cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 545 Documents
Hubungan gerakan shalat sebagai latihan fisik pada pasien low back pain: A literature review Mutmainnah Mutmainnah; Mochammad Erwin Rachman; Andi Millaty Halifah Dirgahayu Lantara
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2411

Abstract

Background: Low back pain (LBP) is a musculoskeletal disorder with a high prevalence globally and a significant impact on quality of life and productivity. The high incidence of LBP drives the need for non-pharmacological interventions that are easily accessible, affordable, and can be performed routinely. Prayer movements are structured physical activities that involve various body postures and have the potential to provide biomechanical and physiological benefits for the spine and its supporting muscles. Purpose: To examine the relationship between prayer movements as a form of physical exercise and the incidence and reduction of low back pain complaints. Method: This literature review examined scientific articles from PubMed, Elsevier, ScienceDirect, ResearchGate, and DOAJ published between 2015 and 2025. Relevant articles were selected based on inclusion criteria and analyzed qualitatively. Results: Prayer movements, particularly bowing and prostration, are associated with reduced low back pain intensity, increased lumbar and hamstring flexibility, improved posture, and balanced back muscle activity. Conclusion: Regularly and correctly performed prayer movements have been shown to be associated with the prevention and reduction of low back pain complaints by reducing pain intensity, increasing flexibility, and improving postural function. Therefore, prayer movements are a physical exercise for low back pain that can reduce pain intensity in patients.   Keywords: Low Back Pain Patients; Physical Exercise; Prayer Movements.   Pendahuluan: Low back pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal dengan prevalensi tinggi secara global dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup serta produktivitas. Tingginya angka kejadian LBP mendorong perlunya intervensi non-farmakologis yang mudah diakses, murah, dan dapat dilakukan secara rutin. Gerakan shalat merupakan aktivitas fisik terstruktur yang melibatkan berbagai postur tubuh dan berpotensi memberikan manfaat biomekanik serta fisiologis bagi tulang belakang dan otot pendukungnya. Tujuan: Untuk menelaah hubungan gerakan shalat sebagai bentuk latihan fisik terhadap kejadian dan penurunan keluhan low back pain. Metode: Penelitian literature review dengan menelusuri artikel ilmiah dari PubMed, Elsevier, ScienceDirect, ResearchGate, DOAJ yang diterbitkan pada periode 2015–2025. Artikel yang relevan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif. Hasil: Gerakan shalat, khususnya rukuk dan sujud, berhubungan dengan penurunan intensitas nyeri punggung bawah, peningkatan fleksibilitas lumbal dan hamstring, perbaikan postur tubuh, serta keseimbangan aktivitas otot punggung. Simpulan: Gerakan shalat yang dilakukan secara rutin dan benar terbukti berkaitan dengan pencegahan serta penurunan keluhan low back pain melalui penurunan intensitas nyeri, peningkatan fleksibilitas, dan perbaikan fungsi postural. Oleh karena itu, gerakan shalat merupakan latihan fisik pada low back pain yang dapat menurunkan intensitas nyeri pada pasien.   Kata Kunci: Gerakan Shalat; Latihan Fisik; Pasien Low Back Pain.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan diabetes melitus pada pasien Jessica Pricilia Kamagi; Budi Tarmady Ratag; Eva Mariane Mantjoro; Wulan Pingkan Julia Kaunang
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2457

Abstract

Background: Diabetes is a disease caused by a decrease in the hormone insulin produced by the pancreas, or insulin resistance. This results in the body's inability to properly process glucose, leading to elevated blood glucose levels (hyperglycemia). Physical activity is a modifiable risk factor for diabetes, while family history/genetic factors are non-modifiable risk factors. Purpose: To analyze the relationship between physical activity and family history with diabetes mellitus in patients. Method: This quantitative study used an observational analytical approach with a cross-sectional study design. The study was conducted from June to August 2025 with a sample of 100 respondents selected using a purposive sampling technique. Data collection used medical records, questionnaires, and rapid tests (blood sugar measurements). Results: The chi-square test yielded a p-value for the association between physical activity and family history of diabetes mellitus of 0.001. This indicates that both variables have a significant association with the incidence of diabetes mellitus. Conclusion: There is a significant association between physical activity and family history with the incidence of diabetes mellitus.   Keywords: Diabetes Mellitus; Family History; Physical Activity.                                                                                            Pendahuluan: Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh penurunan hormon Insulin yang diproduksi oleh pankreas atau terjadinya resistensi insulin, kemudian menyebabkan glukosa tubuh tidak dapat diproses secara sempurna, sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Aktifitas fisik merupakan salah satu faktor risiko diabetes yang dapat diubah, sementara riwayat keluarga/faktor genetik adalah faktor risiko yang tidak dapat diubah. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan diabetes melitus pada pasien. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2025 dengan sampel berjumlah 100 responden, dipilih melalui teknik purposive sampling. Sementara pengumpulan data menggunakan buku rekam medik, kuesioner, dan  rapid tests (pengukuran kadar gula darah). Hasil: Uji chi square diperoleh p-value untuk hubungan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga terhadap diabetes melitus adalah 0.001. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diabetes melitus. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dan riwayat keluarga dengan kejadian diabetes melitus.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Diabetes Melitus (DM); Riwayat Keluarga.
Efektivitas edukasi anemia berbasis video animasi terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri tentang tablet tambah darah Desak Made Yulianti; Nancy Olii; Nurhidayah Nurhidayah; Veny Delvia Pombaile; Ni Made Dewi Anggraeni; Rina Sulisthia Arbie
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i9.2485

