cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 487 Documents
Hubungan pengetahuan, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi Sahdawati, Fira Widya; Wijayanti, Anisa Catur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2258

Abstract

Background: Hypertension is a chronic disease that requires long-term and continuous treatment. Successful blood pressure control is significantly influenced by patient adherence to antihypertensive medication. Medication adherence is crucial because non-adherence can increase the risk of complications, reduce quality of life, and worsen the health condition of people with hypertension. Purpose: To determine the relationship between knowledge, family support, and healthcare professional support with medication adherence in people with hypertension. Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study sample consisted of 207 respondents with hypertension at the Gambirsari Community Health Center, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the hypertension knowledge questionnaire (HK-LS), family support questionnaire (HK-LS), healthcare professional support questionnaire (HK-LS), and medication adherence questionnaire (MMAS-8). Data were analyzed univariately and bivariately using the Chi-square test. Results: There was a relationship between knowledge (p-value 0.028), family support questionnaire (p-value 0.003), and healthcare professional support questionnaire (p-value 0.0001) with medication adherence. Respondents with good knowledge, family support, and support from healthcare professionals tended to have higher levels of medication adherence. Conclusion: Medication non-adherence among people with hypertension remains common and has the potential to lead to uncontrolled blood pressure and increase the risk of complications. Good knowledge of hypertension management, particularly regarding food choices, and support from family and healthcare professionals in the form of education, motivation, and guidance play a crucial role in improving medication adherence.   Keywords: Family Support; Healthcare Professional Support; Hypertension; Knowledge; Medication Adherence.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan berkelanjutan. Keberhasilan pengendalian tekanan darah sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat anti-hipertensi. Kepatuhan minum obat menjadi aspek penting karena ketidakpatuhan dapat meningkatkan risiko komplikasi, menurunkan kualitas hidup, serta memperburuk kondisi kesehatan penderita hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 207 responden penderita hipertensi di Puskesmas Gambirsari yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan hipertensi (HK-LS), dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, serta kuesioner kepatuhan minum obat (MMAS-8). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil: Adanya hubungan antara pengetahuan (p-value 0.028), dukungan keluarga (p-value 0.003), dan dukungan tenaga kesehatan (p-value 0.0001) dengan kepatuhan minum obat. Responden dengan pengetahuan, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga kesehatan yang baik, cenderung memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang lebih tinggi. Simpulan: Ketidakpatuhan minum obat pada penderita hipertensi masih ditemukan dan berpotensi menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol serta meningkatkan risiko komplikasi. Pengetahuan yang baik mengenai pengelolaan hipertensi, khususnya pada pemilihan jenis makanan, adanya dukungan keluarga, tenaga kesehatan dalam bentuk edukasi, motivasi, dan pendampingan berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan minum obat.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Dukungan Tenaga Kesehatan; Hipertensi; Kepatuhan Minum Obat; Pengetahuan.
Karakteristik pasien retinopahty of prematurity (ROP) Maharani, Ratih Natasha; Kusumawardhani, Sri Irmandha
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2272

