cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jks@unsyiah.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala
ISSN : 14421026     EISSN : 25500112     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
Deteksi dan Klasifikasi Data Ultrasonografi Tumor Payudara dengan Menggunakan Adaptive Neuro Fuzzy Inference System (ANFIS) Ratna Idayati
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.    Telah   dilakukan   identifikasi   data  ultrasonografi    tumor  payudara   dengan  menggunakan Adaptive NeuroFuzzy InferenceSystem  (ANFIS).  Untuk  klasifikasi  diberikan   pasangan-pasangan input  fungsi  keanggotaan   (MFs)  antara     O - 0, l dengan  output  pasien  tumor/kaoker   sangat  parah  ; input  MFs  0,11   -  0,2,    dengan  output  pasien  tumor/kanker   parah;    input  MFs   0,21   - 0,4 dengan output  pasien  tumor/kanker   tidak  parah  ;  dan input   0,4 -1 dengan  output  pasien  sehat.  Jdentifikasi dilakukan   terhadap   data  citra  ultrasonografi    baik  pada  pasien   sehat   maupun  pada  pasien   yang memiliki kclainan,   dan  memberikan   persentase   kcbenaran   data  training  sebesar  87%.    Rule base dibuat   dengan  menggunakan   sistem  pakar  (expert system) dengan  8 aturan  dan training   data Fuzzy Inference     System    (FIS)      dilakukan      dengan      menggunakan       metode      backpropagation. (JKS 20~0;2:77-86)Kata kunci: data ultrasonografi, tumor  payudara,  neuro-fuzzy, membership junction, data training, data testing, FIS, rule base, ANFIS.Abstract.   It  bas  been  done  to  identify   breast   tumors   with  ultrasound    data  using  the  Adaptive Neuro   Fuzzy   Inference   System   (ANFIS).   For  the  classification    given  pairs   with  Membership Functions   Score  (MFS)   0 - 0.1    for patient  output  tumor  I cancer  is very severe;   MFS  0.11      -  0.2, for patient  tumor  I cancer  is severe;  MFS  0.21  - 0.4 for   patient  tumor  I cancer  is not severe,  andMFS 0.4 -1  for healthy  patients.   Identification   of ultrasound   image  data  are made  to both healthypatients   and  in  patients  who  have  the  disorder,   and gives   the percentage   of truth  training   data  by87%.  Rule  base is created  by using an expert  system  (expert  systems)  with  8 rules and training  dataFuzzy  Inference  System (FIS)  were calculated  using backpropagation.   (JKS 2010;2:77-86)Keywords: ultrasonografi data, breast tumors,  neuro-fuzzy, membership junction,  data training, data testing, FIS, rule base, ANFIS.
STRATEGI DE-ESKALASI PADA PNEUMONIA Novita Andayani
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. De-eskalasi antibiotik merupakan cara pengobatan pneumonia yakni pemberian antibiotik awal berspektrum luas dengan probabilitas tinggi mencakup semua patogen yang mungkin kemudian dalam waktu 48-72 jam dilanjutkan dengan pengalihan antibiotik spektrum sempit berdasarkan data mikrobiologi yang dapat mencakup semua kuman penyebab (patogen kausatif). Peran penting pada de-eskalasi adalah pada proses pengambilan keputusan dengan memilih terapi spektrum luas secara empiris dan kebijakan menghentikan terapi antibiotik bila hasil kultur sputum mikroorganisme sudah negatif dan terdapat tanda-tanda awal penyembuhan. Tujuan utama dari de-eskalasi adalah berusaha mengganti rejimen terapi empiris kombinasi menjadi rejimen monoterapi untuk mencegah resistensi selama pengobatan.Abtract. Antibiotic de-escalation is a way of treating pneumonia by giving broad spectrum antibiotic followed by specific antibiotic after 48-72 hours based on the microbiology data which include every micro organism associated. The important part of de-escalation is the decision of choosing broad spectrum therapy empirically and the decision to stop the antibiotic therapy if the result of sputum culture is negative and the signs of healing start to appear. The main purpose of de-escalation is to try to change the regiment of empirical combination therapy to a single therapy to prevent recystention during medication.
