cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 487 Documents
Pengaruh light massage dan alternate nostril breathing exercise (ANBE) terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi Husni Husni; Melsa Putri; Andra Saferi Wijaya; Hendri Heriyanto; Nehru Nugroho
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2062

Abstract

Background: Hypertension is a leading cause of degenerative diseases and death worldwide. Hypertension control efforts rely not only on pharmacological therapy but also on non-pharmacological interventions such as relaxation. Light massage and alternate nostril breathing exercises (ANBE) are complementary therapies known to help lower blood pressure. Purpose: To determine the effect of the combination of light massage and ANBE on changes in blood pressure in patients with hypertension. Method: This study used a quasi-experimental design with a pretest–posttest approach with a control group. The study was conducted from August to November 2025 in the Telaga Dewa Community Health Center area, Bengkulu City. A total of 42 participants were divided into two groups: an intervention group receiving light massage and ANBE, and a control group receiving slow deep breathing, each consisting of 21 participants. The interventions were administered twice daily for five days. The data were then analyzed using statistical tests according to the data distribution. Results: There was a significant difference between blood pressure before and after treatment in both groups (p = 0.001). The combination of light massage and ANBE was shown to significantly reduce systolic and diastolic blood pressure with a p-value of 0.012 (p ≤ 0.05). Conclusion: The combination of light massage and ANBE is effective in lowering blood pressure in patients with hypertension.   Keywords: Alternate Nostril Breathing Exercise (ANBE); Blood Pressure; Hypertension; Light Massage.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama penyakit degeneratif dan kematian di seluruh dunia. Upaya pengendalian hipertensi tidak hanya mengandalkan terapi farmakologis, tetapi juga intervensi nonfarmakologis yang bersifat relaksasi. Light massage dan alternate nostril breathing exercise (ANBE) merupakan terapi komplementer yang diketahui dapat membantu menurunkan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh kombinasi light massage dan ANBE terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-November 2025, di wilayah kerja Puskesmas Telaga Dewa, Kota Bengkulu Sebanyak 42 partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi yang diberikan light massage dan ANBE, serta kelompok kontrol yang diberikan slow deep breathing, masing-masing terdiri dari 21 partisipan. Intervensi diberikan dua kali sehari selama lima hari. Selanjtunya data dianalisis menggunakan uji statistik sesuai dengan distribusi data. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan darah sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok (p = 0.001). Kombinasi light massage dan ANBE terbukti berpengaruh signifikan terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan nilai p = 0.012 (p ≤ 0.05). Simpulan: Kombinasi light massage dan ANBE efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.   Kata Kunci: Alternate Nostril Breathing Exercise (ANBE); Hipertensi; Light Massage; Tekanan Darah.
Pengembangan model peran keluarga berbasis family centered nursing terhadap manajemen hipertensi pada lansia Nadiya Sahara Annisa; Joni Haryanto; Kristiawati Kristiawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2084