Abstract

Background: Retinopathy of prematurity (ROP) is a leading cause of irreversible visual impairment in infants, particularly premature infants. ROP occurs due to incomplete vascularization in premature infants. ROP screening is an initial strategy to prevent blindness from ROP. Purpose: To describe the characteristics of patients with retinopathy of prematurity (ROP). Method: This multicenter, retrospective, observational study, using medical records of patients diagnosed with ROP based on the International Classification of Diseases (ICD)-10 code H35.1, was conducted at 10 hospitals in Makassar City between January 2020 and December 2022. Data were collected from the history and physical examination available in the medical records. The diagnosis of ROP was confirmed based on retinal camera images using the Three 3 Nethra Neo Digital Widefield Imaging System. Results: The incidence of ROP in Makassar City from January 2020 to December 2022 was 14.87%. Most patients had a history of preterm birth between 28 and 33 weeks, with a birth weight of less than 1500 grams (39.3%). The majority of respondents had a history of oxygen supplementation (78.0%), along with other risk factors such as sepsis, multiple pregnancies, a history of transfusion, phototherapy, or a history of apnea. Ninety-eight patients had ROP in both eyes, with the most common stage at the first visit being stage 3 (37.0%). The most common treatment modality for these patients was laser photocoagulation (24.4%). Conclusion: ROP screening activities have yielded positive results, allowing for more timely diagnosis of ROP in preterm infants and prompt treatment. Suggestion: Further research is needed to identify risk factors significantly associated with ROP incidence and treatment prognosis.   Keywords: Characteristics; Retina; Retinopathy of Prematurity (ROP); Visual Impairment.   Pendahuluan: Retinopathy of prematurity (ROP) merupakan penyebab utama gangguan penglihatan yang ireversibel pada bayi, khususnya bayi prematur. ROP terjaid akibat adanya gangguan vaskularisasi yang komplit pada bayi prematur. Skrining ROP merupakan strategi awal untuk mencegah kebutaan akibat ROP. Tujuan: Untuk memaparkan karakteristik pasien dengan retinopathy of prematurity (ROP). Metode: Penelitian observasional deskriptif retrospektif multisenter dengan mengambil data rekam medis pasien di beberapa rumah sakit tempat dilakukan skrining ROP yang terdiagnosis ROP berdasarkan kode diagnosis International Classification Code (ICD)-10 H35.1, dilakukan di 10 rumah sakit di Kota Makassar, pada periode bulan Januari 2020–Desember 2022. Data diambil berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ada dalam rekam medis. Diagnosis ROP ditegakkan berdasarkan foto hasil pemeriksaan retinal camera menggunakan Three 3 Nethra Neo Digital Wide Field Imaging System. Hasil: Insiden ROP di Kota Makassar periode Januari 2020 – Desember 2022 sebesar 14.87%. Sebagian besar pasien memiliki riwayat kelahiran prematur pada rentang 28–33 minggu dengan berat lahir kurang dari 1500 gram sebanyak 39.3%. Mayoritas responden memiliki riwayat penggunaan suplementasi oksigen sebesar 78.0%, disertai dengan faktor risiko lain, seperti sepsis, gemelli, riwayat transfusi, fototerapi, atau riwayat apnea. Sebanyak 98.8% pasien mengalami ROP pada dua mata dengan stadium terbanyak pada kunjungan pertama adalah stadium 3 dengan persentase 37.0%. Modalitas terapi yang banyak dilakukan pada pasien adalah laser fotokoagulasi (24.4%). Simpulan: Kegiatan skrining ROP yang telah dilakukan memberikan hasil yang baik, sehingga bayi prematur dapat lebih cepat terdiagnosis ROP dan segera diberikan tindakan. Saran: Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk dapat melihat faktor risiko yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian ROP serta prognosis dari tatalaksana yang telah diberikan.   Kata Kunci: Gangguan Penglihatan; Karakteristik; Retina; Retinopathy of Prematurity (ROP).
Pengaruh pendidikan kesehatan video animasi tentang personal hygiene terhadap pengetahuan pencegahan penyakit skabies Fathurahmi, Annisa; Tisnawati, Tisnawati; Lidya, Metri; Herwati, Herwati; Efitra, Efitra; Suryarinilsih, Yosi; Murniati, Murniati; Defiaroza, Defiaroza
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2313

