cover
Contact Name
Muh. Mirwan Hariri
Contact Email
haririmirwan17@gmail.com
Phone
085655643187
Journal Mail Official
haririmirwan17@gmail.com
Editorial Address
Jalan Masjid No. 22, Kota Blitar, Jawa Timur Indonesia
Location
Kab. blitar,
Jawa timur
INDONESIA
MEKOMDA
ISSN : -     EISSN : 30645786     DOI : https://doi.org/10.28926/mekomda.v2i3
Core Subject : Education, Social,
Jurnal MEKOMDA : Media Komunikasi Dakwah merupakan jurnal Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Jurnal Media Komunikasi Dakwah menyediakan artikel ilmiah hasil penelitian empiris dan analisis-reflektif bagi para praktisi dan akademisi, yang diharapkan berkontribusi dalam mengembangkan teori dan mengenalkan konsep-konsep baru di bidang komunikasi penyiaran Islam dalam perspektif yang luas; Dakwah dan Penyiaran Islam, Media, Komunikasi Politik, Jurnalistik, Public Speaking. Jurnal Media Komunikasi Dakwah terbit secara berkala dalam kurun waktu 6 bulan sekali yakni Februari dan Agustus. Diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Indonesia.
Articles 42 Documents
DISKURSUS MASYARAKAT MADANI, CIVIL SOCIETY DAN KHAERU UMMAH Fauziah Ramdani
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.1725

Abstract

Civil society with its pluralism philosophically refers to a society that is in accordance with a strong frame of Islamic values The purpose of this research is to explore the relationship between the concepts of civil society, civil society, and khaeruh ummah in an Islamic context. Using library research with fifteen references, the study reveals several key findings. Firstly, civil society is seen as an ideal model practiced in Medina during the time of Prophet Muhammad, where pluralism and respect for differences were emphasised. Secondly, civil society and civil society have their own historical roots, although they share the common purpose of organizing social and state life. Thirdly, the desire to create a civilized and dignified society is closely connected to religion, which provides the main source of strength. Lastly, the concept of khaerul ummah, inspired by the verses of the Qur'an, serves as evidence of a civilized society that values humanism, freedom, and faith. Overall, this research highlights the importance of Islamic values in the formation of a pluralistic and dignified civil society.
Pemanfaatan Media Sosial YouTube Sebagai Media Pembelajaran dan Praktik Dasar Jurnalistik Muh. Mirwan Hariri
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 2 No. 2 (2024): Volume 2 NO 2 Agustus 2024
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v2i3.1788

Abstract

YouTube, sebagai salah satu platform media sosial terkemuka, banyak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, khususnya dalam konteks pendidikan jurnalistik. Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas YouTube dalam meningkatkan keterampilan dasar jurnalistik pada siswa. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menyoroti peran YouTube dalam memfasilitasi pembelajaran praktis, interaksi yang dinamis, dan penerapan pengetahuan teoretis dalam jurnalistik. Temuan menunjukkan bahwa YouTube berfungsi sebagai alat penting dalam menjembatani pemahaman teoretis dengan implementasi praktis, serta mendorong pendekatan inovatif dalam pendidikan jurnalistik.
Sejarah Dakwah Sufistik KH. Abdurrahim Pasuruan Melalui Tarekat Mahabbah dalam ISHARI Arif Muzayin Shofwan; Muh Mirwan Hariri
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 2 No. 2 (2024): Volume 2 NO 2 Agustus 2024
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v2i3.1798

Abstract

KH. Abdurrahim Pasuruan, through the Mahabbah congregation, cannot escape the role of his grandfather, KH. Abdurrahman and studied with Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya. This qualitative descriptive writing using library research reveals KH's Sufistic preaching. Abdurrahim Pasuruan through the Mahabbah congregation. This article finds the following things, including First, the Sufistic preaching of KH. Abdurrahim Pasuruan, through the Mahabbah order, came from his father, KH. Abdul Hadi, who is named after his grandfather, KH. Abdurrahman studied with Habib Syaikh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya. Second, during the time of KH. Abdurrahim, this Mahabbah order was formed in a forum called ISHARI which was founded on January 23, 1959. Third, the Mahabbah order in ISHARI teaches love for Allah SWT and Rasulullah SAW through reading the Book of Maulid Syaraf Al-Anam and the prayer-poems in the Book. Diwan Hadrah and several other reference books. Fourth, the Sufistic preaching of KH. Abdurrahim through the Mahabbah order in the ISHARI forum has been implemented by many Sufism experts such as Rabiah Al-Adawiyah, Ibrahim bin Adham, Sari As-Saqati, and others.
Implementasi Jurnalistik Dalam Penerapan Kode Etik di Media Sosial shofia rahma
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 2 No. 2 (2024): Volume 2 NO 2 Agustus 2024
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v2i3.1851

