cover
Contact Name
Vincentius Widya Iswara
Contact Email
vincentius@ukwms.ac.id
Phone
+6231 5678478
Journal Mail Official
nangkris@ukwms.ac.id
Editorial Address
Jl. Dinoyo 42-44 Surabaya - 60265
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Komunikatif : Jurnal Ilmiah Komunikasi
ISSN : 23016558     EISSN : 25976699     DOI : https://doi.org/10.33508/jk
Komunikatif is issued by Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya since 2012. Komunikatif is a peer-reviewed journal. Komunikatif publishes an article from selected topics in communication studies; those are media studies, public relations, and human communication. Articles issued by Komunikatif are conceptual articles and research articles. Komunikatif aims at publishing research and scientific thinking regarding the development of communication studies and contemporary social phenomena. Komunikatif also wishes to become an eligible reference for students and/or academia, especially in the communication field. Komunikatif is issued twice a year (July and December). Komunikatif clarifies ethical behavior for all parties involved, including authors, editor-in-chief, Editorial Board, reviewers, and publisher. Komunikatif provides free access for the online version to support knowledge exchange globally.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 1 (2024)" : 10 Documents clear
Melukis Kembali Penggambaran Citra Gender dalam Media Massa Yuwono, Sherlynn; Lesmana, Fanny; Ambat, Yeremia Tulude
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5144

Abstract

In Netflix’s 'Ice Cold,' which delves into the murder of Jessica by Mirna, she is often praised and forgiven for her beauty. The documentary even states that the killer is a handsome figure. Women seem to be forced to conform to the image of modern women, who should hold feminist paradigms. Digital television content, as one of the mass media platforms, often portrays women as limited to the role of 'subordinates.' The existence of women is frequently reduced solely to their physical dimensions. It is as if advertisements and television programs would feel empty without the presence of women celebrated as objects. This perspective eventually becomes ingrained in the minds of modern women, largely through the influence of mass media, while commercial demands and the race for the highest ratings are the primary reasons why women continue to be used as complementary objects in various media content.This research employs Roland Barthes' Semiotics to explore how religious education, the male gaze, mass media, and societal views interact in shaping the contemporary perception of the female body. Ironically, the excessive use of patriarchal media has made women feel more liberated to express themselves and actualize their potential in various aspects of life. In this context, elements of religious education play a crucial role, as some Abrahamic religious teachings promote gender hierarchies that can influence society's perception of women and result in gender inequality. The concept of the male gaze is also relevant in this analysis, as it refers to how the male perspective dominates the understanding and representation of women in media, often reducing women to objects of male sexual desire. This research can offer valuable insights into the interconnection of these perspectives and women's potential for increased self-expression within patriarchal-dominated environments.ABSTRAKPada film dokumenter 'Ice Cold' di Netflix yang mengulik tentang pembunuhan Jessica oleh Mirna, ia kerap dipuji dan dimaafkan karena parasnya. Dokumenternya pun menyebutkan bahwa sang pembunuh adalah sosok rupawan. Di luar itu, televisi digital sebagai salah satu medium media massa seringkali menggambarkan perempuan sebagai objek yang terbatas dalam peran 'bawahan'. Eksistensi perempuan sering direduksi hanya pada dimensi fisik mereka. Seakan iklan dan tayangan televisi akan terasa hampa tanpa kehadiran perempuan sebagai objek yang dirayakan. Perempuan seolah-olah dipaksa untuk memenuhi citra perempuan modern yang seharusnya memegang paradigma feminis. Pandangan ini akhirnya tertanam dalam pikiran perempuan modern, sebagian besar melalui pengaruh media massa, sementara tuntutan komersialisme dan perlombaan untuk mendapatkan rating tertinggi menjadi alasan utama mengapa perempuan terus dijadikan objek pelengkap dalam berbagai konten media. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Semiotika Roland Barthes, menggunakan denotasi, konotasi, serta mitos untuk memahami interaksi kompleks antara unsur didikan agama, ‘male gaze’, dan pengaruh media massa serta dampaknya terhadap persepsi tubuh perempuan dalam masyarakat modern. Ironisnya, penggunaan berlebihan oleh media patriarki telah membuat perempuan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan potensi mereka di berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, unsur didikan agama memainkan peran penting, karena beberapa ajaran agama Abrahamik mengajarkan hierarki gender, yang dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap perempuan dan menimbulkan ketidaksetaraan gender. Konsep ‘male gaze’ juga relevan dalam analisis ini, karena mengacu pada cara pandangan laki-laki mendominasi pemahaman dan representasi perempuan dalam media, sering kali mengurangi perempuan menjadi objek hasrat seksual laki-laki. Temuan dalam penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana pandangan-pandangan ini berkaitan dan bagaimana perempuan dapat lebih leluasa mengekspresikan diri dalam lingkungan yang seringkali didominasi oleh norma-norma patriarki.
Strategi Harian Kompas Dalam Membangun Brand Engagement NFT Kompas Melalui Aktivitas Community Relation Kontessa, Tarrence Karmelia; Layardi, Hendy
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5277

