cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Content Analysis Dalam Identifikasi Karakteristik Ekonomi Masyarakat Pesisir Brondong, Kabupaten Lamongan Hesti Martadwiprani; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.473 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3771

Abstract

Wilayah pesisir Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan merupakan kawasan sentra Minapolitan tangkap dan penghasil ikan laut terbesar di Jawa Timur. Beberapa kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat telah dilakukan di wilayah tersebut namun masih ditemukan tingkat kemiskinan penduduk yang cukup tinggi.Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai penentuanarahan pengembangan wilayah pesisir berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam Konsep Minapolitan di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan. Melalui artikel ini akan dibahas proses identifikasi karakteristik ekonomi masyarakat pesisir Brondong,yang dilakukan secara kualitatif,melalui content analysis. Melalui proses content analysisdihasilkan beberapa karakter spesifik dari pelaku kegiatan ekonomi pesisir yang dikategorikan sesuai “tema” atau “indikator” dari penelitian ini.
Identifikasi Daerah Kawasan Rentan Tanah Longsor Dalam KSN Gunung Merapi di Kabupaten Sleman Novia Destriani; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.069 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3772

Abstract

Meningkatnya potensi bencana tanah longsor dalam Kawasan Strategis Nasional Gunung Merapi Kabupaten Sleman diakibatkan oleh hasil erupsi Gunung Merapi, curah hujan, dan erosi sungai. Hal ini menyebabkan kerugian material, korban jiwa, kerusakan infrastruktur, sektor sosial, sektor ekonomi dan mengakibatkan lahan-lahan produktif (pertanian dan hutan lindung) mengalami penurunan daya dukung (carrying capacity) termasuk beberapa kawasan permukiman, pariwisata, budidaya dan lindung yang ditetapkan pemerintah daerah sebagai kawasan strategis nasional dan kawasan strategis provinsi. Adapun metode penelitiannya yaitu mengidentifikasi kawasan rawan tanah longsor berdasarkan tingkat kerentanan masyarakatnya. Prosesnya dengan dua tahapan analisa yaitu menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan longsor dengan analisa deskriptif yang kemudian dibobotkan dengan analisis AHP dan perhitungan stakeholder. Selanjutnya dianalisa dengan weighted overlay yang menghasilkan zonasi tingkat kerentanan masyarakat dengan zona sangat rentan yaitu Kecamatan Kalasan. Hasil akhir dari penelitian ini adalah diperolehnya zona tingkat kerentanan kawasan terhadap tanah longsor dari zona sangat rentan-zona tidak rentan. Zona sangat rentan ini diperoleh dari masing-masing faktor kerentanan yang dioverlay sehingga menghasilkan zona sangat rentan untuk setiap kerentanan (lingkungan, fisik, sosial, dan ekonomi).Pada kerentanan lingkungan zona sangat rentan berada di Kecamatan Cangkringan dengan luas kerentanan mencapai 4.799 ha, untukkerentanan fisik zona sangat rentannya berada di Kecamatan Kalasan dengan luas kerentanan mencapai 3.584 ha, sedangkan untuk kerentanan sosial dengan zona sangat rentan berada di Kecamatan Kalasan dengan luas kerentanan mencapai 3.584 ha, dankerentanan ekonomi zona sangat rentannya berada di Kecamatan Cangkringan dengan luas kerentanan mencapai 4.799 ha. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa zona sangat rentan pada overlay masing-masing kerentanan berada di Kecamatan Kalasan dengan luas area kerentanan mencapai 26,76 km2 dari total wilayah penelitian 274,1125 km2.
Analisa Investasi Apartemen De Papilio Surabaya Danniswara Windraya Prasidya; Retno Indryani
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.431 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3785