Polisitemia vera; aspek klinis dan tatalaksana terbaru Muhammad Riswan; Rizqi Aulia Oetama; Muhsin Muhsin
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v20i2.18507

Abstract

Abstrak. Polisitemia Vera (PV) adalah gangguan kronis klonal mieloproliperatif yang ditandai dengan peningkatan hebat dalam jumlah sel darah merah dan volume darah total, dan biasanya disertai dengan leukositosis, trombositosis dan splenomegali. Pada PV terjadi defek primer pada ekson 14 tirosin kinase JAK2 yang menyebabkan hilangnya domain pseudo kinase auto-inhibitor JAK2 serta hipersensitivitas terhadap pembentukan koloni eritroid EPO dan EPO independen. Gejala umum yang muncul biasanya tidak spesifik seperti kelelahan, sakit kepala, pusing, penglihatan kabur sementara, amaurosis fugax dan gejala lain yang menunjukkan serangan transient ischemic. Kriteria diagnostik dari World Health Organization (WHO) yang diperbarui memperkenalkan beberapa perubahan signifikan dengan kriteria sebelumnya yakni menurunkan ambang batas kadar hemoglobin dan cut-off nilai hematokrit, peningkatan fitur histopatologis dan karakterisasi mutasi. Tatalaksana PV meliputi plebotomi untuk mengurangi hematokrit, pemberian obat hydroxyurea, serta antitrombotik, diberikan sesuai dengan stratifikasi risiko. Mitigasi risiko trombosis dan plebotomi penting dilakukan dan juga dapat dilakukan pada fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia saat ini. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya komplikasi yang akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien PV.Kata kunci: polisitemia vera, janus kinase 2, plebotomiAbstracts. Polycythemia Vera (PV) is a chronic myeloproliferative clonal disorder characterized by severe increase in red blood cell count and total blood volume, and is usually accompanied by leukocytosis, thrombocytosis and splenomegaly. There is a primary defect in exon 14 tyrosine kinase JAK2 which causes the loss of the JAK2 auto-inhibitor pseudo kinase domain and hypersensitivity to the formation of EPO and EPO erythroid colonies. General symptoms that appear in PV patients are usually not specific such as fatigue, headache, dizziness, temporary blurred vision, amaurosis fugax and other symptoms that indicate transient ischemic attacks. The updated diagnostic criteria from the World Health Organization (WHO) introduce some significant changes to the previous criteria, namely lowering the hemoglobin level threshold and hematocrit cut-off, increasing histopathological features and mutation characterization. PV management includes phlebotomy to reduce hematocrit, administration of hydroxyurea drugs, and antithrombotic, which are given according to risk stratification. Mitigation of the risk of thrombosis and phlebotomy is important and can also be done at existing health facilities in Indonesia. This is important to prevent complications that will increase the morbidity and mortality of PV patients.Keywords: Polycythemia Vera, Janus kinase 2, phlebotomy
ASPEK RADIOLOGI PENYAKIT IDRSCHPRUNG Nurul Machillah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.   Penyakit Hirschprung adalah  kelainan   kongenital ridak  dijumpai pleksus auerbach dan pleksus meisneri pada kolon,   pertama kali  dilaporkan oleh Frederick Ruysch, kemudian diplubikasikan oleh  Harald Hirschsprung pada tahun 1886.  Sembilan puluh persen (90%) terletak pada rectosigmoid, dapat mengenai  seluruh kolon bahkan seluruh usus (Total Colonic Aganglionosis). Tidak adanya sel ganglion mengakibatkan hambatan pada gerakan peristaltik,  sehingga terjadi ileus fungsional dan dapat terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan  pada kolon proksimal.   Colon inloop khas, berupa penyempitan lumen colon distal  dan pelebaran mendadak segmen proksimalnya disertai zona transisi. (JKS 2005;1:14-20) Kata  kuncl  :  Penyakit  hirschprung,  zona transisi Astract.  