Abstract

Digital transformation is something that most industrial players have done and continue to do. Transformation is carried out, through the use of the latest technology products such as non-fungible tokens (NFT). The popularity of NFTs, has grown rapidly and has become a hot topic of conversation in Indonesia. Kompas Daily as the largest national media in Indonesia has introduced NFT products through the Narasi Fakta Terkurasi (NFT Kompas) project since June 28, 2022. This project started with a decision to explore new business potential within the Kompas Gramedia Group. The boom in crypto, NFT and metaverse in early 2022 is considered as a great potential to develop the business. To support the Kompas NFT project, Kompas Daily is building a community and holding various activities as an effort to build Kompas NFT brand engagement. This research first adapts the Community Involvement concept by Lakin & Scheubel (2017) to understand Kompas' daily strategy, especially in building brand engagement in the Kompas NFT online community on the Discord channel. It was concluded that Kompas' NFT technology products had received a positive response and were able to build brand engagement in the NFT community which had the potential to become a new audience for Kompas Daily. Second, through Everett M. Rogers' diffusion-of-innovation theory, the research also explores the socialization strategy for Kompas NFT products. It was concluded that the exhibition forums, media articles and Townhall Meetings held by Kompas Daily to encourage the adoption of NFT innovation internally and externally to the company, were effective strategies for building audience adaptation to Kompas NFTs. This qualitative research using can be developed further, especially to examine more deeply community relations strategies for new technology products that are increasingly appearing in this digital era.ABSTRAKTransformasi digital adalah sebuah tuntutan peradaban yang antara lain dilakukan melalui penggunaan produk-produk teknologi terbaru seperti non-fungible token (NFT). Harian Kompas sebagai media nasional terbesar di Indonesia telah memperkenalkan produk NFT melalui proyek Narasi Fakta Terkurasi Kompas (NFT Kompas) sejak 28 Juni 2022. Untuk mendukung proyek NFT Kompas, Harian Kompas membangun komunitas dan mengadakan berbagai aktivitas sebagai upaya membangun brand engagement NFT Kompas. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumen. Tujuan dari penelitian, pertama dengan mengadaptasi konsep Community Involvement oleh Lakin & Scheubel (2017) peneliti menganalisa strategi Harian Kompas dalam membangun brand engagement pada online community NFT Kompas di kanal Discord. Disimpulkan bahwa produk teknologi NFT Kompas telah mendapat respon positif dan berhasil membangun brand engagement pada komunitas NFT yang berpotensi menjadi audiens baru bagi Harian Kompas. Kedua, melalui kacamata teori difusi-inovasi Everett M. Rogers (2005), penelitian juga menggali strategi sosialisasi produk NFT Kompas. Disimpulkan bahwa wadah pameran, artikel media dan Townhall Meeting yang dilakukan Harian Kompas untuk mendorong adopsi inovasi NFT ke arah internal maupun eksternal perusahaan, menjadi strategi yang efektif untuk membangun adaptasi audiens terhadap NFT Kompas. Penelitian kualitatif ini dapat dikembangkan lebih lanjut khususnya untuk mengkaji lebih dalam strategi community relation bagi produk-produk teknologi baru yang semakin sering muncul di era digital ini.
Pengunaan NARS Power Players Sebagai Virtual Brand Ambassadors Untuk Memengaruhi Konsumen Witjaksono, Klarissa Jessenia; Eymeren, Margawati Van
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5337

