cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 614 Documents
Pengalaman remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) Riska Subhianti Putri; Mila Sartika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2363

Abstract

Background: Iron deficiency anemia remains a significant health problem among adolescent girls, despite widespread implementation of iron supplementation programs in schools. Compliance with iron supplementation remains low among adolescent girls due to various physical, psychological, and social barriers. A deeper understanding of adolescent girls' experiences of iron supplementation is needed to improve the effectiveness of anemia prevention programs. Purpose: To explore the lived experiences of adolescent girls in consuming iron supplementation. Method: This qualitative research uses a descriptive phenomenological approach. The study was conducted at State Junior High School 5 North Cikarang, Bekasi Regency, West Java, from June 16 to August 15, 2025. Eight adolescent girls aged 13–15 years were selected using a purposive sampling method. Data were collected through in-depth interviews lasting 30–50 minutes and analyzed using the Colaizzi method. Results: Data analysis yielded three main themes: (1) barriers and obstacles to iron supplementation, including the unpleasant taste of the tablets, physical side effects, and indiscipline and forgetfulness; (2) positive perceptions and benefits of iron tablet consumption, including increased understanding and physical and energy changes; and (3) external support and strategies to increase adherence, involving the roles of teachers, peers, family, and adolescents' personal strategies for overcoming barriers. Conclusion: Adolescent girls' experiences of iron tablet consumption are influenced by the interaction between physical barriers, perceived benefits, and environmental support. The success of iron tablet programs depends not only on tablet distribution but also on ongoing education, social support, and implementation strategies tailored to the characteristics of adolescent girls. Suggestion: Future research is recommended to address the limitations of this study by using quantitative or mixed-method designs to examine the relationship between adherence to iron tablet consumption and objective indicators of anemia, such as hemoglobin levels, among adolescent girls.   Keywords: Anemia; Adolescent Girls; Iron Supplementation.   Pendahuluan: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan pada remaja putri, meskipun program pemberian tablet tambah darah (TTD) telah dilaksanakan secara luas di sekolah. Tingkat kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri masih rendah akibat berbagai hambatan, baik fisik, psikologis, maupun sosial. Pemahaman mendalam mengenai pengalaman remaja putri dalam mengonsumsi TTD diperlukan untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan anemia. Tujuan: Untuk mengeksplorasi pengalaman hidup remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Metode: Studi kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada tanggal 16 Juni hingga 15 Agustus 2025. Partisipan berjumlah 8 remaja putri berusia 13–15 tahun yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam yang berlangsung selama 30–50 menit dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil: Analisis data menghasilkan tiga tema utama, yaitu: (1) hambatan dan kendala dalam konsumsi TTD yang meliputi rasa tablet yang tidak nyaman, efek samping fisik, serta ketidakdisiplinan dan lupa; (2) persepsi positif dan manfaat konsumsi TTD yang mencakup peningkatan pemahaman serta perubahan fisik dan energi tubuh; dan (3) dukungan eksternal dan strategi meningkatkan kepatuhan yang melibatkan peran guru, teman sebaya, keluarga, serta strategi pribadi remaja dalam mengatasi hambatan. Simpulan: Pengalaman remaja putri dalam mengonsumsi TTD dipengaruhi oleh interaksi antara hambatan fisik, persepsi manfaat, dan dukungan lingkungan. Keberhasilan program TTD tidak hanya bergantung pada distribusi tablet, tetapi juga pada edukasi berkelanjutan, dukungan sosial, dan strategi implementasi yang sesuai dengan karakteristik remaja putri. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengatasi keterbatasan studi ini dengan menggunakan desain kuantitatif atau metode campuran untuk meneliti hubungan antara kepatuhan terhadap konsumsi tablet tambah darah dan indikator anemia objektif, seperti kadar hemoglobin, di kalangan remaja putri.   Kata Kunci: Anemia; Remaja Putri, Tablet Tambah Darah (TTD).
Hubungan beban kerja dengan stres kerja pada pekerja usaha kain pantai Idha Kumala Sari; Sheena Ramadhia Asmara Dhani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2766