Abstract

Background: Hypertension management in the elderly is crucial to prevent complications. The role of the family in healthcare is crucial for the successful management of hypertension in the elderly. Purpose: To develop a family role model based on family-centered nursing for the management of hypertension in the elderly. Method: This exploratory study used a cross-sectional approach. This phase identified cultural and social structural factors, family factors, individual factors, and the family's role in the management of hypertension in the elderly. The study was conducted in Kudus Regency, Central Java Province, from December 2023 to March 2024. The study population was primary caregivers of elderly people who were active smokers and diagnosed with hypertension. The sampling technique used was multistage cluster sampling, with a sample size of 125 respondents. Data were collected using a structured questionnaire that had undergone validity and reliability testing. The data were then analyzed descriptively and using SEM-PLS. Results: The role of the family significantly influenced the management of hypertension in the elderly (T-statistic = 8.786). Conclusion: The more optimal the family's role as educator, motivator, and facilitator, the better the management of hypertension in the elderly.   Keywords: Elderly; Family-Centered Nursing; Family Role; Hypertension Management; Model Development.   Pendahuluan: Manajemen hipertensi pada lansia merupakan hal yang penting dalam pencegahan komplikasi hipertensi. Salah satu penentu keberhasilan manajemen hipertensi pada lansia yang ditentukan oleh peran keluarga dalam perawatan kesehatan. Tujuan: Untuk mengembangkan model peran keluarga berbasis keperawatan family centered terhadap manajemen hipertensi pada lansia. Metode: Penelitian eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional. Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap faktor cultural and social structure, faktor keluarga, faktor individu, dan peran keluarga terhadap manajemen hipertensi pada lansia. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, pada bulan Desember 2023 hingga Maret 2024. Populasi penelitian adalah caregiver primer dari lansia yang merupakan perokok aktif dan terdiagnosis hipertensi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 125 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan menggunakan SEM-PLS. Hasil: Peran keluarga berpengaruh signifikan terhadap manajemen hipertensi pada lansia (nilai T-statistik = 8.786). Simpulan: Semakin optimalnya peran keluarga sebagai edukator, motivator, dan fasilitator, maka semakin baik pengelolaan hipertensi pada lansia.   Kata Kunci: Family Centered Nursing; Lansia; Manajemen Hipertensi; Pengembangan Model; Peran Keluarga.
Deteksi dini risiko diabetes melitus tipe 2 pada personel Batalyon Infanteri 6/Marinir berdasarkan finnish diabetes risk score (FINDRISC) sebagai bagian dari kesehatan pertahanan Muhammad Rafif Ridwan; Handrian Rahman Purawijaya; Mirna Albertina Wijaja
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2099

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) poses a significant challenge in the military environments as it can impair physical performance, reduce operational endurance, and increase the risk of long-term complications. Early detection of T2DM risk factors is essential to ensure optimal soldier health and support the sustainability of the defense health system. Purpose: To determine the T2DM risk profile and analyze the relationship between individual characteristics, based on the Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC),among personnel of the 6th Infantry Battalion/Marine. Method: This quantitative research utilized a descriptive-analytical approach with a cross-sectional design involving 40 active-duty respondents. Data were collected through the FINDRISC questionnaire and anthropometric measurements, then analyzed using Fisher's Exact Test. Results: The majority of respondents had a low risk of T2DM (75%), while 25% were at moderate risk, and no respondents were found at high risk. The variables of body mass index (p-value = 0.049), waist circumference (p-value = 0.002), and family history of T2DM (p-value = 0.001) had a significant relationship with the level of T2DM risk. Conversely, factors such as age, physical activity, fruit or vegetable consumption, history of antihypertensive medication use, and history of hyperglycemia did not show a significant relationship (p>0.05). Conclusion: Obesity and genetic predisposition play a significant role in increasing the risk of T2DM in military operational environments, so screening-based prevention and education are essential to maintain the physical readiness and performance of soldiers.   Keywords: Defense Health; Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC); Military Personnel; Type 2 Diabetes Millitus Risk.   Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) menjadi tantangan signifikan dalam lingkungan militer karena dapat mengganggu performa fisik, menurunkan ketahanan operasional, serta meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang. Upaya deteksi dini faktor risiko DMT2 sangat diperlukan untuk memastikan kesehatan prajurit yang optimal dan mendukung keberlangsungan sistem kesehatan pertahanan. Tujuan: Untuk mengetahui profil risiko DMT2 dan menganalisis hubungan karakteristik individu berdasarkan Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC) pada personel Batalyon Infanteri 6/Marinir. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional terhadap 40 responden aktif. Data dikumpulkan melalui kuesioner FINDRISC dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Fisher’s Exact Test. Hasil: Mayoritas responden memiliki risiko rendah terhadap DMT2 (75%), sedangkan 25% berada pada risiko sedang dan tidak ditemukan responden dengan resiko tinggi. Variabel indeks massa tubuh (p-value=0.049), lingkar perut (p-value=0.002), dan riwayat DMT2 pada keluarga (p-value=0.001) memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat risiko DMT2. Sebaliknya, faktor usia, aktivitas fisik, konsumsi buah atau sayur, riwayat penggunaan obat antihipertensi, serta riwayat hiperglikemia tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0.05). Simpulan: Obesitas dan predisposisi genetik berperan penting dalam peningkatan risiko DMT2 di lingkungan operasional militer, sehingga diperlukan pencegahan berbasis skrining dan edukasi sangat diperlukan untuk menjaga kesiapan fisik dan kinerja prajurit.   Kata Kunci: Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC); Kesehatan Pertahanan; Personel Militer; Risiko Diabetes Melitus Tipe 2.
Intervensi digital dalam pengelolaan beban gejala dan peningkatan self-management pasien kemoterapi Rahmatia Amelia Kaaba; Agung Waluyo; Dewi Gayatri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2116