Abstract

Virtual brand ambassadors have become a new type of brand spokesperson with the advent of Artificial Intelligence (AI). NARS Cosmetics, a pioneering cosmetics company, has introduced their own virtual brand ambassadors known as NARS Power Players. However, the existing literature has not yet answered whether the attributes of virtual entities can shape consumer response. The novelty of this research lies in its focus on NARS Cosmetics' virtual brand ambassadors, the NARS Power Players, which are a new phenomenon in the field of brand representation. While virtual brand ambassadors have emerged with AI technology, there is a gap in the existing literature regarding how the attributes of these virtual entities specifically impact consumer attitudes. This study addresses this gap by investigating the influence of credibility, attractiveness, congruence, and human-likeness of NARS Power Players on consumer attitudes. Additionally, the study incorporates several relevant theories, including Stimulus-Response Theory, Source Credibility Model, Source Attractiveness Model, Match-up Hypothesis, and Uncanny Valley Theory, to provide a theoretical framework for understanding the impact of virtual brand ambassadors. The use of quantitative methodology and the specific focus on NARS Power Players contribute to the novelty of this research, offering insights that can further enhance our understanding of consumer responses to virtual brand representatives.This study used quantitative methodology by distributing online questionnaires to 112 respondents. The results showed that the credibility, congruence, and human-likeness of virtual brand ambassadors had a positive and significant influence on consumer attitudes. However, attractiveness did not have a significant influence on consumer attitudes. Researchers can further explore this topic by conducting investigative qualitative research on consumer perceptions and comparative analysis with human endorsers and non-human endorsers.ABSTRAKDengan munculnya Artificial Intelligence (AI), virtual brand ambassadors telah menjadi jenis baru brand spokesperson yang non-human. Perusahaan kosmetik perintis, NARS Cosmetics, baru-baru ini memperkenalkan virtual brand ambassadors mereka sendiri yang dikenal sebagai NARS Power Players. Namun, literatur yang ada belum menjawab apakah atribut-atribut entitas virtual yang dapat membentuk respons konsumen. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokusnya pada virual brand ambassadors NARS Cosmetics, yaitu NARS Power Players, yang merupakan fenomena baru dalam bidang brand ambassadors yang non-human. Sementara virtual brand ambassadors muncul dengan teknologi AI, terdapat kesenjangan dalam literatur yang ada mengenai bagaimana atribut entitas virtual ini secara khusus mempengaruhi sikap konsumen. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan menganalisis pengaruh credibility, attractiveness, congruence, dan human-likeness dari NARS Power Players sebagai virtual brand ambassadors terhadap sikap konsumen. Selain itu, penelitian ini mencakup beberapa teori yang relevan, termasuk Stimulus-Response Theory, Source Credibility Model, Source Attractiveness Model, Match-up Hypothesis dan Uncanny Valley Theory untuk memberikan kerangka teoretis dalam memahami pengaruh virtual brand ambassadors. Penggunaan metodologi kuantitatif dan fokus khusus pada NARS Power Players memberikan kontribusi pada kebaruan penelitian ini, menawarkan wawasan yang dapat lebih meningkatkan pemahaman tentang respons konsumen terhadap virtual brand ambassadors. Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner online kepada 112 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa credibility, congruence, dan human-likeness dari virtual brand ambassadors memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap sikap konsumen, sedangkan attractiveness tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap konsumen. Peneliti selanjutnya dapat mengeksplorasi topik ini lebih lanjut dengan melakukan penelitian kualitatif investigatif mengenai persepsi konsumen dan analisis perbandingan dengan human endorser dan non-human endorser.
Pola Komunikasi Beda Generasi (Studi Etnografi Komunikasi Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat) Sari, Wulan Purnama; Bajari, Atwar; Hafiar, Hanny; Lestari, Puji
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5412

