Jurnal Teknik ITS
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Articles
132 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 2 (2018)"
:
132 Documents
clear
Penentuan Lokasi Agroindustri Berbasis Komoditas Jagung di Kabupaten Jombang
Febri Fitrianingrum;
Belinda Ulfa Aulia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32787
Kabupaten Jombang memiliki potensi pada bidang pertanian berupa penggunaan lahan di dominasi oleh lahan pertanian sebesar 103.344 Ha atau sebesar 86,54% dari total luas penggunaan lahan. Berdasarkan tren dari tahun 2012-2017 pertumbuhan produksi jagung di Kabupaten Jombang cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan realisasi investasi penanaman modal asing dan dalam negeri sektor sekunder di Provinsi Jawa Timur tahun 2017, Kabupaten Jombang menempati urutan ke-8 setelah Kota Surabaya dan Kabupaten Tuban dengan jumlah investasi industri 102.850.000 US$. Nilai investasi tersebut menunjukkan tingginya nilai investasi industri di Kabupaten Jombang. Namun apabila dibandingankan dengan kondisi eksisting, di Kabupaten Jombang hanya memiliki 1 industri besar dan 1 industri sedang pengolahan berbasis jagung. Tersedianya 1 industri besar pengolahan jagung dapat diartikan pengolahan komoditas jagung di Kabupaten Jombang belum sepenuhnya berkembang. Sehingga perlu dilakukan kajian penentuan lokasi agroindustri komoditas jagung. Penelitian ini menggunakan empat teknik analisis, yang pertama yaitu Content Analysis dengan bantuan software Nvivo 12 yang digunakan untuk menentukan variabel yang berpengaruh terhadap penentuan lokasi agroindustri berbasis komoditas jagung, selanjutnya digunakan analisis deskriptif pada penyusunan kriteria lokasi agroindustri. Kemudian dari hasil kriteria tersebut akan dibobotkan dengan ANP untuk mengetahui prioritas kriteria. Analisis yang terakhir dilakukan adalah analisis weighted overlay untuk mengetahui lokasi yang sesuai sebagai lokasi industri pengolahan komoditas jagung untuk menjawab tujuan penelitian. Dari analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil akhir berupa lokasi yang sesuai untuk agroindustri komoditas jagung di Kabupaten Jombang. Lokasi tersebut terletak pada Kecamatan Diwek, Mojowarno, Sumobito, dan Mojoagung seluas 1.263,31 ha atau 1,13% dari luas wilayah penelitian.
Direction of Maritime Industrial Estate Development in Brondong-Paciran Area, Lamongan Regency
Gema Patria Mahaputra;
Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4964.191 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32854
Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang industri maritim. Penetapan sebagai kawasan ekonomi khusus tersebut tidak terlepas dari potensi infrastruktur dan ketersediaan lahan yang cukup di Kabupaten Lamongan. Pembangunan kawasan industri maritim di Kabupaten Lamongan telah direncanakan pada lahan seluas 4.000 Ha namun hingga saat ini masih belum terdapat proses pembangunan kawasan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan industri maritim di wilayah Brondong - Paciran, Kabupaten Lamongan. Tahapan awal penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan yang ada di kawasan industri maritim dengan metode content analysis. Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi alur kegiatan industri yang ada di kawasan industri maritim dengan deskriptif komparatif kemudian mengidentifikasi faktor-faktor pendorong pengembangan kawasan industri dengan analisis Delphi dan tahap terakhir adalah merumuskan arahan pengembangan kawasan industri maritim berdasarkan faktor-faktor pendorong pengembangan kawasan industri dengan analisis deskriptif komparatif dan analisis Delphi. Hasil penelitian ini meunjukkan bahwa permasalahan yang terdapat di kawasan industri maritim Kabupaten Lamongan adalah pembebasan lahan, jaringan air bersih, jaringan transportasi, industri pendukung dan kelembagaan. Pengembangan yang dapat dilakukan berupa pendekatan dengan pemilik lahan yang didampingi oleh tokoh masyarakat dan BPN, pengelolaan air bersih secara mandiri, pelebaran jalan dan menghubungkan kawasan dengan jalan tol, pembentukan klaster industri pendukung dan pembentukan kelembagaan pengelola kawasan industri.
