cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 593 Documents
HUBUNGAN ACADEMIC SELF-EFFICACY DENGAN ACADEMIC HOPELESSNESS PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR Nathanael Darrel Frans; Rita Markus Idulfilastri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9046

Abstract

ABSTRACT Final-year students face a crucial phase fraught with academic pressure, which risks triggering Academic Hopelessness, a loss of hope regarding academic success. This study aims to examine the relationship between Academic Self-efficacy and Academic Hopelessness among final-year students. Using a non-experimental quantitative approach with convenience sampling, this study involved 219 active 7th and 8th-semester students in the Jabodetabek area. Data were collected using the Academic Hopelessness Inventory (AHI) and The Academic Self-efficacy Scale (TASES). Data analysis was performed using binary logistic regression and Spearman's rho correlation. The results showed a significant negative relationship between Academic Self-efficacy and Academic Hopelessness (p < 0.05). These findings indicate that the higher the students' self-confidence in their academic abilities, the lower their tendency to experience hopelessness. The research implications highlight the importance of strengthening self-efficacy as a protective factor for the mental health of final-year students. This finding is expected to serve as a reference for the development of preventive academic counseling services and psychological interventions in modern Indonesian higher education institutions. ABSTRAK Mahasiswa semester akhir menghadapi fase krusial yang sarat tekanan akademik, yang berisiko memicu Academic Hopelessness atau hilangnya harapan terhadap kesuksesan studi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara Academic Self-efficacy dengan Academic Hopelessness pada mahasiswa semester akhir. Menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan teknik convenience sampling, penelitian ini melibatkan 219 mahasiswa aktif semester 7 dan 8 di wilayah Jabodetabek. Pengumpulan data menggunakan Academic Hopelessness Inventory (AHI) dan The Academic Self-efficacy Scale (TASES). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik biner dan korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Academic Self-efficacy dan Academic Hopelessness (p < 0.05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi keyakinan diri mahasiswa terhadap kemampuan akademiknya, semakin rendah kecenderungan mereka mengalami keputusasaan. Implikasi penelitian menyoroti pentingnya penguatan efikasi diri sebagai faktor protektif kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir. Hasil ini diharapkan menjadi rujukan pengembangan layanan konseling akademik preventif dan intervensi psikologis di perguruan tinggi Indonesia saat ini modern.
TRANSFORMASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PRESPEKTIF DEMOKRASI DAN MULTIKULTURALISME DI ERA DIGITAL Miranti Merliana; Mahasri Shobahiya; Musa Asy’arie
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9128

Abstract

ABSTRACT The transformation of Islamic Religious Education (PAI) has become an urgent necessity in responding to the dynamics of democracy, cultural diversity, and the challenges of the digital era, which generate new moral issues such as intolerance, hate speech, and weak ethical conduct in the use of technology. This study aims to analyze an integrative model for transforming PAI through the perspectives of democracy, multiculturalism, and digital literacy grounded in Islamic values. The research employs a qualitative approach with an in-depth literature review of classical and contemporary Islamic educational theories, concepts of democracy and multiculturalism, digital ethics literature, and the thought of Shaykh Hamza Yusuf regarding adab and modern morality. The findings indicate that integrating democratic values into PAI strengthens dialogical and participatory cultures, while Islam-based multicultural education cultivates tolerance and empathy amid diversity. Furthermore, digital literacy and digital ethics must be positioned as core components of learning to address the moral challenges of the technological era. This study proposes a four-dimensional model for the transformation of PAI spirituality, democracy, multiculturalism, and digital ethics relevant to contemporary curriculum development and educational practice. In conclusion, an integratively transformed PAI is capable of shaping learners who are morally upright, digitally literate, tolerant, and civil. ABSTRAK Transformasi Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi kebutuhan mendesak dalam merespons dinamika demokrasi, keberagaman budaya, dan tantangan era digital yang melahirkan persoalan moral baru seperti intoleransi, ujaran kebencian, serta lemahnya etika penggunaan teknologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis model transformasi PAI yang integratif melalui perspektif demokrasi, multikulturalisme, dan literasi digital berbasis nilai-nilai Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka mendalam terhadap teori pendidikan Islam klasik dan kontemporer, konsep demokrasi dan multikulturalisme, literatur etika digital, serta pemikiran Syekh Hamza Yusuf mengenai adab dan akhlak modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai demokrasi dalam PAI memperkuat budaya dialogis dan partisipatif, sementara pendidikan multikultural berbasis Islam menumbuhkan toleransi dan empati dalam keberagaman. Selain itu, literasi digital dan akhlak digital perlu dijadikan komponen utama pembelajaran untuk menghadapi tantangan moral era teknologi. Penelitian ini menghasilkan model transformasi PAI empat dimensi spiritualitas, demokrasi, multikulturalisme, dan etika digital yang relevan bagi pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran masa kini. Kesimpulannya, PAI yang ditransformasikan secara integratif mampu membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, cerdas digital, toleran, dan berkeadaban.
ANALISIS PEMAHAMAN GURU TERHADAP KONSEP DASAR PENDIDIKAN INKLUSIF Sri Yulan Umar; Fiola Indah Putri Pratama; Annissa Fahmi Mannassai
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9137

