cover
Contact Name
Muhammad Nanang Prayudyanto
Contact Email
muhammadprayudyanto@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
puslitdrt@gmail.com
Editorial Address
Pusat Litbang Transportasi Jalan dan Perkeretaapian, Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Kementerian Perhubungan RI
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Penelitian Transportasi Darat
ISSN : 14108593     EISSN : 25798731     DOI : 10.25104/jptd.v24i1.2095
Core Subject : Health, Engineering,
Jurnal Penelitian Transportasi Darat adalah jurnal ilmiah yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang transportasi jalan dan perkeretaapian, dengan fokus pada keselamatan lalu lintas, perencanaan jalan, simulasi kecelakaan, pengembangan teknologi transportasi, dan rekayasa lalu lintas.
Articles 242 Documents
POTENSI PENGEMBANGAN TRANS PAKUAN SEBAGAI PENERAPAN KONSEP GREEN TRANSPORTATION DI KOTA BOGOR
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 1 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i1.137

Abstract

ABSTRACTThe implementation of Bus Rapid Transit System trough the operation of the Trans Pakuan in Bogor is a form of mass transit improvements as the part of transport development sector based on green transport/sustainable transportation. The development of sustainable transport is an effort to minimize the negative impact of the development of the transport sector, especially in environmental aspects which is associated with emission levels reduction. Some issues encountered in the development of Trans Pakuan is the low service performance identified by the percentage of load factor for corridor 2 was 6.25% and for corridor 3 was 54.17%. The availability of public transportation in the city of Bogor relatively adequate (3,412 units) which became the main factor affecting the service of Trans Pakuan which only has 27 units of fleet to serve 3 corridor. This study aims to analyze the potential for the development of Trans Pakuan as the implementation of the sustainable transportation concept by identifying mode choice opportunities of Trans Pakuan compared to public transportation (angkot) in Bogor. This study used a quantitative method based on quantitative data that analyzed with analysis techniques modal choice (mode choice) binary logit binomial models. The survey was conducted to the respondents who are the users of Trans Pakuan and public transportation (angkot) in Bogor. The conclusions of the study are the variables that gives affect to the modal choice of Trans Pakuan compared with angkot consists of change of modes variable and travel time. The Trans Pakuan modal choice opportunities based on these variables only 2.5% (97.5% chance of urban transport/angkot) with angkot as reference based. The identification of these opportunities showed that the potential for the development of Trans Pakuan as the implementation of sustainable transport concepts still need more improvement, especially for the variable of change of mode and travel time.ABSTRAKPenerapan sistem Bus Rapid Transit melalui pengoperasian Trans Pakuan di Kota Bogor merupakan bentuk perbaikan transportasi massal yang menjadi bagian dari pengembangan sektor transportasi berbasis green transportation/transportasi berkelanjutan. Pengembangan konsep transportasi berkelanjutan tersebut sebagai upaya untuk meminimalkan dampak negatif pengembangan sektor transportasi terutama dalam aspek lingkungan terkait penurunan tingkat emisi. Kendala yang dihadapi dalam perkembangan pengoperasian Trans Pakuan adalah kinerja pelayanan yang masih rendah ditandai dengan persentase load factor koridor 2 sebesar 6,25% dan koridor 3 sebesar 54,17%. Ketersediaan angkutan kota di Kota Bogor yang relatif telah memadai (3.412 unit) menjadi faktor utama yang mempengaruhi layanan Trans Pakuan yang hanya memiliki 27 unit armada yang melayani 3 koridor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan Trans Pakuan sebagai penerapan konsep transportasi berkelanjutan dengan mengidentifikasi peluang pemilihan moda Trans Pakuan dibandingkan dengan angkutan kota di Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berdasarkan data kuantitatif yang dianalisis dengan teknik analisis pemilihan moda (mode choice) model binomial logit biner. Survei dilakukan pada responden yang merupakan pengguna Trans Pakuan dan angkutan kota di Kota Bogor. Kesimpulan yang dihasilkan adalah variabel yang berpengaruh terhadap pemilihan moda Trans Pakuan dibandingkan dengan angkutan kota terdiri dari variabel pergantian moda dan waktu tempuh. Adapun peluang pemilihan moda Trans Pakuan berdasar variabel tersebut dengan based reference angkutan kota hanya 2,5% (peluang angkutan kota 97,5%). Identifikasi peluang tersebut menunjukkan potensi pengembangan Trans Pakuan sebagai penerapan konsep transportasi berkelanjutan masih memerlukan perbaikan terutama pada aspek pergantian moda dan waktu tempuh.
PERBANDINGAN MULTIPLIER ANGKUTAN JALAN DAN INFRASTRUKTUR JALAN MENGGUNAKAN MODEL INPUT-OUTPUT
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 1 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i1.138