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi penerapan kode etik jurnalistik di media online, mengingat peranannya yang semakin penting dalam penyebaran informasi. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana media online menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam kode etik jurnalistik, seperti akurasi, keberimbangan, dan independensi, dalam proses produksi dan penyajian berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun banyak media online berusaha untuk mengikuti kode etik jurnalistik, terdapat tantangan terkait dengan verifikasi informasi, kecepatan publikasi, dan tekanan untuk menarik perhatian audiens. Penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan pelatihan bagi jurnalis serta penguatan mekanisme pengawasan redaksi untuk memastikan penerapan kode etik secara lebih konsisten dan efektif.
Strategi Perencanaan Dakwah: Menghadapi Perubahan Sosial di Era Globalisasi hariri mirwan; Shofia Rahmadani
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 2 No. 2 (2024): Volume 2 NO 2 Agustus 2024
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v2i3.2141

Abstract

Perubahan sosial akibat globalisasi menimbulkan tantangan baru dalam proses dakwah Islam, terutama dalam hal strategi komunikasi, nilai yang dihadapi, dan karakteristik mad’u yang semakin kompleks. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji teknik perencanaan dakwah yang efektif dalam menghadapi perubahan sosial di era globalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur sebagai metode pengumpulan data. Hasil kajian menunjukkan bahwa perencanaan dakwah yang responsif harus berbasis riset sosial, segmentasi mad’u, pemanfaatan teknologi digital, dan evaluasi berkelanjutan. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan strategis, adaptif, dan kontekstual dalam merancang program dakwah masa kini.
Dakwah Merealisasikan Ketakwaan Melalui Kitab Bidayatul Hidayah karya Syaikh Al-Ghazali Arif Muzayin Sofwan
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i1.2175

Abstract

Dakwah merealisasikan ketakwaan dapat dilakukan melalui berbagai macam cara, baik secara lahir maupun batin. Penelitian kualitatif dengan studi kepustakaan ini membahas tentang ajakan realisasi ketakwaan melalui Kitab Bidayatul Hidayah karya Syaikh Al-Ghazali. Teknik analisa datanya menggunakan analisis isi dengan memilah-milah hal-hal yang sesuai dengan fokus dan tujuan penelitian. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa ketaatan dengan realisasi menjalankan perintah Allah SWT dalam Kitab Bidayatul Hidayah karya Syaikh Al-Ghazali dilakukan mulai bangun tidur hingga terlelap tidur kembali, baik yang wajib maupun sunah, antara lain: saat bangun dari tidur, ketika masuk dan keluar kamar kecil, ketika berwudlu, mandi, bertayamum, pergi ke masjid, saat masuk ke dalam masjid, waktu mulai matahari terbit hingga terbenam, ketika bersiap melakukan shalat, saat tidur, shalat, menjadi imam dan makmum, saat hari Jumat, dan ketika berpuasa. Selain itu, realisasi ketakwaan dengan menjaga larangan Allah SWT terbagi menjadi dua, yaitu lahir dan batin. Menjaga larangan yang lahir dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan menjaga mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, kedua tangan, dan kedua kaki. Sedangkan ketakwaan menjaga larangan yang batin dapat dilakukan dengan membersihkan hati dengan beberapa cara, yaitu membasmi sifat iri dengki, sifat pamer, dan sifat sombong. Kata kunci: Realisasi; Ketakwaan; Kitab Bidayatul Hidayah; Syaikh Al-Ghazali
Film Dokumenter Wayang Sarip sebagai Arsip Komunikasi Visual dan Ingatan Kolektif M. Andi Fikri; Joko Susilo
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2206

