunaan 1 benih per lubang,  sedangkan   jumlah buah per tanaman terbanyak diperoleh pada penggunaan 3 benih per lubang. Terdapat interaksi yang tidak nyata antara jarak tanam dan jumlah benih per lubang terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun. Plant Growth and Yield of Cucumber (Cucumis sativus L.) in Response to Different Spacing and Seed Numbers per HoleABSTRACT. The study was aimed at determining the right spacing and seed numbers per hole on growth and yield of cucumber plants and investigating interactions between the two factors. The study was conducted at the Experiment Station of Agriculture Faculty of Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh from October to December 2009. Experiment was arranged in a factorial randomized complete block design (RCBD) 3 x 3 with three replications. Factors studied were plant spacing (20 cm x 60 cm, 30 cm x60 cm, and 40 cm x 60 cm) and seed numbers per hole (1, 2, and 3 seeds per hole). Results showed that plant spacing exerted a highly significant effect on fruit weight per plant and a significant effect on fruit length. The best fruit weight and length were obtained at a spacing of  40 cm x 60 cm. Seed numbers exerted highly significant effects on fruit diameter and fruit weight per plant and significant effects on main stem length at age 15 days after planting and fruit numbers per plant. The best fruit diameter and fruit weight per plant were found at 1 seed  per hole, while the best fruit numbers per plant was obtained at 3 seeds per hole. There was no significant interaction between plant spacing and seed numbers per hole on growth and yield of cucumber. 
Perubahan Beberapa Sifat Fisika dan Hasil Kacang Tanah akibat Pemberian Bahan Organik dan Pupuk Fosfat Helmi Helmi
Jurnal Agrista Vol 12, No 3 (2008): Volume 12 Nomor 3 Desember 2008
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.875 KB)

Abstract

Changes of Physical Properties of Entisols and Yield of Peanut Affected by Organic Matter and Phosphate FertilizerABSTRACT. A plot experiment was conducted in the field which objective was to study the effect of organic matter and phosphate fertilizer application on the change of physical properties of entisols and yield of peanut. Experimental treatment were arranged in the block random factorial design. There kinds of organic matter were animal manure, rice straw and peanut straw. The first factor were 0 ton ha-1 of organic matter, 20 ton ha-1 of animal manure, 20 ton ha-1 of rice straw and 20 ton ha-1 of peanut straw, the other factor was SP-36 dosage; there were 0, 60, and 120 kg ha-1. Each treatment was replicated three times. The result showed that organic matter and SP-36 application influenced to physical properties of Entisols i.e. decreased soil bulk density, increased total of soil porosity, available water porosity, soil aggregate stability index, soil aggregation and dry legume weight ha-1. The applications of 20 ton rice straw ha-1 was the optimum dosage on the application of 108.50 kg of SP-36 ha-1, with the maximum dry legume yield of 3.02 ton ha-1.
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Hasil Proses Pencernaan Anaerobik Limbah Industri Nata De Coco dan Kotoran Sapi terhadap Sifat Kimia Tanah pada Media Tanam Selada Zaitun Zaitun; M. Sri Saeni; M. Kooswardhono; H.M.H. Bintoro Djoefri
Jurnal Agrista Vol 14, No 3 (2010): Volume 14 Nomor 3 Desember 2010
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.143 KB)