Abstract

Background: In the workplace, high workload is a common problem. Furthermore, the added pressure to complete a large amount of work can cause stress and anxiety among employees. Work-Related Stress (WRS) is a person's response when faced with work demands and pressures that are inconsistent with their abilities and knowledge and challenge their ability to cope. Work stress worsens when workers receive little support from superiors or coworkers and little control over their work processes. Purpose: To determine the relationship between workload and job stress among workers in the coastal textile industry. Method: This descriptive quantitative study used a total sampling technique. The study was conducted from November to December 2025 in the Coastal Textile Industry in Mojolaban District, Sukoharjo Regency. The population consisted of 62 coastal textile industry workers. The instruments used were the Job Stress Scale questionnaire and the NASA Task Load Index (TLX) questionnaire. Data were processed using SPSS version 26 software with bivariate analysis. Computerized bivariate analysis calculations, interpreted using a p-value of 0.05 with 5% precision, indicate an effect if the p-value is ≤ 0.05. Results: The significance value obtained was 0.033 (significance < 0.05), proving a relationship between the variables. The two variables also had a correlation coefficient of 0.271, indicating a low-level relationship. This correlation coefficient also showed positive results. The higher the workload received by workers, the greater the perceived work stress. Conversely, the lower the workload, the lower the perceived work stress. This indicates that an appropriate workload impacts employee work stress. Conclusion: There is a significant relationship between workload and work stress among workers in the beachwear business. Suggestion: Future researchers are expected to add other variables that influence work stress, such as the work environment or leadership style.   Keywords: Beachwear Business; Employees; Workload; Work Stress.   Pendahuluan: Dalam dunia kerja, beban kerja yang tinggi merupakan permasalahan yang sering dijumpai. Selain itu, dengan ditambahnya tekanan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak membuat para karyawan tertekan dan stres. Stres kerja (Work-Related Stress) merupakan respon yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan dengan tuntutan dan tekanan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan pekerja serta menantang kemampuan pekerja untuk mengatasinya. Stres kerja menjadi lebih buruk ketika pekerja mendapat sedikit dukungan dari atasan atau teman kerja dan sedikit kontrol terhadap proses kerjanya Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara beban kerja dengan stress kerja pada pekerja usaha kain pantai. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan November–Desember 2025, di Usaha Kain Pantai Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 62 pekerja usaha kain pantai. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner The Workplace Stress Scale dan Beban Kerja menggunakan NASA Task Load Index (TLX). Pengolahan data menggunakan software SPSS Versi 26 dengan analisis bivariat. Perhitungan analisis bivariat secara komputerisasi dengan interpretasi menggunakan p-value 0.05 dengan presisi 5%, maka dikatakan berpengaruh jika p-value ≤ 0.05. Hasil: Nilai sig yang didapat adalah 0.033 (sig < 0.05), membuktikan adanya hubungan antar variabel. Kedua variabel juga memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0.271, diasumsikan bahwa terdapat hubungan pada tingkat rendah. Koefisien korelasi tersebut juga menunjukkan hasil yang positif. Semakin tinggi beban kerja yang diterima pada pekerja, maka stres kerja yang dirasakan juga akan semakin meningkat, begitupun sebaliknya, jika beban kerja semakin rendah, maka stres kerja yang dialami juga akan semakin rendah pula. Hal ini menunjukkan bahwa kesesuaian beban kerja akan berdampak terhadap hadirnya stres kerja karyawan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja terhadap stress kerja pada pekerja usaha kain pantai. Saran: Peneliti selanjutnya, diharapkan untuk menambah variabel lain yang memengaruhi stres kerja, seperti lingkungan kerja atau gaya kepemimpinan.   Kata Kunci: Beban Kerja; Karyawan; Stres Kerja; Usaha Kain Pantai.
Pendekatan rehabilitasi untuk disfungsi ereksi setelah penggunaan steroid anabolik androgenik jangka panjang: Sebuah tinjauan sistematis Fildzah Hashifah Taufiq; Muhammad Adib Dwi Tamma Putra; Muhammad Fadill Akbar; Muhammad Ayub Endratamma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2893

