cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 593 Documents
THE SIGNIFICANCE OF TISIKKHĀ AS FOUNDATION OF BUDDHIST CHARACTER EDUCATION IN PROMOTING SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOAL 4 Tri Saputra Medhacitto
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9584

Abstract

This research examines the significance of Tisikkhā as foundation of Buddhist character education in promoting sustainable development goal 4. Sustainable development is the global effort in creating a better world in the present and future. The United Nations has set seventeen sustainable development goals, addressing the contemporary global challenges. Among the seventeen sustainable goals, the SDG 4 is about the quality of education. Its aim is to ensure inclusive and equitable quality education and promote lifelong learning opportunities for all. This goal reflects the significance role of education in promoting sustainable development to address the global challenges. Quality of education in 21st century must adapt to the demands of globalization without neglecting the moral values. Character education is essential in addressing to the moral decline in this modern era. Character education is an approach to education that gives strong attention to the cultivation of positive character such as moral values, ethical behavior, responsibility, honesty and empathy. The character education according Buddhism is grounded in the three pillars or learning (tisikkhā), namely sīla-sikkhā (moral training), samādhi-sikkhā (mental training) and paññā-sikkhā (wisdom training). Tisikkhā is essential in shaping the generations to be compassionate, responsible and ethical individuals in society. Tisikkhā can be an effective way in addressing the current challenges to promote sustainable development goal 4. ABSTRAKPenelitian ini mengkaji signifikansi Tisikkhā sebagai landasan pendidikan karakter Buddhis dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 4. Pembangunan berkelanjutan merupakan upaya global untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi masa kini dan mendatang. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan tujuh belas tujuan pembangunan berkelanjutan untuk menjawab berbagai tantangan global kontemporer. Di antara tujuan tersebut, SDG 4 berfokus pada penyediaan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas serta mendorong kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Tujuan ini menegaskan peran strategis pendidikan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Kualitas pendidikan pada abad ke-21 dituntut mampu merespons arus globalisasi tanpa mengabaikan nilai-nilai moral. Fenomena kemerosotan moral di era modern menunjukkan urgensi penguatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pembentukan nilai-nilai positif seperti integritas, tanggung jawab, kejujuran, empati, dan perilaku etis. Dalam perspektif Buddhisme, pendidikan karakter berakar pada tiga pilar pelatihan (Tisikkhā), yaitu sīla-sikkhā (pelatihan moral), samādhi-sikkhā (pelatihan batin), dan paññā-sikkhā (pelatihan kebijaksanaan). Melalui integrasi ketiga aspek tersebut, Tisikkhā berperan penting dalam membentuk generasi yang berwelas asih, bertanggung jawab, dan beretika. Dengan demikian, Tisikkhā dapat menjadi pendekatan yang relevan dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini sekaligus mendukung terwujudnya SDG 4.
HUBUNGAN ANTARA SELF REGULATION DENGAN FEAR OF MISSING OUT PADA SISWA KELAS XI SMA Yanti Armilyana; Farida Herna Astuti; Dewi Rayani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.9824