Abstract

The reforms carried out in the Ngayogkarta Palace in recent years have brought many changes, one of which is the condition where the Abdi Dalem who are the Palace officials are divided into two groups of different generations. The first group is the older generation, consisting of the baby boomer and This research was conducted with the aim of finding and searching for communication patterns between Abdi Dalem and their environment. The research was conducted using a qualitative approach and Hymes' ethnographic communication method. The data analysis technique uses SPEAKING theory. The communication patterns resulting from this research are based on ethnographic communication theory. The results of the research show that communication patterns among Abdi Dalem are influenced by intergenerational differences within the Abdi Dalem group which causes differences in ways of communicating between generations. This difference arises because of differences in characteristics between generations, coupled with differences of opinion regarding changes that occur within the Palace. The existence of several generational groups makes communication patterns between Abdi Dalem different between generations, especially between the older generation (baby boomers and generation X) and the younger generation (generation Y and Z). Meanwhile, the communication pattern between Abdi Dalem and the Palace family occurs in the direction of Abdi Dalem's communication flow at the Ngayogyakarta Hadiningrat Palace occurs in a topdown direction, and Abdi Dalem is in the last or lowest position. The communication pattern between Abdi Dalem and the outside community is regulated based on formal protocols owned by the Palace, although informal communication also occurs.ABSTRAKPembaharuan yang dilakukan dalam Keraton Ngayogkarta dalam beberapa tahun belakangan ini membawa banyak perubahan, salah satunya adalah adanya kondisi dimana Abdi Dalem yang merupakan aparatur Keraton terbagi ke dalam dua kelompok yang berbeda generasi. Kelompok pertama merupakan generasi tua, yang terdiri dari generasi baby boomer dan X, sedangkan kelompok kedua merupakan generasi muda yang terdiri dari generasi Y / milenial dan Z. Adanya kondisi ini membawa dinamika yang berbeda bagi Abdi Dalem dengan lingkungannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan dan mencari pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan lingkungannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi Hymes. Teknik analisis data menggunakan SPEAKING theory. Pola komunikasi yang dihasilkan dari penelitian ini berdasarkan teori etnografi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan pola komunikasi diantara Abdi Dalem dipengaruhi oleh adanya perbedaan antargenerasi dalam kelompok Abdi Dalem yang menyebabkan adanya berbedaan cara berkomunikasi antargenerasi. Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan karakteristik antargenerasi yang ditambah dengan adanya perbedaan pendapat mengenai perubahan yang terjadi dalam lingkup Keraton. Adanya beberapa kelompok generasi ini menjadikan pola komunikasi antar Abdi Dalem menjadi berbeda antargenerasi, terutama antargenerasi tua (baby boomers dan generasi X) dengan generasi muda (generasi Y dan Z). Sementara, pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan keluarga Keraton terjadi dalam arah aliran komunikasi Abdi Dalem di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terjadi dengan arah topdown, dan Abdi Dalem berada dalam posisi paling akhir atau paling bawah. Pola komunikasi antara Abdi Dalem dengan masyarakat luar, diatur berdasarkan protokol yang dimiliki oleh Keraton secara formal, walau komunikasi secara informal juga terjadi.
Dampak Ketergantungan Konten Flexing pada Fase Quarter Life Crisis Mahasiswa Tingkat Akhir Maghfira, Rifa; Rozaq, Miftahul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5416

Abstract

Final-year students aged 20 years and over often feel various pressures to achieve a certain level of success or achievement. One of them is the pressure from flexing content that is often presented on social media. Dependence on flexing content can trigger anxiety about the future, which ultimately leads to the emergence of the quarter-life crisis phase. Through its content, social media indirectly influences students, especially in forming a crisis of self-confidence. This research aims to determine the influence of dependency on flexing content on the quarter-life crisis phase of final-year students and to find out how big the influence of dependency on flexing content is on the quarter-life crisis phase of final-year students. The media dependency theory introduced by Rokeach & Defleur (1976) is utilized as the primary foundation for this research. This research uses a quantitative approach with a survey method for 214 Communication Science students class of 2020 at Telkom University, Bandung. The results of this research obtained a significance value of 0.000 <0.05. The research findings indicate that the dependency on flexing content on social media has a considerable potential to induce anxiety about life direction, leading to the formation of the quarter-life crisis phase. This shows that the dependence on flexing content which includes cognitive, affective, and behavioral aspects influences the quarter-life crisis phase which includes hopes and dreams, educational challenges, religion and spirituality, work life, home, lovers, family, and friends, and identity in final-year students. final Communication Science class of 2020, Telkom University Bandung, with an influence level of 40.7%, and the other 59.3% were influenced by other factors not included in the research. Research implications and suggestions are also discussed.ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir yang berusia 20 tahun keatas seringkali merasakan berbagai tekanan untuk mencapai tingkat kesuksesan atau pencapaian tertentu. Salah satunya adalah tekanan dari konten flexing yang sering dihadirkan pada media sosial. Ketergantungan pada konten flexing dapat memicu kecemasan akan masa depan, yang akhirnya berujung pada munculnya fase quarter life crisis. Melalui kontennya, media sosial secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap mahasiswa, terutama dalam pembentukan krisis kepercayaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketergantungan konten flexing terhadap fase quarter life crisis mahasiswa tingkat akhir dan mengetahui seberapa besar pengaruh ketergantungan konten flexing terhadap fase quarter life crisis mahasiswa tingkat akhir. Teori ketergantungan media yang diperkenalkan Rokeach & Defleur (1976) digunakan sebagai landasan utama penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei kepada 214 mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2020 Universitas Telkom Bandung. Hasil penelitian ini memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Penelitian ini memperoleh temuan ketergantungan konten flexing di media sosial memiliki potensi cukup tinggi sebagai terjadinya kecemasan tentang arah hidup yang mengarah pada pembentukan fase quarter life crisis. Ini menunjukan bahwa ketergantungan konten flexing yang meliputi aspek kognitif, afektif dan perilaku berpengaruh terhadap fase quarter life crisis yang meliputi hopes and dream, education challenges, religion and spirituality, work life, home, lovers, family, and friends, dan identity pada mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komunikasi angkatan 2020 Universitas Telkom Bandung, dengan tingkat pengaruh sebesar 40,7% dan 59,3% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak terdapat dalam penelitian. Implikasi dan saran penelitian juga dibahas.
Vaksinasi dan Digitalisasi Komunikasi Kesehatan (Studi Fenomenologi Interpretatif atas Pemahaman Pengguna Platform PeduliLindungi di Yogyakarta) Narwaya, Tri Guntur; Lestari, Rani Dwi
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5432

