cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
TRACHOMA Arti Lukitasari
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Trakhoma adalah keradangan konjungtiva yang akut, sub akut atau kronis yang disebabkan oleh Chlamidia Trachomatis. Penyebaran  trakhoma terjadi secara kontak langsung maupun tidak langsung dan uerat  hubungannya dengan faktor lingkungan dan higiene sanitasi. Karena Trakhoma merupakan penyakit yang dapat dicegah, maka diperlukan tindakan pemeriksaan dan penanganan  lebih cepat terhadap kasus yang dicurigai. Pengobatan terhadap penyakit trakhoma diberikan sesuai dengan  klasifikasi dan penyulit yang timbul.Abstract. Trachoma is an inflamation of the conjunctiva of acute, sub acute or chronic, caused by Chlamidia Trachomatis. Trachoma is a chronic disease,  usually suffered by communities with poor hygiene sanitation. Because of it’s preventable blindndness, communities with Trachoma suspected should always be investigated early.  Immediate and prompt treatment give an excellent prognosis. The spread of trachoma occurs in contact  directly or indirectly  and closely assosiated with environmental factors  and hygiene sanitation. Treatment of trachoma disease is given in accordance with the gradation.  
Perbedaan uji diagnostik antigen, antibodi, RT-PCR dan tes cepat molekuler pada Coronavirus Disease 2019 Budi Yanti; Fitri Dewi Ismida; Klarina Elsa Siti Sarah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v20i3.18719

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan jenis penyakit baru yang teridentifikasi pada manusia. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan SARS-CoV-2. Angka mortalitas yang disebabkan oleh SARS-COV-2 (3,8%), hal ini lebih rendah dari angka mortalitas yang disebabkan oleh infeksi coronavirus sebelumnya, yaitu SARS-COV (10%) dan MERS-COV (37,1%). Namun, angka penularan dari SARS-COV-2 jauh lebih tinggi, yaitu 10 kali lipat bersifat lebih infeksius. Hal ini dapat dijadikan sebagai penjelasan penyebab dari mewabahnya virus yang terjadi secara mendadak. Infeksi SARS-COV-2 terjadi melalui droplets, kontak dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi, benda-benda yang terkontaminasi. COVID-19 dapat menimbulkan tanda dan gejala yang bervariasi. (WHO-2019-nCOV) Infeksi ini dapat menyebabkan gejala ISPA ringan hingga berat bahkan sampai terjadi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik. Dalam melakukan diagnosis diperlukannya pemeriksaan yang memiliki tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan mencakup pemeriksaan radiologis, dan pemeriksaan laboratorium (uji antigen, antobodi, serologi dan molekuler). Dalam referat ini akan dibahas mengenai beberapa pemeriksaan diagnostik yang umum dilakukan saat ini, yaitu rapid test antigen, rapid test antibodi, ELISA, RT-PCR dan Tes Cepat Molekuler. Setiap pemeriksaan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun pemeriksaan baku emas dalam mendiagnosis COVID-19 tetap menggunakan RT-PCR.
HUBUNGAN GAYA BELAJAR DENGAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA YANG MENDERITA DISPEPSIA FUNGSIONAL Sakdiah Sakdiah; Taufik Suryadi; Ashila Rahmatika Putri
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i1.11210