Abstract

ABSTRACTTransportation sector creates the value for place (place utility) and the value for time (time utility). From some sectors of transportation, road transportation is the lifeblood of life and economic development, social and mobility. Road transportation modes are divided into facility and road infrastructure. Effective implementation of road transportation, requires an effective facility and road infrastructure. The development of the road transportation sector and road infrastructure will generate multiplier effects in supporting the economy. However, the problem in this cases are what is the magnitude of the multiplier effect created on the road transportation sector and what is the magnitude of the multiplier effect created on the road infrastructure? This study uses data Input-Output Tables 2013 aggregated into 20 X 20 sectors. The twenty sectors namely: Plant Food Stuffs, Plantation, Livestock, Forestry, Fishing, Mining and Quarrying, Manufacturing, Electricity, Gas and Water, Construction Exclude Roads Infrastructure, Road Infrastructure, Wholesale and Retail, Restaurant, Hospitality, Railways Transport, Sea Transport, Ferry Transport, Air Transport, Supporting Transportation Services, and Other Services. Generally, the multiplier backward linkage of road infrastructure is larger than road transportation, with value 2.183 and 2.125 respectively. However, the forward linkage value shows that road transportation has multiplier effect greater than the multiplier effect of the road infrastructure, wich valued at 1.403 to 1.003 respectively.ABSTRAKSektor transportasi menciptakan nilai guna tempat (place utility) dan nilai guna waktu (time utility). Dari beberapa sektor transportasi, angkutan jalan merupakan urat nadi bagi kehidupan dan perkembangan ekonomi, sosial dan mobilitas penduduk. Moda angkutan jalan terbagi dalam sarana dan prasarana atau infrastruktur jalan. Terselenggaranya angkutan jalan yang efektif, memerlukan sarana dan parasarana yang efektif. Perkembangan sektor angkutan jalan dan infrastruktur jalan akan menghasilkan multiplier effects dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakat. Namun yang menjadi permasalahan dalam hal ini yaitu berapa besar multiplier effects yang tercipta pada sektor angkutan jalan dan berapa besar multiplier effects yang tercipta pada infrastruktur jalan. Penelitian ini menggunakan data Tabel Input-Output tahun 2013 yang diagregasi menjadi 20 x 20 sektor. Dua puluh sektor tersebut yaitu: Tanaman Bahan Makanan, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, Perikanan, Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik, Gas dan Air Bersih, Konstruksi selain Infrastruktur Jalan, Infrastruktur Jalan, Perdagangan Besar dan Eceran. Restoran, Perhotelan, Angkutan Kereta Api, Angkutan Jalan, Angkutan Laut, Angkutan Sungai dan Danau, Angkutan Udara, Jasa Penunjang Angkutan, dan Jasa-Jasa. Secara total, nilai multiplier backward lingkage infrastruktur jalan lebih besar dari angkutan jalan yaitu sebesar 2,183 untuk infrastruktur jalan dan sebesar 2,125 untuk angkutan jalan. Bila dilihat dari multiplier forward lingkage secara total, nilai multiplier angkutan jalan lebih besar dari infrastruktur jalan yaitu sebesar 1,403 untuk angkutan jalan dan sebesar 1,003 untuk infrastruktur jalan.
EVALUASI KELAIKAN JALAN REL KERETA API LINTAS BOGOR-SUKABUMI
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 1 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i1.139

