cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1 (2022)" : 8 Documents clear
Fenomena Pengalaman Perempuan dalam Menggunakan Feminist Mobile Dating App Bumble Ryan Haryadi; Benedictus Arnold Simangunsong
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3589

Abstract

Mobile dating app Bumble telah dikenal sebagai ‘Tinder versi feminis’ karena memungkinkan perempuan untuk mengontrol penuh aktivitas percakapan mereka. Bumble juga dipandang sebagai lanskap teknologi baru, dimana perempuan dapat melakukan aktivitas kencan secara online melalui proses menginisiasikan percakapan, mengeksplorasi relasional yang beragam, hingga hasrat seksual. Penelitian ini menggunakan paradigma Kristis dengan metode fenomenologi dan dalam memperoleh data menggunakan wawancara tidak terstruktur terhadap 43 informan pengguna perempuan Jabodetabek, untuk menjawab pengalaman-pengalaman apa saja yang mereka temui selama menggunakan Bumble. Hasil dari penelitian menemukan bahwa fitur Bumble yang terkesan memberdayakan perempuan ini membuat perempuan dapat bernegosiasi dan berpartisipasi dalam menciptakan sebuah hubungan impian, meskipun dianggap melawan norma gender tradisional yang melekat di masyarakat. Dimulai dari hubungan yang paling banyak dan paling mudah ditemukan seperti hubungan pertemanan, hingga hubungan yang membutuhkan usaha lebih untuk menemukannya, seperti pacar atau suami, serta kejadian-kejadian lain yang mereka alami selama menggunakan mobile dating app Bumble, dari yang menyenangkan, hingga meninggalkan kekecewaan.
Penyerangan Mabes Polri Dalam Bingkai Media (Analisis Framing Tribunnews.com dan Republika.co.id) Pratiwi Purna Nugraha
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3721

Abstract

Pemberitaan peristiwa penyerangan Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri) di media online menimbulkan komentar kontroversi dikalangan pengamat terorisme. Hal ini berkaitan dengan adanya penonjolan isu yang dikonstruksikan oleh media terkait pelekatan label “teroris” terhadap pelaku penyerangan Zakiah Aini. Beberapa pengamat mengatakan bahwa tindakan penyerangan merupakan aksi terorisme, namun ada pula pengamat yang berkomentar agar penyerangan tersebut tidak terlalu cepat dispekulasikan kearah tindakan terorisme. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan framing analisis model Robert N. Entman pada media online Tribunnews.com dan Republika.co.id yang memberitakan peristiwa penyerangan mabes polri oleh Zakiah Aini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frame yang dibangun oleh kedua media online tersebut sangat berbeda. Frame yang dibangun oleh Tribunnews.com adalah terorisme stigmatik ideology yakni aksi tersebut dilakukan karena adanya ideologi dengan dalih jihad, sedangkan Republika.co.id mengarah kepada insiden penembakan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa ideologi yang dibawa oleh setiap media berkontribusi terhadap konstruksi berita. 
Dialog Antar Budaya: Interpretasi Video Musik Wonderland Indonesia Firdaus Noor; Della Bagusnur Hidayah
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3728

