cover
Contact Name
Sa'diyah El Adawiyah
Contact Email
juilmujurnal@gmail.com
Phone
+6281266209657
Journal Mail Official
juilmujurnal@gmail.com
Editorial Address
Kavling Pancur Pelabuhan Blok A No.189 Tanjung Piayu, Sungai Beduk, Batam, Kepulauan Riau. 29400
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
JUILMU
ISSN : -     EISSN : 3031769X     DOI : https://doi.org/10.62282/juilmu.v2i1
Jurnal Ilmiah Multidisiplin (JUILMU), membuka diri seluas-luasnya bagi semua disiplin ilmu, baik dari civitas academica nasional dan internasional. JUILMU diharapkan dapat menjadi wadah untuk para peneliti, dosen, dan bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi Doktor, Master, Sarjana maupun Diploma untuk mempublikasi karya ilmiahnya (hasil penelitian). JUILMU memiliki nomor ISSN: 3031-769X (Online) dengan scope semua rumpun keilmuan yang belum pernah dipublikasi. JUILMU memiliki frekuensi terbitan 2 kali dalam setahun, yakni: bulan Januari dan Juli.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 45 Documents
Transformasi Kepemimpinan Pastoral di Era Disrupsi Digital: Menuju Model Kepemimpinan Hibrid-Transformatif Teguh Madia Tarigan; Wilma
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v3i2.183-205

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk praktik pelayanan dan kepemimpinan gereja. Disrupsi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi kepemimpinan pastoral dalam merespons perubahan pola komunikasi, otoritas keagamaan, dan pembentukan komunitas iman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi kepemimpinan pastoral di era disrupsi digital serta merumuskan model kepemimpinan yang relevan bagi gereja kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research) melalui kajian terhadap berbagai literatur ilmiah yang membahas kepemimpinan pastoral, transformasi digital, digital religion, dan kepemimpinan transformasional. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan perubahan konteks pelayanan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital mendorong perubahan peran pastor dari pemimpin institusional menjadi gembala hibrid yang mampu mengintegrasikan pelayanan fisik dan digital. Selain itu, literasi digital dan etika digital menjadi kompetensi penting dalam menjalankan pelayanan pastoral, sementara komunitas iman hibrid menjadi bentuk baru persekutuan gereja di era digital. Penelitian ini menghasilkan model kepemimpinan pastoral hibrid-transformatif yang dibangun atas fondasi teologis, kehadiran relasional, literasi dan etika digital, serta pengembangan komunitas iman hibrid yang transformatif. Model ini diharapkan dapat menjadi kerangka konseptual bagi gereja dalam menghadapi tantangan budaya digital secara relevan dan berkelanjutan.
Menjadi Injil yang Hidup di Tengah Jemaat Generasi Z Wilma Sance Pattiasina
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v3i2.206-226

Abstract

Penelitian ini membahas konsep “menjadi Injil yang hidup” dalam pelayanan kepada jemaat Generasi Z di era digital. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada perkembangan teknologi yang memengaruhi pola pikir, gaya hidup, dan spiritualitas Generasi Z sehingga gereja menghadapi tantangan dalam membangun pelayanan yang relevan dan berdampak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan tantangan spiritualitas Generasi Z serta menjelaskan pentingnya keteladanan hidup sebagai bentuk Injil yang hidup dalam pelayanan gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui pengumpulan data dari buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, dan sumber teologis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z lebih mudah menerima nilai-nilai kekristenan melalui kehidupan yang autentik dibandingkan hanya melalui pengajaran verbal. Keteladanan hidup yang mencerminkan kasih, integritas, kepedulian, dan konsistensi iman menjadi sarana kesaksian yang efektif bagi generasi muda. Selain itu, gereja perlu membangun pelayanan yang relasional, kontekstual, dan memanfaatkan media digital secara bijaksana untuk menjangkau Generasi Z. Penelitian ini menyimpulkan bahwa menjadi Injil yang hidup merupakan bentuk pelayanan yang relevan dalam membangun spiritualitas Generasi Z di tengah perkembangan era digital.
Rekonstruksi Teologi Pemuridan Berdasarkan Eksegesis Matius 28:18-20 dan Relevansinya bagi Transformasi Pendidikan Agama Kristen di Era Artificial Intelligence Liston Sihombing; Yanti Giri; Supiyani
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v3i2.227-244