Abstract

Background: The prevalence of scabies in Indonesia has increased by 5.6-12.95%, ranking third among the 12 most common skin diseases. Scabies can cause local tissue infections and spread through the bloodstream into the lymph nodes, causing lymphadenitis and sepsis. Purpose: To determine the effect of health education using animated videos about personal hygiene on increasing knowledge in preventing scabies. Method: The pre-experimental research design used a one-group pre-posttest design. The study was conducted from December 2024 to June 2025 at the Sabbihisma Islamic Boarding School. The study population consisted of 107 junior high school students and the sample was selected using a stratified random sampling technique, resulting in a sample of84 participants. Data processing was carried out through editing, coding, entry, cleaning, transferring, and analyzed univariately and bivariately using the wilcoxon test. Results: Participants knowledge during the pre-test obtained an average value of 21.52 with a standard deviation (SD) of 4.674 in the range of 8-29 with a median value of 22.00 (sig. 0.019). Meanwhile, during the post-test, the average value became 29.05 with a standard deviation (SD) of 0.981 in the range of 27-30 and a median value of 29.00 (sig. 0.000), meaning there was a difference between the pre-test and post-test of 7.53. This shows that there is an effect of health education using animated videos on knowledge of scabies prevention. Conclusion: There was an increase in knowledge before and after being given an animated video about personal hygiene in preventing scabies (p=0.000 <0.05). Suggestion: Personal hygiene can be used as a school health program that is carried out periodically and continuously, so that students are able to improve their personal hygiene to prevent scabies in the Islamic boarding school environment.   Keywords: Animated Video; Knowledge; Personal Hygiene; Scabies Disease.   Pendahuluan: Terjadinya peningkatan prevelensi penyakit skabies di Indonesia sebesar 5.6-12.95% dan menduduki peringkat ketiga dari 12 penyakit kulit terbanyak. Skabies dapat menyebabkan infeksi lokal pada jaringan dan bisa menyebar melalui aliran darah masuk ke dalam limfa terjadi limfadenitis dan sepsis. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan video animasi tentang personal hygiene terhadap peningkatan pengetahuan dalam pencegahan penyakit skabies. Metode: Desain penelitian pre eksperiment menggunakan one group pre-post test design. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024-Juni 2025 di Pondok Pesantren Sabbihisma. Populasi penelitian merupakan murid SMP berjumlah 107 partisipan dan sampel dipilih menggunakan teknik stratified random sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 84 partisipan. Pengolahan data melalui editing, coding, entri, cleaning, transfering, dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji wilcoxon. Hasil: Pengetahuan partisipan ketika pre-test, didapatkan nilai rata-rata sebesar 21.52 dengan standar deviasi (SD) sebesar 4.674 pada rentang 8-29 dengan nilai median sebesar 22.00 (sig. 0.019). Sementara ketika post-test, nilai rata-rata menjadi 29.05 dengan standar deviasi (SD) sebesar 0.981 pada rentang 27-30 dan nilai median sebesar 29.00 (sig. 0.000), artinya terdapat selisih antara pre-test dan post-test sebesar 7.53. Hal ini menunjukkan, bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan video animasi terhadap pengetahuan pencegahan penyakit skabies. Simpulan: Terdapat peningkatan antara pengetahuan sebelum dan setelah diberikan video animasi tentang personal hygiene dalam pencegahan penyakit skabies (p=0.000 <0.05). Saran: Personal hygiene dapat dijadikan salah satu program kesehatan sekolah yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, agar para murid mampu meningkatkan personal hygiene guna mencegah penyakit skabies di lingkungan pondok pesantren.   Kata Kunci: Pengetahuan; Penyakit Skabies; Personal Hygiene; Video Animasi.
Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir Cahyowardhani, Lina Dwi; Purnamasari, Salsabila; Kurnia, Sri Indra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2322

Abstract

Background: Floods frequently occur in Kadipiro Village, Banjarsari District, Surakarta City, necessitating a strong level of community preparedness supported by the effective performance of the regional disaster management agency. Public perception of the performance of the regional disaster management agency is a critical factor in determining the extent to which the community is prepared to face flood risks. Purpose: To analyze public perceptions of the performance of the regional disaster management agency in improving community preparedness for flooding. Method: This quantitative cross-sectional study was conducted. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The selected population was 536 neighborhood units affected by flooding in Kadipiro Village. The data were then calculated using the Lemeshow formula, resulting in a sample size of 110 respondents. Results: There was a positive and significant influence between the performance of the Regional Disaster Management Agency and community preparedness. The regression test yielded an F-value of 78.043 with a p-value of 0.000, indicating a statistically significant effect. The coefficient of determination (R²) value of 0.419 indicates that the performance of the regional disaster management agency explains 41.9% of the variation in community preparedness, while the remaining 58.1% is influenced by other factors. Conclusion: Public perception of the performance of the regional disaster management agency plays a crucial role in improving flood preparedness. Efforts to improve service quality, strengthen outreach activities, and expand cross-sector coordination are necessary to build a more resilient and prepared community in a sustainable manner.   Keywords: Disaster Mitigation; Flood; Preparedness; Public Perception; Regional Disaster Management Agency.   Pendahuluan: Banjir sering terjadi di Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, sehingga diperlukan tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang kuat dan didukung oleh kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang efektif. Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD menjadi faktor penting yang menentukan sejauh mana masyarakat siap menghadapi risiko banjir. Tujuan: Untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir. Metode: Penelitian kuantitatif pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Populasi yang dipilih adalah RT yang terdampak banjir di Kelurahan Kadipiro, dengan jumlah total populasi sebanyak 536 orang, selanjutnya dihitung dengan rumus Lemeshow, sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 110 responden. Hasil: Terdapat pengaruh positif dan signifikan kinerja BPBD dan kesiapsiagaan masyarakat. Uji regresi menghasilkan nilai F sebesar 78.043 dengan nilai p sebesar 0.000, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan secara statistik. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.419, menunjukkan bahwa kinerja BPBD menjelaskan 41.9% variasi kesiapsiagaan masyarakat, sedangkan 58.1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulan: Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir. Upaya peningkatan kualitas layanan, memperkuat kegiatan sosialisasi, dan memperluas koordinasi lintas sektor diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Banjir; Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); Kesiapsiagaan; Mitigasi Bencana; Persepsi Masyarakat.
Pengembangan mobile apps ner receptive therapy berbasis game untuk meningkatkan bahasa reseptif anak dini Sami Nur Shabri; Dian Atnantomi Wiliyanto; Roy Romey Daulas Mangunsong
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2549

