cover
Contact Name
Agus Dian Mawardi
Contact Email
yptbkalsel@gmail.com
Phone
+6285654963323
Journal Mail Official
yptbkalsel@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pematon No.10 Komplek Pembangunam I RT.18 RW.02 Banjarmasin Barat, Kode Pos 70116
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JIS: Journal ISLAMIC STUDIES
ISSN : -     EISSN : 29632072     DOI : https://doi.org/10.71456/jis
JIS : Journal ISLAMIC STUDIES adalah jurnal peer-review sebagai publikasi multi-disiplin yang didedikasikan untuk studi ilmiah tentang semua aspek keislaman dan dunia Islam, khususnya pada karya-karya yang berhubungan dengan pendidikan islam, sejarah islam, politik islam, ekonomi islam, sosiologi islam, hukum islam, Psikologi islam, filsafat islam.
Articles 139 Documents
Proses Pembentukan Iman: Sebuah Kajian Teoretis dan Praktis Maysarah; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1518

Abstract

Iman dalam Islam adalah keyakinan yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Makna ini lebih luas dari sekadar percaya; ia mencakup keyakinan yang kuat pada enam rukun iman, yang kemudian harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari ibadah hingga akhlak mulia kepada sesama.bagaimana proses terbentuknya iman dalam diri manusia dari perspektif spiritual dan sosial. Iman tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses internalisasi nilai-nilai agama yang melibatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Iman merupakan unsur fundamental dalam kehidupan beragama yang menentukan sikap, perilaku, serta cara pandang seseorang terhadap Tuhan dan sesama manusia. Proses terbentuknya iman tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang melibatkan pengalaman pribadi, lingkungan sosial, pendidikan, dan pemahaman terhadap ajaran agama. Dalam proses ini, faktor internal seperti hati nurani, kesadaran spiritual, serta pencarian makna hidup berperan penting dalam memperkuat keyakinan seseorang. Sementara itu, faktor eksternal seperti keluarga, lingkungan pergaulan, serta bimbingan tokoh agama turut mempengaruhi pertumbuhan iman. Dengan demikian, iman terbentuk melalui perpaduan antara pengalaman batin dan interaksi sosial yang berkesinambungan. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika dan tahapan dalam pembentukan iman, serta menyoroti pentingnya peran pendidikan dan lingkungan religius dalam menjaga kestabilan iman seseorang di tengah tantangan kehidupan modern.
Status Nasab dan Hak Anak Angkat Menurut Syariah Islam Akbar, Rizqi; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1519

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara komprehensif status nasab dan hak‑anak angkat menurut syariah Islam, khususnya dalam kerangka konsep “kafalah” (pengasuhan) dan warisan. Studi ini menelaah dasar‑dalil Al‑Qur’an dan hadits, serta interpretasi para ulama dan ketentuan hukum nasional di Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa dalam Islam anak angkat tidak memperoleh nasab orang tua angkatnya, sebab nasab hanya melekat pada ayah kandung; dan bahwa hak waris anak angkat dari orang tua angkatnya tidak otomatis seperti anak kandung, melainkan melalui wasiat (maksimum 1/3 harta warisan) atau hibah. Dalam konteks praktik, tantangan muncul terkait pemahaman masyarakat yang masih sering menisbatkan anak angkat kepada orang tua angkatnya, yang dapat menimbulkan implikasi hukum terhadap nasab, perkawinan, dan warisan. Kesimpulannya, pengangkatan anak dalam Islam diperbolehkan dalam bentuk pengasuhan dan nafkah (kafalah), tetapi harus dijalankan dengan menjaga ketentuan nasab dan hak‑hak sesuai syariah, serta dibarengi dengan kebijakan hukum nasional yang jelas.
Peran Falsafah Pendidikan dalam Membentuk Pandangan Dunia dan Etika Umat Beragama Anisa, Riska; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1520

Abstract

Falsafah pendidikan berfungsi sebagai landasan normatif dan metodologis dalam membentuk worldview (pandangan dunia) dan etika umat beragama. Dengan menyinergikan dimensi epistemologis (sumber pengetahuan), ontologis (hakikat eksistensi), dan aksiologis (nilai), falsafah pendidikan membantu merumuskan tujuan pendidikan religius yang tidak hanya mentransfer pengetahuan teologis tetapi juga menumbuhkan kapasitas reflektif, tanggung jawab moral, dan kompetensi sosial. Studi empiris menunjukkan bahwa pendidikan yang menempatkan pembelajaran worldviews sebagai bagian dari keseluruhan budaya sekolah dipandang penting oleh guru dan berdampak pada kehidupan beragama peserta didik. Dalam konteks pluralitas dan tantangan digital, pendidikan agama yang berakar pada falsafah pendidikan dapat memperkuat etika keberagamaan, moderasi, serta literasi moral digital. Oleh karena itu, integrasi falsafah pendidikan ke dalam kurikulum, kebijakan sekolah, dan pengembangan profesional guru menjadi langkah strategis untuk membentuk pandangan dunia dan etika yang kritis, inklusif, dan kontekstual.
Eksistensi, Martabat, dan Tanggung Jawab Manusia: Suatu Tinjauan Filosofis dalam Perspektif Islam Maulana, Ahmad Hendri; Fitri, Muhammad; Nauval, Muhammad
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1522