Abstract

The development of “PeduliLindungi” Application is one of the government's efforts to respond to the COVID-19 pandemic. The government designed this application to track and detect the potential spread of the SARS-CoV-2 virus so that it does not spread further. Recording vaccinations, history oaf exposure to viruses, and personal health status in this application is personal data that can be used stakeholders related to getting an idea of a person's condition or health status. The “PeduliLindungi” application become a real picture of the progress of digital-based health communication. Using this application during the Covid-19 pandemic has become an obligation for everyone if they want to access public services. Through an Interpretative Phenomenology analytical study approach developed from the ideas of Georg Gadamer's Hermeneutics, researchers attempt to explore further the understanding and meaning of the use of “PeduliLindungi” application in implementing the vaccination program as a mitigation measure for handling the Covid-19 outbreak in the city of Yogyakarta. The target subjects of this research are all user of “PeduliLindungi” application in Yogyakarta. The users of “PeduliLindungi” application, especially those survivors who have been infected with Covid-19. The research results show that there is a tendency for the subject's understanding of “Peduli Lindungi” application development only as an instrument of health communication with all the ethical risk consequences therein. The use of applications is more related to procedural formalities and is not based on awareness of choice because health aspects are fully considered. Communication in the “PeduliLindungi” application could be said that it has not yet formed an understanding but is limited to being a means of control over the individual's body.ABSTRAKPengembangan aplikasi PeduliLindungi menjadi salah satu upaya pemerintah merespon pandemi COVID-19. Pemerintah merancang aplikasi ini untuk melacak serta mendeteksi adanya potensi penyebaran virus SARS-CoV-2 agar tidak semakin meluas. Pencatatan vaksinasi, riwayat terpapar virus, dan status kesehatan personal dalam aplikasi ini menjadi data pribadi yang bisa dimanfaatkan stakeholders terkait untuk mendapatkan gambaran kondisi atau status kesehatan seseorang. Aplikasi PeduliLindungi menjadi gambaran nyata dari wajah kemajuan komunikasi kesehatan berbasis digital. Penggunaan aplikasi ini dalam masa pandemi Covid-19 bertransformasi menjadi kewajiban bagi setiap orang jika mereka ingin mengakses layanan publik. Melalui pendekatan kajian analisis Fenomenologi Interpretatif yang dikembangkan dari gagasan Hermeneutika Georg Gadamer peneliti berupaya untuk menggali lebih lanjut mengenai pemahaman dan pemaknaan atas pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi dalam pelaksanaan program vaksinasi sebagai langkah mitigasi penanganan wabah Covid-19 di kota Yogyakarta. Subjek sasaran dari riset ini adalah para pengguna aplikasi PeduliLindungi, terutama mereka para penyintas yang pernah terinfeksi Covid-19. Hasil riset menemukan bahwa ada kecenderungan pemaknaan subjek terhadap aplikasi PeduliLindungi hanya sebatas sebagaai instrumen formalitas karena bertujuan memenuhi aturan SOP semata. Penggunaan aplikasi lebih banyak terkait dengan formalitas prosedural dan tidak didasari oleh kesadaran pilihan karena pertimbangan aspek kepentingan kesehatan. Komunikasi melalui aplikasi PeduliLindungi bisa dikatakan belum membentuk ‘kesepahaman’ namun sebatas menjadi instrumen kontrol atas tubuh individu. 
Konsep Diri Jurnalis Perempuan (Studi Fenomenologi Tentang Pengalaman Traumatik Jurnalis Perempuan Saat Menjalankan Profesinya) Hidayah, Alifvia Nurul; Malik, Abdul; Putri, Liza Diniarizky
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5460