Karakteristik Kawasan Wisata Pantai Paseban Berdasarkan Konsep Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Jember
Sari Diwanti Putri;
Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (712.211 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33543
Pantai Paseban merupakan salah satu pantai di Kabupaten Jember yang memiliki daya tarik baik dari segi wisata alam maupun budaya. Namun, potensi tersebut belum dikembangkan dengan optimal. Dimana terdapat kerusakan ekosistem mangrove dan adanya ancaman penambangan pasir besi yang akan dilakukan oleh pihak swasta sedangkan nilai ekonomi pasir besi yang tinggi menyebabkan masyarakat tergiur untuk melakukan penambangan serta pendapatan nelayan sekitar yang masih tergolong kecil. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif yang terjadi yaitu melalui arahan pengembangan wisata dimana responden penelitian dilakukan kepada empat responden yang terdiri dari kelompok pemerintah, swasta, dan masyarakat. Guna mencapai hal tersebut diperlukan identifikasi karakteristik melalui content analysis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik kawasan wisata Pantai Paseban belum memenuhi prinsip pariwisata keberlanjutan khususnya dari segi lingkungan dimana lingkungan pantai belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan wisata, masih adanya ancaman penambangan pasir besi, belum ada upaya untuk mengurangi abrasi dan kendaraan pribadi, pelayanan jaringan listrik yang belum memanfaatkan SDA, pembuangan limbah warung makan dan kamar mandi umum yang langsung ke tanah, penggunaan iar tanah sebagai sumber pelayanan air bersih, serta upaya pemusnahan sampah dengan cara dibakar. Sedangkan aspek sosial dan ekonomi memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan aspek lingkungan
Karakteristik Taman Flora sebagai Sarana Pendidikan Bagi Masyarakat di Kota Surabaya
Aurora Exacty Pradana;
Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (276.051 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33100
Taman Flora merupakan salah satu taman di Surabaya yang potensial dalam pemenuhan hak masyarakat yang timbul dari kehadiran ruang publik hal ini terlihat dari lokasinya yang strategis, keberagaman fasilitas, dan dipilihnya taman tersebut sebagai lokasi pembelajaran di luar kelas. Namun di sisi lain Taman Flora belum optimal bagi anak usia 7-14 tahun apabila dilihat dari keberagaman program dan fasilitas yang mendukung pendidikan, serta kemudahan akses bagi seluruh kelompok masyarakat. Taman Kota di Surabaya memiliki karakteristik yang berbeda-beda khususnya pada Taman Flora yang berperan sebagai sarana pendidikan, sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik Taman Flora. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisa deskriptif kualitatif dan analisis gambar, dengan sampel penelitian sebanyak 30 pengunjung berusia 7-14 tahun. Dari penelitian ini diketahui bahwa Taman Flora mampu mendukung berbagai aktivitas seperti rekreasi, ekonomi, dan pendidikan, namun taman ini masih memiliki kekurangan yaitu belum terakomodasinya aksesibilitas bagi kelompok difabel dan belum adanya program pendidikan dan olahraga yang dapat mendekatkan anak-anak pada alam dan berinteraksi sosial dengan sesamanya.
Faktor-Faktor Penentu Studentifikasi di Kawasan Sekitar ITS Sukolilo
Ahmad Zuhdi;
Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33458
Studentifikasi dapat dipahami sebagai proses yang disebabkan oleh konsentrasi hunian pelajar berpendidikan tinggi yang diiringi dengan perubahan struktur spasial yang berdampak sosial, ekonomi, budaya dan fisik pada kawasan lokal lembaga pendidikan tinggi. Data Kawasan Sekitar Kampus ITS menunjukkan terjadi perubahan kavling yang signifikan, kenaikan harga tanah, pertambahan penduduk muda berlatar belakang asal yang bervariasi, hingga tumbuhnya fasilitas akomodasi mahasiswa. Sehingga studentifikasi menjadi hal yang tidak dapat dielakkan bagi kawasan. Untuk mengantisipasi efek studentifikasi maka dibutuhkan suatu penjelasan logis dan ilmiah mengenai pola dari gejala studentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor penentu kriteria dari gejala studentifikasi yang terdapat di Kawasan Sekitar Kampus ITS. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-kuantitaif dengan metode wawancara delphi. Hasil analisa menunjukkan faktor-faktor penentu studentifikasi pada kawasan Sekitar Kampus ITS Sukolilo antara lain: Kebutuhan Ruang (fisik), Densitas/Kepadatan Penduduk (fisik), Kelengkapan Fasilitas Lingkungan (fisik), Keberadaan Induk Semang pada Hunian (sosial), Interaksi Antara Mahasiswa dan Masyarakat (sosial), Pertambahan Penduduk Muda (sosial), Bauran Mahasiswa dan Masyarakat (budaya), Kepemilikan Properti (ekonomi), Indekos sebagai Investasi (ekonomi), Kepemilikan Usaha Lain (ekonomi), Harga Jual Tanah (ekonomi).