Abstract

Background: Iron deficiency anemia remains a prevalent health problem among adolescent girls and has adverse effects on quality of life and productivity. Health education delivered through engaging and easily accessible media, such as animated videos, has the potential to enhance understanding and foster positive attitudes toward the consumption of iron supplementation tablets. Purpose: To determine the effectiveness of animated video education on anemia on the level of knowledge and attitudes of young women about iron tablets. Method: This study employed a quasi-experimental design with a two-group pretest–posttest approach. The sample consisted of 80 adolescent girls, including 40 seventh-grade and 40 eighth-grade students, selected using an exhaustive sampling technique. Knowledge and attitudes were assessed before and after the intervention. Data were subsequently analyzed using the Wilcoxon and chi-square tests, with a significance level set at p < 0.05 Results: The anemia education delivered through animated videos significantly improved the knowledge and attitudes of adolescent girls in both grade groups (p=0.000). In addition, a significant difference was observed between seventh- and eighth-grade students after the intervention (p<0.05), with eighth-grade students exhibiting better outcomes. Conclusion: Animated video based anemia education was proven to be effective in improving the knowledge and attitudes of adolescent girls regarding iron supplementation tablets. Therefore, this medium can be recommended as a health promotion strategy to support anemia prevention efforts among adolescent girls.   Keywords: Anemia; Animated Video; Attitude; Iron Supplementation; Knowledge.   Pendahuluan: Anemia defisiensi besi masih menjadi permasalahan kesehatan yang banyak dijumpai pada remaja putri dan berdampak pada kualitas hidup serta produktivitas. Edukasi kesehatan melalui media yang menarik dan mudah diakses, seperti video animasi, berpotensi meningkatkan pemahaman dan membentuk sikap positif terhadap konsumsi tablet tambah darah. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas edukasi video animasi anemia terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang tablet tambah darah. Metode: Desain penelitian quasi-experimental dengan pendekatan two group pretest–posttest. Sampel berjumlah 80 remaja putri (40 siswi kelas 7 dan 40 siswi kelas 8) dipilih menggunakan teknik exhaustive sampling. Data diperoleh melalui penilaian tingkat pengetahuan dan sikap yang dilakukan sebelum dan setelah pemberian intervensi. Selanjutnya, di analisis menggunakan uji Wilcoxon dan chi-square pada tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Edukasi video animasi anemia secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri di kedua kelompok kelas (p=0>000). Selain itu, perbedaan signifikan juga ditemukan antara siswa kelas 7 dan 8 setelah intervensi (p<0.05), dengan performa yang lebih baik pada siswa kelas 7. Simpulan: Pemberian edukasi anemia melalui media video animasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri tentang tablet tambah darah.   Kata Kunci: Anemia; Pengetahuan; Sikap; Tablet Tambah Darah; Video Animasi.
Analisis hubungan komunikasi bidan dengan tingkat kepuasan ibu hamil pada pelayanan antenatal care Hasnia Hasnia; Yustika Rahmawati Pratami; Wiwit Vitania; Nasrianti Nasrianti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2547