Abstract

Background: Patients undergoing chemotherapy often experience persistent physical and psychological symptoms that are difficult to manage independently. Limitations in conventional monitoring have prompted the use of technology-based interventions as a supportive strategy for symptom management. Purpose: To determine the effectiveness of technology-based interventions in reducing symptom burden and improving self-management in chemotherapy patients. Method: A systematic review was conducted using the PRISMA framework. Articles published between 2013-2024 were searched across ProQuest, Scopus, PubMed, Clinical Key for Nursing, and Sage Journals. Inclusion criteria comprised quasi-experimental studies evaluating digital health technologies in chemotherapy patients, with quality assessment performed using the Critical Appraisal Skills Programme (CASP). Results: Ten studies met the inclusion criteria, which included the use of mobile apps, electronic patient-reported outcomes (ePRO) systems, telephone, SMS, and web-based platforms. Overall, digital interventions have the potential to reduce symptom burden and increase patient self-efficacy and active participation. The highest effectiveness was found in interventions that combined daily monitoring with follow-up by healthcare professionals, while adherence rates were found to be very low due to less interactive designs. Conclusion: Technology-based interventions can support symptom management and self-management in chemotherapy patients, provided they are integrated with responsive clinical support. Suggestion: Future development of digital interventions should prioritize the integration of clinical responses, adaptive user-centered design, and long-term evaluation to ensure sustained benefits for patients’ quality of life.   Keywords: Cancer; Chemotherapy; Self-Management; Symptom Burden; Technology-Based Interventions.   Pendahuluan: Pasien yang menjalani kemoterapi sering mengalami berbagai gejala fisik dan psikologis yang berkelanjutan serta sulit dikelola secara mandiri. Keterbatasan pemantauan konvensional mendorong penggunaan intervensi berbasis teknologi sebagai strategi pendukung dalam pengelolaan gejala. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas intervensi berbasis teknologi dalam menurunkan beban gejala dan meningkatkan self-management pada pasien kemoterapi. Metode: Penelitian systematic review ini dilakukan menggunakan kerangka kerja PRISMA. Pencarian artikel publikasi tahun 2014-2024 dillakukan pada database ProQuest, Scopus, PubMed, Clinical Key for Nursing, dan Sage Journals. Kriteria inklusi meliputi studi studi kuasi-eksperimental yang mengevaluasi teknologi kesehatan digital pada pasien kemoterapi, dengan penilaian kualitas menggunakan Critical Appraisal Skills Programme (CASP). Hasil: Sebanyak 10 studi memenuhi kriteria inklusi yang mencakup penggunaan aplikasi mobile, sistem electronic patient-reported outcomes (ePRO), telepon, SMS, dan platform web-based. Secara umum, intervensi digital berpotensi menurunkan beban gejala dan meningkatkan self-efficacy serta partisipasi aktif pasien. Efektivitas tertinggi ditemukan pada intervensi yang menggabungkan pemantauan harian dengan tindak lanjut dari tenaga kesehatan, sementara tingkat kepatuhan ditemukan sangat rendah karena desain yang kurang interaktif. Simpulan: Intervensi berbasis teknologi dapat mendukung pengelolaan gejala dan self-management pasien kemoterapi, terutama jika terintegrasi dengan dukungan klinis yang responsif. Saran: Pengembangan intervensi digital di masa depan perlu memprioritaskan integrasi respons klinis, desain adaptif berbasis kebutuhan pengguna, dan evaluasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan manfaat bagi kualitas hidup pasien.   Kata Kunci: Beban Gejala; Intervensi Berbasis Teknologi; Kanker; Kemoterapi; Self-Management.
Pengaruh pemberdayaan keluarga terhadap self-care manajamen pada pasien hipertensi: Sebuah studi literatur Yuri Hartika Sari; Reni Zulfitri; Agrina Agrina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2119