Abstract

August 17, 2021, coinciding with the 76th Independence Day of the Republic of Indonesia, a music video with a duration of 08 minutes 15 seconds appeared on the Alffy Rev’s Youtube channel, which managed to top trending number 1 on Youtube. Wonderland Indonesia, which is used as the material object of this research, is a collaborative work that compiles nine folk songs and one national anthem mixed with Electronic Music Dance elements. This study examines the dialectic of the combination of technology, communications, and culture until an intercultural dialogue is finally found that offers an encounter with local cultures. The music video in this object study is visually used as a cultural code, including myths displayed in the form of a music video arrangement that imagines the wonders of Indonesia. The methodology in this study uses a descriptive qualitative approach which includes the interpretation meaning of the presence of images, music, and lyrics in the Wonderland Indonesia music video. This study found that the elements of motion and sound in Alffy Rev’s Wonderland Indonesia music video can play a role in presenting a cultural code that communicates with local cultural identity to the global realm. Likewise, it also offers intercultural dialogue for creating music videos in the Revolutionary era of 4.0. 17 Agustus 2021, bertepatan dengan hari raya kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76 muncul video musik berdurasi 08 menit 15 detik di kanal Youtube Alffy Rev yang berhasil memuncaki trending nomor 1 di Youtube. Wonderland Indonesia yang dijadikan objek material dalam penelitian ini merupakan sebuah karya kolaboratif yang mengkompilasikan sembilan lagu daerah dan satu lagu nasional, dan diramu dengan elemen musik Electronic Music Dance. Kajian ini bertujuan menelaah dialektika perpaduan antara teknologi, komunikasi, dan budaya, hingga akhirnya ditemukan dialog antarbudaya yang menawarkan perjumpaan budaya lokal. Video musik dalam objek material kajian ini dijadikan kode kultural secara visual mencakup mitos yang ditampilkan dalam wujud sebuah tatanan musik video yang membayangkan keajaiban Indonesia. Dengan memakai pendekatan kualitatif deskriptif yang mencakup interpretasi makna dari kehadiran gambar, musik, dan lirik dalam video musik wonderland Indonesia. Hasil penelitian ini bahwa elemen-elemen gerak dan bunyi dalam video musik Wonderland Indonesia karya Alffy Rev dapat dapat berperan menghadirkan kode kultural yang mengkomunikasikan identitas kultural lokal ke ranah global, selain juga menawarkan dialog antarbudaya bagi penciptaan karya video musik di era Revolusi 4.0.
Pengalaman Komunikasi Kesehatan pada Anak Didik Pemasyarakatan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Syaza Yasmin
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3747

Abstract

Setiap anak dan remaja berhak untuk menjalani masa pertumbuhan yang baik dan sehat. Hal ini termasuk pada Anak Didik Pemasyarakatan (Andikpas) yang berada dalam Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). “Andikpas” adalah istilah khusus yang diberikan kepada remaja yang melakukan tindak kriminal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengalaman “Andikpas” dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, motif serta pemaknaan terhadap pelayanan kesehatan yang ada di LPKA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara pada empat orang “Andikpas”. Hasil penelitian diketahui bahwa adanya “Andikpas” yang melapor kepada petugas dan teman jika mengalami sakit. Namun adanya “Andikpas” yang menahan diri untuk tidak menyampaikan rasa sakit. “Andikpas” tersebut berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit dan kendala yang dihadapi. Motif yang mendorong “Andikpas” untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yakni motif kesembuhan diri yang termasuk dalam in order to motives dan motif kepatuhan yang berkaitan dengan because motives. “Andikpas” memaknai pelayanan kesehatan sebagai suatu sarana yang diberikan LPKA dengan tujuan agar “Andikpas” dapat menjalani aktivitas pembinaan dengan baik.
Kim Seon Ho, You Are Cancelled: The Collective Understanding of Cancel Culture Cendera Rizky Bangun; Nareswari Kumaralalita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3785

Abstract

On October 2021, Kim Seon Ho was on peak of his career when faced a wave of backlash after an anonymous post circulated in online communities saying that an unnamed actor “manipulated her into getting an abortion under false pretenses” and being cancelled. Researchers will use a case study of a Kim Seon Ho from South Korea who has been subjected to cancel culture in order to examine the complexity of this social phenomenon. This research tries to understand the cancel culture phenomenon that is not only happened in South Korea, but also USA, or other countries. Using FGD and also literature for data collection, this study explores how the responses from the participants’ expected to give meaning about regarding cancel culture. The result is some of participants agree with the cancel culture to be implemented, and some of them disagree. The conclusion is cancel culture can be a good thing when we want to make those who can be role model are those with positive attitudes. But on the other hand, cancel culture can be a bad thing when we place celebrity as a material commodity and get cancelled easily.
Krisis Otonomi Media Lokal: Analisis Model Propaganda Herman-Chomsky pada Harian Victory News dalam Kontestasi Pemilihan Gubernur NTT 2018 Merlina Maria Barbara Apul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3799