Abstract

The Government of Indonesia mandates that all schools must accept children with special needs within the inclusive education system. However, this obligation is not accompanied by a requirement for schools to fully understand the characteristics and needs of these children. This study aims to describe teachers’ understanding of the basic concepts of inclusive education in Early Childhood Education (ECE) schools throughout Gorontalo City. The research employed a quantitative descriptive approach, with data collected through a Likert scale (1–5) questionnaire. Data analysis was conducted using SPSS version 27. The results indicate that teachers’ understanding of the fundamental concepts of inclusive education is at a moderate level. This is reflected in teachers’ limited ability to implement learning style differentiation, inadequate school support services, and a lack of inclusive curriculum and assessment design. Therefore, it is necessary to strengthen teachers’ competencies through 1) practical training on differentiated instruction and inclusive assessment design; 2) enhance access to support services such as counseling and therapy, and 3) promote effective collaboration among teachers, specialists (therapists, psychologists, doctors), and parents. ABSTRAKPemerintah Indonesia mewajibkan semua sekolah untuk menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam sistem pendidikan inklusif. Namun, kewajiban ini tidak disertai dengan persyaratan bagi sekolah untuk sepenuhnya memahami karakteristik dan kebutuhan anak-anak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pemahaman guru terhadap konsep dasar pendidikan inklusif di sekolah-sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di seluruh Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert (1–5). Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 27. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang konsep dasar pendidikan inklusif berada pada tingkat sedang. Hal ini tercermin dalam kemampuan guru yang terbatas dalam menerapkan diferensiasi gaya belajar, layanan dukungan sekolah yang tidak memadai, dan kurangnya desain kurikulum dan penilaian inklusif. Oleh karena itu, perlu memperkuat kompetensi guru melalui 1) pelatihan praktis tentang pengajaran diferensiasi dan desain penilaian inklusif; 2) meningkatkan akses ke layanan dukungan seperti konseling dan terapi, dan 3) mendorong kolaborasi efektif antara guru, spesialis (terapis, psikolog, dokter), dan orang tua.
PENGARUH KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN LURING TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA MANDARIN PADA MAHASISWA Malahayati Hazimah; Abigail Theodora Tanzil; Jacqline Yoe
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9138

