cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil USU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 574 Documents
STABILISASI TANAH LEMPUNG DENGAN MENGGUNAKAN ABU VULKANIK DITINJAU DARI NILAI UNCONFINED COMPRESSION TEST Ronny Hutauruk
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.879 KB)

Abstract

Abstrak Tanah mempunyai peranan yang sangat penting sebagai media timbunan jalan raya (sub grade). Kondisi tanah di setiap tempat berbeda karena tanah merupakan material yang sangat bervariasi. Apabila suatu tanah yang terdapat di lapangan bersifat sangat lepas atau sangat lunak sehingga tidak sesuai untuk pembangunan, maka tanah tersebut antara lain distabilisasi. Bahan tambah yang biasa digunakan untuk stabilisasi tanah antara lain, semen, kapur, abu terbang, abu sekam padi, dan lainnya. Dalam penelitian ini digunakan penambahan abu gunung vulkanik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai Index Propertis dan nilai Kuat Tekan maksimum dengan pengujian Unconfined Compression Test akibat penambahan abu gunung vulkanik sebagai bahan stabilisasi beserta kadar optimum penambahannya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa sampel tanah asli memiliki Kadar Air 14,52%; Berat Spesifik 2,64%; Batas Cair 48,64% dan Indeks Plastisitas 29,82%. Kemudian nilai Kuat Tekan 1,40 kg/cm2. Berdasarkan klasifikasi USCS, sampel tanah tersebut termasuk dalam jenis (CL) sedangkan berdasarkan klasifikasi AASHTO, sampel tanah tersebut termasuk dalam jenis A-7-6. Setelah tanah distabilisasi dengan berbagai variasi abu gunung vulkanik diperoleh kesimpulan bahwa nilai yang paling maksimum terjadi pada variasi campuran 11% Abu Gunung Vulkanik yaitu dengan nilai Kuat Tekan Bebas sebesar 2.32 kg/cm².   Kata kunci: lempung, abu gunung vulkanik, stabilisasi tanah, kuat tekan bebas.
MECHANICAL DAN PHYSICAL PROPERTIES KAYU RAMBUNG SEBELUM DAN SESUDAH PENGAWETAN SESUAI DENGAN SNI NO. 03 TAHUN 2002 Sinintia Arissa
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1206.321 KB)

Abstract

ABSTRAK Kayu merupakan bahan bangunan yang mudah diperoleh dan relative murah. Namun, dalam hal ini tidak semua kayu memiliki keawetan yang baik. Bahkan, sebagian besar jenis kayu yang ada tidak mempunyai keawetan seperti yang  dikehendaki. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah melalui pengawetan. Pengawetan kayu ini bertujuan untuk memperpanjang umur pakai, dengan demikian mengurangi biaya akhir dalam produk dan menghindari penggantian yang terlalu sering dalam konstruksi yang menggunakan kayu tersebut. Pada penelitian ini, kayu yang digunakan adalah kayu rambung. Kayu rambung tersebut akan dibentuk sesuai dengan ketentuan benda uji Standar Nasional Indonesia (SNI) no. 03 tahun 2002. Kayu yang sudah dibentuk lalu diawetkan menggunakan bahan pengawet Asam Borat dengan konsentrasi 10 %. Kayu yang tidak mengalami pengawetan dan yang mengalami pengawetan diuji Physical Properties dan Mechanical Propertiesnya menggunakan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI) no. 03 Tahun 2002. Dari hasil penelitian didapat bahwa kayu rambung tanpa mengalami pengawetan terletak pada kelas kuat II dengan kadar air sebesar 10,434 %, berat jenis sebesar 1,208 gr/mm3 dan penyusutan sebesar 5,237 %, kuat tarik sejajar serat sebesar 46,94 Mpa, kuat tarik tegak lurus serat sebesar 1,96 Mpa, kuat lentur sebesar 49,49 Mpa, kuat geser sebesar 4,92 Mpa, kuat tekan sejajar serat sebesar 39,26 Mpa, dan kuat tekan tegak lurus serat sebesar 18,96 Mpa. Sementara kayu rambung yang mengalami pengawetan terletak pada kelas kuat I dengan kadar air sebesar 18,053 %, berat jenis sebesar 1,399 gr/mm3 dan penyusutan sebesar 6,562 %, kuat tarik sejajar serat sebesar 50,14 Mpa, kuat tarik tegak lurus serat sebesar 2,03 Mpa, kuat lentur sebesar 50,67 Mpa, kuat geser sebesar 6,64 Mpa, kuat tekan sejajar serat sebesar 40,64 Mpa dan kuat tekan tegak lurus serat sebesar 19,26 Mpa. Kata Kunci : Kayu Rambung, SNI no. 03 tahun 2002, Physical Properties, Mechanical Properties.
PENGARUH ABU AMPAS TEBU SEBAGAI BAHAN TAMBAH SEMEN TERHADAP SIFAT – SIFAT MEKANIK BETON DENGAN MENGGUNAKAN PASIR SIANTAR Steven A T M Rajagukguk
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.198 KB)

