cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12" : 15 Documents clear
Penggunaan telehealth dalam meningkatkan kemandirian pasien gagal ginjal kronis dengan peritoneal dialysis (PD): A systematic review Pasaribu, Yengsi Mei Karmita Br; Yulia, Yulia; Waluyo, Agung; Masfuri, Masfuri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i12.695

Abstract

  Background: As the number of chronic kidney failure patients increases, the use of peritoneal dialysis (PD) is increasingly promoted because it has several advantages over the use of hemodialysis. Apart from several advantages of PD, there are complications that often occur such as peritonitis and lack of knowledge so that remote monitoring is needed to increase patient independence in carrying out treatment thereby increasing the satisfaction and quality of life of PD patients. Purpose: To determine the use of telehealth in increasing the independence of chronic kidney failure patients with peritoneal dialysis. Method: Qualitative research systematic literature review on the use of Telehealth in increasing the independence of chronic kidney failure patients on peritoneal dialysis. Article search sources used the Pubmed, Sage Journal, Scopus, Science Direct, and ProQuest databases. The total number of articles that entered the screening stage was 373 articles, and there were 10 articles that were categorized as eligible based on the inclusion criteria for this research. Results: Based on research and reviews of 10 selected articles, the results showed that Mobile Health or eHealth increases patient independence based on knowledge, the patient's ability to carry out PD treatment independently at home, increases compliance, satisfaction and improves the quality of life of chronic kidney failure patients with PD. Conclusion: The use of telehealth is effective in helping early detection of complications, such as peritonitis, as well as improving patient quality of life by reducing stress and feelings of isolation. However, the success of telehealth implementation is highly dependent on technological readiness, patient digital literacy, and data security and privacy. Suggestion: The use of Telehealth/Mobile Health is recommended as a non-pharmacological intervention that is easy to implement to increase the independence of chronic kidney failure patients with PD at home   Keywords: Mobile Health; Peritoneal Dialysis; Self Management; Telehealth   Pendahuluan: Peningkatan jumlah pasien gagal ginjal kronis semakin meningkat, penggunaan dialisis peritoneal (PD) semakin dipromosikan karena memiliki beberapa keuntungan dari pada penggunaan hemodialisis. Selain beberapa keuntungan PD, terdapat komplikasi yang sering terjadi seperti peritonitis dan pengetahuan yang kurang sehingga diperlukan pemantauan jarak jauh untuk meningkatkan kemandirian pasien dalam melakukan perawatan sehingga meningkatkan kepuasan dan kualitas hidup pasien PD. Tujuan: Untuk mengetahui penggunaan telehealth dalam meningkatkan kemandirian pasien gagal ginjal kronis dengan peritoneal dialysis. Metode: Penelitian kualitatif tinjauan literatur sistematis tentang penggunaan Telehealth dalam meningkatkan kemandirian pasien gagal ginjal kronis dengan dialisis peritoneal. Sumber pencarian artikel menggunakan database Pubmed, Sage Journal, Scopus, Science Direct, dan ProQuest. Total artikel yang masuk tahap screening sebanyak 373 artikel, dan artikel yang dikategorikan eligible berdasarkan kriteria inklusi penelitian ini diperoleh sebanyak 10 artikel Hasil: Berdasarkan telaah dan review dari 10 artikel pilihan, didapatkan hasil bahwa Mobile Health atau eHealth meningkatkan kemandirian pasien berdasarkan dari pengetahuan, kemampuan pasien melakukan perawatan PD secara mandiri dirumah, peningkatan kepatuhan, kepuasan serta peningkatan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronis dengan PD. Simpulan: Penggunaan telehealth efektif dalam membantu deteksi dini komplikasi, seperti peritonitis, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dengan mengurangi stres dan rasa isolasi. Meski demikian, keberhasilan implementasi telehealth sangat bergantung pada kesiapan teknologi, literasi digital pasien, serta keamanan dan privasi data. Saran:  Penggunaan Telehealth/Mobile Health direkomendasikan sebagai salah satu intervensi non farmakologi yang mudah diterapkan untuk meningkatkan kemandirian pasien gagal ginjal kronis dengan PD di rumah.   Kata Kunci: Dialisis Peritoneal.; Kemandirian Pasien; Mobile Health; Telehealth.
Pengaruh intervensi pesan singkat (SMS) terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan ARV pada anak dengan HIV: A systematic review Rahmawani, Atika; Rekawati, Etty; Nurhaeni, Nani; Adawiyah, Robiyatul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i12.697