Abstract

ABSTRACTIn the era of globalization, the movement of people and goods is increasing, various alternative modes has reached saturation point, especially road transport. With the saturation of road capacity has given opportunity to the railway as a potential transport considering the characteristics of mass transport, which are cheaper and relatively faster and more effective. This is triggers the stakeholders in this case the Ministry of Transportation to improve the reliability and the role of railway transport with a variety of businesses. Nevertheless there are still many problems to be solved to improve the reliability of railway infrastructure and facilities, including rail road problems, damage to buildings wisdom (bridges, tunnels, and culverts), as well as damage to facilities. The purpose of this study was to evaluate the feasibility of the cross railroad in Bogor - Sukabumi for the operational Pangrango railway and the completion of the rail road traffic condition information Bogor-Sukabumi to support its operation. This research uses a quantitative methodology to analyze problems of railway infrastructure located in Bogor-Sukabumi cross known as feeder transport to and from Sukabumi. Based on field observations and data obtained it showed that the poor of rail road infrastructure in the traffic to remain operated for many railway components do not comply with the technical specifications of the feasibility of a rail road. From the analysis the condition of ballast is very poor, the lack of ballast reached about 33.098,9 m3, this condition is very dangerous since it may lead to reduce the elasticity, which may cause the material on it such as bearings, fastening and rail can be easily damaged due to the heavy load without the function elasticity of ballast, and also potentially causing derailment when speed exceeds speed limit. Besides, the drainage is not functioning properly which could be bad for the body. The smallest radius of 147 m with a maximum speed to pass the 30 km/h which should according to requirement plan of 4,3√R or maximum speed is 52 km/h. based on the information the curved alignment of track damage due to imperfect gradian is supposed to be 85 mm and 65 mm measurement results which the dilation should be 1087 mm and 1104 mm arrows diverge.ABSTRAKDalam era globalisasi, pergerakan orang dan barang semakin meningkat, berbagai alternatif moda sudah mencapai titik jenuh terutama angkutan darat. Dengan jenuhnya kapasitas jalan membuka peluang kereta api sebagai angkutan yang potensial mengingat karakteristiknya yang memiliki kapasitas angkut massal, murah, relatif cepat dan efektif. Hal ini tentu saja memicu pemangku kebijakan dalam hal ini Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan kehandalan dan peran serta angkutan perkeretaapian dengan berbagai usaha. Meskipun demikian masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kehandalan prasarana dan sarana perkeretaapian, diantaranya permasalahan jalan rel, kerusakan bangunan hikmat (jembatan, terowongan, dan gorong-gorong), serta kerusakan sarana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kelaikan jalan rel di lintas Bogor-Sukabumi dalam rangka pengoperasian KA Pangrango serta tersusunnya informasi kondisi jalan rel lintas Bogor-Sukabumi dalam mendukung pengoperasian KA Pangrango. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis permasalahan prasarana jalan rel yang terletak di lintas Bogor-Sukabumi yang notabenenya sebagai angkutan feeder dari dan ke Sukabumi. Dari hasil pengamatan di lapangan serta data dukung yang didapat di lapangan dapat dilihat kurang layaknya prasarana jalan rel di lintas tersebut untuk tetap dioperasikan karena banyak komponen jalan rel yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis kelayakan jalan rel. Dari hasil analisis kondisi balas sangat memprihatinkan, kekurangan balas mencapai 33.098,9 m3. Kondisi ini sangat berbahaya karena bisa mengakibatkan elastisitas berkurang sehingga material di atasnya seperti bantalan, penambat dan rel bisa cepat rusak karena menerima beban terlalu berat tanpa bantuan elastisitas balas, dan juga berpotensi anjlogan saat kecepatan melebihi batas kecepatan. Drainase juga tidak berfungsi dengan baik yang bisa berakibat buruk untuk badan jalan. Radius terkecil 147 m dengan maksimal kecepatan untuk dilewati yaitu 30 km/jam yang seharusnya menurut ketentuan perencanaan kecepatan maksimal adalah 4,3√R atau 52 km/jam. Pada lengkung tersebut terjadi kerusakan trase jalan rel akibat gradian yang tidak sempurna yaitu seharusnya 85 mm hasil pengukuran 65 mm dan pelebaran yang seharusnya 1087 mm menjadi 1104 mm dan anak panah yang menyimpang.
EVALUASI KINERJA TRANS METRO BANDUNG
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 2 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i2.140

