cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 115 Documents
Rekonstruksi Tafsir Kebebasan Perempuan dalam Al-Qur'an: Studi Kritis Pemikiran Zaitunah Subhan dan Fatimah Mernissi Moch Choiri; Alvan Fathony
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 11 No. 1 (2021): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v11i1.3239

Abstract

Artikel ini membahas tentang posisi kaum wanita yang sejak dahulu dianggap sebagai sosok sumber dari berbagai kesalahan. Mulai dari masa peradaban Yunani, India, Romawi, China hingga peradaban Arab pra Islam. kedudukan dan citra seorang wanita tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Wanita disamakan dengan budak dan anak-anak, dianggap lemah fisik dan akalnya. Wanita dituding sebagai sumber malapetaka dan pembawa sial. Ketidakadilan gender ini melahirkan gerakan feminisme intelektual yang menyugukan pemikiran-pemikiran baru tentang kesetaraan gender. Kehadiran tokoh-tokoh intelektual seperti Zaitunah Subhan dan Fatimah Mernissi, merupakan salah satu bukti bahwa perempuan juga berhak untuk membebaskan diri dari belenggu kultur sosial yang selama ini mengikat kaum perempuan. Namun, gerakan feminisme ini sedikit banyak telah memaksa para wanita untuk memberontak sebuah sistem kultural maupun struktural yang dianggap mendiskreditkan eksistensi mereka. Maka rekonstruksi dan reinterpretasi tafsir kebebasan perempuan dirasa perlu untuk dilakukan sebagai manifestasi kesadaran kaum feminis intelektual terkait tentang relasi masyarakat dan agama. Artikel ini mencoba menelusuri bagaimana tafsir kebebasan perempuan dalam al-Qur’an perspektif Fatimah Mernissi dan Zaitunah Subhan dan bagaimana rekonstruksi dari penafsiran kedua intelektual tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis metode deskriptif, taksonomi dan interpretatif. Hasil dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa munculnya model penafsiran baru berdasarkan sudut pandang wanita ini tidak dapat dilepaskan dari tradisi dan kepentingan Barat yang tercermin dari gerakan Teologi Feminis sendiri. Maka perlu dilakukan kajian ulang tentang tafsir kebebasan perempuan versi feminisme.
Pemaknaan Makrifat oleh Para Sufi dari Zaman ke Zaman Siswoyo Aris Munandar; Mursalat Mursalat; Elia Malikhaturrahmah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 11 No. 1 (2021): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v11i1.3176

Abstract

Berbicara tentang mistik Islam, makrifat, tasawuf dan irfan, yang perlu diketahui pertama-tama adalah makna mistisisme dalam konteks Islam, khususnya berkenaan dengan kekaburan makna istilah itu dalam Bahasa inggris sekarang ini. Kita dapat berbicara tentang mistisme Islam jika kita memahami makna orsinal istilah Mistisme, yang berkaitan dengan misteri-misteri ilahi. Secara bahasa makrifat berasal dari bahasa Arab, yaitu kata ‘arafa, ya’rifu, ‘irfan, ma’rifah yang berarti pengetahuan atau pengenalan. Makrifat secara bahasa juga berarti mengetahui sesuatu apa adanya atau ilmu yang tidak lagi menerima keraguan. Sedangkan menurut istilah para sufi, makrifat secara umum diartikan sebagai melihat Tuhan dari dekat dengan menggunakan mata hati. Penyebutan ma’rifah dalam lidah masyarakat Indonesia dikenal dengan sebutan “makrifat”. Dalam bahasa inggris, makrifat dikenal dengan istilah gnosis, sedangkan orang yang telah mencapai tahapan makrifat (‘arif) dikenal dengan gnostik-mistik. Akan tetapi ma’rifah jika diteliti mempunyai pengertian atau makna yang berbeda-beda setiap zaman ke zaman. Oleh karena itu penulis ingin memaparkan makna ma’rifah dari zama ke zaman, yang mana pada masa Rasulullah dan para sahabat sampai kalangan ulama salaf dan khalaf.
Studi Tafsir Tentang Dimensi Epistemologi Tasawuf Moh Bakir
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 1 (2019): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i1.3011

