cover
Contact Name
Nurfadhilah Arif
Contact Email
dhila.arif@gmail.com
Phone
+6285240999230
Journal Mail Official
forest.island@unkhair.ac.id
Editorial Address
Kehutanan, Universitas Khairun Jl. Jusuf Abdulrahman Kampus Gambesi, Pos Code 97719 2rd Campus, Faculty of Agriculture
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
Jurnal Forest Island
Published by Universitas Khairun
ISSN : 30258812     EISSN : 30255066     DOI : https://doi.org/10.33387/foris.v3i1
urnal Forest Island merupakan jurnal ilmiah oleh program studi Kehutanan Universitas Khairun yang diterbitkan secara periodik. Periode penerbitan sebanyak 3 kali setahun (Januari, Mei, September). Jurnal ini berisi tentang semua aspek yang berkaitan dengan kehutanan dan lingkungan. jurnal ini pada berfokus pada Agroforestry, Social-forestry, produk dan teknologi hasil hutan, Keanekaragaman Hayati, budidaya Hutan, manajemen hutan, ekowisata dan jasa lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan terutma di daerah kepualauan.
Articles 30 Documents
DAMPAK PERBURUAN DAN PERDAGANGAN SATWA LIAR TERHADAP POPULASI SPESIES DI KABUPATEN MANOKWARI Mansyur, Fadhilah Iqra
Jurnal Forest Island Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Forest Island, Mei 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i2.155

Abstract

Manokwari merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat yang dikelilingi beberapa Kawasan Hutan seperti Taman Wisata Alam Gunung Meja, Cagar Alam Pegunungan Arfak dan memiliki akses yang cukup mudah dari Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Kondisi ini memungkinkan terjadinya perdagangan satwaliar. Penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai para pelaku perdangangan satwaliar yang tersebar di beberapa daerah di Kabupaten Manokwari. Selain wawancara dilakukan juga studi literatur beberapa tulisan terkait pengaruh perdagangan terhadap populasi spesies di Indonesia. Berdasarkan penelitian, satwaliar yang diperdagangkan pada umumnya berasal dari ordo Mamalia dan Burung seperti Kuskus, Babi Hutan, jenis-jenis Kakatua dan Nuri. Pada umumnya, satwaliar yang menjadi komoditas perdagangan merupakan jenis-jenis penting yang memiliki banyak manfaat. Disisi lain, jenis-jenis tersebut memiliki keterbatasan jumlah populasi dan kemampuan reproduksi sehingga tingkat pemanfaatan yang dilakukan terhadap jenis tersebut menyebabkan jumlah populasinya menurun sehingga diperlukan regulasi demi mempertahankan keberadaan jenis-jenis yang menjadi komoditas perdagangan tersebut tetap terjaga di habitat alaminya.
Keanekaragaman Jenis Kupu-Kupu (Rhopalocera) Di Sungai Oba Kecamatan Oba Utara Kota Tidore KepulauanKeanekaragaman Jenis Kupu-Kupu (Rhopalocera) Di Sungai Oba Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan Tukuboya, Elvira; Kurniawan, Andy; Fatrawana, Adesna
Jurnal Forest Island Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Forest Island, Mei 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i2.157

Abstract

Kupu-kupu adalah bagian dari ekosistem yang fungsinya mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi habitat kupu-kupu dan menganalisis keanekaragaman jenis kupu-kupu di Sungai Oba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi atau pengamatan langsung di lapangan. Identifikasi habitat dengan mengamati vegetasi, suhu, dan kelembapan. Pengumpulan data kupu-kupu dilakukan dengan metode kombinasi yaitu gabungan dari metode kualitatif dan metode kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan yaitu indeks keanekaragaman jenis, indeks kemerataan jenis, dan indeks kekayaan jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis vegetasi yang ditemukan di sungai Oba diantaranya Pinang hutan, Sukun hutan (Artocarpus elasticus). Aren (Arenga pinata), Siri hutan (Piper aduncun), Kayu soro (Ficus exasperate), paku raja (Polystichum setiferm), Kananga (Cananga odorata), Gosale (Syzygium malaccense), Jabon (Antochepalus cadamba), Sengon (Albizia chinensis), Benuang laki (Duabanga moluccana), Binuang bini (Octomeles sumatrana), Pisang hutan (Musa acuminate), Matoa (Pometia pinnata), Beringin (Ficus benjamina), Rambutan (Nephelium lappaceum), Awar-awar (Ficus septica), Gofasa (Vitex cofassus), Kayu bugis (Koordersiodendron pinnatum), dan Pala (Myristica fragrans). Suhu udara berkisar antara 26-30 ºC dan kelembapan udara berkisar antara 75-80%. Nilai indeks keanekaragaman kupu-kupu di Sungai Oba yakni 2,53 sehingga tergolong sedang.
EKOSTRUKTUR DAN STATUS REGENERASI TEGAKAN MANGROVE DI SEKITAR PELABUHAN LEMBAR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Valentino, Niechi; Nurfadilah; Ridzki Prasetyo, Andrie; Anwar Hadi, Muhammad
Jurnal Forest Island Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Forest Island, Mei 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i2.159

