cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 487 Documents
Faktor psikososial yang memengaruhi post-traumatic growth pada pasien kanker payudara: Sebuah tinjauan literatur sistematis Maria Elisabeth Peni Tukan; Tuti Nuraini; Giur Hargiana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2196

Abstract

Background: Breast cancer is often perceived as a traumatic event that demands adaptive capacity to survive and find new meaning after a difficult process. One adaptive mechanism is post-traumatic growth (PTG), which is positive psychological growth after experiencing trauma. The level of PTG in breast cancer patients varies and is influenced by multifactorial and complex psychosocial factors, including both internal and external factors. Purpose: To synthesize scientific evidence regarding psychosocial factors associated with post-traumatic growth in breast cancer patients. Method: This systematic literature review was conducted in accordance with PRISMA guidelines and the methodological framework of the Joanna Briggs Institute (JBI). A comprehensive literature search was conducted in five electronic databases: ScienceDirect, PubMed, SpringerLink, Google Scholar, and Sage Journals. English-language research articles published within the last 10 years were selected based on predetermined inclusion criteria. Data were systematically extracted and synthesized using a narrative approach. Results: Ten studies were selected from 1,081 articles identified initially, involving a total of 2,464 breast cancer patients. Post-traumatic growth in breast cancer patients is influenced by the interaction between internal psychological factors and external social factors. Psychological factors associated with PTG include resilience, optimism, self-efficacy, locus of control, perceived stress, and coping strategies, while perceived social support emerged as the most significant external factor. Conclusion: PTG in breast cancer patients is formed through a psychosocial adaptation process influenced by both psychological factors and social support. These findings emphasize the importance of evidence-based nursing and psychosocial interventions to support psychological growth and quality of life in patients.   Keywords: Breast Cancer; Post-Traumatic Growth; Psychosocial Factors; Resilience; Social Support.   Pendahuluan: Kanker payudara sering dipersepsikan sebagai peristiwa traumatis yang menuntut kapasitas adaptif untuk bertahan hidup dan menemukan makna baru setelah menjalani proses yang sulit. Salah satu mekanisme adaptif adalah post-traumatic growth (PTG), yaitu pertumbuhan psikologis positif setelah mengalami trauma. Tingkat PTG pada pasien kanker payudara bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor psikososial yang multifaktorial dan kompleks, mencakup faktor internal maupun eksternal. Tujuan: Untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai faktor-faktor psikososial yang berhubungan dengan post-traumatic growth pada pasien kanker payudara. Metode: Tinjauan literatur sistematis ini dilakukan sesuai dengan pedoman PRISMA dan kerangka metodologis dari Joanna Briggs Institute (JBI). Penelusuran literatur secara komprehensif dilakukan pada 5 basis data elektronik, yaitu ScienceDirect, PubMed, SpringerLink, Google Scholar, dan Sage Journals. Artikel penelitian berbahasa Inggris yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Data diekstraksi secara sistematis dan disintesis menggunakan pendekatan naratif. Hasil: Sebanyak 10 studi terpilih dari 1,081 artikel yang teridentifikasi pada tahap awal, dengan total 2,464 pasien kanker payudara. Post-traumatic growth pada pasien kanker payudara dipengaruhi oleh interaksi antara faktor psikologis internal dan faktor sosial eksternal. Faktor psikologis yang berhubungan dengan PTG meliputi resiliensi, optimisme, efikasi diri, locus of control, persepsi stres, dan strategi koping, sedangkan dukungan sosial yang dirasakan muncul sebagai faktor eksternal yang paling signifikan. Simpulan: PTG pada pasien kanker payudara terbentuk melalui proses adaptasi psikososial yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan dukungan sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi keperawatan dan psikososial berbasis bukti untuk mendukung pertumbuhan psikologis dan kualitas hidup pasien.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Faktor Psikososial; Kanker Payudara; Post-Traumatic Growth; Resiliensi.
Kompetensi manajerial kepala ruang dan kepuasan kerja perawat di rumah sakit: A scoping review Elpriede Kristiani Hutapea; Haryanto Haryanto; Suriadi Jais; Imran Imran
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2202