Abstract

Background: Receptive language disorders in early childhood can hinder the ability to understand instructions, recognize objects, and interact in learning, thus requiring engaging and developmentally appropriate intervention media. Purpose: To develop a game-based receptive therapy application as an intervention medium to improve receptive language skills in early childhood. Method: Research and Development (R&D) was conducted through preliminary stages, product development, and expert and practitioner validation. This study involved four experts and 20 practitioners, with data collection using questionnaires and structured interviews. Data were analyzed quantitatively and qualitatively. Results: The study showed the application received an average score of 4.36 from the experts and 4.27 from the practitioners, categorized as very good. Overall, the receptive therapy application was deemed feasible and ready for use as a receptive language intervention medium. The final product, a receptive therapy application, underwent expert validation, prospective user validation, and initial and final product revisions. Therefore, its appearance and functionality were tailored to user needs and ready for implementation in the field. Conclusion: The use of a game-based receptive language therapy application is feasible as a receptive language intervention medium and has the potential to support the therapy and learning process in early childhood. Suggestion: Further research is recommended to experimentally test the application's effectiveness, develop adaptive features tailored to children's abilities, and expand the application's implementation across various platforms and service settings.   Keywords: Application Development; Early Childhood; Mobile Application; Receptive Language; Speech Therapy.   Pendahuluan: Gangguan bahasa reseptif pada anak usia dini dapat menghambat kemampuan memahami instruksi, mengenali objek, dan berinteraksi dalam pembelajaran sehingga diperlukan media intervensi yang menarik dan sesuai perkembangan anak.. Tujuan: Untuk mengembangkan aplikasi ner receptive therapy berbasis game sebagai media intervensi untuk meningkatkan kemampuan bahasa reseptif anak usia dini. Metode: Penelitian pengembangan (Research and Development) yang dilakukan melalui tahap pendahuluan, pengembangan produk, serta validasi ahli dan praktisi. Subjek penelitian melibatkan 4 ahli dan 20 praktisi, dengan pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara terstruktur. Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil: Penelitian menunjukkan aplikasi memperoleh skor rata-rata 4,36 dari ahli dan 4,27 dari praktisi dengan kategori sangat baik. Secara keseluruhan, aplikasi ner receptive therapy dinilai layak dan siap digunakan sebagai media intervensi bahasa reseptif. Produk akhir yang dihasilkan merupakan aplikasi ner receptive therapy yang telah melalui tahapan validasi ahli, validasi calon pengguna, serta revisi produk awal dan akhir, sehingga tampilan dan fungsinya telah disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan siap diimplementasikan di lapangan. Simpulan: Penggunaan aplikasi ner receptive therapy berbasis game layak digunakan sebagai media intervensi bahasa reseptif dan berpotensi mendukung proses terapi serta pembelajaran anak usia dini. Saran: Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk menguji efektivitas aplikasi secara eksperimental, mengembangkan fitur adaptif sesuai tingkat kemampuan anak, serta memperluas implementasi aplikasi pada berbagai platform dan setting layanan.   Kata Kunci: Aplikasi Mobile; Anak Usia Dini; Bahasa Reseptif; Pengembangan Aplikasi; Terapi Wicara.
Penurunan skala nyeri dismenore dengan pijat endorfhin pada mahasiswa Damayanti, Ade Irma; Noorbaya, Siti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2732