Abstract

Ekosistem mangrove di sekitar Pelabuhan Lembar Desa Labuan Tereng perlu dilindungi dan dilestarikan karena keberadaannya sangat penting sebagai simpanan karbon yang tinggi serta dapat menyerap atau mengikat logam berat pada lingkungan di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekostruktur tegakan mangrove di sekitar Pelabuhan Lembar. Penelitian ini menggunakan metode systematic sampling with random start sebanyak 24 plot pada 3 stasiun terpilih. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 6 jenis mangrove yaitu A. marina, C. decandra, E. agallocha, R. apiculata, R. mucronata dan S. alba dengan INP tertinggi pada jenis R. mucronata ditemukan disetiap stadia pertumbuhan. Untuk indeks ekologi menunjukkan pada tahap pertumbuhan pohon, H' tergolong sedang (1,39), E tergolong tinggi (0,77) dan R1 tergolong rendah (0,86). Pada stadia pertumbuhan pancang, H' tergolong sedang (1,40), E tergolong tinggi (0,78) dan R1 tergolong rendah (0,88) dan pada stadia pertumbuhan semai, H' tergolong sedang (1,11), E tergolong sedang (0,62), R1 tergolong rendah (1,19). Frekuensi Raunkiaer mangrove di Pelabuhan Lembar menunjukkan terdistribusi normal dengan pola sebaran mengelompok dan acak. Status regenerasi pada jenis A. marina, E. agallocha, R. mucronata, S. alba termasuk baik sedangkan jenis C. decandra dan R. apiculata termasuk kategori rendah. Kata kunci: Ekostruktur, Frekuensi Raunkiaer, Indeks ekologi, mangrove, Status Regenerasi
Potensi Tumbuhan Berguna untuk Pengobatan, Pangan, Tanaman Hias, dan Pakan Ternak di Kelurahan Tongole, Ternate Tengah, Kota Ternate Nurjannah, Siti; Arif, Nurfadhilah; Muh Hidayah; Tidore, Muh Faedly
Jurnal Forest Island Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Forest Island, Mei 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i2.160

Abstract

Tumbuhan merupakan salah satu sumberdaya alam hayati yang memiliki nilai cukup tinggi, baik untuk komersil maupun untuk keperluan pribadi. Tumbuhan berpotensi menjadi kebutuhan yang sangat berguna seperti untuk obat, pangan, tanaman hias, dan pakan ternak. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis keragaman jenis tumbuhan potensial yang ada di Kelurahan Tongole. Metode yang digunakan yaitu eksplorasi dan studi pustaka. Jenis data yang diambil adalah nama jenis tumbuhan, potensi kegunaan, tipe habitat, dan status budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 53 jenis (32 famili) tumbuhan potensial yang terdiri dari tumbuhan berpotensi obat-obatan (50 jenis), pangan (31 jenis), hias (10 jenis), dan pakan ternak (13 jenis). Tumbuhan potensial paling banyak dari tumbuhan liar (28 jenis) dibandingkan dengan tumbuhan budidaya (25 jenis) dan tersebar pada tiga tipe habitat, yaitu pekarangan (26 jenis), kebun (30 jenis), dan pinggir jalan (23 jenis). Kata kunci : keragaman, Tongole, tumbuhan berguna
Pengelolaan Dan Pengembangan Agroforestri Di Desa Laromabati Kecamatan Kayoa Utara Isra, Abubakar; Nurdin , Aqshan Shadikin; Tamrin, Mahdi
Jurnal Forest Island Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Forest Island, Mei 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i2.161