Abstract

Background: The managerial competencies of ward managers are key determinants in creating a supportive work environment, which ultimately impacts the quality of nursing care in hospitals. A comprehensive mapping of scientific evidence regarding the specific competency aspeks of ward managers that are most influential is essential to inform the development of focused and effective interventions. Purpose: To map the scientific evidence on ward managers competencies and their relationship with nurses’ job satisfaction, as well as to identify the specific competency aspeks most frequently reported in the literature. Method: A scoping review design following the PRISMA-ScR framework. A systematic literature search was conducted in PubMed, ScienceDirect, Scopus, and Google Scholar databases for publications from 2019 to 2025. Data were synthesized using descriptive and narrative approaches. Results: Of the 18 studies that met the inclusion criteria, ward managers competencies showed a strong positive association with nurses’ job satisfaction. The four most consistently identified and influential competency aspeks were planning, organizing, leadership and direction, and interpersonal communication. Conclusion: These findings provide a mapped body of evidence highlighting the pivotal role of ward managers competencies in nurses’ job satisfaction. The four core competency aspeks identified can be prioritized in training programs and policy development to enhance the work environment and the quality of nursing care. This review also identifies research gaps for future studies.   Keyword: Nurses’ Job Satisfaction; Nursing Management; Ward Managers Competency.   Pendahuluan: Kompetensi manajerial kepala ruang merupakan determinan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang suportif dan berdampak pada mutu pelayanan keperawatan. Diperlukan pemetaan bukti ilmiah yang komprehensif untuk mengidentifikasi aspek kompetensi yang paling berpengaruh terhadap kepuasan kerja perawat. Tujuan: Untuk memetakan bukti ilmiah mengenai kompetensi manajerial kepala ruang dan hubungannya dengan kepuasan kerja perawat, serta mengidentifikasi aspek kompetensi yang paling sering dilaporkan dalam literatur. Metode: Desain scoping review dengan mengikuti pedoman PRISMA-ScR. Pencarian literatur sistematis dilakukan pada basis data PubMed, ScienceDirect, Scopus, dan Google Scholar untuk publikasi tahun 2019 hingga 2025. Sintesis data dilakukan secara deskriptif dan naratif. Kualitas metodologi artikel dinilai menggunakan instrumen Critical Appraisal dari Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Dari 18 artikel yang dianalisis, kompetensi manajerial kepala ruang secara konsisten dilaporkan berkaitan dengan kepuasan kerja perawat dalam berbagai setting rumah sakit. Meskipun ditemukan 15 aspek kompetensi, empat aspek utama perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengarahan, serta komunikasi interpersonal menjadi yang paling sering dilaporkan dalam literatur. Keempat aspek ini ditetapkan sebagai aspek utama karena muncul secara konsisten dan dilaporkan pada lebih dari separuh artikel yang direview. Simpulan: Scoping review ini menegaskan peran penting kompetensi manajerial kepala ruang dalam meningkatkan kepuasan kerja perawat. Keempat aspek inti yang teridentifikasi dapat dijadikan prioritas dalam pengembangan program pelatihan kepemimpinan dan kebijakan rumah sakit untuk meningkatkan kepuasan kerja dan kualitas asuhan serta bahan penelitian untuk studi lebih lanjut.   Kata Kunci: Kepuasan Kerja Perawat; Kompetensi Kepala Ruang; Manajemen Keperawatan.
Pengaruh edukasi terhadap kualitas hidup dan kejadian rawat inap ulang pada pasien gagal jantung: A literature review Rizqon Zadidah Lubis; Dhinul Fitri; Putri Septina; Erika Erika; Wan Nisfah Dewi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2235