Abstract

ABSTRACTPublic transport services in Bandung is still far from the expected conditions, both in terms of capacity and quality of service. One of the efforts taken by the municipal government of Bandung to overcome traffic congestion is by developing mass transit, namely Trans Metro Bandung (TMB). The implementation of TMB is not to give additional transport to the new urban public transport system, but to change the system of management of urban public transport. This study is the evaluation of performance and quality of service TMB. The evaluation method used is the formal evaluation. The formal evaluation is to assess the existing parameters based on formal documents. The evaluation conducted in two stages. First, the evaluation shows constraint mapping and objective mapping. Next on the second stage will be carried out comparison with similar program as well as launch time of this program almost the same, namely Trans Jogja. This is because of Trans Jogja considered more successful than TMB. The evaluation results obtained some conclusions, TMB bus service currently not mandated in fulfilling the vision of its implementeion; TMB still has shortcomings in terms of connectivity with other urban transport; there are still many facilities are in poor condition and not properly used; compare to Trans Jogja, TMB services are still very far below.ABSTRAKPelayanan angkutan umum di Kota Bandung masih jauh dari kondisi yang diharapkan, baik dari sisi kapasitas maupun kualitas pelayanan. Salah satu upaya yang ditempuh Pemkot Bandung dalam mengatasi kemacetan dengan mengembangkan angkutan massal, yaitu bus Trans Metro Bandung (TMB). Pada prinsipnya penerapan TMB bukan untuk menambah sistem angkutan kota yang baru, melainkan mengubah sistem pengelolaan angkutan umum perkotaan. Penelitian ini merupakan evaluasi kinerja dan kualitas layanan TMB. Pada prinsipnya metode evaluasi yang digunakan adalah evaluasi formal. Sifat dari evaluasi formal adalah melakukan penilaian berdasarkan parameter yang ada pada dokumen formal. Evaluasi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, evaluasi akan lebih menunjukkan constraint mapping serta objective mapping. Selanjutnya pada tahap kedua akan dilakukan perbandingan dengan program yang relatif sama serta waktu peluncuran program yang hampir bersamaan, yaitu Trans Jogja. Hal ini karena Trans Jogja dianggap lebih berhasil dibandingkan dengan TMB. Dari hasil evaluasi didapat beberapa kesimpulan, yaitu layanan bus TMB saat ini belum memenuhi visi yang diamanatkan dalam penyelenggaraannya; TMB masih memiliki kekurangan dalam hal konektivitas dengan angkutan perkotaan lainnya; banyak fasilitas dalam kondisi kurang baik serta tidak digunakan sebagaimana mestinya; dibandingkan dengan Trans Jogja, layanan TMB masih sangat jauh dibawahnya.
BEBAN DAYA GENZET DI KERETA K3 (EKONOMI) ATAS PEMASANGAN AC SPLIT (AC RUMAH)
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 2 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i2.143

Abstract

ABSTRACTInstallation of split air conditioners on trains applied by PT. KAI toward two types of passenger train, i.e. the class train 2 (business) and class train 3 (economy). The purpose of the installation of the AC is to improve services and comfort the passengers. In 2013, PT KAI has authorized installing split air conditioners throughout the long-distance trains in Indonesia for grade 2 and 3. However what’s interesting is the installation of split AC class 3 on the train applied 6 units air conditioner on each train, is it possible for train generator to accomodate the power used to cool down the room air inside the train. The method in calculating capacity of split air conditioners which amounted to 6 unit on ecah train into account KVA power after a series of split air conditioners installed. From the analysis it was found that the air conditioning capacity is smaller than the power load that must be accepted by the AC hence the AC needs to work harder cooling the space. Thus from the calculation of the percentage of effectiveness generator, known that is not been used optimally, since the percentage of effectiveness reached an average 35%.ABSTRAKPemasangan AC split pada kereta diterapkan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero)/PT. KAI pada dua jenis kereta api penumpang, yaitu kereta api kelas 2 (bisnis) dan kereta api kelas 3 (ekonomi). Tujuan pemasangan AC ialah untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan kepada penumpang. Pada tahun 2013 PT. KAI telah resmi memasang AC split di seluruh kereta api kelas 2 dan kelas 3 jarak jauh di Indonesia. Namun yang menjadi perhatian adalah pemasangan AC split pada kereta api kelas 3 dengan jumlah 6 unit AC pada tiap kereta api, apakah genzet mampu menampung daya yang digunakan untuk mendinginkan udara didalam kereta api. Metode dalam menghitung kapasitas AC split yang berjumlah 6 unit di tiap-tiap kereta memperhitungkan daya KVA rangkaian setelah dipasang AC split. Dari hasil analisis ditemukan bahwa kapasitas AC lebih kecil dibandingkan dengan beban yang harus diterima oleh AC sehingga AC harus bekerja lebih keras dalam mendinginkan ruang kereta. Kemudian dari perhitungan persentase efektifitas genzet, diketahui bahwa kapasitas genzet belum digunakan dengan optimal, karena persentase efektifitasnya baru mencapai angka rata-rata 35%.
EVALUASI KETERSEDIAAN FASILITAS KESELAMATAN KAPAL PENYEBERANGAN (STUDI KASUS DI PROVINSI MALUKU UTARA)
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 2 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i2.144

