cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Prediksi Perubahan Penggunaan Lahan Akibat Pembangunan Gerbang TOL Krian dan Driyorejo di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik Mohammad Akhid Yunanto; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.742 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33475

Abstract

Pembangunan infrastruktur, salah satunya infrastruktur transportasi, akan berpengaruh terhadap perkembangan lahan disekitarnya. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji kemungkinan perubahan guna lahan di sekitar Gerbang TOL Krian dan Driyorejo di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk pemerintah Kabupaten Gresik dalam mengantisipasi perubahan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya sebagaimana yang terdapat pada rencana tata ruang. Penentuan potensi perubahan penggunaan lahan dilakukan pada model spasial perubahan penggunaan lahan yang keseluruhan meluputi dua teknik analisis. (1) Teknik analisis regresi logistik bertujuan untuk mengidentifikasi variabel penentu dan menghasilkan model matematis perubahan penggunaan lahan dan (2) teknik analisis spasial kogistik biner digunakan untuk melakukan pemodelan spasial perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Driyorejo, Kabupayen Gresik. Tiap tahapan penelitian menghasilkan luaran yang saling berkaitan. Terdapat 8 variabel penentu perubahan penggunaan lahan yang dihasilkan dari teknik analisis regresi logistik. Tinggi rendahnya kemungkinan perubahan penggunaan lahan ditentukan oleh jarak dari variabel-variabel tersebut. Adapun model spasial harga lahan dihasilkan dari model matematis memiliki konstanta 0,319. Variabel yang berpengaruh positif dalam model tersebut adalah gerbang tol, wilayah permukiman, rencana jalan, sarana peribadatan dan jaringan listrik. Variabel yang berpengaruh negatif adalah sarana pendidikan, jaringan air bersih, dan jaringan gas. Hasil perumusan model spasial perubahan penggunaan lahan menunjukan bahwa probabilitas perubahan lahan di Kecamatan Driyorejo sebesar 0,000000583805 hingga 0,988594. Sedangkan untuk lahan tidak terbangun, lahan pertanian yang berpotensi untuk berubah adalah sebesar 307,29 hektar dan lahan RTH yang berpotensi untuk berubah adalah sebesar 34,9 hektar. 
Penentuan Tipologi Desa Wisata berdasarkan Kesamaan Karakteristik Komponen Pembentuk Desa Wisata di Kabupaten Ponorogo Mada Kharisma Parasari; Ema Umilia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.549 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33476

Abstract

Abstrak—Mengembangkan pariwisata di daerah perdesaan bukanlah hal yang mudah, terlebih jika langsung dalam jumlah yang besar. 70 desa telah ditetapkan sebagai lokasi pengembangan desa wisata di Kabupaten Ponorogo. Dengan kondisi Kabupaten Ponorogo yang memiliki potensi daya tarik wisata beragam dan segala keterbatasan dalam pengembangannya, maka dirasa penting untuk dilakukan suatu kajian tentang pemetaan tipologi desa wisata Kabupaten Ponorogo berdasarkan kesamaan karakteristik komponen pembentuk desa wisata. Untuk mencapai tujuan penelitian yaitu perumusan tipologi desa wisata Kabupaten Ponorogo, dilakukan 3 tahap analaisis, yaitu pertama identifikasi karakteristik komponen pembentuk desa wisata Kabupaten Ponorogo menggunakan metode analisis diskriptif; kedua, analisis variabel dalam penentuan tipologi desa wisata dengan menggunakan metode analisis Delphi; ketiga, penentuan tipologi desa wisata Kabupaten Ponorogo berdasarkan kesamaan karakteristik komponen pembentuk desa wisata dengan menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) dan Skoring. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa desa wisata di Kabupaten Ponorogo dapat dikelompokkan menjadi 3 tipologi, yaitu Tipologi I adalah kelompok desa yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai lokasi desa wisata, berjumlah 24 desa; tipologi II adalah desa dengan potensi sedang atau cukup, berjumlah 33 desa dan tipologi III adalah desa dengan potensi rendah untuk dikembangkan menjadi desa wisata, berjumlah 27 desa. 
Pemodelan Spasial Skenario Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Tengah Stanley Adrian; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.615 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33534