Abstract

Background: Heart failure is a leading cause of morbidity, mortality, and readmissions worldwide. Despite advances in pharmacological therapy, many patients still experience reduced quality of life and high readmission rates. Patient education is considered an effective non-pharmacological intervention in improving self-care skills and preventing disease recurrence, but its effectiveness varies across studies. Purpose: To review and synthesize scientific evidence regarding the effect of education on quality of life and readmission rates in patients with heart failure. Method: This literature review was conducted using PubMed, Springer, DOAJ, Wiley, and Google Scholar databases using the keywords Education, Quality of Life (QoL), Readmission, Heart Failure. Inclusion criteria included English-language quantitative articles published between 2020 and 2025. The selection process yielded nine articles (5 randomized controlled trials, 2 randomized clinical trials, and 2 quasi-experimental studies). Methodological quality was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) and the Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT). Results: Most studies demonstrated that patient education, whether through structured education, telemonitoring, distance learning, or empowerment-based education, improved self-care, self-efficacy, and quality of life in heart failure patients. Education based on behavioral theories, such as the Leventhal Self-Regulation Model, and empowerment approaches proved most effective in improving physical and psychological aspects of quality of life. Furthermore, several studies demonstrated significant reductions in readmission rates through improved therapy adherence and early symptom detection. Overall, six articles were rated as high quality and three as moderate quality based on the JBI score. Conclusions: Heart failure patient education has been shown to be effective in improving quality of life and reducing readmissions. The most successful interventions were those that were continuous, interactive, empowerment-based, nurse-led, and supported by telehealth technology. Suggestion: Longitudinal studies or meta-analyses are needed to evaluate the long-term effects of educational interventions on quality of life and readmissions, including intermediary factors such as social support, health literacy, and patient motivation.   Keywords: Heart Failure; Patient Education; Quality of Life; Rehospitalization.   Pendahuluan: Gagal jantung merupakan salah satu penyebab utama morbiditas, mortalitas, dan rehospitalisasi di seluruh dunia. Meskipun terapi farmakologis telah berkembang, banyak pasien masih mengalami penurunan kualitas hidup dan angka rawat inap ulang yang tinggi. Edukasi pasien dianggap sebagai intervensi nonfarmakologis yang efektif dalam meningkatkan kemampuan perawatan diri dan mencegah kekambuhan penyakit, namun efektivitasnya masih bervariasi antar penelitian. Tujuan: Untuk menelaah dan mensintesis bukti ilmiah mengenai pengaruh edukasi terhadap kualitas hidup dan kejadian rawat inap ulang pada pasien gagal jantung. Metode: Penelitian literature review melalui penelusuran basis data PubMed, Springer, DOAJ, Wiley, dan Google Scholar menggunakan kata kunci Education, Quality of Life (QoL), Rehospitalization, Heart Failure. Kriteria inklusi mencakup artikel kuantitatif berbahasa Inggris yang dipublikasikan antara 2020–2025. Proses seleksi menghasilkan 9 artikel (5 Randomized Controlled Trial, 2 Randomized Clinical Trial, dan 2 quasi-experimental). Kualitas metodologis dinilai menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI) dan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT). Hasil: Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa edukasi pasien, baik melalui structured education, telemonitoring, distance learning, maupun empowerment-based education meningkatkan self-care, self-efficacy, serta kualitas hidup pasien gagal jantung. Edukasi berbasis teori perilaku, seperti Leventhal’s Self-Regulation Model dan empowerment approach terbukti paling efektif dalam memperbaiki aspek fisik dan psikologis QoL. Selain itu, beberapa studi menunjukkan penurunan signifikan angka rehospitalisasi melalui peningkatan kepatuhan terapi dan deteksi dini gejala. Secara keseluruhan, 6 artikel berkualitas tinggi dan 3 artikel berkualitas moderat berdasarkan skor JBI. Simpulan: Edukasi pasien gagal jantung terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan rehospitalisasi. Intervensi yang paling berhasil adalah yang bersifat berkelanjutan, interaktif, berbasis pemberdayaan, serta dipimpin oleh perawat (nurse-led education) dan didukung teknologi telehealth. Saran: Diperlukan penelitian longitudinal atau meta-analisis untuk mengevaluasi efek jangka panjang intervensi edukasi terhadap QoL dan rehospitalisasi, termasuk faktor mediasi seperti dukungan sosial, literasi kesehatan, dan motivasi pasien.   Kata Kunci: Edukasi Pasien; Gagal Jantung; Kualitas Hidup; Rawat Inap Ulang.
Correlation of CA125 with adnexsa tumors: A literature review Sity Rahmatia Alimun; Syamsu Rijal; Ilham Arif
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2238