Abstract

ABSTRACTThe high increase in ferry transport services encourage the government to pay more attention to safety issues, especially the development of safety facilities for both passenger and the ship. The purpose of this research is to evaluate the avaibility of safety facilities in the ferry of North Maluku Province. The analytical method used is descriptive quantitative and qualitative analysis. Based on the analysis on five ships sampled which is owned by PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero), there are still some safety facilities equipment unmet in general are life boats, life jacket, and line throwing apparatus. Efforts should be made by the operator is a complete lack of safety facilities because the fulfillment of safety facilities is one of the requirements in the organization of transport crossing, considering the implementation of these standards apply to non-Convention vessel Indonesian flagged ships which are docking scheduled held after 1 January 2013.ABSTRAKTingginya peningkatan jasa angkutan penyeberangan mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan masalah keselamatan terutama pengembangan fasilitas baik untuk keselamatan penumpang maupun keselamatan kapal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi fasilitas keselamatan yang tersedia di kapal penyeberangan di Provinsi Maluku Utara. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, pada lima kapal yang dijadikan sampel milik PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) masih terdapat beberapa peralatan fasilitas keselamatan yang belum terpenuhi, pada umumnya adalah sekoci penolong, baju penolong, dan alat pelontar tali. Upaya yang harus dilakukan oleh operator adalah melengkapi kekurangan fasilitas keselamatan kapal penyeberangan tersebut karena pemenuhan fasilitas keselamatan merupakan salah satu persyaratan dalam penyelenggaraan angkutan penyeberangan yang berkeselamatan, mengingat penerapan standar tersebut diberlakukan bagi kapal Non Konvensi Berbendera Indonesia yang jadwal dockingnya dilaksanakan pada atau setelah tanggal 1 Januari 2013.
EVALUASI PERAWATAN SARANA PERKERETAAPIAN DI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 2 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i2.145