Abstract

Background: Antenatal Care (ANC) is an early preventive measure to detect risk factors during pregnancy and childbirth, reduce the maternal mortality rate (MMR), and monitor fetal well-being. One factor that encourages pregnant women to attend regular ANC visits is not only the provision of information about their health condition, but also the midwife's ability to listen to complaints, show empathy, and provide friendly service. Effective communication can create patient satisfaction, which ultimately influences adherence to follow-up visits. Purpose: To determine the relationship between midwife communication and pregnant women's satisfaction with antenatal care services. Method: This quantitative study used an analytical survey design and a cross-sectional approach. The sample consisted of 20 pregnant women selected using a total sampling technique. The study was conducted in July 2025 at the Khomba Waliyauw Community Health Center, Sentani. The research instruments used were a midwife communication questionnaire and a patient satisfaction questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate chi-square statistical tests. Results: Most midwives had good communication skills, and most pregnant women were satisfied with antenatal care services. The chi-square test yielded a ρ value of 0.000 (<0.05). Conclusion: There is a significant relationship between midwife communication and maternal satisfaction with antenatal care services. Suggestion: Future research should expand the scope of variables, such as facilities and medical personnel competence, to provide more comprehensive results.   Keywords: Antenatal Care Services; Midwife Communication; Satisfaction Level; Pregnant Women.   Pendahuluan: Antenatal Care (ANC) merupakan upaya pencegahan dini untuk mendeteksi faktor risiko selama kehamilan dan persalinan, menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), serta memantau kesejahteraan janin. Salah satu faktor yang mendorong ibu hamil untuk melakukan kunjungan ANC secara rutin bukan hanya pemberian informasi mengenai kondisi kesehatannya, tetapi juga kemampuan bidan dalam mendengarkan keluhan, menunjukkan empati, dan memberikan pelayanan yang ramah. Komunikasi yang efektif dapat menciptakan kepuasan pasien, pada akhirnya memengaruhi kepatuhan terhadap kunjungan ulang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara komunikasi bidan dengan tingkat kepuasan ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 20 ibu hamil yang dipilih dengan teknik total sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2025 di Puskesmas Khomba Waliyauw, Sentani. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner komunikasi bidan dan kuesioner kepuasan pasien. Data dianalisis menggunakan univariat dan bivariat uji statistik Chi-Square. Hasil: Sebagian besar bidan memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan sebagian besar ibu hamil merasa puas terhadap pelayanan antenatal care. Uji Chi-Square menghasilkan nilai ρ sebesar 0.000 (<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi bidan dengan tingkat kepuasan ibu hamil terhadap pelayanan antenatal care. Saran: Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas cakupan variabel seperti fasilitas dan kompetensi tenaga medis agar hasil penelitian lebih komprehensi   Kata Kunci: Ibu Hamil; Komunikasi Bidan; Kepuasan Ibu Hamil; Pelayanan Antenatal Care.
Pengembangan modul laboratorium maternitas terintegrasi nilai-nilai keislaman bagi mahasiswa keperawatan menggunakan model 4D Sulastri Sulastri; Sujito Sujito; M Usman
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2669