Abstract

Background: Adnexal tumors represent a broad spectrum of gynecological conditions ranging from benign lesions to malignant ovarian tumors with high mortality rates. Delayed diagnosis remains a major clinical challenge, particularly in ovarian cancer. Cancer Antigen 125 (CA125) is the most widely used biomarker for assessing the risk of malignancy in adnexal masses; however, its sensitivity and specificity are limited, especially in early-stage disease and non-malignant conditions. Previous studies have reported inconsistent results regarding the correlation between CA125 levels and adnexal tumors. Purpose: To analyze the correlation between CA125 levels and adnexal tumors. Method: A literature review with a meta-analysis approach was conducted following the PRISMA guidelines. Relevant studies published between 2015 and 2025 were identified through PubMed, Scopus, Web of Science, and ScienceDirect databases. Eligible studies were quantitatively analyzed to assess the strength of the correlation between CA125 levels and the nature of adnexal tumors. Statistical analyses were performed using fixed-effect or random-effect models based on inter-study heterogeneity. Results: The meta-analysis demonstrated an association between elevated CA125 levels and malignant adnexal tumors, although substantial variability among studies was observed. The heterogeneity reflected differences in study populations, menopausal status, diagnostic methods, and tumor histopathology. Conclusion: CA125 plays a supportive role as a biomarker in the evaluation of adnexal tumors, particularly for malignancy risk stratification and clinical monitoring. Nevertheless, due to its limited sensitivity and specificity, CA125 should not be used as a standalone diagnostic tool and must be integrated with clinical assessment and imaging modalities. This meta-analysis emphasizes the importance of a multimodal diagnostic approach in adnexal tumor management. Suggestion: Further research should involve a combination of other biomarkers and imaging examinations to improve the predictability of malignancy.   Keywords: Adnexal Tumor: Biomarker; CA125 Level; Ovarian Cancer.   Pendahuluan: Tumor adneksa merupakan masalah kesehatan ginekologi yang sering dijumpai dan mencakup spektrum luas dari lesi jinak hingga keganasan ovarium dengan mortalitas tinggi. Keterlambatan diagnosis, terutama pada kanker ovarium, menjadi tantangan utama dalam praktik klinis. Cancer Antigen 125 (CA125) merupakan biomarker yang paling banyak digunakan untuk membantu penilaian risiko keganasan tumor adneksa, namun memiliki keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas, terutama pada stadium awal dan kondisi non-maligna. Bukti ilmiah mengenai korelasi CA125 dengan tumor adneksa masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara kadar CA125 dengan tumor adneksa. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan literature review dengan metode meta-analisis sesuai pedoman PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, Web of Science, dan ScienceDirect untuk artikel yang dipublikasikan pada periode 2015–2025. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kuantitatif untuk menilai kekuatan korelasi antara kadar CA125 dan sifat tumor adneksa. Analisis statistik dilakukan menggunakan model fixed effect atau random effect berdasarkan tingkat heterogenitas antar studi.. Hasil: Adanya hubungan antara peningkatan kadar CA125 dengan sifat keganasan tumor adneksa, meskipun ditemukan variasi hasil antar penelitian. Heterogenitas antar studi mencerminkan perbedaan karakteristik populasi, status menopause, metode pemeriksaan, serta jenis histopatologi tumor. Simpulan: CA125 memiliki peran sebagai biomarker pendukung dalam evaluasi tumor adneksa, terutama dalam stratifikasi risiko keganasan dan pemantauan klinis. Namun, keterbatasan sensitivitas dan spesifisitas menegaskan bahwa CA125 tidak dapat digunakan sebagai alat diagnostik tunggal dan harus dikombinasikan dengan penilaian klinis serta modalitas diagnostik lainnya. Meta-analisis ini memperkuat pentingnya pendekatan multimodal dalam diagnosis tumor adneksa. Saran: Penelitian lanjutan sebaiknya melibatkan kombinasi penanda biomolekuler lain dan pemeriksaan pencitraan untuk meningkatkan prediktabilitas keganasan.   Kata Kunci: Biomarker; Kadar CA125; Kanker Ovarium; Tumor Adneksa.
Efektivitas pelatihan konselor sebaya dalam meningkatkan keterampilan konseling masalah kesehatan mental pada mahasiswa Saifan Asadul Haq; Warih Andan Puspitosari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2268

Abstract

Background: College students are a vulnerable group experiencing mental health issues due to dynamic physical, psychological, and environmental changes. Peer counselors have the potential to be a rapid first-line support, particularly in student living environments (dormitories). Purpose: Evaluation of the effectiveness of peer counselor training in improving counseling skills for mental health–related concerns among peer counselors. Method: A quasi-experimental one-group pretest–posttest design was conducted among 43 Unires students recruited using consecutive sampling. The intervention comprised peer counselor training delivered through theoretical sessions and practical exercises. Counseling skills were measured using a Likert-scale questionnaire that had undergone validity and reliability testing. Pre- and post-training scores were compared using the Wilcoxon signed-rank test. Results: Posttest counseling skill scores were significantly higher than pretest scores (p < 0.05), indicating improved counseling skills following the training. Conclusion: Peer counselor training was effective in improving basic counseling skills related to mental health problems among University Residence students. Integrating structured peer counselor training within university residential programs may strengthen early support for student mental health concerns. Suggestion: The Unires program should be equipped with clear governance (role boundaries, confidentiality SOPs, risk screening, crisis referral pathways), ongoing structured supervision, and regular booster sessions to maintain quality and skill retention; further research should use an experimental design with performance assessment and follow-up to provide more robust and accurate results.   Keywords: Counseling Skills; Mental Health; Peer Counselor; Peer Counseling; Training; University Residence.   Pendahuluan: Mahasiswa berada pada kelompok rentan mengalami masalah kesehatan mental seiring perubahan fisik, psikologis, dan lingkungan yang dinamis. Konselor sebaya berpotensi menjadi dukungan lini pertama yang cepat, khususnya di lingkungan tempat tinggal mahasiswa (asrama). Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas pelatihan konselor sebaya dalam meningkatkan keterampilan konseling masalah kesehatan mental. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental satu kelompok dengan rancangan pretest–posttest pada 43 mahasiswa University Residence (Unires) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang direkrut melalui consecutive sampling. Intervensi berupa pelatihan konselor sebaya yang mencakup sesi teori dan latihan praktik. Keterampilan konseling diukur menggunakan kuesioner skala likert yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Perbedaan skor sebelum dan sesudah pelatihan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Hasil: Terdapat peningkatan skor keterampilan konseling yang bermakna pada posttest dibandingkan pretest (p < 0.05). Simpulan: Pelatihan konselor sebaya efektif meningkatkan keterampilan konseling dasar terkait masalah kesehatan mental. Pelatihan terstruktur dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari program dukungan kesehatan mental di lingkungan asrama. Saran: Program kampus sebaiknya dilengkapi tata kelola yang jelas (batas peran, SOP kerahasiaan, skrining risiko, alur rujukan krisis), supervisi terstruktur berkelanjutan, serta sesi booster berkala untuk menjaga kualitas dan retensi keterampilan; selain itu, penelitian lanjutan perlu menggunakan desain eksperimental dengan penilaian performa dan follow-up agar hasil lebih kuat dan akurat.   Kata Kunci: Keterampilan Konseling; Kesehatan Mental; Konselor Sebaya; Mahasiswa.
Korelasi intensitas nyeri dengan kualitas hidup pada petani yang mengalami keluhan low back pain Tri Wulandari; Ratna Roesardhyati; Ardhiles Wijaya Kusuma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2283