Abstract

Kota Surabaya terus berkembang dengan pesat, sehingga permintaan akan tempat tinggal di kota Surabaya juga meningkat menyebabkan keadaan lahan semakin terbatas dan semakin mahal. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan membangun apartemen. Membangun apartemen membutuhkan biaya yang sangat tinggi, sehingga perlu dilakukan analisa untuk mengetahui apakah investasi apartemen layak untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa investasi pada apartemen de Papilio yang terletak di Jl. A. Yani 176-178 Surabaya. Analisa yang dilakukan adalah analisa kompetitor, analisa teknis dan analisa finansial, yang kemudian dilanjutkan dengan analisa sensitivitas. Analisa-analisa ini akan menghasilkan kesimpulan tentang bagaimana kelayakan proyek dinilai dari ketiga analisa tersebut. Dengan analisa sensitivitas akan dapat diketahui seberapa sensitif suatu keputusan terhadap perubahan parameter yang mempengaruhinya. Dari hasil analisa kompetitor, teknis dan finansial disimpulkan bahwa proyek pembangunan apartemen de Papilio layak untuk dilakukan. Apartemen ini memiliki nilai NPV positif, IRR lebih besar dari pada MARR, dan payback period dalam masa investasi. Dari analisa sensitivitas diketahui bahwa investasi akan menjadi tidak layak apabila terjadi penurunan harga jual melebihi 20,2%.
Analisa Nilai Agunan Rumah Tinggal di Medokan Asri Utara XII Surabaya Shahara Nur Laila; Christiono Utomo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.439 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3689

Abstract

Untuk memperoleh keyakinan dari bank atas dana yang diberikan berupa kredit, agunan merupakan salah satu hal paling diutamakan. Apabila terjadi kemacetan dalam pembayaran kredit, bank dapat mengambil agunan sebagai alternatif pembayaran. Barang yang dapat dijadikan agunan biasanya adalah real property. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui indikasi nilai pasar rumah tinggal di jalan Medokan Asri Utara XII Surabaya dan mengetahui nilai agunan dari rumah tinggal tersebut. Proses penilaian ini menggunakan dua metode yaitu metode perbandingan data pasar (market data approach) dan metode pendekatan biaya (cost approach). Nilai pasar dalam Metode Perbandingan Data Pasar dihitung dengan membandingkan objek penilaian dengan data pembanding. Nilai pasar dalam Metode Pendekatan Biaya diperoleh dengan cara menghitung biaya membangun bangunan baru dikurangi penyusutan kemudian ditambah dengan nilai tanah. Nilai tanah dapat dihitung dengan menggunakan metode perbandingan data pasar. Sehingga selanjutnya dapat dilakukan penilaian agunan didasarkan pada syarat dan kondisi Bank Nasional tertentu. Dari dua pendekatan penilaian diperoleh nilai pasar objek tinjauan sebesar Rp 546.732.000 dengan besarnya nilai agunan Rp 398.950.438 (tiga ratus sembilan puluh delapan juta sembilan ratus lima puluh ribu empat ratus tiga puluh delapan rupiah), dan  Rp 387.582.183 (tiga ratus delapan puluh tujuh juta lima ratus delapan puluh dua ribu seratus delapan puluh tiga rupiah) sesuai pendekatan yang dilakukan.
Penentuan Infrastuktur Prioritas Di Wilayah Pinggiran Kota Yogyakarta Wahyu Endi Pratista; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.032 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3920

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis infrastruktur yang menjadi prioritas dalam pengembangan wilayah pinggiran di Kota Yogyakarta sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah. Adapun metode yang digunakan adalah teknik analisis delphi untuk mendapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan infrastruktur di wilayah pinggiran Kota Yogyakarta serta untuk mengetahui jenis infrastruktur yang menjadi kebutuhan prioritas di wilayah pinggiran Kota Yogyakarta tersebut berdasarkan penilaian para stakeholder. Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa jenis infrastruktur yang menjadi prioritas pengembangan baik pada wilayah pinggiran yang memiliki kecenderungan infrastruktur desa (Kecamatan Mantrijeron, Umbulharjo, Kotagede, Gondokusuman, Wirobrajan, Jetis, dan Tegalrejo) maupun pada wilayah pinggiran yang memiliki kecenderungan infrastruktur desa-kota (Kecamatan Mergangsan) adalah infrastruktur air bersih.
Zona Wisata Kawasan Wisata Alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo Jos Oktarina Pratiwi; Rimadewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.79 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3921