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Kristen (PAK). Meskipun AI memberikan berbagai kemudahan dalam pembelajaran, teknologi ini tidak dapat menggantikan dimensi spiritual, relasional, dan pembentukan karakter yang menjadi hakikat pendidikan Kristen. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi teologi pemuridan berdasarkan eksegesis Matius 28:18-20 serta menganalisis relevansinya bagi transformasi Pendidikan Agama Kristen di era Artificial Intelligence. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis dan penelitian kepustakaan (library research). Data primer berupa teks Yunani Matius 28:18-20 dianalisis melalui pendekatan historis, gramatikal, sastra, dan teologis, kemudian didukung oleh berbagai literatur tentang teologi pemuridan, Pendidikan Agama Kristen, dan AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan merupakan inti Amanat Agung yang diwujudkan melalui pengajaran, pembentukan karakter, ketaatan, dan penyertaan Kristus. Penelitian ini merekonstruksi teologi pemuridan ke dalam empat dimensi, yaitu kristosentris, transformatif, relasional, dan misioner sebagai paradigma transformasi Pendidikan Agama Kristen di era AI. Temuan penelitian menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai sarana pembelajaran yang digunakan secara etis, sedangkan Kristus tetap menjadi pusat pendidikan. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual bagi pengembangan Pendidikan Agama Kristen yang adaptif terhadap kemajuan teknologi tanpa mengabaikan fondasi teologisnya.
Evaluasi Efektivitas Kursus MOOCs Pendidikan Agama Kristen di Universitas Terbuka: Perspektif Mahasiswa Juliana Simangunsong; Evi Yanti Situmorang
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v3i2.258-272

Abstract

Transformasi digital mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan pembelajaran berbasis Massive Open Online Courses (MOOCs) sebagai alternatif pembelajaran yang fleksibel dan mudah diakses. Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen, evaluasi terhadap efektivitas MOOCs masih relatif terbatas, terutama yang mempertimbangkan aspek akademik dan spiritual secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Kursus MOOCs Pendidikan Agama Kristen di Universitas Terbuka berdasarkan perspektif mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei deskriptif. Sampel penelitian terdiri atas 24 mahasiswa yang telah mengikuti kursus dan mengisi kuesioner evaluasi. Instrumen penelitian mencakup sembilan indikator, yaitu kemudahan memahami materi, manfaat materi, relevansi materi, kemudahan penggunaan platform, dukungan terhadap belajar mandiri, pertumbuhan iman Kristen, manfaat bagi kehidupan dan pelayanan, kepuasan mengikuti kursus, serta kesediaan merekomendasikan kursus. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan nilai rata-rata, median, dan modus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator memperoleh nilai rata-rata antara 1,17-1,33 pada skala Likert lima poin, yang menunjukkan kategori Sangat Setuju. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa memberikan persepsi yang sangat positif terhadap efektivitas kursus, baik dari aspek kualitas materi, pengalaman belajar, maupun kontribusinya terhadap pertumbuhan iman dan kehidupan pelayanan. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan MOOCs pada Pendidikan Agama Kristen dengan mengintegrasikan dimensi akademik dan spiritual dalam evaluasi efektivitas pembelajaran.
Teologi Keselamatan dan Dekonstruksi Permbudakan Modern: Menegakkan Martabat Manusia Otieli Harefa; Herbin Simanjuntak; Saro Parlindungan Tampubolon
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/juilmu.v3i2.245-257

Abstract

Perbudakan modern dalam bentuk perdagangan manusia, kerja paksa, pernikahan paksa, dan perbudakan seksual masih berlangsung meskipun telah dilarang secara hukum. Fenomena ini menunjukkan adanya legitimasi ekonomi, budaya, bahkan religius yang memperpanjang sistem penindasan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis teologi keselamatan dalam perspektif Kristen sebagai paradigma pembebasan yang mampu mendekonstruksi sistem perbudakan modern sekaligus menegakkan martabat manusia sebagai imago Dei. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan mengkaji literatur teologi biblika, soteriologi, dan studi sosial tentang perbudakan modern. Analisis dilakukan melalui pendekatan dekonstruktif untuk membongkar narasi penopang praktik penindasan sekaligus menafsir ulang konsep keselamatan berdasarkan karya penebusan Kristus melalui istilah biblika Yasha dan Sozo. Hasil kajian ini menegaskan bahwa teologi keselamatan tidak hanya bersifat rohani-individual, tetapi juga kritis-transformatif, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menekankan aspek moral atau etis. Implikasi teoretisnya, soteriologi dipahami sebagai paradigma dekonstruktif terhadap sistem penindasan; sedangkan secara praktis, gereja dipanggil menjadi agen pembebasan melalui advokasi, pendidikan jemaat, kampanye sosial, dan pendampingan korban. Kesimpulannya, bahwa teologi keselamatan merupakan kerangka kritis dan transformatif yang tidak hanya memulihkan relasi manusia dengan Allah, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial dan menegakkan martabat manusia di tengah perbudakan modern.