Abstract

ABSTRACTRailways as a land transport mode has an important role and a lot of advantages when compared to other modes. The potential market of transport is large enough and a challenge for the railway to increase the market share for various segments of passenger transport. In accordance with the Blueprint of National Railways of General Directorate of Railway, Ministry of Transport, the growth target for the railway passenger by 5% the number of 191 million passengers in 2010, 244 million in 2015 and 311 million in 2020. In order to support of the railway operation and to ensure the safety of the journeys, any means of railway especially to transport people, include a railway passenger, electric multiple unit, diesel multiple unit, and diesel electric multiple unit that will be operate must be inspected according to the schedule set in place at the maintenance center in Depot and Workshop. In addition, the quality of maintenance is determined by the human resources, availability of spare parts or components will also be determined by the availability of working equipments, inspection equipments, locations, conditions and support facilities. This paper is a study to evaluate the equipment in Depot and Workshop in support of rolling stock equipment maintenance to fulfillment and achievement of maintenance goals. The obtained result is creation of the rolling stock maintenance activities by providing facilities and equipment at the Workshop and Depot are required by engineers and technicians to implement the inspection, maintenance, and repair.ABSTRAKPerkeretaapian sebagai salah satu moda angkutan darat memiliki peranan sangat penting dan mempunyai banyak keunggulan apabila dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Potensi pasar angkutan cukup besar dan merupakan tantangan bagi perkeretaapian untuk lebih meningkatkan pangsa angkutan penumpang dan barang pada berbagai segmen. Sesuai dengan Blueprint Perkeretaapian Nasional Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, target pertumbuhan angkutan penumpang untuk kereta api sebesar 5% dengan jumlah 191 juta penumpang pada tahun 2010, 244 juta penumpang pada tahun 2015 dan 311 juta penumpang pada tahun 2020. Dalam mendukung operasional perjalanan kereta api dan menjamin keselamatan perjalanannya, maka terhadap setiap sarana perkeretaapian khususnya kereta api untuk mengangkut orang antara lain KRL, KRD dan KRDE yang akan dioperasikan harus dilakukan pemeriksaan sesuai jadwal yang ditetapkan di tempat perawatan, yakni di Balai Yasa dan Depo. Mutu hasil perawatan selain ditentukan oleh sumber daya manusia, ketersediaan suku cadang atau komponen, juga akan sangat ditentukan oleh ketersediaan peralatan kerja, alat pemeriksaan, lokasi, kondisi dan fasilitas penunjang. Tulisan ini memuat evaluasi terhadap peralatan di Balai Yasa dan Depo dalam mendukung perawatan kereta api dan selanjutnya dilakukan penyusunan kebutuhan minimal peralatan yang harus dimiliki dengan sasaran terpenuhi dan tercapainya perawatan kereta api. Hasil yang diperoleh adalah terciptanya kegiatan perawatan kereta api dengan menyediakan sarana peralatan di Balai Yasa dan Depo kereta api yang sangat diperlukan oleh teknisi dalam melaksanakan tugas pemeriksaan (inspection), perawatan (maintenance), dan perbaikan.
ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL DI KOTA MALANG (STUDI KASUS: SIMPANG PADA RUAS JL. BASUKI RAHMAT KOTA MALANG)
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 2 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i2.146

Abstract

ABSTRACTIntersection are an integral part of the road network. In urban areas, generally there are many intersections, signalzed intersection and non-signalized intersection. Intersection that became a case study in this research is not signalized intersection on road Basuki Rahmat, Malang City. The intersection is located near the city center, which is a lot of vehicles that enter and exit the city center via the road. This study aims to determine the performance non-signalized intersections on road Basuki Rahmat, Malang City. The analysis method used is based on Indonesian Highway Capasity Manual year 1997. Based on the research conducted, it is known that the degree of saturation is relatively good because most have a DS < 0,8, intersection delay of 8,74 second/smp, and the chances of a queue relatively small. With such performance, the intersection at the study sites have the level of service “B”.ABSTRAKSimpang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari jaringan jalan. Di perkotaan, umumnya terdapat banyak simpang, baik simpang bersinyal maupun tidak bersinyal. Simpang yang menjadi studi kasus dalam penelitian ini adalah simpang tak bersinyal pada Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang. Simpang tersebut terletak di dekat pusat kota, sehingga sangat banyak kendaraan yang masuk dan keluar pusat kota melalui ruas jalan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja simpang tak bersinyal pada Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang. Metode analisis yang digunakan adalah Manual Kapasitas Jalan Indonesia, 1997. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dapat diketahui bahwa derajat kejenuhan relatif baik karena sebagian besar memiliki DS < 0,8, tundaan simpang sebesar 8,74 detik/smp, dan peluang terjadinya antrian relatif kecil. Dengan kinerja tersebut, simpang pada lokasi penelitian memiliki tingkat pelayanan “B”.
PENGEMBANGAN BANGUNAN STASIUN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN NON-OPERASI PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) (STUDI KASUS PADA STASIUN BOGOR)
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 3 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i3.147