Abstract

Agroforestri dipercaya masyarakat dapat memberikan manfaat secara ekonomi, ekologi dan sosial sehingga dapat meningkatkaan kesejahteraan masyarakat. Tujuan yang diharapkan dari pengolahaan lahan dengan sistem agroforestri adalah untuk mempertahankan jumlah dan keragaman produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengelolaan agroforestri dan sistem agroforestri yang diterapkan pada lahan masyarakat di Desa Laromabati Kecamatan Kayoa Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu inventarisasi, observasi dan wawancara. Sedangkan perangkat analisis yaitu analisis deskriptif dan kualitatif. Hasil Penelitian terlihat bahwa Pola agroforestri yang saat ini dikembangkan di Desa Laromabati yaitu sistem tanaman campuran dimana penanaman dilakukan secara acak dengan kompleksitas yang tinggi atau yang dikebal dengan agroforestri sederhana. Sistem Agrisilvikultur dengan komposisi vegetasi berupa tanaman kehutanan: tanaman tahunan; pertanian tanaman semusim dan jenis tanaman lainnya Pengelolaan kebun agroforestri petani Desa Laromabati, lebih banyak menggunakan pengalaman yang diperoleh dari orang tua. Pengelolaan agroforestri di Desa Laromabati terbagi atas beberapa kegiatan seperti persiapan lahan, persiapan bibit, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan dan pemasaran. Pengembangan agroforestri di Desa Laromabati dilakukan produktivitas, keberlanjutan dan penyebarluasan.
Potensi Ekowisata Talaga Paca di Desa Talaga Paca Kecamatan Tobelo Selatan Kabupaten Halmahera Utara Udin , Nurhajarati; Hadun, Ramli; Nurhikmah
Jurnal Forest Island Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Forest Island, Mei 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i2.178

Abstract

Ekowisata merupakan bentuk perjalanan ke wilayah - wilayah yang masih alami dengan tujuan konservasi atau melestarikan lingkungan dan memberi penghidupan pada penduduk lokal, serta melibatkan unsur pendidikan. Ekowisata dapat memberi kemudahan kepada wisatawan untuk melihat, mengetahui, serta menikmati pemandangan alam dan intelektual budaya masyarakat lokal. Desa Talaga Paca Kecamatan Tobelo Selatan merupakan salah satu desa yang menjadi tujuan ekowisata di Kabupaten Halmahera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekowista Talaga Paca di Desa Talaga Paca dan mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi potensi ekowisata Talaga Paca. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan unsur penunjang ekowisata menggunakan metode skoring dan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan potensi ekowisata Talaga Paca tergolong cukup potensial dikembangkan dengan nilai sebesar 467,5. Terdapat lima unsur penunjang ekowisata yaitu daya tarik, aksesibilitas, kondisi sekitar kawasan, akomodasi, sarana dan prasarana. Sedangkan unsur lainnya yang belum optimal yaitu ketersedian air bersih di lingkungan sekitar kawasan. Kata kunci: ekowisata, potensi, Talaga Paca
ANALISIS KELAYAKAN OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA ALAM DI TAMAN WISATA ALAM (TWA) KERANDANGAN, DESA SENGGIGI, KECAMATAN BATU LAYAR, KABUPATEN LOMBOK BARAT Ridhan Rizki, Lalu Erkana; Setiawan, Budhy; Fatahullah
Jurnal Forest Island Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Forest Island, September 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i3.238

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Kerandangan sebagai salah satu kawasan pelestarian alam yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTB, memiliki potensi dan daya tarik sebagai salah satu objek wisata. TWA Kerandangan memiliki ekosistem dan komunitas alam yang masih terbilang alami serta unik dan indah dengan bentang alam serta potensinya yang dapat dijadikan sebagai salah satu ODTWA. ODTWA dengan komponen utama berupa fasilitas dan aksesibilitas yang baik yang telah ada pada TWA Kerandangan juga menjadikannya memiliki nilai jual di pasar wisata. Meskipun demikian, TWA Kerandangan saat ini menghadapi tantangan karena sudah terlupakan oleh banyak orang sebagai tujuan wisata. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mengevaluasi kelayakan obyek wisata dan daya tariknya di TWA Kerandangan agar dapat menentukan apakah layak untuk dijadiikan salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW). Selain itu, strategi-strategi perencanaan pengembangan juga perlu disusun untuk mengatasi tantangan ini dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke TWA Kerandangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dimana dilakukan observasi dan wawancara mendalam dengan informan kunci yaitu pihak pengelola Taman Wisata Alam Kerandangan yang kemudian dilakukan penilaian atau skoring menggunakan Pedoman ADO-ODTWA Dirjen PHKA 2003. Hasil penelitian dengan analisis ADO-ODTWA menunjukkan bahwa Taman Wisata Alam Kerandangan layak untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata dengan hasil rekapitulasi indeks nilai kelayakan sebesar 95%. Namun, unsur keunikan sumber daya alam pada indikator daya tarik memerlukan perhatian lebih oleh pihak pengelola agar menjadi pioritas untuk mengembangkan kawasan Taman Wisata Alam Kerandangan menjadi destinasi ekowisata unggulan.
STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT DI DESA SURANADI KABUPATEN LOMBOK BARAT Safitri, Gitta; Valentino, Niechi; Mulyadin, Rahmat
Jurnal Forest Island Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Forest Island, September 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i3.239