Hirschsprung  disease is a congenital abnormality, there is 1101fo1111d auerbach plexus  and  meisneri  plexus  of  the  colon,  first reported  by  Frederick   R11J:~ch,  then publication  by Harald  Hirschsprung  in  1886.  Ninety  percent   (90%)  located  i11  the rectosigmoid,  the entire colon can even the all co/011 (total colonic aganglionosis).   The absence  of ganglion  cells  resulted  in inhibition  of peristalsis,  resulting  in functional ileus may occur and excessive hypertrophy  and distension in the proximal  co/011.  Colon inloop  is typical; a narrowing of the lumen of the distal colon with sudden  widening  of proximal segment, the transition zone.  (JKS 2005;1 :14-20) Keyword:  Hirschprung 's disease.   transitional zone
DISTRIBUSI GAMBARAN HISTOPATOLOGI PASIEN KANKER SERVIKS UTERI DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH Fajriah Fajriah; Riska Apriliana
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kanker serviks masih merupakan penyebab kematian kedua tersering pada wanita diseluruh dunia dan menempati posisi tertinggi di negara berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi pasien kanker serviks di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh berdasarkan usia, paritas, stadium klinik, dan gambaran histopatologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data diambil dengan melihat rekam medis pasien kanker serviks. Sampel penelitian adalah pasien kanker serviks yang berobat dan di rawat inap di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh periode 1 Januari 2010 – 30 Juni 2012. Subjek penelitian berjumlah 22 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi frekuensi pasien kanker serviks paling tinggi pada usia 40 tahun (81,8%), memiliki riwayat persalinan ≥ 5 kali (59,1%), stadium lanjut (81,8%), dan jenis karsinoma skuamosa (77,3%), jenis adenokarsinoma (22,7%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kanker serviks jenis karsinoma skuamosa paling banyak ditemukan pada pasien berusia 40 tahun (68,2%) dan pasien dengan riwayat persalinan ≥ 5 kali (45,5%), dan kasus stadium lanjut paling banyak ditemukan pada pasien berusia 40 tahun (63,6%) dan pasien dengan paritas ≥ 5 kali (50%). Kanker serviks paling banyak ditemukan pada kelompok usia 40 tahun, memiliki riwayat persalinan ≥ 5 kali, stadium lanjut, dan jenis karsinoma skuamosa. Abstract. The cervical cancer is still being the second most common cause of death for a women in worldwide and becoming the highest position in the developing country. The aim of this study was to determine the distribution of cervical cancer patients at RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh based on age, parity, clinical stadium, and histopathology. This is a descriptive study. All supporting data was collected from cervical cancer patients medical records. The sample were cervical cancer patienst hospitalized at RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh from January 1st, 2010 to June 30th, 2012. Total of this study subject is 22 patients. The results of this study indicated that the frequency and distribution of the highest cervical cancer patients by age 40 was 81,8%, delivery history ≥ 5 times was 59,1%, advanced stage was 81,8%, and squamous carcinoma type was 77,3%., adenocarcinoma type (22,7%).This study also showed that cervical cancer with squamous carcinoma type most commonly found in patients 40 (68,2%), and patients with delivery history ≥ 5 times (45,5%), and advanced stadium most found in patients age 40 (63,6%) and patient with delivery history  ≥ 5 times (50%). Cervical cancer is the most prevalent in the age group 40, delivery history ≥ 5 times, advanced stadium and squamous carcinoma type.