Abstract

AbstrakBeton merupakan bahan utama yang paling populer dan paling banyak digunakan sebagai bahan konstruksi struktur bangunan di seluruh dunia. Pasir Siantar merupakan pasir yang tersedia di Kota Pematang Siantar. Pasir ini berjenis pasir kuarsa yang memiliki karakterisitik yang berbeda dengan pasir biasa yang digunakan pada campuran beton. Abu ampas tebu yang berasal dari Pabrik Gula Kwala Madu Langkat merupakan limbah yang memiliki kandungan silika yang tinggi yaitu sebesar 75,82%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan abu ampas tebu sebagai bahan tambah semen dengan variasi penambahan abu ampas tebu sebesar 0%, 5%, 7,5%, 10%, dan 12,5% dari total berat semen. Mutu beton yang direncanakan adalah 20 Mpa dengan jumlah benda uji 75 buah, dengan menggunakan benda uji silinder dengan ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh abu ampas tebu terhadap absorbsi, kuat tekan, kuat tarik belah, dan elastisitas beton yang menggunakan Pasir Siantar, yang dilakukan pengujian pada umur beton 28 hari. Hasil pengujian yang didapat adalah variasi penambahan 5% abu ampas tebu mengalami peningkatan pada pengujian absorbsi, kuat tekan, kuat tarik belah, dan elastisitas beton. Nilai absorbsi beton menurun seiring bertambahnya kadar abu ampas tebu pada campuran beton.Kata kunci: beton, semen, Pasir Siantar, abu ampas tebu
STUDI PENENTUAN NILAI MODULUS KEKAKUAN ASPAL BETON TIPE AC-WC Tommy Diaz Iskandar
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.096 KB)

Abstract

ABSTRACTModulus kekakuan adalah hubungan tegangan dan regangan yang menunjukkan kekakuan dari suatu bahan. Modulus kekakuan merupakan faktor yang sangat penting yang akan mempengaruhi kinerja perkerasan aspal. Jika nilai modulus kekakuan menurun maka akan terjadi penuaan aspal yang menyebabkan perkerasan mudah retak saat menerima beban yang berat. Lapis Permukaan (AC-WC) mempunyai nilai modulus kekakuan 1100Mpa. Tingginya nilai modulus kekakuan menyebabkan beton aspal lebih kaku dan tahan terhadap lendutan. Penelitian ini merupakan kajian eksperimental yang dilakukan di laboratorium AMP Rapi Arjasa dan Laboratorium Perkerasan Jalan Raya Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah metode Brown and Brunton, Shell Bitumen dan Marshall Test. Campuran aspal merupakan jenis AC-WC dengan penetrasi 60/70 berdasarkan Kadar Aspal Optimum (KAO) 5,84%. Benda uji dibuat dengan temperatur standar yaitu 60oC dan beberapa variasi temperatur yaitu 30oC, 40oC, 50oC, 70oC dan 80oC. Nilai modulus kekakuan yang diperoleh dari metode Brown and Brunton, Shell Bitumen dan Marshall Test pada temperatur standar 60oC yaitu 1374,93Mpa, 235,45Mpa dan 254,96Mpa. Nilai modulus kekakuan akan menurun seiring bertambahnya temperatur aspal beton. Nilai modulus kekakuan yang dihasilkan tetap harus divalidasi lagi dengan alat resmi yaitu Universal Material Testing Apparatus (UMATTA). Kata Kunci : : modulus kekakuan, aspal beton AC-WC, Brown and Brunton, Shell Bitumen, Marshall Test.
PERBANDINGAN PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG SECARA ANALITIS DENGAN METODE ELEMEN HINGGA PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN PALUH SEBRAS DI ABUTMEN 1 Uke G Parhusip
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.201 KB)

