cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 493 Documents
Pengalaman remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) Riska Subhianti Putri; Mila Sartika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2363

Abstract

Background: Iron deficiency anemia remains a significant health problem among adolescent girls, despite widespread implementation of iron supplementation programs in schools. Compliance with iron supplementation remains low among adolescent girls due to various physical, psychological, and social barriers. A deeper understanding of adolescent girls' experiences of iron supplementation is needed to improve the effectiveness of anemia prevention programs. Purpose: To explore the lived experiences of adolescent girls in consuming iron supplementation. Method: This qualitative research uses a descriptive phenomenological approach. The study was conducted at State Junior High School 5 North Cikarang, Bekasi Regency, West Java, from June 16 to August 15, 2025. Eight adolescent girls aged 13–15 years were selected using a purposive sampling method. Data were collected through in-depth interviews lasting 30–50 minutes and analyzed using the Colaizzi method. Results: Data analysis yielded three main themes: (1) barriers and obstacles to iron supplementation, including the unpleasant taste of the tablets, physical side effects, and indiscipline and forgetfulness; (2) positive perceptions and benefits of iron tablet consumption, including increased understanding and physical and energy changes; and (3) external support and strategies to increase adherence, involving the roles of teachers, peers, family, and adolescents' personal strategies for overcoming barriers. Conclusion: Adolescent girls' experiences of iron tablet consumption are influenced by the interaction between physical barriers, perceived benefits, and environmental support. The success of iron tablet programs depends not only on tablet distribution but also on ongoing education, social support, and implementation strategies tailored to the characteristics of adolescent girls. Suggestion: Future research is recommended to address the limitations of this study by using quantitative or mixed-method designs to examine the relationship between adherence to iron tablet consumption and objective indicators of anemia, such as hemoglobin levels, among adolescent girls.   Keywords: Anemia; Adolescent Girls; Iron Supplementation.   Pendahuluan: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan pada remaja putri, meskipun program pemberian tablet tambah darah (TTD) telah dilaksanakan secara luas di sekolah. Tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah akibat berbagai hambatan, baik fisik, psikologis, maupun sosial. Pemahaman mendalam mengenai pengalaman remaja putri dalam mengonsumsi TTD diperlukan untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan anemia. Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengalaman hidup remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Metode: Studi kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada tanggal 16 Juni hingga 15 Agustus 2025. Partisipan berjumlah 8 remaja putri berusia 13–15 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam yang berlangsung selama 30–50 menit dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil: Analisis data menghasilkan tiga tema utama, yaitu: (1) hambatan dan kendala dalam konsumsi TTD yang meliputi rasa tablet yang tidak nyaman, efek samping fisik, serta ketidakdisiplinan dan lupa; (2) persepsi positif dan manfaat konsumsi TTD yang mencakup peningkatan pemahaman serta perubahan fisik dan energi tubuh; dan (3) dukungan eksternal dan strategi meningkatkan kepatuhan yang melibatkan peran guru, teman sebaya, keluarga, serta strategi pribadi remaja dalam mengatasi hambatan. Simpulan: Pengalaman remaja putri dalam mengonsumsi TTD dipengaruhi oleh interaksi antara hambatan fisik, persepsi manfaat, dan dukungan lingkungan. Keberhasilan program TTD tidak hanya bergantung pada distribusi tablet, tetapi juga pada edukasi berkelanjutan, dukungan sosial, dan strategi implementasi yang sesuai dengan karakteristik remaja putri. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengatasi keterbatasan studi ini dengan menggunakan desain kuantitatif atau metode campuran untuk meneliti hubungan antara kepatuhan terhadap konsumsi tablet tambah darah dan indikator anemia objektif, seperti kadar hemoglobin, di kalangan remaja putri.   Kata Kunci: Anemia; Remaja Putri, Tablet Tambah Darah (TTD).
Hubungan beban kerja dengan stres kerja pada pekerja usaha kain pantai Idha Kumala Sari; Sheena Ramadhia Asmara Dhani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2766