Abstract

Artikel ini mengkaji kedudukan manusia dalam Islam sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki hakikat spiritual dan material, eksistensi yang dimuliakan, martabat yang dijunjung tinggi, serta tanggung jawab moral dan sosial. Dengan pendekatan studi pustaka terhadap Al-Qur’an, hadis, dan literatur tafsir serta filsafat Islam, pembahasan difokuskan pada lima pokok utama: hakikat manusia, konsep manusia, eksistensi manusia, martabat manusia, dan tanggung jawab manusia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam memandang manusia sebagai makhluk berakal, bermoral, dan berpotensi menjadi khalifah yang menjaga keberlangsungan kehidupan melalui pengelolaan amanah, keadilan, dan kebaikan universal. Temuan juga menguatkan bahwa martabat manusia dijaga Allah tanpa memandang ras, suku, dan status sosial, sehingga manusia memiliki kewajiban menegakkan kemuliaan tersebut melalui tindakan nyata dalam kehidupan.
Informed Consent dalam Kerangka Etik Islam: Tantangan Budaya dan Praktik Komunikasi antara Tenaga Medis Muslim dan Pasien Noor, Muhammad Ritaudin; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1523

Abstract

Informed consent adalah pilar etika medis yang menjunjung hak pasien atas informasi dan otonomi keputusan. Dalam konteks Islam, prinsip-prinsip syariah seperti maqasid al-shariah, adab medik, dan makna menjaga kehormatan serta martabat pasien membentuk kerangka komunikasi antara tenaga medis Muslim dan pasien. Perbedaan budaya, keyakinan, dan nuansa hukum fiqh dapat mempengaruhi proses persetujuan, pemahaman informasi, serta kepercayaan terhadap institusi kesehatan. Beberapa kendala utama muncul meliputi variasi pemahaman mengenai hak informasi dan batas kedudukan keluarga dalam keputusan medis, interpretasi konsep keikhlasan, musyawah, dan wali/wali pasien mempengaruhi sejauh mana persetujuan bersifat independent, bahasa medis teknis yang kompleks serta penggunaan istilah yang tidak familier meningkatkan ketidakpastian pasien, kekhawatiran mengenai privasi, kerahasiaan, dan izin berbagi informasi di antara anggota tim multidisiplin, perbedaan pandangan terkait risiko dan manfaat intervensi yang dipahami secara berbeda antara nilai-nilai keagamaan dan bukti klinis. Strategi praktis yang disarankan meliputi penggunaan bahasa sederhana yang disesuaikan dengan konteks budaya, pelatihan komunikasi etika Islami bagi tenaga kesehatan, penyertaan unsur fiqh medik dalam prosedur informed consent, serta penggunaan media edukasi berbasis budaya (infografik dan video pendek) yang menekankan maqasid al-shariah berupa perlindungan nyawa, akal, keturunan, agama, dan harta.
Konsep Hakikat Manusia dalam Islam: Telaah Atas Potensi Fitrah dan Tanggung Jawab Khalifah Sari, Yulia; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1524

Abstract

Hakikat manusia merupakan salah satu kajian fundamental dalam Islam yang mencakup pemahaman mengenai potensi, tujuan penciptaan, serta peran manusia di muka bumi. Artikel ini membahas konsep hakikat manusia berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, dengan fokus pada potensi fitrah sebagai kecenderungan alami menuju kebenaran dan peran manusia sebagai khalifah yang mengemban amanah untuk memakmurkan bumi. Melalui pendekatan teologis dan filosofis, kajian ini menegaskan bahwa manusia memiliki struktur eksistensial yang terdiri atas jasad dan ruh, diberkahi akal sebagai instrumen berpikir dan kebebasan memilih yang menjadikannya bertanggung jawab secara moral dan spiritual. Konsep manusia sebagai ‘abdullah menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus tunduk dan mengabdi kepada Allah, sementara konsep khalifah memberikan tanggung jawab besar bagi manusia dalam menjaga keseimbangan alam dan membangun peradaban yang berkeadilan. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman komprehensif tentang hakikat manusia dalam Islam memiliki implikasi signifikan terhadap pembentukan karakter, arah pendidikan, dan strategi pembangunan sosial di era modern. Dengan demikian, Islam menawarkan paradigma kemanusiaan yang utuh dan harmonis untuk menjawab berbagai krisis moral dan spiritual global.
Dialektika Akal dan Wahyu: Pemikiran Filosofis Tentang Keimanan dan Ketuhanan dalam Islam Alfian, Gt.; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1525