Abstract

Abstrak. Dispepsia fungsional merupakan kelainan fungsional yang terdiri dari gejala klinis seperti nyeri ulu hati, perut kembung, cepat kenyang, mual dan muntah. Hal ini berpengaruh terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa melalui mekanisme fisiologis dan psikologis. IPK adalah cerminan hasil nilai pencapaian pembelajaran ditingkat perkuliahan. Hasil belajar dapat dipengaruhi oleh gaya belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya belajar dengan IPK pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala yang menderita dispepsia fungsional. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan metode stratified random sampling. Responden penelitian berjumlah 98 orang yang menderita dispepsia fungsional pada angkatan 2014, 2015 dan 2016. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa paling banyak kategori IPK sangat memuaskan (42,9%) dengan auditori adalah gaya belajar yang paling banyak digunakan (59,2%) dan diikuti oleh gaya belajar kinestetik (16,3%). Sebanyak 11% responden dengan kategori IPK pujian dan 7% diantaranya memiliki gaya belajar visual. Berdasarkan hasil analisis uji Kruskal Wallis terdapat hubungan signifikan dengan intensitas lemah antara gaya belajar dan IPK pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala yang menderita dispepsia fungsional (a0,05; p=0,000; r=-0,349). Kesimpulan dari penelitian ini, terdapat hubungan antara gaya belajar dengan IPK pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah  Kuala yang menderita dispepsia fungsional.Kata kunci: Dispepsia Fungsional, Indeks Prestasi Kumulatif, Gaya BelajarAbstract. Functional dyspepsia is a functional abnormality consisting of clinical symptoms such as epigastrial pain, flatulence, early feeling of fullness (satiety), nausea and vomiting. It affects students' Grade Point Average (GPA) through physiological and psychological mechanisms. GPA reflects the learning outcomes at the end of study, which is influenced by learning style. This study aimed to determine the relationship between learning style with GPA of medical students of Syiah Kuala University with functional dyspepsia. This was an analytic observational study with cross-sectional design. The respondents included 98 students suffering from functional dyspepsia in the force of 2014,2015 and 2016 selected using stratified random sampling. The result of the study showed that most students in the IPK category were very satisfactory (42,9%) with auditory was the most used learning style (59,2%) and followed by kinesthetic learning style (16,3%). And as many as 11% of respondents with IPK praise category and 7% of whom have visual learning style. based on the crucial wallis test results there is a significant relationship with the weak intensity between learning styles and ipk at the medical faculty students of syiah kuala university who suffer from functional dyspepsia (a0,05; p=0,000; r=-0,349). This study concluded that learning style was associated with GPA of medical students of Syiah Kuala University with functional dyspepsia.Keyword: functional dyspepsia, Grade Point Average, learning style
TWIN TWIN TRANSFUSION SYNDROME Hilwah Nora
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Twin-twin transfusion syndrome (TTTS) adalah suatu komplikasi dari kehamilan multipel monokorion yang berisiko tinggi menyebabkan kematian fetal/neonatus, terutama pada janin usia belum mampu hidup  dan bila janin berhasil hidup maka janin tersebut berisiko mengalami gangguan jantung, syaraf dan mental. Anastomosis pembuluh darah antar janin berperan penting pada patofisologi terjadinya TTTS. Darah ditransfusikan secara tidak seimbang antara satu janin (donor) dengan janin yang lain (resipien). Transfusi ini menyebabkan penurunan volume darah janin donor. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan janin donor menjadi terhambat. Sedangkan janin resipien mendapat darah yang berlebihan sehingga bias mengakibatkan gagal jantung. Abstract. Twin-twin transfusion syndrome (TTTS) is one of the most serious complications of monochorionic multiple gestations. It is associated with a high risk of fetal/neonatal mortality, especially in previable gestations, and fetuses who survive are at risk of severe cardiac, neurologic, and developmental disorders. Placental intertwin vascular anastomoses play a key role in the pathophysiology of TTTS. Blood can be transfused disproportionately from one twin (the donor) to the other twin (the resipient). The transfusion cause the donor twin to have decreased blood volume. This in turn leads to slower than normal growth than its co-twin. The resipien twins become overloaded with blood. This excess blood puts a strain on this baby’s heart to the point that it may develop heart failure. 
Pendekatan diagnosis dan tatalaksana bronkhiolitis pada bayi dan anak Bakhtiar Bakhtiar