Abstract

Background: Hypertension is one of the noncommunicable diseases with a high prevalence in Indonesia and is a leading cause of morbidity and mortality. Patients’ poor self-care management skills and limited family support make it difficult to control blood pressure, particularly among the Malay community, which has a high-sodium diet and low physical activity levels. Family empowerment is a nursing strategy that positions the family as an active partner in the management of hypertension through education, guidance, and shared decision-making. Purpose: To identify and analyze the impact of family empowerment on self-care management in patients with hypertension based on the results of previous empirical studies. Method: A literature review was conducted by examining relevant scientific articles on family empowerment and self-care management in hypertensive patients. The literature search was performed using electronic databases such as Google Scholar, Wiley, PubMed, and ScienceDirect with the keywords “family empowerment,” “self-care management,” and “hypertension.” Inclusion criteria included articles published within the last 5–10 years, written in Indonesian or English, and available in full text. The selected articles were then systematically analyzed to identify the relationship between family empowerment and self-care management. Results: The findings indicate that family empowerment has a positive influence on improving self-care management in patients with hypertension. Family empowerment can enhance patients’ motivation, self-efficacy, and adherence to medication, healthy eating habits, physical activity, and blood pressure monitoring. Additionally, family support plays a role in creating an environment conducive to health behavior change. Conclusion: Family empowerment is an effective strategy for improving self-care management in patients with hypertension. Therefore, healthcare providers are encouraged to involve families in every nursing intervention to enhance the success of hypertension management.   Keywords: Family Empowerment; Hypertension; Self-Care Management.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas. Rendahnya kemampuan self-care management pasien dan minimnya dukungan keluarga menyebabkan tekanan darah sulit terkontrol, terutama pada komunitas Melayu yang memiliki gaya hidup tinggi garam dan aktivitas fisik rendah. Family Empowerment merupakan strategi keperawatan yang menempatkan keluarga sebagai mitra aktif dalam pengelolaan hipertensi melalui edukasi, pendampingan, dan pengambilan keputusan bersama. Tujuan: Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh pemberdayaan keluarga terhadap self-care management pada pasien hipertensi berdasarkan hasil penelitian empiris sebelumnya. Metode: Penelitian studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang relevan terkait pemberdayaan keluarga dan self-care management pada pasien hipertensi. Pencarian literatur dilakukan melalui database elektronik, seperti Google Scholar, Wiley, PubMed, dan ScienceDirect dengan menggunakan kata kunci “family empowerment”, “self-care management”, dan “hypertension”. Kriteria inklusi meliputi artikel yang dipublikasikan dalam 5–10 tahun terakhir, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta tersedia dalam teks lengkap. Artikel yang terpilih kemudian dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi hubungan antara pemberdayaan keluarga dan self-care management. Hasil: Pemberdayaan keluarga memiliki pengaruh positif terhadap peningkatan self-care management pada pasien hipertensi. Pemberdayaan keluarga dapat meningkatkan motivasi, efikasi diri, dan kepatuhan pasien dalam menjalankan pengobatan, pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pemantauan tekanan darah. Selain itu, dukungan keluarga juga berperan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perubahan perilaku kesehatan. Simpulan: Pemberdayaan keluarga merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan self-care management pada pasien hipertensi. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat melibatkan keluarga dalam setiap intervensi keperawatan guna meningkatkan keberhasilan pengelolaan hipertensi.   Kata Kunci: Hipertensi; Pemberdayaan Keluarga; Self-Care Management.
Efektivitas pendidikan kesehatan reproduksi terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan HIV/AIDS pada remaja Sriwahyuni Sriwahyuni; Fitri H Sudiamin; Astuti Astuti; Jumrana Jumrana; Ismawati Ismawati; Firman Sugiharto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2121