Abstract

Background: Erectile dysfunction (ED) is a recognized complication of long-term anabolic-androgenic steroid (AAS) abuse, yet treatment largely focuses on pharmacological strategies. Purpose: To evaluate rehabilitation approaches for erectile dysfunction after long-term anabolic-androgenic steroid use. Method: A systematic review was conducted using databases including Scopus, MEDLINE, PsycINFO, CINAHL, Web of Science, and the Cochrane Library. Eligible studies included men with erectile dysfunction (ED) after AAS exposure for ≥12 months and examined rehabilitation interventions within the field of Physical Medicine and Rehabilitation (PM&R). Data analysis used the International Index of Erectile Function (IIEF), Sexual Health Inventory for Men (SHIM), and Quality of Life (QoL). Data were synthesized narratively due to heterogeneity in study design. Results: Of 713 records, 14 studies met inclusion criteria. PFMT consistently improved erectile rigidity and orgasm control. Aerobic and resistance training programs improve endothelial function and support partial testosterone recovery. Lifestyle modifications, including weight loss, smoking cessation, and sleep hygiene, further improve erectile outcomes. Psychosocial interventions such as cognitive behavioral therapy and sex therapy reduce anxiety, improve adherence, and enhance relationship satisfaction. A multimodal rehabilitation program integrating PFMT, exercise, and counseling demonstrated the greatest improvement in IIEF scores and quality of life compared with single-modality approaches. This suggests that multidisciplinary, non-pharmacological interventions are not only feasible but also effective in restoring erectile function and quality of life. Conclusion: Interventions grounded in physical medicine and rehabilitation, particularly pelvic floor muscle training, structured exercise programs, lifestyle modification, and psychosocial support, are practical, low-risk, and potentially effective options for this population. Suggestion: Based on current knowledge, a multidisciplinary rehabilitation model appears to offer the greatest therapeutic prospects, as it addresses the multifactorial nature of AAS-related erectile dysfunction, incorporating neuromuscular, vascular, behavioral, and psychological components. To advance this field, further research, including well-designed randomized controlled trials specifically focused on former AAS users, is essential.   Keywords: Anabolic Agents; Erectile Dysfunction; Exercise Therapy; Lifestyle; Physical Therapy Modalities; Psychotherapy; Rehabilitation; Steroids.   Pendahuluan: Erectile dysfunction (DE) merupakan komplikasi yang dikenal dari penyalahgunaan anabolic-androgenic steroids (AAS) jangka panjang, namun penanganannya sebagian besar berfokus pada strategi farmakologis. Tujuan: Untuk mengevaluasi pendekatan rehabilitasi dalam disfungsi ereksi setelah penggunaan steroid anabolik-androgenik jangka panjang. Metode: Penelitian sistematis dilakukan pada basis data berupa Scopus, MEDLINE, PsycINFO, CINAHL, Web of Science, dan Cochrane Library. Studi yang memenuhi syarat melibatkan pria dengan disfungsi ereksi/erectile dysfunction (ED) setelah paparan AAS selama ≥12 bulan dan meneliti intervensi rehabilitasi dalam bidang Physical Medicine and Rehabilitation (PM&R). Analisis data diukur menggunakan International Index of Erectile Function (IIEF), Sexual Health Inventory for Men (SHIM), dan Quality of Life (QoL). Data disintesis secara naratif karena adanya heterogenitas dalam desain studi. Hasil: Dari 713 catatan, 14 studi memenuhi kriteria inklusi. PFMT secara konsisten meningkatkan kekakuan ereksi dan kontrol orgasme. Program latihan aerobik dan resistensi meningkatkan fungsi endotel dan mendukung pemulihan sebagian testosteron. Modifikasi gaya hidup termasuk penurunan berat badan, penghentian merokok, dan kebersihan tidur lebih lanjut meningkatkan hasil ereksi. Intervensi psikososial seperti terapi perilaku kognitif dan terapi seks mengurangi kecemasan, meningkatkan kepatuhan, dan meningkatkan kepuasan hubungan. Program rehabilitasi multimodal yang mengintegrasikan PFMT, olahraga, dan konseling menunjukkan peningkatan terbesar dalam skor IIEF dan kualitas hidup dibandingkan dengan pendekatan modalitas tunggal. Hal ini menunjukkan, bahwa intervensi multidisiplin non-farmakologis tidak hanya layak tetapi juga efektif dalam memulihkan fungsi ereksi dan kualitas hidup. Simpulan: Intervensi yang berlandaskan kedokteran fisik dan rehabilitasi, terutama pelatihan otot dasar panggul, program latihan terstruktur, modifikasi gaya hidup, dan dukungan psikososial merupakan pilihan praktis, berisiko rendah, dan berpotensi efektif untuk populasi ini. Saran: Berdasarkan pengetahuan terkini, model rehabilitasi multidisiplin tampaknya menawarkan prospek terapeutik terbesar, karena menangani sifat multifaktorial dari disfungsi ereksi terkait AAS, menggabungkan komponen neuromuskular, vaskular, perilaku, dan psikologis. Untuk memajukan bidang ini, penelian selanjutnya dapat melakukan uji coba terkontrol acak yang dirancang dengan baik dan berfokus secara khusus pada mantan pengguna AAS sangat penting.   Kata Kunci: Disfungsi Ereksi; Agen Anabolik; Steroid; Rehabilitasi; Modalitas Terapi Fisik; Terapi Olahraga; Gaya Hidup; Psikoterapi.
Faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru pada anak (usia 0-14 tahun) Nabigha, Zehan Aura; Aryawati, Wayan; Aryastuti, Nurul
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.759