Abstract

Penelitian ini membahas dialektika akal dan wahyu dalam pemahaman keimanan dan ketuhanan berdasarkan pemikiran para filsuf Islam, khususnya Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan Mulla Sadra. Kajian dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Islam tidak memposisikan akal dan wahyu sebagai dua sumber yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami kebenaran ilahiah. Al-Farabi dan Ibn Sina menekankan peran akal sebagai instrumen rasional untuk mengenal Tuhan melalui pendekatan metafisik. Al-Ghazali memperlihatkan keterbatasan akal dan pentingnya wahyu serta pengalaman spiritual sebagai jalan ma’rifat. Ibn Rusyd menegaskan adanya harmoni akal dan wahyu karena keduanya berasal dari Tuhan yang sama. Mulla Sadra kemudian menawarkan sintesis yang lebih integratif melalui al-hikmah al-muta’aliyah, yang menggabungkan akal, spiritualitas, dan teks wahyu dalam pencarian kebenaran metafisik. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam Islam, keimanan yang kukuh membutuhkan dukungan rasionalitas, dan rasionalitas sejati harus sejalan dengan kebenaran wahyu. Dialektika akal dan wahyu menjadi fondasi epistemologis yang memperkaya pemahaman teologis mengenai eksistensi Tuhan dan hakikat keimanan dalam tradisi intelektual Islam.
Hukum Puasa Bagi Ibu Hamil dan Ibu Nifas dalam Perspektif Agama Islami, Husnul; Az-Zahra, Fatimah; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1526

Abstract

Penelitian ini membahas hukum puasa bagi ibu hamil dan ibu nifas dalam perspektif syariat Islam. Ibu hamil dan nifas memiliki kondisi fisiologis dan psikologis khusus yang memengaruhi kemampuan mereka untuk menjalankan puasa secara penuh. Ibu hamil diberikan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa apabila khawatir kesehatannya atau janinnya terganggu, sedangkan ibu nifas wajib berbuka selama masa pemulihan pasca-persalinan. Kajian ini menggunakan pendekatan library research dengan metode kualitatif deskriptif, menelaah Al-Qur’an, Hadis, pendapat ulama, dan literatur fikih modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syariat Islam menekankan prinsip kemudahan (taysir), rahmat (rahmah), dan perlindungan nyawa (hifzh al-nafs), sehingga ibu tetap dapat memenuhi kewajiban ibadah tanpa membahayakan kesehatan. Penggantian puasa (qada) atau pembayaran fidyah menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan kewajiban ibadah dengan kondisi nyata. Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi ibu, keluarga, dan tenaga medis dalam mendukung pelaksanaan puasa yang aman, bijaksana, dan penuh hikmah
Konsep dalam Kemanusiaan: Tinjauan Komparatif Sikap, Etika, Moralitas, Akhlak dan Ihsan Puspita, Yesa Rona; Paramitha; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1527

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membedah dan membandingkan lima konsep krusial dalam studi perilaku manusia: Sikap, Etika, Moralitas, Akhlak, dan Ihsan. Kelima konsep ini sering digunakan secara bergantian, namun memiliki domain operasional, sumber otoritas, dan tingkat kedalaman yang berbeda dalam membentuk kualitas individu. Metode yang digunakan adalah studi literatur deskriptif dengan penekanan pada pemisahan batas-batas konseptual di antara terminologi-terminologi tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa Sikap berada pada ranah psikologis-behavioral, Moralitas dan Etika membentuk kerangka normatif sosial dan rasional, sedangkan Akhlak dan Ihsan merepresentasikan dimensi internalisasi dan spiritualitas tertinggi. Pemahaman yang jelas atas perbedaan dan interkoneksi kelima konsep ini sangat esensial untuk pembangunan etika praktis dan pembentukan karakter yang komprehensif.
Memahami Hakikat dan Konsep Manusia Menurut Islam Anjeli, Susiama Putri; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1531

Abstract

Pemahaman tentang hakikat dan konsep manusia dalam Islam merupakan dasar utama dalam membangun paradigma kehidupan yang berlandaskan nilai ketuhanan. Islam menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki struktur multidimensional, terdiri dari unsur jasmani yang bersifat material dan unsur ruhani yang bersumber dari tiupan ruh Ilahi. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (ahsani taqwīm), dibekali akal, fitrah, serta kebebasan berkehendak untuk mengenal dan mengabdi kepada Allah. Kedudukan manusia sebagai ‘abd (hamba Allah) dan khalīfah (pemakmur bumi) menunjukkan bahwa seluruh aktivitas hidup harus berorientasi pada ibadah dan tanggung jawab moral. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman sistematis mengenai jati diri manusia menurut perspektif Islam, potensi yang dimiliki, serta implikasinya dalam membangun karakter dan arah kehidupan seorang Muslim. Dengan pendekatan deskriptif-analitis berbasis Al-Qur’an, hadis, dan pemikiran ulama, hasil kajian menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi mencapai derajat kemuliaan tertinggi ketika fitrah, akal, dan aspek spiritualnya digunakan sesuai tuntunan syariat. Konsep manusia dalam Islam tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga relevan dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan pembentukan moralitas umat di era modern.