Abstract

Background: Low Back Pain (LBP) is a musculoskeletal complaint frequently experienced by farmers due to heavy physical work activities, unergonomic work postures, and long work durations. Persistent pain can impact quality of life, encompassing physical, psychological, social, and environmental aspects. Purpose: To analyze the relationship between pain intensity and quality of life in farmers experiencing Low Back Pain. Method: A quantitative study using a cross-sectional approach was conducted in December 2025 in Putat Lor Village, Malang. The sampling technique employed simple random sampling, with a sample size of 40 respondents. The independent variable in this study was the intensity of nyelr, while the dependent variable was quality of life. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distributions and bivariate analysis using the Spearman Rank test. Results: The results of the study showed a significant relationship between pain intensity and quality of life in farmers experiencing Low Back Pain complaints, as evidenced by a p value of <0.001. The r value = -0.638, indicating a strong and inverse relationship, meaning that the higher the pain intensity, the lower the farmer's quality of life. Conclusion: Pain intensity is significantly associated with quality of life in farmers experiencing Low Back Pain. Comprehensive pain prevention and management efforts need to be improveld to support improvelmelnts in farmelrs' quality of lifel.   Keywords: Farmers; Low Back Pain; Pain Intensity; Quality Of Life.   Pendahuluan: Low back pain (LBP) melrupakan kelluhan muskuloskelleltal yang selring dialami olelh peltani akibat aktivitas kelrja fisik yang belrat, postur kelrja tidak elrgonomis, selrta durasi kelrja yang panjang. Kelluhan nyelri yang belrlangsung selcara telrus-melnelrus dapat belrdampak pada pelnurunan kualitas hidup, melncakup aspelk fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Tujuan: Untuk melnganalisis hubungan antara intelnsitas nyelri delngan kualitas hidup pada peltani yang melngalami kelluhan low back pain. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Desember 2025 di Desa Putat Lor, Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 40 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah intelnsitas nyelri, sedangkan variabel dependent adalah kualitas hidup. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Telrdapat hubungan yang signifikan antara intelnsitas nyelri delngan kualitas hidup pada peltani yang melngalami keluhan low back pain, dibuktikan dengan p-value <0.001. Nilai r = -0.638, menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan berlawanan arah, berarti semakin tinggi intensitas nyeri, maka semakin rendah kualitas hidup petani. Simpulan: Intelnsitas nyelri belrhubungan selcara signifikan delngan kualitas hidup peltani yang melngalami low back pain. Upaya pelncelgahan dan pelnatalaksanaan nyelri selcara komprelhelnsif pelrlu ditingkatkan untuk melndukung pelrbaikan kualitas hidup peltani.   Kata Kunci: Intensitas Nyeri; Kualitas Hidup; Low Back Pain; Petani.
Hubungan dukungan sosial dan self-esteem terhadap resiliensi pada ibu menyusui: A literature review Yuliani Tampubolon; Nur Alam Fajar; Anita Rahmiwati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2293