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis and can affect all ages, including children. The incidence of pulmonary TB in children is influenced by various factors, such as host, agent, and environment. These factors include exclusive breastfeeding, Bacille Calmette-Guérin (BCG) immunization status, low birth weight (LBW), socioeconomic status, and history of contact with TB patients. Rajabasa Indah Community Health Center ranked third in terms of TB cases in Bandar Lampung in 2022, with 125 cases in adults and 40 cases in children. If risk factors are not addressed, the number of new cases will continue to increase. Purpose: To identify factors associated with the incidence of pulmonary TB in children aged 0-14 years. Method: This was a quantitative study with a case-control design. The sampling technique used purposive sampling, with a total of 120 children participating, divided into 30 cases and 90 controls. Data analysis was performed using chi-square tests and multiple logistic regression. Results: In the case group, 76.7% had a history of exclusive breastfeeding, 70% had received BCG immunization, 63.3% had no history of low birth weight (LBW), 53.2% were from low socioeconomic status, and 60% had no history of contact with TB patients. Meanwhile, in the control group, 68.9% had a history of exclusive breastfeeding, 94.4% had received BCG immunization, 91.1% had no history of low birth weight (LBW), 56.7% were from high socioeconomic status, and 86.7% had no history of contact with TB patients. There was a significant association between a history of low birth weight (p = 0.001), BCG immunization status (p = 0.001), and a history of contact with TB patients (p = 0.004) and the incidence of pulmonary TB in children. The dominant factor influencing the incidence of pulmonary TB in children was BCG immunization status (p = 0.002). Conclusion: There is a significant association between BCG immunization status, history of low birth weight (LBW), and history of contact with TB patients with the incidence of pulmonary TB in children. BCG immunization is a dominant factor in TB prevention, therefore, the public is encouraged to ensure that children receive complete basic immunizations, especially BCG from birth, to prevent pulmonary TB and more severe TB cases. Suggestion: Further research can be conducted with a larger sample size to provide information regarding the description of risk factors for TB incidents in children.   Keywords: Children; Bacille Calmette-Guérin (BCG) Immunization; Low Birth Weight (LBW); Tuberculosis.   Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat menyerang segala usia, termasuk anak-anak. Kejadian TB paru pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti host, agent, dan lingkungan, yang meliputi pemberian ASI eksklusif, status imunisasi Bacille Calmette-Guérin (BCG), berat badan lahir rendah (BBLR), status sosial ekonomi, serta riwayat kontak dengan penderita TB. Puskesmas Rajabasa Indah menempati urutan ketiga dalam jumlah kasus TB terbanyak di Bandar Lampung pada tahun 2022, dengan 125 kasus pada orang dewasa dan 40 kasus pada anak-anak. Jika faktor risiko tidak dicegah, jumlah kasus baru akan terus bertambah. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB paru pada anak usia 0-14 tahun Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan case-control. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, dengan total 120 anak sebagai partisipan, yang terbagi menjadi kelompok kasus sebanyak 30 anak dan kelompok kontrol sebanyak 90 anak. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Pada kelompok kasus, 76.7% memiliki riwayat ASI eksklusif, 70% telah mendapatkan imunisasi BCG, 63.3% tidak memiliki riwayat BBLR, 53.2% berasal dari status sosial ekonomi rendah, dan 60% tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita TB. Sementara pada kelompok kontrol, 68.9% memiliki riwayat ASI eksklusif, 94.4% telah mendapatkan imunisasi BCG, 91.1% tidak memiliki riwayat BBLR, 56.7% berasal dari status sosial ekonomi tinggi, dan 86.7% tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita TB. Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat BBLR (p = 0.001), status imunisasi BCG (p = 0.001), dan riwayat kontak dengan penderita TB (p = 0.004) dengan kejadian TB paru pada anak. Faktor dominan yang berpengaruh terhadap kejadian TB paru pada anak adalah status imunisasi BCG (p = 0.002). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara status imunisasi BCG, riwayat BBLR, dan riwayat kontak dengan penderita TB dengan kejadian TB paru pada anak. Imunisasi BCG merupakan faktor dominan dalam pencegahan TB, sehingga masyarakat diimbau untuk memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi dasar lengkap, terutama BCG sejak lahir, guna mencegah kejadian TB paru dan kasus TB yang lebih berat. Saran: Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak diperlukan guna memberikan informasi terkait gambaran faktor resiko kejadian TB pada anak.   Kata Kunci: Anak; Berat Badan Lahir Rendah (BBLR); Imunisasi Bacille Calmette-Guérin (BCG);  Tuberkulosis.
Pengaruh pendidikan kesehatan tentang manajemen laktasi terhadap efikasi diri menyusui pada ibu primigravida trimester III Anggarini, Inge Anggi; Andriani, Rezah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.1456