Abstract

Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit cenderung berkembang tanpa arah sehingga berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan deforestasi hutan, disatu sisi lahan perkebunan kelapa sawit memberikan keuntungan yang besar terhadap perekonomian daerah di Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk itu, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit perlu diatur melalui upaya perumusan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit agar nilai lingkungan dapat terus terjaga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan model spasial berdasarkan skenario pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan analisis Cellular Automata untuk melakukan pemodelan spasial yang terdiri atas beberapa skenario. Dari hasil penelitian dengan menggunakan Cellular Automata, diperoleh 3 model simulasi yaitu (1) Model simulasi berdasarkan trend, (2) Model simulasi berdasarkan target pedoman teknis, dan (3) Model simulasi berdasarkan target RTRW. Model simulasi berdasarkan trend menunjukkan pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi sebesar 950.950 Ha, sedangkan model simulasi berdasarkan target pedoman teknis sebesar 755.206,25 Ha dan model simulasi berdasarkan target RTRW sebesar 769.393,75 Ha. Dari ketiga model simulasi, pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Tengah lebih sesuai diterapkan pada model simulasi berdasarkan target RTRW karena pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit pada hutan produksi hanya dilakukan pada jenis lahan hutan produksi yang dapat dikonversi.
Penentuan Tingkat Kesenjangan Wilayah dan Faktor Penyebab Terjadinya Kesenjangan di Kabupaten Gresik Novtaviana Anggraeni; Belinda Ulfa Aulia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33551

Abstract

Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki perkembangan pesat dan berdampak pada wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, salah satunya adalah Kabupaten Gresik. Perkembangan wilayah Kabupaten Gresik dipengaruhi oleh aktivitas dari kota inti yaitu Surabaya. Gejala pergeseran perkembangan Kota Surabaya ke wilayah Kabupaten Gresik tersebut dapat merubah karakteristik wilayah di Kabupaten Gresik dan menyebabkan salah satu permasalahan yaitu kesenjangan wilayah. Kesenjangan yang terjadi di wilayah tersebut meliputi kesenjangan pada aspek ekonomi antar kecamatan, aspek sosial, distribusi pendapatan dan akses masyarakat terhadap infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesenjangan yang terjadi serta faktor-faktor yang berpotensi menyebabkan terjadinya kesenjangan wilayah antar kecamatan di Kabupaten Gresik berdasarkan aspek ekonomi dan sosial. Perhitungan tingkat kesenjangan tersebut yang kemudian dijadikan dasar dalam perumusan tipologi wilayah berdasarkan tingkat kesenjangan yang akan mempermudah dalam perumusan kebijakan penanganan tingkat kesenjangan sesuai dengan faktor penyebab kesenjangan yang ditemukan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan Indeks Williamson sebagai rumus perhitungan kesenjangan wilayah. Adapun analisis kedua yaitu analisis korelasi menggunakan software SPSS untuk mengetahui faktor apa saja yang berpotensi menyebabkan kesenjangan di Kabupaten Gresik. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian, terdapat 2 kecamatan yang termasuk kedalam tipologi wilayah dengan kesenjangan tinggi, 5 kecamatan yang termasuk kedalam tipologi wilayah dengan kesenjangan sedang dan 9 kecamatan yang termasuk tipologi wilayah dengan kesenjangan rendah. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan wilayah yang terjadi pada tiap kecamatan di Kabupaten Gresik adalah PDRB perkapita, kontribusi sektor industri tehadap PDRB, jumlah tenaga kerja industri, jumlah tenaga kerja pertanian, panjang jalan aspal, jumlah penduduk SMA, jumlah penduduk datang, jumlah fasilitas SMP, jumlah fasilitas rumah sakit dan jumlah fasilitas puskesmas.  
Penilaian Integrasi Manajemen Risiko Bencana ke dalam Proses Penyusunan Rencana Tata Ruang Kota Surabaya Naomi Zakina; Adjie Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1760.05 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33656