Faktor yang mempengaruhi bidan dalam inisiasi laktasi di klinik bersalin Kota Banda Aceh - Nanggroe Aceb Darussalam Husnah Husnah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Pemberian ASI  direkomendasikan untuk diberikan   segera tau 30 menit hingga  l jam setelah  bayi lahir.   Inisiasi    menyusui   dini  akan mempengaruhi  kelancaran suplai   ASI dan  mencegah  morbiditas   dan mortalitas bayi  yang disebabkan karena  infeksi.   Namun,   beberapa penelitian meounjukkan  bahwa inisiasi menyusui  dim  masih jarang  dilakukan  karena  beberapa   faktor  seperti peagetahuan  ibu  dan  bidan yang membantu persalinan ibu.  Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan durasi kerja bidan uotuk proses inisiasi rnenyusui  dini di klinik bersalin.  Penelitian dilakukan secara kuantitaf observasional dengan desain cross-sectional.    Data  kualitatif dikumpulkan melalui wawancara  mendalam.    Sampel dipilih secara purposif dari klinik bersalin di Banda Aceh.  Data di analisis secara univariat, bivariat dengan Chi  Square dan  multivariate  dengan regresi  logistik.  Hasil analisis bivariat  menunjukkan  bahwa  pengetahuan  bidan berpengaruh terhadap inisiasi menyusui dim (p0.05),   sementara variable sikap dan waktu yang disediakan bidan, tidak mempengaruhi  inisiasi    ini.   Hasil  anaisis  multivariat  menunjukkan  hal  yang  sama  dimana pengetahuan bidan  berpengaruh terhadap inisiasi  menyusui dini  (p= 0,049 OR= 3,87 (95%  - Cl:1.00-14.86), dan variabel sikap dan waktu yang disediakan bidan, tidak mempengaruhi inisiasi.  (JKS 2009;2:51-56) Kata L.,mci :  Pengetahuan, sikap, durasi kerja, bidan,  inisiasi menyusui  dini              \,.;( 'Abstract.   Breastfeeding is  recommended soon or 30 minutes to  an hour after childbirth.   Breastfeeding  or initiation of lactation will affect successful continuity of breast milk supply and prevent infant morbidity and mortality caused by infection.   However, some studies  convey that the prevalence of lactation initiation   is still relatively  low due to factors of mothers and midwives who assist childbirth.   This study have done to identify the effect of knowledge, attitude and duration of occupation of midwives to lactation  initiation at maternity clinic of Banda  Aceb Municipality.   It was a quantitative observational  study with cross  sectional design. Qualitative data were obtained through indepth interview.  Samples were purposively chosen from all midwives working  at maternity clinic of Banda  Aceh Municipality.   Data analysis used univariable, bivariable with Chi square  and multivariable with logistic regression.  The result of bivariable analysis showed that kno.wledge of midwives  affected  lactation  initiation  (p0.05)    whereas  variable  of  attitude  and  duration  of  midwives' occupation did not affect lactation initiation.   The result of multivariable analysis showed that knowledge of midwives affected lactation  initiation (p= 0,049  OR= 3,87  (95% - Cl:   1.00 -  14.86  ).  Variables of knowledge  of midwives affected lactation initiation whereas variable of attitude and duration of midwives' occupation did not affect lactation initiation.  (JKS 2009;2:Sl-56) Keywords  : Knowledge, attitude, duration of occupation, midwives, lactation initiation
HUBUNGANPENGETAHUAN PERUBAHAN IKLIM DAN SIKAP MASYARAKATTERHADAP KEJADIAN PENYAKIT MALARIA DI WILAYAH KECAMATAN DARUL IMARAH KABUPATEN ACEH BESAR Lisanuddin Lisanuddin; Nizam Ismail; Budi Aulia
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan signifikan dari iklim maupun variabilitas iklim yang menetap dalam jangka waktu yang lama (satu dekade) atau seterusnya. Berdasarkan pemeriksaan darah (pemeriksaan mikroskopi) kejadian penyakit malaria di Kecamatan DarulImarah Kabupaten Aceh Besar tahun 2012 terbanyak terjadi di wilayah Kerja Puskesmas Kuta Cot Glie (53 kasus) dan Puskesmas Saree (44 kasus). Bila ditinjau dari place (tempat), penderita malaria terbanyak adalah pekerja yang membuka lahan baru di daerah hutan dan pulang ke rumah setelah menderita demam dan ditularkan ke penghuni rumah melalui gigitan nyamuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim dan sikap masyarakat terhadap kejadian malaria di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crossectional. Hasil penelitian didapat bahwa adanya  hubungan pengetahuan  perubahan iklim serta sikap masyarakat dalam penanggulangan terhadap kejadian penyakit malaria di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar.(JKS 2016; 2: 69-73)Kata kunci :perubahan iklim, sikap, kejadian malariaAbstract. Climate change is defined as a significant change of climate and climate variability that persist in the long term (decade) or so. Based on blood tests (microscopy) the incidence of malaria in the district of Aceh Besar district DarulImarah in 2012 occured in the region of Puskesmas Kuta Cot Glie (53 cases) and Puskesmas Saree (44 cases). When viewed from the place (where), patients with malaria are those workers who open up new land in forested areas and return home after suffering from a fever and is transmitted to the occupants of the house through a mosquito bite. The purpose of this study was to determine the effect of climate change and public attitudes to malaria incidence in the district of Aceh Besar district Darul Emirate. (JKS 2016; 2: 69-73)Keywords : climate change , the attitude , the incidence of malari
GAMBARAN PENGGUNAAN LENSA KONTAK (SOFT LENS) PADA MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA DITINJAU DARI JENIS LENSA, POLA PEMAKAIAN, JANGKA WAKTU DAN IRITASI YANG DITIMBULKAN Ratna Idayati; Firdalena Mutia
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v16i3.6474

Abstract

HIPEREMESIS GRAVIDARUM Muhammad Rizky Nanda; Rizki Rahmadhani; Mohd. Andalas Mohd. Andalas
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v19i2.18065

Abstract

Abstrak. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai akhir kehamilan 20 minggu. Etiologinya belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa ahli yang menyatakan bahwa erat hubungannya dengan faktor endokrin dan non endokrin. Mual dan muntah terjadi pada 60-80 % primigravida dan 40-60 % multigravida. 3, 4 Presentase hormon β-HCG akan meningkat sesuai dengan pertumbuhan plasenta. Diperkirakan hormon inilah yang mengakibatkan muntah melalui rangsangan terhadap otot polos lambung. Sehingga, semakin tinggi hormon HCG, semakin cepat pula rangsangan terhadap muntah mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan janin. 4, 5, 6 Pada laporan kasus ini, kami memaparkan seorang wanita G1 Hamil 14-15 minggu datang dengan keluhan lemas akibat mual dan muntah sebanyak 20 kali sehari sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Berdasarkan pemeriksaan fisik ditemukan mata cekung dengan turgor kembali 2 detik. Hasil Laboratorium menunjukkan adanya hipoglikemia, dan ketonuria. Hasil ultrasonography (USG) ditemukan janin tunggal hidup intrauterin, usia kehamilan 11-12 minggu, CRL 4,63 cm. Berdasarkan PUQE (Pregnancy Unique Quantification of Emesis and Nausea) score, pasien didiagnosis dengan hiperemesis gravidarum stadium 1 dan mendapatkan terapi cairan, injeksi anti-emetik 4 mg/2 ml per 8 jam, asam folat 400 mcg per hari, dan suplementasi vitamin B kompleks per hari.Kata Kunci : Hiperemesis gravidarum, ketonuria, PUQE score
PeranSenyawa Oksigen Reaktif dalam Makanisme KerusakanIntegritas Membran Spermatozoa KerbauLumpur Setelah Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll Dasrul Dasrul; Hardjopranjot Hardjopranjot; Mahaputra L; Sudjarwo4 Sudjarwo4
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisa senyawa  oksigen  reaktif  dan  pengaruhnya  terhadap integritas membran plasma spermatozoa kerbau lumpur basil sentrifugasi gradien densitas percoll. Penelitian ini menggunakan semen segar kerbau lumpur sehat yang diperoleh dengan cara penampungan menggunakan vagina buatan.  Sampel semen dibagi dalam tiga kelompok yaitu  tanpa  sentrifugasi (kontrol) sentrifugasi gradien densitas percoll selama 5  menit  dan sentrifugasi gradien densitas percoll selama 10 menit. Selanjutnya semenbasil  sentrifugasi  diamati  produksi  senyawa  oksigen  reaktif  dan  integritas  membran  spermatozoa.Hasil penelitian  menunjukan  bahwa  produksi  ROS  spermatozoa  setelah  sentrifugasi  gradien  densitas  percoll meningkat secara bermakna {p0,05),  sedangkan persentase membran plasma utuh menurun secara bermakna{p0,05). Tingkat produksi ROS dan penurunan persentase integritas membran plasma utuh spermatozoa kerbau lumpur setelah sentrifugasi gradien densitas percoll selama IO menit lebih tinggi secara bermakna (p0,05) dibandingkan dengan sentrifugasi gradien .d1;nsitas  percoll selama 5 menit.. Tingkat produksi ROS berkorelasi negatif'dengan persentase integritas membran palsma utuh spermatozoa. (JKS 2007; 2:69-80) Kata  Kunci:  Sperma kerbau lumpur; sentrifugasi gradien densitas percoll,  ROS, integritas membran plasma utuh Abstract  The objective of this research was to find out the effect of preparation of sperm by using percoll gradient density centrifugation on the of reactive oxygen species (ROS) production and the demage integrity membranre of sperm swamp buffalo.The research is a laboratory study using a true experimental design,  used swamp buffalo  of  sperm divided into  3   groups i.  