Abstract

Etnobotani merupakan interaksi antara masyarakat dengan lingkungan hidupnya, secara khusus mengacu pada tumbuhan serta pengkajian terhadap pemanfaatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan obat yang dimafaatkan oleh masyarakat di Desa Suranadi. Pengumpulan data melalui wawancara seacara mendalam untuk mengetahui informasi mengenai jenis tumbuhan obat yang digunakan dan pengamatan secara langsung dilapangan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 47 spesies tumbuhan dari 33 famili yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Famili yang paling banyak adalah Zingiberaceae dengan persentase 9%. Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun sebanyak 53%. Habitus tumbuhan didominasi oleh herba sebanyak 32%, dan status tumbuhan yang digunakan sebagai obat paling banyak adalah dibudidaya sebanyak 68% dengan cara pengolahan yang paling umum yakni dengan cara direbus kemudian diminum.
Komposisi, Struktur, dan Pola Distribusi Vegetasi Sekitar Telaga Nita Kelurahan Sulamadaha Kecamatan Pulau Ternate Kota Ternate Rahmawati La, Masihaji; Nurhikmah; Asiah , Salatalohy
Jurnal Forest Island Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Forest Island, September 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i3.276

Abstract

Vegetasi adalah keseluruhan tanaman di suatu wilayah yang berfungsi sebagai penutup lahan dan terdiri dari berbagai jenis pohon, semak, dan herba yang hidup berdampingan dalam suatu lingkungan. Komposisi dan struktur vegetasi merupakan salah satu parameter yang harus diperhatikan dalam kegiatan restorasi hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi komposisi vegetasi dan karakteristik struktur vegetasi pohon di kawasan Telaga Nita Sulamadaha, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate. Pelaksanaan penelitian berlangsung pada bulan September tahun 2023. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta lokasi kegiatan penelitian, lembaran tally sheet untuk pencatatan data jenis pohon, daa tinggi pohon, data diameter pohon, serta data jumlah individu. Variabel yang diamati pada semai yaitu jenis, jumlah individu tiap jenis. Pendataan vegetasi terbagi menjadi satu jalur dengan masing-masing transek pada tipe ekosistem memiliki ukuran 20 m × 20 m. Hasil inventarisasi diperoleh 14 vegetasi tingkat pancang, 14 vegetasi tingkat tiang, dan 11 vegetasi tingkat pohon. Komposisi struktur jenis vegetasi yang mendominasi dengan jumlah individu tertinggi adalah jenis vegetasi tingkat semai dan yang terendah jenis vegetasi tingkat tiang. Tingkat keanekaragaman jenis yang mencapai kisaran tertinggi terdapat pada jenis vegetasi semai dan yang terendah yaitu tingkat pohon. Pola penyebaran vegetasi di lokasi penelitian yang dikategorikan pola sebaran tertinggi atau kelompok terdapat pada jenis vegetasi tingkat tiang. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan pemerintah dan masyarakat agar lebih menjaga kelestarian kawasan Telaga Nita dan tidak melakukan alih fungsi lahan serta pembalakan liar yang akan mengalami perubahan status fungsi kawasan di Telaga Nita. Kata kunci: komposisi, pola distribusi, struktur, telaga Nita, vegetasi
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Di Desa Sagea Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah Sukirman , Ruslan; Tamrin, Mahdi
Jurnal Forest Island Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Forest Island, September 2024
Publisher : Prodi Kehutanan Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/foris.v2i3.294

Abstract

Upaya pengembangan HHBK perlu dilakukan secara berkelanjutan, mengingat komoditas HHBK sangat beragam di setiap daerah dan banyak melibatkan berbagai pihak dalam memproses hasilnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis dan bentuk pemanfaatan HHBK di Desa Sagea Kecamatan Weda Utara Kabupaten Halmahera Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan wawancar. jumlah sampel yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah sebesar 10% dari total masyarakat yang masih menjadikan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Sebagai salah satu mata pencarian mereka yaitu sebanyak 120 KK dari total populasi masarakat Desa Sagea sebesar 931 jiwa. Dari perhitungan menggunakan slovin diperoleh jumlah responden sebanyak 55. Jenis-jenis HHBK yang teridentifikasi di Desa Sagea terdapat 22 jenis denan hanya 5 jenis HHBK yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai produk jadi yakni Sagu (Metroxylon Sp) yang dimanfaatkan menjadi kalasa, tepung sagu, atap rumah, sagu lempeng. Rotan (Calameae) yang dimanfaatkan Saloi. Bambu (Bambusa Sp.) yang dimanfaatkan pagar, ancak, para-para nyiru, saringan sagu, penjepit, sayur rebung. Aren (Arenga Pinnata) yang dimanfaatkan menjadi sapu lidi. Pandan Duri (Pandanus tectorius) dimanfaatkan menjadi tikar dan tempat pinang.

Page 2 of 3 | Total Record : 30