Abstract

UU 26/2007 menyebutkan bahwa rencana tata ruang di Indonesia terdiri dari dua rencana utama yaitu rencana umum dan rencana rinci tata ruang. Rencana tata ruang wilayah memuat akan strategi pengembangan Kota sedangkan rencana detail tata ruang menjadi referensi dalam aturan pengembangan kawasan lokal. Akibatnya, kegiatan pembangunan seperti pendirian bangunan, infrastruktur, dan fasilitas publik harus mengikuti aturan dari kedua rencana tersebut. Dalam konteks manajemen risiko bencana, pertumbuhan pembangunan mempengaruhi kerentanan dan kapasitas kota. Pembangunan yang tidak diimbangi dengan dengan upaya pengurangan risiko akan meningkatkan potensi kerentanan dan menurunkan kapasitas kota terhadap bencana. Dengan kata lain, hal ini mampu menurunkan ketahan kota dan meningkatkan risiko bencana. Selain itu, integrasi manajemen risiko bencana ke dalam rencana tata ruang bertujuan untuk menghindari risiko sekaligus memperkecil angka risiko tersebut. Penelitian ini akan menilai tentang integrasi manajemen risiko bencana ke dalam proses penyusunan rencana tata ruang Kota Surabaya. Pendekatan kualitatif menggunakan metode analisis konten dan skala likert dilakukan untuk menilai integrasi manajemen risiko bencana ke dalam proses penyusunan rencana tata ruang Kota Surabaya. Hasilnya, seluruh tahapan proses penyusunan rencana tata ruang -mulai dari perumusan masalah hingga monitoring dan evaluasi- belum mencerminkan upaya pengurangan risiko bencana secara rinci. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data dan informasi mengenai karakteristik bencana Kota Surabaya, perbedaan persepsi stakeholder dalam memandang aspek kebencanaan dalam proses pembangunan, pedoman penyusunan rencana tata ruang yang dianut belum terintegrasi dengan kajian manajemen risiko, dan belum ada mekanisme monitoring dan evaluasi yang sesuai terkait upaya pengurangan risiko bencana dalam rencana tata ruang.
Karakteristik Ruang Kampung Tambak Asri Berdasarkan Pendekatan Placemaking Lidia Rubianto; Ardy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33680

Abstract

Kampung Tambak Asri, Kelurahan Morokrembangan Kecamatan Krembangan Surabaya adalah kawasan permukiman yang berada di pinggiran kota. Kampung ini menunjukkan ciri-ciri ketidakberkelanjutan dalam fungsinya sebagai kawasan bermukim. Kondisi kumuh di lingkungan kampung Tambak Asri dan adanya kesenjangan sosial memberikan kesan yang kurang teratur di kampung ini. Kampung Tambak Asri juga dikenal sebagai Kampung Prostitusi yakni Kampung Kermil sejak tahun 1970an dan aktivitas ini ditutup oleh Pemkot Surabaya pada tahun 2012 lalu. Tambak Asri dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 10.198,6 jiwa/km2. Angka kepadatan penduduk ini, turut merefleksikan kepadatan bangunan permukiman masyarakat. Di samping itu terdapat kondisi penggunaan ruang-ruang yang diabaikan. Terkait permasalahan tersebut, maka perlu untuk mengidentifikasi ruang-ruang Kampung Tambak Asri. Adapun tujuan penelitian ini adalah merumuskan karakteristik ruang-ruang Kampung Tambak Asri dalam perspektif space dan place. Pendekatan yang sesuai dalam perspektif space dan place adalah pendekatan placemaking. Placemaking adalah suatu cara bagaimana menciptakan sesuatu yang spesial baik dari dalam atau luar ruang atau space. Tahap awal penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data dan informasi melalui observasi, kuesioner responden masyarakat dan wawancara. Tahapan penelitian ini yakni mengidentifikasi karakteristik penggunaan ruang-ruang di Kampung Tambak Asri oleh masyarakat sebagai pengguna dengan metode statistik deskriptif. Karakteristik diidentifikasi berdasarkan indikator dan variabel terkait serta disajikan dengan pendekatan tematik. Hasil dari penelitian ini adalah karakteristik ruang-ruang kampung Tambak Asri dalam konteks space dan place berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan.
Arahan Penataan Permukiman Kumuh Di Kelurahan Kedungcowek Surabaya Menggunakan Konsep Land Readjustment Amirul Ardi; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.694 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33914