Abstract

Background: Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) remains a significant public health issue, particularly among adolescents who are vulnerable to risky behaviors due to limited knowledge and preventive attitudes. Reproductive health education is a promotive and preventive strategy with the potential to raise awareness and foster positive attitudes among adolescents toward HIV/AIDS prevention, particularly at the primary health care level, such as community health centers. Purpose: To analyze the effectiveness of reproductive health education in improving knowledge and attitudes regarding HIV/AIDS prevention among adolescents. Method: A quantitative study with a quasi-experimental approach, using a pretest-posttest design with a control group, was conducted in October 2025 at the Bontokassi Community Health Center in South Galesong. The sampling technique used purposive sampling, with a sample size of 80 participants divided into an intervention group and a control group. The independent variable in this study was reproductive health education, while the dependent variables were knowledge and attitudes. Data analysis employed univariate methods in the form of frequency distributions and bivariate analysis using the Paired T-Test. Results: Statistical analysis revealed a p-value of 0.000 (p< 0.05), indicating a significant difference between the pre- and post-intervention periods; thus, reproductive health education was found to be effective in improving participants’ knowledge and attitudes. Conclusion: Reproductive health education is effective in improving adolescents knowledge and attitudes toward HIV/AIDS prevention. This community health center-based intervention has the potential to serve as a promotive-preventive model that can be sustainably integrated into adolescent health programs in primary care settings.   Keywords: Adolescents; Attitudes; HIV/AIDS; Knowledge; Reproduction.   Pendahuluan: Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada kelompok remaja yang rentan terhadap perilaku berisiko akibat rendahnya pengetahuan dan sikap pencegahan. Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu strategi promotif dan preventif yang berpotensi meningkatkan kesadaran serta membentuk sikap positif remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS, khususnya di tingkat layanan kesehatan primer seperti puskesmas. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas pendidikan kesehatan reproduksi terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan HIV/AIDS pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi-eksperimental, menggunakan desain pretest-posttest with control group dilaksanakan bulan Oktober 2025 di Puskesmas Bontokassi Galesong Selatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 80 partisipan yang terbagi kedalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Variabel independent dalam penelitian ini adalah pendidikan Kesehatan reproduksi, sedangkan variabel dependen adalah pengetahuan dan sikap. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan Paired T-Test. Hasil: Uji statistik menunjukkan p-value sebesar 0.000 (p<0.05), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi, sehingga pendidikan kesehatan reproduksi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap partisipan. Simpulan: Pendidikan kesehatan reproduksi efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja terhadap pencegahan HIV/AIDS. Intervensi berbasis Puskesmas ini berpotensi menjadi model promotif-preventif yang dapat diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program kesehatan remaja di layanan primer.   Kata Kunci: HIV/AIDS; Pengetahuan; Remaja; Reproduksi; Sikap.
The effectiveness of benson's relaxation technique to reduce pain intensity: A systematic review Husnul Mubarok; Ahmad Ikhlasul Amal; Dyah Wiji Puspita Sari; Dwi Retno Sulistyaningsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2123