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mengetahui hakikat epistemologi tasawuf dan dimensi-dimensinya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Epistimologi tasawuf adalah studi kursus tentang keterkaitan antara syariah dan hakikat, pengalaman spiritual dengan wahyu. Sumber pengetahuan dan kemampuan potensi-potensi intelektual yang mempersepsikan objek pengetahuan. Epistemologi tasawuf mengakomodasikan pandangan empirisme terhadap realitas eksternal, mengingat status eksistensialnya sebagai data indrawi. Dalam hal ini adalah mengakui wahyu sebagai lingkup pengetahuan yang mencakup keduanya. Berkenaan dengan epistemologi tasawuf, paling tidak ada tiga dimensi, yaitu,dimensi esoterik, adalah dimensi batin manusia yang berada di hati (qalb),dimensi eksoterik,yaitu kepercayaan kepada huruf, teks, atau dogma yang bersifat formalistik, dan dimensi neo-esoterik,yaitu konsep bangunan keilmuan yang dituntut untuk lebih humanistik, empirik dan funsional (penghayatan terhadap ajaran Islam, bukan pada Tuhan).
Memahami Otentisitas Konsep Tuhan;: Kajian Konsep Emanasi, Ontologi Dan Kosmologi Filosof Muslim Amirudin Amirudin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 1 (2019): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i1.3008

Abstract

Dalam tinjauan historis, filsafat ketuhanan berawal dari metafisika. Dalam metafisika setidaknya ada beberapa cabang pembahasam, di antaranya ontologi wujud, kosmologi, dan argumen-argumen lain tentang Tuhan. Dalam Islam, metafisika merupakan masalah utama sebagai landasan epistemologi. Ini karena seluruh orientasi kehidupan manusia selalu mengarah kepada Tuhan. Tuhan dalam kajian filsafat Islam merupakan problematika metafisika sebagai being absolut. Masalah wujud merupakan kajian utama pembahasan para filosof Muslim. Bagi Al-Kindi, metafisika merupakan argumen-argumen rasional dalam membahas atau membuktikan wujud Tuhan. Sementara itu, Ibnu Sina memposisikan metafisika sebagai bagian terakhir dari filsafatnya. Fokus dan persoalannya adalah tentang wujud. Bagi Ibnu Sina, metafisika adalah ilmu tentang keagamaan. Dalam ontology wujud Ibnu Sina, Tuhan adalah sebab pertama dari segala yang ada.
Paradigma Pemikiran Tasawuf Teo-Antroposentris Abdurrahman Wahid dan Relevansinya dalam Konteks Kekinian Muhammad Nur Fauzi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 1 (2019): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i1.3010

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menelusuri akar pemikiran tasawuf Abdurrahman Wahid dan relevansinya dengan konteks sosio-historis masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural. Abdurrahman Wahid sebagai salah seorang tokoh pembaru keislaman di Indonesia dikenal sebagai cendekiawan multitalenta. Ia dikenal sebagai seorang budayawan, intelektual Islam garda depan, dan juga poltikus ulung dalam dunia perpolitikan di tanah air. Dalam ranah ini, telah banyak yang mengkaji pemikirannya. Dalam kapasitasnya sebagai seorang Kiai yang memiliki kedalaman spiritualitas yang diakui, bisa dikatakan masih minim penelitian dan karya anak bangsa yang mengkaji pemikiran tasawufnya. Dalam keyakinan penulis, Abdurrahman Wahid adalah seorang asketis, sufi, dan zahid di era kekinian. Dalam konteks inilah, penulis tertarik untuk mencoba memberanikan diri menguak sisi pemikiran Gus Dur di ranah tasawuf yang masih tak terpikirkan. Dari upaya penelusuran ini, ditemukan bahwa paradigma pemikiran tasawuf Abdurrahman Wahid bercorak teo-antroposentris-transformatif. Dari temuan ini, pada tahap selanjutnya, pemikiran tasawufnya diproyeksikan untuk menjadi salah satu alternatif jawaban dalam dunia global dan milenial yang semakin sepi dan kering dari nilai-nilai spiritual.
Al-Dakhil dalam Tafsir: (Studi atas Penafsiran Esoterik Ayat-ayat Imamah Husain al-Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan) Siar Ni’mah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 1 (2019): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i1.3009