Abstract

Salah satu kawasan prioritas kumuh di Kota Surabaya yaitu permukiman nelayan yang berada di Pantai Utara Surabaya, tepatnya di Kelurahan Kedungcowek. Kekumuhan permukiman Kedungcowek ditunjukkan dengan belum jelasnya legalitas lahan hunian, buruknya kondisi fisik bangunan serta masih kurangnya ketersediaan sarana umum kebutuhan permukiman nelayan yang berdampak pada kondisi prasarana dasar yang tidak sesuai dengan standar teknis penunjang permukiman. Tujuan dari penilitan ini adalah merumuskan skenario penataan permukiman kumuh dengan konsep Land Readjusment. Penelitian ini melalui tiga tahap analisis. Tahap pertama dengan anailsis statistik deskriptif dan mapping untuk menganalisisi karakteristik permukiman kumuh nelayan di Kedungcowek. Selain itu teknik analisis Skoring dan Theoritical Descriptive digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam penerapan konsep land readjustment. Selanjutnya hasil analisis dari dua tahap sebelumnya digunakan untuk perumusan arahan penataan permukiman kumuh nelayan dengan konsep land readjustment dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu skenario pembagian lahan atas kesepatakan pemilik lahan terkait kontribusi lahan yang terdiri dari tiga pilihan yang didapatkan dari kesepakatan dengan pemilik lahan. Adapun ketiga opsi tersebut 75%  untuk pemilik lahan dan 25% untuk kepentingan umum, 70% untuk pemilik lahan dan 30% untuk kepentingan umum, serta 60% untuk pemilik lahan dan 40% untuk kepentingan umum. Dengan kontribusi lahan dari masyarakat, maka akan tercukupinya kebutuhan sarana umum penunjang permukiman nelayan, selain itu juga didapatnya lahan cadangan yang nantinya dapat dimanfaatkan. Tata letak bangunan menjadi lebih proposional dan kondisi fisik bangunan menjadi permanen serta kejelasan status kepemilikan lahan menjadi sertifikat hak milik.
Analisa Tingkat Pelayanan Jalan Raya Kalirungkut dengan Adanya Kegiatan Pusat Perbelanjaan Transmart Rungkut, Kota Surabaya Alfian Haris Aryawan; Sardjito Sardjito
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.34132

Abstract

Eratnya kaitan tata guna lahan dan transportasi memberikan berbagai dampak tersendiri baik dari segi sistem transportasi maupun sistem tata guna lahan. salah satunya adalah kegiatan perdagangan dan jasa terhadap jalan. Carefour merupakan salah satu supermarket yang pernah ada disisi jalan Raya Kalirungkut telah berubah menjadi Transmart Rungkut yang merupakan supermarket terintegrasi dengan kuliner serta rekreasi dan beberapa jenis penawaran perdagangan dan jasa yang jarang ditemukan pada supermarket pada umumnya. Pasca beroperasi (2017), Transmart Rungkut memberikan dampak berupa hambatan pergerakan terhadap kegiatan lalu lintas Jalan Raya Kalirungkut. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui besar pengaruh kegiatan pusat perbelanjaan Transmart Rungkut terhadap kinerja Jalan Raya Kalirungkut Kota Surabaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung tingkat pelayanan Jalan Raya Kalirungkut Kota Surabaya. Alat analisis yang digunakan untuk mencapai sasaran ini adalah analisis Tingkat Pelayanan Jalan yang dimuat dalam MKJI (1997).
Arahan Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Adaptasi Teori Siklus Hidup Pariwisata di Kabupaten Ponorogo Gesti Mutiara Dewi; Ema Umilia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.184 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.34141