Prediksi Perubahan Penggunaan Lahan Akibat Pembangunan Gerbang TOL Krian dan Driyorejo di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik
Mohammad Akhid Yunanto;
Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (804.742 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33475
Pembangunan infrastruktur, salah satunya infrastruktur transportasi, akan berpengaruh terhadap perkembangan lahan disekitarnya. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji kemungkinan perubahan guna lahan di sekitar Gerbang TOL Krian dan Driyorejo di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk pemerintah Kabupaten Gresik dalam mengantisipasi perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya sebagaimana yang terdapat pada rencana tata ruang. Penentuan potensi perubahan penggunaan lahan dilakukan pada model spasial perubahan penggunaan lahan yang keseluruhan meluputi dua teknik analisis. (1) Teknik analisis regresi logistik bertujuan untuk mengidentifikasi variabel penentu dan menghasilkan model matematis perubahan penggunaan lahan dan (2) teknik analisis spasial kogistik biner digunakan untuk melakukan pemodelan spasial perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Driyorejo, Kabupayen Gresik. Tiap tahapan penelitian menghasilkan luaran yang saling berkaitan. Terdapat 8 variabel penentu perubahan penggunaan lahan yang dihasilkan dari teknik analisis regresi logistik. Tinggi rendahnya kemungkinan perubahan penggunaan lahan ditentukan oleh jarak dari variabel-variabel tersebut. Adapun model spasial harga lahan dihasilkan dari model matematis memiliki konstanta 0,319. Variabel yang berpengaruh positif dalam model tersebut adalah gerbang tol, wilayah permukiman, rencana jalan, sarana peribadatan dan jaringan listrik. Variabel yang berpengaruh negatif adalah sarana pendidikan, jaringan air bersih, dan jaringan gas. Hasil perumusan model spasial perubahan penggunaan lahan menunjukan bahwa probabilitas perubahan lahan di Kecamatan Driyorejo sebesar 0,000000583805 hingga 0,988594. Sedangkan untuk lahan tidak terbangun, lahan pertanian yang berpotensi untuk berubah adalah sebesar 307,29 hektar dan lahan RTH yang berpotensi untuk berubah adalah sebesar 34,9 hektar.
Penentuan Tipologi Desa Wisata berdasarkan Kesamaan Karakteristik Komponen Pembentuk Desa Wisata di Kabupaten Ponorogo
Mada Kharisma Parasari;
Ema Umilia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (352.549 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33476
Abstrak—Mengembangkan pariwisata di daerah perdesaan bukanlah hal yang mudah, terlebih jika langsung dalam jumlah yang besar. 70 desa telah ditetapkan sebagai lokasi pengembangan desa wisata di Kabupaten Ponorogo. Dengan kondisi Kabupaten Ponorogo yang memiliki potensi daya tarik wisata beragam dan segala keterbatasan dalam pengembangannya, maka dirasa penting untuk dilakukan suatu kajian tentang pemetaan tipologi desa wisata Kabupaten Ponorogo berdasarkan kesamaan karakteristik komponen pembentuk desa wisata. Untuk mencapai tujuan penelitian yaitu perumusan tipologi desa wisata Kabupaten Ponorogo, dilakukan 3 tahap analaisis, yaitu pertama identifikasi karakteristik komponen pembentuk desa wisata Kabupaten Ponorogo menggunakan metode analisis diskriptif; kedua, analisis variabel dalam penentuan tipologi desa wisata dengan menggunakan metode analisis Delphi; ketiga, penentuan tipologi desa wisata Kabupaten Ponorogo berdasarkan kesamaan karakteristik komponen pembentuk desa wisata dengan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) dan Skoring. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa desa wisata di Kabupaten Ponorogo dapat dikelompokkan menjadi 3 tipologi, yaitu Tipologi I adalah kelompok desa yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai lokasi desa wisata, berjumlah 24 desa; tipologi II adalah desa dengan potensi sedang atau cukup, berjumlah 33 desa dan tipologi III adalah desa dengan potensi rendah untuk dikembangkan menjadi desa wisata, berjumlah 27 desa.
Pemodelan Spasial Skenario Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Tengah
Stanley Adrian;
Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (486.615 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33534
Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit cenderung berkembang tanpa arah sehingga berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan deforestasi hutan, disatu sisi lahan perkebunan kelapa sawit memberikan keuntungan yang besar terhadap perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk itu, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit perlu diatur melalui upaya perumusan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit agar nilai lingkungan dapat terus terjaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan analisis Cellular Automata untuk melakukan pemodelan spasial yang terdiri atas beberapa skenario. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Cellular Automata, diperoleh 3 model simulasi yaitu (1) Model simulasi berdasarkan trend, (2) Model simulasi berdasarkan target pedoman teknis, dan (3) Model simulasi berdasarkan target RTRW. Model simulasi berdasarkan trend menunjukkan pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi sebesar 950.950 Ha, sedangkan model simulasi berdasarkan target pedoman teknis sebesar 755.206,25 Ha dan model simulasi berdasarkan target RTRW sebesar 769.393,75 Ha. Dari ketiga model simulasi, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah lebih sesuai diterapkan pada model simulasi berdasarkan target RTRW karena pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi hanya dilakukan pada jenis lahan hutan produksi yang dapat dikonversi.
