cover
Contact Name
-
Contact Email
bikkm@uii.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
bikkm@uii.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 14,5 Yogyakarta, Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 29886791     DOI : https://doi.org/10.20885/bikkm
Core Subject : Health,
We focus on publishing ethically and methodologically rigorous scientific research, including original research, literature reviews, and case reports in the medicine and public health field.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 1 (2023)" : 7 Documents clear
Gambaran Layanan dan Tren Keluarga Berencana dalam Meningkatkan Kebutuhan KB Tak Terpenuhi (Unmet Need) Selama Pandemi Covid-19: Sebuah Tinjauan Pustaka Elena Suci Rahmawati; Inas Muthia Afifi; Kusumawardani, Nindy Putri; Rissa Aprillia; Sekar Mayang Hapsari; Sri Winarni; Farid Agushybana; Cahya Tri Purnami
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art7

Abstract

COVID-19 telah dinyatakan WHO sebagai pandemi global yang mengganggu segala bidang kehidupan manusia. Hampir setiap negara merasa pelayanan kesehatan sebelum dan selama pandemi COVID-19 mengalami perubahan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelayanan KB dan Unmet Need (kebutuhan KB yang tak terpenuhi) selama pandemi COVID-19 dengan menggunakan metode Tinjauan Pustaka untuk mengidentifikasi semua literatur yang diterbitkan dengan kata kunci yang relevan. Berdasarkan hasil Kajian Pustaka yang dilakukan, faktor penyebab Unmet Need selama pandemi COVID-19 antara lain adanya lockdown dan pembatasan sosial, kurangnya kunjungan petugas PLKB ke rumah penduduk dan ketakutan tertular COVID-19 saat berkunjung ke fasilitas kesehatan. Pandemi COVID-19 berdampak pada pelayanan kontrasepsi yaitu penurunan peserta KB, perubahan penggunaan metode KB, terbatasnya akses pelayanan dan peningkatan penggunaan Telehealth (telekomunikasi kesehatan). Metode kontrasepsi yang meningkat selama pandemi COVID-19 adalah IUD, implan dan kondom. Di negara maju seperti Perancis, terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi oral (22%), kontrasepsi intrauterin LNG-IUS (9,5%), C-IUD (8,6%) dan penurunan tajam pada kontrasepsi implan. Di negara berkembang seperti Afrika Selatan, selama lockdown terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi suntik (45%), kontrasepsi implan (48%) dan kontrasepsi intrauterin IUCD (10%). Jadi, COVID-19 berdampak pada pelayanan KB, penurunan penggunaan alat kontrasepsi dan peningkatan Unmet Need baik di negara maju maupun negara berkembang.
Pemanfaatan Aplikasi Self-Care Ibu Hamil Selama Pandemi di Negara Maju dan Berkembang : Sebuah Tinjauan Pustaka Adillah Nurazizah; Diana Tri Hastuti; Layrine Immanuke Zalsabila; Mutiara Pradipta Nur'aini; Nisrina Ocktalifa Chumair; Cahya Tri Purnami; Winarni, Sri; Agushybana, Farid
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art6

Abstract

Kasus kematian ibu, bayi lahir prematur, serta keterbatasan akses perawatan intensif ibu hamil meningkat di masa pandemi Covid-19. Diperlukan sistem perawatan khusus bagi ibu hamil berupa aplikasi self-care, sehingga ibu hamil bisa melakukan perawatan mandiri tanpa harus datang ke pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah melihat bagaimana pemanfaatan aplikasi self-care selama pandemi Covid-19 di negara berkembang dan negara maju. Penelitian ini merupakan literature review dengan melakukan tinjauan pustaka di berbagai portal seperti Google scholar, Pubmed, dan ScienceDirect. Penyeleksian dimulai dari 1.604 artikel menjadi 702 hingga kemudian didapatkan hasil sebanyak 14 artikel. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya berbagai macam aplikasi self-care dari delapan negara, yaitu Indonesia, India, Amerika Serikat, Cina, Uganda, Iran, Rusia dan Inggris. Masing-masing aplikasi memiliki kekurangan dan kelebihan. Beberapa negara telah mengembangkan aplikasi self-care untuk memudahkan ibu hamil dalam mengakses berbagai informasi terkait kehamilannya sekaligus meningkatkan kemampuan ibu dalam menjaga kesehatannya.
Sumber dan Penggunaan Anggaran Kesehatan untuk Kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Esensial antara Puskesmas Tempel II dan Puskesmas Borobudur Sari, Nanda Kusuma; Sunarto, Sunarto
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art1