Abstract

This work is intended to answer how the consequences of media ownership by local elites on the production and construction of discourses of dominant-marginal figures of candidate pairs in the news on the 2018 NTT Governor Election in the Local Newspaper Victory News edition of February – June 2018. With these research questions, this research adopts a critical political economy perspective, instrumental approaches, and critical discourse analysis. The findings show that the different access of the elite to the media is responsible for producing different access to the structure of news reports. This access generates the following five filters 1.) Victory News as an instrument for adding Viktor Laiskodat's hand; 2.) Advertising as a source of income; 3.) Elite as the main news source; 4.) Criticism as a means of disciplining the media and 5.) Pancasila as the ideology of the Republic of Indonesia as a media control mechanism. Meanwhile, from the text level, four main findings can be drawn, namely 1.) Victory News has a minimum critical attitude; 2.) Reliance on elites as news sources; 3.) How and why to become a marginal element in the news Victory News; and 4.) The dominant words of hyperbole when describing the figure of the candidate pair Victory-Joss.
Ahok dalam Internet Meme (Analisis Semiotika Penggambaran Ahok sebagai Pemimpin dalam Internet Meme) Brigitta Revia Sandy Fista
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3824

Abstract

Sosok Ahok banyak digambarkan dalam beragam media komunikasi baik media konvensional maupun media modern berbasis digital seperti meme di internet yang tersebar luas dalam masyarakat. Meme sendiri sebagai media komunikasi yang dikreasikan oleh individu bersifat sangat anonim, banyak digunakan oleh para pengguna internet, khususnya pengguna media sosial. Munculnya meme sebagai media pesan di berbagai media sosial kian menambah bahan bagi para netizen (internet citizen) – sebutan untuk para pengguna internet –yang kreatif untuk menciptakan pesan-pesan sosialnya. Dalam beberapa kasus, meme seringkali digunakan untu mengkomunikasikan pesan khusus dengan konsep humor atau sindiran. Penyajian konten tentang Ahok pun beragam, mulai dari sekedar sindiran tidak penting sampai problematika politik pun menjadi kajian meme. Dikemas dalam kajian konten yang sangat beragam dan tak terhitung jumlahnya, karakter Ahok yang kerap dikatakan kasar dan tak tahu sopan santun. Penelitian ini kemudian berfokus pada penggambaran Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam internet meme. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis semiotika C.S.Peirce. Didapatkan hasil bahwa Penggambaran Ahok sebagai pemimpin dalam internet meme adalah sang pemimpin yang terbiasa bertutur kasar tanpa tata karma, Ahok sebagai pemimpin yang sukar menghargai perasaan orang lain, bahkan Ahok pemimpin Tionghoa dan Kristen yang tak cukup pantas memimpin, masih menempel pada makna tanda di beberbapa internet meme yang telah dianalisis. Namun disisi lain, pada kumpulan teks di internet meme lainnya, Ahok digambarkan sebagai sosok yang berani, berkharisma, bertekad kuat, jujur, dan pantang mundur. Bahkan Ahok ditampilkan sebagai pemimpin yang sempat dirindukan karena prestasi kinerja dan keberhasilannya dalam memimpin.
Pengaruh Gamification Terhadap Brand Engagement dengan E-satisfaction sebagai Variabel Mediator Stella Setiawan; Dorien Kartikawangi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v11i1.3866

Abstract

Seiring berkembangnya teknologi, pengimplementasian gamification, yaitu membawa elemen permainan dalam berbagai bidang sudah banyak dilakukan, termasuk dalam e-commerce atau perdagangan elektronik. Pengimplementasian gamification dilakukan dengan berbagai tujuan, seperti membuat konsumen terlibat secara aktif dengan suatu brand. Penelitian ini dilakukan pada implementasi gamification Shopee Tanam dalam aplikasi Shopee Indonesia untuk melihat apakah terdapat pengaruh gamification terhadap brand engagement. Konsep yang digunakan adalah gamification dengan dimensi entertainment, interaction, dan novelty; e-satisfaction terkait convenience, customisation, information, dan communication; dan brand engagement yang mencakup emosi, kognitif, dan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan memperoleh data melalui survei. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa implementasi gamification Shopee Tanam dapat mempengaruhi brand engagement Shopee secara langsung tanpa dimediasi oleh e-satisfaction terhadap Shopee Tanam. Namun, dengan dimediasi oleh e-satisfaction, implementasi gamification Shopee Tanam memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap brand engagement.

Page 1 of 1 | Total Record : 8