Abstract

Kabupaten Probolinggo memiliki keindahan wisata alam salah satunya berupa wisata air terjun. Wisata Alam Air Terjun Madakaripura termasuk dalam kawasan hutan lindung dan rawan bencana longsor sehingga pengembangannya membutuhkan pembagian zona wisata yang sesuai dengan karakteristik fisik kawasan wisata alam. Penelitian ini bertujuan menentukan zona wisata kawasan wisata alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo. Metode analisa yang digunakan dalam tahapannya adalah analisa Theoritical Deskriptif Kualitatif, teknik analisa Delphi dan analisa teknik Overlay. Hasil penelitian ini berupa zona wisata pada kawasan wisata alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo dengan melihat pada kondisi eksisting serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kawasan wisata.
Pengendalian Konversi Lahan Pertanian Pangan Menjadi Non Pertanian Berdasarkan Preferensi Petani di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi Mohammad Emil Widya Pradana; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.161 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3923

Abstract

Indonesia saat ini sedang mengalami penurunan kemandirian pangan. Kabupaten Banyuwangi yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional mengalami penurunan produksi pangan terbesar, yaitu sekitar 13% pada tahun 2010-2011. Penurunan produksi ini diindikasikan karena adanya penurunan luas lahan pertanian pangan akibat konversi, dimana pada periode yang sama terjadi konversi lahan pertanian sebesar 1400 Ha. Melihat kondisi ini maka dibutuhkan upaya pengendalian konversi lahan pertanian pangan. Kecamatan Wongsorejo merupakan salah satu kawasan pertanian Kabupaten Banyuwangi dengan konversi lahan pertanian pangan tertinggi, dengan demikian Kecamatan Wongsorejo menjadi lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan berdasarkan preferensi/pola sikap petani pemilik lahan karena peran mereka sebagai penentu keputusan dalam melakukan konversi. Adapun alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis korelasi, analisis cluster, dan analisis deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis didapat enam variabel yang mempengaruhi preferensi petani dalam mengkonversi lahannya, yaitu: (1) produksi; (2) harga jual komoditas; (3) biaya irigasi; (4) biaya input; keempat variabel ini adalah variabel yang cenderung menghambat konversi. Variabel lainnya adalah (5) pendapatan sektor non tani; dan (6) perbedaan harga sewa lahan dengan pendapatan tani; dimana kedua variabel ini adalah variabel pendorong konversi. Didapat dua kelompok kelurahan, yaitu kelurahan dengan opportunity cost usaha tani yang tinggi (nilai variabel pendorong konversi lebih besar daripada variabel penghambat konversi) dan kelurahan dengan opportunity cost usaha tani yang rendah (nilai variabel pendorong konversi lebih kecil daripada variabel penghambat konversi). Arahan pengendalian yang dihasilkan untuk kelompok opportunity cost tinggi adalah percepatan pendapatan usaha tani dan pengendalian pemanfaatan lahan, sedangkan untuk kelompok dengan opportunity cost rendah adalah pengawasan pemanfaatan lahan dan menjaga keberlanjutan usaha tani.
Tingkat Partisipasi Masyarakat pada Permukiman Kumuh Kelurahan Ploso Sekar Ayu Advianty; Ketut Dewi Martha Erli
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.739 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3924

Abstract

Berbagai program/kegitan perbaikan lingkungan telah diterima Kelurahan Ploso, Kecamatan Tambaksari yang merupakan salah satu kawasan permukiman kumuh di Kota Surabaya. Namun, program/kegiatan tersebut belum efektif mengatasi kekumuhan di Kelurahan Ploso karena adanya permasalahan partisipasi masyara¬kat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengana¬lisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat pada permukiman kumuh Kelurahan Ploso.Metode analisis yang digunakan pada penelitian terdiri dari dua teknik analisis yaitu, pertama menggunakan teknik pembobotan/skoring untuk menentukan tingkat kekumuhan tiap RW dan mengukur tingkat partisipasi ma¬syarakat; kedua menggunakan teknik analisis crosstab (tabulasi silang) untuk menganalisis keter¬kait¬an faktor-faktor yang mempe¬ngaruhi tingkat partisipasi masyarakat di Kelurahan Ploso. Hasil studi menunjukkan bahwa permukiman di Kelurahan Ploso memiliki kategori tingkat kekumuhan sedang dan tinggi. Tingkat partisipasi masyarakat pada permukiman dengan tingkat kekumuhan tinggi berada pada tangga partisipasi ketiga yaitu Pemberian Informasi. Berbeda dengan tingkat partisipasi masyarakat pada kekumuh¬an sedang yang tangga partisipasinya lebih bervariasi. Tingkat partisipasi berbeda berdasarkan kekumuhannya dan faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi adalah frekuensi dilibatkan, keinginan untuk terlibat, frekuensi kehadiran dan jumlah jenis sumbangan yang diberikan masyarakat.
Arahan Pengembangan Kawasan Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Sampang Azza Auliyatul Faizah; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.796 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3926