Abstract

Effect of Liquid Organic Fertilizer from Nata de coco Waste and Cow Manure in Anaerobic Digester Processing Application in Soil Chemistry Properties of Lettuce PlantingABSTRACT. The objective of this experiment was to study effect of liquid organic fertilizer from nata de coco waste and cow manure in anaerobic digester processing application in soil chemistry properties of lettuce planting. The experiment is conducted at Physical Chemistry and Environmental Laboratory of IPB and in Jabon Mekar Village, Parung, West Java. The treatment of this experiment is application of liquid fertilizer (organic fertilizer) once, twice, and three time a week from effluent anaerobic digester 75% nata de coco waste + 25% cow manure, 50% nata de coco waste + 50% cow manure, 25% nata de coco waste + 75% cow manure, and 100% cow manure compared with control (inorganic fertilizer) on lettuce. The result showed that the application of liquid organic fertilizer from nata de coco waste and cow manure in anaerobic digester processing can increase the soil chemistry properties.
Pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskular Spesifik Lokasi dan Pupuk Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit pada Tanah Ultisol terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Muhammad Yunus; Syafruddin Syafruddin; Syamsuddin Syamsuddin
Jurnal Agrista Vol 20, No 3 (2016): Volume 20 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.772 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan fungi mikoriza arbuskular (FMA) spesifik lokasi dan pupuk kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) serta interaksi antara FMA dan kompos TKKS pada tanah Ultisol terhadap pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Alur Tani II Kecamatan Tamiang Hulu Kabupaten Aceh Tamiang, Penelitian berlangsung dari Bulan Juni  2015 sampai dengan Mei 2016. Lokasi penelitian memiliki jenis tanah Ultisol.  Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial  dengan 3 ulangan, ada dua faktor yang diteliti yaitu fungi mikoriza arbuskular (FMA) spesifik lokasi dan pupuk kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS).  Faktor dosis FMA spesifik lokasi terdiri empat taraf yaitu: 0, 50, 100 dan 150 g/tan dan faktor dosis pupuk kompos TKKS yang terdiri dari  tiga taraf yaitu : 30, 40 dan 50 kg/tan. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, diameter batang, serapan unsur hara N, P dan K, jumlah spora dan kolonisasi akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis FMA spesifik lokasi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, diameter batang, serapan unsur hara N, P dan K dan akar terkolonisasi, tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah spora. Pemberian dosis pupuk kompos TKKS mempengaruhi tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, serapan unsur hara N dan jumlah spora, tetapi tidak berpengaruh terhadap diameter batang, serapan hara P dan K dan kolonisasi akar. Tidak terdapaat interaksi antara pemberian dosis FMA spesifik lokasi dan pupuk kompos TKKS terhadap semua parameter pengaamatanUtilization of Location-Specific Arbuscular Mycorrhizal Fungi and Oil Palm Empty Fruit Brunch Compost in Ultisol on the Growth of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq)Abstract: The aim of this research is to determine the effect of location-specific arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and oil palm empty fruit bunch compost (OPEFB) as well as the interaction between AMF and OPEFB compost in ultisol on the growth of oil palm. The experiment was carried out at Alur Tani II Village, Tamiang Hulu District, Aceh Tamiang Regency, from June 2015 to May 2016. The soil of the location was ultisol. The research design used was randomized block design (RBD) with a 4 x 3 factorial design with three replications. There were two tested factors: First, location-specific AMF dose (F), consisting of F0 = 0 g/plant, F1 = 50 g/plant, F2 = 100 g/plant, F3 = 150 g/plant; second, OPEFB compost dose (K), consisting of K1 = 30 kg/plant, K2 = 40 kg/plant, K3 = 50 kg/plant. The observed variables were plant height, number of fronds, trunk diameter, N, P and K nutrients absorption, number of spores, and root colonization. The research findings indicated that the location-specific AMF doses did not have any significant effect on plant height, number of fronds, trunk diameter, N, P and K nutrients absorption, and root colonized roots, though it did significantly affect the number of spores. The OPEFB compost doses affected plant height, number of fronds, N absorption, and number of spores but did not influence trunk diameter, P and K absorption, and root colonization. There was no interaction between the location-specific AMF and OPEFB compost doses on every observed parameter.
Temperature Gradients and Their Effects on The Interaction of an Insect Host Plodia interpunctella and Its Parasitoid Venturia canescens Jauharlina Jauharlina
Jurnal Agrista Vol 12, No 2 (2008): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2008
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1128.299 KB)

Abstract

Pengaruh Gradien Suhu Terhadap Interaksi Serangga Inang Plodia interpunctella dan Parasitoid Venturia canescensABSTRAK. Pengaruh suhu merupakan hal yang penting dalam mengamati hasil interaksi serangga inang dengan parasitoid, terutama dalam menentukan tingkat keberhasilan perkembangan parasotoid tersebut. Untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu terhadap interaksi inang dan parasitoid, telah dilakukan penelitian di laboratorium terhadap parasitoid Venturia canescens (Gravenhorst) (Hymenoptera: Ichneumonidae) dan inangnya, Plodia interpunctella (Hubner) (Lepidoptera: Pyralidae). Gradien suhu 28-240C; 28-260C;  dan 28-280C digunakan dalam suatu sistem terdiri dari instar V P. interpunctella yang telah diparasit oleh V. canescens. Penggunaan gradient suhu yang berbeda dalam penelitian ini berarti perubahan suhu dari 280C, dimana serangga parasitoid dibiakkan sebelumnya ke suhu yang lebuih rendah, yaitu 24 dan 260C. Serangga inang yang digunakan dalam percobaan ini merupakan biakkan yang telah mapan pada suhu rendah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa begaian inang yang terparasit berhasil menjadi imago parasitoid V. canescens. Gradien suhu yang berbeda tidak berpengaruh terhadap jumlah imago parasitoid yang muncul dan tingkat enkapsulasi. Waktu perkembangan yang dibutuhkan parasitoid meningkat secara signifikan dengan menurunnya gradient suhu. Dibutuhkan waktu 26,76 hari dan 22,96 hari bagi parasitoid untuk berkembang pada gradient suhu 28-240C dan 28-260C, dibandingkan hanya 21,20 hari pada suhu konstan 28-280C. Perubahan suhu dari 28 ke 240C, dan dari 28 ke 260C meningkatkan tubuh parasitoid sampai 1,54 dan 1,52 mm, dibandingkan dengan 1,47 mm pada suhu 28-280C. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa parasitoid V. canescens dapat berkembang dengan baik pada gradient suhu yang lebih rendah selama interaksi dengan inang P. interpunctella, mengikuti serangga inang yang terlebih dahulu sudah mapan pada suhu rendah yang sama.
Pertumbuhan Gulma dan Tanaman Kedelai [Glycine max (L.) Merrill] Akibat Herbisida Trifluralin : Pengaruh Waktu Aplikasi dan Campuran Herbisida Hasanuddin Hasanuddin
Jurnal Agrista Vol 2, No 3 (1998): Volume 2 Nomor 3 Desember 1998
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK.
The Tolerance of Several Genotypes of Upland Rice to Shading at Different Growth Stages Muhammad Kamal
Jurnal Agrista Vol 11, No 1 (2007): Volume 11 Nomor 1 April 2007
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.443 KB)

