cover
Contact Name
-
Contact Email
bikkm@uii.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
bikkm@uii.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 14,5 Yogyakarta, Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 29886791     DOI : https://doi.org/10.20885/bikkm
Core Subject : Health,
We focus on publishing ethically and methodologically rigorous scientific research, including original research, literature reviews, and case reports in the medicine and public health field.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2026)" : 15 Documents clear
Potensi Centella asiatica Sebagai Terapi Penyakit Alzheimer: Sebuah Tinjauan Pustaka Kuswati, Kuswati
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif progresif dan multifaktorial yang ditandai dengan hilangnya memori, perubahan kepribadian, serta penurunan fungsi kognitif yang signifikan. Seiring dengan kompleksitas faktor penyebabnya, penggunaan tanaman obat kini semakin diminati sebagai terapi komplementer dan alternatif, salah satunya adalah pegagan (Centella asiatica). Artikel ini bertujuan untuk menelaah potensi bioaktivitas Centella asiatica dalam terapi penyakit Alzheimer berdasarkan bukti-bukti eksperimental terkini. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis melalui basis data PubMed Central dengan rentang waktu publikasi tahun 2019 hingga 2024 dan kriteria akses teks lengkap gratis (free full text). Berdasarkan 11 artikel penelitian eksperimental yang dianalisis, studi pada hewan coba menunjukkan bahwa Centella asiatica dan senyawa aktifnya, asiaticoside, efektif dalam meningkatkan fungsi kognitif, menghambat stres oksidatif, memodifikasi metabolisme terkait Alzheimer, serta menekan neuroinflamasi. Kesimpulan dari tinjauan ini menegaskan bahwa Centella asiatica memiliki potensi neuroprotektif yang menjanjikan sebagai kandidat modalitas terapi untuk penyakit Alzheimer. Kata kunci: penyakit Alzheimer; Centella asiatica; fungsi kognitif; neuroprotektif; memori; stres oksidatif.
Formulasi dan Efektivitas Nanospray Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Terinfeksi Staphylococcus aureus: Sebuah Studi Eksperimental Diwana, Nida Khofiya Puspa; Marfu’ah, Nurul; Widyaratna, Indriyanti; Putri, Kayla Radina Dwi; Anjani, Hanifa Dyanti; Sari, Nandita Aprilia
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Luka pada pasien diabetes mellitus memiliki kerentanan tinggi terhadap infeksi bakteri Staphylococcus aureus, yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko amputasi dan kematian. Daun kersen (Muntingia calabura L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi, yang potensinya dapat dioptimalkan melalui sistem penghantaran obat nanospray untuk meningkatkan penetrasi zat aktif ke dalam jaringan kulit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik fisik formulasi nanospray ekstrak daun kersen dan mengevaluasi efektivitasnya dalam mempercepat penyembuhan luka diabetes yang terinfeksi bakteri pada hewan coba. Metode: Penelitian eksperimental laboratoris ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% (1:5) untuk ekstraksi daun kersen. Sediaan nanospray dibuat dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak: F1 (25 mg), F2 (50 mg), dan F3 (100 mg). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, pH, ukuran partikel, dan indeks polidispersitas. Uji efektivitas penyembuhan luka dilakukan secara in vivo pada tikus yang diinduksi aloksan dan dipaparkan S. aureus. Analisis data menggunakan One Way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil: Hasil evaluasi fisik menunjukkan seluruh formula homogen dengan rentang pH 4,7–6,2. Pengukuran ukuran partikel menunjukkan F1 dan F2 memenuhi kriteria nanometer (38,73–47,93 nm), sedangkan F3 berada di atas ukuran nano (>100 nm). Terdapat perbedaan signifikan konsentrasi ekstrak terhadap pH sediaan (p<0,05). Hasil uji in vivo membuktikan bahwa formula F2 memberikan efek penyembuhan luka diabetes yang paling signifikan (p<0,05) dibandingkan kelompok perlakuan lainnya. Simpulan: Sediaan nanospray ekstrak daun kersen memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan topikal. Formula F2 (50 mg) ditetapkan sebagai formula terbaik karena memiliki karakteristik ukuran partikel nano yang optimal serta efektivitas penyembuhan luka diabetes yang paling tinggi. Kata kunci: nanospray; daun kersen (Muntingia calabura L.); luka diabetes; Staphylococcus aureus; penyembuhan luka.
Formulasi dan Uji Evaluasi Sediaan Patch Transdermal Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica Val) dengan Penambahan Ekstrak Buah Lada Hitam (Piper nigrum L) Sebagai Bioehancer Rustiani, Erni; Kurniawati, Elly; Handayani, Marybet Tri Retno
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rimpang kunyit (Curcuma domestica Val) mengandung senyawa kurkumin yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan analgesik, namun penghantaran transdermal sering terkendala oleh rendahnya laju penetrasi menembus stratum korneum. Oleh karena itu, diperlukan strategi formulasi menggunakan bioenhancer alami, seperti ekstrak buah lada hitam (Piper nigrum L) yang mengandung piperin, untuk meningkatkan absorpsi perkutan zat aktif dalam sediaan patch. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan menentukan sediaan patch transdermal ekstrak rimpang kunyit terbaik dengan variasi konsentrasi bioenhancer ekstrak buah lada hitam yang mampu meningkatkan penetrasi kurkumin secara optimal. Metode: Sediaan patch diformulasikan dalam tiga variasi: F1 (tanpa bioenhancer), F2 (bioenhancer ekstrak lada hitam 5%), dan F3 (bioenhancer ekstrak lada hitam 10%). Evaluasi sediaan meliputi uji mutu fisik (organoleptis, pH, keseragaman bobot, ketebalan, ketahanan lipat) serta uji penetrasi in vitro menggunakan metode difusi Franz untuk mengukur profil permeasi. Hasil: Seluruh formula memenuhi persyaratan standar mutu fisik sediaan topikal. Hasil uji difusi Franz menunjukkan bahwa F3 (konsentrasi bioenhancer 10%) memberikan profil penetrasi paling unggul dibandingkan formula lainnya, dengan nilai jumlah kumulatif terpermeasi sebesar 62,626 μg/cm² dan nilai fluks mencapai 112,397 μg/cm².jam. Simpulan: Penambahan ekstrak buah lada hitam berfungsi efektif sebagai bioenhancer dalam sediaan patch transdermal ekstrak kunyit, di mana konsentrasi 10% terbukti sebagai formula terbaik dalam meningkatkan laju penetrasi obat. Kata kunci: patch transdermal; bioenhancer; Curcuma domestica Val; Piper nigrum L; uji difusi Franz; penetrasi obat.