E  (  no  centrifugation/control;  percoll  density gradient centrifugation for  5  minutes  and percoll  density gradient centrifugation  for  IO   minutes.  Subsequently a determination of ROS production and· demage membrane integrity of sperm. The colleted data in this reseacrh were analysed varians and regression analysis. The result showed that ROS production after preparation with percoll density gradient centrifugation was highest of significant {p0,05) and the procentage intact membrane of sperm a significant decreased (p0,05).   The increase of ROS concentration and decrease. of procentage plasma membrane intact were after percoll density gradient centrifugation for IO minutes increase significantly (p0,05)  compared with percoll  density gradient centrifugation for  5  minutes. The ROS  concentration of spermatozoa has correlated with the prosentage of membrane plasma intact of spermatozoa after percoll density gradient centrifugation. (JKS 2007; 2:69-80)Keywords: Sperm of swamp buffalo; perco/1 gradien density centrifugation,  ROS,  integrity membrne plasma intact

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 1: April 2023 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22 Nomor 1 Maret 2022 JKS Edisi Khusus Oktober 2022 Vol 21, No 3 (2021): Volume 21 Nomor 3 Desember 2021 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21 Nomor 1 April 2021 Vol 20, No 3 (2020): Volume 20 Nomor 3 Desember 2020 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20 Nomor 2 Agustus 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20 Nomor 1 April 2020 Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19 Nomor 2 Agustus 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19 Nomor 1 April 2019 Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18 Nomor 2 Agustus 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18 Nomor 1 April 2018 Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017 Vol 16, No 3 (2016): Volume 16 Nomor 3 Desember 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16 Nomor 2 Agustus 2016 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16 Nomor 1 April 2016 Vol 15, No 3 (2015): Volume 15 Nomor 3 Desember 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15 Nomor 2 Agustus 2015 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15 Nomor 1 April 2015 Vol 14, No 3 (2014): Volume 14 Nomor 3 Desember 2014 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14 Nomor 2 Agustus 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014 Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13 Nomor 2 Agustus 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13 Nomor 1 April 2013 Vol 12, No 3 (2012): Volume 12 Nomor 3 Desember 2012 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 Nomor 1 April 2012 Vol 11, No 3 (2011): Volume 11 Nomor 3 Desember 2011 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11 Nomor 1 April 2011 Vol 10, No 3 (2010): Volume 10 Nomor 3 Desember 2010 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10 Nomor 2 Agustus 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10 Nomor 1 April 2010 Vol 9, No 3 (2009): Volume 9 Nomor 3 Desember 2009 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9 Nomor 2 Agustus 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9 Nomor 1 April 2009 Vol 8, No 3 (2008): Volume 8 Nomor 3 Desember 2008 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8 Nomor 2 Agustus 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8 Nomor 1 April 2008 Vol 7, No 3 (2007): Volume 7 Nomor 3 Desember 2007 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7 Nomor 2 Agustus 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7 Nomor 1 April 2007 Vol 6, No 3 (2006): Volume 6 Nomor 3 Desember 2006 Vol 6, No 2 (2006): Volume 6 Nomor 2 Agustus 2006 Vol 6, No 1 (2006): Volume 6 Nomor 1 April 2006 Vol 5, No 1 (2005): Volume 5 Nomor 1 April 2005 More Issue