Abstract

Background: Pain is a major clinical issue in both acute and chronic patients, affecting quality of life and causing psychological distress. Pharmacological therapy, particularly opioids, remains widely used but has limitations in the form of side effects and the risk of dependence. This has spurred the development of nonpharmacological interventions, one of which is Benson’s Relaxation Technique (BRT), which triggers a relaxation response and has the potential to reduce pain perception. Purpose: To evaluate the effectiveness of BRT in reducing pain intensity across various clinical populations. Method: A literature search was conducted using three databases—PubMed, ScienceDirect, and Web of Science—for articles published between 2015 and 2025. Included studies comprised randomized controlled trials and quasi-experimental designs assessing the effectiveness of BRT. Risk of bias was analyzed using the Joanna Briggs Institute critical appraisal tools. Results: Of the 705 articles identified, nine studies met the inclusion criteria, involving a total of 644 participants from India and Iran. Most studies demonstrated a significant reduction in pain intensity following BRT intervention, either as a standalone treatment or in combination with other therapies such as aromatherapy and psychoeducational interventions. Implementation protocols varied between 10–40 minutes per session with a frequency of 1–3 times per day, yet the results remained consistent. A risk of bias assessment indicated acceptable methodological quality. Conclusion: BRT has been proven to be an effective, safe, adaptable, and easy-to-practice complementary method for reducing pain. With its flexible and non-invasive nature, this technique has the potential to reduce reliance on pharmacological therapies. Large-scale, cross-cultural clinical trials are needed to confirm its long-term effectiveness.   Keywords: Benson's Relaxation Technique; Non-Pharmacological Therapy; Pain Intensity; Relaxation.   Pendahuluan: Nyeri merupakan masalah klinis utama pada pasien akut maupun kronis yang berdampak pada kualitas hidup dan beban psikologis. Terapi farmakologis, khususnya opioid, masih banyak digunakan tetapi memiliki keterbatasan berupa efek samping dan risiko ketergantungan. Hal ini mendorong berkembangnya intervensi nonfarmakologis, salah satunya Benson’s Relaxation Technique (BRT) yang memicu respon relaksasi dan berpotensi menurunkan persepsi nyeri. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas BRT dalam menurunkan intensitas nyeri pada berbagai populasi klinis. Metode: Pencarian literatur dilakukan melalui tiga database yaitu PubMed, ScienceDirect, dan Web of Science untuk publikasi artikel tahun 2015–2025. Studi yang disertakan meliputi uji acak terkontrol dan desain kuasi-eksperimental yang menilai efektifitas BRT. Risiko bias dianalisis dengan menggunakan Joanna Briggs Institute critical appraisal tools. Hasil: Dari 705 artikel yang teridentifikasi, sembilan studi memenuhi kriteria inklusi dengan total 644 responden dari Negara India dan Iran. Sebagian besar penelitian menunjukkan penurunan intensitas nyeri yang signifikan setelah intervensi BRT, baik secara mandiri maupun dikombinasikan dengan terapi lain seperti aromaterapi dan intervensi psikoedukatif. Protokol pelaksanaan bervariasi antara 10–40 menit per sesi dengan frekuensi 1–3 kali per hari, namun hasil tetap konsisten. Penilaian risiko bias menunjukkan kualitas metodologi yang dapat diterima. Simpulan: BRT terbukti sebagai metode komplementer yang efektif, aman, adaptif, serta mudah dipraktikkan untuk mengurangi nyeri. Dengan sifatnya yang fleksibel dan non-invasif, teknik ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada terapi farmakologis. Uji klinis berskala besar dan lintas budaya diperlukan untuk memastikan efektivitas jangka panjangnya.   Kata Kunci: Benson's Relaxation Technique; Pain Instensity; Relaksasi; Terapi Non-Farmakologis.
Aktivitas fisik dan konsumsi zat tanin dengan kejadian anemia pada remaja putri Tiya Fitriana; Devita Elsanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2125