Abstract

Background: Children with HIV undergoing treatment cannot be separated from the provision of Antiretroviral Drugs (ARVs). ARV adherence is a very important treatment for HIV sufferers, especially for children because it can improve their quality of life. There are several interventions that can be done to improve ARV treatment adherence, one of which is by providing Short Message Service (SMS). The SMS method has been proven to help improve children's adherence in undergoing ARV treatment. Purpose: To provide an overview of the effect of short message service (SMS) interventions on improving ARV treatment adherence in children with HIV. Method: This study used a systematic review to obtain the latest scientific evidence. The research method was carried out by following the guidelines according to the recommendations of the PRISMA statement. Results: Five articles that have been reviewed reported that SMS interventions can improve treatment adherence in children with HIV. Conclusion: An SMS-based approach can be an effective and feasible method to improve treatment adherence in children with HIV.   Keywords: Adherence; Antiretroviral (ARV); Children with HIV; Short Message Service (SMS).   Pendahuluan: Anak dengan HIV yang menjalani perawatan tak terlepas dari pemberian Antiretroviral (ARV). Kepatuhan ARV merupakan pengobatan yang sangat penting dilakukan pada penderita HIV, khususnya bagi anak karena dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Ada beberapa intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan ARV, salah satunya adalah dengan pemberian Short Message Service (SMS). Metode SMS terbukti dapat membantu meningkatkan kepatuhan anak dalam menjalani pengobatan ARV. Tujuan: Untuk memberikan gambaran pengaruh intervensi pesan singkat (SMS) terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan ARV pada anak dengan HIV. Metode: Penelitian ini menggunakan tinjauan sistematis (systematic review) untuk mendapatkan bukti-bukti ilmiah terkini. Metode penelitian dilakukan dengan mengikuti panduan sesuai rekomendasi dari pernyataan  dalam  PRISMA. Hasil: Lima artikel yang telah di review melaporkan bahwa intervensi SMS dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan pada anak dengan HIV. Simpulan: Pendekatan berbasis SMS dapat menjadi metode yang efektif dan layak untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan di kalangan anak yang hidup dengan HIV.   Kata Kunci: Anak dengan HIV; Antiretroviral (ARV); Kepatuhan; Pesan Singkat (SMS).
Gambaran risiko malnutrisi pada anak kanker di Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu Putri, Widya Enita; Rakhmawati, Windy; Setiawan, Setiawan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i12.704

Abstract

Background: The prevalence of pediatric cancer in Indonesia reaches 1.49% of the total cancer cases in Indonesia. Cancer therapy carried out by children with cancer can improve survival in patients, but the side effects caused can lead to increased risk and incidence of malnutrition in cancer patients. The risk of malnutrition is the potential for individuals to experience nutritional deficiencies or excesses. Purpose: To identify risk of malnutrition in cancer children. Method: Quantitative descriptive research, conducted at the Ambu Cancer Fighters House Foundation in November-December 2024. The sampling technique used total sampling with a sample size of 48 respondents. The independent variable in this study is cancer patients, while the dependent variable is the risk of malnutrition. Data analysis used univariate in the form of frequency distribution. Results: Most respondents were male (64.6%), had cancer for more than 6 months (84.4%), and were diagnosed with leukemia (77.1%). The majority of children at risk of severe malnutrition were aged 1-4 years (62.5%) and 10-12 years (62.5%), with a higher proportion of males (64.1%). The most common type of cancer in children at risk of severe malnutrition was leukemia (54%), while 4 children (57.1%) had cancer for less than 6 months. Conclusion: Children with cancer aged 1-12 years are at high risk of malnutrition, with many children showing weight loss in the past month, emaciation, and symptoms such as diarrhea, nausea, vomiting, and decreased appetite in the past week.   Keywords: Cancer; Children; Malnutrition.   Pendahuluan: Prevalensi kanker anak di Indonesia mencapai 1.49% dari jumlah kasus kanker di Indonesia. Terapi kanker yang dijalankan oleh anak dengan kanker dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien, akan tetapi efek samping yang ditimbulkan dapat menyebabkan peningkatan risiko dan kejadian malnutrisi pada pasien kanker. Risiko malnutrisi merupakan potensi individu mengalami kekurangan atau kelebihan nutrisi. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran risiko malnutrisi pada anak yang mengalami kanker. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif, dilaksanakan di Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu pada bulan November-Desember 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 48 responden. Variabel independen dalam penelitian ini adalah penderita kanker, sedangkan variabel dependen adalah risiko malnutrisi. Analisis data yang digunakan univariate dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (64.6%), menderita kanker lebih dari 6 bulan (84.4%), serta didiagnosis leukemia (77.1%). Mayoritas anak dengan risiko malnutrisi berat berusia 1–4 tahun (62.5%) dan 10–12 tahun (62.5%), dengan proporsi lebih tinggi pada laki-laki (64.1%). Jenis kanker yang paling sering ditemukan pada anak dengan risiko malnutrisi berat adalah leukemia (54%), sementara anak yang menderita kanker kurang dari 6 bulan berjumlah 4 anak (57.1%). Simpulan: Anak penderita kanker usia 1-12 tahun berisiko tinggi mengalami malnutrisi, banyak anak mengalami penurunan berat badan dalam satu bulan terakhir, kondisi kurus, serta gejala seperti diare, mual, muntah, dan penurunan nafsu makan dalam seminggu terakhir.   Kata Kunci: Anak; Kanker; Malnutrisi.
Waktu respon untuk operasi caesar darurat dan dampaknya terhadap hasil maternal dan neonatal: A scoping review Dewi, Bella Rossana; Sriatmi, Ayun; Widjanarko, Bagoes
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i12.714