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bronkiolitis  merupakan  penyakit  infeksi  saluran pernafasan  bawah akut dengan mekanisme terjadinya inflamasi pada bronkiolus, yang ditandai gambaran klinis berupa batuk, sesak nafas, whezing, distres pernafasan and usaha nafas saat ekspirasi.  Penyebab tersering dari bronkhiolitis adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV).   Diagnosis bronkhiolitis  ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan  fisis,  pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan  penunjang  Jainnya.   Tatalaksna  bronkhiolitis dilakukan dengan   eliminasi mikroorganisme penyebab, pemberian  korti.kosteroid sebagai  antiinflamasi, bronkhodilator, dan tindakan supportif seperti pemberian oksigen, cairan intravena,  dan nutrisi yang cukup. Pencegahan dilakukan dengan pemberian imunoglobulin dan vaksinasi. (JKS 2009; J:131-138) Kata kuoci:  Bronkhiolitis,RSV,  korticosteroid,bronkhodilator,vaccinasi. ABSTRACT. Bronchiolitis  is an acute lower respiratory infection disesase with mechanism  of inflammation in bronchiolus, which characterized by clinical  appearance are cough, dypsnea, wheezing, respiratory distres, and respiratoy effort in expiration.  The most common cause of bronchiolitis is Respiratory Syncytial virus (RSV). The diagnosis of bronchiolitis is based  on anamnesis, physical examination, laboratory, and other additional supportive examination. The managementof bronchiolitis is done by eliminating the ethiological microrgan.ism, administration of  corticosteroid as an antiintlammation,   bronchodilator, and supportive treatment such as administration of   oxigen,  intravenous   fluid,  and adequate nutrition.    The prevention  can be done by administrationofimunoglobulin dan vaccination. (JKS2009; J: 131-138) Keyword: Bronchiolitis,RSV, corticosteroid,bronchodilator,vaccination.
PERAN SERAT PADA MODULASI MIKROBIOTA USUS PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Marisa Marisa
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Diabetes Melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit degeneratif dengan prevalensi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu variabel penting pada tatalaksana DM tipe 2 secara global saat ini adalah mikrobiota usus. Pada DM tipe 2 terjadi disbiosis mikrobiota usus, yang akan menyebabkan chronic systemic low grade inflammation yang mendasari gangguan metabolik. Jumlah Bifidobacterium yang merupakan bakteri komensal yang berperan dalam menjaga barrier usus, berkurang pada pasien DM tipe 2. Mikrobiota ini dapat memperbaiki permeabilitas usus dan mencegah disbiosis dengan cara menjaga barrier usus. Pada DM tipe 2 juga terdapat penurunan jumlah Akkermansia muciniphila. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa mikrobiota ini berkorelasi negatif dengan DM tipe 2, obesitas, dan profil gangguan metabolisme glukosa. Mikrobiota usus dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan diet termasuk serat, merupakan faktor utama yang mempengaruhinya. Artikel ini membahas efek modulasi serat terhadap mikrobiota usus spesifik pada DM tipe 2, sehingga dapat dijadikan sebagai target penatalaksanaan DM tipe 2 di masa yang akan datang. (JKS 2016; 2: 109-113) Kata kunci: mikrobiota usus, DM tipe 2, diet, serat Abstract. Type 2 Diabetes Melitus (T2DM)) is a degenerative disease with growing prevalence year by year. One of the important variables in the treatment of T2DM globally nowadays is the gut microbiota. There is a gut microbiota dysbiosis in T2DM, and leads to chronic low grade systemic inflammation underlying metabolic disorders. The number of Bifidobacterium, a commensal bacteria that play a role in keeping the intestinal barrier, reduced in T2DM patient. This microbiota can improve intestinal permeability and prevent dysbiosis of gut microbiota by maintaining the intestinal barrier. In T2DM, there was also a decline number of Akkermansia muciniphila. Researchs revealed that this microbiota negatively correlated with T2DM, obesity, and profiles of glucose metabolic disorders. Gut microbiota is influenced by a variety of factors, and diet including dietary fiber, is the main factors that influence it. This article present an information about the effects of dietary fiber on modulation of specific gut microbiota in T2DM, so it can be used as the target of the management of T2DM in the future. (JKS 2016; 2: 109-113) Keywords: gut microbiota, T2DM, diet, dietary fiber
HUBUNGAN TERAPI MODALITAS INDIVIDU DAN KELOMPOK PADA PASIEN GANGGUAN JIWA TERHADAP KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI ANCAMAN BENCANA GEMPA BUMI DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSJ ACEH Sarah Ainun; Muchlisin ZA; Imran Imran
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i2.8506