Abstract

Background: Maternity nursing education requires a balanced integration between clinical competence and professional values to produce graduates who are technically skilled and ethically grounded. However, most existing laboratory modules emphasize procedural mastery without systematically integrating Islamic values, resulting in a gap between institutional value orientation and instructional practice. Purpose:  To develop and evaluate an Islamic value–integrated maternity laboratory module using the 4D model and to examine its effectiveness on students’ learning outcomes. Method:  This research employed a Research and Development design utilizing the 4D model (Define, Design, Develop, Disseminate). A quasi-experimental pretest–posttest control group design was conducted with 183 nursing students. Data were collected through expert validation sheets and learning outcome tests. Statistical analysis included N-gain calculation, significance testing, and effect size measurement. Results:  The module achieved high validity (86.03% content; 82.14% design/media; 85.52% Islamic integration) and high practicality (93.56%). Effectiveness testing revealed a significant improvement in the experimental group with an N-gain of 0.814 (high category) compared to 0.409 (moderate category) in the control group. Statistical analysis showed significant differences (p < 0.001) with very large effect sizes (Hedges g > 2). Conclusion:  he systematic and measurable integration of Islamic values into maternity laboratory modules effectively enhances student learning outcomes and strengthens the alignment between institutional values and pedagogical practice in nursing education.   Keywords: 4D Model; Islamic Values Integration; Learning Outcomes: Maternity Module.   Pendahuluan:  Pendidikan keperawatan maternitas memerlukan integrasi yang seimbang antara kompetensi klinis dan nilai-nilai profesional untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki landasan etis yang kuat. Namun, sebagian besar modul laboratorium yang ada masih berorientasi pada penguasaan prosedural tanpa mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara sistematis, sehingga menimbulkan kesenjangan antara orientasi nilai institusi dan praktik pembelajaran. Tujuan:  Untuk mengembangkan dan mengevaluasi modul laboratorium maternitas terintegrasi nilai-nilai Islam menggunakan model 4D serta menguji efektivitasnya terhadap hasil belajar mahasiswa. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development dengan model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate). Desain penelitian yang digunakan adalah quasi-experimental dengan rancangan pretest–posttest control group yang melibatkan 183 mahasiswa keperawatan. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar validasi ahli dan tes hasil belajar. Analisis data meliputi perhitungan N-gain, uji signifikansi, dan pengukuran effect size. Hasil:  Modul yang dikembangkan menunjukkan tingkat validitas yang tinggi (86.03% aspek isi; 82.14% aspek desain/media; 85.52% integrasi nilai Islam) serta tingkat kepraktisan yang sangat tinggi (93.56%). Uji efektivitas menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen dengan nilai N-gain sebesar 0.814 (kategori tinggi) dibandingkan 0.409 (kategori sedang) pada kelompok kontrol. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0.001) dengan effect size yang sangat besar (Hedges g > 2). Simpulan:  Integrasi nilai-nilai Islam secara sistematis dan terukur dalam modul laboratorium maternitas terbukti efektif meningkatkan hasil belajar mahasiswa serta memperkuat keselarasan antara nilai institusi dan praktik pedagogis dalam pendidikan keperawatan.   Kata Kunci: Hasil Pembelajaran; Integrasi Nilai-Nilai Islam; Model 4D; Modul Kehamilan.
Efektivitas early warning assessment terhadap risiko bullying dan masalah psikososial pada remaja Sri Nyumirah; Hayyu Naafi Hidhayanti; Jamaludin Jamaludin; Edi Gunawan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2772

Abstract

Background: Bullying is a common phenomenon in schools and has long-lasting impacts on victims. Common forms of bullying include intimidating remarks, disruptive behavior, and harassment and obstruction of others. The most common victims are adolescents aged 10-19. The 2020 UNICEF Bullying Prevalence Report indicates that in 2018, 41% of 15-year-olds experienced bullying twice a month, with two-thirds of those affected, particularly adolescents aged 13-17. A Psychological Emergency Management (PEM) approach is crucial for providing a rapid, appropriate, and systematic response to cases of psychosocial distress. One of the initial steps in PEM is the implementation of an Early Warning Assessment (EWA)-based screening system, an early identification method for identifying risk factors for psychosocial distress, including the risk of bullying. Purpose: To determine the effectiveness of implementing early warning assessments in reducing risk factors for bullying and psychosocial problems in adolescents. Method: This study used a quasi-experimental design with a one-group pre-test and post-test design approach to evaluate the effectiveness of the implementation of Early Warning Assessment (EWA) in reducing bullying risk factors and psychosocial problems in adolescents. The study was conducted at Bhakti Bangsa Vocational High School, Bekasi, in October 2025. The independent variable was the implementation of EWA, while the dependent variables included bullying risk factors and psychosocial problems. The research instruments consisted of a participant characteristics questionnaire, an EWA instrument for screening bullying risks, and a psychosocial problems questionnaire that had been tested for validity and reliability (Cronbach's alpha value > 0.70). Results: Paired t-test analysis indicated the intervention was effective in reducing risk factors and psychosocial problems, as evidenced by p values ​​< 0.05 for both variables. Conclusion: Early warning assessment is effective in reducing bullying risk factors and psychosocial problems in adolescents.   Keywords: Adolescents; Bullying; Early Warning Assessment.   Pendahuluan: Bullying merupakan salah satu fenomena yang sering terjadi di sekolah dan berdampak di jangka panjang bagi korban. Bentuk bullying yang sering terjadi yaitu berupa pembicaraan yang memberikan gertakan, perilaku yang menganggu, mengusik, dan menghalangi orang lain. Korban paling sering terjadi pada usia remaja yaitu antara 10-19 Tahun. Prevalensi bullying yang ditemukan oleh UNICEF tahun 2020, menyebutkan bahwa pada tahun 2018 sebesar 41% anak dengan usia 15 tahun mulai mengalami tindakan bullying sebanyak dua kali dalam sebulan, 2/3 khususnya remaja dengan usia 13-17 tahun yang menjadi korban dari bullying. Pendekatan manajemen kegawatdaruratan psikologis (MKP) menjadi penting untuk memberikan respon cepat, tepat, dan sistematis terhadap kasus-kasus gangguan psikososial. Salah satu langkah awal dalam MKP adalah penerapan sistem skrining berbasis Early Warning Assessment (EWA), yaitu suatu metode identifikasi dini untuk mengenali faktor risiko gangguan psikososial, termasuk risiko bullying. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas penerapan early warning assessment untuk menurunkan faktor resiko bullying pada remaja dan masalah psikososial. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test design untuk mengevaluasi efektivitas penerapan Early Warning Assessment (EWA) dalam menurunkan faktor risiko bullying dan masalah psikososial pada remaja. Penelitian dilaksanakan di SMK Bhakti Bangsa Bekasi pada bulan Oktober 2025. Variabel independen adalah penerapan EWA, sedangkan variabel dependen meliputi faktor risiko bullying dan masalah psikososial. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner karakteristik partisipan, instrumen EWA untuk skrining risiko bullying, serta kuesioner masalah psikososial yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (nilai Cronbach’s alpha > 0.70). Hasil: Analisis paired t-test menunjukkan intervensi yang dilakukan efektif dalam menurunkan faktor risiko dan masalah psikososial, yang dibuktikan dengan nilai p < 0.05 pada kedua variabel. Simpulan: Terdapat pengaruh early warning assessment untuk menurunkan faktor resiko bullying pada remaja dan masalah psikososial.   Kata Kunci: Bullying; Early Warning Assessment; Remaja.
Inisiasi penyusunan panduan asuhan keperawatan pasca tindakan percutaneus coronary intervention (PCI) untuk peningkatan perencanaan pulang di unit rawat inap Suci Sari Pratiwi; Hanny Handiyani; Hening Pujasari; Andi Amalia Wildani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2906