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang kesehatan dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) telah dijelaskan dalam peraturan Menteri kesehatan dimana sumber dana puskesmas berasal dari alokasi 5% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), 10% Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan pendapatan puskesmas. Perbedaaan aturan dan keadaan setiap daerah membuat kemungkinan realisasi dan penggunaan dana puskesmas berbeda.Tujuan: Mengetahui gambaran perbandingan sumber dan penggunaan dana dalam menjalalankan kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Esensial di Puskesmas Tempel II dan Puskesmas Borobudur. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data didapatkan dengan melihat dokumen pemasukan dan pengeluaran dana puskesmas serta laporan kegiatan puskesmas. Dokumen kemudian dianalisis dan dihitung presentasi pengalokasiannya. Selain itu, pengumpulan data juga didukung dengan menggali informasi data dari narasumber di puskesmas. Hal ini dilakukan dengan wawancara mendalam kepada narasumber.Hasil: Sumber dana puskesmas Tempel II berasal dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Subsidi Operasional Puskesmas (SOP), dan dana Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Sumber dana puskesmas Borobudur hanya berasal dari dana BOK dan BLUD. Penggunaan dana paling besar di Puskesmas Tempel II dialokasikan untuk kegiatan promosi kesehatan sedangkan penggunaan dana paling besar di Puskesmas Borobudur dialokasikan untuk kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).Kesimpulan: Terdapat perbedaan antara Puskesmas Tempel II Kabupaten Sleman dengan Puskesmas Borobudur Kabupaten Magelang dalam hal penerimaan sumber dana, mekanisme penerimaan dana, regulasi penggunaan dana berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan, alasan dalam pengalokasian dana, tingkat keberhasilan kegiatan, dan hambatan yang dialami puskesmas dalam melaksanakan kegiatan puskesmas.
Perbandingan Implementasi Kebijakan Anggaran dalam Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Puskesmas Gamping 1 dan Puskesmas Salaman 1 Zulfa, Farhah Lya; Sunarto
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art3

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan merupakan suatu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Kebijakan anggaran yang diturunkan oleh pemerintah diterima dengan jumlah berbeda antar daerah. Perbedaan tersebut disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing dan berpengaruh terhadap pelaksanaan program SPM di fasilitas kesehatan. Anggaran kesehatan dapat menjadi faktor pendukung maupun faktor penyulit dalam pelaksanaan SPM Bidang Kesehatan.Tujuan: Mengetahui perbandingan implementasi kebijakan anggaran dalam pelaksanaan SPM (Standar Pelayanan Minimal) bidang kesehatan di Puskesmas Gamping 1 dan Puskesmas Salaman 1.Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif pendekatan studi kasus dengan cara mengumpulkan dokumen dan dilakukan wawancara mendalam.Hasil: Pelaksanaan kebijakan perencanaan dan penganggaran pelaksanaan SPM di Puskesmas Gamping 1 dan Puskesmas Salaman 1 sesuai Permenkes Nomor 7 Tahun 2014. Puskesmas Gamping 1 berpedoman pada Permenkes Nomor 43 Tahun 2016 dalam pedoman SPM sedangkan Puskesmas Salaman 1 Permenkes No. 741 Tahun 2008 dan Permenkes Nomor 43 Tahun 2016. Terdapat perbedaan sumber pendapatan yaitu pendapatan murni puskesmas, BOK dan SOP sedangkan Puskesmas Salaman 1 BOK dan BLUD. Sebagian pendapatan digunakan untuk kegiatan SPM. Dalam pelaksanaanya tidak terdapat masalah dalam pendanaan program kegiatan SPM. Tidak tercapainya indikator SPM tidak hanya dipengaruhi oleh faktor anggaran melainkan kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia).Kesimpulan: Pelaksanaan implementasi kebijakan anggaran di Puskesmas Gamping 1 dan Puskesmas Salaman 1 mengacu Permenkes Nomor 7/2014. Faktor anggaran tidak menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan SPM walaupun terdapat perbedaan pendapatan. Kata Kunci: Kebijakan anggaran; SPM Kesehatan; Puskesmas
Tantangan Diagnosis Sirosis Hepatis Dekompensata Progresif Non-Viral dengan Sindrom Hepatorenal dan Spontaneus Bacterial Peritonitis (SBP): Sebuah Laporan Kasus Juwita, Rina; Lusiyana, Novyan
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art4