Abstract

ABSTRACTThe railway station beside its function as a place of interaction between boarding-alighting of passengers and loading-unloading of goods, also played a strategic role in supporting economic development and urban regions. The passenger’s growth and their activities at stations need to be considered as part of the planning of the building station area development. Through property asset management based on business-oriented, it is expected to optimize the utilization of station as well as providing added value from the current management system. The research method used in this study are: implementation of field surveys for mapping the primary and secondary data; in-depth interviews with selected research subjects; and benchmarking building design and railway station area. The analysis result showed that the passenger flow while moving in the area of the station building in line with the class of station. The development of business-oriented railway station area is directed for Transit Oriented Development (TOD) and the management of the station building and the area for each category of station service class. Thus the implication is not only an increasing for non-operating income of railway company, but also for improving the quality of service during stay at the station and travel to destination.ABSTRAKStasiun kereta api selain berfungsi sebagai tempat interaksi naik-turun penumpang dan bongkar-muat barang, juga berperan strategis dalam mendukung perkembangan wilayah dan ekonomi perkotaan. Pertumbuhan jumlah dan aktivitas penumpang di stasiun perlu dipertimbangkan sebagai bagian dalam perencanaan pengembangan bangunan dan kawasan stasiun yang berorientasi bisnis. Pengembangan kawasan stasiun diharapkan dapat mengoptimalkan serta memberikan nilai tambah dari pengelolaan stasiun yang selama ini sudah berjalan. Dengan metode penelitian mapping data primer dan sekunder; wawancara mendalam dengan subyek penelitian terpilih; dan benchmarking desain bangunan dan kawasan stasiun KA, hasil analisis menunjukkan bahwa aliran penumpang saat bergerak di kawasan stasiun serta bangunan stasiun sejalan dengan kelas stasiun. Pengembangan bangunan dan kawasan stasiun KA yang berorientasi bisnis diarahkan untuk Transit Oriented Development (TOD) dan pengelolaan bangunan dan kawasan stasiun untuk masing-masing kategori kelas layanan stasiun implikasinya adalah peningkatan pendapatan non-operasi KA dan peningkatan kualitas layanan selama di stasiun dan perjalanan.
PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP RENCANA ANGKUTAN KA MONOREL DI KOTA MALANG
Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 3 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat
Publisher : Sekretariat Badan Kebijakan Transportasi, Formerly by Puslitbang Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/jptd.v17i3.148

Abstract

ABSTRACTGovernment of Malang City has planned to build a monorail in order to overcome the problem of congestion in the Malang City. The plan outlined in the Master Plan of Traffic and Road Transport Malang 2013. This study aims to examine the determminants of people’s preference for rail transport plan of monorail in the Malang City. People's preference in this study is to find out the willingness of people to shift and to the monorail in Malang City as it has planned. Based on the research concluded, it can be concluded that the respondents are willing to shift to the monorail as for affordable prices.ABSTRAKPemerintah daerah Kota Malang telah merencanakan angkutan kereta api monorel guna mengatasi masalah kemacetan di Kota Malang. Rencana tersebut dituangkan dalam Rencana Induk Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kota Malang 2013. Saat ini masih belum diketahui apakah masyarakat mau menggunakan angkutan kereta api monorel tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap rencana angkutan kereta api monorel di Kota Malang. Preferensi masyarakat dalam penelitian ini adalah bersedia atau tidaknya masyarakat beralih untuk menggunakan angkutan kereta api monorel yang direncanakan di Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan,dapat disimpulkan panjang jalur rencana kereta api monorel adalah sepanjang 29,2659 km dan responden akan beralih menggunakan kereta api monorel apabila harga tiket relatif terjangkau.

Page 4 of 25 | Total Record : 242


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 27 No. 1 (2025): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 26 No. 2 (2024): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 26 No. 1 (2024): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 25 No. 2 (2023): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 25 No. 1 (2023): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 24 No. 2 (2022): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 24 No. 1 (2022): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 23 No. 2 (2021): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 23 No. 1 (2021): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 22 No. 2 (2020): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 22 No. 1 (2020): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 21 No. 2 (2019): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 21 No. 1 (2019): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 20 No. 2 (2018): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 20 No. 1 (2018): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 19 No. 4 (2017): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 19 No. 3 (2017): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 19 No. 2 (2017): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 19 No. 1 (2017): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 18 No. 4 (2016): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 18 No. 3 (2016): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 18 No. 2 (2016): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 18 No. 1 (2016): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 4 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 3 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 2 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 17 No. 1 (2015): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 16 No. 4 (2014): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 16 No. 3 (2014): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 16 No. 2 (2014): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 16 No. 1 (2014): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 15 No. 4 (2013): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 15 No. 3 (2013): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 15 No. 2 (2013): Jurnal Penelitian Transportasi Darat Vol. 15 No. 1 (2013): Jurnal Penelitian Transportasi Darat More Issue