Abstract

This research aims to understand how female journalists develop their self-concept after experiencing traumatic events while performing their professional duties. Traumatic experiences include incidents such as invasion of privacy, sexual violence, terror, destruction threats, and verbal abuse. The phenomenon examined in this research is the impact of this experience on self-concept and the actions taken to restore the psychological condition of female journalists. A qualitative approach with phenomenological methods and symbolic interaction theory was employed. In this research, researchers involved 5 (five) female journalist informants using snowball sampling techniques. The finding reveal a variety of responses among female journalists, ranging from self-blame and doubt to positive self-concepts achieved by establishing personal boundaries. The essence of female journalists' responses to traumatic experiences obtained from structural descriptions extracted from narrative textural descriptions resulting from participant interviews is that even though they are faced with challenges and trauma, female journalists show resilience, determination, and a willingness to learn and grow from their experiences. which impacts their affirmation of their profession and personal well-being. This research contributes to the literature by providing a new perspective on the psychological dynamics and professionalism of female journalists in a local context. Apart from that, this research also has practical implications for media organization and government policies regarding the protection of female journalists and support for female journalists in various concrete forms. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana jurnalis perempuan mengembangkan konsep diri mereka setelah mengalami peristiwa traumatis ketika melakukan tugas profesionalnya. Pengalaman traumatis mencakup insiden seperti pelanggaran privasi, kekerasan seksual, teror, ancaman pengrusakan, dan pelecehan verbal. Fenomena yang diteliti dalam penelitian ini adalah dampak pengalaman tersebut pada konsep diri dan tindakan yang dilakukan untuk memulihkan kembali kondisi psikologis jurnalis perempuan. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi dan teori interaksi simbolik digunakan. Dalam penelitian ini peneliti melibatkan 5 (lima) orang informan jurnalis perempuan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Temuan mengungkapkan beragam respon jurnalis perempuan, mulai dari menyalahkan dan meragukan diri sendiri hingga pengembangan konsep diri yang positif yang dicapai dengan membangun batasan-batasa personal. Adapun esensi dari respon jurnalis perempuan terhadap pengalaman traumatis yang diperoleh dari deskripsi struktural hasil ekstraksi dari deskripsi tekstural narasi hasil wawancara partisipan adalah walaupun dihadapkan pada tantangan dan trauma, para jurnalis perempuan menunjukkan adanya resiliensi, determinasi, dan kesediaan untuk belajar dan tumbuh dari pengalaman mereka, yang berdampak pada afirmasi mereka pada profesi dan kesejahteraan personal. Penelitian ini berkontribusi pada literatur dengan memberikan perspektif baru tentang dinamika psikologis dan profesionalisme jurnalis perempuan dalam konteks lokal. Selain itu, penelitian ini juga berimplikasi praktis bagi kebijakan organisasi media dan pemerintah terkait perlindungan terhadap jurnalis perempuan dan dukungan terhadap jurnalis perempuan dalam berbagai bentuk nyata.
Pemanfaatan Media Sosial untuk Quality Time Keluarga pada Pekerja Stayer dan Mover Putranto, Adhy; Awani, Carolina Dwita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5517