Abstract

ABSTRAK Pondasi adalah bagian pada bangunan bawah tanah (substructure) dari suatu konstruksi yang berguna untuk meneruskan beban konstruksi dari bangunan atas (upper structure) dan beban lainnya seperti gempa, angin dan lainnya ke lapisan tanah di bawah pondasi tersebut.Pondasi tiang atau dikenal dengan pondasi dalam, berfungsi untuk memikul dan menahan beban yang bekerja baik berupa beban konstruksi di atasnya, beban angin maupun beban gempa dan meneruskannya ke lapisan tanah yang keras. Setiap pondasi harus mampu mendukung beban sampai batas keamanan  yang telah ditentukan, termasuk mendukung beban maksimum yang mungkin terjadi sehingga dalam perencanaan pondasi tiang harus dilakukan dengan baik dan teliti. Pada Proyek Pembangunan Jembatan Paluh Sebras Sta.40+930 di Jalan Bebas Hambatan Medan – Kualanamu, akan dilakukan pencarian nilai daya dukung aksial perencanaan pondasi tiang pancang berdasarkan data SPT memakai metode Mayerhoff, data Kalendering memakai metode ENR dan Danish dan dengan Metode Elemen Hingga dengan menggunakan program. Daya dukung lateral menggunakan metode Broms. Selain itu dilakukan juga perhitungan terhadap penurunan elastis tiang pancang yang terjadi. Metode pengumpulan data adalah dengan melakukan observasi lapangan serta pengambilan data dari perusahaan jasa pemancangan. Perhitungan daya dukung aksial tiang pancang berdasarkan data SPT dengan Metode Mayerhoff pada titik Bore Hole 1 adalah 180,06 Ton dengan daya dukung ijin sebesar 72,02 Ton. Nilai ini sedikit berbeda dari hasil perhitungan menggunakan data kalendering dengan metode ENR yaitu sebesar 210,04  Ton dengan daya dukung ijin sebesar 84,019 Ton. Sedangkan hasil dari metode Danish didapat sebesar 304,07 Ton dengan daya dukung ijin sebesar 121,63 Ton. Daya dukung lateral berdasarkan Metode Broms pada Bore Hole 1 secara analitis adalah 10,58 Ton dan secara grafis adalah 10,695 Ton. Besar penurunan elastis pada tiang yang terjadi berdasarkan metode Poulus-davis adalah 2,38 cm dan berdasarkan Metode Elemen Hingga dari program Metode Elemen Hingga sebesar 2,42 cm. Perbedaan daya dukung dan penurunan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan jenis tanah, cara pelaksanaan pengujian yang bergantung pada ketelitian operator dan perbedaan parameter yang digunakan dalam perhitungan. Kata Kunci :Kapasitas Daya Dukung, SPT , Kalendering,Metode Elemen Hingga
ANALISIS SPASIAL POTENSI BANJIR PADA DAS BELAWAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( SIG ) Reno Sulbakti
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK DAS Belawan terbentang pada 3° 15' 49,83'' s/d 3° 50' 38,89'' garis Lintang Utara dan meridian  98° 29' 58,56''   s/d 98° 43' 21,76'' Bujur Timur. Pada DAS Belawan hampir setiap tahunnya mengalami banjir pada umumnya terjadi pada bulan Desember - Februari, yaitu pada saat curah hujan tertinggi pada setiap tahunnya sehingga, mengakibatkan meluapnya air pada penampang sungai yang tidak mampu menampung curah hujan yang tinggi. Penelitian menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetik Nakayasu untuk menganalisa tinggi muka air banjir pada DAS belawan  digunakan  Software HEC-RAS maka  diperoleh  tinggi  muka  air  banjir dan   luas   daerah   genangan banjir dari data yang digunakan adalah data sekunder kemudian   dianalisis berdasarkan analisis hidrologi dan analisis hidrolika. Analisis Daerah genangan dengan sistem informasi geografis yang diprediksi dengan menggunakan software ArcGIS dengan mengintegasikan peta DEM (Digital Elevation Model ), Peta digital infrastruktur, dan Peta sungai dalam kondisi banjir yang dianalisa menggunakan software HEC-RAS. Selanjutkan Mengidentifikan kerugian akibat bajir dengan acuan Laporan Bappenas Penilaian kerusakan kerugian Jabodetabek 2007 dan Infrastruktur yang terkena dampak banjir. Dari hasil analisa diperoleh tinggi banjir dan luas genangan banjir adalah Tinggi muka air Q25 = 2 m dengan  genangan = 40,33 km2, tinggi muka air Q50 = 3 m dengan genangan = 86,38 km2, tinggi muka air Q100 =5 m dengan genangan = 148,43 km2. Kerugian Penduduk terkena banjir adalah  Banjir  kala ulang 100 tahun Kota Medan Rp 245.143.341,030,- dan Kabupaten Deli Serdang Rp 143.488.457.383, Banjir  kala ulang 50 tahun Kota Medan Rp 168.631.629.991 dan Kabupaten Deli Serdang Rp 76.460.971.106, Banjir  kala ulang 25 tahun Kota Medan Rp 62.938.872.530 dan Kabupaten Deli Serdang Rp 36.088.869.943. Infrastruktur transportasi Terkena Banjir Sungai Belawan pada Kala ulang 100 tahun yaitu 14 Jalan Arteri dan 1 Rel Kreta, Kala ulang 50 Tahun yaitu 13 Jalan Arteri dan 1 Rel Kreta, Kala ulang 25 Tahun yaitu 6 Jalan Arteri dan 1 Rel Kreta. Kata kunci : Das Belawan, HEC-RAS, HSS Nakayasu, GIS