Penentuan Tingkat Kesenjangan Wilayah dan Faktor Penyebab Terjadinya Kesenjangan di Kabupaten Gresik
Novtaviana Anggraeni;
Belinda Ulfa Aulia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33551
Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki perkembangan pesat dan berdampak pada wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, salah satunya adalah Kabupaten Gresik. Perkembangan wilayah Kabupaten Gresik dipengaruhi oleh aktivitas dari kota inti yaitu Surabaya. Gejala pergeseran perkembangan Kota Surabaya ke wilayah Kabupaten Gresik tersebut dapat merubah karakteristik wilayah di Kabupaten Gresik dan menyebabkan salah satu permasalahan yaitu kesenjangan wilayah. Kesenjangan yang terjadi di wilayah tersebut meliputi kesenjangan pada aspek ekonomi antar kecamatan, aspek sosial, distribusi pendapatan dan akses masyarakat terhadap infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesenjangan yang terjadi serta faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan terjadinya kesenjangan wilayah antar kecamatan di Kabupaten Gresik berdasarkan aspek ekonomi dan sosial. Perhitungan tingkat kesenjangan tersebut yang kemudian dijadikan dasar dalam perumusan tipologi wilayah berdasarkan tingkat kesenjangan yang akan mempermudah dalam perumusan kebijakan penanganan tingkat kesenjangan sesuai dengan faktor penyebab kesenjangan yang ditemukan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan Indeks Williamson sebagai rumus perhitungan kesenjangan wilayah. Adapun analisis kedua yaitu analisis korelasi menggunakan software SPSS untuk mengetahui faktor apa saja yang berpotensi menyebabkan kesenjangan di Kabupaten Gresik. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian, terdapat 2 kecamatan yang termasuk kedalam tipologi wilayah dengan kesenjangan tinggi, 5 kecamatan yang termasuk kedalam tipologi wilayah dengan kesenjangan sedang dan 9 kecamatan yang termasuk tipologi wilayah dengan kesenjangan rendah. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan wilayah yang terjadi pada tiap kecamatan di Kabupaten Gresik adalah PDRB perkapita, kontribusi sektor industri tehadap PDRB, jumlah tenaga kerja industri, jumlah tenaga kerja pertanian, panjang jalan aspal, jumlah penduduk SMA, jumlah penduduk datang, jumlah fasilitas SMP, jumlah fasilitas rumah sakit dan jumlah fasilitas puskesmas.
Penilaian Integrasi Manajemen Risiko Bencana ke dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang Kota Surabaya
Naomi Zakina;
Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1760.05 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33656
UU 26/2007 menyebutkan bahwa rencana tata ruang di Indonesia terdiri dari dua rencana utama yaitu rencana umum dan rencana rinci tata ruang. Rencana tata ruang wilayah memuat akan strategi pengembangan Kota sedangkan rencana detail tata ruang menjadi referensi dalam aturan pengembangan kawasan lokal. Akibatnya, kegiatan pembangunan seperti pendirian bangunan, infrastruktur, dan fasilitas publik harus mengikuti aturan dari kedua rencana tersebut. Dalam konteks manajemen risiko bencana, pertumbuhan pembangunan mempengaruhi kerentanan dan kapasitas kota. Pembangunan yang tidak diimbangi dengan dengan upaya pengurangan risiko akan meningkatkan potensi kerentanan dan menurunkan kapasitas kota terhadap bencana. Dengan kata lain, hal ini mampu menurunkan ketahan kota dan meningkatkan risiko bencana. Selain itu, integrasi manajemen risiko bencana ke dalam rencana tata ruang bertujuan untuk menghindari risiko sekaligus memperkecil angka risiko tersebut. Penelitian ini akan menilai tentang integrasi manajemen risiko bencana ke dalam proses penyusunan rencana tata ruang Kota Surabaya. Pendekatan kualitatif menggunakan metode analisis konten dan skala likert dilakukan untuk menilai integrasi manajemen risiko bencana ke dalam proses penyusunan rencana tata ruang Kota Surabaya. Hasilnya, seluruh tahapan proses penyusunan rencana tata ruang -mulai dari perumusan masalah hingga monitoring dan evaluasi- belum mencerminkan upaya pengurangan risiko bencana secara rinci. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data dan informasi mengenai karakteristik bencana Kota Surabaya, perbedaan persepsi stakeholder dalam memandang aspek kebencanaan dalam proses pembangunan, pedoman penyusunan rencana tata ruang yang dianut belum terintegrasi dengan kajian manajemen risiko, dan belum ada mekanisme monitoring dan evaluasi yang sesuai terkait upaya pengurangan risiko bencana dalam rencana tata ruang.