Abstract

Physical absence due to distance limits quality family time for workers due to job migration. Social media now has become a means of communication to maintain ties, form family identity, and replace physical presence. This research aims to test and prove the existence of differences between stayer and mover (circular) workers in utilizing social media for quality family time. This research uses quantitative methods, explanatory in nature, with comparative analysis. The survey method was used to collect data by filling out a questionnaire via Google Form. The sample was selected using convenience sampling from workers in a number of offices in the Jabodetabek area. Data processing was carried out using SPSS version 29 on 127 questionnaires filled in by respondents. The Mann-Whitney Test was used to determine differences in the use of social media by stayer and mover (circular) workers. The research results show that there are differences between stayer and mover (circular) workers in utilizing social media for family quality time, as measured by perceptions, attitudes, behavior and level of social media use. Behavioral variables have a moderate correlation to perception variables, and strong correlations to attitude variables. The variable level of social media use has a very weak correlation with the variables of perception, attitude and behavior. This proves that compared to stayer workers, mover (circular) workers use social media more to create quality family time and overcome physical absence. It is recommended that further research add qualitative methods (becoming mixed methods) so as to enrich and strengthen the data about the different reasons for using social media through in-depth interviews. Expanding the opulation, different research areas, and samples involving different community groups can be carried out to determine differences in the use of social media by other community groups.ABSTRAKKetidakhadiran fisik karena jarak membatasi quality time keluarga pada pekerja karena migrasi pekerjaan. Media sosial kini menjadi sarana komunikasi untuk menjaga ikatan, membentuk identitas keluarga, dan menggantikan kehadiran fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membuktikan adanya perbedaan antara pekerja stayer dan mover (sirkuler) dalam memanfaatkan media sosial untuk quality time keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, bersifat eksplanatif, dengan analisis komparatif. Metode survei dilakukan untuk mengumpulkan data dengan mengisi kuesioner melalui Google Form. Sampel dipilih secara convenience sampling terhadap pekerja pada sejumlah kantor di wilayah Jabodetabek. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 29 atas 127 isian kuesioner oleh responden. Mann-Whitney Test digunakan untuk mengetahui perbedaan pemanfaatan media sosial oleh pekerja stayer dan mover (sirkuler). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan antara pekerja stayer dan mover (sirkuler) dalam memanfaatkan media sosial untuk quality time keluarga, yang diukur dari persepsi, sikap, perilaku, dan tingkat penggunaan media sosial. Variabel perilaku memiliki korelasi yang moderat terhadap variabel persepsi, serta kuat terhadap variabel sikap. Variabel tingkat penggunaan media sosial memiliki korelasi yang sangat lemah terhadap variabel persepsi, sikap, dan perilaku. Hal tersebut membuktikan bahwa dibanding pekerja stayer, pekerja mover (sirkuler) lebih banyak dalam menggunakan media sosial untuk menciptakan quality time keluarga dan mengatasi ketidakhadiran secara fisik. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan metode kualitatif (menjadi mixed method) sehingga memperkaya dan memperkuat data tentang perbedaan alasan penggunaan media sosial melalui wawancara mendalam. Perluasan populasi, wilayah penelitian yang berbeda, dan sampel yang melibatkan kelompok masyarakat yang berbeda dapat dilakukan untuk mengetahui perbedaan penggunaan media sosial oleh kelompok masyarakat lainnya.
Product Placement Dalam Serial Drama Korea (Analisis Isi Kualitatif terhadap Evaluasi Atribut Product Placement Kopiko dalam Drama Korea Vincenzo) Rahma Praminia, I Gusti Agung Ayu
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5532

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Kopiko product placement in the Korean drama "Vincenzo" through Russell's (2002) dimensions of product placement, while evaluating the associated attributes of Kopiko brand placement within it. Considering the attributes of Entertainment, Informativeness, and Discomfort as outlined by Ducoffe (1996), the study adopts a qualitative approach with a constructivist paradigm, utilizing content analysis as the research method. The units of analysis include episodes 14, 15, 17, and 19 of the drama "Vincenzo". The analysis results indicate that the product placement strategy successfully optimizes visual, entertainment, and informative attributes in each episode. Aligning product messages with the storyline is crucial to maintaining narrative integrity without disrupting the viewer's experience. For instance, dialogues promoting the consumption of Kopiko candies in specific scenes demonstrate effective alignment between product messaging and narrative context. The informative attribute of product placement is also demonstrated effectively, particularly in episode 19 where information about Kopiko's product advantages is conveyed through dialogue, providing added value to viewers with relevant product information aligned with product placement attributes. Nevertheless, there is a risk of discomfort from product placement if the integration of the product within the storyline is inadequate. This study underscores the importance of considering product integration with a consistent narrative to avoid disruptions to the viewer's experience.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi product placement Kopiko dalam drama Korea Vincenzo melalui dimensi product placement oleh Russell (2002), serta mengevaluasi atribut-atribut product placement yang terkait dengan merek Kopiko di dalamnya. Dengan mempertimbangkan atribut Entertainment, Informativeness, dan Discomfort sebagaimana dijelaskan oleh Ducoffe (1996). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, menggunakan analisis isi sebagai jenis penelitian. Unit observasi yang dianalisis adalah episode 14, 15, 17, dan 19 dari drama Korea Vincenzo. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi product placement berhasil mengoptimalkan atribut visual, hiburan, dan informatif dalam setiap episode. Penyesuaian pesan produk dengan alur cerita menjadi kunci utama untuk menjaga integritas naratif tanpa mengganggu pengalaman menonton. Seperti dialog yang mengarahkan konsumsi permen Kopiko dalam adegan tertentu menunjukkan penyesuaian yang baik antara pesan produk dan konteks cerita. Atribut informatif dari product placement juga terbukti efektif, terutama pada episode 19 di mana informasi mengenai kelebihan produk Kopiko disampaikan melalui dialog, yang memberikan nilai tambah kepada penonton dengan informasi yang relevan sesuai dengan atribut. Meskipun demikian, risiko ketidaknyamanan dari product placement dapat terjadi jika produk tidak terintegrasi dengan baik dalam cerita. Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan integrasi produk dengan naratif yang konsisten untuk menghindari gangguan pada pengalaman penonton.
Sharenting and Digital Reputation: Pengaruh Sharenting Terhadap Presentasi Diri Orang Tua Milenial Di Media Sosial Hidayanto, Syahrul
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i1.5537