Instrumen Screening Burnout pada Mahasiswa Kedokteran: Sebuah Tinjauan Pustaka Wahdini, Ade Indah; Febrina, Binta Setya
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burnout merupakan sindrom psikologis akibat respons terhadap stres kronis yang sering dialami oleh mahasiswa kedokteran, dengan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan fisik, mental, dan performa akademik. Identifikasi dini melalui penggunaan instrumen screening yang valid dan reliabel sangat penting untuk mencegah konsekuensi buruk tersebut, seperti keinginan bunuh diri dan penurunan kualitas pelayanan kesehatan di masa depan. Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan instrumen screening yang tepat untuk mendeteksi burnout pada populasi mahasiswa kedokteran. Berdasarkan penelusuran literatur, terdapat tiga instrumen utama yang sering digunakan dan diadaptasi untuk mahasiswa, yaitu Maslach Burnout Inventory-Student Survey (MBI-SS), Copenhagen Burnout Inventory-Student Version (CBI-S), dan Oldenburg Burnout Inventory-Student Version (OLBI-S). MBI-SS merupakan instrumen yang paling luas penggunaannya, mengukur tiga dimensi yaitu kelelahan (exhaustion), sinisme (cynicism), dan efikasi diri (professional efficacy). Sementara itu, CBI-S berfokus pada inti fenomena kelelahan fisik dan psikologis, dan OLBI-S menilai dimensi kelelahan serta pelepasan diri (disengagement) dari pekerjaan atau studi. Pemilihan instrumen yang tepat sangat krusial sebagai langkah identifikasi awal agar tatalaksana dan intervensi yang sesuai dapat segera diberikan.
Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid pada Pasien Lansia dengan Komorbiditas Hipertensi dan Diabetes Melitus Tipe 2: Sebuah Laporan Kasus Maryani Saputri, Eka; Rosita, Linda; Rais, Andri
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid pada Pasien Lansia disertai Hipertensi dan Diabetes Melitus Tipe 2  Background: Typhoid fever is a systemic infectious disease that remains prevalent in developing countries, including Indonesia. In elderly patients with comorbidities such as hypertension and type 2 diabetes mellitus, typhoid fever may present with atypical clinical manifestations and an increased risk of complications, requiring accurate diagnosis and comprehensive management. Objective: This paper aims to describe the diagnosis and management of typhoid fever in an elderly patient with concomitant hypertension and type 2 diabetes mellitus. Methods: This study is presented as a case report. Data were collected through history taking, physical examination, laboratory investigations, and evaluation of the management provided during the patient’s hospitalization. Results: The elderly patient exhibited atypical clinical features of typhoid fever, supported by positive serological findings. The patient received appropriate antibiotic therapy according to current guidelines, along with optimal management of hypertension and type 2 diabetes mellitus, resulting in clinical improvement during treatment. Conclusion: The diagnosis of typhoid fever in elderly patients with comorbid hypertension and type 2 diabetes mellitus requires a high index of clinical suspicion. Appropriate and integrated management of both the infection and comorbid conditions can lead to favorable clinical outcomes. Keywords: Typhoid fever; Elderly; Hypertension; Type 2 diabetes mellitus; Management Latar Belakang: Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang masih menjadi masalah kesehatan endemik di negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada populasi pasien lanjut usia (lansia) dengan komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, penyakit ini sering kali bermanifestasi dengan gejala klinis yang atipikal serta memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Kondisi ini menuntut ketajaman diagnosis dan pendekatan tata laksana yang komprehensif. Deskripsi Kasus: Kami melaporkan kasus seorang pasien lansia yang menunjukkan gambaran klinis demam tifoid yang tidak khas. Penegakan diagnosis dilakukan melalui anamnesis mendalam, pemeriksaan fisik, serta dikonfirmasi dengan temuan serologis positif. Pasien mendapatkan terapi antibiotik yang sesuai dengan pedoman terkini, bersamaan dengan manajemen optimal untuk mengontrol hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 yang dideritanya. Evaluasi selama perawatan menunjukkan adanya perbaikan klinis yang signifikan. Simpulan: Penegakan diagnosis demam tifoid pada pasien lansia dengan multipatologi memerlukan indeks kecurigaan klinis yang tinggi mengingat manifestasinya yang sering tersamar. Tata laksana yang tepat dan terintegrasi antara penanganan infeksi akut serta kontrol kondisi komorbid terbukti mampu menghasilkan luaran klinis yang baik. Kata kunci: demam tifoid; lansia; hipertensi; diabetes melitus tipe 2; tata laksana terintegrasi.

Page 2 of 2 | Total Record : 15