Abstract

Background: Breastfeeding self-efficacy should be present during pregnancy to facilitate lactation management and support successful breastfeeding. The higher the breastfeeding self-efficacy, the greater the effort a mother will make to successfully breastfeed. One way to improve self-efficacy in pregnant women is through health education. Purpose: To determine the effect of health education on lactation management on breastfeeding self-efficacy in primigravida mothers in their third trimester. Method: The study used a quantitative approach with a quasi-experimental one-group pretest-post design. The study measured breastfeeding self-efficacy in pregnant women in their third trimester (pre-post) using a 17-item questionnaire, followed by a lactation management education intervention (lectures, leaflets, and breastfeeding technique practice). Univariate and bivariate analyses were performed using paired t-tests (p<0.05). Results: The average breastfeeding self-efficacy score before receiving health education on lactation management, which was 45.56, increased significantly to 60.44 after receiving health education. A paired t-test revealed a significant difference between the breastfeeding self-efficacy of third-trimester primigravida mothers before (pretest) and after (posttest) the intervention (health education) with a p-value of <0.05. Conclusion: There was a significant difference between breastfeeding self-efficacy before and after health education on lactation management with a p-value of 0.000 (α<0.05). Sugesstion: Lactation management education should begin during pregnancy to prepare mothers for delivery. Future research should extend this to the labor and postpartum period to support the success of exclusive breastfeeding.   Keywords: Health Education; Lactation Management; Self-Efficacy.   Pendahuluan: Efikasi diri menyusui pada ibu seharusnya sudah ada sejak ibu hamil agar ibu melaksanakan manajemen laktasi untuk menunjang keberhasilan menyusui. Semakin tinggi efikasi diri menyusui maka semakin keras usaha ibu agar dapat berhasil menyusui. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan efikasi diri ibu hamil adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang manajemen laktasi terhadap efikasi diri menyusui pada ibu primigravida trimester III. Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-eksperiment one group pretest-post design. Penelitian mengukur efikasi diri menyusui ibu hamil trimester III (pre–post) menggunakan kuesioner 17 item, dilanjutkan intervensi pendidikan manajemen laktasi (ceramah, leaflet, dan praktik teknik menyusui). Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji t berpasangan (p<0.05). Hasil: Rata-rata nilai efikasi diri menyusui sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang manajemen laktasi yaitu sebesar 45.56 mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 60.44 setelah diberikan pendidikan kesehatan. Berdasarkan uji t berpasangan (paired t-test) didapatkan perbedaan yang bermakna antara efikasi diri menyusui ibu primigravida trimester III sebelum (pretest) dan sesudah (postest) intervensi (pendidikan kesehatan) dengan nilai p<0.05. Simpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara efikasi diri menyusui sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang manajemen laktasi dengan p-value =0.000 (α<0.05). Saran: Pendidikan manajemen laktasi sebaiknya dimulai sejak kehamilan agar ibu siap sebelum persalinan. Penelitian selanjutnya diharapkan melanjutkan hingga masa persalinan dan nifas agar mendukung keberhasilan ASI eksklusif.   Kata Kunci: Efikasi Diri; Manajemen Laktasi; Pendidikan Kesehatan.
Efektivitas psikoedukasi terhadap penurunan stigma pada pasien dan keluarga dengan gangguan jiwa: A systematic literature review Correia, Jose Arcanjo da Costa; Putri , Yossie Susanti Eka; Daulima , Novy Helena Chatarina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2245