Abstract

This study  aims to determine the relationship of increasing the parameters of knowledge, attitude, and action through individual therapy and group activity therapy in improving the preparedness of patients facing earthquake disaster at mental hospital. This reserch methode use Experimental design with true experiments model design (pre test-post test control group design). The sampling technique used is simple random sampling with sample size of 30 patients drawn from 9 intermediate inpatient rooms. Patients were divided into three group; 10 controls, 10 individual, and 10  group activity therapy. Data were collected through interviews and obsevation. The results showed that there was no increase of post-test in the control group on the parameters of knowledge, attitude, and action. The highest increase was found in the action parameter of 10.7 ( increase 60%) for individual therapy 7.3 (increased 52.52%) for group actifity therapy.. Therapy of individual modalities and therapy group activities are indicates existence in improving the knowledge, attitudes, and actions of patients in the face of the earthquakes.
Eales disease’ : etiopatogenesis dan tatalaksana Lia Meuthia Zaini
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v19i3.18120

Abstract

Abstrak. Eales disease merupakan kelainan vaskulopati obliteratif idiopatik primer, yang ditandai dengan adanya inflamasi pembuluh darah, oklusi, dan neovaskularisai pada retina, terutama mengenai pembuluh vena retina perifer. Kelainan ini pertama kali dideskripsikan oleh Henry Eales pada tahun 1882. Eales disease ditemukan di negara Inggris, Amerika, dan Kanada pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20. Namun saat ini lebih sering ditemukan di negara India, dengan insidensi 1 dari 200-250 pasien dengan kelainan mata. Pada awal penyakit, beberapa pasien tidak menunjukkan gejala, namun yang lainnya menunjukkan gejala berupa adanya bintik-bintik yang melayang (floaters), serta pandangan kabur atau berkabut yang mungkin diakibatkan dari perdarahan vitreous.Terapi dengan kortikosteroid saat ini masih menjadi terapi utama dalam menangani vaskulitis yang terjadi pada retina. Beberapa tindakan lain yang juga dapat dilakukan adalah pemberian anti-VEGF, laser fotokoagulasi, penggunaan obat anti-tuberculosa, serta bedah vitreo-retina untuk mengatasi perdarahan vitreous yang terjadi. Kata kunci : Eales’disease, vaskulitis retina, tuberculosisAbstract. Eales disease is a primary idiopathic occlusive vasculopathy, characterized by venous inflammation (vasculitis), occlusion, and retinal neovascularization that usually involves the peripheral retina. This disease was first describe by Henry Eales in 1882. Eales disease was initially reported in United Kingdom, U.S.A, and Canada in the mid 19th century and the beginning of the 20th century. Now seen more commonly in the Indian, with the incidence was 1 in 200-250 ophthalmic patients. In the initial stages, some patients are often asymptomatic, but some may develop symptoms such as floaters and blurring vision due to vitreous hemorrhage. Corticosteroids remain the mainstay therapy to treat vasculitis in the retina. Others management are anti VEGF, laser photocoagulation, anti tuberculosis drugs, and vitreo-retinal surgery to manage unresolved vitreous hemorrhage. Key words: Eales’disease, retinal  vaskulitis, tuberculosis
Cavernosografi Iskandar Zakaria
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Cavemosografi    merupakan  suatu teknik  radiodiagnostik    dalam   upaya  menegakkan    kelainan    penis terutama   mengevaluasi     kelainan   anatomi  dari  corpora   cavemosa  oleh   berbagai    penyebab.    Cavemosografi disamping    dapat     memberikan   gambaran     abnormalitas    dari   corpora   cavemosa,    juga    berguna     dalam menentukan     differensial      diagnosis     dari      kegagalan      ereksi      organik.      Pengetahuan       anatomi       penis, hemodinamik   dan  fisiologi    ereksi    sangat   diperlukan   untuk  menuju  pada  suatu   diagnosis    yang   tepat   serta menentukan   penyebab  disfungsi    ereksi   yang akurat. (JKS 2007;3:   165-176) Kata  Kunci:    Cavemosografi,   disfungsi   ereksi, kegagalan   ereksi  organik Abstract.  Cavemosography   is   a radiodiagnostic     technique   to  enforce  the penis  disorders  especially   to evaluate  anatomic  abnormalities   of  the  corpora  cavemosa  by various  causes.    Cavemosography   give  the abnormality    features  of corpora  cavemosa  and also   useful in determining   the differential   diagnosis  of its organic  erectile  failure.  The knowledge   of penile anatomy, hemodinamics,  and physiology   of the erection is  very   necessary  to lead a correct  diagnosis  and determine  the precise   cause of the erectile  dysfunction. (JKS  2007;3:  165-176) Keywords:  Cavernosography,   erectile dysfunction,  organic erectile failure
TIBIAL STRESS FRACTURE Reza Maulana
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres fraktur merupakan cedera yang sering terjadi pada kegiatan yang banyak melibatkan aktifitas fisik seperti pada atlet dan militer. Cedera ini sering terjadi pada ekstremitas bawah dan paling sering terjadi pada tulang tibia dibandingkan lainnya. Stres fraktur disebabkan oleh aktifitas berulang dimana aktifitas osteoblastik tertinggal dari aktifitas osteoklastik, sehingga tulang mengalami mikrofraktur selama aktifitas dan akhirnya mikrofraktur terkonsolidasi menjadi stres fraktur. Stres fraktur dapat dicegah dengan pemanasan sebelum kegiatan dan menaikkan frekuensi dan intensitas kegiatan sedikit demi sedikit. Terapi obat-obatan berupa antiinflamasi dan antinyeri, istirahat sampai bebas rasa sakit.

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue