cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Penentuan Alternatif Lokasi Pengembangan Kawasan Agroindustri Berbasis Komoditas Pertanian Unggulan Di Kabupaten Lamongan Ajeng Nugrahaning Dewanti; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.619 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.925

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan alternatif lokasi pengembangan kawasan agroindustri berbasis komoditas pertanian unggulan di Kabupaten Lamongan guna meningkatkan nilai tambah sektor pertanian. Dalam penelitian ini digunakan beberapa alat analisis yakni analisis LQ dan analisis Shift Share yang digunakan untuk menentukan komoditas unggulan, analisis regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penentuan lokasi kawasan agroindustri, serta analisa pembobotan untuk menentukan lokasi yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan agroindustri. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa komoditas pertanian unggulan di kabupaten Lamongan adalah komoditas padi. Selanjutnya didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi pengembangan agroindustri di Kabupaten Lamongan yakni tenaga kerja, aksesibilitas, listrik kuantitas bahan baku, dan pasar. Kemudian berdasarkan faktor-faktor tersebut didapatkan lokasi-lokasi yang potensial untuk pengembangan kawasan agroindustri berbasis komoditas unggulan di Kabupaten Lamongan yakni Kecamatan Babat, Paciran, Kedungpring, Lamongan, Modo, dan Brondong.
Pengembangan Daerah Tertinggal Di Kabupaten Sampang Ovi Resia Arianti Putri; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.119 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menangani permasalahan daerah tertinggal di Kabupaten Sampang melalui arahan pengembangan daerah tertinggal di Kabupaten Sampang. Dalam penelitian ini, menggunakan beberapa alat analisis, antara lain analisis cluster guna memperoleh tipologi daerah tertinggal, analisis AHP yang digunakan untuk menentukan program-program prioritas pengembangan daerah tertinggal, serta analisis deskriptif untuk merumuskan arahan pengembangan daerah tertinggal di Kabupaten Sampang. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh tipologi daerah tertinggal yang terbentuk hingga menjadi tiga tipe, antara lain daerah maju, daerah yang sedang menuju daerah maju, dan daerah tertinggal yang didasarkan atas aspek ekonomi, sumberdaya manusia, serta infrastruktur. Selanjutnya diperoleh program-program prioritas pengembangan daerah tertinggal, yaitu program terkait dengan infrastruktur sebagai prioritas pertama, ekonomi, serta sumberdaya manusia. Berdasarkan hasil tipologi yang terbentuk dan program-program yang telah diprioritaskan dapat dirumuskan arahan pengembangan daerah tertinggal yang diprioritaskan utama pada Kecamatan Tambelangan dan Karang Penang yang tergolong sebagai daerah tertinggal
Pola Perubahan Berbelanja Masyarakat Akibat Perubahan Pusat Perbelanjaan Di Kecamatan Wonokromo Justin Putri Pitasari; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.401 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.949

Abstract

Munculnya 2 hypermarket di Kawasan Wonokromo mempengaruhi eksistensi keberadaan pasar wonokromo. Disisi lain masyarakat Kecamatan Wonokromo telah mengalami perubahan berbelanja, hal tersebut disebabkan oleh ketidakmampuan Pasar Wonokromo menyeimbangi perubahan gaya hidup masyarakat disekitarnya sehingga pengunjung yang awalnya berbelanja di pasar wonokromo mengalami perubahan berbelanja ke hypermart royal ataupun Carrefour ngagel. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan pola perubahan berbelanja masyarakat akibat perubahan pusat perbelanjaan di Kecamatan Wonokromo sebagai langkah awal dalam meningkatkan eksistensi pasar wonokromo sebagai pusat perbelanjaan.Untuk mencapai tujuan penelitian ini dilakukan empat tahapan analisa yaitu analisa statistic deskriptif untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi dan perubahan berbelanja masyarakat, analisa faktor untuk mengetahui faktor penyebab perubahan berbelanja serta analisa korelasi untuk mengetahui pola perubahan yang terbentuk. Berdasarkan hasil penelitian, segmentasi masyarakat yang mengalami perubahan berbelanja adalah 18% masyarakat menengah, 52% masyarakat menengah atas, dan 30% masyarakat atas. Sedangkan pola perubahan yang dihasilkan adalah pada jarak kurang dari 1 Km, masyarakat yang mengalami perubahan berbelanja adalah masyarakat menengah dengan frekuensi belanja menjadi 2 minggu sekali dan untuk kebutuhan pelengkap dan pendamping.penyebab perubahan ini adalah ketersediaan fasilitas. Pada jarak 1-2 Km, masyarakat yang mengalami perubahan berbelanja adalah masyarakat menengah ke atas dengan perubahan berbelanjan berupa frekuensi belanjanya menjadi 2-4 minggu dengan cara belanja untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan pendamping. Perubahan ini disebabkan oleh faktor harga. Pada jarak 2-3 Km, masyarakat yang berubah perlaku belanjanya adalah masyarakat menengah ke atas mengalami perubahan belanja dengan frekuensi belanjanya menjadi 2-4 minggu untuk pemenuhan kebutuhan pendamping dan pelengkap. Sedangkan  pada jarak lebih dari 3 Km, yang mengalami perubahan belanja adalah masyarakat kelas atas dengan frekuensi belanjanya menjadi 1 bulan sekali dengan cara belanja untuk pemenuhan kebutuhan lain-lain. Faktor penyebab perubahan berbelanja pada radius jarak dua hingga lebih dari 3 Km adalah faktor kemudahan.
Model Perkembangan Nilai Lahan Perkotaan di Surabaya Fatmawati Raeka; Haryo Sulistyarso
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1184.409 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.951

Abstract

Kota Surabaya mengalami suatu perkembangan yang sangat pesat dibandingkan dengan pertumbuhan kota-kota disekitar Kota Surabaya.Kebijakan Pemerintah melalui NJOP sejauh ini belum dapat mengendalikan perilaku pasar tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu model perkembangan nilai lahan perkotaan di Surabaya. Teknik analisis yang digunakan dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai lahan perkotaan di Surabaya adalah menggunakan SPSS Inc. Kemudian model terhadap perkembangan nilai lahan perkotaan di Surabaya dengan menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR). Hasil dari penelitian adalah model perkembangan nilai lahan yaitu Y = 0.982195 + 0.904970X1 + 0.293309X2 + 0.279019X3 + 0.036190X4 - 0.131236X5 - 0.082324X6 dan simulasi faktor-faktor yang dominan dipengaruhi oleh faktor jarak berupa faktor jarak terhadap CBD, jarak ke pusat perbelanjaan lokal dan faktor sosial yaitu jumlah penduduk.
Pengendalian Perubahan Pemanfaatan Lahan Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Untuk Mendukung Program Lumbung Pangan Nasional) Rizky Rangga Wijaksono; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.988 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.962

Abstract

Potensi besar yang dimiliki Kabupaten Banyuasin sebagai sentra pertanian tanaman pangan tidak sejalan dengan program Sumatera Selatan sebagai Lumbung Pangan Nasional, hal ini dikarenakan kegiatan perubahan pemanfaatan lahan yang semakin marak terjadi di Kabupaten Banyuasin. Oleh karena itu perlunya arahan pengendalian pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Banyuasin. Tujuan penelitian adalah mendapatkan arahan pengendalian konversi lahan pertanian tanaman pangan yang dilakukan dengan lima tahapan analisis yaitu pengidentifikasian karakteristik perubahan dengan analisis deskriptif, menganalisis dampak perubahannya terhadap kapasitas produksi padi dengan analisis deskriptif dan penentuan tipologi perubahan pemanfaatan lahan digunakan analisis data kuartil. Penentuan faktor yang berpengaruh dengan menggunakan analisis delphi, menganalisis kriteria pengendalian dengan analisis deskriptif dan merumuskan  arahan pengendalian perubahan pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan dengan analisis triangulasi. Jenis perubahan lahan pertanian terbesar mengarah ke penggunaan perkebunan  sebesar 50 % dan permukiman sebesar 30 % dengan laju perubahan pemanfaatan lahan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Banyuasin adalah 19.206 Ha/Tahun. Hal ini berbanding lurus dengan semakin meningkatnya kapasitas produksi tanaman pangan yang hilang sebesar 563.999 Ton dari Tahun 2007-2010. Berdasarkan laju dan dampak konversi lahan tersebut, diketahui tipologi konversi lahan pertanian tanaman pangan, yakni Tipologi I (Kecenderungan dampak dan laju tinggi), Tipologi II (Kecenderungan dampak dan laju sedang), Tipologi III (Kecenderungan dampak dan laju rendah). Ketiga tipologi ini memberikan gambaran karakteristik konversi lahan pertanian tanaman pangan yang terjadi di Kabupaten Banyuasin. Melalui tipologi tersebut dijelaskan bahwa konversi lahan pertanian yang terjadi dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: perkembangan investasi, perkembangan demografi, implementasi hukum, pengawasan pengendalian lahan pertanian tanaman pangan, potensi hasil pertanian tanaman pangan, produktivitas hasil pertanian tanaman pangan, danperkembangan kota.Arahan pengendalian yang dihasilkan adalah Penerapan Zoning regulation dengan menetapkan Tipologi I menjadi Kawasan Pangan Abadi yang tidak boleh dikonversi,Pemulihan fungsi lahan pertanian tanaman pangan melalui penggantian lahan yang dikonversi di tempat lain (dengan penghitungan luas dan produksi yang setar
Pemintakatan Risiko Bencana Banjir Bandang di Kawasan Sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso Bambang Budi Utomo; Rimadewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.561 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.966

Abstract

Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang dilanda banjir bandang pada beberapa bagian wilayah beberapa tahun terakhir. Banjir yang terparah terjadi di kawasan sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso terjadi pada tahun 2008. Banyaknya korban dan kerugian materi yang didapat, menunjukkan bahwa kesiapan dan pengetahuan pemerintah dan masyarakat setempat terhadap banjir bandang tersebut masih kurang. Karena itu, diperlukan penelitian untuk merumuskan zona risiko banjir bandang di Wilayah kawasan sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso. Dalam mencapai tujuan penelitian, dilakukan: identifikasi karakteristik ancaman bahaya (hazard) menggunakan analisis weighted overlay dari variabel kecepatan aliran, material yang dihanyutkan, dampak yang ditimbulkan, ketinggian dan lama genangan; Menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan (vulnerability) menggunakan analisa deskriptif untuk mendapatkan faktor-faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap banjir bandang kemudian faktor tersebut di perkuat menggunakan analisa delphi, dari hasil delphi ini kemudian di hitung bobot dari setiap faktor dengan analisa AHP expert; menentukan zona kerentanan menggunakan analisis overlay weighted sum pada faktor-faktor kerentanan; dan merumuskan zona risiko bencana banjir bandang menggunakan metode Raster Calculator dengan memperhatikan fungsi risiko yang dipengaruhi oleh ancaman bahaya dan kerentanan. Kemudian didapat peta risiko bencana banjir bandang yang diklasifikasi ke dalam 5 kelas/hirarki berdasarkan dengan pedoman penanggulangan bencana. Dari penelitian ini didapatkan proporsi zona yang berpotensi menimbulkan risiko bencana banjir bandang dengan katagori zona sangat berisiko dengan luas 31,22 km2, dengan proporasi luas 5,51% dari total kawasan penelitian. Sedangkan zona berisiko pada kawasan penelitian memiliki luas sebesar 8,74 km2 dengan proporsi 8,74% dari total luas kawasan penelitian dan zona cukup berisiko pada kawasan penelitian memiliki luas 118,9 km2 dengan proporsi 21% dari total luas kawasan penelitian dan distribusi spasial zona sangat berisiko bencana banjir bandang di kawasan sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso berada di daerah hilir, Kecamatan yang memiliki tingkat luasan bahaya bencana banjir bandang tertinggi terdapat di Kecamatan Prajekan.
Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya) Volare Amanda Wirastari; Rimadewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.289 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1026

Abstract

Partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian warisan budaya merupakan salah satu prioritas yang harus tercapai dalam setiap kegiatan pemanfaatan benda cagar budaya yang berwawasan pelestarian. Upaya pelestarian yang dilakukan haruslah berdampak pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan bangunan-benda cagar budaya sehingga masyarakatlah nanti yang akan lebih berperan serta, pemerintah hanya mengayomi dan mengawasi sehingga tidak keluar dari koridor hukum yang berlaku tentang pelestarian. Dalam penelitian ini digunakan berbagai tinjauan teori yang berkaitan dengan kriteria kawasan cagar budaya, pelestarian kawasan cagar budaya, dan tingkat partisipasi masyarakat. Sedangkan untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan empat tahapan analisa yaitu penentuan cluster kawasan cagar budaya di Bubutan, identifikasi kondisi tingkat partisipasi masyarakat di Bubutan, penentuan faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat, dan perumusan bentuk partisipasi masyarakat yang berkelanjutan untuk kawasan cagar budaya di Bubutan. Berdasarkan hasil penelitian, cluster kawasan cagar budaya di Bubutan ada tujuh kawasan yaitu Kampung Praban, Kampung Temanggungan, Kampung Alun-Alun Contong, Kampung Kawatan, Kampung Maspatih, Kampung Tambak Bayan dan Kepatihan, dan Kampung Kraton. Adapaun bentuk partisipasi yang diarahkan untuk ketujuh kampung tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi eksisiting yang ada. Bentuk partisipasi masyarakat yang ada perlu dibentuk jaringan dalam masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari RT / RW setempat, tokoh masyarakat, ataupun bekerjasama dengan pihak lain yang memiliki interest dalam bidang cagar budaya.
Pengembangan Kawasan Pariwisata Terpadu di Kepulauan Seribu Abdur Razak; Rimadewi Suprihardjo
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.601 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2461

Abstract

Kabupaten administrasi Kepulauan Seribu merupakan kawasan kepulauan di Utara Jakarta, kawasan ini memiliki potensi pariwisata berupa gugusan kepulauan. Gugusan kepulaun ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda untuk dijadikan daya tarik wisata, diantaranya adalah wisata bahari, wisata sejarah dan wisata cagar alam (konservasi). Banyaknya jumlah kepulaun seribu, baru beberapa yang digunakan untuk kegiatan pariwisata, diantaranya ialah P. Untung Jawa, P. Pramuka, P. Tidung, P. Harapan yang merupakan pulau-pulau dengan kunjungan wisata terbanyak karena memiliki daya tarik berupa wisata pantai dan laut. P. Onrust, P. Cipir, P. Kelor, P. Bidadari yang memiliki daya tarik utama kawasan sejarahnya serta wisata cagar alam (konservasi) yang terdapat pada P. Rambut dan P. Bokor. Beragamnya daya tarik wisata yang ditawarkan, namun hanya wisata bahari yang berkembang sehingga perlu adanya konsep keterpaduan dalam pengelolaan kawasan Kepulauan Seribu ini agar potensi-potensi wisata yang ada didalamnya dapat berkembang. Penelitian ini ini menggunakan pendekatan rasionalisme, di dalamnya menggunakan pendekatan kualitatif . Penelitian ini menghasilkan pembagian zona-zona pengembangan pada wilayah penelitian, zona-zona ini terdiri dari zona inti dan zona pendukung. Pada zona inti terdapat pembagian kegiatan pariwisata yaitu kegitan utama dengan arahan menjadikan P. untung Jawa, P. Pramuka, P. Tidung, P. Harapan menjadi  kegiatan utama, kegiatan pendukung dengan arahan menjadikan P. Onrust, P. Cipir, P. Kelor dan P. Bidadari sebagai kegiatan pendukung  dan kegiatan penunjang dengan arahan menjadikan P. rambut dan P. Bokor sebagai kegiatan penunjang pariwisata,  sedangkan zona pendukung terbagi pada Pulau Untung Jawa dan Pulau Pramuka sebagai pusat akomodasi di Kepulauan Seribu.
Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi Reza Purba Adhi; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.562 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2462