Abstract

Tafsir esoterik adalah sebuah penafsiran elit yang kehadirannya memberi warna tersendiri dalam dunia tafsir. Meski terbilang elit, keniscayaan kritik terhadapnya tetaplah berlaku. Penulis juga menilai bahwa keabsahan tafsir esoterik perlu dikaji mendalam. Karenanya, penelitian ini mencoba mengungkap sisi dakhil penafsiran esoterik al-Tabataba’i terkait ayat-ayat imamah dalam tafsir al-Mizan. Metode kajian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Metode deskriptif digunakan untuk mencari dan mengurai pemahaman terkait al-dakhil dan tafsir esoterik serta melacak hadis-hadis yang digunakan dalam penafsiran esoteriknya, sementara metode analitis digunakan sebagai upaya untuk menganalisa kedudukan riwayat hadis ayat-ayat imamah. Dengan demikian, maka pendekatan yang dinilai tepat untuk menganalisa kedudukan riwayat hadis tersebut adalah dengan pendekatan kritik sanad hadis. Hasilnya, penelitian ini menemukan beberapa riwayat hadis bermasalah di dalam penafsiran esoteriknya, sehingga dapat dikatakan bahwa al-Tabataba’i telah melakukan menyimpangan sumber tafsir. Fakta ini pulalah kemudian yang menunjukkan bahwa al-Tabataba’i masih terjerat dengan ideologi mazhabnya ketika menafsirkan al-Qur’an
Pergeseran Tafsir Tahlili Menuju Tafsir Ijmali Achmad Imam Bashori
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 1 (2019): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i1.3007

Abstract

Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat Islam, tidak dapat berkata dan berbuat banyak jika tanpa ada interpretasi atau penafsiran terhadap kandungan isinya. Keberadaan nabi Muhammad sebagai interpretator memang penting adanya, namun tugas utama sebagai penyampai risalah Tuhan tidak mampu mengingkari esensi lahiriahnya sebagai manusia yang terbatas ruang dan waktu. Semasa hidup Rasulullah, bahasa al-Qur’an yang kadang sulit dimengerti memang mudah untuk ditafsirkan karena para sahabat hanya tinggal bertanya pada Rasulullah, hal ini karena memang Rasulullah yang berposisi sebagai mubayyin adalah satu-satunya rujukan dalam memahami kandungan al-Qur’an. Namun sepeninggal beliau, dinamika dan persoalan umat tidaklah menjadi tuntas. Beragam persoalan dan perkembangan keilmuan menuntut berkembang pula metode dalam memberikan interpretasi terhadap alquran, dalam artian kegiatan penafsiran terus berjalan dan harus berkembang. Jika pada masa sahabat penafsiran seringkali berdasar pada riwayah semata, pada perkembangan selanjutnya lahir pula tafsir bi al-ra’yi yang bersumber pada ijtihad dan penalaran. Dari dua sumber penafsiran ini, pola penafsiran selanjutnya berkembang dalam empat metode yang lazim digunakan dalam proses penafsiran, yakni metode tahlili (analitis), ijmali (global), muqarin (perbandingan) serta maudu’i (tematik). Dan dalam tulisan ringkas ini, penulis mencoba menguraikan pengertian dan pergeseran metode tahlili menuju ijmali.
Perkembangan Hadis pada Masa Sahabat: (Taqlil wa Tathabbut min al-Riwayah) Arofatul Mu’awanah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i2.3037