Abstract

Background: Menstruation is a sign of maturation of the female reproductive system that occurs during puberty. One menstrual disorder frequently experienced by adolescents is dysmenorrhea, or catamenial pelvic pain, which can disrupt academic and daily activities. Non-pharmacological treatments, such as endorphin massage, can be an alternative to reduce pain without the side effects of medication. Purpose: To determine the effectiveness of endorphin massage in reducing dysmenorrhea pain in college students. Method: This was a quasi-experimental study using a non-equivalent control group approach. The sampling technique used was purposive sampling, with 24 participants divided into two groups: an intervention group (n=12) that received endorphin massage and a control group (n=12) that did not receive the intervention. Data analysis used a paired t-test to determine differences in pain levels. Results: There was a significant difference in dysmenorrhea pain levels after endorphin massage with a p-value of 0.000 (p < 0.05). The intervention group experienced a greater reduction in pain intensity than the control group. Conclusion: Endorphin massage is effective in reducing dysmenorrhea pain in female students. This intervention can be recommended as a safe and easy-to-implement non-pharmacological therapy to help reduce menstrual pain and reduce the use of analgesic medications.   Keywords: Dysmenorrhea Pain; Endorphin Massage; Students.   Pendahuluan: Menstruasi merupakan tanda kematangan sistem reproduksi perempuan yang terjadi pada masa pubertas. Salah satu gangguan menstruasi yang sering dialami remaja adalah dismenore atau nyeri haid (catamenial pelvic pain) yang dapat mengganggu aktivitas belajar maupun kegiatan sehari-hari. Penatalaksanaan non-farmakologis seperti pijat endorfin dapat menjadi alternatif untuk mengurangi nyeri tanpa menimbulkan efek samping obat. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas penurunan skala nyeri dismenore dengan pijat endorphin pada mahasiswa. Metode: Penelitian quasi-eksperimental dengan pendekatan non-equivalent control group. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah partisipan 24 orang yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (n=12) yang diberikan pijat endorfin dan kelompok kontrol (n=12) tanpa intervensi. Analisis data menggunakan uji paired t-test untuk mengetahui perbedaan tingkat nyeri. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat nyeri dismenore setelah pemberian pijat endorfin dengan nilai p = 0.000 (p < 0.05). Kelompok intervensi mengalami penurunan intensitas nyeri yang lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan: Pijat endorfin efektif dalam menurunkan nyeri dismenore pada mahasiswa. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu terapi non-farmakologis yang aman dan mudah diterapkan untuk membantu mengurangi nyeri haid serta menekan penggunaan obat analgesik.   Kata Kunci: Mahasiswa; Nyeri Dismenore; Pijat Endorfhin.
Hubungan tingkat kesepian dengan tingkat depresi pada lanjut usia di balai pelayanan sosial tresna werdha (BPSTW) Andari, Aaz Ayu; Sudyasih, Tiwi; Salmiyati , Suri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2760

Abstract

Background: Loneliness is a common psychological problem in older adults, especially when they are separated from family, experience the loss of a spouse, or face obstacles in daily life. This can negatively impact their psychosocial and psychological well-being, leading to depression. Purpose: To determine the relationship between loneliness and depression in older adults. Method: This descriptive correlational study used a cross-sectional approach. The study was conducted at the Budi Luhur Elderly Social Service Center in Yogyakarta from April 2025 to March 2026. A sample of 50 elderly people was selected using a total sampling technique. The research instruments used were the University of California Los Angeles (UCLA) questionnaire to measure loneliness and the Geriatric Depression Scale (GDS) to measure depression. Data analysis used Spearman Rank Test with a p-value <0.05. Results: A significant correlation was observed between the majority of respondents (50%) and mild levels of loneliness, while nearly half (40%) experienced mild depression. The Spearman Rank Test yielded a p-value of 0.046 (p<0.05), indicating a significant relationship between loneliness and depression in older adults. Conclusion: There is a relationship between loneliness and depression levels in older adults living in elderly social service center, with a p-value of 0.046 (p<0.05). Suggestion: Future research could use a longitudinal observational design to elucidate the causal relationship between loneliness, depression, and other factors affecting older adults. It would also be important to include more than one nursing home or compare older adults living in nursing homes with those living at home.   Keywords: Depression; Elderly; Loneliness.   Pendahuluan: Kesepian sering menjadi masalah psikologis umum pada lansia, terutama ketika lansia terpisah dari keluarga, kehilangan pasangan, dan adanya hambatan dalam menjalani kehidupan. Hal ini dapat berdampak buruk dan dapat memengaruhi kesejahteraan psikososial dan psikologis lansia, sehingga menyebabkan depresi.   Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kesepian dengan tingkat depresi pada lansia. Metode: Penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan waktu cross-sectional. Penelitian dilakukan di Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha (BPSTW) Budi Luhur Yogyakarta pada bulan April 2025-Maret 2026. Jumlah sampel sebanyak 50 lansia, dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner University of California Los Angeles (UCLA) untuk tingkat kesepian dan Geriatrik Depression Scale (GDS) untuk tingkat depresi. Analisis data menggunakan Spearman Rank dengan p-value <0.05. Hasil: Terdapat hubungan sebagian besar responden (50%) memilki kesepian kategori tinggi dan hampir separuh responden (40%) memilki tingkat depresi kategori ringan. Hasil uji Spearman Rank didapatkan p-value 0.046 (p<0.05) bahwa terdapat hubungan kesepian dengan tingkat depresi pada lansia. Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat kesepian dengan tingkat depresi pada lansia yang tinggal di panti dengan p-value=0.046 (p<0.05). Saran: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan desain longitudinal dengan observasi, sehingga dapat menjelaskan hubungan berdasarkan sebab-akibat antara kesepian, depresi, dan faktor lain yang berpengaruh pada lansia dan perlunya melibatkan lebih dari satu panti atau membandingkan antara lansia yang tinggal di panti dengan lansia yang tinggal dirumah.   Kata Kunci: Lansia; Tingkat Depresi; Tingkat Kesepian.
Efektivitas kombinasi terapi musik dan aromaterapi terhadap penurunan tingkat kecemasan anak thalasemia selama transfusi darah Mercy Nafratilova; Andra Saferi Wijaya; Kheli Fitria Annuril
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.1978