Abstract

Background: Anemia is a global health problem affecting more than a third of the world's population, particularly adolescent girls who are vulnerable due to increased iron requirements during puberty. Consumption of tannins found in tea and coffee, along with unbalanced physical activity levels, is known to affect iron absorption and hemoglobin status. Purpose: To analyze the relationship between tannin consumption and physical activity levels with the incidence of anemia in adolescent girls. Method: This quantitative study used a cross-sectional design with a descriptive correlational approach. A sample of 162 female adolescents in grades 7 and 8 of Baturraden 1 Public Junior High School was selected through a purposive sampling technique. Data were collected using a tea/coffee consumption frequency questionnaire (SQ-FFQ), a physical activity questionnaire (PAQ-A), and hemoglobin level measurements using a hemoglobinometer. Data analysis was performed using the Spearman Rank test. Results: Most respondents engaged in light physical activity (45.7%), consumed tea (72.8%) and coffee (53.1%), and did not experience anemia (69.8%). There was a significant association between tannin consumption and the incidence of anemia (p = 0.015 for tea and p = 0.016 for coffee), as well as between physical activity and the incidence of anemia (p = 0.0001). Conclusion: Consumption of drinks containing tannin and levels of physical activity contribute to the incidence of anemia in adolescent girls. Suggestion: To expand the research variables, use a mixed methods or longitudinal design, and involve male respondents to obtain a more comprehensive picture of anemia risk factors.   Keywords: Adolescent Girls; Anemia; Hemoglobin; Physical activity; Tannin.   Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan global yang berdampak pada lebih dari sepertiga populasi dunia, terutama pada remaja putri yang rentan akibat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa pubertas. Konsumsi zat tanin yang terdapat dalam teh dan kopi serta tingkat aktivitas fisik yang tidak seimbang diketahui dapat memengaruhi penyerapan zat besi dan status hemoglobin. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara konsumsi zat tanin dan tingkat aktivitas fisik dengan kejadian anemia pada remaja putri. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif korelasional. Sampel sebanyak 162 remaja putri kelas 7 dan 8 SMP N 1 Baturraden, dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner frekuensi konsumsi teh/kopi (SQ-FFQ), kuesioner aktivitas fisik (PAQ-A), dan pengukuran kadar hemoglobin menggunakan hemoglobinometer. Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik ringan (45.7%), mengonsumsi teh (72.8%) dan kopi (53.1%), serta tidak mengalami anemia (69.8%). Terdapat hubungan signifikan antara konsumsi zat tanin dengan kejadian anemia (p = 0.015 untuk teh dan p = 0.016 untuk kopi), serta antara aktivitas fisik dengan kejadian anemia (p = 0.0001). Simpulan: Konsumsi minuman berkadar tanin dan tingkat aktivitas fisik memiliki kontribusi terhadap kejadian anemia pada remaja putri. Saran: Penelitian selanjutnya dapat memperluas variabel penelitian, menggunakan desain mixed methods atau longitudinal, serta melibatkan responden laki-laki guna mendapatkan gambaran faktor resiko anemia yang lebih komprehensif.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Anemia; Hemoglobin; Remaja Putri; Zat Tanin.
Hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping pada remaja yang menjalani hubungan pacaran Ade Sita Ranjani; Alfunnafi Fahrul Rizzal; Indari Indari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2173

Abstract

Background: Adolescence is a developmental stage vulnerable to stress, particularly in the context of dating relationships, which can lead to emotional distress. How adolescents cope with stress is greatly influenced by the coping strategies they use, both those focused on problem-solving and those focused on emotional management. Purpose: To determine the relationship between stress levels and coping mechanisms in adolescents in dating relationships. Method: This quantitative descriptive correlative study used a cross-sectional design with a non-experimental approach. The study was conducted at schools in Pasuruan Regency, namely at State Vocational High School 1 Gempol and Ma'arif Pandaan High School, from November 24-30, 2025. Data analysis was conducted through univariate and bivariate analysis, with the bivariate analysis using the Spearman's rank correlation test. Results: Most respondents experienced moderate stress and tended to use problem-solving-focused coping mechanisms. Statistical tests showed no significant relationship between stress levels and coping mechanisms (p = 0.660). Conclusion: Stress levels in adolescents in dating relationships were not significantly related to their coping strategies. These findings suggest that adolescents' coping patterns may be influenced by factors other than stress levels, such as social support and emotion regulation skills. Suggestion: Further research can examine the role of mental health education, interpersonal communication patterns, and emotional regulation skills as supporting factors in the formation of coping mechanisms, thereby providing a more in-depth picture of the dynamics of stress and coping mechanisms in adolescents in dating relationships.   Keywords: Adolescents; Coping Mechanisms; Dating; Stress Levels.   Pendahuluan: Masa remaja adalah tahapan perkembangan yang rentan terhadap stres, terutama dalam konteks hubungan pacaran yang dapat menimbulkan tekanan emosional. Cara yang dilakukan remaja untuk mengatasi stres sangat dipengaruhi oleh strategi koping yang digunakan, baik yang berfokus pada pemecahan masalah maupun pengelolaan emosi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping pada remaja yang menjalani hubungan pacaran. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif korelatif menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan bersifat non-eksperimental. Penelitian dilaksanakan di sekolah yang ada di Kabupaten Pasuruan, yaitu di SMKN 1 Gempol dan SMA Ma’arif Pandaan, pelaksanaan dimulai dari tanggal 24-30 November 2025. Analisis data dilakukan melalui analisis univariat dan bivariat, dengan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman’s rank. Hasil: Sebagian besar responden mengalami stres sedang dan cenderung menggunakan mekanisme problem-focused coping. Berdasarkan hasil uji statistik, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan mekanisme koping (p = 0.660). Simpulan: Tingkat stres pada remaja yang menjalani hubungan pacaran tidak berhubungan secara signifikan dengan strategi koping yang digunakan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola koping yang dimiliki remaja kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain di luar tingkat stres, seperti dukungan sosial dan kemampuan regulasi emosi. Saran: Penelitian lanjutan dapat mengkaji peran edukasi kesehatan mental, pola komunikasi interpersonal, dan kemampuan regulasi emosi sebagai faktor pendukung dalam pembentukan mekanisme koping, sehingga memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai dinamika stres dan mekanisme koping pada remaja yang menjalani hubungan pacaran.   Kata Kunci: Mekanisme Koping; Pacaran; Remaja; Tingkat Stres.
Efektivitas pemberian zinc pada anak dengan pneumonia: A systematic review Muhammad Fikri Nasrun; Edward Pandu Wiriansya; Bulkis Natsir; Muh Alfian Jafar; Nur Aisyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2187

