cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Identifikasi Faktor yang Memengaruhi Partisipasi Masyarakat Kampung Ketandan sebagai Kampung Wisata di Surabaya Maghfirah Bungas Muwifanindhita; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4044.357 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32440

Abstract

Kampung Ketandan sebagai salah satu kampung wisata di Surabaya yang berada di tahap perintisan disiapkan untuk bisa menjadi destiasi wisata yang berdampingan dengan pengembangan kawasan heritage koridor Tunjungan. Namun partisipasi masyarakat Kampung Ketandan dalam mewujudkan kampung wisata masih terbilang kurang. Partisipasi masyarakat yang masih kurang tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang perlu diketahui sehingga, pengembangan kampung wisata dapat berjalan secara berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi partisipasi yang diberikan masyarakat Kampung Ketandan dengan melakukan in-depth-interview pada stakeholder terpilih. Kemudian dilakukan konten analisis pada transkrip hasil wawancara untuk menggali faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam penciptaan kampung wisata di Kampung Ketandan. Hasil dari penelitian ini mengindikasi bahwa dari sepuluh sub-faktor yang diujikan, hanya sub-faktor pendidikan yang tidak berpengaruh terhadap kondisi partisipasi masyarakat, serta ditemukan faktor baru sebagai faktor lokal yang memengaruhi partisipasi masyarakat Kampung Ketandan dalam mewujudkan kampung wisata yaitu faktor pendapatan, faktor penggerak, faktor karakter masyarakat, dan faktor moral.
Penentuan Prioritas Ruang Terbuka Hijau berdasarkan Efek Urban Heat Island di Wilayah Surabaya Timu Nabiilatul Arifah; Cahyono Susetyo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.282 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32454

Abstract

Urban Heat Island menjadi fenomena yang mengaitkan antara kenaikan suhu permukaan dengan aktivitas manusia, yaitu pembangunan. Wilayah Surabaya Timur mengalami perkembangan pembangunan yang pesat dalam 10 tahun terakhir. Proyek infrastruktur MERR dan rencana JLLT yang ditargetkan selesai pada 2019 meningkatkan potensi konversi lahan non terbangun menjadi kawasan hunian, komersial, dan sebagainya. Wilayah Surabaya Timur mengalami kenaikan suhu maksimal dari 33,70C menjadi 340C dalam rentang waktu 2013-2016. Pemerintah Kota Surabaya berupaya untuk menyeimbangkan lingkungan dengan penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) agar dapat menurunkan suhu. Oleh karena itu diperlukan adanya penentuan penambahan RTH yang memperhatikan aspek fisik, biologis, dan sosial dilihat dari indeks kenyamanan, kerapatan vegetasi, dan kepadatan penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan prioritas RTH sebagai penambahan luasan dari RTH eksisting di Wilayah Surabaya Timur yang dicapai melalui tahapan penelitian sebagai berikut : (1) Mengidentifikasi faktor-faktor penentuan prioritas RTH di Wilayah Surabaya Timur; (2) Menentukan prioritas RTH di Wilayah Surabaya Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan prioritas RTH didasarkan pada overlay antara aspek biologis kerapatan vegetasi dari nilai NDVI, aspek fisik dari indeks kenyamanan THI, dan kepadatan penduduk. Prioritas RTH terdiri dari RTH eksisting dan rekomendasi penambahan RTH dilihat dari overlay skor 4 (moderate priority) dan skor 5 (high priority) di lahan non terbangun. Hasil penentuan prioritas RTH menunjukkan penambahan RTH dari RTH eksisting dilakukan pada 663,23 Ha tambak, 2,14 Ha tanah kosong, dan 129,30 Ha lahan pertanian. Arahan penambahan RTH dari prioritas RTH meningkatkan luasan RTH eksisting 783,06 Ha menjadi 1.577,73 Ha atau 16,18% dari total Wilayah Surabaya Timur.
Identifikasi Aliran Nilai Tambah Komoditas Unggulan Buah Naga di Kabupaten Banyuwangi Ayu Sri Lestari; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.943 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32485