Abstract

Background: Thalassemia is a chronic genetic disease that requires repeated blood transfusions throughout life. Transfusion procedures often cause anxiety in children due to the pain, invasiveness, and length of the transfusion. Untreated anxiety can affect a child's psychological well-being and reduce their quality of life. Non-pharmacological interventions such as music therapy and aromatherapy have been shown to have a relaxing effect. Purpose: To determine the effect of non-pharmacological interventions such as music therapy and aromatherapy on anxiety levels in children with thalassemia during blood transfusions. Method: This study used a quasi-experimental design with a pre-posttest approach. The study was conducted in the thalassemia ward of Dr. M. Yunus Regional General Hospital, Bengkulu, from June to July 2025. The sample consisted of 30 thalassemia children undergoing routine blood transfusions. Anxiety levels were measured using the STAIC questionnaire before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results: The mean anxiety score before the intervention was 29.33 (SD = 2.83) and after the intervention was 28.00 (SD = 3.61). The Wilcoxon test yielded a Z-value of -2.817 with a p-value of 0.005, indicating a significant difference in children's anxiety levels before and after the intervention. Conclusion: Music therapy and aromatherapy effectively reduced anxiety in children with thalassemia during blood transfusions, although most remained in the moderate anxiety category. This intervention can be recommended as a complementary therapy to improve children's comfort during medical procedures.   Keywords: Aromatherapy; Anxiety; Blood Transfusion; Children; Combination; Music Therapy; Thalassemia.   Pendahuluan: Thalasemia merupakan penyakit genetik kronis yang membutuhkan transfusi darah berulang sepanjang hidup. Prosedur transfusi sering menimbulkan kecemasan pada anak akibat rasa nyeri, proses medis yang invasif, serta lamanya waktu transfusi. Kecemasan yang tidak diintervensi dapat berdampak pada kondisi psikologis anak dan menurunkan kualitas hidup. Intervensi non-farmakologis seperti terapi musik dan aromaterapi terbukti mampu memberikan efek relaksasi. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh intervensi non-farmakologis terapi musik dan aromaterapi terhadap tingkat kecemasan anak dengan thalasemia saat menjalani transfusi darah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pre–post test. Penelitian dilaksanakan di ruang thalassemia RSUD dr. M.Yunus Bengkulu pada bulan Juni-Juli 2025. Sampel berjumlah 30 anak thalasemia yang menjalani transfusi darah rutin. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner STAIC sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Rerata kecemasan sebelum intervensi sebesar 29.33 (SD = 2.83) dan setelah intervensi sebesar 28.00 (SD = 3.61). Uji Wilcoxon menghasilkan nilai Z = -2.817 dengan nilai p = 0.005, menunjukkan terdapat perbedaan signifikan tingkat kecemasan anak sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Terapi musik dan aromaterapi efektif menurunkan kecemasan anak dengan thalasemia saat transfusi darah, meskipun sebagian besar masih berada pada kategori kecemasan sedang. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai terapi komplementer untuk meningkatkan kenyamanan anak selama prosedur medis. Kata Kunci: Anak; Aromaterapi; Kecemasan; Kombinasi; Terapi Musik; Thalasemia; Transfusi Darah.
Tren anak berkebutuhan khusus: implikasi bagi sistem kesehatan inklusif dan penguatan deteksi dini berbasis data pendidikan Grace Esther Caroline Korompis; Meysilia Firjinia Polii; Rocky Wilar; Rima Fien Lolong; Adisti Aldegonda Rumayar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2006