Abstract

Toleransi Beberapa Genotip Padi Gogo terhadap Naungan pada Fase Pertumbuhan BerbedaABSTRAK. Keberhasilan pengembangan padi gogo sebagai tanaman sela pada areal perkebunan tanaman karet sangat tergantung pada tingkat toleransinya terhadap naungan. Metode penyaringan yang tepat dan akurat sangat membantu dalam penyediaan padi gogo toleran naungan dalam jumlah banyak. Dua set penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi apakah toleransi padi gogo terhadap naungan selama fase vegetatif memiliki konsistensi dengan naungan selama masa pertumbuhan tanaman (fase vegetatif dan reproduktif). Perlakuan pada penelitian 1 dan 2 disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Faktor pertama berupa naungan dengan menggunakan paranet hitam dua taraf yaitu 0% dan 50%, sedangkan faktor kedua berupa genotip padi gogo yang meliputi Jatiluhur, B9048C, TB177E, Batutegi, Kalimutu, dan Limboto. Naungan diberikan selama fase pertumbuhan vegetatif dan selama masa pertumbuhan tanaman (fase vegetatif dan reproduktif). Hasil percobaan menunjukkan bahwa genotip Jatiluhur, B9048C, TB177E, Batutegi secara konsisten menunjukkan hasil lebih tinggi daripada genotip Kalimutu dan Limboto baik pada naungan selama fase vegetatif dan naungan selama masa pertumbuhan tanaman. Padi gogo yang toleran terhadap naungan selama fase vegetatif juga menunjukkan toleransi terhadap naungan selama masa pertumbuhan tanaman (fase vegetatif dan reproduktif).
Pengaruh Penyiangan Gulma dan Sistim Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) Jamilah Jamilah
Jurnal Agrista Vol 17, No 1 (2013): Volume 17 Nomor 1 April 2013
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.382 KB)

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyiangan gulma dengan sistim tanam SRI dan sistim tanam konvensional terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design) dalam pola RAK faktorial, yang terdiri dari 2 faktor yang di teliti: petak utama yaitu sistem tanam terdiri dari: SRI dan konvensional, dan anak petak yaitu pengaruh penyiangan gulma terdiri dari 3 taraf: penyiangan 20 HST, penyiangan 40 HST, penyiangan 60 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyiangan gulma berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi yang dibudidayakan secara sistim SRI dan konvensional. Pertumbuhan yang terbaik dan hasil tertinggi pada penelitian ini diperoleh pada sistim SRI yang disiangi pada umur 20 HST. Sedangkan hasil terendah dijumpai pada penyiangan 60 HST menggunakan sistem konvensional. Effect of Weed Mowing and Planting System on Growth and Yield of Rice (Oryza sativa L.).ABSTRACT. The objectives of the research were to study effects of weed mowing using System Rice Intensification (SRI) and conventional transplanting system on growth and yield of rice. The experiment was arranged in a split plot design using factorial randomized block design which consists of 2 checked factors i.e main plot that is transplanting system consists of: SRI and conventional and sub plot that is effect of weed mowing consists of three levels: 20 DAT mowing, 40 DAT mowing, and 60 DAT mowing. Result showed that the mowing of weed affect the growth and yield of rice which conducted using SRI and conventional transplanting system. The best growth and yield in this experiment was obtained by using SRI transplanting system and 20 DAT. While the worst was obtained by using conventional transplanting system and 60 DAT. 
Pengaruh beberapa Jenis Pupuk dan Mulsa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum) Marai Rahmawati; Hasinah HAR; Zaizuli Zaizuli
Jurnal Agrista Vol 15, No 2 (2011): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2011
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.65 KB)