Abstract

Background: Breastfeeding mothers often face various psychological challenges that can affect their ability to adapt to stress during breastfeeding. Social support and self-esteem are considered protective factors that play an important role in fostering resilience in breastfeeding mothers. However, studies integrating these two factors are scattered and not comprehensively structured. Purpose: To examine and analyze the relationship between social support and self-esteem on resilience in breastfeeding mothers. Method: This literature review examined national and international journal articles published between 2018 and 2025. Relevant articles were obtained through scientific databases including Google Scholar, PubMed, BMC Psychology, International Breastfeeding Journal, and Reproductive Health. The keywords used were social support, self-esteem, resilience, and breastfeeding mothers, and were then analyzed critically and thematically based on the research variables. Results: Social support and self-esteem are significantly associated with resilience in breastfeeding mothers. Social support plays a role in increasing feelings of security and emotional support, while self-esteem contributes to strengthening mothers' self-confidence and coping skills in dealing with stress during breastfeeding. The interaction between internal and external factors shapes maternal resilience dynamically and contextually. Conclusion: Social support and self-esteem are important components in building resilience in breastfeeding mothers. Resilience is not formed in isolation, but rather through the interaction of individual psychological resources and social environmental support. Suggestion: The development of contextual and sustainable interventions involving families, healthcare professionals, and peer communities is needed to strengthen the self-esteem and resilience of breastfeeding mothers.   Keywords: Breastfeeding Mothers; Resilience; Self-esteem; Social Support.   Pendahuluan: Ibu menyusui sering menghadapi berbagai tantangan psikologis yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam beradaptasi terhadap stres selama masa menyusui. Dukungan sosial dan self-esteem dipandang sebagai faktor protektif yang berperan penting dalam membentuk resiliensi ibu menyusui. Namun, kajian yang mengintegrasikan kedua faktor tersebut masih tersebar dan belum terstruktur secara komprehensif. Tujuan: Untuk menelaah dan menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan self-esteem terhadap resiliensi pada ibu menyusui. Metode: Penelitian tinjauan literatur terhadap artikel jurnal nasional dan internasional yang diterbitkan pada rentang tahun 2018–2025. Artikel yang relevan diperoleh melalui basis data ilmiah antara lain Google Scholar, PubMed, BMC Psychology, International Breastfeeding Journal, dan Reproductive Health. Kata kunci yang digunakan yaitu dukungan sosial, self-esteem, resiliensi, dan ibu menyusui, kemudian dianalisis secara kritis dan tematik berdasarkan variabel penelitian. Hasil: Dukungan sosial dan self-esteem memiliki hubungan yang signifikan dengan resiliensi ibu menyusui. Dukungan sosial berperan dalam meningkatkan rasa aman dan dukungan emosional, sedangkan self-esteem berkontribusi dalam memperkuat kepercayaan diri serta kemampuan koping ibu dalam menghadapi tekanan selama masa menyusui. Interaksi antara faktor internal dan eksternal membentuk resiliensi ibu secara dinamis dan kontekstual. Simpulan: Dukungan sosial dan self-esteem merupakan komponen penting dalam membangun resiliensi ibu menyusui. Resiliensi tidak terbentuk secara tunggal, melainkan melalui interaksi antara sumber daya psikologis individu dan dukungan lingkungan sosial. Saran: Diperlukan pengembangan intervensi yang kontekstual dan berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas sebaya guna memperkuat self-esteem dan resiliensi ibu menyusui.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Ibu Menyusui; Resiliensi; Self-esteem.
Indikasi persalinan sectio caesarea di rumah sakit rujukan Riza Saputri Alistianti; Endyka Erye Frety; Linda Dewanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2343

Abstract

Background: A Caesarean section (CS) is a surgical procedure performed when vaginal delivery poses a risk to the mother or fetus. Despite the risk of life-saving complications, the prevalence of cesarean deliveries is increasing rapidly. At a referral hospital in East Nusa Tenggara (NTT) province, the rate of cesarean deliveries has increased significantly over the past three years. Purpose: To analyze factors influencing the indication for cesarean delivery. Method: This study used a quantitative case-control design at a referral hospital in East Nusa Tenggara (NTT) province. The sample consisted of 80 women delivering by cesarean section and 80 women delivering by vaginal delivery, selected using simple random sampling. Data were obtained from medical records and analyzed using bivariate tests (chi-square, Fisher's exact test, and independent t-test) and multivariate logistic regression to determine the dominant factors. Results: The analysis revealed a significant association between cesarean delivery and CPD, severe preeclampsia, a history of cesarean delivery, fetal distress, antepartum hemorrhage, post-term pregnancy, and prolonged labor. The most dominant factors were a history of previous cesarean delivery (OR = 36.961) and severe preeclampsia (OR = 33.058). Conclusion: Indications for cesarean delivery include CPD, severe preeclampsia, prior cesarean section, fetal distress, antepartum hemorrhage, post-term pregnancy, and prolonged labor, with prior cesarean section being the most dominant factor. Suggestion: Future research should examine the long-term impact of cesarean delivery to strengthen the evidence-based basis for obstetric care.   Keywords: Cesarean Section; Indications for Delivery; Referral Hospital.   Pendahuluan: Sectio Caesarea (SC) adalah prosedur pembedahan untuk melahirkan bayi yang dilakukan bila persalinan pervaginam berisiko membahayakan ibu atau janin. Meskipun bertujuan menyelamatkan, prevalensi persalinan SC meningkat pesat. Di rumah sakit rujukan provinsi NTT, angka SC meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang memengaruhi indikasi persalinan SC. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif desain case control yang dilakukan di rumah sakit rujukan provinsi NTT. Sampel terdiri dari 80 ibu melahirkan dengan metode SC dan 80 ibu pada persalinan pervaginam yang dipilih dengan simple random sampling. Data diperoleh melalui rekam medis dan dianalisis menggunakan uji bivariat (chi-square, fisher exact, dan independent t-test) serta uji multivariat regresi logistik untuk menentukan faktor dominan. Hasil: Analisis menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara persalinan SC dengan CPD, preeklamsia berat, riwayat SC, gawat janin, perdarahan ante partum, kehamilan post date, dan partus lama. Faktor paling dominan adalah riwayat SC sebelumnya (OR = 36.961) dan preeklamsia berat (OR = 33.058). Simpulan: Indikasi persalinan sectio cesarea, meliputi CPD, preeklamsia berat, riwayat SC, gawat janin, perdarahan antepartum, kehamilan post date, dan partus lama, dengan riwayat SC sebelumnya sebagai faktor paling dominan. Saran: Penelitian selanjutnya dapat melakukan kajian lanjutan terhadap dampak jangka panjang persalinan SC untuk memperkuat dasar evidence-based dalam pelayanan kebidanan.   Kata Kunci: Indikasi Persalinan; Rumah Sakit Rujukan; Sectio Caesarea.
Hubungan kepatuhan minum obat dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada penderita hipertensi Kamila Kamila; Anisa Catur Wijayanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2348