Abstract

Background: Children with special needs are a group of children with diverse developmental needs who require ongoing, integrated support across health, education, and social aspects. A humanistic and non-stigmatizing approach views not simply as limitations, but as individuals with potential that can be optimized through an inclusive and responsive service system from an early age. Purpose: To analyze the implementation of an inclusive health and early detection system based on education data. Method: A descriptive design with a time series analysis approach was used. The data were sourced from secondary data obtained through the ministry of education's basic education data and the administrative archives of several special needs schools in Manado City, North Sulawesi. The unit of analysis in this study was the number of children with special needs formally registered in the city's special education system. Trend analysis was conducted to describe the pattern of changes in the number of children with special needs over time. Results: The analysis results show an increasing trend in the number of children with special needs in North Sulawesi throughout the observation period, as represented by the linear trend equation y = 21.686x – 42.2, although there was a slight decline in the last year of observation. This upward trend may reflect improvements in the identification and reporting system, increased public awareness of children's developmental needs, and expanded access to more inclusive education and health services. Conclusion: The increasing number of children with special needs in Manado City requires a response through strengthening an inclusive health system integrated with the education sector, particularly in community-based screening and early detection. Utilizing education data as part of a child health surveillance system has the potential to support the planning of more targeted, sustainable, and equitable promotive and preventive interventions, ensuring the fulfillment of every child's right to optimal growth and development. Suggestion: Future research is expected to further integrate cross-sectoral data, particularly in education, health, and social sectors, to obtain a more comprehensive picture of children with special needs. Furthermore, it is necessary to include classifications of special needs types and sociodemographic characteristics of children for more in-depth analysis.   Keywords: Early Detection Based on Education Data; Inclusive Health System; Trends In Children With Special Needs.   Pendahuluan: Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan kelompok anak dengan keragaman kebutuhan perkembangan yang memerlukan dukungan berkelanjutan pada aspek kesehatan, pendidikan, dan sosial secara terpadu. Pendekatan yang humanis dan non-stigmatis memandang ABK bukan sebagai keterbatasan semata, melainkan sebagai individu dengan potensi yang dapat dioptimalkan melalui sistem layanan yang inklusif dan responsif sejak dini. Tujuan: Untuk menganalisis implikasi bagi sistem kesehatan inklusif dan penguatan deteksi dini berbasis data pendidikan. Metode: Desain deskriptif dengan pendekatan time series. Data bersumber dari data sekunder yang diperoleh melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kementerian Pendidikan serta arsip administrasi beberapa Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Manado, Sulawesi Utara. Unit analisis dalam penelitian ini adalah jumlah ABK yang tercatat secara formal dalam sistem pendidikan khusus di kota ini. Analisis tren dilakukan untuk menggambarkan pola perubahan jumlah ABK dari waktu ke waktu. Hasil: Adanya kecenderungan peningkatan jumlah ABK di Sulawesi Utara sepanjang periode pengamatan, yang direpresentasikan oleh persamaan tren linier y = 21.686x – 42.2, meskipun terdapat penurunan ringan pada tahun terakhir pengamatan. Tren peningkatan ini dapat mencerminkan perbaikan sistem identifikasi dan pelaporan, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan perkembangan anak, serta perluasan akses layanan pendidikan dan kesehatan yang lebih inklusif. Simpulan: Terdapat peningkatan jumlah ABK di Kota Manado perlu direspons melalui penguatan sistem kesehatan inklusif yang terintegrasi dengan sektor pendidikan, khususnya dalam aspek skrining dan deteksi dini berbasis komunitas. Pemanfaatan data pendidikan sebagai bagian dari sistem surveilans kesehatan anak berpotensi mendukung perencanaan intervensi promotif dan preventif yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berkeadilan, guna menjamin pemenuhan hak tumbuh kembang optimal bagi setiap anak. Saran: Penelitian selanjutnya diharapkan lebih mengintegrasikan data lintas sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, dan sosial, untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai ABK. Selain itu, perlu memasukkan klasifikasi jenis kebutuhan khusus serta karakteristik sosiodemografis anak untuk analisis lebih mendalam.   Kata Kunci: Deteksi Dini Berbasis Data Pendidikan; Sistem Kesehatan Inklusif; Tren Anak Berkebutuhan Khusus.
Gambaran pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa Try Yogi Damar Pamungkas; Rose Indriyati; Siti Maria Ulfah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2013