Abstract

Entering the post-pandemic period, the Indonesian education system has gradually shifted from online learning back to face-to-face instruction. This transition requires students to readjust to in-person learning in terms of academic readiness, time management, learning concentration, social interaction, and assessment demands. The adaptation process often presents various challenges, including decreased learning comfort, physical fatigue, difficulties in understanding instructional materials delivered directly, and increased psychological pressure in the form of academic anxiety. One of the most prominent sources of anxiety is examinations, which play a crucial role in evaluating learning outcomes and the overall quality of the teaching and learning process. This study aims to examine students’ anxiety levels during the transition of Mandarin language learning from online to offline modes, particularly in the context of face-to-face examinations, to compare students’ learning outcomes in online and offline examinations, and to analyze the effect of anxiety levels on learning outcomes. The findings reveal that anxiety has a significant effect on students’ academic performance. In addition, differences in anxiety levels and learning outcomes were identified between online and offline examinations, with the majority of students experiencing higher anxiety during offline examinations. This increase is influenced by learning environment conditions, social interaction, and time pressure during examinations. The results of this study are expected to contribute to educators’ understanding of offline Mandarin language learning dynamics, thereby enabling the development of more adaptive instructional and assessment strategies to enhance the quality of Mandarin language education in Indonesia. ABSTRAKMemasuki periode pascapandemi, sistem pendidikan di Indonesia mengalami penyesuaian kembali dari pembelajaran daring menuju pembelajaran luring secara bertahap. Perubahan ini menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran tatap muka, baik dari aspek kesiapan akademik, pengelolaan waktu, konsentrasi belajar, interaksi sosial, maupun tuntutan evaluasi pembelajaran. Proses adaptasi tersebut kerap memunculkan berbagai tantangan, seperti menurunnya kenyamanan belajar, kelelahan fisik, kesulitan memahami materi secara langsung, serta meningkatnya tekanan psikologis berupa kecemasan akademik. Salah satu sumber kecemasan yang dominan adalah ujian, sebagai bentuk evaluasi pembelajaran yang berperan penting dalam mengukur capaian dan kualitas proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kecemasan mahasiswa dalam menghadapi transisi pembelajaran bahasa Mandarin dari daring ke luring, khususnya pada pelaksanaan ujian luring, membandingkan hasil belajar mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin Universitas X pada ujian daring dan luring, serta menganalisis pengaruh tingkat kecemasan terhadap hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa. Selain itu, ditemukan perbedaan tingkat kecemasan dan capaian hasil belajar antara ujian daring dan luring, di mana sebagian besar mahasiswa mengalami peningkatan kecemasan saat mengikuti ujian luring. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan belajar, interaksi sosial, serta tekanan waktu selama ujian. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengajar dalam memahami dinamika pembelajaran bahasa Mandarin secara luring sehingga strategi pembelajaran dan evaluasi dapat disesuaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Mandarin di Indonesia.
NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PERSPEKTIF AKHLAK ISLAM TERHADAP PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN KEPEMIMPINAN Akmir Akmir; Cahaya Wulandari; Nabila Fiqriyah; Niken Novitasari; Nuraisyah Nuraisyah; Resky Amri
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9162

Abstract

ABSTRACT This study analyzes the integration of Islamic values and Pancasila in shaping the character and leadership of the younger generation through education in Indonesia. Various studies indicate that Islam and Pancasila share conceptual alignment in aspects of leadership, social justice, deliberation, tolerance, and humanitarian ethics, which are relevant to strengthening character education. The concept of qawwam in Tafsir al Manar, which emphasizes trustworthiness, justice, moral responsibility, and deliberation, is proven to be relevant to modern educational governance, particularly in fostering educational leadership that is integrity driven and oriented toward public benefit. Meanwhile, the fourth and fifth principles of Pancasila demonstrate theological compatibility with the principles of shura and social justice in Islam, thereby reinforcing democratic practices within educational environments and participatory learning processes. In the context of the younger generation, the integration of Islamic Religious Education and Pancasila Education becomes a strategic approach to addressing the challenges of globalization, digitalization, and moral degradation. These subjects contribute to shaping students who are religious, moderate, tolerant, nationalistic, and resilient in character. Furthermore, the principles of justice and deliberation in Islam provide an ethical foundation for developing a humane and equitable school culture. The findings affirm that the synergy between Islamic values and Pancasila serves as a strategic foundation for strengthening character education and cultivating a civilized generation capable of responding to contemporary challenges. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis integrasi nilai nilai Islam dan Pancasila dalam membentuk karakter dan kepemimpinan generasi muda melalui pendidikan di Indonesia. Berbagai kajian menunjukkan bahwa Islam dan Pancasila memiliki keselarasan konseptual dalam aspek kepemimpinan, keadilan sosial, musyawarah, toleransi, dan etika kemanusiaan yang relevan bagi penguatan pendidikan karakter. Konsep qawwam dalam Tafsir al-Manar yang menekankan amanah, keadilan, tanggung jawab moral, dan musyawarah terbukti relevan bagi tata kelola pendidikan modern, khususnya dalam membangun kepemimpinan pendidikan yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan. Sementara itu, sila keempat dan kelima Pancasila memiliki kesesuaian teologis dengan prinsip syura dan keadilan sosial dalam Islam, sehingga dapat memperkuat praktik demokrasi dalam lingkungan pendidikan dan pembelajaran yang partisipatif. Dalam konteks generasi muda, integrasi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Pancasila menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan degradasi moral. Kedua mata pelajaran tersebut berperan dalam membentuk peserta didik yang religius, moderat, toleran, nasionalis, serta memiliki ketangguhan karakter. Selain itu, prinsip keadilan dan musyawarah dalam Islam memberikan dasar etis bagi pengembangan budaya sekolah yang humanis dan berkeadilan. Temuan ini menegaskan bahwa sinergi nilai Islam dan Pancasila merupakan fondasi strategis dalam memperkuat pendidikan karakter dan membangun generasi berkeadaban yang mampu menjawab tantangan zaman.
ANALISIS KESIAPAN GURU DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN MENDALAM TERINTEGRASI STEAM Ernilawati Ernilawati; Sri Wardhani; Marlina Ummas Genisa; Meli Astriani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9172