Abstract

Background: The decision-to-delivery interval (DDI) is a critical factor in emergency caesarean section, with the National Institute of Clinical Excellence (NICE) recommending a maximum of 30 minutes. However, adherence to this standard varies globally, particularly in resource-limited countries, contributing to an increased risk of maternal and neonatal complications. Purpose: To analyse response time to emergency caesarean section and its impact on maternal and neonatal outcomes. Method: A scoping review of PubMed, Scopus and Google Scholar databases was conducted to analyse studies published between 2014-2024 that addressed DDI, maternal complications and neonatal outcomes. Results: Many developing countries struggle to meet the DDI standard of ≤30 minutes due to limited infrastructure, medical team readiness and operational processes. Studies have shown that this delay increases the risk of perinatal death, maternal complications and the need for neonatal intensive care. Although not always directly impacting neonatal outcomes, factors such as medical staff readiness and system efficiency play a role. Therefore, improving the health system and optimizing medical team coordination are needed to improve emergency caesarean section services. Conclusion: Delayed Decision-to-Delivery Interval in emergency caesarean sections, especially in developing countries, is caused by operational inefficiency, limited infrastructure, and suboptimal medical team coordination. This has an impact on increasing maternal and perinatal mortality rates and the need for intensive care. Systemic improvements and mitigation strategies, such as intrauterine resuscitation, are needed to improve the quality of emergency obstetric care globally.   Keywords: Emergency Caesarean Section; Maternal; Neonatal.   Pendahuluan: Interval keputusan-ke-persalinan/decision-to-delivery interval (DDI) merupakan faktor krusial dalam operasi caesar darurat, dengan National Institute of Clinical Excellence (NICE) merekomendasikan batas maksimal 30 menit. Namun, kepatuhan terhadap standar ini bervariasi secara global, terutama di negara dengan sumber daya terbatas yang berkontribusi pada peningkatan risiko komplikasi maternal dan neonatal. Tujuan: Untuk menganalisis waktu respon untuk operasi caesar darurat dan dampaknya terhadap hasil maternal dan neonatal. Metode: Penelitian scoping review dari basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholar untuk menganalisis studi yang dipublikasikan antara tahun 2014-2024 yang membahas DDI, komplikasi maternal, dan luaran neonatal. Hasil: Banyak negara berkembang mengalami kesulitan memenuhi standar DDI ≤30 menit akibat keterbatasan infrastruktur, kesiapan tim medis, serta proses operasional. Studi menunjukkan bahwa keterlambatan ini meningkatkan risiko kematian perinatal, komplikasi maternal, dan kebutuhan perawatan intensif neonatal. Meskipun tidak selalu berdampak langsung pada hasil neonatal, faktor seperti kesiapan tenaga medis dan efisiensi sistem turut berperan. Oleh karena itu, perbaikan sistem kesehatan dan optimalisasi koordinasi tim medis diperlukan untuk meningkatkan layanan operasi caesar darurat. Simpulan: Keterlambatan Interval Keputusan-ke-Persalinan dalam operasi caesar darurat, terutama di negara berkembang disebabkan oleh ketidakefisienan operasional, keterbatasan infrastruktur, dan koordinasi tim medis yang kurang optimal. Hal ini berdampak pada peningkatan angka kematian maternal dan perinatal serta kebutuhan perawatan intensif. Perbaikan sistemik dan strategi mitigasi, seperti resusitasi intrauterin diperlukan untuk meningkatkan kualitas perawatan obstetri darurat secara global.   Kata Kunci: Maternal; Neonatal; Operasi Caesar Darurat.
Faktor-faktor yang memengaruhi seksualitas pada perempuan dengan HIV: Telaah sistematis Sari, Levi Anggriani Purnama; Afiyanti, Yati; Susanti, Suryane Sulistiana; Rachmawati, Imami Nur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 12 (2025): Volume 18 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i12.717