Abstract

Sharenting has now become a global trend on social media. The phenomenon that we can see in Indonesia is that many social media users who are millennial parents share content about their children's activities on social media. Sharenting is also considered a place for millennial parents to build their digital reputation. This research aims to prove the influence of sharenting on millennial parents' self-presentation on social media. The right approach to help researchers answer this research question is through a quantitative approach. Data collection techniques use online surveys distributed through advertising features on the Facebook platform. After filtering the online questionnaire data, the total number of respondents taken was 518 respondents. All respondents met the respondent criteria, namely millennial parents (age range 24-39 years), regularly sharing their children's activities on social media, and active users of popular social media. The research hypothesis will be tested using regression tests, correlation tests, partial tests (t), and simultaneous tests (f). The measurement method uses a Likert scale. Meanwhile, the data's validity was tested using validity and reliability tests. The research results prove a significant influence of sharenting activities on the self-presentation of millennial parents on social media. The relationship between the two variables is also stated to be positive. Then, the strength of the two variable relationships enters into a strong correlation. From the calculation results, the higher the sharenting, the higher the self-presentation. In the context of self-presentation, millennial parents use sharenting to display positive aspects of their lives, especially related to family life and their role as modern parents. For millennial parents, self-presentation on social media can also affect their reputation in the online environment. By building a positive image as caring and involved parents, they can strengthen their social connections and expand their support network online.ABSTRAKSharenting saat ini telah menjadi tren di media sosial yang mendunia. Fenomena yang dapat kita lihat di Indonesia adalah banyak pengguna media sosial yang notabene adalah orang tua milenial, membagikan konten tentang aktivitas anak-anak mereka di media sosial. Sharenting juga diasumsikan menjadi ajang orang tua milenial membangun reputasi digital mereka. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh sharenting terhadap presentasi diri orang tua milenial di media sosial. Pendekatan yang tepat untuk membantu peneliti menjawab pertanyaan penelitian ini adalah melalui pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan survei secara daring yang didistribusikan melalui fitur iklan pada platform Facebook. Setelah dilakukan penyaringan data kuesioner daring, total responden yang diambil adalah 518 responden. Seluruh responden yang diambil telah memenuhi kriteria responden yaitu orang tua milenial (range usia 24-39 tahun), rutin membagikan aktivitas anaknya ke media sosial, dan pengguna aktif media sosial populer. Hipotesis penelitian akan diuji dengan uji regresi, uji korelasi, uji parsial (t), dan uji simultan (f). Metode pengukuran menggunakan skala likert. Sementara itu, uji keabsahan data dilakukan dengan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan aktivitas sharenting terhadap presentasi diri orang tua milenial di media sosial. Hubungan diantara kedua variabel juga dinyatakan positif. Kemudian, kekuatan kedua hubungan variabel masuk ke dalam korelasi kuat. Dari hasil penghitungan, dapat disimpulkan bahwa, semakin tinggi sharenting maka semakin tinggi pula presentasi diri. Dalam konteks presentasi diri, orang tua milenial menggunakan sharenting untuk menampilkan aspek-aspek positif dari kehidupan mereka, terutama berkaitan dengan kehidupan keluarga dan peran mereka sebagai orang tua modern. Bagi orang tua milenial, presentasi diri di media sosial juga dapat mempengaruhi reputasi mereka dalam lingkungan daring. Dengan membangun citra positif sebagai orang tua yang peduli dan terlibat, mereka dapat memperkuat koneksi sosial mereka dan memperluas jaringan dukungan mereka di dunia maya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10