Abstract

Background: Hypertension is a common blood vessel disease and is classified as a degenerative disease. Because it cannot be cured, hypertension requires lifelong treatment to maintain quality of life. Factors that can influence quality of life include family support, motivation to adopt a healthy lifestyle, physical activity, medication adherence, education level, cultural values, lifestyle changes, and stress management skills. Purpose: To analyze the relationship between quality of life in hypertensive patients with medication adherence and family support. Method: This quantitative study used an observational analytical design and a cross-sectional approach. The study was conducted at the Gambirsari Community Health Center from November to December 2025. The study population included all patients undergoing hypertension screening, determined using the Lemeshow formula, resulting in 135 respondents. The sampling technique used was purposive sampling. After data collection through questionnaires and interviews, the data were analyzed using the Chi-Square test. Results: There was a relationship between quality of life in hypertensive patients with medication adherence (p=0.028) and family support (p=0.017). Although most respondents reported good levels of adherence and family support, various forms of medication non-adherence and low informational and instrumental support from family were still found, potentially leading to uncontrolled blood pressure and reduced quality of life, particularly in the physical health domain. Meanwhile, the highest quality of life was found in the environmental domain. Conclusion: There is a relationship between medication adherence and family support and quality of life in people with hypertension. Adherence to antihypertensive medication and the role of the family as a support system contribute significantly to long-term hypertension management.   Keywords: Family Support; Hypertension; Medication Adherence; Quality of Life.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit pembuluh darah yang umum dan tergolong sebagai penyakit degeneratif. Hipertensi membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menjaga kualitas hidup karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup yaitu dukungan keluarga, motivasi dalam menerapkan perilaku hidup sehat, aktivitas fisik, kepatuhan dalam mengonsumsi obat, tingkat pendidikan, nilai budaya, perubahan gaya hidup, serta kemampuan dalam mengelola stress. Tujuan: Untuk menganalisis apakah ada hubungan antara kualitas hidup penderita hipertensi dengan kepatuhan mereka terhadap obat-obatan dan dukungan keluarga. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik serta pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Gambirsari pada periode November-Desember 2025. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien yang menjalani pemeriksaan hipertensi, ditentukan menggunakan rumus Lemeshow, sehingga diperoleh sebanyak 135 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Setelah pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara, data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Ada hubungan antara kualitas hidup penderita hipertensi dan kepatuhan minum obat (p=0.028) dan dukungan keluarga (p=0.017). Meskipun sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan dan dukungan keluarga yang baik, masih ditemukan berbagai bentuk ketidakpatuhan minum obat serta rendahnya dukungan informasional dan instrumental dari keluarga, yang berpotensi menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol dan menurunkan kualitas hidup, khususnya pada domain kesehatan fisik. Sementara itu, kualitas hidup tertinggi terdapat pada domain lingkungan. Simpulan: Adanya hubungan antara kepatuhan minum obat dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup penderita hipertensi. Kepatuhan terhadap obat antihipertensi dan peran keluarga sebagai sistem pendukung berkontribusi penting dalam pengelolaan hipertensi jangka panjang.   Kata Kunci: Dukungan Keluarga; Hipertensi; Kualitas Hidup; Kepatuhan Minum Obat.
Edukasi kontrasepsi aman dan efektif untuk mencegah PMS pada WUS yang berisiko Intan Karlina; Nova Dila Ramadanty; Suci Agisa Inayatulloh; Meilani Agisna Lestari; Yufi Rahma Trianita; Zahara Maula Humaira; Gina Sri Nurhapsah; Siti Salwa Rosalinda; Rosdiana Ekasari; Tashiea Awaleea Putri Pandepur; Salsa Amelia Ramadani; Izmy Azimah Maryam; Nurul Hidayah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2382