Abstract

Buah naga merah merupakan komoditas unggulan Indonesia dengan produksi terbesar di Banyuwangi. Produksi buah naga di Banyuwangi pada 2014 mencapai 28.819 ton dengan luas lahan 1.152 ha. Kualitas buah naga Banyuwangi telah diakui dalam skala nasional dibuktikan dengan perolehan SERTIFIKAT PRIMA-3 tahun 2010 oleh Kelompok Tani Berkah Naga dan Kelompok Tani Surya Naga tahun 2013. Namun, potensi buah naga tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal untuk meningkatkan nilai tambah. Pemasaran dilakukan dalam bentuk buah segar tanpa adanya pengolahan pada pusat pelayanan. Tujuan pemasaran yaitu pasar lokal (5%), pasar luar kabupaten (25%), pasar provinsi (40%) dan ekspor ke luar negeri (30%). Hal ini menunjukkan ketidakefektifan pusat pelayanan berbasis komoditas buah naga sehingga menimbulkan adanya kebocoran wilayah dan hilangnya nilai tambah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aliran nilai tambah komoditas unggulan buah naga yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deksriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menghitung jumlah dan rata-rata. Identifikasi dilakukan di 5 (lima) kecamatan sentra penghasil buah naga di Kabupaten dengan jumlah produksi terbesar yaitu Kecamatan Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung dan Pesanggaran. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa bahwa aliran nilai tambah di tiap kecamatan penghasil buah naga memiliki kesamaan karakteristik, yaitu dari petani ke pengepul dan sebagian besar dijual dalam bentuk buah segar. Pengepul dapat mengumpulkan rata-rata 5-6 ton per hari dari 6-7 petani. Target pasar bagi komoditas buah naga adalah pada 3 lokasi utama yaitu pasar lokal dan PKL, pasar di pusat pelayanan, dan di luar wilayah. Selain itu, penghasilan panen buah naga terbesar oleh petani mencapai 17 ton pada lahan seluas 2 ha. Sedangkan hampir 75% responden menyatakan bahwa luas lahan yang dimiliki untuk tanaman buah naga yaitu seluas 0,25 ha. Panen buah naga dilakukan 35 hari sekali setelah proses penanaman batang selama 8 bulan.
Identifikasi Karakteristik Fisik Koridor Jalan Tunjungan sebagai Ruang Publik Ananta Tama Krisetya; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.596 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32695

Abstract

Ruang publik merupakan aset utama bagi livability dan perekonomian kota. Jalan merupakan ruang publik yang paling mudah diakses. Jalan tak hanya berfungsi sebagai jalur sirkulasi tetapi juga ruang sosial yang dapat merepresentasikan kehidupan dan identitas kota. Jalan Tunjungan merupakan salah satu jalan yang menjadi identitas Kota Surabaya. Pada perkembangannya, jalan Tunjungan mengalami penurunan intensitas aktivitas dan kegiatan di jalan tersebut. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya bangunan kosong dan tingginya volume lalu lintas di Jalan Tunjungan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan adanya konsep pengembangan yang dapat meningkatkan kembali intensitas kegiatan di jalan Tunjungan, salah satunya dengan menjadikan Jalan Tunjungan sebagai ruang publik. Dalam upaya implementasinya, perlu dilakukan studi mengenai karakteristik fisik jalan Tunjungan yang meliputi jenis penggunaan lahan, bentuk bangunan, dan jalur pejalan kaki. Melalui analisis statistik deskriptif, diperoleh hasil identifikasi penggunaan lahan didominasi oleh permukiman dan perdagangan dan jasa, bentuk bangunan dengan frontages yang tidak aktif, serta kondisi jalur pejalan kaki yang belum optimal. Hal ini menunjukan bahwa perlu adanya pengembangan dan peningkatan variabel-variabel tersebut dalam upaya menjadikan jalan Tunjungan sebagai ruang publik.
Penentuan Lokasi Agroindustri Berbasis Komoditas Jagung di Kabupaten Jombang Febri Fitrianingrum; Belinda Ulfa Aulia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32787

Abstract

Kabupaten  Jombang memiliki potensi pada bidang pertanian berupa penggunaan lahan di dominasi oleh lahan pertanian sebesar 103.344 Ha atau sebesar 86,54% dari total luas penggunaan lahan.  Berdasarkan tren  dari tahun 2012-2017 pertumbuhan produksi jagung di Kabupaten Jombang cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan realisasi investasi penanaman modal asing dan dalam negeri sektor sekunder di Provinsi Jawa Timur tahun 2017, Kabupaten Jombang menempati urutan ke-8 setelah Kota Surabaya dan Kabupaten Tuban dengan jumlah investasi industri 102.850.000 US$. Nilai investasi tersebut menunjukkan tingginya nilai investasi industri di Kabupaten Jombang. Namun apabila dibandingankan dengan kondisi eksisting, di Kabupaten Jombang hanya memiliki 1 industri besar dan 1 industri sedang pengolahan berbasis jagung. Tersedianya 1 industri besar pengolahan jagung dapat diartikan pengolahan komoditas jagung di Kabupaten Jombang belum sepenuhnya berkembang. Sehingga perlu dilakukan kajian penentuan lokasi agroindustri komoditas jagung. Penelitian ini menggunakan empat teknik analisis, yang pertama yaitu Content Analysis dengan bantuan software Nvivo 12 yang digunakan untuk menentukan variabel yang berpengaruh terhadap penentuan lokasi agroindustri berbasis komoditas jagung, selanjutnya digunakan analisis deskriptif pada penyusunan kriteria lokasi agroindustri. Kemudian dari hasil kriteria tersebut akan dibobotkan dengan ANP untuk mengetahui prioritas kriteria. Analisis yang terakhir dilakukan adalah analisis weighted overlay untuk mengetahui lokasi yang sesuai sebagai lokasi industri pengolahan  komoditas jagung untuk menjawab tujuan penelitian. Dari analisis yang telah dilakukan, didapatkan hasil akhir berupa lokasi yang sesuai untuk agroindustri komoditas jagung di Kabupaten Jombang. Lokasi tersebut terletak pada Kecamatan Diwek, Mojowarno, Sumobito, dan Mojoagung seluas 1.263,31 ha atau 1,13% dari luas wilayah penelitian.
Direction of Maritime Industrial Estate Development in Brondong-Paciran Area, Lamongan Regency Gema Patria Mahaputra; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4964.191 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32854