Abstract

ABSTRACT Deep learning integrated with the STEAM approach is a learning paradigm that emphasizes conceptual understanding, critical thinking skills, creativity, and the application of knowledge in real-life contexts. The successful implementation of this approach is highly dependent on teacher readiness, including conceptual understanding, pedagogical competence, and the availability of supporting facilities. This study aims to analyze the readiness of teachers at SMPN 2 Babat Supat in implementing deep learning integrated with STEAM and to identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. This research employed a qualitative descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation involving subject teachers and the school principal. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing, supported by source triangulation. The findings indicate that teachers generally possess a basic understanding of deep learning and the STEAM approach and demonstrate pedagogical readiness in designing student-centered learning activities that encourage active participation. Teachers have also utilized various learning media, including digital platforms, to support the learning process. However, the implementation of deep learning integrated with STEAM has not been fully optimal due to several constraints, particularly limited and unstable internet connectivity, insufficient continuous professional training, and limited supporting facilities. These findings highlight the need for policy support, improvement of infrastructure, and sustainable professional development programs to strengthen teacher readiness and ensure the effective implementation of deep learning integrated with STEAM. ABSTRAK Pembelajaran mendalam terintegrasi STEAM merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konseptual, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, serta keterkaitan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata. Keberhasilan implementasi pendekatan ini sangat bergantung pada kesiapan guru, baik dari aspek pemahaman konseptual, kompetensi pedagogik, maupun dukungan sarana pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru SMPN 2 Babat Supat dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam terintegrasi STEAM serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi pembelajaran, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri atas guru mata pelajaran dan kepala sekolah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru pada umumnya telah memahami konsep dasar pembelajaran mendalam dan STEAM serta menunjukkan kesiapan pedagogik dalam merancang pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Guru juga memanfaatkan berbagai media pembelajaran, termasuk media digital, untuk mendukung proses pembelajaran. Namun demikian, implementasi pembelajaran mendalam terintegrasi STEAM belum berjalan optimal karena masih dihadapkan pada kendala, terutama keterbatasan akses dan kestabilan sinyal internet, minimnya pelatihan berkelanjutan, serta keterbatasan fasilitas pendukung. Temuan ini menunjukkan perlunya dukungan kebijakan, peningkatan sarana prasarana, dan program pengembangan profesional guru yang berkelanjutan guna mendukung implementasi pembelajaran mendalam terintegrasi STEAM secara efektif.
FENOMENA BANJIR BANDANG SUMATRA DALAM PERSPEKSTIF ILMU KEBUMIAN MENGGUNAKAN LITERATUR SCOPUS 2016–2025: ANALISIS BIBLIOMETRIK PRISMA Nurul Fajri Saminan; Muhammad Khairul; Novia Novia; Pramita Sylvia Dewi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9190