Abstract

Background: Sexually Transmitted Diseases (STDs) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) are serious global public health problems, significantly impacting individuals' quality of life, the burden on the healthcare system, and socioeconomic development. Bandung, a metropolitan city in West Java, faces significant challenges related to these issues. Health statistics indicate that Bandung is among the areas with the highest prevalence of HIV and STDs at the provincial level. Given this situation, increasing knowledge and changing behaviors is key to breaking the chain of transmission. Purpose: To increase the knowledge and understanding of women of childbearing age regarding the selection and use of contraception as a form of dual protection against unplanned pregnancy and STDs. Method: This participatory action learning (PLA)-based study used a pre-experimental approach with a pre-test and post-test. The study was conducted on December 3, 2025, in Kebon Jeruk District, Bandung. The study population consisted of women of various ages, ranging from reproductive age to elderly, with 26 participants selected using a purposive sampling method. This study used lectures, discussions, contraceptive insertion simulations, and booklets. Success was measured quantitatively by comparing pre-test and post-test scores using the Wilcoxon test. Results: Knowledge during the pre-test was mostly in the adequate category for 11 participants (42.3%), with an average score of 82.31. Furthermore, the post-test showed an increase in knowledge to good for 10 participants (38.5%) and fair for 15 participants (57.7%), with an average score of 89.23. The Wilcoxon Signed-Rank test showed a W value of 0 with a p-value <0.001, indicating a statistically significant difference between pre-test and post-test scores. Conclusion: Safe and effective contraceptive education activities have been shown to significantly improve the knowledge of women of childbearing age regarding pregnancy and STDs prevention. Suggestion: Further research is recommended, including regular workshops through community health posts and family health services, digital modules, and collaboration with community health centers for sexually transmitted diseases screening, to expand the impact of STDs prevention.   Keywords: Health Education; Safe Contraception; Sexually Transmitted Diseases; Women of Reproductive Age.   Pendahuluan: Penyakit Menular Seksual (PMS) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang serius, dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu, beban sistem kesehatan, serta pembangunan sosial ekonomi. Kota Bandung, sebagai salah satu kota metropolitan di Jawa Barat, menghadapi tantangan yang signifikan terkait isu ini. Data statistik kesehatan menunjukkan bahwa Kota Bandung termasuk daerah dengan angka prevalensi HIV dan PMS yang tinggi di tingkat provinsi. Mengingat kondisi ini, peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman WUS tentang pemilihan dan penggunaan kontrasepsi sebagai bentuk perlindungan ganda (dual protection) terhadap kehamilan tidak direncanakan dan PMS. Metode: Penelitian berbasis participatory learting and action (PLA) dengan desain kegiatan menggunakan pendekatan pre-eksperimen dengan menggunakan pre-test dan post-test. Penelitian dilaksanakan tanggal 3 Desember 2025 di wilayah Kelurahan Kebon jeruk kota Bandung. Populasi penelitian ini adalah wanita berbagai usia mulai dari wanita usia subur sampai lanjut usia, dengan jumlah peserta 26 orang yang dipilih menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode ceramah, diskusi, simulasi pemasangan kontrasepsi, serta media booklet. Tingkat keberhasilan diukur secara kuantitatif melalui perbandingan skor pre-test dan post-test menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : Pengetahuan saat pre-test, sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 11 partisipan (42.3%) dengan nilai rata-rata sebesar 82.31. Selanjutnya, dilakukan post-test terjadi peningkatan menjadi pengetahuan baik sebanyak 10 partisipan (38.5%) dan cukup sebanyak 15 partisipan (57.7%) dengan nilai rata-rata sebesar 89.23.  Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan nilai W = 0 dengan p-value < 0.001, menandakan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara nilai pretest dan posttest. Simpulan: Kegiatan edukasi kontrasepsi aman dan efektif terbukti mampu meningkatkan pengetahuan WUS secara signifikan mengenai pencegahan kehamilan dan PMS. Saran: Penelitian selanjutnya direkomendasikan melalui workshop berkala melalui posyandu PKK, modul digital, serta kolaborasi puskesmas untuk skrining IMS, guna memperluas dampak pencegahan PMS.   Kata Kunci: Kontrasepsi Aman; Penyakit Menular Seksual (PMS); Penyuluhan Kesehatan; Wanita Usia Subur (WUS).