Abstract

Background: Acute respiratory tract infections, particularly severe pneumonia are a leading cause of death in children under five, particularly in developing countries like Indonesia. Zinc is an essential micronutrient that plays a crucial role in maintaining immune function and aiding the healing process of infections. However, the effectiveness of zinc supplementation in severe pneumonia remains controversial due to varying research results. Purpose: To examine the effectiveness of zinc administration as an adjuvant therapy in severe pneumonia through a systematic review. Methods: Literature search in electronic databases such as PubMed, Scopus, Sinta, and Google Scholar from 2020-2025. Studies that met the inclusion criteria were analyzed to evaluate the impact of zinc supplementation on the duration of hospitalization, symptom recovery, and safety of its use in severe pneumonia. Result: That zinc supplementation effectively accelerated recovery by reducing the duration of fever, shortness of breath, and length of hospital stay, especially in children aged 2 to 60 months. Zinc also plays a role in enhancing the immune response and reducing airway inflammation. Zinc use is recommended in areas with a high prevalence of zinc deficiency and a high risk of severe pneumonia. Conclusion: Zinc supplementation is a promising adjunctive therapy in the management of severe childhood pneumonia. However, further research is needed to determine the optimal dose, duration of therapy, and effectiveness in a broader age group and clinical setting for appropriate integration into clinical practice.   Keywords: Acute Respiratory Tract Infections (ARI); Children; Pneumonia; Zinc.   Pendahuluan: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), khususnya pneumonia berat merupakan penyebab utama kematian pada anak di bawah lima tahun, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Zinc adalah mikronutrien esensial yang berperan penting dalam menjaga fungsi imun dan membantu proses penyembuhan infeksi. Namun, efektivitas suplementasi zinc pada pneumonia berat masih menjadi perdebatan akibat hasil penelitian yang bervariasi. Tujuan: Untuk menelaah efektivitas pemberian zinc sebagai terapi adjuvan pada pneumonia berat melalui pendekatan systematic review. Metode: Penelitian literatur melalui basis data elektronik seperti PubMed, Scopus, Sinta, dan Google Scholar dari tahun 2020-2025. Studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis untuk mengevaluasi dampak suplementasi zinc terhadap durasi rawat inap, pemulihan gejala, serta keamanan penggunaannya pada pneumonia berat. Hasil: Suplementasi zinc efektif mempercepat pemulihan dengan mengurangi durasi demam, sesak napas, dan lama perawatan di rumah sakit, terutama pada anak usia 2-60 bulan. Zinc juga berperan dalam meningkatkan respons imun dan menurunkan peradangan saluran pernapasan. Penggunaannya lebih disarankan pada daerah dengan prevalensi defisiensi zinc tinggi dan risiko pneumonia berat. Simpulan: Suplementasi zinc merupakan terapi tambahan yang menjanjikan dalam manajemen pneumonia berat anak. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan dosis optimal, durasi terapi, serta efektivitas pada populasi usia dan kondisi klinis yang lebih luas guna integrasi yang tepat dalam praktik klinis.   Kata Kunci: Anak; Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA); Pneumonia; Zinc.