Abstract

Background: In the workplace, high workload is a common problem. Furthermore, the added pressure to complete a large amount of work can cause stress and anxiety among employees. Work-Related Stress (WRS) is a person's response when faced with work demands and pressures that are inconsistent with their abilities and knowledge and challenge their ability to cope. Work stress worsens when workers receive little support from superiors or coworkers and little control over their work processes. Purpose: To determine the relationship between workload and job stress among workers in the coastal textile industry. Method: This descriptive quantitative study used a total sampling technique. The study was conducted from November to December 2025 in the Coastal Textile Industry in Mojolaban District, Sukoharjo Regency. The population consisted of 62 coastal textile industry workers. The instruments used were the Job Stress Scale questionnaire and the NASA Task Load Index (TLX) questionnaire. Data were processed using SPSS version 26 software with bivariate analysis. Computerized bivariate analysis calculations, interpreted using a p-value of 0.05 with 5% precision, indicate an effect if the p-value is ≤ 0.05. Results: The significance value obtained was 0.033 (significance < 0.05), proving a relationship between the variables. The two variables also had a correlation coefficient of 0.271, indicating a low-level relationship. This correlation coefficient also showed positive results. The higher the workload received by workers, the greater the perceived work stress. Conversely, the lower the workload, the lower the perceived work stress. This indicates that an appropriate workload impacts employee work stress. Conclusion: There is a significant relationship between workload and work stress among workers in the beachwear business. Suggestion: Future researchers are expected to add other variables that influence work stress, such as the work environment or leadership style.   Keywords: Beachwear Business; Employees; Workload; Work Stress.   Pendahuluan: Dalam dunia kerja, beban kerja yang tinggi merupakan permasalahan yang sering dijumpai. Selain itu, dengan ditambahnya tekanan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak membuat para karyawan tertekan dan stres. Stres kerja (Work-Related Stress) merupakan respon yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan dengan tuntutan dan tekanan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan pekerja serta menantang kemampuan pekerja untuk mengatasinya. Stres kerja menjadi lebih buruk ketika pekerja mendapat sedikit dukungan dari atasan atau teman kerja dan sedikit kontrol terhadap proses kerjanya Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara beban kerja dengan stress kerja pada pekerja usaha kain pantai. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan November–Desember 2025, di Usaha Kain Pantai Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 62 pekerja usaha kain pantai. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner The Workplace Stress Scale dan Beban Kerja menggunakan NASA Task Load Index (TLX). Pengolahan data menggunakan software SPSS Versi 26 dengan analisis bivariat. Perhitungan analisis bivariat secara komputerisasi dengan interpretasi menggunakan p-value 0.05 dengan presisi 5%, maka dikatakan berpengaruh jika p-value ≤ 0.05. Hasil: Nilai sig yang didapat adalah 0.033 (sig < 0.05), membuktikan adanya hubungan antar variabel. Kedua variabel juga memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0.271, diasumsikan bahwa terdapat hubungan pada tingkat rendah. Koefisien korelasi tersebut juga menunjukkan hasil yang positif. Semakin tinggi beban kerja yang diterima pada pekerja, maka stres kerja yang dirasakan juga akan semakin meningkat, begitupun sebaliknya, jika beban kerja semakin rendah, maka stres kerja yang dialami juga akan semakin rendah pula. Hal ini menunjukkan bahwa kesesuaian beban kerja akan berdampak terhadap hadirnya stres kerja karyawan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja terhadap stress kerja pada pekerja usaha kain pantai. Saran: Peneliti selanjutnya, diharapkan untuk menambah variabel lain yang memengaruhi stres kerja, seperti lingkungan kerja atau gaya kepemimpinan.   Kata Kunci: Beban Kerja; Karyawan; Stres Kerja; Usaha Kain Pantai.
Pendekatan rehabilitasi untuk disfungsi ereksi setelah penggunaan steroid anabolik androgenik jangka panjang: Sebuah tinjauan sistematis Fildzah Hashifah Taufiq; Muhammad Adib Dwi Tamma Putra; Muhammad Fadill Akbar; Muhammad Ayub Endratamma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2893