Abstract

Background: Discharge planning for patients following percutaneous coronary intervention (PCI) is suboptimal due to limited guidelines, nurse competencies, and support systems. This situation impacts patient outcomes, including an increased risk of readmission. Therefore, the development of evidence-based guidelines is needed to standardize discharge planning and improve the quality of care. Purpose: To describe the process of developing nursing care guidelines following percutaneous coronary intervention (PCI). Method: This study used Kotter's eight-step plan approach to change, which consists of eight steps: building a sense of urgency, forming a coalition, creating a new vision, communicating the vision, removing obstacles, planning for short-term wins, building change, and sustaining change. The study was conducted at hospitals in Depok City from May 27 to June 30, 2025. Results: Problem identification through interviews, questionnaires, and observations of 107 nurses indicated suboptimal post-PCI discharge planning. SWOT and fishbone analyses revealed the primary causes to be limited technical guidelines, nurse competencies, and system support and collaboration. The initial implementation of John P. Kotter's change model resulted in the formation of a coalition, the development of a Plan of Action, and the formulation of a vision for change. Guideline socialization was conducted as the initial step in implementation. Subsequent stages will be followed up with a hospital-based follow-up plan. Conclusion: Optimizing post-PCI patient discharge planning can be achieved through a structured change approach using John P. Kotter's model, which effectively identifies root causes, such as guideline limitations, nurse competency, and system support. Suggestion: Hospitals can continue implementing changes through steps five through eight of Kotter's change model to ensure post-PCI nursing care guidelines are optimally integrated into clinical practice.   Keywords: Discharge Planning; Inpatient Unit; Nursing Care Guidelines; Percutaneous Coronary Intervention (PCI).   Pendahuluan: Perencanaan pulang pasien pasca tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) belum optimal akibat keterbatasan panduan, kompetensi perawat, dan sistem pendukung. Kondisi ini berdampak pada luaran pasien, termasuk peningkatan risiko readmisi. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan panduan berbasis bukti untuk menstandarisasi perencanaan pulang dan meningkatkan kualitas pelayanan. Tujuan: Untuk mendeskripsikan proses penyusunan panduan asuhan keperawatan pasca tindakan percutaneus coronary intervention (PCI). Metode: Penelitian dengan pendekatan perubahan Kotter’s eight-step plan yang terdiri dari delapan langkah yaitu membangun rasa urgensi, membentuk koalisi, menciptakan visi baru, mengomunikasikan visi, menghilangkan hambatan, merencanakan kemenangan jangka pendek, membangun perubahan, dan mempertahankan perubahan. Penelitian dilaksanakan di rumah sakit di Kota Depok pada 27 Mei-30 Juni 2025. Hasil: Identifikasi masalah melalui wawancara, kuesioner, dan observasi pada 107 perawat, menunjukkan perencanaan pulang pasca tindakan PCI belum optimal. Analisis SWOT dan fishbone mengungkap penyebab utama berupa keterbatasan panduan teknis, kompetensi perawat, serta dukungan sistem dan kolaborasi. Penerapan tahap awal model perubahan John P. Kotter menghasilkan pembentukan koalisi, penyusunan Plan of Action, serta perumusan visi perubahan. Sosialisasi panduan dilakukan sebagai langkah awal implementasi. Tahapan selanjutnya akan dilanjutkan melalui rencana tindak lanjut di rumah sakit. Simpulan: Optimalisasi perencanaan pulang pasien pasca tindakan PCI dapat dilakukan melalui pendekatan perubahan terstruktur menggunakan model John P. Kotter yang efektif mengidentifikasi akar masalah, seperti keterbatasan panduan, kompetensi perawat, dan dukungan sistem. Saran: Rumah sakit dapat melanjutkan implementasi perubahan hingga langkah kelima sampai dengan langkah kedelapan dalam model perubahan Kotter guna memastikan panduan asuhan keperawatan pasca tindakan PCI terintegrasi secara optimal dalam praktik klinik.   Kata Kunci: Unit Rawat Inap; Panduan Asuhan Keperawatan (PAK); Percutaneus Coronary Intervention (PCI); Perencanaan Pulang.
Praktik pencegahan dan efektivitas vaksinasi influenza terhadap penyakit pernapasan pada jemaah haji: A systematic literature review Rina Novianti Siregar; Dian Yudianto; Rani Sauriasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.1779