PENERAPAN METODE KONSEP NILAI HASIL (EARNED VALUE CONCEPT) DALAM PENGENDALIAN PROYEK Fauzy Nasution
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.879 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengendalian dalam proyek merupakan fungsi paling pokok dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi. Pengendalian sebagai alat untuk membantu mengendalikan proyek, membantu pelaksanaan dan penyelesaian dalam suatu proyek konstruksi. Pelaksanaan suatu proyek umumnya sering terjadi penyimpangan-penyimpangan dimana biaya yang dikeluarkan dan jadwal yang direncanakan melampaui batas yang direncanakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pengendalian proyek dengan metode nilai hasil pada proyek konstruksi yang ditinjau, apakah pelaksanaan proyek sesuai dengan waktu dan biaya yang direncanakan. Metode nilai hasil merupakan pengembangan teknik Grafik “S” sampai mampu menganalisis varians biaya secara stimulant sehingga dapat melihat kemajuan proyek dari jadwal dengan anggaran yang telah dialokasikan. Metode nilai hasil ini mencakup rencana anggaran dan biaya (RAB), analisa harga satuan serta laporan kemajuan proyek diolah untuk mendapatkan BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule), ACWP (Actual Cost of Work Performance), dan BCWP (Budgeted Cost of Work Performance). Dari hasil penerapan metode nilai hasil diketahui sampai hasil tinjauan pada minggu ke – 14 didapatkan BCWS = Rp 519,698,609.00; ACWP = Rp 520,639,330.00; BCWP = Rp 1,757,107,020.00; sedangkan varian biaya (CV) hingga minggu ke 14 adalah positif (+) sedangkan varian jadwal (SV) adalah negative (-). Dan dapat diketahui perkiraan biaya akhir proyek EAC (Estimate At Complete) adalah Rp 3,473,268,520.00 dengan anggaran rencana sebesar Rp 3,400,501,270.00. Dari hasil diketahui pekerjaan selesai terlambat dan memakan biaya lebih. Kata kunci : Pengendalian, Metode Nilai Hasil, BCWS, ACWP, BCWS
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB COST OVERRUN PADA KONSTRUKSI GEDUNG DI KOTA MEDAN Alfin Khoir Marpaung
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.533 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu kota yang sedang berkembang adalah kota medan, kota medan sebagai salah satu kota metropolitan untuk mewujudkan jati dirinya sebagai kota metropolitan, maka banyak kita lihat pembangunan – pembangunan di segala bidang. Rendahnya nilai produktivitas tenaga kerja di kota medan serta kondisi lahan yang tidak sesuai dengan perencanaan akan menimbulkan resiko-resiko pada perencanaan pembangunan proyek konstruksi gedung, semakin besar proyek maka akan semakin besar resiko pembengkakan biayanya, Agar nilai cost overrun bisa diperkecil pada proyek berikutnya, maka perlu mengetahui penyebab dominan terjadinya cost overrun yang ditinjau dari segi perencanaan dan pelaksanaan, koordinasi sumber daya, pengendalian biaya dan waktu. dari kontraktor, sehingga proses konstruksi berjalan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab cost overrun pada konstruksi gedungdi kota Medan. Penelitian ini dilakukan dengan cara membagikan 41 kuesioner kepada kontraktor, konsultan dan pemilik yang sedang atau pernah menangani proyek konstruksi gedung di kota medan. Data yang telah diperoleh diolah dengan bantuan komputer dengan program SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 20. Dari analisis data yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa tingkat reabilitas dari 41 kuesioner yang disebar, terdapat enam kuesioner yang tidak reliable dan 35 kuesioner yang reliable. Juga didapat hasil validitas dari variabel – variabel penyebab Cost overrun sebesar 43 % sedangkan tingkat variabel yang saling berkorelasi antara variabel bebas dan terikat sebesar 40%. Kata Kunci : Pembengkakan Biaya, Konstruksi Gedung, Faktor-Faktor
Analisis Penerapan Sistem Penjadwalan CPM, PERT, Dan LOB Pada Penjadwalan Proyek (Studi Kasus : Pembangunan Gedung Kantor PT. Jasa Asuransi Indonesia – Pematang Siantar) M. Aryansyah Alwi
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.885 KB)