Abstract

ABSTRACT Flash floods in tropical regions have shown an increasing trend in frequency and impacts over the last two decades, particularly in vulnerable watersheds and areas experiencing rapid land-use change and urban expansion. This study focuses on mapping the development of scientific research on flash floods in Sumatra, specifically Aceh, North Sumatra, and West Sumatra, by examining the linkages among climate change, land cover change/deforestation, watershed dynamics, and both structural and non-structural mitigation strategies, including disaster education and ecological literacy. A systematic literature review (SLR) combined with bibliometric and thematic analyses was applied. Data were retrieved from the Scopus database for the 2016–2025 period, yielding 68 documents as the initial dataset. The selection process followed the PRISMA 2020 guidelines, resulting in 53 full-text documents retrieved, while 15 reports were not retrieved due to limited access. Of the 53 documents assessed, 41 were retained as relevant literature, comprising 25 core studies and 16 conditional supporting studies. Bibliometric analysis using VOSviewer identified six dominant thematic clusters centered on floods, flash flood, and indonesia, strongly connected to extreme rainfall, landscape change, geospatial technologies, spatial planning, and mitigation. The thematic synthesis indicates that flash flood risk in Sumatra is shaped by the interaction of hydrometeorological triggers, watershed degradation driven by land cover change, increasing exposure due to urbanization, and social capacity to respond to early warning information. This study concludes that integrated watershed-based mitigation, adaptive spatial planning, geospatial technology utilization, and strengthened risk literacy through disaster education and ecological literacy are essential to enhance long-term resilience. ABSTRAK Banjir bandang di wilayah tropis menunjukkan kecenderungan peningkatan frekuensi dan dampak dalam dua dekade terakhir, terutama pada daerah aliran sungai (DAS) yang rentan serta wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan dan pertumbuhan permukiman secara cepat. Penelitian ini berfokus pada pemetaan perkembangan kajian ilmiah banjir bandang di Sumatra, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan menekankan keterkaitan perubahan iklim, perubahan tutupan lahan/deforestasi, dinamika DAS, serta strategi mitigasi struktural dan nonstruktural termasuk pendidikan kebencanaan dan literasi ekologi. Metode yang digunakan adalah systematic literature review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik dan sintesis tematik. Data diperoleh dari basis data Scopus pada periode 2016–2025 dengan total 68 dokumen sebagai dataset awal. Proses seleksi literatur mengikuti pedoman PRISMA 2020, menghasilkan 53 dokumen full-text yang berhasil diperoleh, sementara 15 dokumen tidak tersedia naskah lengkapnya. Dari 53 dokumen yang ditelaah, 41 dokumen dipertahankan sebagai literatur relevan, terdiri atas 25 dokumen inti dan 16 dokumen pendukung. Hasil bibliometrik menggunakan VOSviewer menunjukkan 6 klaster tema dominan yang berpusat pada floods, flash flood, dan indonesia, dengan keterkaitan kuat terhadap hujan ekstrem, perubahan lanskap, teknologi geospasial, tata ruang, serta mitigasi. Sintesis tematik menegaskan bahwa risiko banjir bandang di Sumatra merupakan hasil interaksi pemicu hidrometeorologi, degradasi fungsi DAS akibat perubahan tutupan lahan, meningkatnya paparan karena urbanisasi, serta kapasitas sosial dalam merespons peringatan dini. Penelitian ini menyimpulkan perlunya penguatan mitigasi berbasis DAS yang terintegrasi dengan tata ruang adaptif, pemanfaatan teknologi geospasial, dan penguatan literasi risiko melalui pendidikan kebencanaan serta literasi ekologi untuk mendukung ketangguhan jangka panjang.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK SIKAP TOLERANSI BERAGAMA SISWA Ayu Tarisya; Ayu Nurcahyanti; Rohimatul Maghfiroh; Tri Mayang Sari Siregar; Wawalia Syahputri; Mirza Syadat Rambe
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9205

Abstract

Current educational transformations require schools to focus not only on academic achievement but also on developing students' character, including religious tolerance. Islamic Religious Education (PAI) plays a strategic role in fostering tolerance through the internalization of Islamic values, which emphasize respect for differences, moderation, and respect for followers of other religions. This study aims to describe the implementation of Islamic Religious Education in fostering religious tolerance in students within the school environment. The research method used is a literature review, reviewing various sources such as books, national journals, and related educational regulations. The results of the study indicate that the implementation of PAI in fostering tolerance can be achieved through strengthening teaching materials, fostering attitudes in schools, exemplary teacher behavior, and integrating the values ​​of religious moderation into intracurricular and extracurricular activities. Islamic Religious Education has been shown to contribute significantly to instilling the values ​​of openness, respect for differences in beliefs, and mutual respect among students. ABSTRAK Transformasi pendidikan saat ini menuntut sekolah tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter peserta didik, termasuk sikap toleransi beragama. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk sikap toleransi melalui internalisasi nilai-nilai ajaran Islam yang menekankan penghargaan terhadap perbedaan, sikap moderat, dan penghormatan terhadap pemeluk agama lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Pendidikan Agama Islam dalam membentuk sikap toleransi beragama siswa di lingkungan sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal nasional, dan regulasi pendidikan terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi PAI dalam membentuk toleransi dapat dilakukan melalui penguatan materi ajar, pembiasaan sikap di sekolah, keteladanan guru, serta integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Pendidikan Agama Islam terbukti berkontribusi signifikan dalam menanamkan nilai-nilai keterbukaan, penghargaan terhadap perbedaan keyakinan, dan sikap saling menghormati antar siswa.  
TRANSFORMASI PROSES PEMBELAJARAN MENUJU KURIKULUM MERDEKA KELAS III SEKOLAH DASAR Refiana Hidayah; Desi Susanti; Bambang Sumardjoko; Sabar Narimo
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9207