Abstract

Background: Respiratory diseases such as influenza and pneumonia are the leading causes of illness among Hajj pilgrims each year. This is due to the high density of pilgrims and inter-country mobility. Preventive measures such as influenza vaccination and good hygiene practices have been recommended by the World Health Organization (WHO) and the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. However, in reality, not all Hajj pilgrims receive the vaccine and consistently practice preventive behaviors, resulting in suboptimal prevention outcomes. Purpose: To identify respiratory disease prevention practices and the effectiveness of influenza vaccination among Hajj pilgrims. Method: This was a systematic literature review (SLR) based on PRISMA guidelines, using data sources from PubMed, Scopus, and ScienceDirect. Articles meeting the inclusion criteria (2013–2024) were analyzed using a thematic synthesis approach and narrative summary. Of the 150 articles screened, 35 studies were eligible for further analysis, and 10 were selected for review. Results: The combination of influenza vaccination, mask use, handwashing, and health education can reduce the incidence of respiratory infections by 40–60%. Factors contributing to this include social support, behavior, and policies. Conclusion: Preventing respiratory diseases among Hajj pilgrims requires a multilevel approach that integrates medical and sociocultural interventions. Suggestion: Future researchers are encouraged to develop epidemiological data-driven predictive models to estimate potential respiratory disease outbreaks during the next Hajj season, as well as to evaluate the effectiveness of digital technology-based interventions, such as through pilgrim health apps.   Keywords: Hajj Pilgrims; Influenza; Respiratory Diseases; Vaccination.   Pendahuluan: Penyakit pernapasan seperti influenza dan pneumonia menjadi salah satu penyebab utama banyaknya jemaah haji yang jatuh sakit setiap tahun. Kondisi ini terjadi akibat tingginya tingkat kepadatan jemaah dan mobilitas antarnegara. Upaya pencegahan melalui vaksinasi influenza dan penerapan perilaku higienis telah direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Namun, pada kenyataannya tidak semua jemaah haji mendapatkan vaksin dan menerapkan perilaku pencegahan secara konsisten, sehingga hasil pencegahannya belum optimal. Tujuan: Untuk mengidentifikasi praktik pencegahan penyakit pernapasan dan efektivitas vaksinasi influenza pada jemaah haji. Metode: Penelitian systematic literature review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA dengan sumber data dari PubMed, Scopus, dan ScienceDirect. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi (periode 2013–2024) dianalisis menggunakan pendekatan thematic synthesis dan narrative summary. Dari 150 artikel yang disaring, 35 studi memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut dan didapatkan 10 artikel yang di review. Hasil: Kombinasi vaksinasi influenza, penggunaan masker, cuci tangan, serta edukasi kesehatan mampu menurunkan insiden infeksi pernapasan hingga 40–60%. Adapun faktor yang menyebabkan hal tersebut disebabkan oleh faktor sosial, perilaku, dan dukungan kebijakan. Simpulan: Pencegahan penyakit pernapasan pada jemaah haji membutuhkan pendekatan multilevel yang mengintegrasikan intervensi medis dan sosial budaya. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, disarankan mengembangkan model prediksi berbasis data epidemiologi untuk memperkirakan potensi wabah pernapasan di musim haji berikutnya, serta mengevaluasi efektivitas intervensi berbasis teknologi digital, misalnya melalui aplikasi kesehatan jemaah.   Kata Kunci: Influenza; Jemaah Haji; Penyakit Pernapasan; Vaksinasi.
Kecerdasan emosi, dukungan sosial, dan perilaku non suicidal self-injury (NSSI) pada mahasiswa baru fakultas kedokteran Batrisya Aida Agnazahra; Warih Andan Puspitosari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2252