Abstract

Background: Stigma surrounding mental illness remains a major barrier to recovery and negatively impacts the psychosocial well-being of patients and their families. Psychoeducation has been widely used as a strategy to reduce stigma, but its effectiveness varies depending on the population, method, and cultural context. Purpose: To synthesize current evidence on the effectiveness of psychoeducational interventions in reducing stigma in patients with mental illness and their families. Method: A systematic literature review was conducted based on PRISMA guidelines. A literature search of PubMed and Google Scholar covered the period 2010–2025. Articles meeting inclusion criteria were evaluated using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal. Results: Psychoeducation effectively reduced internalized stigma in patients and affiliative stigma in families, while improving social functioning and mental health literacy. Interventions based on lived experience, such as In Our Own Voice–Family, demonstrated greater effectiveness than conventional psychoeducation. However, one randomized controlled trial reported that the positive impact of psychoeducation diminished after six months, highlighting the challenge of long-term sustainability. Conclusion: Psychoeducation is an effective intervention in reducing stigma in patients and families with mental disorders. However, long-term effectiveness remains a challenge, requiring ongoing program integration and longitudinal follow-up studies to measure the sustainability of its impact.   Keywords: Internalized Stigma; Mental Disorders; Psychoeducation.   Pendahuluan: Stigma terhadap gangguan jiwa masih menjadi hambatan utama dalam proses pemulihan dan berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikososial pasien maupun keluarganya. Psikoedukasi telah banyak digunakan sebagai strategi untuk menurunkan stigma, namun efektivitasnya bervariasi tergantung pada populasi, metode, dan konteks budaya. Tujuan: Untuk mensintesis bukti terkini mengenai efektivitas intervensi psikoedukasi dalam menurunkan stigma pada pasien dengan gangguan jiwa dan keluarganya. Metode: Penelitian systematic literature review berdasarkan panduan PRISMA. Pencarian literatur dari basis data PubMed dan Google Scholar dilakukan untuk periode 2010–2025. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal. Hasil: Psikoedukasi efektif menurunkan stigma internalisasi pada pasien serta stigma afiliasi pada keluarga, sekaligus meningkatkan fungsi sosial dan literasi kesehatan jiwa. Intervensi berbasis pengalaman langsung, seperti In Our Own Voice–Family, menunjukkan efektivitas lebih tinggi dibandingkan psikoedukasi konvensional. Namun, salah satu hasil penelitian menggunakan uji acak terkontrol melaporkan bahwa dampak positif psikoedukasi berkurang setelah enam bulan dan menyoroti tantangan keberlanjutan jangka panjang. Simpulan: Psikoedukasi merupakan intervensi yang efektif dalam menurunkan stigma pada pasien dan keluarga dengan gangguan jiwa. Namun, efektivitas jangka panjang masih menjadi tantangan, sehingga diperlukan integrasi program berkelanjutan dan studi lanjutan dengan desain longitudinal untuk mengukur keberlanjutan dampaknya.   Kata Kunci: Gangguan Jiwa; Psikoedukasi; Stigma Internalisasi.
Pengalaman perawat melakukan kanulasi intravena pada pasien pediatrik onkologi: A literature review Chodijah, Siti; Kartika, Lia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2267

Abstract

Background: Peripheral Intravenous Catheter (PIVC) placement is a frequently performed nursing procedure in pediatric oncology patients. A successful first-attempt placement (FASR) is crucial to minimize pain, psychological trauma, vascular damage, and delays in treatment. However, vascular fragility due to chemotherapy, patient characteristics, and challenges in nursing clinical practice can influence the success of the first insertion. Purpose: To analyze and synthesize research findings related to nurses' experiences in achieving successful first-attempt PIVC placement in pediatric oncology patients. Method: This systematic review followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. The search strategy used the Population, Concept, and Context (PCC) framework in PubMed, MEDLINE, and Google Scholar databases. Article selection was performed using Covidence. Six articles meeting the inclusion criteria were analyzed using a thematic analysis approach. Results: Thematic synthesis yielded three main themes: (1) clinical factors and characteristics of pediatric oncology patients, (2) nurses' experiences and technical competencies, including the role of protocol-based training, and (3) technological support and organizational quality improvement interventions. Conclusion: FASR is influenced by a complex interaction between patient conditions, nurse competencies, and healthcare system support.   Keywords: Intravenous Cannulation; Nurses' Experiences; Pediatric Oncology Patients.   Pendahuluan: Pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC) merupakan tindakan keperawatan yang sering dilakukan pada pasien pediatrik onkologi. Keberhasilan pemasangan pada upaya pertama (first attempt success rate/FASR) penting untuk meminimalkan nyeri, trauma psikologis, kerusakan vaskular, serta keterlambatan terapi. Namun, fragilitas vaskular akibat kemoterapi, karakteristik pasien, dan tantangan praktik klinis keperawatan dapat memengaruhi keberhasilan tusukan pertama. Tujuan: Untuk menganalisis dan mensintesis hasil penelitian terkait pengalaman perawat dalam mencapai upaya pertama keberhasilan pemasangan PIVC pada pasien pediatrik onkologi. Metode: Tinjauan sistematis ini mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Strategi pencarian menggunakan kerangka Population, Concept, and Context (PCC) pada basis data PubMed, MEDLINE, dan Google Scholar. Seleksi artikel dilakukan menggunakan Covidence. Enam artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dengan pendekatan analisis tematik. Hasil: Sintesis tematik menghasilkan tiga tema utama, yaitu: (1) faktor klinis dan karakteristik pasien pediatrik onkologi, (2) pengalaman dan kompetensi teknis perawat termasuk peran pelatihan berbasis protokol, dan (3) dukungan teknologi serta intervensi peningkatan mutu organisasi. Simpulan: FASR dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara kondisi pasien, kompetensi perawat, dan dukungan sistem pelayanan kesehatan.   Kata Kunci: Kanulasi Intravena; Pasien Pediatrik Onkologi; Pengalaman Perawat.
Dinamika pelaksanaan work from anywhere (WFA) Basri, Nismawaty; Hanifah, Laily
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2273