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa jenis pupuk dan mulsa serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lampuuk sejak Februari sampai Juli 2007. Faktor pertama adalah jenis pupuk, yaitu: pupuk kandang 20 ton ha-1, pupuk NPK phonska 600 kg ha-1, dan campuran pupuk urea 200 kg ha-1, SP-36 kg ha-1, dan KCl 150 kg ha-1, sedangkan faktor kedua jenis mulsa, yaitu: plastic hitam perak, jerami padi, dan sekam padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan cabai merah lebih baik apabila diberikan pupuk kandang. Mulsa sekam padi dapat meningkatkan jumlah buah per tanaman (200.85 buah) dan bobot buah tertinggi (380.33 g). Pertumbuhan dan hasil cabai merah terbaik adalah apabila diberikan mulsa sekam padi.The Effect of Some Fertilizers and Mulches on the Growth and Productivity of Chili (Capsicum annum)ABSTRACT. The aim of this research was to know the effect of some fertilizers and mulches to the growth and production as well as the interaction of both factors on the red chili. The experiment was done in Lampuuk village since February 2007 to June 2007. The first factor was 3 kinds of fertilizer (dung 20 t ha-1, NPK Phonska 600 kg ha-1 and the mix of urea 200 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 150 kg ha-1) and the second factor was 3 kinds of mulch ( Black Silver Plastic, rice straw, rice husks). The result shows that growth of chili was better on dung fertilizer. Rice husks mulch has significantly fruit number per plant (200.85) and the highest fruit weight (380.33 g). The growth and yield of chili best on rice husks mulch.

Filter by Year

1997 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2022): Volume 26 Nomor 1 April 2022 Vol 25, No 3 (2021): Volume 25 Nomor 3 Desember 2021 Vol 25, No 2 (2021): Volume 25 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 25, No 1 (2021): Volume 25 Nomor 1 April 2021 Vol 24, No 1 (2020): Volume 24 Nomor 1 April 2020 Vol 23, No 3 (2019): Volume 23 Nomor 3 Desember 2019 Vol 23, No 2 (2019): Volume 23 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 23, No 1 (2019): Volume 23 Nomor 1 April 2019 Vol 22, No 3 (2018): Volume 22 Nomor 3 Desember 2018 Vol 22, No 2 (2018): Volume 22 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 22, No 1 (2018): Volume 22 Nomor 1 April 2018 Vol 20, No 3 (2016): Volume 20 Nomor 3 Desember 2016 Vol 20, No 1 (2016): Volume 20 Nomor 1 April 2016 Vol 17, No 3 (2013): Volume 17 Nomor 3 Desember 2013 Vol 17, No 2 (2013): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 17, No 1 (2013): Volume 17 Nomor 1 April 2013 Vol 16, No 3 (2012): Volume 16 Nomor 3 Desember 2012 Vol 16, No 2 (2012): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 16, No 1 (2012): Volume 16 Nomor 1 April 2012 Vol 15, No 3 (2011): Volume 15 Nomor 3 Desember 2011 Vol 15, No 2 (2011): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 15, No 1 (2011): Volume 15 Nomor 1 April 2011 Vol 14, No 3 (2010): Volume 14 Nomor 3 Desember 2010 Vol 14, No 2 (2010): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 14, No 1 (2010): Volume 14 Nomor 1 April 2010 Vol 13, No 3 (2009): Volume 13 Nomor 3 Desember 2009 Vol 13, No 2 (2009): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 13, No 1 (2009): Volume 13 Nomor 1 April 2009 Vol 12, No 3 (2008): Volume 12 Nomor 3 Desember 2008 Vol 12, No 2 (2008): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 12, No 1 (2008): Volume 12 Nomor 1 April 2008 2008: Edisi Khusus Nomor 1 November 2008 Vol 11, No 3 (2007): Volume 11 Nomor 3 Desember 2007 Vol 11, No 2 (2007): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 11, No 1 (2007): Volume 11 Nomor 1 April 2007 Vol 10, No 3 (2006): Volume 10 Nomor 3 Desember 2006 Vol 10, No 2 (2006): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 10, No 1 (2006): Volume 10 Nomor 1 April 2006 Vol 7, No 3 (2003): Volume 7 Nomor 3 Desember 2003 Vol 2, No 3 (1998): Volume 2 Nomor 3 Desember 1998 Vol 2, No 1 (1998): Volume 2 Nomor 1 April 1998 Vol 1, No 1 (1997): Volume 1 Nomor 1 April 1997 More Issue