Abstract

Pengembangan kawasan andalan diharapkan dapat menjadi motor penggerak perekonomian wilayah (prime mover), sehingga mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut maupun kawasan sekitarnya. Namun pada kenyataannya yang terjadi di Provinsi Jawa Timur, meskipun kawasan andalan telah ditetapkan, kesenjangan masih tetap terjadi, begitu pula yang terjadi pada Kawasan Andalan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang. Untuk itulah perlu dilakukan pengembangan kawasan andalan melalui pendekatan efisiensi. Penelitian ini terdiri dari empat tahap. Pertama, mengukur tingkat efisiensi kabupaten/kota dalam Kawasan Andalan Probolinggo-Pasuruan-Lumajang dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Kedua, menentukan kabupaten/kota yang akan ditingkatkan efisiensinya beserta wilayah acuan masing-masing dengan menggunakan Hierarchial Cluster Analysis. Ketiga, mengukur tingkat pengaruh masing-masing variabel terhadap nilai efisiensi. Keempat, merumuskan arahan pengembangan kawasan andalan melalui pendekatan peningkatan efisiensi. Dari hasil penelitian menggunakan DEA Super Efisiensi, diperoleh bahwa nilai efisiensi tertinggi dimiliki oleh Kota Probolinggo (1,954296), kemudian diikuti oleh Kabupaten Pasuruan (1,238722), Kabupaten Probolinggo (1,146529), Kabupaten Lumajang (1,128061), dan Kota Pasuruan (1,118976). Untuk meningkatkan efisiensi Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kota Pasuruan, daerah acuan yang digunakan adalah Kabupaten Pasuruan dan Kota Probolinggo. Peningkatan efisiensi Kawasan Andalan Probolinggo-Pasuruan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas SDM, kualitas jaringan jalan, PDRB per kapita, dan laju pertumbuhan ekonomi.
Prioritas Wilayah Pengembangan Industri Pengolahan Perikanan di Kabupaten Sumenep Yuni Astutik; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.902 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2464

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan prioritas wilayahpengembanganindustri pengolahanperikanandiKabupaten Sumenep guna meningkatkan nilai tambah sektor perikanan.Studi ini menggunakan alat analisis yang terdiri dari analisis delphidigunakan untuk menentukan faktor-faktor pengembangan industri pengolahan perikanan,serta analisis AHP dan multikriteriauntuk menentukan prioritas wilayah pengembangan industri pengolahan perikanan.Dari hasil analisis, diperoleh bahwa faktor-faktor penentu pengembangan industri pengolahan perikanan di Kabupaten Sumenep yaitu ketersediaan dan kontinuitas bahan baku sumberdaya perikanan, potensi tenaga kerja di wilayah penelitian, ketersediaan pengolah ikan untuk industri pengolahan perikanan, ketersediaan nelayan untuk menunjang pengembangan industri pengolahan perikanan, ketersediaan jaringan listrik, air bersih dan jalan untuk industri pengolahan perikanan, keberadaan prasarana perikanan dan industri pengolahan perikanan untuk menunjang pengembangan industri. Selanjutnya berdasarkan faktor-faktor tersebut didapatkandelapan kecamatan dari dua puluh kecamatan yang berpotensi tinggi untuk pengembangan industri pengolahan perikanan di Kabupaten Sumenep yang kemudian dijadikan sebagai prioritas wilayah pengembangan, yaitu Kecamatan Dungkek, Kecamatan  Sapeken, Kecamatan Ambunten, Kecamatan Pragaan, Kecamatan Masalembu, Kecamatan Raas, Kecamatan Pasongsongan, dan Kecamatan Nonggunong.