Abstract

Di era digital, dokumenter film berperan tidak hanya sebagai representasi realitas, tetapi juga sebagai arsip komunikasi visual yang membentuk memori kolektif masyarakat. Penelitian ini fokus pada film dokumenter Wayang Sarip, yang merekam pertunjukan wayang Jekdong sebagai ekspresi budaya lokal Jawa Timur di luar arus utama tradisi keraton. Tujuan penelitian adalah memahami bagaimana dokumenter ini berfungsi sebagai arsip visual sekaligus media penyiaran nilai budaya dan spiritual dalam perspektif Komunikasi Penyusunan Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika visual dan observasi digital. Adegan kunci, seperti tokoh wayang Sarip, ornamen, tata cahaya, dan iringan gamelan, dianalisis sebagai unit tanda, sementara distribusi film di YouTube ditelaah untuk melihat bagaimana arsip ini diterima publik. Validitas temuan diperkuat melalui triangulasi dengan wawancara pembuat film dan telaah literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Wayang Sarip berfungsi sebagai arsip hidup yang tidak hanya mendokumentasikan tradisi, tetapi juga membuka ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini mengusulkan konsep baru, yakni dokumenter sebagai arsip dakwah visual, yaitu praktik komunikasi yang mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penyiaran nilai moral dan spiritual dan film dokumenter digital berpotensi menjadi medium strategi untuk melestarikan tradisi, literasi budaya, sekaligus dakwah budaya di era digital. Kata kunci: Film Dokumenter; Wayang Sarip; Komunikasi Visual; Dakwah Budaya; Arsip Digital
Wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat Arif Muzayin Shofwan; Muh. Mirwan Hariri; M. Abdul Rouf; Fuad Ngainul Yaqin
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2498

Abstract

Abstract Sunan Kalijaga memiliki murid bernama Sunan Tembayat sebagai penerus keilmuannya. Penelitian deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan ini membahas wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat. Teknik analisanya menggunakan analisis isi dengan memilah-milah data sesuai dengan fokus penelitian. Tulisan ini menghasilkan kesimpulan bahwa beberapa wejangan Sunan Kalijaga kepada Sunan Tembayat, antara lain: (1) wejangan Patembayatan, yakni agar setiap orang tidak merasa sombong terhadap sesama, harus saling menghormati dan menghargai tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, kulit, dan semacamnya; (2) wejangan Pambukaning Tata Malige Baitul Muharam, yakni ilmu rasa (batin) yang berguna untuk merasakan empati terhadap semua lapisan masyarakat, tanpa memandang perbedaan agama, golongan, budaya, ras, dan semacamnya. Dengan empati menjadikan manusia tidak merasa ajarannya paling benar di hadapan Tuhan, sementara ajaran lainnya salah; (3) wejangan Sangkan Paraning Dumadi, yakni ilmu yang menjelaskan bahwa semua ini milik Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan; dan (4) wejangan Sekar Telon, yakni berupa: bunga mawar, artinya simbol dari berwarna-warna suku, budaya, agama, dan semacamnya; bunga kenanga, artinya bisa melakukan begini dan begitu; dan bunga kantil, artinya hendaknya selalu bergantung kepada Tuhan dan persatuan semua bangsa. Kata kunci: Wejangan; Sunan Kalijaga; Sunan Tembayat
ANTARA IMAJINASI DAN REALITA: ANALISIS SEMIOTIKA ANIMASI BRAINROT DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI ISLAM Desnas Artanti
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v1i1.2508