Abstract

Background: Non-suicidal self-injury (NSSI) is the act of intentionally harming oneself without suicidal intent. New medical students are in the transitional phase of young adulthood, vulnerable to stress. Therefore, protective factors such as social support and emotional intelligence are thought to play a role in NSSI. Purpose: To analyze the relationship between emotional intelligence and social support and the incidence of NSSI in new medical students. Method: This quantitative analytical study, with a cross-sectional design, was conducted among 150 new medical students at the Faculty of Medicine, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (November 2024–June 2025) and recruited using a convenience sampling technique. NSSI was measured using the Inventory of Statements About Self-Injury (ISAS), social support using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and emotional intelligence using the Bar-on Emotional Quotient Inventory (EQ-i). Relationships were analyzed using the chi-square test, and further analysis within the NSSI group used Spearman correlation. Results: Forty-five respondents (30.0%) reported a history of self-injury (NSSI). The most common form of NSSI was pinching (18.9% of total acts). The highest NSSI functions were self-punishment (mean 1.64) and emotion regulation (mean 1.59). There was no significant relationship between emotional intelligence and NSSI (p=0.299). There was a significant relationship between social support and NSSI (p=0.035), with a tendency for NSSI to be higher in those with low social support. Among respondents with NSSI, total social support was negatively correlated with several NSSI functions, specifically self-punishment, emotion regulation, and family and friend support, which were also negatively correlated with NSSI scores. Conclusion: Social support was significantly associated with NSSI, while emotional intelligence did not show a significant relationship in this study sample. Suggestion: Future research could consider other variables influencing NSSI. A qualitative approach could provide a more in-depth understanding of NSSI behavior.   Keywords: Emotional Intelligence; Freshmen; Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) Behavior; Social Support.   Pendahuluan: Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) adalah perilaku melukai diri secara sengaja tanpa niat bunuh diri. Mahasiswa baru kedokteran berada pada fase transisi dewasa muda yang rentan stres, sehingga faktor protektif seperti dukungan sosial dan kecerdasan emosional diduga berperan terhadap NSSI. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kecerdasan emosional dan dukungan sosial dengan kejadian NSSI pada mahasiswa baru. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional, dilakukan pada 150 mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (November 2024–Juni 2025) yang dikumpulkan menggunakan teknik convenience sampling. NSSI diukur menggunakan inventory of statements about self-injury (ISAS), dukungan sosial dengan multidimensional scale of perceived social support (MSPSS), dan kecerdasan emosional dengan bar-on emotional quotient inventory (EQ-i). Analisis hubungan menggunakan uji chi-square, analisis lanjutan pada kelompok NSSI menggunakan korelasi Spearman. Hasil: Berdasarkan 45 responden (30.0%) melaporkan riwayat NSSI. Bentuk NSSI yang paling sering adalah mencubit (18.9% dari total tindakan). Fungsi NSSI tertinggi adalah self-punishment (rerata 1.64) dan affect regulation (rerata 1.59). Tidak terdapat hubungan bermakna antara kecerdasan emosional dan NSSI (p=0.299). Terdapat hubungan bermakna antara dukungan sosial dan NSSI (p=0.035), dengan kecenderungan NSSI lebih tinggi pada dukungan sosial rendah. Pada responden dengan NSSI, dukungan sosial total berkorelasi negative dengan beberapa fungsi NSSI, terutama self-punishment, affect regulation, dukungan keluarga, dan teman juga berkorelasi negatif dengan skor NSSI. Simpulan: Dukungan sosial berhubungan signifikan dengan kejadian NSSI, sedangkan kecerdasan emosi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna pada sampel penelitian ini. Saran: Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan variabel lain yang memengaruhi kejadian NSSI. Pendekatan kualitatif dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap perilaku NSSI yang dilakukan.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Kecerdasan Emosional; Mahasiswa Baru; Perilaku Non-Suicidal Self-Injury (NSSI).
Kemitraan program olahraga sebagai diversifikasi pendapatan di rumah sakit Arzaq Fikrian Zahrawan; Dasrun Hidayat; Kahar Mulyani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2329