Abstract

ABSTRACT The use of social media in daily life can have both positive and negative impacts on students, one of which is the emergence of the fear of missing out (FOMO) phenomenon, which refers to the feeling of anxiety when someone feels left behind from the activities of others on social media. One factor that is assumed to minimize this feeling is self regulation ability. This study aims to determine the relationship between self regulation and fear of missing out among eleventh-grade students at SMA Nurul Falah Perina in the 2023/2024 academic year. This research used a quantitative approach with a correlational method. The population as well as the research sample consisted of 20 students. Data collection techniques used questionnaires as the main method, while observation, documentation, and interviews were used as supporting methods. Data analysis was conducted using the Product Moment correlation formula. The results of the study showed that there was a significant negative relationship between self regulation and fear of missing out, with a correlation coefficient value of r = -0.746 at a significance level of 5%. These findings indicate that the higher the students’ self regulation ability, the lower the level of fear of missing out experienced. Conversely, lower self regulation ability is associated with higher levels of fear of missing out in social media use. ABSTRAK Penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi siswa, salah satunya adalah munculnya fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari aktivitas orang lain di media sosial. Salah satu faktor yang diduga dapat meminimalkan perasaan tersebut adalah kemampuan regulasi diri (self regulation). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulation dengan fear of missing out pada siswa kelas XI di SMA Nurul Falah Perina Tahun Pelajaran 2023/2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 20 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan angket sebagai metode utama, sedangkan observasi, dokumentasi, dan wawancara digunakan sebagai metode pelengkap. Analisis data dilakukan menggunakan rumus korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self regulation dengan fear of missing out dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = -0,746 pada taraf signifikansi 5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi diri siswa, maka semakin rendah tingkat fear of missing out yang dialami. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan regulasi diri, maka semakin tinggi kecenderungan siswa mengalami fear of missing out dalam penggunaan media sosial.
EFEKTIVITAS TEKNIK MIND MAPPING TERHADAP KEMAMPUAN HIGHER ORDER THINKING SKILL PADA SISWA KELAS VIII SMP Ismul Azam; Farida Herna Astuti; Lalu Jaswandi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.9825

Abstract

ABSTRACT Higher Order Thinking Skill (HOTS) can be understood as a higher-level thinking ability that involves critical, logical, and creative thinking processes. This ability is reflected in cognitive activities such as analyzing, evaluating, and creating. The problem underlying this research is the still low level of higher-order thinking skills among students, which may affect their readiness to face various learning challenges in the 21st century. This study aims to analyze the effectiveness of applying the mind mapping technique in improving students’ Higher Order Thinking Skills. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental design in the form of a nonequivalent control group design. The population of this study consisted of 239 eighth-grade students at SMP Negeri 8 Mataram in the 2022/2023 academic year. The sample in this study consisted of 68 students, including 34 students in the experimental class and 34 students in the control class. The sample was determined using the simple random sampling technique. Data collection in this study used questionnaires as the main method, while observation, interviews, and documentation were used as supporting methods. Data analysis was conducted using the t-test to identify differences in HOTS abilities between the two groups. The results of the data analysis showed that the calculated tvalue (tcount) of 6.485 was greater than the ttable value at the 5% significance level, which was 2.262 (6.485 > 2.262). Therefore, H₀ was rejected and Hₐ was accepted. Based on these findings, it can be concluded that the application of the mind mapping technique is proven to be effective in significantly improving the Higher Order Thinking Skills of eighth-grade students at SMP Negeri 8 Mataram in the 2022/2023 academic year. ABSTRAK Higher Order Thinking Skill (HOTS) dapat dipahami sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mencakup proses berpikir kritis, logis, serta kreatif. Kemampuan ini tercermin melalui aktivitas kognitif seperti menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah masih rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa, yang berpotensi memengaruhi tingkat kesiapan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan pembelajaran di abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan teknik mind mapping dalam meningkatkan kemampuan Higher Order Thinking Skill pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan quasi experiment berupa nonequivalent control group design. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 239 siswa kelas VIII di SMP Negeri 8 Mataram pada Tahun Pelajaran 2022/2023. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 68 siswa, yang terdiri atas 34 siswa pada kelas eksperimen dan 34 siswa pada kelas kontrol. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket sebagai metode utama, sedangkan observasi, wawancara, dan dokumentasi dimanfaatkan sebagai metode pendukung. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji t-test untuk mengidentifikasi perbedaan kemampuan HOTS antara kedua kelompok. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 6,485 lebih besar dari nilai nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% yaitu 2,262 (6,485 > 2,262), sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik mind mapping terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan Higher Order Thinking Skill siswa kelas VIII di SMP Negeri 8 Mataram Tahun Pelajaran 2022/2023 secara signifikan.
PENGARUH TEKNIK SELF-MANAGEMENT TERHADAP PERENCANAAN KARIR Linda Istianingsih; Ni Ketut Alit Suarti; Ni Made Sulastri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.9826