Abstract

Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kabupaten yang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang industri maritim. Penetapan sebagai kawasan ekonomi khusus tersebut tidak terlepas dari potensi infrastruktur dan ketersediaan lahan yang cukup di Kabupaten Lamongan. Pembangunan kawasan industri maritim di Kabupaten Lamongan telah direncanakan pada lahan seluas 4.000 Ha namun hingga saat ini masih belum terdapat proses pembangunan kawasan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan industri maritim di wilayah Brondong - Paciran, Kabupaten Lamongan. Tahapan awal penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan yang ada di kawasan industri maritim dengan metode content analysis. Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi alur kegiatan industri yang ada di kawasan industri maritim dengan deskriptif komparatif kemudian mengidentifikasi faktor-faktor pendorong pengembangan kawasan industri dengan analisis Delphi dan tahap terakhir adalah merumuskan arahan pengembangan kawasan industri maritim berdasarkan faktor-faktor pendorong pengembangan kawasan industri dengan analisis deskriptif komparatif dan analisis Delphi. Hasil penelitian ini meunjukkan bahwa permasalahan yang terdapat di kawasan industri maritim Kabupaten Lamongan adalah pembebasan lahan, jaringan air bersih, jaringan transportasi, industri pendukung dan kelembagaan. Pengembangan yang dapat dilakukan berupa pendekatan dengan pemilik lahan yang didampingi oleh tokoh masyarakat dan BPN, pengelolaan air bersih secara mandiri, pelebaran jalan dan menghubungkan kawasan dengan jalan tol, pembentukan klaster industri pendukung dan pembentukan kelembagaan pengelola kawasan industri.
Analisis Penggunaan GPS Navigasi dan Foto Udara Format Kecil pada Pengukuran Bidang Tanah Program Redistribusi Tanah Obyek Landreform (Studi Kasus: Desa Entikong, Kabupaten Sanggau) Muhammad Kiki Zaenuri; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.693 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.37954

Abstract

Program Redistribusi Tanah Obyek Landreform merupakan program dari Badan Pertanahan Nasional yang bertujuan untuk memberikan sertifikat bidang tanah kepada petani penggarap sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 224 Tahun 1961 Tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Rugi. Program ini memiliki beberapa kendala, diantaranya, yaitu kekurangan sumber daya alat dan manusia, serta target bidang tanah yang banyak dalam waktu yang singkat. Studi ini menganalisis penggunaan GPS navigasi dan foto udara format kecil pada pengukuran bidang tanah untuk program tersebut yang dilakukan di Desa Entikong oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Sanggau pada bulan Juli tahun 2018. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis ketelitian geometrik horizontal untuk foto udara format kecil serta analisis ketelitian planimetrik luas dan posisi untuk hasil pengukuran bidang tanah dan hasil deliniasi-suplesi. Berdasarkan analisis tersebut, hasil peta ortofoto dapat digunakan sebagai peta kerja pada skala minimal 1:1000 untuk kelas 2. Sedangkan hasil analisis planimetrik menunjukkan hasil yang tidak baik yaitu jumlah bidang tanah yang masuk kategori dapat diterima (kelas 1-2) 39,31% untuk hasil dari pengukuran menggunakan GPS navigasi. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara teknis hasil pengukuran bidang tanah tersebut tidak sesuai dengan toleransi analisis planimetrik pada Peraturan Menteri Negara ATR/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar Pendaftaran, walaupun menurut Petunjuk Teknis PTSL Tahun 2018 diperbolehkan.
Karakteristik Kawasan Wisata Pantai Paseban Berdasarkan Konsep Pariwisata Berkelanjutan di Kabupaten Jember Sari Diwanti Putri; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.211 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33543