Abstract

Abstract Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi nilai-nilai komunikasi Islam dalam fenomena animasi digital Brainrot yang tengah populer di media sosial. Pendekatan yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes dengan mengkaji makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya yang muncul dalam video Brainrot di TikTok dan YouTube Shorts. Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan fokus pada interpretasi simbol visual, suara, dan teks yang merefleksikan nilai moral dalam komunikasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brainrot merepresentasikan bentuk komunikasi digital yang kehilangan arah moral dan spiritualitas. Dominasi unsur humor absurd, visual hiperaktif, dan pesan instan menggambarkan krisis makna komunikasi di era modern. Dalam perspektif Islam, fenomena ini bertentangan dengan prinsip qaulan sadidan (perkataan benar), tabayyun (verifikasi), dan niyyah (niat tulus) sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab. Analisis ini menemukan bahwa integrasi etika Islam dalam budaya digital penting untuk membangun komunikasi yang bermakna, berkeadaban, dan manusiawi. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi komunikasi Islam yang adaptif terhadap dinamika media digital serta menawarkan kerangka etik dalam menghadapi konten hiburan yang destruktif secara moral. Kata Kunci: komunikasi Islam, semiotika, Brainrot, budaya digital, etika komunikasi Abstract This study aims to analyze the representation of Islamic communication values in the phenomenon of Brainrot digital animation that has recently become popular on social media. The approach employed is Roland Barthes’ semiotic analysis, examining denotative, connotative, and cultural myth meanings that emerge in Brainrot videos on TikTok and YouTube Shorts. This research adopts a descriptive qualitative method, focusing on the interpretation of visual symbols, sound, and textual elements that reflect moral values in digital communication. The findings indicate that Brainrot represents a form of digital communication that has lost its moral direction and spiritual depth. The dominance of absurd humor, hyperactive visuals, and instant messaging reflects a crisis of meaning in contemporary communication. From an Islamic perspective, this phenomenon contradicts the principles of qaulan sadidan (truthful speech), tabayyun (verification), and niyyah (sincere intention), as elaborated in Quraish Shihab’s Tafsir al-Misbah. This analysis reveals that the integration of Islamic ethics into digital culture is essential for fostering meaningful, ethical, and humane communication. This study contributes to the development of Islamic communication studies that are adaptive to the dynamics of digital media and offers an ethical framework for responding to morally destructive entertainment content. Keywords: Islamic communication, semiotics, Brainrot, digital culture, communication ethics
"PERSEPSI DAN PENGALAMAN SISWA SMA DALAM MENGHADAPI KONTEN NEGATIF DAN HOAX DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS BERBASIS ETIKA PENYIARAN ISLAM.: "PERSEPSI DAN PENGALAMAN SISWA SMA DALAM MENGHADAPI KONTEN NEGATIF DAN HOAX DI MEDIA SOSIAL: ANALISIS BERBASIS ETIKA PENYIARAN ISLAM. hariri mirwan; A. Fikri Amiruddin Ihsani; Enggal Chairyadi Mulyono
Mekomda: Media Komunikasi Dakwah Vol. 3 No. 2 (2025): Volume 3 Number 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/mekomda.v4i2.2519

Abstract

RINGKASAN Penelitian berjudul "Persepsi dan Pengalaman Siswa SMA dalam Menghadapi Konten Negatif dan Hoax di Media Sosial: Analisis Berbasis Etika Penyiaran Islam" bertujuan untuk menggali secara mendalam bagaimana siswa sekolah menengah atas (SMA) memahami dan berinteraksi dengan konten negatif serta hoaks di media sosial, dengan menganalisis respons mereka melalui lensa etika kepenyiaran Islam. Siswa SMA merupakan generasi yang sangat akrab dengan media digital, dengan rata-rata penggunaan media sosial lebih dari empat jam sehari, menjadikan platform ini sebagai bagian integral dari gaya hidup dan sumber informasi utama mereka. Namun, keterlibatan intensif ini juga mengekspos mereka pada berbagai risiko, termasuk penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten negatif, serta isu privasi dan keamanan data. Penelitian ini akan menjawab pertanyaan kunci mengenai bagaimana siswa SMA memandang prevalensi dan dampak konten negatif/hoaks terhadap kesejahteraan mereka. Data awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (51%) merasa bebas mengunggah apa pun ke media sosial karena menganggapnya sebagai hiburan dengan akses mudah, yang mengindikasikan potensi kurangnya kesadaran akan tanggung jawab etis dan implikasi hukum (misalnya, UU ITE). Selain itu, ada kekhawatiran tentang kurangnya mekanisme penyaringan dan pemahaman kritis terhadap konten media. Selanjutnya, penelitian ini akan mengidentifikasi strategi yang digunakan siswa untuk mengatasi atau menyaring konten tersebut, dan menganalisis keselarasan strategi ini dengan pedoman etika Islam. Etika kepenyiaran Islam menekankan prinsip-prinsip seperti kebijaksanaan (hikmah), kebenaran (tabayyun), larangan fitnah, ghibah, dan namimah, serta pentingnya menggunakan teknologi untuk kebaikan (amar ma'ruf nahi munkar). Prinsip-prinsip ini sangat relevan dalam membimbing perilaku digital yang bertanggung jawab, termasuk memverifikasi informasi sebelum berbagi dan menghindari penyebaran kebohongan atau ujaran kebencian. Dengan menganalisis persepsi dan pengalaman siswa melalui kerangka etika Islam, penelitian ini berupaya memahami tidak hanya apa yang mereka lakukan, tetapi juga mengapa mereka melakukannya, serta bagaimana nilai-nilai agama dapat memperkuat literasi digital dan etika bermedia sosial di kalangan generasi muda.