Abstract

ABSTRACT Career planning is an important aspect of student development, especially at the senior high school level when students enter the exploration phase and begin determining their future direction. Observations conducted at SMAN 1 Praya Barat indicate that many Grade XI Social Science students do not yet have a clear picture of their future careers. This condition is reflected in low participation in self-development activities, limited reflection on personal potential, and weak time management and internal motivation. The purpose of this study was to determine the effect of self-management techniques on the career planning of Grade XI Social Science students at SMAN 1 Praya Barat in the 2024/2025 academic year. This study employed an experimental method using a one-group pretest–posttest design. The main data collection technique was a questionnaire, supported by observation, interviews, and documentation. Data were analyzed using a t-test. The results showed that the t-value was 13.312, which was greater than the t-table value of 2.015 at a 5% significance level, indicating that Ho was rejected and Ha was accepted. These findings demonstrate that self-management techniques have a significant effect on students’ career planning. This study highlights the importance of implementing self-management techniques in guidance and counseling services to improve students’ career readiness. ABSTRAK Perencanaan karir merupakan aspek penting dalam perkembangan peserta didik, terutama di jenjang pendidikan menengah atas, saat siswa memasuki fase eksplorasi dan penentuan arah masa depan. Hasil observasi di sekolah khususnya pada kelas XI IPS di SMAN 1 Praya Barat Tahun Pelajaran 2024/2025menunjukkan bahwa banyak siswa belum memiliki gambaran konkret mengenai karir masa depan. Hal ini tercermin dari rendahnya partisipasi dalam kegiatan pengembangan diri, kurangnya refleksi terhadap potensi pribadi, serta lemahnya pengelolaan waktu dan motivasi internal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik self-management terhadap perencanaan karir pada siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Praya Barat Tahun Pelajaran 2024/2025. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Teknik pengumpulan data utama adalah angket, didukung observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji-t. Hasil menunjukkan nilai t-hitung sebesar 13,312 lebih besar dari t-tabel 2,015 pada taraf signifikansi 5%, sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, terdapat pengaruh signifikan teknik self-management terhadap perencanaan karir siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan teknik self-management dalam layanan bimbingan untuk meningkatkan kesiapan karir peserta didik.
HUBUNGAN ANTARA GAYA BELAJAR VISUAL DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MADRASAH ALIYAH Muammar Khadafi; Elys Surya Diana; Mujiburrahman Mujiburrahman; Sarilah Sarilah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.9830

Abstract

ABSTRACT Learning outcomes represent the level of ability achieved by a person after undergoing the learning process. Many factors influence students' learning outcomes, one of which is learning style. A lack of understanding of their own learning styles may prevent students from optimally absorbing, understanding, and achieving the expected learning outcomes. Therefore, this study aims to determine the relationship between visual learning style and the learning outcomes of eleventh grade students at MAN 1 West Lombok. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The population of this study consisted of all eleventh grade students of MAN 1 West Lombok in the 2023/2024 academic year, totaling 178 students. The sample consisted of 30 students selected using the simple random sampling technique. The data collection methods used in this study were questionnaires and documentation as supporting data. The data analysis technique used was the Pearson Product Moment correlation test. Based on the results of the correlation test, the correlation coefficient (r) between visual learning style and students' learning outcomes at the 5% significance level was 0.153. This value falls within the correlation interpretation index range of 0.00–0.20, which is categorized as very low. Thus, the calculated r value is smaller than the r table value (0.153 < 0.50), indicating that Ha is rejected and Ho is accepted. Therefore, the results of this study indicate that the relationship between visual learning style and students' learning outcomes is not significant. ABSTRAK Hasil belajar merupakan tingkat kemampuan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, salah satunya adalah faktor dari gaya belajar yang milikinya. Kurangnya pemahaman terhadap gaya belajar yang dimilikinya, menjadikan siswa kurang maksimal dalam menyerap, memahami dan memperoleh hasil belajar yang diinginkannya. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya belajar visual dengan hasil belajar siswa kelas XI MAN 1 Lombok Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasi. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI MAN 1 Lombok Barat Tahun Pelajaran 2023/2024 yang berjumlah 178 siswa, dan sampel yang digunakan sejumlah 30 siswa dengan menggunakan perhitungan simple random sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket dan metode dokumentasi sebagai data pendukung. Untuk teknik analisis data, penelitian ini menggunakan uji korelasi “product moment”. Berdasarkan hasil uji korelasi gaya belajar visual dengan hasil belajar siswa menggunakan rumus uji r dengan taraf signifikansi sebesar 5% adalah 0,153 dimana nilai tersebut berada pada rentang indeks interpretasi korelasi yaitu 0,00-0,20 dengan kategori sangat rendah. Dengan demikian nilai r hitung lebih kecil dari nilai r tabel (0,153 < 0,50), maka Ha ditolak dan Ho diterima sehingga hasil penelitian ini dinyatakan tidak signifikan.
PENGARUH TEKNIK SELF MANAGEMENT TERHADAP PERILAKU AGRESIVITAS VERBAL SISWA KELAS VIII SMP Nurul Ilmi; Farida Herna Astuti; Ahmad Zainul Irfan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.9831