Abstract

Abstrak Dalam proyek konstruksi dikenal adanya suatu proses penjadwalan yang merupakan faktor penting dalam memastikan keberhasilan dalam suatu proyek konstruksi. Penjadwalan itu sendiri dapat didefinisikan sebagai salah satu bagian dari kegiatan perencanaan yang menentukan urutan serta durasi pekerjaan dalam suatu proyek, dan menunjukkan informasi tentang biaya, tenaga kerja, peralatan dan material serta progres penyelesaian proyek. Tugas akhir ini menerapkan metode CPM, PERT, dan LoB pada penjadwalan proyek dimana awalnya proyek direncanakan dengan menggunakan metode Bar Chart. Untuk metode LoB dilakukan penyederhanaan hierarki kegiatan sehingga memudahkan untuk dilakukan analisa konflik setelah dilakukan penggambaran ke dalam diagram garis. Dalam metode CPM dan PERT digunakan network diagram dengan pendekatan Activity On Arrow (AOA) agar didapat urutan kegiatan proyek. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode CPM didapatkan durasi keseluruhan kegiatan proyek adalah 182 hari. Dengan menggunakan metode PERT didapatkan hasil bahwa probabilitas keberhasilan selesainya proyek dengan durasi 182 hari hanya 25,46%. Dengan menggunakan metode PERT didapat untuk probabilitas keberhasilan sebesar 80% diperlukan durasi pengerjaan selama 191 hari dan untuk tingkat keberhasilan sebesar 90% diperlukan durasi pengerjaan selama 194 hari. Dengan metode LoB, setelah dilakukan penggabungan aktifitas, analisa konflik dan penggambaran diagram didapat durasi akhir pekerjaan sebesar 182 hari. Kata Kunci : CPM, PERT, LoB, diagram network.
PENGGUNAAN METODE USLE DAN MUSLE DALAM ANALISA EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAS BELAWAN Anshar Raufan Adhirahman
Jurnal Teknik Sipil USU Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL USU VOLUME 6 NO. 1 TAHUN 2017
Publisher : Jurnal Teknik Sipil USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.185 KB)

Abstract

ABSTRAK DAS Belawan merupakan salah satu DAS yang memiliki peran penting di Provinsi Sumatera Utara dikarekan aliran DAS Belawan yang banyak melintasi kota dan kabupaten di Provinsi Sumatera Utara seperti kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, besarnya peran DAS Belawan terhadap kondisi daerah sekitarannya membuat diperlukannya analisa perkiraan erosi dan sedimentasi  yang terjadi pada DAS Belawan. Berdasarkan analisa yang dilakukan dengan menggunakan metode USLE dan MUSLE, maka diperoleh besar erosi per-Sub DAS Belawan, Belawan Hilir sebesar 10,43 ton/ha/thn, Belawan Hulu sebesar 28,31 ton/ha/thn, Belawan Tengah sebesar 7,05 ton/ha/thn, Belawan SeiTengah sebesar 5,63 ton/ha/thn, Belawan Krio sebesar 4,84 ton/ha/thn, dan Belawan Tuntungan sebesar 10,77 ton/ha/thn, Dengan total besar erosi yang terjadi pada DAS Belawan sebesar 67,05 ton/ha/thn, Serta menghasilkan laju sedimentasi sebesar 25505,83 ton. Kata Kunci : Erosi, USLE, Sedimentasi, MUSLE, DAS Belawan, Belawan. .