Abstract

Kabupaten Ponorogo memiliki potensi pariwisata beraneka ragam yakni sebanyak 50 daya tarik wisata yang tersebar di beberapa kecamatan. Dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Ponorogo terkendala oleh beberapa faktor, yakni aksesibilitas, fasilitas, pemasaran, dan jumlah wisatawan. Kondisi tersebut menyebabkan pengembangan obyek wisata di Kabupaten Ponorogo berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tahap perkembangan pariwisata di Kabupaten Ponorogo berdasarkan adaptasi teori siklus hidup pariwisata dan merumuskan arahan pengembangan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi tipologi pariwisata di Kabupaten Ponorogo, Content Analysis untuk menentukan variabel yang berpengaruh terhadap siklus hidup di Kabupaten Ponorogo, analisis deskriptif kualitatif untuk menganalisis tahap perkembangan pariwisata berdasarkan siklus hidup pariwisata, dan analisis deskriptif untuk merumuskan arahan pengembangan pariwisata di Kabupaten Ponorogo. Dari penelitian ini akan di hasilkan klasifikasi daya tarik wisata di Kabupaten Ponorogo berdasarkan siklus hidup pariwisata dan arahan pengembangan yang sesuai pada masing-masing siklus hidup yang ada.
Tipologi Wilayah Peri Urban Kabupaten Sidoarjo Berdasarkan Aspek Fisik, Sosial, dan Ekonomi Aprinita Dwisna Hapsari; Belinda Ulfa Aulia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.34248

Abstract

Kabupaten Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya merupakan wilayah peri urban yang terus mengalami perkembangan. Wilayah peri urban merupakan wilayah dinamis yang akan terus mengalami perkembangan. Wilayah Peri-urban memiliki karakteristik bertambahnya penduduk secara tinggi dan adanya kepadatan, sektor ekonominya yang didominasi non-pertanian, dan kesadaran penduduk sebagai penduduk kota pada daerah tersebut. Adanya interaksi yang terjadi dengan wilayah kota maupun desa dapat mempengaruhi perkembangan wilayah peri urban. Perkembangan tersebut dapat menimbulkan perkembangan dan pembangunan wilayah yang tidak terarah dan terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipologi wilayah peri urban Kabupaten Sidoarjo berdasarkan aspek fisik, sosial, dan ekonomi sehingga dapat digunakan untuk mempermudah pengembangan wilayah berdasarkan tipologinya.  Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis overlay dengan tools Weigthed Sum di ArcGIS, untuk menggabungkan hasil skor tiap variabel aspek fisik, sosial dan ekonomi dan menghitung total bobot sehingga didapat wilayah peri urban berdasarkan karakteristik tipologinya. Dalam penelitian ini, ditemukan di Kabupaten Sidoarjo terdapat 8 Kecamatan Zobikot, 7 Kecamatan Zobikodes, 2 Kecamatan Zobideskot, dan 1 Kecamatan Zobides. Kecamatan yang termasuk klasifikasi Zobikot adalah Kecamatan Taman, Waru, Gedangan, Sukodono, Krian, Sidoarjo, Candi, dan Porong. Kecamatan yang termasuk klasifikasi Zobikodes adalah Kecamatan Buduran, Wonoayu, Balongbendo, Prambon, Tulangan, Tanggulangin, dan Krembung. Kecamatan yang termasuk klasifikasi Zobideskot adalah Kecamatan Sedati dan Tarik. Sedangkan kecamatan yang termasuk klasifikasi Zobides adalah Kecamatan Jabon.