Abstract

Sirosis hepatis dekompensata progresif merupakan gambaran stadium akhir kondisi patologis hepar. Kondisi ini berlangsung progresif yang ditandai dengan perubahan struktur sel hepar berupa fibrosis hepar dan pembentukan nodul regeneratif. Manifestasi sirosis hepar disebabkan oleh hipertensi portal yang menyebabkan retensi cairan dan dilatasi pembuluh darah. Salah satu penyebab sirosis hepatis adalah kolelithiasis yang dapat mengakibatkan terjadinya obstruksi. Pada sirosis hepatis dekompensata dapat dapat terjadi kondisi akut yaitu ensefalopati hepatikum, pendarahan gastrointestinal karena pecahnya varises esofagus maupun penurunan fungsi ginjal atau sindroma hepatorenal. Kasus sirosis non-viral masih menjadi tantangan dalam menegakkan etiologi sirosis hepatis.
Hubungan Ureum dan Kreatinin Serum dengan Lamanya Terapi Hemodialisis pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis (PGK) di RS PKU Bantul Malfica, Muhammad Joddy; Rosita, Linda; Yuantari, Rahma
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art2

Abstract

Latar Belakang: Penurunan fungsi ginjal yang cukup berat dilihat dari peningkatan dua substansi kimia darah yaitu ureum dan kreatinin serum. Hemodialisis sebagai pengganti ginjal sementara dapat menurunkan kadar ureum dan kreatinin serum yang meningkat pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Semakin lamanya hemodialisis pada penyakit ginjal kronik diharapkan semakin terkontrol pula kadar ureum dan kreatinin pasien.Tujuan: Mengetahui apakah terdapat hubungan ureum dan kreatinin serum dengan lamanya hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronik di Rumah Sakit PKU Bantul D.I. Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasi dengan pendekatan cross sectional. analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dilakukan pada bulan November–Desember 2020 dengan sampel sebesar 50 orang yang menggunakan teknik consecutive sampling. Hasil: Nilai ureum dan kreatinin serum pada 50 subjek penelitian ditemukan berada pada kadar tinggi baik laki-laki maupun perempuan dengan nilai rerata ureum masing-masing (40,06 mg/dL & 35,59 mg/dL) dan nilai median kreatinin serum (3,05 mg/dL dan 2,28 mg/dL). Hubungan antara kadar ureum dan kreatinin serum dengan lamanya hemodialisis masing-masing didapatkan p = 0,980 dan p = 0,665.Simpulan: Tidak terdapat adanya hubungan yang bermakna antara ureum dan kreatinin serum dengan lamanya hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronik di RS PKU Bantul.   Kata kunci : Ureum; kreatinin; lama hemodialisis; pasien penyakit ginjal kronis
Pneumonia COVID-19 pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Asianotik: Sebuah Laporan Kasus Az Zahra, Afifah; Pratama, Yanasta Yudo; Febrina Lestari, Ade; Tyas, Humaera Elphananing; Dewi Sitoresmi Ayuningtyas, Raden Rara; Choironi, Emi Azmi
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/bikkm.vol1.iss1.art5

Abstract

Anak sebagai salah satu populasi beresiko tinggi terinfeksi COVID-19. Kasus rawat inap COVID-19 pada anak di Indonesia terus meningkat dan lebih besar persentasenya dibanding negara lain. Anak-anak dengan penyakit komorbid dapat memperparah gejala COVID-19 hingga menyebabkan kematian. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk melaporkan kasus Pneumonia COVID-19 disertai dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) asianotik untuk mendiskusikan kemungkinan diagnosis banding lain sebagai pemahaman dalam melakukan pengelolaan pasien dengan lebih optimal. Anak perempuan 13 tahun 6 bulan dirujuk ke Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada dengan keluhan utama sesak napas sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai nyeri perut, mual, muntah, dan berat badan susah naik beberapa bulan ini. Pasien memiliki gangguan jantung PJB asianotik ASD secundum dan VSD subaortic berdasarkan hasil echocardiography. Pemeriksaan fisik ditemukan penurunan saturasi, murmur holosistolik, dan nyeri tekan abdomen regio kanan dan kiri. Selama perawatan sesak semakin bertambah. Selama perawatan ditemukan leukositosis, neutrofilia, peningkatan NLR test, peningkatan PPT, penurunan APTT, hiponatremia, hipoksemia, hipoksia, alkalosis respiratorik, dan tes PCR positif Covid-19. Gambaran rontgen dada menunjukkan pneumonia dextra dan kardiomegali. Pasien dipasang ventilator mekanik selama perawatan di ruang isolasi PICU. Setelah 2 hari perawatan pasien mengalami henti jantung hingga meninggal. Anak dengan komorbid dan peningkatan CRP yang terinfeksi COVID-19 menyebabkan gejala yang berat dan serius. Telah dilaporkan seorang anak perempuan 13 tahun 6 bulan yang meninggal karena COVID-19. Meskipun pandemik COVID-19 sudah mereda, perlu meningkatkan kewaspadaan yang tinggi terhadap virus maupun bakteri lain terutama bagi populasi yang rentan terinfeksi.

Page 1 of 1 | Total Record : 7