Abstract

ABSTRACT Verbal aggressive behavior is an act of hurting others through words such as shouting, speaking harshly, using offensive language, or insulting, which can damage a person's mental and psychological condition. This behavior can be influenced by various factors, including biological factors related to genetic influences on emotions and behavior, as well as family factors such as harsh parenting patterns that increase the tendency of children to behave aggressively. These conditions may trigger the emergence of deviant behavior, including verbal aggression among students. This study aims to determine the effect of the self management technique on verbal aggressive behavior among students of class VIII 6 at SMPN 4 Mataram in the 2022/2023 academic year. This research employed a quantitative approach using an experimental method. The population of the study consisted of 32 students, while the sample included 10 students selected as research subjects. Data collection techniques used questionnaires as the main method, while observation, documentation, and interviews were used as supporting methods. Data analysis was conducted using the t test to determine the difference before and after the treatment. The results of the study showed that the t value was 7.491, which was higher than the t table value of 2.262 at the 5 percent significance level, indicating that the null hypothesis was rejected and the alternative hypothesis was accepted. Therefore, it can be concluded that the self management technique has a significant effect on reducing verbal aggressive behavior among students of class VIII 6 at SMPN 4 Mataram in the 2022/2023 academic year.  ABSTRAK Perilaku agresivitas verbal merupakan tindakan menyakiti orang lain melalui kata-kata seperti membentak, berkata kasar, berkata kotor, atau menghina yang dapat merusak kondisi mental dan psikis seseorang. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor biologis yang berkaitan dengan pengaruh genetik terhadap emosi dan perilaku, serta faktor keluarga seperti pola asuh orang tua yang cenderung keras sehingga meningkatkan kecenderungan anak berperilaku agresif. Kondisi tersebut dapat memicu munculnya perilaku menyimpang, termasuk agresivitas verbal pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik self management terhadap perilaku agresivitas verbal pada siswa kelas VIII 6 di SMPN 4 Mataram Tahun Pelajaran 2022/2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Populasi penelitian berjumlah 32 siswa, sedangkan sampel penelitian sebanyak 10 siswa yang dipilih sebagai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan angket sebagai metode pokok, sedangkan observasi, dokumentasi, dan wawancara digunakan sebagai metode pelengkap. Analisis data dilakukan menggunakan uji t-test untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan nilai t-hitung sebesar 7,491 lebih besar dari t-tabel sebesar 2,262 pada taraf signifikansi 5 persen, sehingga hipotesis nihil ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teknik self management berpengaruh signifikan terhadap penurunan perilaku agresivitas verbal pada siswa kelas VIII 6 SMPN 4 Mataram Tahun Pelajaran 2022/2023.
PENGARUH TEKNIK ROLE PLAYING TERHADAP KESTABILAN EMOSI PADA SISWA KELAS VIII SMP Nidaan Khofia M; Ni Ketut Alit Suarti; Lalu Jaswandi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.9832