Abstract

Pantai Paseban merupakan salah satu pantai di Kabupaten Jember yang memiliki daya tarik baik dari segi wisata alam maupun budaya. Namun, potensi tersebut belum dikembangkan dengan optimal. Dimana terdapat kerusakan ekosistem mangrove dan adanya ancaman penambangan pasir besi yang akan dilakukan oleh pihak swasta sedangkan nilai ekonomi pasir besi yang tinggi menyebabkan masyarakat tergiur untuk melakukan penambangan serta pendapatan nelayan sekitar yang masih tergolong kecil. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak negatif yang terjadi yaitu melalui arahan pengembangan wisata dimana responden penelitian dilakukan kepada empat responden yang terdiri dari kelompok pemerintah, swasta, dan masyarakat. Guna mencapai hal tersebut diperlukan identifikasi karakteristik melalui content analysis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik kawasan wisata Pantai Paseban belum memenuhi prinsip pariwisata keberlanjutan khususnya dari segi lingkungan dimana lingkungan pantai belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan wisata, masih adanya ancaman penambangan pasir besi, belum ada upaya untuk mengurangi abrasi dan kendaraan pribadi, pelayanan jaringan listrik yang belum memanfaatkan SDA, pembuangan limbah warung makan dan kamar mandi umum yang langsung ke tanah, penggunaan iar tanah sebagai sumber pelayanan air bersih, serta upaya pemusnahan sampah dengan cara dibakar. Sedangkan aspek sosial dan ekonomi memiliki kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan aspek lingkungan
Karakteristik Taman Flora sebagai Sarana Pendidikan Bagi Masyarakat di Kota Surabaya Aurora Exacty Pradana; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.051 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33100

Abstract

Taman Flora merupakan salah satu taman di Surabaya yang potensial dalam pemenuhan hak masyarakat yang timbul dari kehadiran ruang publik hal ini terlihat dari lokasinya yang strategis, keberagaman fasilitas, dan dipilihnya taman tersebut sebagai lokasi pembelajaran di luar kelas. Namun di sisi lain Taman Flora belum optimal bagi anak usia 7-14 tahun apabila dilihat dari keberagaman program dan fasilitas yang mendukung pendidikan, serta kemudahan akses bagi seluruh kelompok masyarakat. Taman Kota di Surabaya memiliki karakteristik yang berbeda-beda khususnya pada Taman Flora yang berperan sebagai sarana pendidikan, sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik Taman Flora. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisa deskriptif kualitatif dan analisis gambar, dengan sampel penelitian sebanyak 30 pengunjung berusia 7-14 tahun. Dari penelitian ini diketahui bahwa Taman Flora mampu mendukung berbagai aktivitas seperti rekreasi, ekonomi, dan pendidikan, namun taman ini masih memiliki kekurangan yaitu belum terakomodasinya aksesibilitas bagi kelompok difabel dan belum adanya program pendidikan dan olahraga yang dapat mendekatkan anak-anak pada alam dan berinteraksi sosial dengan sesamanya.
Faktor-Faktor Penentu Studentifikasi di Kawasan Sekitar ITS Sukolilo Ahmad Zuhdi; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.33458

Abstract

Studentifikasi dapat dipahami sebagai proses yang disebabkan oleh konsentrasi hunian pelajar berpendidikan tinggi yang diiringi dengan perubahan struktur spasial yang berdampak sosial, ekonomi, budaya dan fisik pada kawasan lokal lembaga pendidikan tinggi. Data Kawasan Sekitar Kampus ITS menunjukkan terjadi perubahan kavling yang signifikan, kenaikan harga tanah, pertambahan penduduk muda berlatar belakang asal yang bervariasi, hingga tumbuhnya fasilitas akomodasi mahasiswa. Sehingga studentifikasi menjadi hal yang tidak dapat dielakkan bagi kawasan. Untuk mengantisipasi efek studentifikasi maka dibutuhkan suatu penjelasan logis dan ilmiah mengenai pola dari gejala studentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor penentu kriteria dari gejala studentifikasi yang terdapat di Kawasan Sekitar Kampus ITS. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-kuantitaif dengan metode wawancara delphi. Hasil analisa menunjukkan  faktor-faktor penentu  studentifikasi  pada kawasan Sekitar Kampus ITS Sukolilo antara lain: Kebutuhan Ruang (fisik), Densitas/Kepadatan Penduduk (fisik), Kelengkapan Fasilitas Lingkungan (fisik), Keberadaan Induk Semang pada Hunian (sosial), Interaksi Antara Mahasiswa dan Masyarakat (sosial),  Pertambahan Penduduk Muda (sosial), Bauran Mahasiswa dan Masyarakat (budaya), Kepemilikan Properti (ekonomi), Indekos sebagai Investasi (ekonomi), Kepemilikan Usaha Lain (ekonomi), Harga Jual Tanah (ekonomi).