Abstract

This study aims to describe the transformation of the learning process during the implementation of the Independent Curriculum in third-grade students at Cipta Muda Public Elementary School, Buay Madang District, East OKU Regency. The focus of the study includes changes in learning approaches, the roles of teachers and students, and the obstacles and strategies implemented during the curriculum adaptation process. The study used a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results indicate that teachers have begun implementing project-based learning and differentiated learning based on student characteristics. The teacher's role has shifted from instructor to learning facilitator, while students become more active and independent. However, the implementation of the Independent Curriculum still faces obstacles, particularly in teacher readiness to develop independent learning modules and limited supporting facilities. This study concludes that the learning transformation towards the Independent Curriculum has progressed progressively, but requires ongoing mentoring, teacher training, and institutional support for optimal implementation. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transformasi proses pembelajaran dalam implementasi Kurikulum Merdeka di kelas III SD Negeri Cipta Muda, Kecamatan Buay Madang, Kabupaten OKU Timur. Fokus penelitian meliputi perubahan pendekatan pembelajaran, peran guru dan peserta didik, serta kendala dan strategi yang diterapkan selama proses adaptasi kurikulum. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mulai menerapkan pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berdiferensiasi sesuai karakteristik peserta didik. Peran guru bergeser dari pengajar menjadi fasilitator pembelajaran, sementara peserta didik lebih aktif dan mandiri. Namun demikian, implementasi Kurikulum Merdeka masih menghadapi kendala, terutama pada kesiapan guru dalam menyusun modul ajar mandiri serta keterbatasan sarana pendukung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi pembelajaran menuju Kurikulum Merdeka telah berjalan secara progresif, tetapi memerlukan pendampingan berkelanjutan, pelatihan guru, serta dukungan institusional agar implementasinya optimal.  
KESENIAN HADROH: MEDIA PENANAMAN NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBENTUK AKHLAK REMAJA Fariz Rismawan; Imam Syafe'i; Agus Susanti; Muhammad Mustofa
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9229

Abstract

This study departs from the reality of adolescents as the next generation, who are currently in a transitional phase and are highly vulnerable to the negative impacts of globalization and the advancement of digital technology. The main focus of the research is to examine the role of hadroh art as a creative medium in instilling Islamic educational values oriented toward the moral development of youth. Employing a qualitative descriptive approach, the research was conducted at As-Sholah Mosque, Srirejosari Village, East Lampung, using data collection techniques such as observation, interviews, and documentation involving community leaders, mentors, and adolescents engaged in hadroh activities. The findings indicate that the internalization of Islamic educational values through hadroh is based on three aspects: faith (love for the Prophet Muhammad SAW expressed through shalawat chants), worship (religious expression and prayers to draw closer to Allah SWT), and morality (discipline, responsibility, and cooperation). The impact is clearly visible among adolescents, including increased participation in worship, more courteous social behavior, and reduced dependence on gadgets. Although challenges remain in regenerating members due to many continuing their studies outside the region, the activities persist thanks to the support of parents and the local government. ABSTRAK Penelitian ini berangkat dari realitas remaja sebagai generasi penerus yang tengah berada dalam fase transisi dan cukup rentan terhadap dampak negatif arus globalisasi serta perkembangan teknologi digital. Fokus utama penelitian adalah mengkaji peran kesenian hadroh sebagai media kreatif dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan akhlak remaja. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini dilaksanakan di Masjid As-Sholah, Desa Srirejosari, Lampung Timur, melalui teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap tokoh masyarakat, pembina, serta remaja yang terlibat dalam kegiatan hadroh. Penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai pendidikan Islam melalui hadroh bertumpu pada tiga aspek: iman (kecintaan kepada Rasulullah SAW lewat syair shalawat), ibadah (syiar dan doa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT), serta akhlak (kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja sama). Dampaknya terlihat nyata pada remaja, seperti meningkatnya keterlibatan ibadah, perilaku sosial yang lebih santun, dan berkurangnya ketergantungan pada handfone. Meski ada kendala regenerasi anggota karena melanjutkan pendidikan ke luar daerah, kegiatan tetap berlanjut berkat dukungan orang tua dan pemerintah setempat.