Abstract

ABSTRACT Based on the results of preliminary observations, eighth grade students at SMP Negeri 4 Kuripan showed various academic problems related to emotional stability, such as feeling easily embarrassed, being moody, experiencing mood swings, and having difficulty controlling their emotions. These conditions affect students’ learning concentration, social interaction, and potential academic achievement. This study aims to determine the effect of the role playing technique on the emotional stability of eighth grade students at SMP Negeri 4 Kuripan in the 2024/2025 academic year. This research employed a quantitative approach with a one group pre test post test design. The research subjects were students who had low levels of emotional stability based on the results of the initial measurement. The data collection technique used a questionnaire as the main instrument, supported by observation, interviews, and documentation. The obtained data were then analyzed using the t test formula to determine the difference in conditions before and after the treatment. The results of the analysis showed that the t value was 6.487, which was greater than the t table value of 1.943 at the 5 percent significance level, indicating an increase in students’ emotional stability after being given the treatment in the form of the role playing technique. These findings indicate that the implementation of the role playing technique in group guidance services is effective in helping students understand and manage their emotions more positively, thereby supporting the learning process and students’ adjustment in the school environment. ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi awal, siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Kuripan menunjukkan berbagai masalah akademik yang berkaitan dengan kestabilan emosi, seperti mudah merasa malu, murung, mengalami perubahan suasana hati, serta kesulitan mengendalikan emosi. Kondisi tersebut berdampak pada konsentrasi belajar, interaksi sosial, dan potensi pencapaian akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik role playing terhadap kestabilan emosi siswa kelas VIII di SMP Negeri 4 Kuripan Tahun Pelajaran 2024/2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test post-test. Subjek penelitian adalah siswa yang memiliki tingkat kestabilan emosi rendah berdasarkan hasil pengukuran awal. Teknik pengumpulan data menggunakan angket sebagai instrumen utama yang didukung oleh observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan rumus t-test untuk mengetahui perbedaan kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai t-hitung sebesar 6,487 lebih besar daripada t-tabel sebesar 1,943 pada taraf signifikansi 5%, yang menunjukkan adanya peningkatan kestabilan emosi siswa setelah diberikan perlakuan berupa teknik role playing. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan teknik role playing dalam layanan bimbingan kelompok efektif membantu siswa dalam memahami dan mengelola emosi secara lebih positif sehingga dapat mendukung proses belajar dan penyesuaian diri di lingkungan sekolah.
KONSEP DAN URGENSI PENDEKATAN DEEP LEARNING PADA PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR Ni Luh Tu Desika Evin Delia; I Made Sedana; Ni Nyoman Kurnia Wati
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11516