Abstract

Background: Erectile dysfunction (ED) is a recognized complication of long-term anabolic-androgenic steroid (AAS) abuse, yet treatment largely focuses on pharmacological strategies. Purpose: To evaluate rehabilitation approaches for erectile dysfunction after long-term anabolic-androgenic steroid use. Method: A systematic review was conducted using databases including Scopus, MEDLINE, PsycINFO, CINAHL, Web of Science, and the Cochrane Library. Eligible studies included men with erectile dysfunction (ED) after AAS exposure for ≥12 months and examined rehabilitation interventions within the field of Physical Medicine and Rehabilitation (PM&R). Data analysis used the International Index of Erectile Function (IIEF), Sexual Health Inventory for Men (SHIM), and Quality of Life (QoL). Data were synthesized narratively due to heterogeneity in study design. Results: Of 713 records, 14 studies met inclusion criteria. PFMT consistently improved erectile rigidity and orgasm control. Aerobic and resistance training programs improve endothelial function and support partial testosterone recovery. Lifestyle modifications, including weight loss, smoking cessation, and sleep hygiene, further improve erectile outcomes. Psychosocial interventions such as cognitive behavioral therapy and sex therapy reduce anxiety, improve adherence, and enhance relationship satisfaction. A multimodal rehabilitation program integrating PFMT, exercise, and counseling demonstrated the greatest improvement in IIEF scores and quality of life compared with single-modality approaches. This suggests that multidisciplinary, non-pharmacological interventions are not only feasible but also effective in restoring erectile function and quality of life. Conclusion: Interventions grounded in physical medicine and rehabilitation, particularly pelvic floor muscle training, structured exercise programs, lifestyle modification, and psychosocial support, are practical, low-risk, and potentially effective options for this population. Suggestion: Based on current knowledge, a multidisciplinary rehabilitation model appears to offer the greatest therapeutic prospects, as it addresses the multifactorial nature of AAS-related erectile dysfunction, incorporating neuromuscular, vascular, behavioral, and psychological components. To advance this field, further research, including well-designed randomized controlled trials specifically focused on former AAS users, is essential.   Keywords: Anabolic Agents; Erectile Dysfunction; Exercise Therapy; Lifestyle; Physical Therapy Modalities; Psychotherapy; Rehabilitation; Steroids.   Pendahuluan: Erectile dysfunction (DE) merupakan komplikasi yang dikenal dari penyalahgunaan anabolic-androgenic steroids (AAS) jangka panjang, namun penanganannya sebagian besar berfokus pada strategi farmakologis. Tujuan: Untuk mengevaluasi pendekatan rehabilitasi dalam disfungsi ereksi setelah penggunaan steroid anabolik-androgenik jangka panjang. Metode: Penelitian sistematis dilakukan pada basis data berupa Scopus, MEDLINE, PsycINFO, CINAHL, Web of Science, dan Cochrane Library. Studi yang memenuhi syarat melibatkan pria dengan disfungsi ereksi/erectile dysfunction (ED) setelah paparan AAS selama ≥12 bulan dan meneliti intervensi rehabilitasi dalam bidang Physical Medicine and Rehabilitation (PM&R). Analisis data diukur menggunakan International Index of Erectile Function (IIEF), Sexual Health Inventory for Men (SHIM), dan Quality of Life (QoL). Data disintesis secara naratif karena adanya heterogenitas dalam desain studi. Hasil: Dari 713 catatan, 14 studi memenuhi kriteria inklusi. PFMT secara konsisten meningkatkan kekakuan ereksi dan kontrol orgasme. Program latihan aerobik dan resistensi meningkatkan fungsi endotel dan mendukung pemulihan sebagian testosteron. Modifikasi gaya hidup termasuk penurunan berat badan, penghentian merokok, dan kebersihan tidur lebih lanjut meningkatkan hasil ereksi. Intervensi psikososial seperti terapi perilaku kognitif dan terapi seks mengurangi kecemasan, meningkatkan kepatuhan, dan meningkatkan kepuasan hubungan. Program rehabilitasi multimodal yang mengintegrasikan PFMT, olahraga, dan konseling menunjukkan peningkatan terbesar dalam skor IIEF dan kualitas hidup dibandingkan dengan pendekatan modalitas tunggal. Hal ini menunjukkan, bahwa intervensi multidisiplin non-farmakologis tidak hanya layak tetapi juga efektif dalam memulihkan fungsi ereksi dan kualitas hidup. Simpulan: Intervensi yang berlandaskan kedokteran fisik dan rehabilitasi, terutama pelatihan otot dasar panggul, program latihan terstruktur, modifikasi gaya hidup, dan dukungan psikososial merupakan pilihan praktis, berisiko rendah, dan berpotensi efektif untuk populasi ini. Saran: Berdasarkan pengetahuan terkini, model rehabilitasi multidisiplin tampaknya menawarkan prospek terapeutik terbesar, karena menangani sifat multifaktorial dari disfungsi ereksi terkait AAS, menggabungkan komponen neuromuskular, vaskular, perilaku, dan psikologis. Untuk memajukan bidang ini, penelian selanjutnya dapat melakukan uji coba terkontrol acak yang dirancang dengan baik dan berfokus secara khusus pada mantan pengguna AAS sangat penting.   Kata Kunci: Disfungsi Ereksi; Agen Anabolik; Steroid; Rehabilitasi; Modalitas Terapi Fisik; Terapi Olahraga; Gaya Hidup; Psikoterapi.