Abstract

Background: The Industrial Revolution 4.0 and the post-COVID-19 pandemic are driving bureaucratic transformation through flexible work models such as Work from Anywhere (WFA). In Indonesia, this policy was adopted for the civil servants to modernize the bureaucracy and achieve budget efficiency. The Jakarta Health Training Center is a pioneer in implementing WFA within the Ministry of Health in 2025. Purpose: To identify the perceptions and experiences of civil servants, analyze the challenges, explore the benefits, and formulate policy recommendations related to WFA implementation. Method: This research used a qualitative case study approach. Data were collected through in-depth interviews with nine purposively selected informants, observation, and documentation. Data analysis was conducted using thematic analysis. Results: Findings indicate that civil servants have a positive perception of WFA because it increases flexibility and work-life balance. However, key challenges include internet network instability, obstacles to online coordination, and disruptions from the home environment. Trust-based leadership support is a key factor in successful implementation. Conclusion: Implementing WFA is a strategic step in digital transformation that effectively increases job satisfaction. However, this requires strengthening digital infrastructure, implementing an output-based performance evaluation system, and improving technological literacy for all civil servants.   Keywords: Civil Servants; Digital Transformation; Flexibility; Work Efficiency; Work from Anywhere (WFA).   Pendahuluan: Revolusi industri 4.0 dan pasca-pandemi COVID-19 mendorong transformasi birokrasi melalui model kerja fleksibel seperti Work from Anywhere (WFA). Di Indonesia, kebijakan ini diadopsi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk modernisasi birokrasi dan efisiensi anggaran. Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta menjadi pionir implementasi WFA di lingkungan Kementerian Kesehatan pada tahun 2025. Tujuan: Untuk mengidentifikasi persepsi dan pengalaman ASN, menganalisis tantangan, menggali manfaat, serta merumuskan rekomendasi kebijakan terkait pelaksanaan WFA. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 9 informan yang dipilih secara purposive, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan metode analisis tematik (thematic analysis). Hasil: Temuan menunjukkan, bahwa ASN memiliki persepsi positif terhadap WFA karena meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan kehidupan kerja. Namun, tantangan utama yang dihadapi meliputi ketidakstabilan jaringan internet, hambatan koordinasi daring, dan gangguan lingkungan rumah. Dukungan kepemimpinan yang berbasis kepercayaan menjadi faktor kunci keberhasilan implementasi. Simpulan: Pelaksanaan WFA merupakan langkah strategis transformasi digital yang efektif meningkatkan kepuasan kerja. Namun, memerlukan penguatan infrastruktur digital, sistem evaluasi kinerja berbasis hasil (output-based), dan peningkatan literasi teknologi bagi seluruh ASN. Kata Kunci: Aparatur Sipil Negara (ASN); Efisiensi Kerja; Fleksibilitas; Transformasi Digital; Work from Anywhere (WFA).
Hubungan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar Zakaria, Amin; Rismawati, Novi; Patria, Dion Kunto Adi; Jamil, Mokhtar; Nurmayuniya, Heny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2288