Abstract

Background: The dynamics of national healthcare financing, including the expansion of National Health Insurance coverage and tightening of claims verification, are encouraging hospitals to develop more adaptive and sustainable non- National Health Insurance revenue diversification strategies. Purpose: To formulate a strategic partnership between a hospital and a sports program as a revenue-generating opportunity based on medical services. Method: This study used a descriptive qualitative approach through in-depth interviews with eight informants (management, field medical personnel, and support units) and analysis of Memoranda of Understanding (MoU) documents and activity reports. Results: The study found that the partnership concept was structured through passive initiation that evolved into a strategic partnership based on the partner's needs, alignment with the hospital's teaching identity, and a B2B financing scheme that provided financial certainty and supported revenue diversification. At the operational level, the partnership was implemented through cross-unit coordination with a comprehensive service flow from pre-match, during-match, and post-match, ensuring athlete safety and an efficient referral process. Control mechanisms are implemented through multi-layered evaluations, including contract compliance, resource and budget audits, and inter-unit evaluation meetings to ensure service quality and financial contributions. Conclusion: The sustainability of the partnership is supported by consistent service quality, a strengthened reputation for sports medicine services, innovative service packages, and increased human resource capacity through specialized training. Overall, the partnership between UNS Hospital and the Solo-based IBL sports program has proven to be a relevant, viable, and potentially long-term source of non-National Health Insurance revenue for the teaching hospital. Suggestion: Future research should prioritize quantitative studies on calculating the percentage of hospital revenue, cost-benefit analysis, and long-term market potential to strengthen the economic basis of the hospital's revenue diversification strategy.   Keywords: Hospital Partnership; Revenue Diversification; Sports Medicine Services.   Pendahuluan: Dinamika pembiayaan kesehatan nasional, termasuk perluasan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta pengetatan verifikasi klaim, mendorong rumah sakit untuk mengembangkan strategi diversifikasi pendapatan non-JKN yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Tujuan: untuk merumuskan kemitraan strategis antara rumah sakit dengan program olahraga sebagai peluang pendapatan berbasis layanan medis. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap 8 informan (manajemen, tenaga medis lapangan, dan unit pendukung) serta analisis dokumen MoU dan laporan kegiatan, Hasil: penelitian ini menemukan bahwa konsep kemitraan dirancang secara terstruktur melalui inisiasi pasif yang berkembang menjadi strategic partnership berbasis kebutuhan mitra, keselarasan identitas rumah sakit pendidikan, serta skema pembiayaan B2B yang memberi kepastian finansial dan mendukung diversifikasi pendapatan. Pada tataran operasional, kemitraan dijalankan melalui koordinasi lintas unit dengan alur layanan komprehensif pra–pertandingan, saat pertandingan, hingga pasca–pertandingan yang memastikan keselamatan atlet dan efisiensi proses rujukan. Mekanisme pengendalian dilakukan melalui evaluasi berlapis mencakup kesesuaian kontrak, audit penggunaan sumber daya dan anggaran, serta rapat evaluasi antar-unit untuk menjamin mutu layanan dan kontribusi finansial. Simpulan: Keberlanjutan kemitraan ditopang oleh konsistensi mutu layanan, penguatan reputasi layanan medis olahraga, inovasi paket layanan, serta peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan khusus. Secara keseluruhan, kemitraan RS UNS dengan program olahraga IBL homebase Solo terbukti menjadi bentuk diversifikasi pendapatan terkait yang relevan, feasible, dan berpotensi menjadi sumber pendapatan non-JKN jangka panjang bagi rumah sakit pendidikan. Saran: Penelitian selanjutnya, perlu memprioritaskan kajian kuantitatif mengenai kalkulasi persentase income untuk rumah sakit, analisis biaya–manfaat, dan potensi pasar jangka panjang, guna memperkuat dasar ekonomi strategi diversifikasi pendapatan rumah sakit.   Kata Kunci: Diversifikasi Pendapatan; Kemitraan Rumah Sakit; Layanan Medis Olahraga.