Abstract

Sektor pertanian merupakan potensi Kabupaten Sampang. Dari kelima sub sektor pertanian, sub sektor tanaman pangan memiliki kontribusi terbesar yakni 27,75% terhadap PDRB, namun besarnya kontribusi tersebut tidak diimbangi dengan pengembangan di lapangan dimana pada data tahun 2007-2011 beberapa komoditas mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan empat alat analisis antara lain analisis Delphi, analisis kesesuaian lahan, analisis cluster, dan analisis triangulasi. Analisis Delphi digunakan untuk menentukan faktor penyebab kurang berkembangnya kawasan pertanian. Analisis kesesuaian lahan dengan metode overlay digunakan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan pertanian. Analisis cluster untuk mengelompokkan kawasan pertanian berdasarkan faktor penyebab kurang berkembangnya kawasan pertanian. Analisis triangulasi untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan pada masing-masing cluster yang telah ditentukan. Dari hasil analisis didapat faktor penyebab kurang berkembangnya kawasan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Sampang antara lain infrastruktur pertanian, SDM, modal, teknologi pertanian, pemasaran, dan minat masyarakat. Komoditas yang sesuai dikembangkan di Kabupaten Sampang antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, dan sorgum. Kelompok pengembangan kawasan pertanian terbagi menjadi 3 cluster dengan arahan pengembangan kawasan pertanian cluster I diarahkan untuk pengembangan komoditas padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, dan sorgum serta pemeliharaan layanan pada setiap faktor. Untuk cluster II dikembangkan padi, jagung, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kedelai, dan sorgum serta pemeliharaan layanan pada setiap faktor. Pada Cluster III dikembangkan padi, jagung, kacang tanah, dan kedelai serta pemeliharaan dan penambahan sarana pendukung kawasan pertanian yang belum tersedia.
Tingkat Pelayanan Fasilitas Pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Atas di Kabupaten Sidoarjo Sisca Henlita; Ketut Dewi Martha Erli
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.171 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.3927

Abstract

Fasilitas pendidikan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA dan SMK) termasuk dalam fasilitas sosial yang merupakan salah satu kebutuhan pokok penduduk di suatu wilayah. Permasalahan penyediaan fasilitas Sekolah Menengah Tingkat Atas yang kurang memadai di Kabupaten Sidoarjo ditandai dengan ketersediaan fasilitas SMA dan SMK di masing-masing wilayah yang tidak mampu melayani kebutuhan penduduknya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pelayanan fasilitas Sekolah Menengah Tingkat Atas di Kabupaten Sidoarjo. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis daya tampung dan analisis kebutuhan fasilitas dengan teknik analisis statistik deskriptif. Teknik analisis overlay pada ArcGIS digunakan untuk menganalisis tingkat ketersediaan terhadap tingkat kebutuhan fasilitas. Hasil studi menunjukan bahwa tingkat pelayanan Sekolah Menengah Tingkat Atas di sebagian wilayah masih tergolong very overdemand dan overdemand, artinya tingkat pelayanan fasilitas Sekolah Menengah Tingkat Atas di sebagian wilayah belum mampu memenuhi kebutuhan tingkat pelayanan fasilitas berdasarkan jumlah usia 16-19 tahun dan kepadatan permukiman. Hal ini dikarenakan ketersediaan fasilitas masih belum memenuhi kebutuhan penduduknya.