Abstract

Background: Sexuality is part of basic human needs that has not received attention and is considered less important, both in social services and in care. There are several factors that influence sexuality in women with HIV, such as the interaction of biological, psychological, social, economic, political, cultural, legal, historical, religious and spiritual factors. Purpose: To identify and analyze various factors that influence sexuality in women with HIV. Method: A systematic review of cross-sectional and cohort studies was conducted in September 2024 using 6 databases, namely Clinicalkey, Clinicalkey Nursing, Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, Proquest, and Taylor & Francis. The keywords used were "WLHIV or (PLHIV) and sexuality or (sex) and related factors or (influenced factors) or (biological factors) or (psychological factors) or (social factors) or (cultural factors) or (economic factors)" or "HIV women and sexuality or (sex) and related factors". Results: Based on 13 articles that have been reviewed, several factors were found that influence sexuality in women with HIV, including biological, psychological, socio-political, and spiritual factors as well as sexual health service factors in women with HIV. Conclusion: Sexuality is influenced by the interaction of various factors, including biological, psychological, socio-political, and spiritual factors as well as sexual health service factors in women with HIV. Suggestion: Further research can examine risk factors for sexual health problems in women with HIV partner-based interventions.   Keywords: Human Immunodeficiency Virus (HIV); Sexuality; Women.   Pendahuluan: Seksualitas merupakan bagian kebutuhan dasar manusia yang belum menjadi perhatian dan dianggap kurang penting, baik dalam pelayanan sosial maupun dalam perawatan. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi seksualitas pada perempuan dengan HIV, seperti interaksi faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, sejarah, agama dan spiritual. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai faktor yang memengaruhi seksualitas pada perempuan dengan HIV. Metode: Penelitian telaah sistematis terhadap studi cross sectional dan Kohort, dilakukan pada bulan September 2024 menggunakan 6 database meliputi Clinicalkey, Clinicalkey Nursing, Scopus, ScienceDirect,  SpringerLink, Proquest, dan Taylor & Francis. Kata kunci yang digunakan yaitu “WLHIV or (PLHIV) and sexuality or (sex) and associated factors or (influenced factors) or (biological factors) or (psychological factors) or (social factors) or (cultural factors) or (economical factors)” atau “women HIV and sexuality or (sex) and associated factors”. Hasil: Berdasarkan 13 artikel yang telah ditelaah, didapatkan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi seksualitas pada perempuan dengan HIV, diantaranya adalah faktor biologis, psikologis, sosial politik dan spiritual serta faktor pelayanan kesehatan seksual terhadap perempuan dengan HIV. Simpulan: Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor diantaranya yaitu faktor biologis, psikologis, sosial politik dan spiritual serta faktor pelayanan kesehatan seksual terhadap perempuan dengan HIV. Saran:. Penelitian selanjutnya dapat meneliti mengenai faktor risiko masalah kesehatan seksual pada perempuan HIV intervensi berbasis pasangan.   Kata Kunci: Human Immunodeficiency Virus (HIV); Perempuan; Seksualitas.

Page 2 of 2 | Total Record : 15