Abstract

Background: Sleep disorders in elementary school-aged children are a problem that can affect growth and development, cognitive function, and academic achievement. Sleep hygiene, as the practice of good sleep habits, is an important factor in preventing sleep disorders. Despite the high prevalence of sleep disorders in children, research on the relationship between sleep hygiene and sleep disorders in the Kepanjen area, Malang Regency, is still limited. Purpose: To analyze the relationship between sleep hygiene and sleep disorders in elementary school-aged children. Method: This quantitative analytical study with a cross-sectional approach involved 4th, 5th, and 6th grade students at Kemiri 2 Public Elementary School, located in Kemiri Village, Kepanjen District, Malang Regency, East Java. The sample was selected using a total sampling technique, resulting in a sample of 68 respondents. Data collection used the Sleep Hygiene Index and Sleep Disturbance Scale for Children questionnaires, which have been tested for validity and reliability. Data analysis used the chi-square test with a p-value > 0.05. Results: The majority of respondents (72.1%) had good sleep hygiene. However, 55.9% of respondents required sleep monitoring, and 20.6% experienced sleep disturbances. Statistical testing showed a p-value of 0.028, indicating a significant relationship between sleep hygiene and sleep disturbances in elementary school children. Conclusion: Sleep hygiene is significantly associated with sleep disturbances in elementary school children. Good sleep hygiene practices can be a preventative measure to reduce the risk of sleep disturbances in school-aged children.   Keywords: Elementary School Children; Sleep Disturbances; Sleep Hygiene.   Pendahuluan: Gangguan tidur pada anak usia sekolah dasar merupakan permasalahan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang, fungsi kognitif, dan prestasi akademik. Sleep hygiene sebagai praktik kebiasaan tidur yang baik, menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah gangguan tidur. Meskipun prevalensi gangguan tidur pada anak cukup tinggi, penelitian mengenai hubungan sleep hygiene dengan gangguan tidur di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional melibatkan siswa kelas 4, 5, dan 6 di SDN 2 Kemiri yang berlokasi di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling, sehinggal didapatkan sampel sebanyak 68 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Sleep Hygiene Index dan Sleep Disturbance Scale for Children yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p-value > 0.05. Hasil: Mayoritas responden memiliki sleep hygiene yang baik sebanyak 72.1%. Namun, 55.9% responden memerlukan pemantauan gangguan tidur dan 20.6% mengalami gangguan tidur. Uji statistik menunjukkan nilai p value 0.028 yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara sleep hygiene dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Simpulan: Sleep hygiene memiliki hubungan yang signifikan dengan gangguan tidur pada anak sekolah dasar. Praktik sleep hygiene yang baik dapat menjadi upaya preventif dalam menurunkan risiko gangguan tidur pada anak usia sekolah.   Kata Kunci: Anak Sekolah Dasar; Gangguan Tidur; Sleep Hygiene.
Hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan pemeriksaan voluntary counseling and testing (VCT) pada ibu hamil Laiya, Nining; Asrifuddin, Afnal; Nelwan , Jeini Ester
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2290

Abstract

Background: Voluntary counseling and testing (VCT) is a confidential, voluntary process of pre-testing and post-testing for HIV/AIDS that helps individuals learn their HIV status early, which is crucial for prevention and treatment. VCT is crucial for pregnant women because it aims to prevent mother-to-child transmission of HIV, and to prevent and manage HIV-related illnesses. Purpose: To examine the relationship between knowledge about HIV/AIDS and voluntary counseling and testing (VCT). Method: This was a quantitative cross-sectional study. The sampling technique used purposive sampling, with 72 pregnant women as the sample. Data analysis used Fisher's exact test. Results: 55 participants (76.4%) had good knowledge and 17 participants (23.6%) had poor knowledge. 62 participants (86.1%) had received VCT, while 10 (13.9%) had not. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge about HIV/AIDS and voluntary counseling and testing (VCT) with p-value = 0.020.   Keywords: Knowledge about HIV/AIDS; Pregnant Women; Voluntary Counseling and Testing (VCT).   Pendahuluan: Voluntary counseling and testing (VCT) adalah proses konseling pre testing, konseling post testing HIV/AIDS secara sukarela yang bersifat rahasia dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV yang penting untuk pencegahan dan perawatannya. VCT penting bagi ibu hamil karena bertujuan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, pencegahan dan manajemen klinis penyakit-penyakit yang berhubungan dengan HIV. Tujuan: Untuk melihat hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan pemeriksaan voluntary counseling and testing (VCT). Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, yang terdiri 72 ibu hamil sebagai sampel. Analisis data menggunakan fisher’s exact test. Hasil: Pengetahuan tentang HIV/AIDS yaitu sebanyak 55 responden (76.4%) yang berpengetahuan baik dan sebanyak 17 responden (23.6%) yang berpengetahuan buruk. Responden sebanyak 62 (86.1%) sudah melakukan pemeriksaan VCT dan sebanyak 10 (13.9%) tidak melakukan pemeriksaan VCT. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan pemeriksaan voluntary counseling and testing (VCT) dengan p-value= 0.020.   Kata Kunci: Ibu Hamil; Pengetahuan HIV/AIDS; Voluntary Counseling and Testing (VCT).