Abstract

ABSTRACT Educational transformation has intensified the need for learning approaches that not only enhance academic achievement but also foster deep conceptual understanding, higher-order thinking skills, and students' character development. However, studies on Deep Learning in primary education have predominantly focused on its implementation, while comprehensive syntheses integrating its conceptual foundations, significance, and educational implications remain limited. This study aims to develop a comprehensive understanding of the Deep Learning approach in primary education through a literature review. The study employed a qualitative descriptive library research design. Relevant literature published between 2021 and 2025 was identified through Google Scholar, Scopus, ERIC, DOAJ, and Garuda/SINTA databases. After applying the inclusion criteria, 20 articles were selected and analyzed using content analysis. The synthesis revealed that Deep Learning consistently contributes to strengthening conceptual understanding, higher-order thinking skills, character development, and twenty-first-century competencies while supporting the implementation of the Merdeka Curriculum. Its effectiveness is influenced by teachers' readiness, the implementation of authentic assessment, and the availability of learning resources. These findings highlight that Deep Learning is a relevant approach for primary education and provide an integrative conceptual framework that can serve as a reference for future research, educational policy, and the development of more meaningful learning practices. ABSTRAK Transformasi pendidikan mendorong munculnya kebutuhan akan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan capaian akademik, tetapi juga membangun pemahaman yang mendalam, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan karakter peserta didik. Di sisi lain, kajian mengenai Deep Learning pada pendidikan sekolah dasar masih didominasi oleh pembahasan implementasi, sementara sintesis yang menghubungkan konsep, urgensi, dan implikasinya belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan menyusun pemahaman yang komprehensif mengenai pendekatan Deep Learning dalam pendidikan sekolah dasar melalui kajian pustaka. Penelitian menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Literatur ditelusuri melalui Google Scholar, Scopus, ERIC, DOAJ, dan Garuda/SINTA pada publikasi tahun 2021–2025, kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi hingga diperoleh 20 artikel yang dianalisis menggunakan teknik content analysis. Sintesis menunjukkan bahwa Deep Learning secara konsisten berkontribusi terhadap penguatan pemahaman konseptual, kemampuan berpikir tingkat tinggi, pengembangan karakter, serta kompetensi abad ke-21, sekaligus mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Efektivitas penerapannya dipengaruhi oleh kesiapan guru, pelaksanaan asesmen autentik, dan ketersediaan sarana pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa Deep Learning merupakan pendekatan yang relevan bagi pendidikan sekolah dasar serta menghasilkan kerangka konseptual integratif yang dapat menjadi rujukan bagi pengembangan penelitian, kebijakan, dan praktik pembelajaran yang lebih bermakna.
EFEKTIVITAS METODE MIMICRY MEMORIZATION DAN METODE DISKUSI TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA ARAB Anggun Anisau Latifah; Muhammad Akmansyah; Umi Hijriyah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.13559

Abstract

ABSTRACT Arabic language learning in Indonesia continues to face fundamental challenges, particularly low student achievement resulting from the dominance of conventional methods that lack innovation and fail to promote active student engagement. Meanwhile, 21st-century education demands learning approaches capable of simultaneously developing cognitive, affective, and communicative competencies. Two methods considered potentially effective in addressing these challenges are the Mimicry Memorization (Mim-Mem) method and the discussion method. However, no study has systematically compared their effectiveness on Arabic language learning outcomes within a single comprehensive framework. This study aims to analyze the effectiveness of each method, compare their effectiveness profiles, and formulate evidence-based recommendations for educators. The method employed is a literature review of 14 scientific journal articles retrieved from Google Scholar, GARUDA, and SINTA databases, covering the period 2020–2025. Data were analyzed using descriptive-comparative analysis through narrative synthesis. The findings indicate that the Mim-Mem method is effective in improving vocabulary mastery, speaking skills, reading skills, and learning motivation through systematic repetition-based learning mechanisms. Meanwhile, the discussion method is effective in developing conceptual understanding, active student engagement, and critical thinking through collective knowledge construction. Both methods exhibit complementary effectiveness profiles: Mim-Mem excels in the foundational language acquisition phase, while discussion excels in the communicative competence and higher-order thinking development phase. Sequential integration of both methods is recommended as a comprehensive and adaptive model for Arabic language instruction. ABSTRAK Pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan mendasar, di antaranya rendahnya hasil belajar siswa akibat dominasi metode konvensional yang kurang inovatif dan tidak mendorong keterlibatan aktif siswa. Di sisi lain, tuntutan pendidikan abad ke-21 mengharuskan pendekatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi kognitif, afektif, dan komunikatif secara bersamaan. Dua metode yang dipandang potensial dalam menjawab tantangan tersebut adalah metode Mimicry Memorization (Mim-Mem) dan metode diskusi. Namun belum ada kajian yang secara sistematis membandingkan efektivitas keduanya terhadap hasil belajar Bahasa Arab dalam satu kerangka yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas masing-masing metode, membandingkan profil efektivitas keduanya, serta merumuskan rekomendasi berbasis bukti bagi pendidik. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap 14 jurnal ilmiah yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, GARUDA, dan SINTA, dengan rentang tahun 2020–2025. Data dianalisis secara deskriptif-komparatif menggunakan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Mim-Mem terbukti efektif meningkatkan penguasaan kosakata, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan motivasi belajar melalui mekanisme repetition-based learning yang sistematis. Sementara itu, metode diskusi terbukti efektif mengembangkan pemahaman konsep, keterlibatan aktif, dan kemampuan berpikir kritis melalui konstruksi pengetahuan secara kolektif. Keduanya memiliki profil efektivitas yang saling melengkapi: Mim-Mem unggul pada fase perolehan bahasa dasar, sedangkan diskusi unggul pada fase pengembangan kompetensi komunikatif dan berpikir tingkat tinggi. Integrasi sekuensial kedua metode direkomendasikan sebagai model pembelajaran Bahasa Arab yang komprehensif dan adaptif.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI TELADAN DALAM MEMBANGUN KARAKTER ISLAMI DI LINGKUNGAN PEMBELAJARAN DIGITAL Yurid Ilyuna; Dewi Khoirun Nisa; Selviyana Selviyana; Ahmad Alaik Niam; Riza Amelia; Rodianto Rodianto
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.13562