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a permanent and progressive decline in kidney function, causing the kidneys to lose their ability to regulate fluid balance, electrolytes, and body metabolism. In the final stages, CKD patients require renal replacement therapy such as hemodialysis to maintain quality of life and prevent complications. Hemodialysis works through the processes of diffusion, osmosis, and ultrafiltration to cleanse the blood of metabolic waste. Purpose: To get an overview of chronic kidney failure patients undergoing hemodialysis. Method: This retrospective descriptive study involved 65 respondents selected using total sampling technique from secondary medical record data at Arjawinangun Regional Hospital, Cirebon Regency in 2024, with research instruments including demographic variables, clinical conditions (body weight, comorbidities, duration of hemodialysis), and laboratory parameters in the form of urea levels, creatinine, and eGFR values. Results: The majority of female patients who are at risk of kidney disease diagnosed with chronic failure, patients who will undergo hemodialysis treatment are late adult women with low education, most of whom have hypertension as a comorbidity, the highest serum urea levels in the category (100 - 200 mg / dL) and the highest serum creatinine levels in the category (5.00 - 10.00) and the average eLFG shows a decrease in kidney function in the category (< 6 mL / min). Conclusion: Most chronic kidney failure patients are in the end-stage condition (stage 5) with a very significant decline in kidney function eGFR < 6 mL/min, whose profile is dominated by the productive age group and elderly women with low educational background and a history of hypertension as the main comorbidity. Suggestion: Further researchers should examine the relationship between urea, creatinine, and eGFR levels with patient demographic and clinical factors and conduct long-term studies of hemodialysis therapy based on patient characteristics, weight gain, and quality of life.   Keywords: Chronic Kidney Failure; Creatinine; Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR); Hemodialysis; Urea Levels.   Pendahuluan: Penurunan fungsi ginjal yang mengakibatkan progesif disebut dengan Gagal Ginjal Kronis (GGK), dan akan terjadi permanen, maka dalam penggunaan ginjal kehilangan kemampuan mengatur keseimbangan, antara lain merupakan cairan, juga elektrolit, serta metabolisme yang ada dalam tubuh. Akan ada terapi pergantian ginjal di masa tahap terakhir yang disebut sebagai hemodialisa. Itu merupakan cara   mempertahankan kualitas di hidup juga mencegah komplikasi. Hemodialisa bekerja dengan proses pemindahan partikel suatu zat yaitu difusi serta osmosis, dan ultrafiltrasi yang berperan untuk membersihkan darah dari sisa metabolisme. Tujuan: Untuk mendapatkan gambaran pasien gagal ginjal kronis dalam menjalani hemodialisa. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif ini melibatkan 65 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling dari data sekunder rekam medis di RSUD Arjawinangun, Kabupaten Cirebon tahun 2024, dengan instrumen penelitian mencakup variabel demografi, kondisi klinis (berat badan, komorbid, lama hemodialisa), serta parameter laboratorium berupa kadar ureum, kreatinin, dan nilai eLFG. Hasil: Mayoritas penderita berjenis kelamin perempuan yang menjadi pasien beresiko ginjal yang didiagnosis gagal kronik, penderita akan menempuh pengobatan hemodialisa yakni perempuan usia dewasa akhir dengan pendidikan rendah, sebagian besar memiliki hipertensi sebagai komorbid, kadar ureum serum terbanyak pada kategori (100 – 200 mg/dL) dan kadar kreatinin serum terbanyak pada kategori (5.00 – 10.00) serta rata-rata eLFG menunjukkan penurunan fungsi ginjal pada kategori (< 6 mL/min). Simpulan: Sebagian besar pasien gagal ginjal kronis berada pada kondisi stadium akhir (stadium 5) dengan penurunan fungsi ginjal yang sangat signifikan eLFG < 6 mL/min, yang profilnya didominasi oleh kelompok usia produktif dan lansia perempuan dengan latar belakang pendidikan rendah serta memiliki riwayat hipertensi sebagai penyakit penyerta utama. Saran: Peneliti selanjutnya agar meneliti mengenai hubungan antara kadar ureum, kreatinin, dan eLFG dengan faktor demografis dan klinis pasien serta melakukan penelitian jangka panjang terapi hemodialisa berdasarkan karakteristik pasien, peningkatan berat badan dan kualitas hidup.   Kata Kunci: Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus (eLFG); Gagal Ginjal Kronis; Hemodialisa; Kadar Ureum; Kreatinin.