Abstract

Sudah menjadi konsesus umat Islam bahwa keberadaan hadis menjadi sumber penggalian hukum setelah al-Qur’an, sebab sejatinya hadis merupakan penjelas terhadap makna-makna al-Qur’an yang masih samar dan global (bayan al-tafsir).Selain itu hadis juga berfungsi menjelaskan beberapa permasalahan hukum yang belum pernah dijelaskan sebelumnya oleh al Qur’an (bayan al-tashri’).Sebab itu keberadaan hadis menjadi sangat pentingdan harus dijaga keotentikannya karena hadis harus terhindar dari berbagai tendesius, baik pribadi maupun kelompok. Sejak awal hadis telah dijaga dengan sungguh-sungguh, termasuk oleh para sahabat. Mereka adalah generasi pertama yang memiliki tanggung jawab menjaga hadis dari berbagai kesalahan dan kekeliruan. Hal ini bisa ditelusuri dari beberapa kebijakan yang diterapkan oleh al-Khulafa’u al Rashidun, mulai dari kebijakan yang diterapkan oleh Abu Bakar al-Siddiq, yang harus menghadirkan seorang saksi bagi siapapun yang meriwayatkan hadis sehingga bisa dibenarkan periwayatannya, begitu juga sahabat Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang juga menambahkan syarat sumpah bagi sahabat yang meriwayatkan hadis. Demikian bukan berarti mereka meragukan hadis sebagai sesuatu yang layak untuk dijadikan sebagai sandaran dalam penggalian hukum, justru sikap mereka yang membatasi periwayatan hadis dengan menerapkan beberapa kebijakan tersebut adalah bukti kesungguhan mereka dalam menjaga hadis sehingga keotentikannya tetap lestari dari berbagai pemalsuan dan kekeliruan. Maka tidak heran jika kita telusuri dalam kitab mus{thalah al hadis, perkembangan hadis pada masa sahabat disebut dengan istilah taqlil al-riwayah wa al-tathabbut fi al-riwayah (masa penyedikitan dan pembatasan periwayatan). Kata kunci: hadis, sahabat, taqlil al-riwayah wa al-tathabbut fi al-riwayah.
Mediasi Pengampunan Dosa: (Studi Komparatif Ayat 48 dan Ayat 123 dalam Surah Al-Baqarah) Achmad Imam Bashori
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i2.3031

Abstract

Pembahasan tentang mediasi atau yang biasa disebut shafa’ah dalam kaitannya dengan pengampunan dosa dan siksaan yang dilakukan oleh manusia, merupakan pembahasan yang tak lekang olah masa, dimana sebagian manusia sangat bergantung dan mengandalkannya sehingga lupa dengan amal perbuatan yang dilakukannya, di sisi yang lain bagi yang tidak mempercayainya, mereka terlena dengan amal perbuatannya yang kemudian menjadikannya bangga dan lupa hakikat yang sebenarnya, pemahaman mereka tentang shafa’ah ternyata telah digambarkan dengan jelas di dalam al-Qur’an, untuk menjelaskan perbandingan pola pikir mereka dapat telisik dengan menggunakan metode penafsiran, diantaranya adalah pendekatan metode muqorin. Tafsir muqaran ialah metode tafsir yang ditempuh oleh seorang mufassir dengan cara mengambil sejumlah ayat al-Quran, kemudian mengemukakan penafsiran para ulama tafsir terhadap ayat-ayat itu, baik mereka termasuk ulama salaf atau ulama hadith yang metode dan kecenderungan mereka berbeda-beda, baik penafsiran mereka berdasarkan riwayat atau berdasarkan rasio, selanjutnya membandingkan perbedaan kecenderungan mereka. Kata kunci: metode, muqarin, komparatif, shafa’ah
Tafsir Klasik: Analisis Terhadap Kitab Tafsir Era Klasik A Fahrur Rozi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 9 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v9i2.3036

Abstract

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, di dalamnya memuat pedoman hidup bagi semua manusia. Pedomanan hidup yang dijelaskan di dalam al-Qur’an tersebut masih sangat global dan umum, karena keumumannya inilah maka para ulama mencoba memahami serta menafsirinya dengan menggunakan berbagai metode dan caranya masing-masing. Proses ini memakan waktu panjang yang terbagi menjadi beberapa fase, yakni fase klasik hingga kontemporer. Tulisan dalam penelitian ini mengkhususkan pada masa era klasik, dimana karakteristik penafsiran yang dilakukan oleh para ulama tersebut menekankan pada sumber penafsiran, corak dan pendekatan yang digunakan.  Adapun penelaahan terhadap kitab karya ulama pada era klasik tersebut menekankan kepada empat kitab tafsir yakni: Tafsir Al-Jami’ al Bayan Fi Tafsir al-Qur’an karya Al-Tabari, Tafsir Ahkam al-Qur’an karya Al-Jashshash. Tafsir al--Kashshaf karya Al-Zamakhshari dan tafsir Al-Qur’an al-Azim karya Ibnu Katsir. Kata kunci: kitab tafsir, tafsir klasik

Page 2 of 12 | Total Record : 115