Abstract

ABSTRACT The rapid advancement of digital technology has transformed learning patterns, communication, and students' character development, creating new challenges for Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam [PAI]) in fostering Islamic values within digital learning environments. These changes require PAI teachers to serve not only as knowledge transmitters but also as role models capable of integrating Islamic values, digital ethics, and digital literacy into the learning process. This article aims to analyze the role of PAI teachers as role models in fostering students' Islamic character in digital learning environments, identify the challenges they encounter, and formulate strategies for strengthening Islamic character in response to technological advancements. This study employed a narrative literature review approach through the stages of relevant literature selection, data reduction, thematic categorization, and critical interpretation of scholarly sources. The findings indicate that the exemplary role of PAI teachers in digital spaces is reflected in consistent behavior, ethical online communication, responsible use of technology, and the integration of Islamic values into digital learning activities. The major challenges include limited digital literacy, exposure to negative online content, disparities in technological competence, and inadequate supervision of students' digital activities. This study concludes that strengthening Islamic character requires synergy among teachers, families, schools, and supportive digital environments, while proposing a conceptual framework that integrates teacher role modeling, digital ethics, digital literacy, and digital citizenship as the foundation for Islamic character development in the digital era. ABSTRAK Transformasi teknologi digital telah mengubah pola pembelajaran, interaksi, dan pembentukan karakter peserta didik sehingga menghadirkan tantangan baru bagi Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menanamkan nilai-nilai Islami di lingkungan pembelajaran digital. Kondisi tersebut menuntut guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan yang mampu mengintegrasikan nilai keislaman, etika digital, dan literasi digital dalam praktik pembelajaran. Artikel ini bertujuan menganalisis peran guru PAI sebagai teladan dalam membangun karakter Islami pada pembelajaran digital, mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi, serta merumuskan strategi penguatan karakter Islami yang relevan dengan perkembangan teknologi. Penelitian menggunakan pendekatan studi pustaka naratif melalui tahapan seleksi literatur yang relevan, reduksi data, kategorisasi tema, dan interpretasi kritis terhadap berbagai sumber ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa keteladanan guru PAI diwujudkan melalui konsistensi perilaku, komunikasi daring yang beretika, pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab, serta integrasi nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitas pembelajaran digital. Tantangan utama meliputi rendahnya literasi digital, paparan konten negatif, kesenjangan kompetensi teknologi, dan terbatasnya pengawasan terhadap aktivitas digital peserta didik. Kajian ini menegaskan bahwa penguatan karakter Islami memerlukan sinergi antara keteladanan guru, keluarga, sekolah, dan lingkungan digital yang edukatif, sekaligus menawarkan sintesis konseptual yang mengintegrasikan keteladanan guru PAI, etika digital, literasi digital, dan digital citizenship sebagai landasan pembentukan karakter Islami pada era digital.